Anda di halaman 1dari 21

PENGANTAR GIS

1. UMUM

Banyak sekali definisi tentang peta, tetapi pada dasarnya hakekat peta adalah
:

1. Peta adalah alat peraga.


2. Melalui alat peraga itu, seorang penyusun peta ingin menyampaikan
idenya kepada orang lain.
3. Ide yang dimaksud adalah hal-hal yang berhubungan dengan
kedudukannya dalam ruang. Ide tentang gambaran tinggi rendah
permukaan bumi suatu daerah melahirkan peta topogafi, ide gambaran
penyebaran penduduk (peta penduduk), penyebaran batuan (peta
geologi),penyebaran jenis tanah (peta tanah atau soil map),
penyebaran curah hujan (peta hujan) dan sebagainya yang
menyangkut kedudukannya dalam ruang.
4. Dengan cara menyajikannya kedalam bentuk peta, diharapkan si
penerima ide dapat dengan cepat dan mudah memahami atau
memperoleh gambaran dari yang disajikan itu melalui matanya.

1.1 Syarat peta


Setelah memahami benar-benar hakekat dari peta, tidaklah sulit untuk
kemudian menelaah apa yang sebenarnya diperlukan sebagai syarat dari peta
yang baik. Syarat peta yang baik mestinya :

1. Peta tidak boleh membingungkan


2. Peta harus dengan mudah dapat dimengerti atau ditangkap maknanya
oleh si pemakai peta.
3. Peta harus memberikan gambaran yang sebenarnya. Ini berarti peta itu
harus cukup teliti sesuai dengan tujuannya.
4. Karena peta itu dinilai melalui penglihatan (oleh mata), maka tampilan
peta hendaknya sedap dipandang (menarik, rapih dan bersih).

1.2 Usaha memenuhi persyaratan peta


Supaya peta tidak membingungkan, peta dilengkapi dengan :

1. Keterangan atau legenda;


2. Skala peta;
3. Judul peta (apa isinya);
4. Bagian dunia mana.

Supaya mudah dimengerti atau ditangkap maknanya, digunakan :

1. Tata warna;
2. Simbol (terutama pada peta tematik);
3. Proyeksi.

Sebuah peta harus teliti. Sehubungan dengan itu, perlu diingatkan bahwa
tingkat ketelitian harus disesuaikan dengan tujuan peta dan jenis peta, serta
kesanggupan skala peta itu dalam menyatakan ketelitian. Sebagai contoh :

1. Jenis peta : Peta Penggunaan Tanah


2. Tujuan peta : Memperlihatkan bentuk-bentuk pemanfaatan atau
pengusahaan tanah oleh manusia.
3. Skala peta : 1:50.000
4. Yang harus teliti : Jenis-jenis penggunaan tanah apa yang dapat
digambarkan dengan skala peta tersebut. Jenis penggunaan tanah
skala 1:50.000 tentunya harus lebih teliti atau rinci dari jenis
penggunaan tanah skala 1:250.000 misalnya.

2. PENYUSUNAN PETA
2.1. Data Geografis
Untuk menyampaikan ide melaui peta dari berbagai hal kedudukannya dalam
ruang muka bumi diamana objek (objek geografis) yang akan disampaikan
tersebut tentunya amatlah rumit. Penyederhanan objek geografis dalam peta
terdiri dari :

1. Titik, bentuk titik ini misalnya sebuah menara, tugu dan sebagainya.
2. Garis, misalnya sungai dan jalan.
3. Luasan, misalnya bentuk-bentuk penggunaan tanah, danau dan
sebagainya.

2.2. Proyeksi Peta


Pada prinsipnya arti proyeksi peta adalah usaha mengubah bentuk bola
(bidang lengkung) ke bentuk bidang datar, dengan persyaratan sebagai
berikut ;

1. Bentuk yang diubah itu harus tetap.


2. Luas permukaan yang diubah harus tetap.
3. Jarak antara satu titik dengan titik yang lain di atas permukaan yang
diubah harus tetap.

Untuk memenuhi ketiga syarat itu sekaligus suatu hal yang tidak mungkin.
Untuk memenuhi satu syarat saja dari tiga syarat di atas untuk seluruh bola
dunia, juga merupakan hal yang tidak mungkin. Yang bisa dilakukan hanyalah
satu saja dari syarat di atas untuk sebagian kecil permukaan bumi.
Oleh karena itu, untuk dapat membuat rangka peta yang meliputi wilayah
yang lebih besar harus dilakukan kompromi ketiga syarat di atas. Akibat dari
kompromi itu maka lahir bermacam jenis proyeksi peta.
Proyeksi berdasarkan bidang asal

• Bidang datar (zenithal)


• Kerucut (conical)
• Silinder/Tabung (cylindrical)
• Gubahan (arbitrarry)

Jenis proyeksi no.1 sampai no.3 merupakan proyeksi murni, tetapi proyeksi
yang dipergunakan untuk menggambarkan peta yang kita jumpai sehari-hari
tidak ada yang menggunakan proyeksi murni di atas, melainkan merupakan
proyeksi atau rangka peta yang diperoleh melaui perhitungan (proyeksi
gubahan).
Dalam kesempatan ini tidak akan dijelaskan bagaimana perhitungan proyeksi
tersebut di atas, akan tetapi cukup jenis proyeksi apa yang biasa digunakan
dalam menyediakan kerangka peta di seluruh dunia.
Contoh proyeksi gubahan :

• Proyeksi Bonne sama luas


• Proyeksi Sinusoidal
• Proyeksi Lambert
• Proyeksi Mercator
• Proyeksi Mollweide
• Proyeksi Gall
• Proyeksi Polyeder
• Proyeksi Homolografik

Kapan masing-masing proyeksi itu dipakai ?


1. Seluruh Dunia

• Dalam dua belahan bumi dipakai Proyeksi Zenithal kutub


• Peta-peta statistik (penyebaran penduduk, hasil pertanian) pakai Mollweide
• Arus laut, iklim pakai Mollweide atau Gall
• Navigasi dengan arah kompas tetap, hanya Mercator

2. Daerah Kutub

• Proyeksi Lambert
• Proyeksi Zenithal sama jarak

3. Daerah Belahan Bumi Selatan

• Sinusoidal
• Lambert
• Bonne
4. Untuk Daerah yang lebar ke samping tidak jauh dari Khatulistiwa

• Pilih satu dari jenis proyeksi kerucut.


• Proyeksi apapun sebenarnya dapat dipakai

Untuk daerah yang membujur Utara-Selatan tidak jauh dari Khatulistiwa pilih
Lambert atau Bonne.
2.3. Tata Warna dan Simbol
Agar peta dapat dengan mudah dimengerti oleh pengguna peta, pemakaian
tata warna dan simbol sangat membantu untuk mencapai tujuan tersebut.
2.3.1. Tata warna
Penggunaan warna pada peta (dapat juga pola seperti titik-titik atau jaring
kotak-kotak dan sebagainya) ditujukan untuk tiga hal :

• Untuk membedakan
• Untuk menunjukan tingkatan kualitas maupun kuantitas (gradasi)
• Untuk keindahan

Dalam menyatakan perbedaan digunakan bermacam warna atau pola.


Misalnya laut warna biru, perkampungan warna hitam, sawah warna kuning
dan sebagainya.
Sedangkan untuk menunjukan adanya perbedaan tingkat digunakan satu
jenis warna atau pola. Misalnya untuk membedakan bersarnya curah hujan
digunakan warna hitam dimana warna semakin cerah menunjukan curah
hujan makin kecil dan sebaliknya warna semakin legam menunjukan curah
hujan semakin besar.
2.3.2. Simbol
Untuk menyatakan sesuatu hal ke dalam peta tentunya tidak bisa
digambarkan seperti bentuk benda itu yang sebenarnya, melainkan
dipergunakan sebuah gambar pengganti atau simbol.
Bentuk simbol dapat bermacam-macam seperti; titik, garis, batang,
lingkaran, bola dan pola.
Simbol titik biasanya dipergunakan untuk menunjukan tanda misalnya letak
sebuah kota dan menyatakan kuantitas misalnya satu titik sama dengan 100
orang, dam sebagainya.
Simbol garis digunakan untuk menunjukan tanda seperti jalan, sungai, rel KA
dan lainnya. Garis juga digunakan untu menunjukan perbedaan tingkat
kualitas, yang dikalangan pemetaan dikenal dengan isolines.
Dengan demikian timbul istilah-istilah :

• Isohyet yaitu garis dengan jumlah curah hujan sama


• Isobar yaitu garis dengan tekanan udara sama
• Isogon yaitu garis dengan deklinasi magnet yang sama
• Isoterm yaitu garis dengan angka suhu sama
• Isopleth yaitu garis yang menunjukan angka kuantitas yang bersamaan.

Tujuan dari penggunaan peta isopleth (menunjukan angka kuantitas sama)


yaitu untuk memperlihatkan perbandingan nilai dari sesuatu hal pada daerah
yang satu dengan daerah yang lain. Sehingga pengguna peta akan tahu mana
daerah dengan nilai besar dan mana daerah dengan nilai kecil.
Untuk simbol batang, lingkaran dan bola biasanya lebih banyak dipakai untuk
nilai-nilai statistik yang ditunjukan dengan garfik (batang, lingkaran dan
bola).

3. KOMPONEN PETA
Setelah kita memahami konsep dasar dari penyusunan peta tersebut di atas,
menjadi semakin mudah untuk menyimak apa saja komponen peta yang
baik.
Komponen peta terdiri dari :

1. Isi peta

Isi peta menunjukan isi dari makna ide penyusun peta yang akan
disampaikan kepada pengguna peta.

Kalau ide yang disampaikan tentang perbedaan curah hujan , isi peta
tentunya berupa isohyet.

2. Judul peta

Judul peta harus mencerminkan isi peta. Isi peta berupa isohyet, tentu
judul petanya menjadi "Peta Distribusi Curah Hujan", dan sebagainya.

3. Skala peta dan Simbol Arah

Skala sangat penting dicantumkan untuk melihat tingkat ketelitian dan


kedetailan objek yang dipetakan. Sebuah belokan sungai akan
tergambar jelas pada peta 1:10.000 dibandingkan dengan pada peta
1:50.000 misalnya. Kemudian bentuk-bentuk pemukiman akan lebih
rinci dan detail pada skala 1:10.000 dibandingkan peta skala 1:50.000.

Simbol arah dicantumkan dengan tujuan untuk orientasi peta. Arah


utara lazimnya mengarah pada bagian atas peta. Kemudian berbagai
tata letak tulisan mengikuti arah tadi, sehingga peta nyaman dibaca
dengan tidak membolak-balik peta. Lebih dari itu, arah juga penting
sehingga si pemakai dapat dengan mudah mencocokan objek di peta
dengan objek sebenarnya di lapangan.

4. Legenda atau Keterangan

Agar pembaca peta dapat dengan mudah memahami isi peta, seluruh
bagian dalam isi peta harus dijelaskan dalam legenda atau keterangan.

5. Inzet dan Index peta

Peta yang dibaca harus diketahui dari bagian bumi sebelah mana area
yang dipetakan tersebut.

Inzet peta merupakan peta yang diperbersar dari bagian belahan bumi.
Sebagai contoh, kita mau memetakan pulau Jawa, pulau Jawa
merupakan bagian dari kepulauan Indonesia yang diinzet.

Sedangkan index peta merupakan sistem tata letak peta , dimana


menunjukan letak peta yang bersangkutan terhadap peta yang lain di
sekitarnya.

6. Grid

Dalam selembar peta sering terlihat dibubuhi semacam jaringan kotak-


kotak atau grid system.

Tujuan grid adalah untuk memudahkan penunjukan lembar peta dari


sekian banyak lembar peta dan untuk memudahkan penunjukan letak
sebuah titik di atas lembar peta.

Cara pembuatan grid yaitu, wilayah dunia yang agak luas, dibagi-bagi
kedalam beberapa kotak. Tiap kotak diberi kode. Tiap kotak dengan
kode tersebut kemudian diperinci dengan kode yang lebih terperinci
lagi dan seterusnya.

Jenis grid pada peta-peta dasar (peta topografi) di Indonesia yaitu


antara lain :

Kilometerruitering (kilometer fiktif) yaitu lembar peta dibubuhi jaringan


kotak-kotak dengan satuan kilometer.

Disamping itu ada juga grid yang dibuat oleh tentara inggris dan grid
yang dibuat oleh Amerika (American Mapping System).

Untuk menyeragamkan sistem grid, Amerika Serikat sedang berusaha


membuat sistem grid yang seragam dengan sistem UTM grid system
dan UPS grid system (Universal Transverse Mercator dan Universal
Polar Stereographic Grid System).

7. Nomor peta
Penomoran peta penting untuk lembar peta dengan jumlah besar dan
seluruh lembar peta terangkai dalam satu bagian muka bumi.

8. Sumber/Keterangan Riwayat Peta

Sumber ditekankan pada pemberian identitas peta, meliputi penyusun


peta, percetakan,sistem proyeksi peta, penyimpangan deklinasi
magnetis, tanggal/tahun pengambilan data dan tanggal
pembuatan/pencetakan peta, dan lain sebagainya yang memperkuat
identitas penyusunan peta yang dapat dipertanggungjawabkan.

4. KEMAJUAN DI BIDANG PEMETAAN


Sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, bidang pemetaan
mengalami kemajuan yang baik. Pengumpulan data-data geografis secara
manual diperkuat dengan teknologi seperti foto udara, foto satelit, radar dan
sebagainya. Begitu juga dalam penyusunan peta, kartografi manual kini
banyak dibantu dengan komputerisasi sehingga banyak dijumpai peta-peta
dijital. Dalam usaha menginformasikan peta, dari sekian banyak lembar peta
kemudian disusun dalam suatu sistem yang mampu menginformasikan peta
yang banyak tadi dalam waktu cepat melaui Sistem Informasi Geografis (SIG)
yang tentunya dengan komputerisasi.
Perlu diingatkan bahwa, komputerisasi dalam bidang pemetaan hanya
merupakan alat bantu untuk mempercepat kerja penyusunan peta. Di
samping itu dengan komputerisasi juga dapat menghemat tempat dalam
penyusunan peta dengan jumlah lembaran yang besar, dibandingkan dengan
penyusunan secara konvensional.
Alat bantu dalam bidang pemetaan tentunya akan terus berkembang sejalan
dengan perkembangan iptek. Untuk itu, perhatikan esensi peta dengan terus
mengikuti perkembangan iptek.
1.1. Pengertian GIS/SIG

Geographic Information System (GIS) atau Sistem Informasi Geografis (SIG)


diartikan sebagai sistem informasi yang digunakan untuk memasukkan,
menyimpan, memangggil kembali, mengolah, menganalisis dan menghasilkan
data bereferensi geografis atau data geospatial, untuk mendukung
pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan penggunaan
lahan, sumber daya alam, lingkungan transportasi, fasilitas kota, dan
pelayanan umum lainnya.

Komponen utama SIG adalah sistem komputer, data geospatial dan


pengguna, seperti diperlihatkan pada Gambar 1.1.

Sistem komputer untuk SIG terdiri dari perangkat keras (hardware),


perangkat lunak (software) dan prosedur untuk penyusunan pemasukkan
data, pengolahan, analisis, pemodelan (modelling), dan penayangan data
geospatial.

Sumber-sumber data geospatial adalah peta digital, foto udara, citra satelit,
tabel statistik dan dokumen lain yang berhubungan.

Data geospatial dibedakan menjadi data grafis (stau disebut juga data
geometris) dan data atribut (data tematik), lihat Gambar 1.2. Data grafis
mempunyai tiga elemen : titik (node), garis (arc) dan luasan (poligon) dalam
bentuk vector ataupun raster yang mewakili geometri topologi, ukuran,
bentuk, posisi dan arah.
Fungsi pengguna adalah untuk memilih informasi yang diperlukan, membuat
standar, membuat jadwal pemutakhiran (updating) yang efisien, menganalisis
hasil yang dikeluarkan untuk kegunaan yang diinginkan dan merencanakan
aplikasi.
1.2. Kenapa SIG Dibutuhkan ?

Berikut adalah alasan dibutuhkannya SIG.


- penanganan data geospatial sangat buruk
- peta dan statistik sangat cepat kadaluarsa
- data dan informasi sering tidak akurat
- tidak ada pelayanan penyediaan data
- tidak ada pertukaran data

Dan begitu SIG diterapkan, didapat keuntungan berikut.


- penanganan data geospatial menjadi lebih baik dalam format baku
- revisi dan pemutakhiran data menjadi lebih mudah
- data geospatial dan informasi lebih mudah dicari, dianalisis dan
direpresentasikan
- menjadi produk bernilai tambah
- data geospatial dapat dipertukarkan
- produktivitas staf meningkat dan lebih efisien
- penghematan waktu dan biaya
- keputusan yang akan diambil menjadi lebih baik

Tabel 1.1 memperlihatikan kelebihan SIG dan kekurangan pekerjaan manual


tanpa SIG.
Gambar 1.3 memperlihatkan perbandingan manajemen informasi spatial
dengan dan tanpa SIG.

1.3. Yang Diharapkan dari SIG

SIG diharapkan mampu menjawab pertanyaan sebagai berikut :

• What is at......? (pertanyaan lokasional ; apa yang terdapat pada lokasi


tertentu)
• Where is it.....? (pertanyaan kondisional ; lokasi apa yang mendukung untuk
kondisi/fenomena tertentu)
• How has it changed........? (pertanyaan kecenerungan ; mengidentifikasi
kecenderungan atau peristiwa yang terjadi)
• Which data are related ........? (pertanyaan hubungan ; menganalisis
hubungan keruangan antar objek dalam kenampakan geografis)
• What if.......? (pertanyaan berbasiskan model ; komputer dan monitor dalam
kondisi optimal, kecocokan lahan, resiko terhadap bencana, dll. berdasar
pada model)
Gambar 1.4 menjelaskan contoh sejumlah pertanyaan yang harus dijawab
oleh SIG.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, berikut adalah daftar yang


harus dipenuhi oleh SIG (lihat Tabel 1.2)

- pengambilan data dan pra-pengolahan


- manajemen basis data, penyimpanan dan pengambilan data
- pengukuran dan analisis keruangan spatial
- output grafis dan visualisasi

1.4. Sistem Komputer untuk SIG

Sistem komputer biasanya terdiri dari perangkat keras (hardware) dan


perangkat lunak (software).

a. Perangkat Keras
Terdiri dari beberapa komponen.

Central processing unit (CPU)


CPU menjalankan program komputer dan mengendalikan operasi seluruh
komponen.
Biasanya digunakan CPU untuk komputer pribadi (PC/personal computer),
atau work station pada sebuah jaringan komputer.

Memory
Memory Utama:adalah bagian paling esensi pada komputer seluruh data
dan program berada pada memori utama untuk akses yang lebih cepat.
Dibutuhkan setidaknya memori berkapasitas 64 MB untuk SIG berbasis PC.

Memory Tambahan: digunakan data berukuran besar baik permanen


maupun semi-permanen, dengan akses lebih rendah dibanding memori
utama. Dikenal juga sebagai media penyimpanan data, seperti harddisk,
disket (floppy disk), pita magnetis atau cakram padat optis (CD-ROM). Untuk
harddisk dibutuhkan setidaknya yang berkapasitas 1 GB.

Alat Tambahan (Peripherals)


Alat Masukan (Input Devices) : key board, mouse, digitizers, pemindai
(scanner), kamera digital, workstation fotogrametris digital.

Alat Keluaran (Output devices) : monitor berwarna, printer, plotter


berwarna, perekam film, dll.
Contoh-contoh komponen perangkat keras SIG diperlihatkan pada Gambar
1.5.

b. Perangkat Lunak
Terdiri atas sistem operasi, compiler dan program aplikasi.

Sistem Operasi (Operating System / OS) : mengendalikan seluruh


operasi program, juga menghubungkan perangkat keras dengan program
aplikasi.
Untuk PC : MS-DOS (IBM PCs) dan WINDOWS adalah sistem operasi yang
banyak digunakan.
Untuk Workstation : UNIX dan VMS adalah OS yang dominan.

Compiler : menerjemahkan program yang ditulis dalam bahasa komputer


pada kode mesin sehingga CPU mampu menjalankan program yang harus
dieksekusi. Bahasa kompiler yang biasa digunakan adalah C, Pascal,
FORTRAN, BASIC, dll.
Program Aplikasi : Kini, banyak vendor (perusahaan pembuat software)
menyediakan software SIG seperti pada daftar dalam Tabel 1.3.

1.5. SIG Sebagai Ilmu Multi Disiplin

SIG sebagai ilmu multi displin terpadu terdiri atas beberapa disiplin ilmu
berikut.

Geografi Statistika
Operations
Kartografi
Research
Penginderaan
Ilmu Komputer
Jauh
Fotogrammetri Matematika
Ilmu Ukur Tanah Perencanaan Sipil
Perencanaan Kota,
Geodesi
dll.
Hubungan antara disiplin ilmu tersebut dijelaskan pada Tabel 1.4.

SIG memiliki banyak nama alternatif yang sudah digunakan bertahun-tahun


menurut cakupan aplikasi dan bidang khusus masing-masing, sebagai
berikut.

- Sistem Informasi Lahan (Land Information System - LIS)


- Pemetaan terautomatisasi dan Pengelolaan Fasilitas (AM/FM-Automated
Mapping and Facilities Management)
- Sistem Informasi Lingkungan (Environmental Information System -EIS)
- Sistem Informasi Sumber Daya (Resources Information System)
- Sistem Informasi Perencanaan (Planning Information System)
- Sistem Penanganan Data keruangan (Spatial Data Handling System)

SIG kini menjadi disiplin ilmu yang independen dengan nama "Geomatic",
"Geoinformatics", atau "Geospatial Information Science" yang digunakan
pada berbagai departemen pemerintahan dan universitas.

1.6. Cakupan Aplikasi SIG

Cakupan utama Aplikasi SIG dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori.

Pengelolaan Fasilitas
Peta skala besar dan akurat, dan analisis jaringan (network analysis)
digunakan untuk pengelolaan utilitas kota. AM/FM biasanya digunakan pada
tujuan ini.

Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan


Untuk tujuan ini digunakan peta skala menengah dan kecil, dan teknik
tumpang tindih (overlay) digabungkan dengan foto udara dan citra satelit
untuk analisis dampak lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam.
Jaringan Jalan
Untuk fungsi jaringan jalan digunakan peta skala besar dan menengah, dan
analisis keruangan yang digunakan untuk rute kendaraan, lokasi perumahan
dan jalan, dll.

Perencanaan dan Rekayasa


Digunakan peta skala besar dan menengah, dan model rekayasa untuk
perencanaan sipil.

Sistem Informasi Lahan


Digunakan peta kadastral skala besar atau peta persil tanah, dan analisis
keruangan untuk informasi kadastral, pajak, dll.

Tabel 1.5 menjelaskan klasifikasi utama aplikasi SIG.

1.7. SIG sebagai Infrastruktur Informasi

Informasi menjadi isu utama dalam era komputer sekarang ini, karena
informasi memberikan kontribusi pada kualitas hidup seperti tertulis di
bawah ini.

Infrastruktur sosial ... masyarakat yang lebih baik


Infrastruktur lingkungan .... pengelolaan yang lebih baik
Infrastruktur kota ..... kehidupan yang lebih baik
Infrastruktur ekonomi ...... usaha yang lebih baik
Infrastruktur pendidikan......pengetahuan yang lebih baik
Infrastruktur informasi SIG dijelaskan pada Gambar 1.6.
Untuk mendapatkan infrastruktur informasi SIG, isu-isu seperti pada
Gambar 1.7 harus dipecahkan dan dikembangkan.

Kebijakan Data Terbuka


Data dan informasi tentang SIG harus bisa diperoleh oleh siapapun tanpa
batasan dan gratis atau murah.

Standarisasi
Standar untuk struktur dan format data harus dibangun untuk
memungkinkan transfer data dan pertukaran data geospatial.

Pertukaran Data/Informasi
Untuk penghematan waktu dan biaya dalam digitasi, pertukaran data harus
dikembangkan. Untuk mendukung pekerjaan dengan data geospatial,
informasi dan pengalaman harus dipertukarkan antar sesama pengguna.

Jaringan
Sistem komputer yang tersebar antar instansi harus dihubungkan dengan
jaringan untuk peningkatan akses dan pelayanan.

Pendekatan Multi Disiplin


Karena SIG adalah ilmu multi disiplin, maka para ilmuwan, insinyur, teknisi
dan tenaga administrasi dari berbagai disiplin harus bekerja sama untuk
tujuan bersama.
Prosedur Interoperable
SIG harus dapat dihubungkan dengan prosedur komputer lain seperti CAD,
komputer grafis, DEM, dll.

1.8. SIG untuk Pengambilan Keputusan

SIG bisa menjadi alat yang sangat penting pada pengambilan keputusan
untuk pembangunan berkelanjutan, karena SIG memberikan informasi pada
pengambil keputusan untuk analisis dan penerapan database keruangan
seperti diperlihatkan pada Gambar 1.8.
Pengambilan keputusan termasuk pembuatan kebijakan, perencanaan dan
pengelolaan dapat diimplementasikan secara langsung dengan pertimbangan
faktor-faktor penyebabnya melalui suatu konsesus masyarakat. Faktor
penyebab itubisa berupa pertumbuhan populasi, tingkat kesehatan, tingkat
kesejahteraan, teknologi, politik, ekonomi dll. yang kemudian ditentukan
target dan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Dus, faktor penyebab dari manusia, elemen kuci dimensi manusia pada
pengambilan keputusan, akan memberikan akibat pada lingkungan seperti
peningkatan pemakaian sumber daya alam, urbanisasi, industrialisasi,
konstruksi, konsumsi energi, dll. Akibat yang terjadi pada manusia ini akan
berpengaruh pada perubahan lingkungan, seperti perubahan penggunaan
tanah, perubahan gaya hidup, degradasi tanah, polusi, perubahan iklim, dll.
Perubahan lingkungan itu dapat dipantau untuk meningkatkan kewaspadaan
publik. Penginderaan jauh dapat sangat berguna untuk pemahaman yang
lebih baik atas akibat pada manusia dengan perubahan lingkungan, selain
pengineraan jauh juga membangun database.

Dimensi fisik/lingkungan yang dipantau dengan penginderaan jauh dapat


memerikan umpan balik pada manusia melalui analisis dan pengkajian
dengan SIG untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik.
Dalam hal ini, penginderaan jauh harus diintegrasikan dengan SIG.