Anda di halaman 1dari 25

STROKE HEMORAGIK

PRESENTASI KASUS LANGSUNG

Disusun oleh: Gina Aghnia Huda Pembimbing : dr. Kemala Dewi

KEPANITRAAN KLINIK SMF NEUROLOGI RSUP FATMAWATI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya sehingga pembuatan karya tulis berupa laporan kasus departemen neurologi yang berjudul Stroke Hemoragik dapat tersusun dan terselesaikan tepat pada waktunya. Terima kasih kami ucapkan kepada dr. Kemala Dewi, selaku pembimbing penulisan yang telah memberikan arahan dalam penyelesaian laporan kasus ini. Adapun pembuatan tulisan ini bertujuan untuk mendiskusikan kasus stroke hemoragik, sehingga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan mendukung penerapan klinis yang lebih baik dalam memberikan kontribusi positif sistem pelayanan kesehatan secara optimal. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan yang telah disusun ini masih banyak terdapat kekurangan di dalam penulisannya, baik di dalam penyusunan kalimat maupun di dalam teorinya. Oleh karena itu, penulis membutuhkan kritik dan saran. Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi semua pihak.

Jakarta, 22 April 2012

Penulis

BAB I ILUSTRASI KASUS

Identitas Nama Usia Alamat Pekerjaan Agama Pendidikan Stat. Pernikahan Suku : Tn. A : 55 tahun : Sawangan Baru : Tidak bekerja : Islam : Tamat SD : Menikah : Sunda

ANAMNESIS (20 April 2012) KELUHAN UTAMA Pasien datang dengan keluhan kelemahan pada tangan dan tungkai sisi sebelah kiri 2 jam SMRS RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Pasien datang dengan keluhan kelemahan pada tangan dan tungkai sisi sebelah kiri 2 jam SMRS. Kelemahan tangan dirasakan sama lemahnya dengan tungkai. Kelemahan timbul tiba-tiba pada saat pasien mengangkat batu bata dalam jumlah banyak di rumahnya. Sebelumnya pada saat mulai mengangkat batu bata, pasien tidak merasakan kelemahan. Kelemahan menyebabkan pasien berjalan terseret-seret. Kelemahan disertai kesemutan dan baal pada tangan dan tungkai kiri. Pasien juga mengeluhkan muntah sebanyak 4 kali. Pasien mengeluhkan nyeri kepala hebat yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Sebelumnya kejadian pasien menggunakan kacamata, dan mengaku penglihatannya tidak bertambah buram.

Penglihatan ganda, pelo, cadel, tersedak, demam sebelumnya, penurunan kesadaran, demam, trauma disangkal pasien RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Riwayat DM (-), penyakit jantung (-), nyeri dada (-). Ada hipertensi sejak 5tahun yang lalu, namun tidak terkontrol. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA riwayat DM (-), penyakit jantung (-) RIWAYAT KEBIASAAN Pasien merokok selama 20 tahun sebanyak 5 batang per hari. Pasien jarang berolahraga.

PEMERIKSAAN FISIK (1)(onset hari ke-1, 18 April 2012, IGD) Keadaan umum Kesadaran : komposmentis

Tekanan Darah: 140/80 mmHg Nadi Suhu Pernapasan Suhu 80x/menit : Afebris : 20 x/menit : Afebris

PEMERIKSAAN FISIK (onset hari ke-1, 18 April 2012, IGD) : konjungtiva anemis -/- sklera ikterik -/: JVP tidak meningkat

Mata Leher Thorax Jantung Paru Abdomen Ekstremitas

: S1 S2 reguler, murmur -, gallop

: bunyi nafas vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/: supel, datar, hepatomeegali - , splenomegali : akral hangat, edema -/-

Skor Skore Siriraj (2,5 x kesadaran) + ( 2 x muntah) + (2 x nyeri kepala) + (0.1 x tekanan diastolic) ( 3 x penanda ateroma) -12 :

Interpretasi > 1 =stroke hemoragik <-1 = stroke infark >-1 x <1 meragukan, perlu pemeriksaan CT Scan (2,5 x0) + ( 2 x 1) + (2x1)+(0,1x 80) (3x0) 12 = 0 ( meragukan)CT Scan

PEMERIKSAAN FISIK (onset hari ke-4, 22 April 2012, ruang rawat inap) Keadaan umum Kesadaran Sikap Kooperasi Keadaan Gizi Tekanan Darah Nadi Suhu Pernapasan Suhu : 200/100mmHg 80x/menit : Afebris : 20 x/menit : 36,5 C : Tampak Sakit sedang : GCS: E4M6V5 = 15 : Berbaring : Kooperatif

Mata Leher Thorax

PEMERIKSAAN FISIK : konjungtiva anemis -/- ; sklera ikterik -/: JVP 5-2cm H2O

Jantung

Inspeksi Palpasi

: ictus cordis tidak tampak : ictus cordis teraba di ICS 5, 1 jari medial dari linea midklavikula sinistra.

Perkusi : batas kanan jantung di PSL dekstra ICS 4, batas kiri jantung di 1 jari medialdari MCL sinistra ICS 5, pinggang jantung di ICS 2 PSL sinistra. Auskultasi : S1S2 reguler, Murmur (-), Gallop (-)

PEMERIKSAAN FISIK PARU I : pergerakan naik-turun dada simetris kanan dan kiri P : vocal fremitus kanan=kiri, tidak ada benjolan P : sonor di kedua lapang paru A : suara nafas vesikuler, Rh -/-, Wh -/-

ABDOMEN Inspeksi : datar Palpasi : nyeri tekan (-), tidak ada pembesaran hati dan lien Perkusi : timpani Auskultasi : bising usus + normal

PEMERIKSAAN FISIK EKSTREMITAS Akral hangat , pitting edema -/-, sianosis -/-, clubbing fingers -/-.

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS GCS : E5M6V5

Rangsang Selaput Otak Kanan Kaku Kuduk Laseque Kernig ( -) > 75 > 135 > 75 > 135 Kiri

Brudzinski I Brudzinski II

Pemeriksaan N. Cranialis N I (olfaktori) N.II (Optikus) : OD=3/60 OS=3/60 : baik : tidak diperiksa : normosmia / normosmia

Visus Lihat warna Funduskopi

N III (okulomotorius), IV (trochlearis), VI (abdusen) Pergerakan Bola Mata Kanan Nasal Temporal Nasal Atas Temporal Atas Nasal Bawah Temporal Bawah + + + + + + Kiri + + + + + +

Kedudukan bola mata : ortofori / ortofori Eksoftalmus : tidak ada

Nistagmus

: tidak ada

Pupil Bentuk Reflek cahaya langsung Reflek cahaya tak langsung Reflek akomodasi Reflek konvergensi

Kanan

Kiri

Bulat isokor, d=3mm + + + + + + + +

N. V (Trigeminus) Kanan Cabang Motorik Cabang Sensorik : Ophtalmikus Maksilaris Mandibularis baik baik baik baik baik baik baik Kiri baik

N.VII (Fasialis) Kanan Motorik orbitofrontal Kiri

Mengangkat alis dan mengerutkan dahi simetris

Motorik orbicularis oculi Motorik orbicularis oris: Menyeringai menggembungkan pipi -

Menutup mata sempurna Simetris pipi kanan kiri menggembung, tidak bocor

N.VIII Vestibular Vertigo : Nistagmus : -/ Tes Rinne Tes Weber : +/+ : simetris

N IX (hipoglossus), NX (vagus) - Motorik : arcus faring simetris, uvula ditengah Sensorik : tidak dilakukan N. XI (assesorius) Mengangkat bahu Menoleh : bahu kanan dan kiri bisa terangkat : bisa menerima tahanan saat menoleh

N. XII (glossofaringeus) - Pergerakkan lidah Atrofi Fasikulasi Tremor :::: defiasi ke arah kiri

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS SISTEM MOTORIK Ekstremitas atas: 5555/4444

Ekstrimitas bawah : 5555/4444 Hemiparese sinistra

GERAKAN INVOLUNTER Tremor Chorea Mioklonik : -|: -|: -|-

TROFIK Eutrofik | Eutrofik

TONUS Eutoni | Eutoni SISTEM SENSORIK Propioseptif : Baik | Hemihipestesia sinistra Eksteroseptif : Baik |Hemihipestesia sinistra PEMERIKSAAN NEUROLOGIS

FUNGSI SEREBELAR Ataxia : TVD : TVD : baik : baik : baik

Disdiadokokinesis Jari-jari Jari-hidung Tumit-lutut

FUNGSI LUHUR Astereognosia : -

Apraksia Afasia :-

:-

FUNGSI OTONOM Terpasang catheter dan pampers PEMERIKSAAN NEUROLOGIS

REFLEKS FISIOLOGIS Biceps Triceps Radius Lutut Achilles : +2/+3 : +2/+2 : +2/+2 : +2/+2 :+2/+2

REFLEKS PATOLOGIS Hoffman tromer Babinski Chaddok Gordon Schaeffer Klonus otot Klonus tumit : -/: -/: -/: -/: -/: -/: -/-

KEADAAN PSIKIS Intelegensia Demensia : baik :-

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tampak perdarahan talamus kanan, periventrikel lateralis kanan, dan intraventrikel lateralis kanan Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan HEMATOLOGI Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit Eritrosit VER/HER/KHER/RDW VER HER KHER RDW GULA DARAH SEWAKTU

Nilai Rujukan

Hasil

11.7 15.5 g/dl 33-45% 5.0-10.0 ribu/ul 150-440 ribu/ul 4.40-5.90 juta/ul

13.6 g/dl 40% 13,3 ribu/ul 273 ribu/ul 4,23 juta/ul

80.0-100.0 fl 26.0-34.0 pg 32.0-36.0 g/dl 11.5-14.5% 70 140 mg/dl

95,1 fl 31,5 pg 33,2 g/dl 12.8 % 136 mg/dl

FUNGSI GINJAL Ureum Creatinin FUNGSI HATI SGOT SGPT HEMOSTASIS APTT Kontrol APTT 23,5 33,7 27,4-19,3 0-34 0-40 22 10 20 40 mg / dl 0.6 1.5 mg/dl 26 mg/dl 1,0 mg/dl

PT Kontrol PT INR Natrium Kalium Klorida

14,0 14,8 0,93 135-147 3.10 5.10 95-108

11,3-14,7

143 3.65 107

RESUME Pasien laki-laki, 55 tahun, datang dengan keluhan tangan dan kaki kiri melemah secara tiba-tiba sejak 3 jam SMRS. Kelemahan tangan dirasakan sama lemahnya dengan tungkai. Kelemahan timbul tiba-tiba pada saat aktivitas. Kelemahan disertai kesemutan dan baal pada tangan dan tungkai kiri. Pasien juga mengeluhkan muntah sebanyak 4 kali dan nyeri kepala hebat yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Pasien memiliki riwayat hipertensi sejak 5 tahun yang lalu, namun tidak terkontrol. Pasien merokok selama 20 tahun sebanyak 5 batang per hari. Pasien jarang berolahraga.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, keasadaran komposmentis, GCS 15, tekanan darah 200/100 mmHg, frekuensi nadi 80x/ menit, frekuensi pernapasan 20x/menit, suhu 36.5 C. Status neurologis GCS 15, pupil: bulat, isokor d 3mm/3mm, RCL +/+, RCTL +/+, TRM: KK - , L>70/>70, K>135/>135, BI -, BII -, N.cranial: parese n.XII sinistra sentral, hemiparese sinistra ekstremitas atas 5555 I 4444 ekstremitas bawah 5555 I 4444 Refleks fisiologis +2/+3, Refleks patologis -/-,

Sensorik hemihipestesia sinistra, otonom terpasang pampers. Dari hasil perhitungan Siriraj Score didapatkan nilai 0 yang berarti masih diragukan apakah merupakan jenis stroke hemoragik atau iskemik. Hal ini dipastikan dari hasil CT Scan tampak perdarahan talamus kanan, periventrikel lateralis kanan, dan intraventrikel lateralis kanan.

DIAGNOSIS KERJA Diagnosis klinis: Hemiparese sinistra, parese XII sinistra sentral, hipertensi, Diagnosis etiologi: Stroke hemoragik onset hari ke-4 Diagnosis topis: Subkorteks

PENATALAKSANAAN Elevasi kepala 300 O2 3 lt/menit Mannitol 20 % 4 x 125cc Vit K 2x1 amp IV Citicholin 2 x 500mg Ranitidin 2 x 25 mg IV Captopril 3x 12,5 mg

Prognosis Ad vitam Ad functionam Ad sanactionam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

BAB II PEMBAHASAN

Pasien laki-laki, 55 tahun, datang dengan keluhan tangan dan kaki kiri melemah secara tiba-tiba sejak 3 jam SMRS. Kelemahan tangan dirasakan sama lemahnya dengan tungkai. Kelemahan timbul tiba-tiba pada saat aktivitas. Kelemahan disertai kesemutan dan baal pada tangan dan tungkai kiri. Pasien juga mengeluhkan muntah sebanyak 4 kali dan nyeri kepala hebat yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Pasien memiliki riwayat hipertensi sejak 5 tahun yang lalu, namun tidak terkontrol. Pasien merokok selama 20 tahun sebanyak 5 batang per hari. Pasien jarang berolahraga. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, keasadaran komposmentis, GCS 15, tekanan darah 200/100 mmHg, frekuensi nadi 80x/ menit, frekuensi pernapasan 20x/menit, suhu 36.5 C. Status neurologis GCS 15, pupil: bulat, isokor d 3mm/3mm, RCL +/+, RCTL +/+, TRM: KK - , L>70/>70, K>135/>135, BI -, BII -, N.cranial: parese n.XII sinistra sentral, hemiparese sinistra ekstremitas atas 5555 I 4444 ekstremitas bawah 5555 I 4444 Refleks fisiologis +2/+3, Refleks patologis -/-, Sensorik hemihipestesia sinistra, otonom terpasang pampers. Dari hasil perhitungan Siriraj Score didapatkan nilai 0 yang berarti masih diragukan apakah merupakan jenis stroke hemoragik atau iskemik. Hal ini dipastikan dari hasil CT Scan tampak perdarahan talamus kanan, periventrikel lateralis kanan, dan intraventrikel lateralis kanan. Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang dapat disimpulkan bahwa pasien ini menderita cerebral vascular disease stroke hemoragik. Pendarahan otak merupakan penyebab stroke kedua terbanyak setelah infark otak. Pecahnya pembuluh darah di otak dibedakan menurut anatominya atas perdarahan intraserebral dan perdarahan subarachnoid. Pada perdarahan intraserebral, pembuluh yang pecah terdapat di dalam otak atau pada massa otak, sedangkan pada perdarahan subarachnoid, pembuluh yang pecah terdapat di ruang subarachnoid, di sekitar sirkulus Willisi. Pecahnya pembuluh darah disebabkan oleh kerusakan

dindingnya (arteriosklerosis), atau karena kelainan congenital misalnya malformasi arteri-vena, infeksi (sifilis), dan trauma. Dengan mengetahui vaskularisasi pembuluh darah otak dan fungsi dari masing-masing vascular tersebut, dapat mengetahui perkiraan letak dari pecahnya pembuluh darah. Berikut adalah vaskularisasi dari pembuluh darah otak beserta fungsi perdarahannya.

Vaskularisasi Otak

Darah mengalir ke otak melalui dua arteri karotis dan dua arteri vertebralis. Arteri karotis interna, setelah memisahkan diri dari arteri karotis komunis, naik dan masuk ke rongga tengkorak melalui kanalis karotikus, berjalan dalam sinus kavernosus, mempercabangkan arteri untuk nervus optikus dan retina, akhirnya bercabang dua : arteri serebri anterior dan arteri serebri media.1

Arteri karotis interna memberikan vaskularisasi pada regio sentral dan lateral hemisfer. Arteri serebri anterior memberikan vaskularisasi pada korteks frontalis, parietalis bagian tengah, korpus kalosum dan nukleus kaudatus. Arteri serebri media memberikan vaskularisasi pada korteks lobus frontalis, parietalis dan temporalis.

Sistem vertebral dibentuk oleh arteri vertebralis kanan dan kiri yang berpangkal di arteri subklavia, menuju dasar tengkorak melalui kanalis transversalis di kolumna vertebralis servikalis, masuk rongga kranium melalui foramen magnum, lalu mempercabangkan masing-masing sepasang arteri serebeli inferior. Pada batas medula oblongata dan pons, keduanya bersatu menjadi arteri basilaris dan setelah mengeluarkan 3 kelompok cabang arteri, pada tingkat mesensefalon, arteri basilaris berakhir sebagai sepasang cabang arteri serebri posterior. Arteri vertebralis memberikan vaskularisasi pada batang otak dan medula spinalis atas. Arteri basilaris memberikan vaskularisasi pada pons. Arteri serebri posterior memberikan vaskularisasi pada lobus temporalis, oksipitalis, sebagian kapsula interna, talamus, hipokampus, korpus genikulatum dan mamilaria, pleksus koroid dan batang otak bagian atas.

Perdarahan intraserebral biasanya timbul karena pecahnya mikroaneurisma akibat hipertensi maligna. Hal ini paling sering terjadi di daerah subkortikal, serebelum, pons dan batang otak. Perdarah di daerah korteks lebih sering disebabkan oleh sebab lain misalnya tumor otak yang pecah atau penyakit pada dinding pembuluh darah otak primer Congophilic angiopathy, tetapi dapat juga akibat hipertensi malign adengan frekuensi lebih kecil daripada perdarahan subkortikal. Pada pasien ini diperkirakan pembuluh darah yang pecah adalah arteri serebri posterior karena pada hasil CT Scan didapatkan perdarahan di regio thalamus yang pada dasarnya

diperdarahi oleh arteri serebri posterior. Dari anamnesis diketahui kelemahan tangan dan kaki sebelah kiri dirasakan sama lemahnya serta dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan adanya kekuatan motorik ekstremitas atas 5555 I 4444 dan ekstremitas bawah 5555 I 44444, hal ini berarti lesi berada pada subkorteks bukan korteks dan ditunjang dengan hasil CT Scan yang memperlihatkan lesi ada di thalamus. Hal ini bisa terjadi karena jaras-jaras kortikospinalis yang tersebar di korteks berdasarkan homunculus berkumpul di kapsula interna, sehingga jika terjadi lesi di bawah kapsula interna, kekuatan motorik antara ekstremitas atas dan bawah akan sama.

Adapun faktor resiko terjadinya pada pasien ini berupa fator resiko yang bisa diubah yaitu usia dan jenis kelamin serta faktor resiko yang tidak bisa diubah meliputi hipertensi yang tidak terkontrol dan kebiasaan merokok. Faktor resiko stroke yang tidak dapat diubah : Umur Kemunduran sistem pembuluh darah meningkat seiring dengan bertambahnya usia hingga makin bertambah usia makin tinggi kemungkinan mendapat stroke. Dalam statistik faktor ini menjadi 2 x lipat setelah usia 55 tahun. Jenis kelamin Stroke diketahui lebih banyak lakilaki dibanding perempuan. Kecuali umur 35 44 tahun dan diatas 85 tahun, lebih banyak diderita perempuan. Hal ini diperkirakan karena pemakaian obatobat kontrasepsi dan usia harapan hidup perempuan yang lebih tinggi dibanding lakilaki.

Faktor resiko stroke yang dapat diubah Hipertensi Risiko stroke berkaitan dengan tingkat sistolik hipertensi. Hal ini berlaku untuk kedua jenis kelamin, semua umur, dan untuk resiko perdarahan, atherothrombotik, dan stroke lakunar, menariknya, risiko stroke pada tingkat hipertensi sistolik kurang dengan meningkatnya umur, sehingga ia menjadi kurang kuat, meskipun masih penting dan bisa diobati, faktor risiko ini pada orang tua. Merokok Merokok meningkatkan terjadinya thombus, karena terjadinya artherosklerosis. Beberapa laporan, termasuk meta-analisis angka studi, menunjukkan bahwa merokok jelas menyebabkan peningkatan risiko stroke untuk segala usia dan kedua jenis kelamin, tingkat risiko berhubungan dengan jumlah batang rokok yang dihisap, dan penghentian merokok mengurangi risiko, dengan resiko kembali seperti bukan perokok dalam masa lima tahun setelah penghentian.

Patofisiologi Stroke Hemoragik

Penghentian total aliran darah ke otak menyebabkan hilangnya kesadaran dalam waktu 15-20 detik dan kerusakan otak yang irreversibel terjadi setelah tujuh hingga sepuluh menit. Penyumbatan pada satu arteri menyebabkan gangguan di area otak yang terbatas (stroke). Mekanisme dasar kerusakan ini adalah selalu defisiensi energi yang disebabkan oleh iskemia. Perdarahan juga menyebabkan iskemia dengan menekan pembuluh darah di sekitarnya. Dengan menambah Na+/K+-ATPase, defisiensi energi menyebabkan penimbunan Na+ dan Ca2+ di dalam sel, serta meningkatkan konsentrasi K+ ekstrasel sehingga menimbulkan depolarisasi. Depolarisasi menyebabkan penimbunan Cl- di dalam sel, pembengkakan sel, dan kematian sel. Depolarisasi juga meningkatkan pelepasan glutamat, yang mempercepat kematian sel melalui masuknya Na+ dan Ca2+. Pembengkakan sel, pelepasan mediator vasokonstriktor, dan penyumbatan lumen pembuluh darah oleh granulosit kadang-kadang mencegah reperfusi, meskipun pada kenyataannya penyebab primernya telah dihilangkan. Kematian sel menyebabkan inflamasi, yang juga merusak sel di tepi area iskemik (penumbra). Gejala ditentukan oleh tempat perfusi yang terganggu, yakni daerah yang disuplai oleh pembuluh darah tersebut.

Gejala Klinis Stroke Hemoragik

Gejala klinis stroke ada berbagai macam, diantaranya adalah ditemukan perdarahan intraserebral (ICH) yang dapat dibedakan secara klinis dari stroke iskemik, hipertensi biasanya ditemukan, tingkat kesadaran yang berubah atau koma lebih umum pada stroke hemoragik dibandingkan dengan stroke iskemik. Seringkali, hal ini disebabkan peningkatan tekanan intrakranial. Defisit neurologis fokal. Jenis defisit tergantung pada area otak yang terlibat. Jika belahan dominan (biasanya kiri) terlibat, suatu sindrom yang terdiri dari hemiparesis kanan dan aphasia mungkin terjadi

A. Perdarahan Intraserebral Sebuah perdarahan intraserebral dimulai tiba-tiba. Di sekitar setengah dari

jumlah penderita, serangan dimulai dengan sakit kepala parah, sering selama aktivitas. Namun, pada orang tua, sakit kepala mungkin ringan atau tidak ada. Gejala disfungsi otak menggambarkan perkembangan yang terus memburuk sebagai perdarahan. Beberapa gejala, seperti kelemahan, kelumpuhan, hilangnya sensasi, dan mati rasa, sering hanya mempengaruhi satu sisi tubuh. Orang mungkin tidak dapat berbicara atau menjadi bingung. Visi dapat terganggu atau hilang. Mata dapat menunjukkan arah yang berbeda atau menjadi lumpuh. Mual, muntah, kejang, dan hilangnya kesadaran yang umum dan dapat terjadi dalam beberapa detik untuk menit.

B. Perdarahan Subaraknoid Sebelum robek, aneurisma yang biasanya tidak menimbulkan gejala kecuali menekan pada saraf atau kebocoran sejumlah kecil darah, biasanya sebelum pecah besar (yang menyebabkan sakit kepala), menghasilkan tanda-tanda peringatan, seperti berikut: Sakit kepala, yang mungkin luar biasa tiba-tiba dan parah (kadang-kadang disebut sakit kepala halilintar) Sakit pada mata atau daerah fasial Penglihatan ganda

Aneurisma yang pecah biasanya menyebabkan sakit kepala, tiba-tiba parah dan mencapai puncak dalam beberapa detik. Hal ini sering diikuti dengan kehilangan kesadaran singkat. Hampir setengah dari orang yang terkena meninggal sebelum mencapai rumah sakit. Beberapa orang tetap berada dalam koma atau tidak sadar dan sebagian lainnya bangun, merasa bingung, dan mengantuk. Dalam beberapa jam atau bahkan menit, penderita mungkin menjadi tidak responsif dan sulit untuk dibangunkan. Dalam waktu 24 jam, darah dan cairan serebrospinal di sekitar otak mengiritasi lapisan jaringan yang menutupi otak (meninges), menyebabkan leher kaku serta sakit kepala terus, sering dengan muntah, pusing, dan nyeri pinggang.

Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang Stroke Hemoragik

Diagnosis stroke dapat ditegakkan berdasarkan riwayat dan keluhan utama pasien. Beberapa gejala/tanda yang mengarah kepada diagnosis stroke antara lain: hemiparesis, gangguan sensorik satu sisi tubuh, hemianopia atau buta mendadak, diplopia. Vertigo, afasia, disfagia, disartria, ataksia, kejang atau penurunan kesadaran yang keseluruhannya terjadi secara mendadak. Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk mendukung diagnosis stroke dan menyingkirkan diagnosis bandingnya. Laboratorium yang dapat dilakukan pada penderita stroke diantaranya adalah hitung darah lengkap, profil pembekuan darah, kadar elektrolit, dan kadar serum glukosa. Pemeriksaan pencitraan juga diperlukan dalam diagnosis. Pencitraan otak adalah langkah penting dalam evaluasi pasien dan harus didapatkan dalam basis kedaruratan. Pencitraan otak membantu dalam diagnosis adanya perdarahan, serta dapat

mengidentifikasi komplikasi seperti perdarahan intraventrikular, edem otak, dan hidrosefalus. Baik CT non kontras ataupun MRI otak merupakan pilihan yang dapat digunakan. CT non kontras otak dapat digunakan untuk membedakan stroke hemoragik dari stroke iskemik. Pencitraan ini berguna untuk membedakan stroke dari patologi

intrakranial lainnya. CT non kontras dapat mengidentifikasi secara virtual hematoma yang berdiameter lebih dari 1 cm. MRI telah terbukti dapat mengidentifikasi stroke lebih cepat dan lebih bisa diandalkan daripada CT scan, terutama stroke iskemik. MRI dapat mengidentifikasi malformasi vaskular yang mendasari atau lesi yang menyebabkan perdarahan. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah elektrokardiogram (EKG) untuk memulai memonitor aktivitas jantung. Disritmia jantung dan iskemia miokard memiliki kejadian signifikan dengan stroke. Stroke dapat didiagnosa banding dengan penyakit-penyakit lain seperti: ensefalitis, meningitis, migrain, neoplasma otak, hipernatremia, stroke iskemik, perdarahan subaraknoid, hematoma subdural, kedaruratan hipertensif, hipoglikemia, labirinitis, dan Transient Ischemic Attack (TIA). Skor Skore Siriraj (2,5 x kesadaran) + ( 2 x muntah) + (2 x nyeri kepala) + (0.1 x tekanan diastolic) ( 3 x penanda ateroma) -12 : Interpretasi > 1 =stroke hemoragik <-1 = stroke infark >-1 x <1 meragukan, perlu pemeriksaan CT Scan

DAFTAR PUSTAKA

Kelompok Studi Stroke Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Guideline Stroke 2011. Edisi Revisi. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia: Jakarta, 2011.

Misbach, Jusuf. Stroke Aspek Diagnostik, patofisiologi dan manajemen. FKUI; Jakarta, 1999

Nasissi, Denise. Hemorrhagic Stroke Emedicine. Medscape, 2012. diunduh dari: http://emedicine.medscape.com/article/793821-overview]

Sylvia, A. Price.Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses penyakit.edisi 6.volume 2.Jakarta: EGC, 2006