Anda di halaman 1dari 3

Nafsu Ingin Menjadi Pemimpin

http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/dr-daud-rasyid-nafsu-ingin-jadi-pemimpin.htm

Oleh Dr. Daud Rasyid

"Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah
penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam Bukhori).

Perbedaan zaman Salafus-sholeh yang paling kentara dengan zaman sekarang, salah satunya dalam
ambisi kepemimpinan. Dulu, khususnya zaman sahabat, mereka saling bertolak-tolakan untuk
menjadi pemimpin.

Abu Bakar Shiddiq diriwayatkan, sebelum diminta menjadi Khalifah menggantikan Rasulullah
mengusulkan agar Umar yang menjadi Khalifah. Alasan beliau karena Umar adalah seorang yang
kuat.

Tetapi Umar menolak, dengan mengatakan, kekuatanku akan berfungsi dengan keutamaan yang ada
padamu. Lalu Umar membai'ah Abu Bakar dan diikuti oleh sahabat-sahabat lain dari Muhajirin dan
Anshor.

Dari dialog ini dapat kita pahami bahwa generasi awal Islam, yang terbaik itu, memandang jabatan
seperti momok yang menakutkan. Mereka berusaha untuk menghindarinya selama masih mungkin.
Tapi di zaman ini, keadaannya sudah berubah jauh.

Orang saling berlomba untuk menjadi pemimpin. Jabatan sudah menjadi tujuan hidup orang
banyak. Semua tokoh yang sedang bertarung mengatakan, jika diminta oleh rakyat, saya siap maju.
Inilah basa basi mereka. Entah rakyat mana yang meminta dia maju jadi pemimpin. Sebuah
kedustaan yang dipakai untuk menutupi ambisi menjadi pemimpin.

Keberatan para Sahabat dulu untuk menjadi pemimpin, dikarenakan mereka mengetahui
konsekuensi dan resiko menjadi pemimpin. Mereka mendengar hadits-hadits Nabi Saw tentang
tanggung jawab pemimpin di dunia dan di akhirat. "Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap
pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya. Imam (kepala negara) adalah pemimpin dan
akan dimintai pertanggung jawabannya atas kepemimpinannya. ..".

Dalam hadits yang lain Nabi Muhammad Saw memprediksi hiruk pikuk di akhir zaman soal
kekuasaan dan menjelaskan hakikat dari kekuasaan itu. Beliau bersabda seperti dilaporkan oleh Abu
Hurairah :

"Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di
hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam Bukhori).

Juga Rasulullah Saw memperingatkan mereka yang sedang berkuasa yang lari dari tugas dan
tanggung jawabnya sebagai pelayan rakyat dan tidak bekerja untuk kepentingan rakyatnya, dengan
sabda beliau : "Siapa yang diberikan Allah kekuasaan mengurus urusan kaum Muslimin, kemudian
ia tidak melayani mereka dan keperluan mereka, maka Allah tidak akan memenuhi kebutuhannya."
(Riwayat Abu Daud).

Dan dalam riwayat at-Tirmizi disebutkan : "Tidak ada seorang pemimpin yang menutup pintunya
dari orang-orang yang memerlukannya dan orang fakir miskin, melainkan Allah juga akan menutup
pintu langit dari kebutuhannya dan kemiskinannya."
1
Hadits-hadits yang ada lebih banyak menggambarkan pahitnya menjadi pemimpin ketimbang
manisnya. Sedang mereka adalah generasi yang lebih mengutamakan kesenangan ukhrowi daripada
kenikmatan duniawi. Itulah yang dapat ditangkap dari keberatan mereka.

Sementara orang yang hidup di zaman ini berfikir terbalik. Yang mereka kejar adalah kesenangan
duniawi yang didapat melalui jabatan dan kekuasaan. Mereka lupa dengan pertanggung jawaban di
hari Kiamat itu. Mereka tidak segan-segan bermanuver dan merekayasa untuk mendapatkan jabatan
dan kekuasaan itu.

Kadangkala cara yang dipakai sudah hampir sama dengan cara kaum kuffar atau kaum sekuler,
menghancurkan nilai-nilai akhlak Islam yang sangat fundamental; mencari dan mengumpulkan
kelemahan lawan politik dan pada waktunya aib-aib itu dibeberkan untuk mengganjal jalan
kompetitornya.

Ada pula yang mengumpulkan dana dengan cara-cara yang tak pantas dan tak bermoral.
Mendukung calon kepala daerah dalam pilkada dari partai mana saja, asal dengan imbalan materi
dengan menyerahkan uang yang besar. Terserah orang itu menang atau kalah nanti, tak begitu
penting, yang penting uangnya sudah didapat.

Para pemburu kekuasaan itu beralasan, jika kepemimpinan itu tidak direbut, maka ia akan dipegang
oleh orang-orang Fasik dan tangan tak Amanah, yang akan menyebarkan kemungkaran dan maksiat.
Tapi jika ia dipegang oleh orang soleh dan beriman, akan dapat mewujudkan kemaslahatan bagi
masyarakat luas. Alasan ini memang indah kedengaran.

Namun kenyataannya, semua yang berebut jabatan mengklaim bahwa ia lebih baik dari yang sedang
memimpin. Dan tidak ada yang dapat memberi jaminan bahwa jika ia memimpin, keadaan akan
menjadi lebih baik.

Bahkan rata-rata orang pandai berteriak sebelum menjadi pemimpin, tetapi setelah masuk ke dalam
sistem, mereka tak bisa berbuat banyak. Akhirnya mengikuti gaya orang sekuler. Yang mencoba
bertahan dengan idealisme, mendapat serangan dan kecaman dari berbagai pihak, lalu akhirnya
menyerah kepada keadaan.

Berapa banyak mantan aktifis mahasiswa yang sebelumnya kritis dan berdemo menentang rezim
masa lalu, tetapi sesudah masuk ke dalam sistem, tidak bisa merubah apa-apa, bahkan
menggunakan cara-cara yang dipakai oleh rezim sebelumnya, memanfaatkan jabatan untuk
menimbun uang dan kekayaan.

Kemudian merekapun menyiapkan alasan-alasan pembelaan; antara lain, merubah sesuatu tak bisa
sekejap mata, tetapi harus bertahap, menilai sesuatu tak boleh hitam-putih, apa yang ada sekarang
sudah lebih baik dari masa sebelumnya.

Keadaan seperti ini semakin memperkuat keyakinan sebagian orang, bahwa memperbaiki sistem
tidak harus masuk terjun ke dalam sistem itu. Bahkan tak mungkin melakukan perubahan selama
kita ada di dalam. Sebuah logika terbalik dari slogan yang digembar gemborkan pihak lain, yang
kalau mau merubah sistem, harus terjun ke dalam sistem itu. Ternyata kebanyakan yang pernah
terjun ke dalam sistem, tidak mampu merubah kerusakan yang ada. Bukan sekedar tak mampu
membersihkan, justru ikut terkena kotoran.

Memang ada sebagian yang masuk ke dalam sistem dengan cara yang sah, lalu berjuang di
dalamnya dengan penuh resiko, mencoba melakukan perubahan dan bertahan dengan prinsip-

2
prinsip yang dipegangnya. Mereka ini biasanya kalau tak tersingkir, dimusuhi atau makan hati.

Gerakan Islam sebenarnya lebih besar dari sekadar Partai Politik yang dibatasi oleh aturan-aturan
formal, aturan main, dan bahkan ideologi kebangsaan. Gerakan Islam berjuang untuk jangka waktu
yang tak terbatas, hingga Islam itu tegak berdiri dengan kokoh. Lingkup kerjanya juga tidak hanya
menyangkut soal-soal politik.

Ketika gerakan Islam menjadi partai politik, sebenarnya ia sedang dipasung dan dihadapkan pada
agenda kacangan yang didiktekan kepadanya yang bukan menjadi agenda utamanya. Bahkan
kesibukannya mengurusi soal-soal politik hanyalah pembelokan dari target utama dan juga
pemborosan energi yang tak setimpal dengan hasil yang dicapainya. Ibarat membayar dengan harga
emas untuk membeli besi.

Betapa sayangnya seorang yang sudah tiga puluh tahun malang melintang dalam gerakan Islam,
ujung-ujungnya hanya menjadi tukang lobi kesana-kemari untuk memperjuangkan kursi alias
kekuasaan. Sungguh menyedihkan. Yang diperjuangkan oleh gerakan Islam adalah sebuah agenda
besar yang mendunia (Ustaziyyatul 'Alam), bukan agenda lokal dan sektor sempit dan terbatas.

Lalu di sini mungkin pertanyaan akan muncul, apakah urusan lokal yang berujung pada
kemaslahtan ummat Islam itu diabaikan? Jawabannya jelas tidak. Akan tetapi biarlah masalah-
masalah lokal dan sektoral itu diurusi oleh anak-anak ummat yang mempunyai kualitas lokal.

Adapun gerakan Islam yang sudah mendunia haruslah bekerja sesuai dengan kapasitasnya. Tak
pantas pemuda-pemuda gerakan diminta mengurus pilkada, pemilu, menempel-nempel poster,
apalagi bertarung dengan orang-orang yang tak sekapasitas dengannya.

Gerakan Islam sekali lagi harusnya mengurusi hal-hal yang lebih besar, lebih strategis, yakni
pembinaan ummat, membangun generasi intelek dan beriman, mengarahkan pemikiran ummat
kepada cara berpikir yang Islami setelah mengalami degradasi. Anak-anak gerakan yang tak naik
kelas bolehlah dipersilahkan terjun ke dunia politik praktis. Karena sampai di situlah mungkin batas
kemampuannya.

Ada hikmahnya kenapa Allah swt tidak mengizinkan gerakan Islam di negeri induknya
berkecimpung dalam politik praktis secara besar-besaran. Karena hal itu akan membuat mereka
lalai dari perjuangan utama. Target utamanya bukan untuk mendapat kursi Perdana Menteri, atau
bahkan Presiden sekalipun, tetapi untuk menjadi qiyadah fikriyah bagi pergerakan Islam sedunia.

Andaikan peluang lokal itu terbuka, niscaya mereka akan sibuk dengan masalah-masalah parsial di
lapangan sementara tugas mereka jauh lebih kompleks dari membenahi sebuah negara yang
masyarakatnya sudah rusak secara ideologis, moral dan perasaan.

Tugas Gerakan Islam lebih besar dari membersihkan korupsi, ketimpangan ekonomi, ketidak
merataan pembangunan. Tugas mereka adalah mengembalikan penyembahan kepada Allah setelah
mengalami degradasi dengan menuhankan manusia dan Tuhan-tuhan lainnya.. (Ikhrojun Naas min
Ibadatil Ibad ilaa Ibadatil Robbil Ibaad).