Anda di halaman 1dari 15

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah Pelayanan kesehatan masyarakat yang optimal merupakan salah satu upaya penting untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Upaya pelayanan kesehatan itu ditujukan untuk mengatasi permasalahan bidang kesehatan salah satunya adalah meningkatnya angka kematian ibu dan bayi yang cukup tinggi (Risdiningrum. R, 2008). Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan persalinan adalah masalah besar di negara berkembang. Tahun 1995 World Health Organitation (WHO), Memperkirakan 1400 perempuan meninggal setiap hari atau lebih dari 500.000 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan dan persalinan. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita muda pada masa puncak produktivitasnya (Saifuddin, 2002). Di negara miskin, sekitar 25-50% kematian wanita usia subur berkaitan dengan kehamilan (Prawirohardjo. S, 2002). Faktor ini sebetulnya dapat diatasi dengan intervensi medis yang tidak sulit. Namun, pemahaman tentang pencegahan dan penanganan belum benar-benar

memasyarakatkan (Saifuddin,2002). Menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 menunjukkan bahwa sebab langsung kematian ibu didominasi oleh kejadian perdarahan (30%),

preeklamsia dan eklamsi sekitar (25%) dan infeksi (12%). Diharapkan Pembangunan Jangka Panjang ke II (PJP II) tahun 2019 menjadi 60 - 80 per 100.000 kelahiran hidup (Rosaningtyas. FW, 2009). Sebab langsung dari kematian bisa diatasi dengan intervensi kesehatan yang terpadu seperti dengan memberikan akses pelayanan kesehatan serta membuat pelayanan kesehatan menjadi lebih terjangkau. Disamping itu mutunya juga harus ditingkatkan. Angka kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan masih menduduki tingkat tertinggi. Perdarahan ini berupa komplikasi dari kehamilan, persalinan dan masa nifas. Salah satu komplikasi dari kehamilan adalah plasenta previa (Prawirohardjo.S,2002). Placenta-previa artinya "plasenta di depan" (previa = depan). Artinya, plasenta berada lebih "depan" dari pada janin yang hendak keluar. Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15-20 cm dan tebal 2,5 cm, berat rata-rata 500 gram (Rosaningtyas. FW, 2009). Normalnya plasenta terletak di bagian fundus (bagian puncak/atas rahim), bisa agak ke kiri atau ke kanan sedikit, tetapi tidak sampai meluas ke bagian bawah apalagi menutupi jalan lahir. Sebaliknya, plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir dan terlepas sebelum waktunya. Wanita dengan jarak kelahiran <15 bulan mempunyai kemungkinan 2 kali lebih besar untuk terjadinya plasenta previa dibandingkan wanita dengan jarak kelahiran 15 bulan. Variabel lain yang

berpengaruh terhadap kejadian plasenta previa adalah umur >35 tahun, dengan riwayat abortus (Risdiningrum.R,2008).

1.2 Rumusan masalah 1. Apa pengertian dari Plasenta Previa? 2. Bagaimana etiologi dari Plasenta Previa? 3. Bagaimana Patofisiologi dari Plasenta Previa? 4. Apa tanda dan gejala dari Plasenta Previa? 5. Apa komplikasi dari Plasenta Previa? 6. Apa klasifikasi dari Plasenta Previa? 7. Bagaimana manifestasi Klinik dari Plasenta Previa? 8. Apa pemeriksaan Penunjang dari Plasenta Previa? 9. Bagaimana penatalaksanaan dari Plasenta Previa? 10. Bagaimana konsep Asuhan Keperawatan dari Plasenta Previa?

1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan umum Untuk mengetahui konsep dasar dari Plasenta Previa beserta Asuhan Keperawatan pada ibu hamil. 1.3.2 Tujuan khusus 1. Untuk mengetahui pengertian dari Plasenta Previa 2. Untuk mengetahui etiologi dari Plasenta Previa 3. Untuk mengetahui Patofisiologi dari Placenta Previa 4. Untuk mengetahui tanda dan gejala dari Plasenta Previa 5. Untuk mengetahui komplikasi dari Plasenta Previa 6. Untuk mengetahui klasifikasi dari Plasenta Previa 7. Untuk mengetahui manifestasi Klinik dari Plasenta Previa 8. Untuk mengetahui pemeriksaan Penunjang dari Plasenta Previa 9. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari Plasenta Previa 10. Untuk mengetahui konsep Asuhan Keperawatan dari Plasenta Previa

BAB II TINJAUAN TEORITIS

2.1 Definisi Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada bagian segmen bawah rahim, sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir yang ditandai dengan perdarahan uterus yang dapat keluar melalui vagina tanpa adanya rasa nyeri pada kehamilan trisemster terakhir, khususnya pada bulan kedelapan. Plasenta prrevia adalah plasenta yang berimplantasi di segmen bawah rahim yang dapat memberikan dampak yang sangat merugikan ibu maupun janin berupa perdarahan, prematuritas dan peningkatan angka kesakitan dan kematia perinatal.

2.2 Etiologi 1. Umur 2. Banyaknya jumlah kehamilan dan persalinan (paritas) 3. Hipoplasia endometrium 4. Korpus luteum bereaksi lambat 5. Tumor-tumor, seperti mioma uteri, polip endometrium 6. Endometrium cacat, seksio cesarea, kuretase, dan manual plasenta 7. Kehamilan kembar 8. Riwayat plasenta previa sebelumnya

2.3 Faktor Risiko 1. Risiko plasenta previa pada wanita dengan umur 35 tahun 2 kali lebih besar dibandingkan dengan umur < 35. 2. Risiko plasenta previa pada multigravida 1,3 kali lebih besar dibandingkan primigravida. 3. Risiko plasenta previa pada wanita dengan riwayat abortus 4 kali lebih besar dibandingkan dengan tanpa riwayat abortus. 4. Riwayat seksio sesaria tidak ditemukan sebagai factor risiko terjadinya plasenta previa.

2.4 Klasifikasi Plasenta previa 1. Plasenta previa totalis atau komplit, adalah plasenta yang menutupi seluruh ostium dan internum. 2. plasenta previa parsialis, adalah plasenta yang menutupi sebagian ostium uteri internum. 3. plasenta previa margianalis adalah plasenta yang tepinya berada pada pinggir ostium uteri internum.

4. plasenta letak rendah, yang berarti bahwa plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim yang sedemikian rupa sehingga tepi bawahnya berada pada jarak lebih kurang 2 cm dari ostium uteri internum.

2.5 Tanda dan Gejala 1. perdarahan uterus yang keluar melalui vagina tanpa disertai dengan adanya nyeri. 2. perdarahan biasanya terjadi diatas trisemester kedua. 3. perdarahn pertama berlangsung tidak banyak dan dapat berhenti sendiri. 4. palpasi abdomen sering teraba bagian terbawah janin masih tinggi diatas simfisis dengan letak janin tidak dalam letak memanjang. 5. pada plasenta previa ini tidak ditemui nyeri maupun tegang pada perut ibu saat dilakukan palpasi.

2.5 Patofisiologi Gaya hidup , paritas , usia ibu , endometrium cacat, riwayat operasi, keguguran berulang

Plasenta previa

Imflatasi abnormal dari plasenta

Sinus uterus yang robek

Implatansi embrio pada uterus

Terlepasnya plasenta dari dinding uterus

plasenta melekat, tumbuh dan berkembang

menutupi ostinum, internum

pendarahan

penurunan cairan intravaskuler

kelemahan fisik

penurunan status

kehilangan cairan

imobilisasi

ancaman atau perubahan status kesehatan

Kekurangan volume cairan

intoleransi aktivitas

cemas

2.6 Pemeriksaan Diagnostik 1. Pemeriksaan Inspekulo, dengan menggunakan speculum secara hati-hati dilihat daei mana sumber perdarahan, apakah dari uterus, ataupun terdapat kelainan pada serviks, vagina, varises pecah, dll.

2. Pemeriksaan radio-isotop a. plasentografi jaringan lunak b. sitografi c. plasentografi indirek

d. arteriografi e. amniografi f. radio isotop plasentografi

3. ultrasonografi, transabdominal ultrasonografi dalam keadaan kandung kemih yang dikosongkan akan memberikan kepastian diagnose plasenta previa. Metode paling mudah, sederhana, dan aman untuk mengetahui letak plasenta adalah melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) transabdominal yang dapat memperlihatkan lokasi plasenta dengan keakuratan yang tinggi sekitar 96%.

4. Pemeriksaan dalam, pemeriksaan ini merupakan senjata dan cara paling akhir yang paling ampuh dalam bidang obstetric untuk diagnose plasenta previa.

2.7 Penatalaksanaan 1. harus dilakukan dirumah sakit dengan fasilitas operasi 2. sebelum dirujuk, dianjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap kekiri, tidak melakukan senggama, menghindari peningkatan tekanan rongga perut. 3. pasang infus cairan NaCL fisiologis 4. pantau tekanan darah dan frekuensi nadi pasien sesaria teratur tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotesi atau syok akibat perdarahan 5. bila terjadi renjakan, segera lakukan resusitasi cairan dan transpusi darah.

2.8 Komplikasi 1. Komplikasi pada ibu a. Dapat terjadi anemia bahkan syok. b. Dapat terjadi robekan pada serviks dan segmen bawah rahim yang rapuh c. Infeksi karena perdarahan yang banyak.

2. Komplikasi pada janin a. Kelainan letak janin. b. Prematuritas dengan morbiditas dan mortalitas tinggi c. Asfiksia intra uterin sampai dengan kematian

2.9 Asuhan Keperawatan 2.9.1 Pengkajian 1. Sirkulasi : Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600 800 ml 2. Integritas Ego Dapat menunjukkan labilitas emosional, dari kegembiraan, sampai ketakutan, marah, atau menarik diri klien pasangan dapat memiliki pertanyaan atau salah terima peran dalam pengalaman kelahiran. mungkin mengekspresikan ketidak mampuan untuk menghadapi situasi baru 3. Eliminasi kateter urinarius Indwelling mungkin terpasang. urine jernih pucat 4. Makanan / Cairan Abdomen lunak dengan tidak ada distensi pada awal

5. Neurosensori Kerusakan gerakan dan sensasi dibawah tingkat anastesi spinal cpidural 6. Nyeri / Ketidaknyamanan Mungkin mengeluh ketidaknyamanan dari berbagai sumber, misal, trauma bedah / insisi, nyeri 7. Pernapasan Bunyi paru jelas dan vaskuler 8. Keamanan Balutan abdomen dapat tampak sedikit noda atau kering dan utuh, jalur parenteral. bila digunakan paten dan insisi bebas eritema, bengkak dan nyeeri tekan 9. Seksualitas Fundus kontraksi kuat dan terletak diumbilikus, aliran lokhia sedang dan bebas bekuan berlebihan/ banyak.

2.9.2

Diagnosa Keperawatan 1. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan perkembangan transisi/ peningkatan anggota keluarga. 2. Nyeri/ ketidaknyamanan berhubungan dengan trauma pembedahan. 3. ansietas berhubungan dengan krisis situasi. 4. Harga diri rendah berhubungan dengan merasa gagal dalam peristiwa kehidupan. 5. Resiko cedera berhubungan dengan trauma jaringan. 6. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. 7. Konstipasi berhubumgan dengan penurunan tonus otot.

8. Kurang pengetahuan mengenai periode pemulihan berhubungan dengan kurang pemajanan. 9. Perubahan eliminasi urin berhubungan dengan trauma/ difersi mekanis. 10. Kurang perawatan diri berhubungan dengan penurunan kekuatan dan ketahanan, ketidak nyamanan fisik.

2.9.3

Intervensi keperawatan 1. Resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan perdarahan akibat plasenta previa. Tujuan : infeksi tidak terjadi Kriteria hasil : tidak terjadi kenaikan suhu, tidak terdapat tanda-tanda infeksi dan gejala infeksi Intervensi : 1. Kaji peningkatan suhu, nafdi, respirasi sebagai tanda infeksi 2. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan 3. Observasi terhadap infeksi 4. Ganti pembalut 5. Hindari pemeriksaan per vagina 6. Berikan cairan parenteral sesuai program 7. Kolaborasi dalam pemberian antibiotic 8. Kaji intake dan output cairan 9. Observasi perdarahn, warna, bau, jumlah dan kontraksi uterus 2. Resiko tinggi cedera (janin) yang berhubungan dengan penurunan perfusi uterin/plasenta akibat perdarahan Tujuan : janin tetap aman tidak terjadi cedera Kriteria hasil : janin tetap aman selama menjelang persalinan dan bayi lahir dengan normal Intervensi : 1. Kaji DJJ dan penurunan gerak janin 2. Pantau janin seiap 2 jam sekali 3. Evaluasi pertumbuhan janin dan volume cairan amnion 4. Lakukan USG 5. Kolaborasi dengan dokter 3. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan informasi tentang plasenta previa Tujuan : pasien mengerti tentang plasenta previa Kriteria hasil : mengungkapkan perasaan, kelihatan rileks, dapat istirahat dengan baik 1. Kaji tingkat pengetahuan pasien 2. Berikan informasi yang akurat tentang keadaan pasien dan bayi

3. Mulai kontak antara pasien atau pasangan dengan baik sesegera mungkin 4. Berikan kesempatan pasien dan keluarganya untuk berdiskusi 5. Melakukan USG 6. Pantau DJJ 4. Resiko tinggi kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan abnormal Tujuan : syok hipovolemik tidak terjadi Intervensi : 1. Monitor tanda-tanda vital 2. Kajin intake dan output cairan 3. Observasi perdarahn, warna, bau, jumlah dan kontraksi uterus 4. Kolaborasi pemberian cairan elektrolit 5. Intoleransi aktifitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik 6. Tujuan : klien dapat beraktifitas kembali 7. Intervensi : Evaluasi respons klien terhadap aktifitas 1. Kaji kemampuan fisik pasien untuk mengetahui tingkat aktivitas dan bantuan yang diberikan 2. Tirah baring/bedrest total, berikan lingkungan tentang dan pantau atau batasi pengunjung 3. Bantu dalam pemenuhan aktifitas, bantuan yang diberikan akan mampu memenuhi kebutuhan aktifitas selama pasien belum toleran terhadap aktifitas

BAB III PEMBAHASAN KASUS 3.1 Kasus Seorang ibu hamil datang ke UGD disebuah Rumah Sakit dengan keluhan darah keluar dari jalan lahir setelah dikaji klien G3p1A0 usia kehamilan 33 minggu tekanan darah 100/60 mmHg, Nadi 98x/ menit, RR 20 x/ menit, pendarahan pervaginal (+). hasil pemeriksaan menunjukan bahwa plasenta menutupi seluruh ostinum internum, maka dengan keadaan tersebut tim kesehatan yang lain menganjurkan kepada klien harus segera dilakukan operasi section secaria karena apabila tidak dilakukan operasi maka akan mengalami pendarahan hebat pada ibu serta hipoksia pada janin. hasil lab menunjukan hb 11 g/dl hematokrit 7000.

3.2 Pengkajian 3.2.1 Biodata 1. Identitas pasien Nama Umur Jenis kelamin Agama Pendidikan pekerjaan Alamat Suku/Bangsa Status Tanggal masuk Tanggal pengkajian Diagnosa Medis : : : : : : : : : : : : Ny. D 37 tahun Perempuan Islam SMP Ibu RT Jl. Suka Makmur Sunda Menikah 26 februari 2013 26 februari 2013 Pendarahan Plasenta Previa

2. Identitas Penanggung Jawab Nama Umur Agama pendidikan Alamat Pekerjaan Hub dengan Klien : : : : : : : Tn. S 45 tahun Islam SMA Jl. suka makmur Wiraswasta Suami

10

3.2.2 Riwayat Kesehatan Klien 1. Keluhan utama klien mengeluh adanya darah keluar dari jalan lahir 2. Riwayat Kesehatan sekarang klien tampak gelisah, perdarahan pervaginal (+), nyeri (-).

2.2.3 Analisis Data NO. 1. DS : Pasien mengeluh darah keluar dari jalan lahir DO : TD : 100/60 mmHg N : 98 x/ menit RR : 20x/ menit Pendarahan pervaginal (+) Nyeri (-) Hb 11 g/dl Hematokrit 7000 plasenta seluruh internum 2. DS : Pasien mengeluh darah keluar dari jalan lahir DO : TD : 100/60 mmHg N : 98 x/ menit RR : 20x/ menit Pendarahan pervaginal (+) Nyeri (-) Hb 11 g/dl Hematokrit 7000 plasenta seluruh menutupi ostinum intoleransi aktivitas imobilitas Kelemahan fisik pendarahan intoleransi aktivitas menutupi ostinum Kekurangan volume cairan kehilangan cairan penurunan cairan intravaskuler Data Etiologi pendarahan Masalah Kekurangan volume cairan

11

internum

3. DS : Pasien mengeluh darah keluar dari jalan lahir DO : TD : 100/60 mmHg N : 98 x/ menit RR : 20x/ menit Pendarahan pervaginal (+) Nyeri (-) Hb 11 g/dl Hematokrit 7000 plasenta seluruh internum menutupi ostinum

pendarahan

cemas

penurunan status

ancaman atau perubahan status kesehatan

cemas

3.2.4 Intervensi Keperawatan NO. 1. Diagnosa Keperawatan Kekurangan cairan volume berhubungan Tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ..x 24 jam keseimbangan cairan pasien indicator : TD dalam rentang yang diharapkan CVP dalam rentang yang diharapkan tekanan dalam arteri rentang rata-rata yang normal dengan intervensi Monitor cairan: tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan

dengan kehilangan cairan

eliminasi. tentukan kemungkinan

factor resiko dari ketidak keseimbangan cairan (

hipertermia, terapi diuretic, kelainan renal, gagal

jantung,diaporesis, disfungsi hati). monitor berat badan monitor serum dan elektrolit urine.

diharapkan nadi perifer teraba

2.

intoleransi

aktivitas

Setelah dilakukan tindakan Observasi

adanya

12

berhubungan kelemahan fisik

dengan

keperawatan selama......x24 pembatasan dalam tanpa

klien

dalam

Pasien bertoleransi terhadap melakukan aktivitas : aktivitas dengan Kriteria Hasil : Berpartisipasi aktivitas disertai fisik Kaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat Monitor pasien akan

peningkatan

tekanan darah, nadi dan RR Mampu aktivitas melakukan sehari hari

adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan Monitor lamanya pasien Kolaborasi dengan tenaga rehabilitasi medik dalam program pola tidur tidur dan

istirahat

(ADLs) secara mandiri Keseimbangan aktivitas dan istirahat

merencanakan terapi yang tepat 3. cemas dengan berhubungan ancaman atau status setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ..x24 jam pasien dapat Pengurangan Cemas :

gunakan pendekatan yang menenangkan pahami temani perspektif pasien

perubahan kesehatan

mengontrol cemas dengan indicator : monitor kecemasan menyingkirkan kecemasan menurunkan merencanakan koping untuk stimulus tanda intensitas

terhadap situasi stres. pasien untuk

memberikan keamanan dan mengurangi takut.

lingkungan ketika cemas strategi situasi

penuh setres menggunakan relaksasi mengurangi cemas teknik untuk

13

BAB IV PENUTUP

4.1 Simpulan Plasenta previa adalah kondisi saat plasenta terimplantasi di bawah kutub uterus. Implantasi ini dapat berupa:

a. Total atau komplit : plasenta menutupi seluruh ostium uteri serviks. b. Parsial : hanya sebagian ostium uteri yang tertutupi. c. Marginal : ujung plasenta berada pada tepi ostium uteri. d. Letak-rendah : ujung plasenta berada sangat dekat dengan tepi ostium uteri.
Penyebab plasenta previa secara pasti sulit ditentukan, tetapi ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya plasenta previa, yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi lokalisasi implantasi :Fertilisasi cepat atau lambat, Variabilitas dalam implantasi berpotensi menyebabkan blastokista, Daya penerimaan dan kecukupan endometrium, Pada kehamilan kembar karena ukuran permukaan plasenta meningkat, Usia ibu lanjut (lebih dari 35 tahun) pada 33% kasus. Pada umumnya komplikasi pada plasenta previa merupakan perdarahan yang berat, dan jika tidak mendapatkan penanganan yang cepat bisa mendatangkan syok dan kematian. Oleh sebab itu pentingnya asuhan keperawatan dalam menanggulangi klien dengan plasenta previa.

4.2 Saran

14

Daftar Pustaka

15