Anda di halaman 1dari 72

VAKSIN, ANTIBODI, DAN METABOLIT SEKUNDER (OBAT)

BIOTEKNOLOGI DI BIDANG KESEHATAN DR. HENI YOHANDINI

SISTEM IMUNITAS

Pendahuluan
Tubuh manusia merupakan ekosistem yang tumbuh subur dan kompleks. Ia mengandung sekitar 1013 sel manusia dan juga sekitar 1014 sel bakteri, fungi, dan protozoa, yang mewakili ribuan spesies mikroba. Mikroba-mikroba tersebut, yang disebut sebagai flora normal, biasanya terbatas di area tubuh tertentu, termasuk kulit, mulut, usus besar, dan vagina.

Pendahuluan
Flora normal menyebabkan masalah hanya jika sistem imun kita melemah atau jika mendapat akses ke bagian tubuh yang normalnya steril. Penyakit infeksi disebabkan oleh patogen, yang meliputi bakteri, fungi, protozoa, cacing, virus, dan juga protein menular yang disebut prion

Pendahuluan
Patogen berbeda dengan flora normal. Patogen memiliki mekanisme sangat khusus untuk melewati penghalang (barrier) seluler dan biokimia dan untuk menimbulkan respon khusus dari organisme inang yang berkontribusi pada kelangsungan hidup dan perbanyakan patogen

Pendahuluan
Bakteri patogen membawa gen virulence (jahat) khusus. Gen yang berkontribusi terhadap kemampuan suatu organisme menyebabkan penyakit disebut gen virulence.

Pendahuluan
Protein yang dikodenya disebut faktor virulence. Faktor virulence seringkali berupa: protein toksin yang berinteraksi langsung dengan struktural inang, atau protein signaling untuk memperoleh respon sel inang yang menguntungkan bagi replikasi atau kolonisasi patogen, atau protein yang diperlukan untuk mengantarkan toksin-toksin tersebut ke target sel inangnya

Pendahuluan
Patogen seringkali memanfaatkan sifat/atribut biologis sel inangnya supaya menginfeksi mereka. Manusia, seperti halnya organisme multisel lain, memiliki mekanisme untuk melawan infeksi oleh patogen.

Pendahuluan
Ada 2 jenis mekanisme pertahanan terhadap infeksi: Innate immune responses, yang bekerja segera setelah terjadi infeksi dan tidak bergantung pada pembukaan/pembongkaran (exposure) dahulu inang terhadap patogen Adaptive immune system, yaitu pertahahanan lebih kuat yang bekerja kemudian terhadap infeksi dan sangat spesifik untuk patogen yang menginduksinya.

Sel T
Ada 2 jenis sel-T dengan fungsi berbeda: sel T sitotoksik yang membunuh secara langsung sel terinfeksi dengan menginduksi sel menjalani apoptosis; dan sel T helper yang membantu mengaktifkan sel B untuk membuat respon antibodi dan makrofag untuk menghancurkan mikroba yang menginvasi. Sel T helper juga membantu mengaktifkan sel T sitotoksik

Kedua jenis sel T mengekspresikan reseptor seperti antibodi di permukaan sel, yang dikode oleh gen-gen yang disusun dari multi fragmen gen selama perkembangan sel T pada thymus. Reseptor-reseptor ini mengenali fragmenfragmen protein asing yang ditunjukkan (display) pada permukaan sel inang bersamaan dengan protein MHC

Sel T sitotoksik dan helper, keduanya diaktifkan di organ limfoid perifera oleh sel pengunjuk-antigen (antigen-presenting cells), yang mengekspresikan kompleks MHCpeptida, protein kostimulator, dan bermacam molekul perekat (adhesi) sel-sel pada permukaan selnya.

Sel B

VACCINE TECHNOLOGY

Traditional vaccine preparations


Bakteri hidup yang dilemahkan, contoh Bacillus CalmetteGuerin (BCG) yang digunakan untuk imunisasi melawan tuberculosis. Bakteri mati atau inaktivasi, contoh vaksin cholera dan pertussis (batuk rejan). Virus hidup yang dilemahkan, contoh vaksin virus campak, gondok dan demam kuning.

Virus diinaktivasi, contoh vaksin virus hepatitis A dan poliomyelitis (polio). Toxoid (toksin yang dilemahkan), contoh vaksin diphtheria dan tetanus. Antigen dari pathogen, contoh vaksin hepatitis B, meningococcal, pneumococcal dan Haemophilus influenzae.

Attenuated, dead or inactivated bacteria


Pelemahan/attenuation (bakteri atau virus) merupakan proses penghilangan atau sangat mengurangi virulence pathogen. Secara tradisional, hal ini dicapai, misalnya, dengan treatment secara kimia atau pemanasan, ditumbuhkan pada kondisi atau perkembangbiakan yang tidak cocok dalam inang tidak natural. Contohnya, vaksin BCG merupakan strain tubercule bacillus (Mycobacterium bovis) yang gagal menyebabkan tuberculosis tapi tetap memelihara antigenitas pathogennya.

Membunuh atau inaktivasi bakteri pathogen biasanya mengubahnya menjadi sesuai sebagai vaksin. Ini dicapai melalui treatment panas dan atau secara kimia. Produk yang diinaktivasi harus memelihara karakteristik immunologis pathogen aktif. Vaksin Cholera, misalnya, merupakan suspensi steril Vibrio cholerae mati, yang diseleksi untuk efesiensi antigenik tinggi.

Attenuated and inactivated viral vaccines


Partikel virus yang akan digunakan sebagai vaksin, umumnya diperbanyak dalam sistem kultur sel hewan yang sesuai. Terkadang juga ditumbuhkan dalam telur yang difertilisasi, atau kultur jaringan embryo ayam

Toxoids, antigen-based and other vaccine preparations


Vaksin Diphtheria dan tetanus umumnya menggunakan toxoid-based vaccine preparations. Tahap awal produksi vaksin diphtheria memerlukan penumbuhan Corynebacterium diphtheriae. Toxoid kemudian dibuat dengan memperlakukan toksin aktif yang dihasilkan dengan formaldehyde. Produksi vaksin Tetanus : Clostridium tetani dikulturkan dalam media yang tepat, toksin diinaktivasei dengan formaldehyde treatment.

Preparasi vaksin berbasis antigen yang traditional terdiri dari bagian antigenik yang tepat dari pathogen (biasanya antigen dari permukaan; Table 10.14). Senyawa-senyawa berbasis karbohidrat kurang immunogenik daripada material berbasis protein Antigenitas senyawa-senyawa tersebut dapat ditingkatkan melalui penggabungan secara kimia (conjugating) dengan antigen berbasis protein.

Recombinant sub-unit vaccines


Perkembangan teknologi DNA rekombinan memungkinkan produksi skala besar polipeptida yang terdapat secara normal pada permukaan patogen. Polipeptida ini, setelah dimurnikan dari organisme penghasilnya (misalnya Escherichia coli, Saccharomyces cerevisiae) dapat digunakan sebagai vaksin sub-unit.

MONOCLONAL ANTIBODIES

MONOCLONAL ANTIBODIES
Mulai dikembangkan di pertengahan -1970, ketika Kohler dan Milstein berhasil memfusikan sel myeloma immortal dengan B limfosit penghasil antibodi. Hibrid yang dihasilkan merupakan sel pemroduksi antibodi yang stabil, cancerous. Sel hybridoma tersebut menjadi sumber antibodi monospecifik (monoklonal) yang tidak habis-habis. Teknologi hybridoma memfasilitasi produksi langsung monospesifik antibodi dari antigen yang menjadi sasaran.

First-generation anti-tumour antibodies: clinical disappointment


Keberadaan infoemasi yang tidak cukup berkenaan dengan antigen tumor; Monoklonal murine memicu respon imun ketika diberikan pada manusia; Penetrasi yang jelek terhadap massa tumor oleh antibodi; Monoklonal murine menunjukkan waktu paruh yang relatif pendek ketika diberikan pada manusia; Pengenalan yang jelek domain Fc antibodi murine oleh mekanisme efektor manusia.

complementarity-determining regions (CDRs) : regions within variable domain that actually dictate antigen specificity

METABOLIT SEKUNDER

Antibiotik
Antibiotik memiliki target yang sangat terbatas Kebanyakan antibiotik menginhibisi sintesis protein atau dinding sel bakteri

SECONDARY METABOLITES AS A SOURCE OF DRUGS


Avermectins Zaragozic Acids (Squalestatins) Taxol

AVERMECTINS

Senyawa Avermectin B1. adalah lakton makrosiklik utama yang dihasilkan oleh Streptomyces avermitilis. Ivermectin merupakan sintetik turunan dari avermectin B1.

AVERMECTINS
Avermectin ditemukan th 1980 sebagai senyawa antihelminthic yang dihasilkan oleh mikroba tanah. Helminth adalah cacing parasit yang menginfeksi usus hewan. Merupakan senyawa yang aktif melawan nematoda dan arthropoda tertentu pada dosis sangat rendah, tapi memiliki toksisitas relatif rendah untuk mamalia.

AVERMECTINS
Avermectin bekerja pada invertebrata dengan cara mengaktifkan saluran glutamate-gated chloride pada syaraf dan ototnya, merusak fungsi pharyngeal dan locomotion. Parasit yang dilumpuhkan kebanyakan kelaparan sampai mati. Toksisitasnya yang selektif tidak membahayakan vertebrata membawa pada kesimpulan bahwa avermectin menggunakan target seluler spesifik yang tidak ada atau tidak dapat diakses pada organisme resisten

AVERMECTINS
Avermectin tidak bermigrasi di dalam tanah dan menjadi subyek bagi fotodegradasi dan dekomposisi mikroba secara cepat. Konsekuensinya, avermectin tidak diharapkan tahan dalam waktu lama pada feses hewan yang diobati. Ivermectin (IVM; 22,23-dihydroavermectin B1a, semisintetik turunan avermectin B1a, merupakan obat yang sangat diperlukan untuk memberantas penyakit serius yang disebabkan oleh: river blindness (onchocerciasis) dan lymphatic filariasis

ZARAGOZIC ACIDS (SQUALESTATINS)


Isopentenil, geranil, dan farnesil pirofosfat adalah prekursor untuk sterol dan juga beberapa turunan isoprenoid penting. Produk fermentasi fungi mevinolin (dari Aspergillus terreus) dan compactin (dari Penicillium spp.) merupakan obat sangat efektif yang digunakan untuk mengurangi kolesterol serum pada manusia.

Jalur biosintetik cholesterol pada manusia.

ZARAGOZIC ACIDS (SQUALESTATINS)


senyawa-senyawa tersebut merupakan inhibitor potensial bagi 3-hidroksi-3- metilglutarilCoA reduktase dan memblock pembentukan semua produk jalur poliisoprenoid mamalia. Sebaliknya, asam zaragozic menginhibisi squalene sintase, yang mengkatalisis tahap awal pada sintesis sterol dan tidak mempengaruhi pembentukan isoprenoid lain.

Jalur biosintetik cholesterol pada manusia.

Struktur asam zaragozic dan presqualene pyrophosphate.


[From Wilson, K. E., Burk, B. M., Biftu, T., Ball, R. G., and Hoogsteen, K. (1992). Zaragozic acid A, a potent inhibitor of squalene synthase: initial chemistry and absolute stereochemistry. Journal of Organic Chemistry, 57, 71517158.]

TAXOL

TAXOL
Taxol, diterpenoid yang sangat tersubstitusi dengan multiple pusat asymmetric, diisolasi th 1965 dari Pacific yew (Taxus brevifolia). Pada sel manusia, taxol mencegah depolimerisasi microtubul selama pembelahan sel. Efek yang sama terjadi juga pada fungi sehingga di alam taxol merupakan fungisida. Taxol terbukti menjadi oabt antikanker yang sangat efektif