Anda di halaman 1dari 3

IKHTIAR UMAT ISLAM MENANGKAN SYARIAH PADA PEMILU 2009

Sunday, 12 April 2009

Asrama Haji Pondok Gede Jakarta tak seperti biasanya. Asrama yang biasanya dipakai
menjelang musim haji ini, Sabtu (28/1) terasa lain. Ratusan tokoh umat Islam dari
berbagai ormas, pesantren dan partai Islam berduyun-duyun menghadiri Musyawarah
Umat Islam Untuk Pemilu 2009 yang digelar oleh Forum Umat Islam (FUI).

Pukul 09.00 terlihat beberapa tokoh ormas yang sedang mencalonkan diri menjadi
anggota parlemen hadir di arena musyawarah di Gedung Serbaguna 3. Tokoh
Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI), Eggi Sudjana, dengan semangat hadir
dan membagi-bagikan brosurnya kepada para peserta. Maklum, pada pemilu 9 April
mendatang ini, Eggi mencalonkan diri menjadi anggota DPD dari Provinsi Jawa Barat.

Tak berselang lama, hadir ketua umum FBR, KH. Fadloli El Muhir. Tak berbeda dengan
Eggi, tokoh gaek Betawi ini dibantu oleh beberapa pengurus FBR juga membagi-
bagikan brosur pencalonan dirinya menjadi anggota DPD dari DKI Jakarta. Tapi, tak
ada yang menyangka kehadirannya di acara FUI ini ternyata merupakan perjumpaan
terakhir dengan para pimpinan ormas Islam. Sehari setelah acara FUI, Ahad sore,
pukul 15.00 WIB, Suara Islam mendapatkan kabar dari salah satu pengurus DPP FBR
bahwa beliau telah meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihi rajiun.

Hadir juga seorang purnawirawan TNI, Mayjen (Purn) H. Ampi Nurkamal Tanudjiwa.
Mantan Wadan Kodiklat TNI yang terakhir menjabat anggota DPR dari Fraksi ABRI ini
sangat antusias mengikuti acara umat Islam tersebut. Menanggapi berbagai fenomena
mantan jenderal yang maju menjadi capres, kepada Suara Islam Ampi Tanudjiwa
mengatakan bahwa teman-temannya yang sekarang maju menjadi capres itu adalah
muslim abangan, bahkan ada yang hobi judi dan main perempuan. Selain itu mereka
juga sering ingkar terhadap janji-janji politiknya.

Acara Musyawarah Umat Islam ini diawali dengan serangkaian seremonial pembukaan.
Antara lain sambutan dari Forum Masyarakat Peduli Syariah (MPS) dan pencanangan
Gerakan Penerapan Syariah Islam Dalam Pengelolaan Kehidupan Berbangsa dan
Bernegara oleh Bambang Setyo, M.Sc, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dan kalam
iftitah oleh Sekjen FUI, KH. Muhammad Al Khaththath.

"Kegiatan ini diselenggarakan sebagai salah satu usaha untuk memenangkan Syariah
dalam Pemilu 2009. Nanti akan dibuat rumusan kritera caleg pro syariah yang akan
menjadi panduan bagi umat Islam untuk memilih calon anggota parlemen" ungkap Al
Khaththath.

Setelah Al Khaththath, kemudian dilanjutkan dengan sambutan pembukaan dan keynote


speaker MUI yang diwakili oleh Wakil Dewan Penasehat MUI Pusat, Prof. H. Fuad
Amsyari, Ph.D. Ia menjelaskan tentang proses lahirnya fatwa MUI tentang hukum
memilih pemimpin pada Ijtima' Ulama Komisi Fatwa MUI di Padang Panjang, Sumatera
Barat.

Menurut cendekiawan muslim itu, fatwa MUI tersebut banyak di salah pahami orang.
Ini terjadi karena kesalahan pemberitaan yang dilakukan oleh berbagai media.
Ironisnya, banyak sekali tokoh-tokoh umat Islam yang belum membaca isi fatwa
tersebut, akhirnya terpengaruh oleh media yang menyatakan seolah-olah MUI
mengharamkan golput. "Padahal mestinya tidak demikian" ungkap anggota dewan
penasehat ICMI Pusat itu.

Pilih Caleg dan Capres Pro Syariah


Sidang pertama dalam musyawarah umat Islam ini adalah Sidang Perumusan Kritera
Caleg Pro Syariah dan Strategi Pemenangan Syariah. Pengacara senior yang juga
anggota tim advokasi FUI, H.M Luthfie Hakim didaulat untuk memimpin sidang.

Pemilu 2009 bagi rakyat Indonesia adalah pemilihan yang paling rumit. Dengan 38
partai nasional dan 11.868 caleg yang akan memperebutkan kursi di DPD, DPR dan
DPRD. Bagi calon pemilih yang berpendidikan rendah tentu akan sangat sulit memilih
calon yang akan mewakili mereka di parlemen. Pasalnya, mereka harus mencari nomor
urut partai, kemudian masih harus memilih nomor urut caleg yang akan dicontreng.
Berapa lama mereka akan tertegun di bilik pemilihan?.

Di sadari atau tidak, para pemilih yang mayoritas umat Islam sekarang ini dalam
keadaan bingung. Karena itu, sebagai tindak lanjut dari Fatwa MUI yang menegaskan
kewajiban memilih pemimpin yang beriman, bertaqwa, shiddiq, amanah, tabligh,
fathonah, dan memperjuangkan kepentingan umat Islam, FUI juga merekomendasikan
agar umat Islam memilih caleg pro syariah yang berjuang untuk menjaga aqidah dan
menjadikan syariah sebagai Undang-undang atau hukum positif.

Akhirnya setelah sekitar satu setengah jam melakukan sidang dan setelah
mendengarkan berbagai masukan dari peserta, musyawarah berhasil merumuskan kritera
caleg dan capres pro syariah.(kritera caleg dan capres pro syariah terlampir)

Jaring Capres Pro-Syariah


Untuk menjaring capres pro Syariah, FUI menghadirkan tiga tokoh umat Islam
Indonesia berbicara dalam forum itu. Cendekiawan muslim Prof. Fuad Amsyari, Ph.D,
Ketua umum Partai Bulan Bintang, Dr. H. MS Kaban dan ketua MUI Pusat yang juga
ketua dewan mustasyar PKNU, KH. Ma'ruf Amin. Sidang untuk mendengarkan visi dan
misi capres pro syariah ini dipimpin oleh Ketua MUI Pusat, KH. A Cholil Ridwan,
Lc.

Secara garis besar, Fuad Amsyari menjelaskan kepada peserta musyawarah konsep-
konsep Islam untuk pengelolaan negara. Konsep yang ia paparkan bertajuk "Visi-Misi
Presiden RI Pro Syariat, Rasional Dan Bentuk Kebijakan Nasionalnya"

"Seorang capres pro Syariah harus memiliki konsep yang ia bangun sendiri untuk
diterapkan. Sebab jika konsep yang disusun ternyata yang membuat orang lain, sudah
pasti konsep itu sulit untuk dilaksanakan" ungkap Fuad.
Sementara itu, KH. Ma'ruf Amin, yang hadir memakai jas dan surban putih
menjelaskan keharusan ulama untuk berpolitik. Anggota Wantimpres itu mengajak para
ulama untuk kembali kepada khittahnya untuk bersama-sama memperjuangkan syari'at.
Sebab Islam adalah rahmatan li'alamin, Islam itu sesuai untuk kapan saja dan
dimana saja. "Jika ini diterapkan akan membawakan keberkahan bagi Indonesia."
papar Kiyai Ma'ruf.
Kiyai Ma'ruf menawarkan konsep politik Islam. Yakni politik yang didasari oleh
Islam yang berfungsi sebagai kaidah penuntun dan sumber inspirasi dalam
berpolitik. Bukan Islam sebagai dagangan politik.

Ketua umum Partai Bulan Bintang (PBB), MS Kaban mengamini pernyataan Kiyai Ma'ruf.
Kaban menjelaskan tentang pentingnya kekuasaan dalam Islam. "Perjuangan politik
adalah perjuangan di mana kita berada dan kita mau apa?. Nah, bicara tentang
politik berarti akan bicara juga tentang kekuasaan. Bicara kekuasaan akan bicara
siapa yang akan memimpin" papar Kaban.
Karena itulah, menurut Kaban, jika bicara tentang tokoh atau figur yang pro
Syariah, maka harus diupayakan sungguh-sungguh. Perlemen harus dimasuki karena itu
merupakan sarana untuk masuk ke pembuatan UU dan kekuasaan."Tidak akan mungkin
kita tiba-tiba mengharapkan ada anggota parlemen atau presiden yang pro syariah
jika kita tidak pernah melakukan usaha untuk mewujudkannya"papar Kaban. Tentu,
para caleg atau capres yang pro Syariah harus datang dari parpol Islam.

Bagi Kaban, banyaknya parpol Islam saat ini yang berebut untuk menguasai parlemen
tidaklah menjadi masalah. Hanya saja ia mengingatkan agar di antara parpol Islam
jangan sampai terjadi politik jeruk makan jeruk. Maksudnya, di antara sesama
parpol Islam jangan saling membuka aib, black campaign, menjelek-jelekkan, dan
sebagainya. "Perbedaan parpol Islam itu seperti perbedaan mazhab dalam fikh"
ungkapnya.
Menurut Kaban, siapapun pemimpin umat Islam yang akan datang bergantung bagaimana
rakyat memberikan amanahnya. Demikian pula jika ada perpol atau tokoh yang ingin
memperjuangkan Syariah untuk diterapkan, hukumnya sah berdasarkan konstitusi. "Ga
perlu ditakut-takuti lagi" ungkapnya.

10 Nominasi Capres Pro Syariah


Selain merumuskan kritera caleg dan capres pro-syariah, musyawarah umat Islam juga
menghasilkan 10 nominasi capres pro Syariah. Mekanisme penentuan calon dilakukan
melalui usulan para peserta. Seluruh peserta berhak untuk menyebut satu usulan
nama capres pro Syariah.
Dari hasil pengumpulan nama capres yang dikumpulkan dari peserta musyawarah dan
dibacakan oleh Kh. A Cholil Ridwan di hadapan para peserta musyawarah, lantas
diambil 10 nominasi suara terbanyak. Sepuluh orang capres pro syariah yang
dinominasikan oleh peserta antara lain: Dr. H. MS Kaban (Ketua Umum PBB), Dr.
Hidayat Nur Wahid (Mantan Presiden PKS), Habib Rizieq Syihab, MA (Ketua Umum FPI),
KH. Abu Bakar Baasyir (Amir Jamaah Anshorut Tauhid), KH. Ma'ruf Amin (Ketua MUI
Pusat/Ketua Dewan Mustasyar PKNU), Munarman, SH (Panglima Komando Laskar Islam),
KH. A. Cholil Ridwan, Lc (Ketua MUI Pusat), Prof. Dr. KH. Didin Hafiduddin, M.Sc
(Ketua BAZNAS), Prof. Fuad Amsyari, Ph.D (Cendekiawan Muslim) dan Dr. H. Eggi
Sudjana (Dewan Syuro PPMI).

Selanjutnya, para tokoh yang masuk nominasi ini oleh FUI akan disosialisakan ke
masyarakat. "Sepuluh nama ini insya Allah akan kita sosialisaikan ke masyarakat
melalui media-media Islam. Jika tahun 2009 ini nama-nama ini belum berhasil kita
majukan dalam pemilu, maka mudah-mudahan akan bisa calonkan di pemilu 2014" ungkap
Al Khaththath.
Semoga Syariah bisa dimenangkan pada pemilu 2009 ini.(shodiq ramadhan)

10 NOMINASI CAPRES PRO SYARIAH

Nominasi Calon Presiden Pro Syariah hasil Musyawarah Umat Islam Untuk Pemilu 2009
yang diselenggarakan oleh Forum Umat Islam (FUI) di Asrama Haji Pondok Gede,
Jakarta, Sabtu 28 Maret 2009:
01. Dr. H. MS Kaban (Ketua Umum PBB)
02. Dr. Hidayat Nur Wahid (Ketua MPR/Mantan Presiden PKS)
03. Habib Rizieq Syihab, MA (Ketua Umum FPI)
04. KH. Abu Bakar Baasyir (Amir Jamaah Anshorut Tauhid)
05. KH. Ma'ruf Amin (Ketua MUI Pusat/Ketua Dewan Mustasyar PKNU)
06. Munarman, SH (Panglima Komando Laskar Islam)
07. KH. A. Cholil Ridwan, Lc (Ketua MUI Pusat)
08. Prof. Dr. KH. Didin Hafiduddin, M.Sc (Ketua BAZNAS)
09. Prof. Fuad Amsyari, Ph.D (Cendekiawan Muslim)
10. Dr. H. Eggi Sudjana (Dewan Syuro PPMI)

Ditetapkan dalam Musyawarah Umat Islam di Asrama Haji Pondok Gede – Jakarta.
Sabtu, 1 Rabiul Akhir 1430 H/28 Maret 2009 M

Pimpinan sidang : KH. A. Cholil Ridwan, Lc, Muhammad Zaitun, Lc, Muhammad Al
Khaththath.