Anda di halaman 1dari 16

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Manusia memerlukan proses berfikir untuk menghubung-hubungkan data atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu kesimpulan. Proses berfikir tersebut dapat dikatakan sebagai penalaran. Data atau fakta yang akan dinalar itu boleh benar dan boleh tidak benar. Di sinilah letaknya kerja penalaran. Orang akan menerima data dan fakta yang benar dan tentu saja akan menolak fakta yang belum jelas kebenarannya. Penalaran juga penting dalam pembuatan sebuah karangan. pemahaman dasar tentang penalaran harus dapat dikuasai ,agar karangan tersebut dapat disusun secara baik dan benar. Karena tanpa fakta atau data yang benar, maksud dari suatu karangan tidak akan dapat di tangkap oleh pembaca dengan tepat.

1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Apa pengertian penalaran ? 1.2.2 Apa saja syarat kebenaran dalam penalaran ? 1.2.3 Bagaimana urutan logis ?

1.3 Tujuan 1.3.1 Untuk lebih memahami pengertian penalaran dalam karangan. 1.3.2 Untuk lebih memahami apa saja syarat kebenaran dalam karangan. 1.3.3 Untuk lebih memahami urutan-urutan logis.

1.4 Manfaat 1.4.1 Agar Mahasiswa/I menyadari pentingnya ilmu penalaran dalam karangan. 1.4.2 Agar memiliki kemampuan berpikir secara logis dan sistematis yang dibangun melalui fakta atau data yang saling berhubungan.

BAB 2 LANDASAN TEORI


2.1 Pengertian Penalaran Kata nalar berasal dari kata bahasa Arab nazara artinya melihat. Berlainan dengan kata r yang artinya melihat juga, kata ini mengisyaratkan bahwa menalar tidak sekedar melihat dengan mata, namun memandang sesuatu dari sudut logikanya. Dengan nalarnya, orang menghubungkan pengamatan (observasi berdasarkan empirik) dengan kejadian-kejadian di dunia ini. Kemudian, pengamatan dan kejadian tersebut menjadi suatu konsep dan pengertian baru.1 Penalaran mempunyai beberapa pengertian, yaitu : (1) Proses berpikir logis, sistematis, terorganisasi dalam urutan yang saling berhubungan sampai dengan simpulan. (2) Menghubung-hubungkan fakta atau data sampai dengan suatu simpulan. (3) Proses menganalisis suatu topik sehingga menghasilkan suatu simpulan atau pengertian baru. (4) Dalam karangan terdiri dari dua variabel atau lebih penalaran dapat diartikan mengkaji, membahas, atau menganalisis dengan menghubung-hubungkan variabel yang dikaji sampai menghasilkan suatu derajat hubungan dan simpulan.

Ramlan A. Gani. Disiplin Berbahasa Indonesia. (Jakarta:FITK Press.2010). h. 181

(5) Pembahasan suatu masalah sampai menghasilkan suatu simpulan yang berupa pengetahuan atau pengertian baru.2

2.2 Syarat Kebenaran dalam Penalaran 2.2.1 Penalaran Induktif Penalaran induktif adalah proses berpikir logis yang diawali dengan observasi data, pembahasan, dukungan pembuktian, dan diakhiri kesimpulan umun atas fakta yang bersifat khusus. 2.2.2 Penalaran Deduktif Penalaran deduktif bertolak dari sebuah konklusi atau simpulan yang didapat dari salah satu atau lebih pernyataan yang lebih umum. 3

2.3 Urutan Logis Karangan disusun berdasarkan satu kesatuan konsep, dikembangkan dalam urutan logis, sistematik,jelas, dan akurat. Urutan dapat disusun berdasarkan urutan peristiwa, waktu, ruang, penalaran (induksi,deduktif,sebab-akibat), proses, dan kepentingan. 4

2 3

Ramlan A. Gani, op.cit. h. 183 Ramlan A. Gani, op.cit. h. 185 4 Ramlan A. Gani, op.cit. h. 188

BAB 3 PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Penalaran Pernyataan yang dapat dipergunakan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi-proposisi yang sejenis. Berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui yang dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Penalaran adalah suatu proses berpikir manusia untuk menghubunghubungkan data atau fakta yang ada sehinga sampai pada suatu simpulan. Data atau fakta yang akan dinalar itu boleh benar dan boleh tidak benar. Di sinilah letaknya kerja penalaran. Orang akan menerima data dan fakta yang benar dan tentu saja akan menolak fakta yang belum jelas kebenarannya. Data dapat dipergunakan dalam penalaran untuk mencapai satu simpulan ini harus berbentuk kalimat pernyataan. Kalimat pernyataan yang dapat dipergunakan sebagai data itu disebut proposisi. Penalaran merupakan aktivitas pikiran yang abstrak. Untuk

mewujudkannya, diperlukan lambang. Lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran adalah argumen. Nalar seseorang akan tercermin dari cara orang itu berargumen. Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep. Lambang adalah kata. Lambang proporsisi adalah kalimat (kalimat

berita) dan lambang penalaran adalah argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis. Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berfikir yang saling berkait. Tidak ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersamaan dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Dengan kata lain, menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian. Orang bernalar pada hakikatnya adalah mencari kebenaran. Kebenaran tersebut dapat dicapai jika syarat-syarat dalam menalar dapat dipenuhi. Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah. Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Benar secara formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan-aturan berpikir yang tepat sedngkan benar menurut material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.

3.2 Syarat Penalaran dalam Karangan 3.2.1 Penalaran Induktif Penalaran induktif adalah proses berpikir logis yang diawali dengan observasi data, pembahasan, dukungan pembuktian, dan diakhiri kesimpulan umum atas fakta yang bersifat khusus.

Selain itu penalaran induktif juga merupakan penalaran yang bertolak dari pernyataan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum. Dengan kata lain, kesimpulan yang diperoleh tidak lebih khusus daripada pernyataan (premis). Penalaran induktif pada dasarnya terdiri dari tiga macam: 1. Generalisasi yaitu proses penalaran yang berdasarkan kepada pengamatan atas sejumlah gejala (data) yang bersifat khusus, serupa atau sejenis yang disusun secara logis dan diakhiri dengan kesimpulan yang bersifat umum. Contoh: Jika dipanaskan, besi memuai. Jika dipanaskan, tembaga memuai. Jika dipanaskan, emas memuai. Jadi, jika dipanaskan, logam memuai Benar atau tidak benarnya simpulan dari generalisasi itu dapat dilihat dari hal-hal yang berikut, a. Data itu harus memadai jumlahnya. Makin banyak data yang dipaparkan, makin benar simpulan yang diperoleh. b. Data itu harus mewakili keseluruhan. Dari data yang sama itu akan dihasilkan simpulan yang benar. c. Pengecualian perlu diperhitungkan karena data-data yang mempunyai sifat khusus tidak dapat dijadikan data. 2. Analogi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan terhadap gejala khusus dengan membandingkan atau mengumpamakan suatu objek yang sudah teridentifikasi secara jelas terhadap objek yang dianalogikan sampai

dengan kesimpulan yang berlaku umum. Selain itu, analogi merupakan cara penarikan penalaran secara membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama. Contoh: Nina adalah lulusan akademi A. Nina dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Ali adalah lulusan akademi A. Oleh sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

Tujuan penalaran analogi adalah sebagai berikut. a. Analogi dilakukan untuk meramalkan kesamaan. b. Analogi digunakan untuk menyingkapkan kekeliruan. c. Analogi digunakan untuk menyusun klasifikasi. 3. Hubungan kausal adalah proses penalaran berdasarkan hubungan

ketergabungan antargejala yang mengikuti pola sebab-akibat, akibat-sebab, atau akibat-akibat. Sebab akibat Sebab akibat ini berpola A menyebabkan B. Di samping itu, hubungan ini dapat pula bepola A menyebabkan B, C, D, dan seterusnya. Jadi, efek dari satu peristiwa yang dianggap penyebab kadang-kadang lebih dari satu. Contoh : Suatu lembaga kanker di Amerika melakukan studi tentang hubungan antara merokok dengan kematian. Antara tanggal 1 Januari dan 31 Mei 1952

terdaftar 187.783 laki-laki yang berumur antara 50 sampai 69 tahun . Kepada merea dikemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang kebiasaan merokok

mereka pada masa lalu dan masa sekarang. Selanjutnya keadaan mereka diikuti terus menerus selama 44 bulan. Berdasarkan surat kematian dan keterangan medis tentang penyebab kematiannya, diperoleh data bahwa

diantara 11.870 kematian yang dilaporkan 2.249 disebabkan kanker. Dari seluruh jumlah kematian yang terjadi (baik pada yang merokok maupun yang tidak ) ternyata angka kematian dikalangan pengisap tetap jauh lebih tinggi daripada yang tidak pernah merokok, sedangkan jumlah kematian pengisap pipa dan cerutu tidak banyak berbeda dengan jumlah kematian yang tidak pernah merokok. Selanjutnya dari data yang terkumpul itu terlihat adanya korelasi positif antara angka kematian dan jumlahrokok yang dihisap setiap hari. Dari bukti-bukti yang terkumpul dapatlah dikemukakan bahwa asap tembakau memberikan pengaruh buruk dan memperpendek umur manusia. Cara yang peling sederhana untuk menghindari kemungkinan itu dengan tidak merokok sama sekali. ialah

Akibat-sebab Ini dapat kita lihat pada peristiwa seseorang yang pergi ke dokter. Ke dokter merupakan akibat dan sakit merupakan sebab, jadi mirip dengan entimen. Akan tetapi, dalam penalaran jenis akibat-sebab ini, peristiwa sebab merupakan simpulan.

Akibat-akibat Adalah suatu penalaran yang menyiratkan penyebabnya. Peristiwa akibat langsung disimpulakan pada suatu akibat yang lain. Contohnya adalah sebagai berikut. Ketika pulang dari pasar, Ibu Sonya melihat tanah di halamnnya becek. Ibu langsung menyimpulkan bahwa kain jemuran di belakang rumahnya pasti basah. Dalam kasus itu, penyebabnya tidak ditampilkan, yaitu hari hujan. Pola itu dapat dilihat seperti ini. hujan (A) hujan (A) menyebabkan tanah becek (B) menyebabkan kain jemuran basah (C)

3.2.2

Penalaran Deduktif Penalaran deduktif dimulai dari suatu premisyaitu pernyataan dasar untuk

menarik kesimpulan. Kesimpulannya merupakan implikasi pernyataan dasar itu. Artinya apa yang dikemukakan di dalam kesimpulan secara tersirat telah ada di dalam pernnyataan itu.Simpulan yang diperoleh tidak mungkin lebih umum daripada proposisi tempat menarik kesimpulan itu. Penarikan kesimpulan ( konklusi ) secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan dapat pula dilakukan secara tak langsung.

10

a.

Menarik kesimpulan secara langsung : Merupakan penarikan kesimpulan dari satu premis. Misalnya : Semua ikan berdarah dingin. ( premis ) Sebagian yang berdarah dingin adalah ikan. ( simpulan )

b.

Menarik simpulan secara tidak langsung : Merupakan penarikan kesimpulan yang memerlukan dua premis sebagai data. Premis yang pertama adalah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis yang bersifat khusus. Beberapa jenis penalaran deduksi secara tidak langsung adalah sebagai berikut: a) Silogisme Kategorial Silogisme kategorial ialah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Dua proposisi merupakan premis dan satu proposisi merupakan simpulan. Premis yang bersifat umu disebut premis minor dan premis yang khusus disebut premis mayor. Contoh : Semua manusia bijaksana. Semua polisi adalah manusia. Jadi, semua polisi bijaksana. b) Silogisme Hipotesis Silogisme hipotesis ialah silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi kondisional hipotesis. Contoh : Jika besi dipanaskan, besi akan memuai. Besi dipanaskan. Jadi, besi memuai.

11

c) Silogisme Alternatif Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berupa proposisi alternatif. Contoh : Dia adalah seorang kiai atau profesor. Dia seorang kiai. Jadi, dia buakan seorang profesor. d) Entimen Entimen adalah silogisme yang tidsk mempunyai premis mayor karena premis mayor itu sudah diketahui secara umum.yang dikemukakan adalah premis minor dan simpulan. Contoh : Semua sarjana adalah orang cerdas. Ali adalah sarjana. Jadi, Ali adalah orang cerdas. Suatu tulisan sebagai hasil proses bernalar mungkin merupakan hasil proses deduksi, induksi atau gabungan keduanya. Dengan demikian suatu paparan dapat bersifat deduktif,indktif atau gabungan dari kedua sifat tersebut. Suatu tulisan yang bersifat deduktif dibuka dengan suatu pernyataan atau umum berupa kaidah, peraturan, teori, atau pernyataan umum lainnya. Selanjutnya, pernyataan itu akan dikembangkan dengan pernyataanpernyataan atau rincian-rincian yang bersifat khusus. Sebaliiknya, suatu tulisan yang bersifat induktif dimulai dari rincian-rincian dan diakhiri dengan suatu kesimpulan umum atau generalisasi. Gabungan antara keduanya

12

dimulai dengan pernyataan umum yang diikuti dengan rincian-rincian yang akhirnya ditutup dengan pengulangan pernyataan umum di atas.

3.3

Urutan Logis

3.3.1 Urutan Peristiwa (Kronologis) Urutan peristiwa (kronologis) berarti menyajikan bahasan menurut urutan kejadian. Peristiwa yang trjadi lebih dahulu diuraikan lebih dulu, pristiwa yang terjadi kemudian diuraikan kemudian. Contoh : Dahulu sebelum cara imunisasi ditemukan selama puluhan abad, puluhan ribu penduduk dunia mati akibat berbagai penyakit. Di Inggris saja sebelum ditemukan vaksin cacar, kurang lebih delapan puluh ribu orang mati karena penyakit itu. Penemuan vaksin sejak abad ke-18 sangat memperkecil angka kematian tersebut. Pada tahun 1796 Jenner dari Inggris menemukan vaksin cacar. Lalu, menyusullah penemuan vaksin rabies yang dikembangkan oleh pasteur pada tahun 1885. Kata-kata yang bercetak tebal menunjukkan hubungan kronologis tersebut. Urutan kronologis di dalam tulisan secara ekplisit dinyatakan dengan kata-kata atau ungkapan-ungkapan seperti : dewasa ini, sekarang, bila, sebelum, mula-mula, pertama, sejak itu, sementara, dan sebagainya. 3.3.2 Urutan Ruang Urutan ruang dipergunakan untuk menyatakan hubungan tempatatau ruang. Urutan ruang dipegunakan bersamaan urutan waktu.

13

Contoh : Jika anda memasuki pekarangan bangunan kuno itu, setelah anda melalui pintu gerbang kayu penuh ukiran indah anda akan berada pada jalan berlantai batu hitam yang membelah suatu lapangan rumput yang dihiasi petak bungabungaan dan pohon-pohonan peneduh. Dikiri kanan jalan itu, agak ke tengah terdapat lumbung padi, puncaknya berbentuk seperti tanduk dan beratapkan ijuk. 3.3.3 Urutan Alur Penalaran Berdasarkan alur penalaran, suatu paragraf dapat dikembangkan dalam urutan umum-khusus. Urutan ini mengahsilkan paragraf induktif dan deduktif. Karangan yang panjang terdiri dari beberapa bab akan menghasilkan bab simpulan. Urutan umum-khusus banyak dipergunakan dalam karya ilmiah. Tulisan yang paragraf-paragrafnyan dikembangkan dalam urutan ini secara menyeluruh lebih mudah dipelajari isisnya. 3.3.4 Urutan Kepentingan Suatu karangan dapat dikembangkan dengan urutan berdasarkan

kepentingan gagasan yang dikemukakan. Dalam hal ini arah pembicaraan adalah dari yang paling penting sampai paling tidak penting, atau sebaliknya. Contoh : Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam meyusun hipotesis yang paling penting ialah menyusun kerangka berpikir berdasarkan atas suatu teori yang dipergunakan sebagai landasan deduksi. Kerangka pikiran inilah yang akan menentukan apakah hipotesis yang akan diajukan mengenai hubungan variabel

14

yang dimasalahkan. Hal berikut yang tidak boleh diremehkan ialah aspek bahasanya. Suatu hipotesis harus dinyatakan denagn kalimat pernyataan bahwa hipotesis harus dinyatakan sejelas mungkin dan didukung oleh kalimat yang sederhana mungkin. 3.3.5 Isi Karangan Isi karangan dapat berupa sajian fakta (benda, kejadian, gejala, dan sifat dan ciri sesuatu), pendapat/sifat dan tanggapan, imajinasi, ramalan, dan sebagainya. kalimat ilmiah berisi sajian ilmu pengetahuan dan teknologi, membahas permasalahan, pembahasan, dan pembuktian. Dalam bagian ini akan dibahas halhal yang berhubungan dengan fakta, generalisasi, spesifikasi, klasifikasi, perbandingan dan pertentangan, sebab-akibat, analogi dan perkiraan (ramalan). Contoh : Gempa di Aceh 26 Desember 2004 yang berkekuatan 9 pada skala Rigter itu menimbulkan korban jiwa yang terus berjatuhan hingga 31 Desember di Srilangka 28.508 orang, India 10.736 orang, Thailand 4.500 orang, dan di Aceh 79.940 dan cebderung bertambah. Selain itu, hingga Januari 2005, sekalipun belum ada angka pasti, korban menderita sakit berat dan cacat tubuh yang diakibatkan oleh gempa dan gelombang tsunami yang sangat dahsyat di Aceh itu dapat diperkirakan cukup besar. Korban harta benda, termasuk rumah tinggal yang luluh-lantak rata dengan tanah dan sebagian terbawa gelombang air laut tersebut diperkirakan mencapai belasan triliun rupiah. Korban gempa Aceh ini merupakan yang terbesar di dunia.

15

BAB 4 PENUTUP
4.1 Kesimpulan 4.2 Saran

16