Anda di halaman 1dari 115

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas

izin-Nya sehingga laporan penelitian ini dapat diselesaikan sesuai rencana.

Laporan ini dibuat sebagai pertanggungjawaban akhir tahun dari Tim Peneliti

Independen Universitas Negeri Makassar (UNM) dalam melakukan Evaluasi

Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) Provinsi Sulawesi Barat tahun 2010.

Evaluasi kinerja pembangunan daerah Provinsi Sulawesi Barat ini

bertujuan untuk mengetahui capaian pembangunan daerah sesuai dengan

rencana strategis pembangunan daerah dan untuk mengetahui manfaat hasil

pembangunan yang telah dirasakan oleh warga masyarakat. Dengan kata lain,

sesuai dengan indikator capaian yang diharapkan oleh Bappenas maka tim

peneliti berharap agar hasil penelitian ini menyajikan hasil Evaluasi RPJMD telah

mengacu pada RPJMN 2004-2009 sesuai ketentuan Undang-undang nomor 25

tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

Kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah

memberikan kontribusi dalam pelaksanaan hingga tersusunnya laporan EKPD

Provinsi Sulawesi Barat ini. Secara khusus terima kasih disampaikan kepada

Deputi EKPD Bappenas yang memberikan kepercayaan kepada tim peneliti UNM

dalam melakukan tugas ini. Begitu pula terima kasih disampaikan kepada tim

peneliti yang telah bekerja keras melakukan penelitian hingga selesainya laporan

dibuat. Akhirnya, saya berharap agar kerjasama yang baik ini dapat terus terjalin

di masa akan datang.

Makassar, 09 November 2010 Rektor Universitas Negeri Makassar,

Prof. DR. H. Arismunandar, M.Pd.

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

 

i

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

DAFTAR TABEL

iv

DAFTAR GRAFIK

v

BAB

I PENDAHULUAN

1

 

1. 1 Latar Belakang

1

1. 2 Tujuan dan Sasaran

3

1. 3 Keluaran

3

BAB

II

HASIL EVALUASI PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009

4

 

A. AGENDA PEMBANGUNAN INDONESIA YANG AMAN DAN DAMAI

5

1. Indikator

5

2. Analisis Capaian Indikator

6

3. Rekomendasi Kebijakan

8

B. AGENDA PEMBANGUNAN INDONESIA YANG ADIL DAN . DEMOKRASI

10

1. Indikator

10

2. Analisis Capaian Indikator

11

3. Rekomendasi Kebijakan

22

C. AGENDA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

24

1. Indikator

24

2. Analisis Capaian Indikator

26

3. Rekomendasi kebijakan

91

D. KESIMPULAN

93

BAB

III

RELEVANSI RPJMN 2010-2014 DENGAN RPJMD PROVINSI

95

 

1. Pengantar

95

2. Prioritas dan Program Aksi Pembangunan nasional

98

3. Rekomendasi

98

a. Rekomendasi Terhadap RPJMD Provinsi

98

b. Rekomendasi Terhadap RPJMN

100

BAB

III

KESIMPULAN

102

 

1. Kesimpulan

102

2. Rekomendasi

104

iii

DAFTAR

TABEL

Halaman

TABEL 1

INDIKATOR PEMBANGUNAN INSONESIA YANG AMAN DAN

5

DAMAI

TABEL 2

INDIKATOR AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG

ADIL

DAN DEMOKRATIS

 

10

TABEL 3

INDIKATOR

AGENDA

MENINGKATKAN

KESEJAHTERAAN

RAKYAT

25

TABEL 4

JUMLAH PENDUDUK MENURUT KABUPATEN PROV. SULBAR

50

iv

DAFTAR

GRAFIK

Halaman

GRAFIK 1

INDEKS KRIMINALITAS

6

GRAFIK 2

PRESENTASE KASUS KORUPSI YANG TERTANGANI DIBANG

KAN YANG DILAPORKAN ……………………………………………

11

GRAFIK 3

GENDER DEPELOVMENT INDEKS

17

GRAFIK 4

GENDER DEPELOVMENT INDEKS

18

GRAFIK 5

GENDER EMPOWERMENT MEASUREMENT

20

GRAFIK 6

GENDER EMPOWERMENT MEASUREMENT

21

GRAFIK 7

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA

27

GRAFIK 8

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA

29

GRAFIK 9

ANGKA PARTISIPASI MURNI & KASAR TINGKAT SD

32

GRAFIK 10 ANGKA MELEK HURUF (%) 15 THN KEATAS

35

GRAFIK 11 ANGKA MELEK HURUF (%) 15 THN KEATAS

38

GRAFIK 12 ANGKA KEMATIAN BAYI

41

GRAFIK 13 KONTRACEPTIVE PREPALENCE RATE

47

GRAFIK 14 JUMLAH AKSEPTOR BARU & AKSEPTOR AKTIF

49

GRAFIK 15 PERTUMBUHAN

PENDUDUK

51

GRAFIK 16 PERTUMBUHAN

PENDUDUK

52

GRAFIK 17 LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI

54

GRAFIK 18 PENDAPATAN PERKAPITA

58

GRAFIK 19 LAJU I N F L A S I

59

GRAFIK 20 LAJU INFLASI SULBAR JUNI 2008 – MEI 2009

60

GRAFIK 21 INFLASI BEBERAPA KELOMPOK PENGELUARAN

63

GRAFIK 22 NILAI REALISASI INVESTASI PMDN ( MILYAR RP)

67

GRAFIK 23 NILAI REALISASI INVESTASI PMA ( US JUTA))

70

GRAFIK 24 KONDISI JALAN NASIONAL

77

v

GRAFIK 25 PRESENTASE LUAS LAHAN REHABILITASI DALAMHUTAN TER

HADAP LAHAN KRITIS

81

GRAFIK 26 PRESENTASE PENDUDUK MISKIN

87

GRAFIK 27 PERKEMBANGAN GARIS KEMISKINAN

88

GRAFIK 28 PRESENTASE PENDUDUK MISKIN

89

GRAFIK 29 TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA & ANGKATAN KERJA

90

vi

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut

Undang-Undang

(UU)

Nomor

25

Tahun

2004

tentang

Sistem

Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), kegiatan evaluasi merupakan salah

satu dari empat tahapan perencanaan pembangunan yang meliputi penyusunan,

penetapan, pengendalian perencanaan serta evaluasi pelaksanaan perencanaan.

Sebagai

suatu

tahapan

perencanaan

pembangunan,

evaluasi

harus

dilakukan

secara sistematis dengan mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk

menilai

seberapa

jauh

pencapaian

sasaran,

tujuan

dan

kinerja

pembangunan

tersebut dilaksanakan. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009 telah selesai

dilaksanakan. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 39 Tahun 2006

tentang

Tata

Cara

Pengendalian

dan

Evaluasi

Pelaksanaan

Rencana

Pembangunan, pemerintah (Bappenas) berkewajiban untuk melakukan evaluasi

guna melihat seberapa jauh pelaksanan RPJMN tersebut.

Saat ini telah ditetapkan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014.

Siklus pembangunan jangka menengah lima tahun secara nasional tidak selalu sama

dengan siklus pembangunan 5 tahun di daerah, sehingga penetapan RPJMN 2010-

2014

ini

tidak

bersamaan

waktunya

dengan

Rencana

Pembangunan

Jangka

Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi. Hal ini menyebabkan prioritas dalam RPJMD

tidak selalu mengacu pada prioritas-prioritas RPJMN 2010-2014. Untuk itu perlu

dilakukan evaluasi relevansi prioritas/ program antara RPJMN dengan RPJMD

Provinsi.

1

2

Di dalam pelaksanaan kegiatan ini, dilakukan dua bentuk evaluasi yang

berkaitan dengan RPJMN. Bentuk pertama adalah evaluasi atas pelaksanaan

RPJMN 2004-2009 dan yang kedua penilaian keterkaitan antara RPJMD dengan

RPJMN 2010-2014.

Metode yang digunakan dalam evaluasi pelaksanaan RPJMN 2004-2009

adalah Evaluasi ex-post untuk melihat efektivitas (hasil dan dampak terhadap

sasaran) dengan mengacu pada tiga agenda RPJMN 2004 – 2009, yaitu: agenda

Aman dan Damai; Adil dan Demokratis; serta Meningkatkan Kesejahteraan

Rakyat. Untuk mengukur kinerja yang telah dicapai pemerintah atas pelaksanaan

ketiga agenda tersebut, diperlukan identifikasi dan analisis indikator pencapaian.

Sedangkan metode yang digunakan dalam evaluasi relevansi RPJMD Provinsi

dengan RPJMN 2010-2014 adalah membandingkan keterkaitan 11 prioritas nasional

dan 3 prioritas lainnya dengan prioritas daerah. Selain itu, juga mengidentifikasi

potensi lokal dan prioritas daerah yang tidak ada dalam RPJMN 2010-2014. Adapun

prioritas nasional dalam RPJMN 2010-2014 adalah:

1) Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola,

2) Pendidikan,

3) Kesehatan,

4) Penanggulangan Kemiskinan,

5) Ketahanan Pangan,

6) Infrastruktur,

7) Iklim Investasi dan Iklim Usaha,

8) Energi,

9) Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana,

10) Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar, & Pasca-konflik,

11) Kebudayaan, Kreativitas dan Inovasi Teknologi dan 3 prioritas lainnya yaitu

3

1. Kesejahteraan Rakyat lainnya,

2. Politik, Hukum, dan Keamanan lainnya,

3. Perekonomian lainnya.

Hasil dari EKPD 2010 diharapkan dapat memberikan umpan balik pada

perencanaan

pembangunan

daerah

untuk

perbaikan

kualitas

perencanaan

di

daerah. Selain itu, hasil evaluasi dapat digunakan sebagai dasar bagi pemerintah

dalam mengambil kebijakan pembangunan daerah.

Pelaksanaan EKPD dilakukan secara eksternal untuk memperoleh masukan

yang lebih independen terhadap pelaksanaan RPJMN di daerah. Berdasarkan hal

tersebut,

Bappenas

cq.

Deputi

Evaluasi

Kinerja

Pembangunan

melaksanakan

kegiatan Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) yang bekerja sama dengan

Deputi

Bidang

Evaluasi

Kinerja

Pembangunan

Pembangunan Nasional/Bappenas.

B. Tujuan dan Sasaran

Kementerian

Perencanaan

Evaluasi kinerja pembangunan daerah (EKPD) 2010 dilaksanakan untuk

melihat seberapa jauh pelaksanaan RPJMN 2004-2009 dapat memberikan kontribusi

pada pembangunan di daerah dan untuk mengetahui sejauh mana keterkaitan

prioritas/program (outcome) dalam RPJMN 2010-2014 dengan prioritas/program

yang ada dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)

Provinsi.

C. Keluaran Evaluasi

Seusai pelaksanaan EKPD 2010 ini diharapkan keluaran yang meliputi:

a. Tersedianya data/informasi dan penilaian pelaksanaan RPJMN 2004-2009 di

daerah;

Tersedianya

data/informasi

dan

RPJMN 2010-2014.

penilaian

keterkaitan

RPJMD

Provinsi

dengan

BAB II

BAB II 4 HASIL EVALUASI PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 Sistem perencanaan pembangunan daerah mengalami perubahan mendasar

4

HASIL EVALUASI PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009

Sistem perencanaan pembangunan daerah mengalami perubahan mendasar

seiring dengan tuntutan pada bidang politik, penyelenggaraan pemerintahan yang

baik (good government), dan pengelolaan keuangan negara. Undang-undang nomor

32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, telah mengatur sistem pemilihan

kepala daerah yang dilaksanakan secara langsung. Paparan visi, misi dan program

kepala

daerah

terpilih

akan

menjadi

bahan

pemerintah daerah untuk 5 tahun ke depan.

utama

penyusunan

agenda

kerja

Penyusunan RPJMD dimaksudkan untuk memberi arah dan pedoman bagi

pelaksanaan pembangunan suatu provinsi. Penyusunan RPJMD Provinsi Sulawesi

Barat sendiri adalah untuk tahun 2004-2009. RPJMD ini merupakan penjabaran dari

Visi,

Misi

Rencana

dan

program

Penggunaan

Kepala

Jangkan

Daerah

yang

penyusunannya

memperhatikan

Menengah

Nasional

(RPJMD-Nasional)

yang

memuat arah kebijakan keuangan daerah, strategi pembangunan daerah, kebijakan

umum, dan agenda pembangunan daerah, serta memuat program dan kegiatan

Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), program lintas Satuan Kerja Perangkat

Daerah (lintas SKPD), dan program kewilayahan. Setiap program dan kegiatan

disertai

dengan

kerangka

regulasi

dan

kerangka

pendanaannya

yang

bersifat

indikatif.

Menurut

Undang-undang

(UU)

Nomor

25

Tahun

2004

tentang

Sistem

Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), kegiatan evaluasi merupakan salah

satu dari empat tahapan perencanaan pembangunan yang meliputi penyusunan,

penetapan, pengendalian perencanaan, dan evaluasi pelaksanaan perencanaan.

Sebagai

suatu

tahapan

perencanaan

pembangunan,

4

evaluasi

harus

dilakukan

5

secara sistematis dengan mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk

menilai

seberapa

jauh

tersebut dilaksanakan.

pencapaian

sasaran,

tujuan

dan

kinerja

pembangunan

A. Agenda Pembangunan Indonesia yang Aman dan Damai

1.

Indikator

Pada agenda Pembangunan Indonesia Yang Aman dan Damai dalam

RPJMN 2004-2009 mencakup beberapa program yang pencapaiannya dapat

diukur pada tiga indikator utama. Ketiga indikator utama yang dimaksud adalah

indeks kriminalitas, persentase penyelesaian kasus kejahatan konvensional, dan

persentase penyelesaian kasus kejahatan transnasional.

Kaitannya dengan hal

tersebut, maka berdasarkan temuan di lapang,

data indeks kriminalitas tidak

tersedia sehingga yang digunakan untuk menganalisis tingkat kriminalitas adalah

data

tentang

tingkat

kriminalitas

atau

jumlah

kriminalitas

yang

tertangani.

Selanjutnya,

data

mengenai

persentase

penyelesaian

kasus

kejahatan

konvensional dan transnasional juga tidak lengkap

evaluasi yang sifatnya analisis data kualitatif.

sehingga hanya diberikan

Nilai pencapaian indikator untuk agenda Pembangunan Indonesia Yang

Aman dan Damai di Provinsi Sulawesi Barat dapat dilihat pada Tabel-1.

Tabel 1: Indikator Pembangunan Indonesia yang Aman dan Damai

Indikator

2004

2005

2006

2007

2008

2009

Indeks Kriminalitas

 

0,737

0,987

1.162

0,226

 

Persentase Penyelesaian Kasus Kejahatan Konvensional (%)

           

Persentase Penyelesaian Kasus Kejahatan Trans Nasional (%)

           

Sumber: BPS, Sulawesi Barat, 2010

6

2. Analisis Pencapaian Indikator 2.1. Tingkat Kriminalitas

Tingkat kriminalitas di Sulawesi Barat, yakni jumlah kejadian kriminal perseribu penduduk dalam satu tahun, berdasarkan data pada Tabel-1 di atas, menunjukkan adanya kecenderungan yang terus meningkat pada periode 2005-

2007, kemudian terjadi penurunan pada tahun 2008. Sedangkan data untuk tahun

2004 dan 2009 tidak dapat ditemukan. Pada tahun 2007, angka kriminalitas di

Sulawesi Barat mencapai 1,16 kejadian perseribu penduduk, bertambah 0,17 dari

tahun 2006, sementara itu, angka ini menurun 0,93 menjadi 0,23 pada tahun 2008. Pada tahun 2007, jumlah tindak pidana di Sulawesi Barat mencapai 1.162

kasus, tahun 2006 berjumlah 987 kasus, dan pada tahun 2008 tingkat kriminalitas menurun drastis menjadi 226 kasus. kecenderungan angka kriminalitas 2004-

2009 dapat dilihat pada Grafik di bawah ini. Grafik-1 Indeks Kriminalitas 1400 1200 1000 800
2009
dapat dilihat pada Grafik di bawah ini.
Grafik-1
Indeks Kriminalitas
1400
1200
1000
800
600
400
200
0
2004
2005
2006
2007
2008
2009
Indeks Kriminalitas
Sumber: BPS Sulawesi Barat, 2010
Kriminalitas merupakan ancaman nyata bagi terciptanya masyarakat yang
aman
dan
tenteram.
Makin
maraknya
kasus
penyeludupan,
pembunuhan,

penganiayaan, pencurian, penggelapan dan penyalahgunaan senjata api dan

bahan

peledak

adalah indikasi

belum

tertanganinya

secara

serius

masalah

kriminalitas.

Maraknya

kejahatan

yang

terorganisir

seperti

peredaran

dan

7

penyalahgunaan narkoba telah menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup

bangsa, karena penyalahgunaan narkoba mencakup dimensi kesehatan baik

jasmani dan mental, dimensi ekonomi dengan meningkatnya biaya kesehatan,

dimensi kultural dengan rusaknya tatanan perilaku dan norma masyarakat secara

keseluruhan.

Hubungannya dengan perilaku kriminal di Provinsi Sulawesi Barat, dapat

dilihat pada gambar 1 dimana jumlah pelaku kriminal pada tahun 2006 mengalami

peningkatan

sebesar

0,18

persen.

Hal

ini

pada

akhirnya

akan

dapat

membahayakan integritas dan kelangsungan hidup bermasyarakat dan akan

mempercepat tumbuhnya rasa tidak nyaman dan tidak aman dalam kehidupan

bermasyarakat.

Makin

tingginya

tingkat

ditentukan antara lain oleh:

kriminal

di

Sulawesi

Barat

sangat

a. Lemahnya pengawasan dan penegakan hukum, dan

b. Turunnya kepatuhan dan disiplin masyarakat terhadap hukum.

Untuk itu, dalam RPJMD Provinsi Sulawesi Barat tahun 2006-2011 setiap

SKPD

menekankan

peningkatan

kedisilplinan

agar

setiap

pekerjaan

yang

dilakukan senantiasa berada dalam koridor hukum dan tidak bertentangan norma

kesopanan, kesusilaan, adat dan norma agama. Selanjutnya, berangkat dari

kenyataan

bahwa jumlah

polisi

yang

tersedia

tidak

sesuai

dengan rasio

masyarakat

yang

harus

dilayani,

maka

perlu pendekatan

yang

lebih

partisipatif melalui

apa

yang

dikenal

dengan Forum

Kemitraan

Polisi

Masyarakat (FKPM). FKPM yang dibentuk di setiap desa merupakan pendekatan

baru sebagai

bentuk

reformasi

kepolisian dalam

memberikan

pelayanan

kepada masyarakat (public service). Pendekatan ini juga merupakan model baru

(different

styles

of

polycing)

yang

terbukti menjadi

pendekatan

terbaik

8

untuk memperbaiki image penegakan hukum. Tujuan usaha kolaboratif polisi-

masyarakat ini agar dapat mengidentifikasi problem kriminal dan penyimpangan

secara dini dan melibatkan masyarakat mencari solusi penyelesaian masalah.

Masyarakat diharapkan melalui pendekatan ini dapat menyelesaikan masalahnya

sendiri - to help citizens resolve a vast array of personal problems – sebelum

ditangani oleh kepolisian.

Polisi terlibat, the role of the police officer in community based policing, is

to have an active part in the community (Schmalleger). Dengan kata lain, FKPM

adalah ujung tombak polisi di lapangan yang diharapkan bertindak cepat dan

tanggap akan gejala ketidaktertiban. Namun, meski ideal harapan ini, kondisi ini

masih dilematis.

2.2. Penyelesaian Kasus Kejahatan Konvensional dan Trans Nasional

Berdasarkan

hasil

identifikasi

data,

tidak

tersedia

data

persentase

penyelesaian

kasus

kejahatan

konvensional

dan

trans-nasional

di

provinsi

Sulawesi Barat. Walaupun kejahatan konvensional seperti pencurian tetap terjadi

namun pencurian dengan kekerasan dan pencurian kendaraan bermotor hampir

tidak pernah terjadi di Provinsi Sulawesi Barat.

3. Rekomendasi Kebijakan

Konflik dan pariwisata perlu diantisipasi melalui kebijakan pembangunan

kesejahteraan sosial dengan peningkatan koordinasi dan upaya pengentasan

golongan masyarakat kurang beruntung, penanganan komunitas adat terpencil

melalui

pemenuhan

hak

dasar,

serta

penanganan

bencana

alam

dan

perlindungan sosial; pembangunan kesatuan bangsa perlu diarahkan melalui

penciptaan iklim komunikasi politik dan ketersaluran aspirasi politik, fasilitasi

9

organisasi politik, sosial/keagamaan dan LSM, penanaman rasa saling percaya

antar

golongan/multi

etnis,

peningkatan

harmoni/integrasi

masyarakat,

dan

revitalisasi nilai kebangsaan; pembangunan kepariwisataan, seni dan budaya

perlu dilakukan dalam wujud peningkatan infrastruktur pendukung kepariwisataan

berbasis budaya lokal, revitalisasi kesenian tradisional, dan pemeliharaan nilai

lokal asli; pembinaan pemuda dan olah raga dapat dilakukan dalam bentuk

pengembangan

sarana

dan

prasarana,

pembinaan

organisasi,

peningkatan

prestasi serta pembinaan organisasi kepemudaan. Kebijakan ini dijabarkan ke

dalam beberapa program seperti:

(1)

Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial,

(2)

Penanggulangan Bencana,

(3)

Pengembangan Wawasan Kebangsaan,

(4)

Pemeliharaan Keamanan, Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat serta

Pencegahan tindak Kriminal,

(5)

Pengembangan Kegiatan Kepariwisataan,

(6)

Pemberdayaan pemuda dan Olahraga,

(7)

Pemberdayaan Perempuan, dan

(8)

Pengembangan komunikasi dan Informasi.

Adapun

sasaran

sebagai

indikator

keberhasilan

program

ini

adalah

terwujudnya kesejahteraan sosial yang lebih baik, terpeliharanya harmoni sosial

dan integrasi bangsa, serta terbukanya ruang aktivitas bagi kelompok pemuda

dan perempuan, terlestarinya kekayaan budaya dan terpeliharanya tertib hukum

dalam masyarakat.

10

B. Agenda Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis

1. Indikator

Agenda Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis mencakup dua

kelompok indikator yakni kebijakan publik dan demokrasi. Pencapaian bidang

kebijakan

publik

diukur

dengan

indikator

persentase

kasus

korupsi

yang

tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan, persentase Kabupaten/Kota

yang memiliki Perda Pelayanan Satu Atap, dan Persentase instansi/SKPD

Provinsi

(dalam

laporan

ini

data

yang

bisa

diperoleh

adalah

pemerintah

Kabupaten dan pemerintah Provinsii) yang memiliki pelaporan Wajar Tanpa

Pengecualian.

Sedangkan

pencapaian

bidang

demokrasi

diukur

dengan

indikator Gender-related Development Index (GDI) dan Gender Empowerment

Measurement (GEM). Nilai capaian dari setiap indikator tersebut dapat dilihat

pada Tabel-2 berikut.

Tabel 2. Indikator agenda mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis

Indikator

2004

2005

2006

2007

2008

2009

Pelayanan Publik

           

Persentase kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan (%)

0.00

0.00

0.00

66,6

0.00

0.00

Persentase kabupaten/ kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap (%)

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

Persentase instansi (SKPD) provinsi yang memiliki pelaporan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) [%]

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

Demokrasi

           

Gender Development Index (GDI)

60,10

61,52

63,60

63.60

64.71

64.71

Gender Empowerment Measurement (GEM)

59.70

61.30

61.80

61,97

62.20

62.20

Sumber: Data Kajati Sulselbar dan BPS Prov. Sulbar, 2010.

11

2. Analisis Pencapaian Indikator

2.1. Pelayanan Publik

a. Kasus Korupsi yang Tertangani Dibanding yang Dilaporkan

Hubungannya dengan kasus korupsi yang tertangani, diperlukan adanya

interpretasi dan persepsi yang jelas tentang definisi yang digunakan.

Yang

dimaksud dengan kasus korupsi yang “tertangani” dalam EKPD di Sulawesi Barat

adalah kasus korupsi yang buktinya sudah dianggap cukup oleh kejaksaan dan

sedang diproses ditambah dengan kasus korupsi yang diterima pelimpahannya

oleh kejaksaan dari kepolisian. Maksudnya adalah bahwa konsep tertangani disini

merupakan kasus korupsi yang telah berada pada proses atau tahap penuntutan,

sedangkan definisi yang digunakan dari konsep kasus korupsi yang “dilaporkan”

adalah seluruh kasus korupsi yang laporannya diterima secara langsung oleh

Kejaksaan dari masyarakat atau sumber lain ditambah kasus korupsi yang

pelimpahannya diterima oleh Kejaksaan dari Kepolisian. Data yang dianalisis

pada EKPD 2010 mencakup tahun 2007 saja, karena data 2004-2006, serta data

2008-2009 tidak dapat disajikan (data tidak ada).

Grafik-2

Persentase Kasus Korupsi yang Tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan 100 50 0 2004 2005 2006
Persentase Kasus Korupsi yang Tertangani
dibandingkan dengan yang dilaporkan
100
50
0
2004
2005
2006
2007
2008
2009
Persentase Kasus Korupsi yang Tertangani dibandingkan dengan yang
dilaporkan

12

Sumber: Kejaksanaan Tinggi RI Sulselbar, 2010

Tindak pidana korupsi telah menjadi tindak pidana yang luar biasa (extra

ordinary crime), maka sejalan dengan perkembangan kemajuan teknologi, modus

tindak pidana korupsi menjadi semakin canggih. Akibatnya, upaya pemberantasan

korupsi yang selama ini telah dilakukan masih dirasakan jauh dari harapan

masyarakat. Sungguhpun demikian, hal tersebut justru akan menjadi tantangan,

tidak saja bagi pemerintah Provinsu Sulawesi Barat namun juga seluruh bangsa

Indonesia untuk bersama-sama membangun komitmen memberantas korupsi.

Adanya

perkembangan

peraturan

perundang-undangan

yang

terkait

dengan pemberantasan korupsi dalam waktu dua tahun terakhir memperlihatkan

kesungguhan

pemerintah

dalam

mendukung

upaya-upaya

pemberantasan

korupsi.

Instruksi

Presiden

Nomor

5

tahun

2004

tentang

Percepatan

Pemberantasan

Tindak

Pidana

Korupsi

telah

memberikan

stimulasi

untuk

mempercepat

dikeluarkannya

berbagai

produk

perundang-undangan,

seperti

Peraturan

Presiden

Nomor

11

Tahun

2005

tentang

Tim

Koordinasi

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Timtas Tipikor).

Selain peraturan itu, sesuai Inpres Nomor 5 Tahun 2004, pada Februari

2005 pemerintah telah selesai menyusun Rencana Aksi Nasional Pemberantasan

Korupsi (RAN PK) 2004-2009. RAN PK merupakan acuan dalam menyusun

program pemberantasan korupsi dan mensinergikan berbagai upaya nasional

dalam pemberantasan korupsi di Indonesia, mulai dari tingkat pusat sampai

dengan

daerah.

Soalnya,

korupsi

merupakan

masalah

sistemik,

sehingga

memerlukan penanganan secara sistemik pula, yaitu melalui langkah-langkah

pencegahan, penindakan dan pelaksanaan monitoring dan evaluasinya. Langkah-

langkah

tersebut

untuk

memastikan

pelaksanaan

pencegahan

maupun

penindakan pemberantasan korupsi, serta memberikan hasil konkret kepada

13

masyarakat.

Langkah

ini

merupakan

upaya

mengembalikan

kepercayaan

masyarakat

kepada

hukum

dan

penyelenggara

negara

serta

pencerahan

mengenai anti korupsi kepada masyarakat. Dalam hubungannya dengan kasus

korupsi di Provinsi Sulawesi Barat, tercatat pada tahun 2007, sedikitnya terdapat

30 kasus korupsi yang dilaporkan dan hanya 20 atau 66,6 persen yang tertangani

oleh Kejaksaan Negeri Mamuju Sulbar. Sedangkan kasus korupsi yang ditangani

Kejari Mamuju yang masih dalam tahap kasasi. Dari sekian kasus korupsi yang

ditangani Kejari Mamuju, maka kasus terbesar adalah kasus pembobolan Bank

Sulsel Cabang Pasangkayu, senilai miliyaran rupiah.

Penegakan hukum yang tegas, imparsial dan tidak diskriminatif merupakan

jawaban atas permasalahan tersebut. Untuk itu, perlu dilakukan percepatan

penyelenggaraan penegakan hukum dan peningkatan kinerja penyelenggaraan

negara

di

bidang

penegakan

hukum,

baik

dengan

pembenahan

berbagai

peraturan

perundang-undangan

yang

menjadi

dasar

operasional

penegakan

hukum, penyempurnaan dan peningkatan kualitas lembaga penegak hukum, dan

peningkatan profesionalisme aparat penegak hukum, serta peningkatan budaya

hukum masyarakat.

Adanya berbagai upaya yang dilakukan, tidak saja pemerintah, tetapi juga

semua stakeholders, maka tingkat penanganan korupsi akan terus membaik.

Dengan demikian, akan meningkatkan kepercayaan masyarakat, baik di dalam

maupun

di

luar

negeri,

serta

akan

memberikan

implikasi

positif

berupa

meningkatnya investor yang menanamkan modalnya di Sulawesi Barat. Pada

gilirannya, para investor itu akan dapat mendukung peningkatan kesejahteraan

masyarakat.

Upaya penyelenggaraan negara di bidang penegakan hukum, khususnya

dalam

rangka

pemberantasan

korupsi

semakin

ditingkatkan.

Peningkatan

14

pemberantasan

korupsi

dilakukan

baik

berupa

peraturan

perundang-

undangannya, kelembagaan dan aparat penegak hukumnya, maupun budaya

hukum masyarakatnya.

Penyempurnaan

peraturan

perundang-undangan

yang

terkait

dengan

pemberantasan korupsi tetap menjadi prioritas utama. Peningkatan efektivitas

pelaksanaan

tugas

instansi/lembaga

pemberantasan

korupsi

juga

terus

ditingkatkan,

antara

lain

dengan

memberikan

dukungan

peningkatkan

profesionalisme aparatnya, dukungan sarana dan prasarana dan peningkatan

kesejahteraan. Selanjutnya, upaya mendorong keterbukaan terus ditingkatkan,

antara lain dengan mendorong partisipasi dan keberanian masyarakat untuk

melakukan pengawasan terhadap lembaga penegak hukum dalam melakukan

pemberantasan korupsi.

Upaya pemberantasan korupsi tidak hanya dilihat dari sisi penindakan

yang selama ini selalu mendapatkan porsi terbesar baik di media cetak maupun

elektronik,

namun

diseimbangkan

dengan

pemberian

informasi

kepada

masyarakat

tentang

upaya

pemerintah

dalam

melakukan

langkah-langkah

pencegahan

korupsi.

Hal

ini

sebenarnya

telah

banyak

dilakukan,

termasuk

berbagai

reformasi

pertanahan.

pelayanan

publik

di

bidang

perpajakan,

investasi,

dan

Langkah tersebut sangat penting untuk meningkatkan kesinambungan

akuntabilitas

instansi/lembaga

yang

telah

melakukan

pembenahan

(reform),

sehingga semua pihak dapat tetap mengawasi kinerja lembaga terkait. Langkah-

langkah itu pada dasarnya sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia yang

telah meratifikasi UNCAC, yakni ada empat fokus yang harus dilaksanakan oleh

negara yang telah meratifikasi, yaitu langkah pencegahan, penindakan, kerjasama

internasional, dan pengembalian aset dalam rangka pemberantasan korupsi.

15

b.

Kabupaten /Kota yang Mempunyai Peraturan Daerah Pelayanan Satu Atap dan Instansi yang memiliki Pelaporan Wajar Tanpa Pengecualian.

Sampai saat ini Provinsi Sulawesi Barat belum memiliki Kabupaten/kota

yang mempunyai peraturan daerah pelayanan satu atap, demikian pula instansi

(SKPD)

provinsi

yang

memiliki

pelaporan

wajar

tanpa

pengecualian.

Sebagaimana kita ketahui bahwa jumlah pemerintah daerah di wilayah Provinsi

Sulawesi

Barat

sekarang

ada

6

(enam)

pemerintah

daerah.

Adapun

perkembangan opini BPK atas LKPD di wilayah Provinsi Sulawesi Barat Tahun

Anggaran 2006 s.d. 2007 adalah sebagai berikut:

1. Tahun Anggaran 2006, terdapat 3 (tiga) pemerintah daerah yang mendapat

opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) dan 2 (dua) pemerintah daerah

yang mendapat opini Disclaimer;

2. Tahun Anggaran 2006, terdapat 4 (empat) pemerintah daerah yang mendapat

opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) dan 1 (satu) pemerintah daerah

yang mendapat opini Disclaimer;

Hasil pemeriksaan atas LKPD Pemerintah Daerah di Provinsi Sulawesi

Barat oleh BPK selama periode 2006-2007 juga menunjukkan bahwa pertanggung

jawaban

atas

pelaksanaan

APBD

di

Provinsi

Sulawesi

Barat

masih

belum

sepenuhnya sesuai dengan standar dan sistem akuntansi yang telah ditetapkan.

Hal ini dapat dilihat pada beberapa permasalahan terkait dengan transparansi dan

akuntabilitas sebagai berikut:

1.

Review atas laporan keuangan oleh aparat pengawasan internal belum

sebagaimana

yang

diharapkan,

maupun implementasi reviewnya.

baik

dari

segi

kemampuan,

metodologi

16

2. Sumber daya manusia yang ditugaskan untuk mengimplementasikan standar

dan sistem akuntansi serta pertanggungjawaban keuangan daerah masih

terbatas baik kuantitas maupun kualitasnya.

3. Masih terdapat kelemahan dalam desain dan implementasi sistem akuntansi

keuangan daerah seperti tidak efektifnya rekonsiliasi antara PPKD (Pejabat

Pengelola

Keuangan

Daerah)

selaku

BUD

(Bendahara

Umum

Daerah)

dengan SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah) selaku pengguna anggaran.

4. Sistem aplikasi belum terintegrasi sehingga menghasilkan data yang berbeda

meskipun dokumen sumbernya sama.

5. Rekening pemerintah masih belum tertib karena belum terwujudnya sistem

perbendaharaan tunggal (Treasury Single Account), masih banyak uang

daerah yang tersebar di berbagai rekening dan sulit dikendalikan.

6. Aset tetap daerah belum seluruhnya diinventarisasi dan dilakukan penilaian

sehingga

menimbulkan

keraguan

terhadap

keberadaan,

kepemilikan,

kelengkapan, dan kondisi aset yang dilaporkan.

7. Investasi Pemerintah baik berupa penyertaan modal pada BUMD maupun

berupa dana bergulir belum dikelola dan dilaporkan secara akurat.

Dari hasil audit BPK juga tergambar bahwa setidaknya ada dua alasan

yang menyebabkan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan daerah belum

transparan

dan

belum

akuntabel.

Pertama

adalah

karena

laporan

pertanggungjawaban

pengelolaan

keuangan

negara/daerah

belum

disusun

mengikuti Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) yang baku. Setelah 60 tahun

merdeka, Indonesia baru memiliki SAP yang diintrodusir pada tanggal 13 Juni

2005

sehingga

masih

perlu

disosialisasikan

kepada

para

penggunanya.

Sementara itu, Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 dan Permendagri Nomor 59

Tahun 2008 yang saat ini digunakan oleh Pemerintah Daerah masih memerlukan

17

penyempurnaan-penyempurnaan

agar

sesuai

dengan

SAP.

Kedua,

masih

terbatasnya sumber daya manusia di bidang keuangan negara maupun di bidang

pengawasan yang ada di daerah yang benar-benar menguasai SAP dan memiliki

kemampuan teknis untuk menerapkannya.

2.3. Demokrasi

a. Gender Development Index (GDI)

Dalam konteks ini perlu dipahami bahwa Gender Development Indeks

(GDI) merupakan salah satu indikator yang menunjukkan kesetaraan dalam relasi

gender pada berbagai aspek kehidupan. Capaian indikator GDI Sulawesi Barat

terus mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan dari tahun 2004

hingga 2009, dimana pada tahun 2008-2009 berhasil mencapai 64,71 persen,

meningkat 1,11 Persen dari tahun 2007. Sementara itu, tahun 2004 persentase

peningkatan GDI

hanya

sebesar

63,90

persen.

Dalam

rangka

memberikan

gambaran yang lebih jelas, dapat dilihat seperti pada grafik berikut.

Grafik-3 Gender Development Indeks 66 64 62 60 58 56 2004 2005 2006 2007 2008
Grafik-3
Gender Development Indeks
66
64
62
60
58
56
2004
2005
2006
2007
2008
2009
Gender Development Indeks

Sumber: BPS Sulawesi Barat, 2010

18

Pembangunan

gender

juga

ditunjukkan

dengan

indikator

gender

empowerment measurement (GEM) atau indeks pemberdayaan gender (GDI),

yang

diukur

melalui

partisipasi

perempuan

di

bidang

ekonomi,

politik,

dan

pengambilan keputusan. Di wilayah Sulawesi Barat, GDI tahun 2007 mengalami

peningkatan dibandingkan dengan tahun 2006. Pada Provinsi Sulawesi Barat nilai

GDI tertinggi dengan nilai 64,7, sedangkan jika dilihat dari perbandingan antar

kabupaten, maka nilai tertinggi GDI pada tahun 2008 terdapat di Kabupaten

Majene. Secara global nilai GDI Provinsi Sulawesi Barat cenderung meningkat.

Terjadinya peningkatan tersebut antara lain disebabkan

oleh beberapa faktor,

antara lain; (1) keterwakilan perempuan di parlemen, (2) meningkatnya proporsi

perempuan dalam pekerjaan profesional, (3) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja

(TPAK), dan (4) upah nonpertanian perempuan. Di samping itu, perlindungan

perempuan dan anak terutama terhadap berbagai tindak kekerasan cukup bagus.

Grafik-4

Gender Development Indeks 160 140 120 100 Gender Development 80 Indeks 60 Indeks Pembangunan Manusia
Gender Development Indeks
160
140
120
100
Gender Development
80
Indeks
60
Indeks Pembangunan
Manusia
40
20
0
2004
2005
2006
2007
2008
2009

Sumber: BPS Sulawesi Barat, 2010

Berdasarkan

data

tersebut

di

atas,

pada

tahun

2004

hingga

2009

peningkatan

GDI Sulawesi Barat berjalan seiring dengan peningkatan Indeks

Pembangunan

Manusia

(IPM),

di

mana

pada

tahun

2009

GDI

mencapai

19

persentase 64,71 persen dan tetap bertahan pada level nilai 60, hal ini sejalan

dengan perkembangan IPM pada tahun yang sama sebesar 69,64 persen.

Dengan demikian, semakin meningkat persentase GDI maka semakin meningkat

pula persentase IPM, seperti yang tergambar pada grafik-4 di atas. Peningkatan

ini

menunjukkan

bahwa

terjadi

perbaikan

kualitas

manusia

dalam

hal

pengetahuan,

kesehatan

dan

daya

beli

secara

tidak

langsung

mempunyai

hubungan

dengan semakin membaiknya kesetaraan relasi antara laki-laki dan

perempuan

dalam

proses

interaksi

sosial,

pola

kekuasaan,

dan

struktur

kemasyarakatan.

Tentu

saja

ini

dengan

asumsi

bahwa

pendidikan

telah

mengubah tata nilai dan norma masyarakat memahami dan mampu menerima

prinsip kesetaraan antara perempuan dan laki-laki.

Meskipun demikian, masih terdapat beberapa masalah yang dihadapi

dalam konteks gender, yakni tentang masih tingginya angka kematian ibu (AKI),

masalah gizi masyarakat dan lingkungan yang tidak sehat. Hal ini menunjukkan

masih banyak terdapat ketimpangan antara status kesehatan pada perempuan

dan

laki-laki,

dan

tentu

penanganannya.

saja

ini

harus

mendapatkan

prioritas

dalam

Pengarusutamaan gender merupakan salah satu strategi pembangunan

yang dilakukan untuk mencapai kesetaraan gender dan keadilan gender melalui

pengintegrasian pengalaman, aspirasi, kebutuhan, dan permasalahan perempuan

dan laki-laki. Untuk mempercepat pengarusutamaan gender, perlu dilakukan

pengembangan kapasitas SDM kesehatan, antara lain melalui seminar gender

bidang kesehatan. Kesetaraan gender adalah wujud kesamaan kondisi laki-laki

dan perempuan dalam memperoleh hak-haknya sebagai manusia agar mampu

berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya dan

kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan.

20

b. Gender Empowerment Measurement (GEM)

Pencapaian Gender Empowerment Measurement (GEM) Provinsi Sulawesi Barat seperti pada tabel-2 menunjukkan kecenderungan adanya peningkatan sekalipun tidak terlalu signifikan dari tahun 2004 sampai 2009, karena tingkat pertambahan angka GEM yang tidak terlalu banyak mengalami perubahan data dari tahun ke tahun. Adapun data mengenai GEM tersaji pada grafik-5 berikut.

Grafik-5

Gender Empowerment Measurement 62.5 62 61.5 61 60.5 60 59.5 59 58.5 58 2004 2005
Gender Empowerment Measurement
62.5
62
61.5
61
60.5
60
59.5
59
58.5
58
2004
2005
2006
2007
2008
2009
Gender Empowerment Measurement

Sumber: BPS Sulawesi Barat, 2010

Gender

Empowerment

Meassurement

(GEM).

Indeks

Pemberdayaan

Gender (Gender Empowerment Measurement/GEM) meliputi variabel partisipasi

perempuan di bidang ekonomi, politik dan pengambilan keputusan. Artinya,

bagaimana tingkat partisipasi perempuan pada ketiga bidang tersebut. Sama

halnya dengan GDI yang menganggap bahwa Indeks Pembangunan Manusia

adalah salah satu indikator yang turut berpengaruh, maka Gender Empowerment

Measurement juga turut dipengaruhi oleh Indeks Pembangunan Manusia, seperti

pada grafik-6 indikator pendukung di bawah ini:

21

Grafik-6

Gender Empowerment Measurement

75 70 65 60 55 50
75
70
65
60
55
50

20 04 20 05 20 06 2007 2008 2009

Indeks Pem ba n Ma nusi aGender Empowerment Measurement 75 70 65 60 55 50 20 04 20 05 20 06 2007

Gende rEmpowerment Measurement 75 70 65 60 55 50 20 04 20 05 20 06 2007 2008

Empow e

Measur e

Sumber: BPS Sulawesi Barat, 2010

Angka

Gender

Empowerment

Meassurement

(GEM)

Sulawesi

Barat

seperti pada grafik-6 di atas, menunjukkan bahwa terjadi peningkatan dari tahun

ke tahun (2004-2008), yaitu: 59,70 persen (2004); 61,30 persen (2005); 61,80

persen (2006); 61,97 persen (2007); dan 62,20 persen (2008); dan 62,20 persen

pada tahun 2009. Artinya, tingkat partisipasi perempuan pada bidang ekonomi,

politik

dan

pengambilan

keputusan

di

Sulawesi

Barat

juga

mengalami

peningkatan. Peningkatan angka GEM di Sulawesi Barat tidak terlepas dari:

a. Keberhasilan

Pemerintah

Sulawesi

Barat

dalam

mengimplementasikan

program-program

pengarusutamaan

gender

(perempuan)

khususnya

yang

terkait

dengan

partisipasi

perempuan

pada

bidang

ekonomi,

politik,

dan

pengambilan keputusan di Sulawesi Barat;

b. Kebijakan

Pemerintah

Sulawesi

Barat

yang

sudah

responsif

gender.

Sedangkan bila dibandingkan angka GEM antar Kabupaten di Sulawesi Barat,

maka angka GEM tertinggi berada di Kabupaten Majene.

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa GEM juga turut

dipengaruhi oleh IPM. Oleh karena itu, hal ini perlu diperhatikan. Bagaimanapun,

22

secara teroretis-filosofis, GEM adalah bagian dari upaya meningkatkan kualitas

manusia, dalam arti bagaimana manusia semakin memiliki peluang dalam era

keterbukaan terhadap pilihan-pilihan dalam kehidupannya (choices) dan semakin

mampu menyuarakan pilihan-pilihannya (voices). Pada grafik tersebut di atas,

terlihat bahwa peningkatan GEM di Sulawesi Barat cenderung seiring dengan

peningkatan IPM. Ketika nilai GEM mengalami peningkatan yang tinggi pada

tahun 2009 sebesar 62,20 dan tetap bertahan pada level nilai 60, saat itu juga,

IPM juga mengalami peningkatan yang tinggi pada tahun yang sama sebesar

69,64, sementara dari tahun 2004-2008 peningkatan GEM tidak terlalu signifikan.

Meskipun demikian, tetap diyakini bahwa upaya pemberdayaan atau pencapaian

kesetaraan

gender

pada

organisasi/kelembagaan

pemerintah

maupun

non

pemerintah memiliki hubungan yang sangat erat dengan tingkat pendidikan,

kesehatan dan daya beli masyarakat secara umum.

3. Rekomendasi Kebijakan

Layanan satu atap di Provinsi Sulawesi Barat sebagai provinsi baru belum

ada satu pun daerah yang menyelenggarakannya. Sedangkan tentang gender,

dimana dalam Rencana Strategis Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB

Provinsi Sulawesi Barat 2009-2014 telah diprogramkan Pengarusutamaan Gender

maka diperlukan langkah sebagai berikut:

a) Peningkatan kualitas hidup perempuan melalui pendidikan, kesehatan, hukum,

ketenagakerjaan, sosial, politik, lingkungan hidup dan ekonomi.

b) Pengembangan materi dan pelaksanaan komunikasi, informasi dan edukasi

(KIE) tentang kesetaraan dan keadilan gender.

c) Peningkatan kapasitas jaringan kelembagaan PP di provinsi dan kabupaten

seperti Pusat Studi Perempuan/Gender, lembaga-lembaga penelitian.

23

d) Penyusunan berbagai kebijakan dalam rangka penguatan kelembagaan PUG

di tingkat provinsi dan kabupaten.

e) Pembentukan wadah-wadah guna mendengarkan dan menyuarakan pendapat

dan harapan perempuan sebagai bentuk partisipasi perempuan dalam proses

pembangunan.

Beberapa

gerakan

kelompok

masyarakat

/

dan

upaya

yang

bangsa

sebagai

muncul

di

berbagai

komunitas

upaya

dalam

peningkatan

dan

pemberdayaan perempuan perlu digalakkan begitu pula diperlukan penanganan

ketertinggalan perempuan. Ketertinggalan perempuan dapat dilihat di berbagai

bidang, di bidang pendidikan, angka buta huruf /tidak dapat membaca dan

menulis huruf latin dan atau huruf lainnya. Secara keseluruhan angka buta huruf

penduduk usia 10 tahun ke atas di Provinsi Sulawesi Barat

tahun 2006 adalah

sekitar 12,51 persen, dengan persentase buta huruf perempuan yang sebesar

14,84 persen dibandingkan dengan laki-laki buta huruf sebesar 10,13 persen.

Dalam

melakukan

perencanaan

kebijakan

kesetaraan

gender

oleh

Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat memasukkan ke dalam Rencana Strategis

Pemerintah

Provinsi

dan

Rencana

Strategis

SKPD

yang

ada

dengan

mengakomodasi aspek-aspek pokok berikut ini:

a) Di sektor pendidikan masih diperlukan dukungan kebijakan di tingkat nasional

maupun daerah.

b) Di sektor kesehatan kebijakan kesetaraan/ keadilan gender relatif lebih maju

dibanding sektor pendidikan dimana telah direkomendasikan kerjasama antara

Departemen Kesehatan dengan Kantor Meneg Pemberdayaan Perempuan

untuk meningkatkan kebijakan dan program-program pengarusutamaan gender

di sektor kesehatan. Dalam konsep otonomi daerah, kerjasama kantor Meneg

24

PP dan Departemen Kesehatan diperluas dengan melibatkan Departemen

Dalam Negeri, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, dan lembaga-

lembaga studi wanita. Demikian pula di Provinsi Sulawesi Barat.

c) Di sektor ekonomi menduduki posisi yang vital mengingat krisis yang diderita

Indonesia yang mempunyai dampak terbesar pada menurunnya kemampuan

ekonomi yang dikenal dengan meningkatnya tingkat kemiskinan sehingga

memerlukan

kebijakan

yang

berkenaan

dengan

upaya-upaya

kesetaraan

gender di sektor ekonomi. Dengan lahirnya PP Nomor 41 Tahun 2007 Tentang

Organisasi Perangkat Daerah, maka oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat

dengan Perda Nomor 22 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja

Inspektorat, Bappeda, Lembaga Teknis Daerah dan Satuan Polisi Pamong

Praja Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menetapkan organisasi perangkat

daerahnya sehingga melahirkan Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB

dalam struktur kelembagaan di provinsi yang tugas/pokok dan fungsinya

adalah pelaksanaan pembangunan kesetaraan gender dalam meningkatkan

pemberdayaan

perempuan

khususnya

pada

Pemerintah

Daerah

Provinsi

Sulawesi Barat.

d) Di sektor

pemerintahan

dapat dilihat peran serta perempuan di eksekutif .

Dengan terbentuknya Provinsi Sulawesi Barat sesuai UU No.26 Tahun 2006.

C. Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat

1. Indikator

Dalam agenda meningkatkan kesejahteraan rakyat, terdapat beberapa

bidang

yang

masing-masing

mencakup

beberapa

indikator

sebagai

basis

analisis dan evaluasi, antara lain:

(1) Indeks Pembangunan Manusia,

(2)

Bidang Pendidikan,

(3) Bidang Kesehatan, (4) Bidang Ekonomi Makro (5)

25

Investasi (6) Infrastruktur (7) Pertanian

(10). Kesejahteraan Sosial.

(8) Kehutanan

(9) Kelautan, dan

Pencapaian RPJMN 2004-2009 di Sulawesi Barat atas indikator-indikator

tersebut dapat dilihat pada Tabel-3 berikut.

Tabel 3. Indikator Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat

Indikator

2004

2005

2006

2007

2008

2009

Indeks Pembangunan Manusia

64.40

65.72

67.06

67.72

68.55

69.64

Pendidikan

           

Angka Partisipasi Murni Tingkat SD

0.00

87.08

91.67

92.17

95.20

99.25

Angka Partisipasi Kasar Tingkat SD

0.00

88.30

94.02

109.93

78.69

80.75

Rata-Rata Nilai Akhir Tingkat SMP

6.34

6.35

6.75

6.33

6.7

6.7

Rata-Rata Nilai Akhir Tingkat Sekolah Menengah

6.35

6.94

6.9

6.35

6.49

6.58

Angka Putus Sekolah Tingkat SD (%)

6,57

6.51

3.36

2.60

2,00

1,75

Angka Putus Sekolah Tingkat SMP (%)

3,98

4.06

6.02

14.47

3.00

2.00

Angka Putus Sekolah Tingkat Sekolah Menengah (%)

3.49

4.16

5.57

3.22

2.30

1,75

Angka Melek Huruf (%) 15 tahun ke atas

82.90

83.40

85.90

86.40

87.05

85,00

Persentase Guru Layak Mengajar Terhadap Guru Seluruhnya Tingkat SMP (%)

77.25

76.93

77.42

85.03

69.81

75.30

Persentase Guru Layak Mengajar Terhadap Guru Seluruhnya Tingkat Sekolah Menengah (%)

   

64.01

64.74

74.20

79.54

Kesehatan

           

Umur Harapan Hidup (tahun)

66.30

66.40

67.00

67.20

67.40

67.70

Angka Kematian Bayi ( A K B )

 

30,00

29.10

28,20

27.40

 

Gizi Buruk (%)

   

1.81

0.87

0.11

0.16

Gizi Kurang (%)

   

8.95

7.80

2.38

 

Persentase Tenaga Kesehatan per Penduduk (%)

   

0.13

0.16

0.16

0.20

Keluarga Berencana

           

Contraceptive Prevalence Rate (%)

0.00

0.00

0.00

45,20

52,20

50,00

Pertumbuhan Penduduk (%)

0.00

2.68

0.02

3.23

1.54

1.53

Total Fertility Rate (%)

     

3,5

   

Ekonomi Makro

           

Laju Pertumbuhan Ekonomi (%)

6.00

6.78

6.42

7.43

8.54

6,89

Persentase Ekspor terhadap PDRB (%)

15.10

14.52

13.57

13.51

14.21

14.15

Persentase Output Manufaktur Terhadap PDRB (%)

0.00

7.35

7.57

7.74

   

Pendapatan Perkapita (Rupiah)

3.955.774

4,562,424

5,162,733

6,091,286

7,534.953

8.671.818

Laju Inflasi (%) :

3.64

3.64

3.01

3.01

3.04

3.21

Investasi

           

Nilai Realisasi Investasi PMDN (Rp. Milyar)

1.014

1.014

1.014

1.142

1.712

1.712

Nilai Rencana Investasi PMDN (Rp.Milyar)

2.485

2.485

2.485

2.652

5.273

6.111

Nilai Realisasi Investasi PMA (US$ Juta)

     

0.18

0.18

0.18

26

Nilai Rencana Investasi PMA (US$ Juta)

10.038

10.038

10.038

10.309

25.109

31.473

Realisasi penyerapan tenaga kerja PMA

3,708

3,708

3,708

3,404

3,404

3,404

Infrastruktur

           

Persentase Jalan Nasional dalam Kondisi Baik (%)

53.31

53.40

61.73

58.78

69.26

80.65

Persentase Jalan Nasional dalam Kondisi Sedang (%)

37.82

6.68

12.78

13.02

11.61

12.48

Persentase Jalan Nasional dalam Kondisi Rusak (%)

3.33

14.42

5.41

3.24

3.24

6.87

Persentase Jalan Provinsi dalam Kondisi Baik (%)

77.15

62.57

41.18

43.84

68.43

85.31

Persentase Jalan Provinsi dalam Kondisi Sedang (%)

72.21

16.99

27.73

33.62

39.02

33.79

Persentase Jalan Provinsi dalam Kondisi Rusak (%)

32.52

65.74

47.42

44.69

24.35

26.18

Pertanian

           

Rata-rata Nilai Tukar Petani per Tahun

   

100

100.81

103.58

105.14

PDRB Sektor Pertanian Atas Dasar Harga Berlaku (Rp. Juta)

 

2,472,699

2,746,166

3,255,735

3.920.386

4.196.304

Kehutanan

           

Persentase Luas lahan rehabilitasi dalam hutan terhadap lahan kritis (%)

           

Kelautan

           

Jumlah Tindak Pidana Perikanan

   

1

1

1

3

Luas Kawasan Konservasi Laut (km 2 )

           

Kesejahteraan Sosial

           

Persentase Penduduk Miskin (%)

 

24.22

20.74

19.03

16.73

15.29

Tingkat Pengangguran Terbuka (%)

 

0.00

6.45

5.68

4.92

4.10

2. Analisis Pencapaian Indikator

2.1. Indeks Pembangunan Manusia

Setiap

tahun

sejak

1990,

Laporan

Pembangunan

Manusia

(Human

Development Report) telah menerbitkan indeks pembangunan manusia (human

development index - HDI) yang mengartikan kesejahteraan secara lebih luas dari

sekedar

pendapatan

domestik

bruto

(PDB).

Indeks

pembangunan

manusia

memberikan suatu ukuran beberapa dimensi tentang pembangunan manusia.

Indeks perkembangan manusia yang tercermin dari kondisi Kesehatan dan

Pendidikan.

Capaian indikator Indeks Pembangunan Manusia Sulawesi Barat sejak

tahun 2004 sampai dengan tahun 2009 terus mengalami peningkatan. Pada tahun

2009 IPM Sulbar sudah menghampiri nilai diatas 70 yaitu sebesar 69,64 persen.

27

Sementara itu, diawal tahun terbentuknya provinsi ini pada tahun 2004 masih

berada pada kategori menengah bawah yakni 64,40 persen. Pada tabel-3, terlihat

bahwa peningkatan signifikan tercapai pada tahun 2009, dimana IPM Sulawesi

Barat naik 1,09 poin dari tahun 2008

Grafik-7 Indeks Pembangunan Manusia 72 70 68 66 64 62 60 2004 2005 2006 2007
Grafik-7
Indeks Pembangunan Manusia
72
70
68
66
64
62
60
2004
2005
2006
2007
2008
2009
Indeks Pembangunan Manusia

Sumber: BPS, Bappeda Sulbar, 2010

Nilai Indeks perkembangan manusia (IPM) Provinsi Sulawesi Barat walau

lebih kecil daripada nilai IPM nasional namun mampu menggeser rangkingnya

dari rangking 28 menjadi 27. Meningkatnya kualitas sumber daya manusia di

wilayah

Sulawesi

Barat

disebabkan

oleh

semakin

meratanya

jangkauan

pelayanan dasar pendidikan dan kesehatan dan semakin diperhatikannya mutu

pelayanan

pendidikan

dan

kesehatan

terutama

di

daerah

pedesaan

dan

pedalaman.

Pembangunan pendidikan merupakan salah satu prioritas utama dalam

agenda

pembangunan

nasional,

karena

perannya

yang

signifikan

dalam

mencapai kemajuan di berbagai bidang kehidupan: sosial, ekonomi, politik, dan

budaya. Dalam hal ini, pemerintah berkewajiban untuk memenuhi hak setiap

warga

negara

dalam

memperoleh

layanan

pendidikan

guna

meningkatkan

28

kualitas hidup bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945, yang

mewajibkan Pemerintah bertanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan

bangsa dan menciptakan kesejahteraan umum. Pendidikan menjadi landasan

kuat yang diperlukan untuk meraih kemajuan bangsa di masa depan, bahkan

lebih penting lagi sebagai bekal dalam menghadapi era global yang sarat dengan

persaingan antar bangsa yang berlangsung sangat ketat. Dengan demikian,

pendidikan

menjadi

syarat

mutlak

yang

harus

dipenuhi

karena

pendidikan

merupakan faktor determinan bagi suatu bangsa untuk bisa memenangi kompetisi

global.

Berbagai

studi

menunjukkan,

pendidikan

bukan

saja

penting

untuk

membangun masyarakat terpelajar yang menjelma dalam wujud massa kritis

(critical mass), tetapi juga dapat menjadi landasan yang kuat untuk memacu

pertumbuhan

ekonomi

melalui

penyediaan

tenaga

kerja

yang

memiliki

pengetahuan, menguasai teknologi, dan mempunyai keahlian dan keterampilan.

Tenaga kerja dengan kualifikasi pendidikan yang memadai ini memberi kontribusi

pada peningkatan produktivitas nasional.

Pemerintah Sulawesi Barat sangat konsisten dalam upaya meningkatkan

kualitas

pendidikan.

Upaya

ini

ditunjukkan

Pembangunan Daerah (Propeda) Sulawesi Barat

dengan

disusunnya

Program

2005-2010 yang menyebutkan

bahwa strategi yang dilakukan dalam meningkatkan kinerja bidang pendidikan di

antaranya

adalah

dengan

melakukan

perluasan

dan

pemerataan

di

dalam

memperoleh

pendidikan

yang

bermutu

bagi

seluruh

masyarakat

melalui

peningkatan anggaran pendidikan secara berarti. Program pendidikan mempunyai

andil yang sangat besar terhadap kemajuan bangsa, baik dari segi ekonomi

maupun

sosial,

karena

keberhasilan

pembangunan

di

bidang

pendidikan

merupakan salah satu parameter yang dapat dimanfaatkan untuk mengetahui

29

tingkat kesejahteraan masyarakat suatu daerah, termasuk daerah-daerah di

Sulawesi Barat.

Perhatian pemerintah Sulawesi Barat, selain pada sektor pendidikan juga

tertuju pada bidang kesehatan dan kesejahteraan sosial, khususnya dalam hal

pengentasan

kemiskinan.

Untuk

melihat

seberapa

besar

indikator

tersebut

memberi kontribusi terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia, dapat

dilihat pada grafik-8 indikator pendukung di bawah ini.

Grafik-8

Indeks Pembangunan Manusia 80 70 60 50 40 30 20 10 0 2004 2005 2006
Indeks Pembangunan Manusia
80
70
60
50
40
30
20
10
0
2004
2005
2006
2007
2008
2009
Indeks Pembangunan Manusia
Umur Harapan Hidup
Persentase Penduduk Miskin (%)

Sumber: BPS, Bappeda, Dinkes, Dinas Sosial Sulawesi Barat, 2010

Data pada grafik di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2005 indeks

pembangunan

manusia

tidak

begitu

mengalami

perubahan

dari

tahun

sebelumnya. Capaian yang terkesan stagnan sebesar 65,72% itu pada dasarnya

dipengaruhi oleh meningkatnya persentase penduduk miskin (24,22%) di samping

itu, angka kematian bayi juga ikut meningkat (30,00%), serta tingginya angka

putus sekolah pada tingkatan SD (6,51%), padahal persentase umur harapan

hidup

juga

mengalami

peningkatan

(66,40%)

sejalan

dengan

meningkatnya

indeks pembangunan manusia pada tahun yang sama.

30

Tahun

peningkatan

2008

(68,55%)

indeks

pembangunan

manusia

disebabkan

oleh

meningkatnya

kembali

mengalami

persentase

angka

partisipasi murni tingkat SD (95,20%) dan menurunnya angka partisipasi kasar

tingkat SD dari 109,93% menjadi 78,69%. Selain itu angka putus sekolah pada

setiap jenjang pendidikan juga mengalami penurunan yang cukup signifikan, yaitu

SD

(2,00%),

SMP

(3,00%),

dan

SMA

(2,30%)

disebabkan

oleh

semakin

menurunnya persentase penduduk miskin (16,73%) yang secara tidak langsung

akan

berimplikasi

pada

kemampuan

masyarakat

turut

andil

pada

program

pembangunan, baik dalam bidang pendidikan maupun kesehatan. Ini tentu saja

merupakan

suatu

hal

yang

sangat

pengentasan kemiskinan sebagai salah

provinsi Sulawesi Barat berkelanjutan.

menggembirakan

kaitannya

dengan

satu strong point dalam pembangunan

Tahun 2009 perkembangan indeks pembangunan manusia Sulawesi Barat

masih berada pada tataran meningkat. (69,64%), ini artinya meningkat sebesar

1,09% dari tahun sebelumnya (68,55%). Disebabkan oleh semakin terfokusnya

upaya pemerintah provinsi dalam melakukan pengentasan kemiskinan, perbaikan

sistem pendidikan dan kesehatan. Persentase penduduk miskin pada tahun 2009

adalah 15,29% menurun sebesar 1,44%. Sektor pendidikan juga sudah mulai

membaik dengan beberapa indikator antara lain meningkatnya angka partisipasi

murni tingkat SD yang hampir mencapai 100%, angka putus sekolah pada tingkat

SD, SMP, dan SMA yang juga mengalami penurunan sebagai akibat dari

meningkatnya persentase umur harapan hidup (67,70%) meningkat sebesar

0,30% dari tahun 2008 (67,40%). Intinya adalah bahwa pada hakikaktnya indeks

pembangunan manusia di provinsi Sulawesi Barat dapat dikategorikan cukup baik

karena dari tahun ke tahun (2004-2009) terus mengalami tren positif dalam

peningkatannya.

31

2.2. Pendidikan

Dalam bidang pendidikan akan diukur beberapa indikator, di dalamnya

tercakup pendidikan dasar dan menengah. Pada dasarnya pendidikan di Sulawesi

Barat

secara

keseluruhan

menunjukkan

adanya

peningkatan,

sekalipun

peningkatan

dari

tahun

ke

tahun

tidak

terlalu

tinggi,

namun

setidaknya

peningkatan

tersebut

dapat