Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI TANAMAN

Oleh: Nurul Purwaningsih A1L010109

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2013

I.

PENDAHULUAN

Potensi alam yang dimiliki Indonesia cukup beragam seperti adanya gunung berapi yang aktif dan mampu menyuburkan lingkungan sekitar melalui erupsi vulkanink yang terjadi. Dengan kondisi tersebut, maka topografi daerah Indonesia sangat beragam mulai dari dataran tinggi sampai dataran rendah yang masing-masing memiliki karakteristik iklim dan lingkungan yang berbeda. Perbedaan topografi antar daerah sangat menentukan aktifitas pertanian mulai dari sistem penataan lahan, sistem penanaman sampai pemeliharaan dan jenis tanaman yang disesuaikan dengan kondisi tersebut. Meskipun tidak selamanya kondisi lingkungan dan iklim menjadi dasar pemikiran penentuan jenis tanam dan pola aktifitas pertanian. Beberapa petani menerapkan pola pertaniannya dengan dasar memperoleh keuntungan yang besar dari kegaiatan usaha tani tersebut. Sehingga terkadang aktifitas tersebut tidak sesuai dengan kaidah konservasi. Akibatnya usaha pertanian tersebut tidak memiliki efek yang bersifat keberlanjutan. Hubungan antara manusia dan lingkungan alam bagi masyarakat pedesaan sangatlah erat. Mata pencaharian mereka adalah mengolah alam secara langsung. Sehingga keadaan alam dan sumber- sumber daya akan sangat menentukan keadaan mereka. Rapatnnya hubungan timbal balik antara kehidupan masyarakat dan lingkungan alam menyebabkan hal ini perlu dipahami dan mengembangkan program

bersama masyarakat. Dengan terknik pemetaan, diperoleh gambaran keadaan sumber daya alam masyarakat bersama masalah- masalah, perubahan- perubahan keadaan, potensi- potensi yang ada. Sedangkan untuk mengamati secara langsung keadaan lingkungan dan sumber daya tersebut, dugunakan teknik penelusuran lokasi (transek). Analisis teknik penelusuran lokasi ( Transek ) merupakan teknik dalam melakukan pengamatan secara langsung pada suatu lingkungan dan keadaan sumbersumberdaya. Caranya dengan berjalan menelusuri wilayah tempat yang akan

dilakukan pengamatan serta mengikuti suatu lintasan tertentu yang disepakati sebelumnya. Hasil yang diperoleh dari teknik analisis transek adalah gambaran

keadaan potensi sumber daya alam masyarakat beserta masalah-masalah, perubahanperubahan keadaan dan potensi-potensi yang ada. Hasil tersebut dapat dibuat dalam bentuk gambar atau diagram yang dilengkapi dengan simbol simbol untuk gambit transek yang sudah ditentukan dan disepakati bersama. Analisis transek dilakukan dengan memotong jalur melalui bagian dari lingkungan menunjukkan berbagai habitat yang berbeda. Para ahli biologi dan

ekologi menggunakan transek untuk mempelajari tentang unsur-unsur simbiosis yang banyak berkontribusi terhadap habitat di mana tanaman dan binatang tertentu tumbuh (Fachrul, 2008).

Metode transek biasa digunakan untuk mengetahui vegetasi tertentu seperti padang rumput dan lain-lain atau suatu vegetasi yang sifatnya masih homogen.Terdapat 3 metode transek: 1. Metode Line Intercept (line transect) Metode line intercept biasa digunakan oleh ahli ekologi untuk mempelajari komunitas padang rumput. Dalam cara ini terlebih dahulu ditentukan dua titik sebagai pusat garis transek. Panjang garis transek dapat 10 m, 25 m, 50 m, 100 m. Tebal garis transek biasanya 1 cm. Pada garis transek itu kemudian dibuat segmen-segmen yang panjangnya bisa 1 m, 5 m, 10 m. pengamatan terhadap tumbuhan dilakukan pada segmen-segmen tersebut. Selanjutnya mencatat, menghitung dan mengukur panjang penutupan semua spesies tumbuhan pada segmen-segmen tersebut. Cara mengukur panjang penutupan adalah memproyeksikan tegak lurus bagian basal atau aerial coverage yang terpotong garis transek ketanah. 2. Metode Belt Transect Metode ini biasa digunakan untuk mempelajari suatu kelompok hutan yang luas dan belum diketahui keadaan sebelumnya. Cara ini juga paling efektif untuk mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah, topograpi, dan elevasi. Transek dibuat memotong garis-garis topograpi, dari tepi laut kepedalaman, memotong sungai atau menaiki dan menuruni lereng pegunungan.

Lebar transek yang umum digunakan adalah 10-20 meter, dengan jarak antar antar

transek 200-1000 meter tergantung pada intensitas yang dikehendaki. Untuk kelompok hutan yang luasnya 10.000 ha, intensitas yang dikendaki 2 %, dan hutan yang luasnya 1.000 ha intensitasnya 10 %. 3. Metode Strip Sensus Metode ini sebenarnya sama dengan metode line transect, hanya saja penerapannya untuk mempelajari ekologi vertebrata teresterial (daratan). Metode strip sensus meliputi, berjalan disepanjang garis transek, dan mencatat spesies-spesies yang diamati disepanjang garis transek tersebut. Data yang dicatat berupa indeks populasi (indeks kepadatan). Analisa vegetasi adalah salah satu cara untuk mempelajari tentang susunan (komposisi) jenis dan bentuk struktur vegetasi (masyarakat tumbuhan). Analisi vegetasi dibagi atas tiga metode yaitu : (1) mnimal area, (2) metode kuadrat dan (3) metode jalur atau transek (Soerianegara,1988). Salah satu metode dalam analisa vegetasi tumbuhan yaitu dengan menggunakan metode transek. Untuk mempelajari suatu kelompok hutan yang luas dan belum diketahui keadaan sebelumnya paling baik dilakukan dengan transek. Cara ini paling efektif untuk mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah, topografi dan elevas. Transek biasanya terdiri dari dua tahapan utama, pertama yaitu perjalanan dan observasi, dan yang kedua yaitu pembuatan gambar transek. Hasilnya biasanya langsung digambar di atas keretas plano dengan dibantu oleh papan flipchart atau

menggunakan bahan yang ada disekitar misalnya tanah lapang atau papan tulis. Sebelum melakukan Transek perlu disiapkan bahan dan alat seperti kertas flipchart, busur dan spidol (Fachrul, 2008)

II.

BAHAN DAN ALAT

A. Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah petakan lahan di Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap daerah pantai. B. Alat Alat yang digunkan dalam praktikum kali ini antara lain kertas gambar, spidol, pensil, pulpen, soil tester, Altimeter, hygrometer dan luxmeter.

III.

PROSEDUR KERJA

1. Persiapan a. Mempersiapkan tim yang akan ikut dalam kegiatan transek ini, termasuk menentukan kapan dan dimana akan berkumpul. b. Disiapkan alat tulis, kertas gambar, altimeter, soil tester, serta lux meter. 2. Pelaksanaan a. Setelah tiba dilokasi, bersama anggota kelompok masing-masing menyepakati lokasi-lokasi penting yang akan dikunjungi serta topik kajian yang akan dilakukan seperti ketinggian tempat, suhu tanah, kemiringan, pH

tanah,kelembaban dan intensitas cahaya pada tempat tersebut. b. Perjalanan dilakukan dengan mengambil titik terdekat dan mengamati keadaan disepanjang perjalanan,melihat keadaan sumber daya seperti adanya vegetasi pada lahan yang dilewati c. Mencatat dan mendiskusikan keadaan sumber daya tersebut dengan mengamati kajian budidayanya seperti pola tanam dan jarak tanam. 3. Setelah perjalanan a. Selama berhenti di lokasi tertentu, gambar bagan transek sementara dibuat untuk setiap bagian lintasan yang sudah ditelusuri.

b. Setelah selesai melintasi jalur yang ditentukan,menggambar kembali bagan transek vegetasi yang ada lengkap dengan topik kajiannya seperti pola tanam, jarak tanam, ketinggian tempat, kemiringan, pH, suhu tanah, kelembaban dan intensitas cahayanya. c. Hasil dari bagan tersebut dipresentasikan dan selanjutnya antar kelompok sharing data untuk menggabungkan data yang terkumpul dari masing-masing daerah baik atas, tengah dan bawah.

IV.

HASIL PENGAMATAN

Terlampir

V.

PEMBAHASAN

Praktikum transek kali ini dilakukan dengan mengamati kondisi lingkungan yang mempengaruhi kegiatan budidaya pertanian serta berbagai macam tanaman yang dibudidayakan. Pengamatan dilakukan terhadap tiga lokasi yang berbeda menurut ketinggian tempat. Perbedaan lokasi dikategorikan antara lain lokasi bagian bawah, tengah, dan lokasi bagian atas. Kegiatan budidaya pertanian yang dilakukan oleh masyarakat akan sangat tergantung pada keadaan alam. Menurut Syafei (1994), ada dua faktor yang

menentukan hasil produksi yaitu faktor genetik dan lingkungan. Salah satu faktor yang termasuk dalam faktor lingkungan yaitu kondisi topografi atau kemiringan tempat, sehingga tempat yang mempunyai topografi yang berbeda tentu usaha budidaya yang dilakukan juga berbeda, perbedaan tersebut yaitu dalam cara budidaya, jenis tanaman yang diusahakan, pola usaha tani, dan cara pengelolaan sumber daya alam. Pertumbuhan tanaman dan urutannya yang terjadi dalam suatu tahuan ditentukan oleh interaksi iklim, tanah, tanaman dan pengelolaan. Suatu jenis tanaman akan tumbuh baik jika kebutuhan minimum akan air, energi dan nutrient tersedia serta ada tempat untuk tumbuh. Setiap jenis tanaman memerlukan susunan factor tumbuh tertentu untuk pertumbuhan yang optimal (Wisnubroto, 1999).

Pengamatan dilakukan dengan berbagai macam parameter. Parameter yang digunakan mencakup aspek topografi wilayah, pola budidaya, keadaan cuaca serta keadaan tanah. Parameter tersebut dianggap mewakili keadaan keseluruhan dari ekosistem dan komunitas wilayah tersebut. Dengan mengetahui keadaan wilayah, maka akan didapat informasi spesifik yang berguna dalam penanganan masalah apabila terjadi suatu permasalahan. Peralatan dalam praktikum ini digunakan yang mendukung parameter yang akan diamati. Peralatan tersebut antara lain: pHmeter untuk menunjukkan pH tanah, altimeter untuk menunjukkan ketinggian tempat, lux meter diguanakan untuk menunjukkan intensitas cahaya dan termohidrometer untuk mengukur kelembaban suhu. Peralatan yang diapakai sebaiknya secukupnya saja asalkan bisa mewakili parameter, karena pengamatan dilakukan di lapang sehingga penggunaan peralatan yang berlebihan dalam segi kuantitas dapat mengganggu jalannya pengamatan. Adanya teknik pemetaan yang dikenal dengan transek akan memudahkan untuk melakukan pendataan atau pemetaan terhadap berbagai sebaran vegetasi yang berdasarkan atas perbedaan topogarafi. Teknik ini dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung lingkungan dan sumber daya, yaitu dengan cara berjalan menelusuri suatu wilayah mengikuti lintasan tertentu yang selanjutnya hasil pengamatan dituangkan dalam gambar irisan muka bumi tersebut. Pengamatan dan analisis sebaran vegetasi ini dilakukan di kecamatan Kroya kawasan pantai Widara Payung, yang masuk dalam kabupaten Cilacap. Pengamatan

dan analisis dilakukan pada tiga tempat yang memiliki keadaan topografi atau ketinggian yang berbeda, yaitu bagian dekat dengan pantai, berjarak sedang dengan pantai, dan jauh dari pantai. Dari setiap tempat dapat diketahui bagaimana pola budidaya dari tiap tempat tersebut seperti jenis tanaman yang dibudidayakan, pola tanam, jarak tanam dan berbagai aspek budidaya lainnya. Aspek budidaya yang berupa faktor lingkungan tersebut dapat kita analisisdengan menganalisa faktor-faktor lingkungannya seperti suhu tanah, pH,kelembaban udara serta intensitas cahayanya. Poin yang kami amati yaitu pada kawasan yang berjarak dekat dengan pantai. Terdapat pertanaman diantaranya tanaman tahunan dan semusim, tanaman tahunan diantarnya yaitu pohon mahoni (Swietenia macrophylla ) sebagai border dan kelapa (Cocos nucifera L) sebagai tanaman border suatu petakan lahan. Tanaman utama yang dibudidayakan yaitu tanaman padi dan kacang panjang. Sistem pertanaman yang digunakan petani yaitu sistem pertanaman monokultur dengan tanaman budidaya padi dan pola tanam tumpang sari kacang panjang dan padi. Pengukuran faktor lingkungan yaitu kondisi wilayah bersuhu 250C, Intensitas Cahaya Mendung, dengan intensitas 329 331 lux dengan tipe B dan Kelembaban Lahan 91% dan pHnya sekitar 5 - 6,5. pH tanah yang didapat dari hasil pengukuran sangat rendah, mungkin karena kami melakukan pengamatan di daerah dataran rendah. Menurut kartasapoetra (1993), pada daerah dengan curah hujuan yang tinggi, air hujan yang menimpa tanah akan memberikan dua afek yaitu menghanyutkan bahan organic atau meresapkan bahan organic kedalam tanah. Sehingga pH tanah

pada lokasi atas lebih besar jarena bahan organic tercuci ke areal yang lebih rendah yang mengakibatkan akumulasi bahan organic di lokasi yang lebih rendah. Peristiwa itu pula yang menyebabkan warna tanah pada daerah bawah sedikit lebih gelap dibandingkan warna tanah pada daerah atas, karena selain bahan organic mempengaruhi pH tanah, juga mempengaryuhi warna tanah. Semakin tinggi kandungan bahan organic tanah, maka warna tanah akan semakin gelap (Hardjowigeno, 1999). Beberapa hal yang perlu dilakukan sebelum melaksanakan usaha budidaya adalah memperhatikan kondisi lingkungan sektar baik secara sosial maupun keadaan lingkungan yang secara langsung berpengaruh. Ada beberapa alternative yang dapat ditrerapkan pada aspek budidaya yaitu pertama menentukan jenis tanaman yang cocok pada suatu iklim pada lingkungan tersebut, atau kedua menentukan lingkungan yang cocok sebagai tempat hidup tanaman. Akan tetapi pilihan pertama banyak dilakukan karena secara teknis mudah dilakukan serta tidak memerlukan banyak biaya terutama biaya pencarian lahan yang tepat untuk tanaman budidaya tersebut. Iklim adalah salah satu faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas dan dapat mengoptimalisasi penggunaan sumberdaya dalam sistem produksi

(Koesmaryono et al. 1997). Pada pertumbuhan tanaman hampir semua unsur iklim sangat mempengaruhinya, sedangkan faktor yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman adalah suhu udara dan panjang hari

(Handoko 1994). Produk fotosintesis bruto sangat ditentukan oleh radiasi, sedangkan suhu udara dan radiasi inframerah sangat menentukan laju respirasi. Setelah pengamatan sebaran vegetasi dan aspek budidaya dilakukan, selanjutnya data yang diperoleh dibuat dalam sebuah gambar irisan muka bumi berdasarkan topografi yang menceritakan tentang keadaan vegetasi yang tersebar dan berbagai aspek budidaya dengan menggabungkan data yang berasal dari daerah bawah sampai daerah atas. Dari hasil tersebut dapat dilihat berbagai macam vegetasi yang berbeda tiap daerah berdasarkan letak topografi dengan aspek budidaya dan faktor lingkungan yang berbeda pula. Hasil pengamatan transek dari semua titik memperoleh hasil bahwa di kawasan pantai Widarapayung sistem pertanaman yang digunakan adalah sistem pertanaman monokultur dan campuran dan ditanami tanaman semusim dan tahunan. Tanaman semusim yang digunakan yaitu tanaman padi, singkong, kacang panjang, pisang, dan talas. Sedangkan pada tanaman tahunan yaitu tanaman mahoni, kelapa, bamboo, dan albasia.

VI.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang didapatkan dari hasil praktikum antara lain yaitu : 1. Praktikum traksek ini bertujuan untuk menganalisis distribusi dan jenis tanaman yang dibudidayakan berdasarkan tingkat ketinggian tempat yang berbeda serta pengamatan berbagai macam parameter. Parameter yang digunakan mencakup aspek topografi wilayah, pola budidaya, keadaan cuaca serta keadaan tanah, dengan mengukur suhu tanah, kelembaban, pH dan intensitas cahayanya. 2. Berdasarkan data yang didapatkan untuk setiap bagian tempat dengan ketinggian yang berbeda dan jarak dari pantai terdapat vegetasi yang beraneka ragam dengan faktor lingkungan yang berbeda pula, baik dari aspek budidaya seperti pola tanam dan juga dari faktor lingkungannya. Dari hasil yang didapatkan setiap wilayah dekat dengan pantai, berjarak sedang dengan pantai maupun jauh dengan pantai suhu tanah, pH, kelembaban dan intensitas cahayanya berbeda-beda akibat pengaruh ketinggian tempat.

DAFTAR PUSTAKA

Fachrul, Melati Ferianita.2008.Metode Sampling Bioekologi.Bumi Aksara: Jakarta. Handoko. 1994. Klimatologi Dasar. Pustaka Jaya. Bogor. Hardjowigeno, Sarwono. dkk. 1999. Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tataguna Lahan. Fakultas Pertanian IPB. Bogor. Kartasapoetra, Anca Gunarsih. 1993. Klimatologi Pengaruh Iklim Terhadap Tanah dan Tanaman. Bumi Aksara: Jakarta Koesmaryono Y, Sugimoto H, Ito D, Sato T, and Haseba T. 1997. The influence of different climatic conditions on the yield of soybeans cultivated under different population densities. J. Agric. Meteorol. 52(5)717-720. Soerianegara , Ishemat dan Andri Indrawan . 1988 . Ekologi Hutan Indonesia . IPB : Bandung Syafei, E.S. 1994. Pengantar Ekologi Tumbuhan. FMIPA ITB: Bandung. Wisnubroto, S., Yogyakarta 1999. Meteorologi Pertanian Indonesia. Mitragana Widya:

LAMPIRAN

Gambar transek gabungan

Gambar transek masing masing titik pengamatan dari kelompok 11 19: