Anda di halaman 1dari 90

LAPORAN PRAKTIKUM PEMULIAAN TANAMAN TOLERAN LINGKUNGAN RAWAN

ACARA 1 CEKAMAN KEKERINGAN

Oleh: Nurul Purwaningsih A1L010109

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2013

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tanaman selalu membutuhkan air selama siklus hidupnya, mulai dari perkecambahan sampai panen. Air adalah komponen penting yang selalu berperan dalam setiap proses yang terjadi pada tanaman. Kebutuhan air pada tanaman dapat dipenuhi melalui tanah dengan jalan penyerapan oleh akar. Besarnya air yang diserap, oleh akar tanaman sangat tergantung pada kadar air dalam tanah ditentukan oleh pF ( Kemampuan partikel tanah memegang air), dan kemampuan akar untuk menyerapnya ( Jumin, 1992). Air seringkali membatasi pertumbuhan dan perkembangan tanaman budidaya. Respon tanaman terhadap kekurangan air itu relatif terhadap aktifitas metaboliknya, morfologinya, tingkat pertimbuhannya dan potensial hasil panennya ( Gardner, et. al. , 1991 ). Kekeringan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan hasil produksi suatu tanaman, karena air dalam hal ini sangat dibutuhkan oleh tanaman. Air memiliki peranan yang sangat penting bagi tanaman hal ini karena air merupakan penyusun utama dari protoplasma sel, sebagai bahan pelarut dan memberikan suatu media untuk pengangkutan. Air juga diperlukan dalam penyusunan senyawa baru, pemelihara tekanan turgor dan secara tidak langsung dapat memelihara suhu tanaman. Pertumbuhan akan menjadi tidak normal atau terganggu apabila tanaman tumbuh ditempat yang kelebihan atau kekurangan air.

Gangguan pertumbuhan tanaman sebagai akibat kelebihan dan kekurangan air berupa kelayuan tanaman (Gardner, 1991). Defisit air secara langsung dapat mempengaruhi pertumbuhan vegetatif tanaman. Proses ini pada sel tanaman ditentukan oleh tegangan turgor. Hilangnya turgiditas dapat menghentikan pertumbuhan sel (penggandaan dan pembesaran) yang akibatnya pertumbuhan tanaman terhambat ( Jumin, 1992 ).

B. Tujuan

1. Mengetahui respon dan perbedaan pertumbuhan tanaman dalam kondisi cekaman kekurangan air. 2. Mengetahui genotipe tanaman yang toleran terhadap cekaman kekurangan air.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Pada tanaman yang toleran terhadap cekaman kekeringan terjadi mekanisme mempertahankan turgor agar tetap di atas nol sehingga potensial air jaringan tetap rendah dibandingkan potensial air eksternal sehingga tidak terjadi plasmolisis (Jones and Turner, 1980). Kemampuan mengontrol terhadap transpirasi juga merupakan salah satu mekanisme ketahanan tanaman terhadap adanya cekaman kekeringan (Pitono et al., 2008). Selanjutnya dilaporkan pula bahwa ukuran daun yang kecil dan sukulen mengurangi laju kehilangan air melalui tanspirasi (Farooq et al., 2009). Kandungan prolin pada tanaman yang toleran terlihat meningkat akumulasinya dibandingkan tanaman yang peka terhadap kekeringan (Yoshida et al., 1997). Oleh karenanya, kadar prolin bisa digunakan sebagai salah satu indikator sifat ketahanan terhadap cekaman kekeringan. Air adalah salah satu komponen fisik yang sangat vital dan dibutuhkan dalam jumlah besar untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Sebanyak 85-90 % dari bobot segar sel-sel dan jaringan tanaman tinggi adalah air (Maynard dan Orcott, 1987). Kehilangan air pada jaringan tanaman akan menurunkan turgor sel, meningkatkan konsentrasi makro molekul serta senyawa-senyawa dengan berat molekul rendah, mempengaruhi membran sel dan potensi aktivitas kimia air dalam tanaman (Mubiyanto, 1997). Peran air yang sangat penting tersebut menimbulkan konsekuensi bahwa langsung atau tidak langsung kekurangan air

pada tanaman akan mempengaruhi semua proses metaboliknya sehingga dapat menurunkan pertumbuhan tanaman. Air yang tersedia dalam tanah adalah selisih antara air yang terdapat pada kapasitas lapang dan titik layu permanen. Diatas kapasitas lapang air akan meresap ke bawah atau menggenang, sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Di bawah titik layu permanen tanaman tidak mampu lagi menyerap air karena daya adhesi air dengan butir tanah terlalu kuat dibandingkan dengan daya serap tanaman. Cekaman kekeringan pada tanaman disebabkan oleh kekurangan suplai air di daerah perakaran dan permintaan air yang berlebihan oleh daun dalam kondisi laju evapotranspirasi melebihi laju absorbsi air oleh akar tanaman. Serapan air oleh akar tanaman dipengaruhi oleh laju transpirasi, sistem perakaran, dan ketersediaan air tanah (Lakitan, 1996). Respon tanaman yang mengalami cekaman kekeringan mencakup perubahan ditingkat seluler dan molekuler seperti perubahan pada pertumbuhan tanaman, volume sel menjadi lebih kecil, penurunan luas daun, daun menjadi tebal, adanya rambut pada daun, peningakatan ratio akar-tajuk, sensitivitas stomata, penurunan laju fotosintesis, perubahan metabolisme karbon dan nitrogen, perubahan produksi aktivitas enzim dan hormon, serta pe-rubahan ekspresi gen (Kramer, 1980; Pennypacker Pugnaire, Serrano dan Pardos, 1990; Mullet dan Whissit, 1996; Navari-Izzo dan Rascio, 1999; Pugnaire et al, 1999). Secara umum tanaman akan menunjukkan respon tertentu bila mengalami cekaman kekeringan. Respon tanaman terhadap stres air sangat ditentukan oleh tingkat stres yang dialami dan fase pertumbuhan tanaman saat mengalami

cekaman. Bila tanaman dihadapkan pada kondisi kering terdapat dua macam tanggapan yang dapat memperbaiki status air, yaitu (1) tanaman mengubah distribusi asimilat baru untuk mendukung pertumbuhan akar dengan

mengorbankan tajuk, sehingga dapat meningkatkan kapasitas akar menyerap air serta menghambat pemekaran daun untuk mengurangi transpirasi. (2) tanaman akan mengatur derajat pembukaan stomata untuk menghambat kehilangan air lewat transpirasi (Mansfield dan Atkinson, 1990). Terdapat perbedaan tingkat kadar ABA yang terbentuk antara tanaman yang toleran terhadap cekaman kekeringan dibanding dengan tanaman yang peka. Kadar ABA pada tanaman yang toleran lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman yang peka, sehingga ABA selalu dikaitkan dengan sifat toleran tanaman terhadap cekaman kekeringan (Kirkham, 1990; Olsen et al., 1992; Farran et al., 1996; Fernandez, Perry dan Flore, 1997; Carrier et al., 1997; Setiawan, 1998).

III. METODE PRAKTIKUM

A. Tempat dan Waktu Praktikum

Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi dan Screen House Universitas Jenderal Soedirman pada bulan Mei 2013.

B. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah benih kedelai, benih jagung, benih kacang hijau, benih cabai, benih buncis, dan medium tanam tanah. Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah polybag, alat penyiram, oven, tali rafia, kertas label, amplop kertas, plastik, alat tulis, timbangan analitik, penggaris panjang.

C. Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah. Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga kali ulangan.

D. Variabel Pengamatan

Variabel yang diamati dalam praktikum adalah tinggi tanaman, panjang akar tanaman, bobot kering tanaman, bobot kering tajuk, bobot kering akar.

E. Prosedur Kerja

1. Disiapkan semua bahan dan alat yang akan digunakan. 2. Disiapkan tanah sebagai media tanam, dimasukkan ke dalam polybag yang telah dibuat lubang. Disiram dengan air hingga kapasitas lapang, lalu polybag yang telah berisi tanah dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama sebagai kontrol (K0), dan kelompok kedua sebagai perlakuan kekeringan (K1). 3. Dipilih benih yang baik dan bernas untuk ditanam. Masing-masing polybag ditanam 3 benih. 4. Polybag diletakkan sesuai dengan perlakuan yang sudah ditentukan berdasarkan rancangan acak kelompok (RAK), dan diulang sebanyak 3 kali. 5. Dilakukan pemeliharaan seperti biasa, yaitu pemberian air hingga kapasitas lapang pada kontrol. 6. Dilakukan pemberian perlakuan cekaman kekeringan saat tanaman berumur 7 hari dan 21 hari yaitu dengan cara menyiram tanaman kpasitas lapang. 7. Diamati pertumbuhan tanaman hingga akhir praktikum yang meliputi tinggi tanaman, dan panjang akar terpanjang. 8. Tanaman dioven hingga kering kemudian diukur bobot kering tanaman, bobot kering tajuk, bobot kering akar dan rasio akar/tajuk.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Terlampir

B. Pembahasan

Tumbuhan merespon kekurangan air dengan mengurangi laju transpirasi untuk penghematan air. Terjadinya kekurangan air pada daun akan menyebabkan sel-sel penjaga kehilangan turgornya. Suatu mekanisme control tunggal yang memperlambat transpirasi dengan cara menutup stomata. Kekurangan air juga merangsang peningkatan sintesis dan pembebasan asam absisat dari sel-sel mesofil daun. Hormon ini membantu mempertahankan stomata tetap tertutup dengan cara bekerja pada membrane sel penjaga. Daun juga berespon terhadap kekurangan air dengan cara lain. Karena pembesaran sel adalah suatu proses yang tergantung pada turgor, maka kekurangan air akan menghambat pertumbuhan daun muda. Respon ini meminimumkan kehilangan air melalui transpirasi dengan cara memperlambat peningkatan luas permukaan daun. Ketika daun dari kebanyakan rumput dan kebanyakan tumbuhan lain layu akibat kekurangan air, mereka akan menggulung menjadi suatu bentuk yang dapat mengurangi transpirasi dengan cara memaparkan sedikit saja permukaan daun ke matahari (Campbell, 2003).

Respon tanaman

yang mengalami cekaman kekeringan mencakup

perubahan di tingkat seluler dan molekuler seperti perubahan pada pertumbuhan tanaman, volume sel menjadi lebih kecil, penurunan luas daun, daun menjadi tebal, adanya rambut pada daun, peningakatan ratio akar/tajuk, sensitivitas stomata, penurunan laju fotosintesis, perubahan metabolisme karbon dan nitrogen, perubahan produksi aktivitas enzim dan hormon, serta perubahan ekspresi gen. Respon tanaman terhadap stres air sangat ditentukan oleh tingkat stres yang dialami dan fase pertumbuhan tanaman saat mengalami cekaman. Bila tanaman dihadapkan pada kondisi kering terdapat dua macam tanggapan yang dapat memperbaiki status air, yaitu: a) tanaman mengubah distribusi asimilat baru untuk mendukung pertumbuhan akar dengan mengorbankan tajuk, sehingga dapat meningkatkan kapasitas akar menyerap air serta menghambat pemekaran daun untuk mengurangi transpirasi; b) tanaman akan mengatur derajat pembukaan stomata untuk menghambat kehilangan air lewat transpirasi (Gardner, et al. 1991) Kehilangan air pada jaringan tanaman akan menurunkan turgor sel, meningkatkan konsentrasi makro molekul serta senyawa-senyawa dengan berat molekul rendah, mempengaruhi membran sel dan potensi aktivitas kimia air dalam tanaman (Mubiyanto, 1997). Peran air yang sangat penting tersebut menimbulkan konsekuensi bahwa langsung atau tidak langsung kekurangan air pada tanaman akan mempengaruhi semua proses metaboliknya sehingga dapat menurunkan pertumbuhan tanaman.

10

Menurut Maynard and Orcott. (1987), bergantung responnya terhadap kekeringan, tanaman dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu tanaman yang menghindari kekeringan (drought avoiders) dan tanaman yang mentoleransi kekeringan (drought tolerators). Tanaman yang menghindari kekeringan membatasi aktivitasnya pada periode air tersedia atau akuisisi air maksimum antara lain dengan meningkatkan jumlah akar dan modifikasi struktur dan posisi daun. Tanaman yang mentoleransi kekeringan mencakup penundaan dehidrasi atau mentoleransi dehidrasi. Penundaan dehidrasi mencakup peningkatan sensitivitas stomata dan perbedaan jalur fotosintesis, sedangkan toleransi dehidrasi mencakup penyesuaian osmotik. Menurut (Gardner, et al. 1991), cekaman kekeringan pada tumbuhan dapat disebabkan oleh 2 (dua) faktor, yaitu kekurangan suplai air di daerah perakaran atau laju kehilangan air (evapotranspirasi) lebih besar dari absorbsi air meskipun kadar air tanahnya cukup. Namun, cekaman air dapat saja terjadi dalam kondisi air yang berlebihan sehingga dapat merugikan tumbuhan. (Gardner, et al. 1991) mengklasifikasikan, bahwa respon tumbuhan terhadap cekaman kekeringan dalam menit terjadi penyusustan seketika laju pemanjangan daun dan akar, dalam jam laju pemanjangan kembali normal tapi lebih rendah, dalam hari laju mekarnya daun berkurang, dalam minggu jumlah pucuk lateral berkurang, dalam bulan mengubah saat pembungaan dan penyusutan produksi biji. Dan ketika air dalam kondisi berlebihan, sel akan mengalami turgor berlebihan yang pada akhirnya akan menyebabkan sel pecah dan organ tumbuhan menjadi rusak/mati.

11

Contoh karakter adaptasi terhadap kekeringan antara lain indeks panen lebih tinggi, umur berbunga lebih awal, periode pengisian biji lebih pendek, warna daun hijau gelap pada awal vegetatif, warna daun hijau terang pada vegetatif aktif, tinggi tanaman lebih rendah pada musim kering, jumlah anakan banyak, efisien transpirasi lebih rendah, jumlah biji fertil lebih tinggi, indeks toleransi kekeringan lebih, dan lain-lain. Tanaman yang mengalami cekaman kekeringan akan memberikan respon yang berbeda dalam mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan melalui mekanisme pertahanan yang dimiliki oleh tanaman itu sendiri. Menurut Gardner et al. (1991) mekanisme ketahanan tanaman terhadap cekaman kekeringan adalah: 1) Penghindaran terhadap defisit air yang meliputi: a. Memperpendek siklus pertumbuhan dan memperpanjang dorman. b. Membentuk daun dengan ukuran lebih kecil, penutupan stomata, dan penyerapan radiasi matahari yang terbatas. c. Memperpanjang dan menebalkan akar. 2) Toleran terhadap defisit air yaitu dengan cara memelihara tekanan turgor dan mengaktifkan larutan-larutan pelindung untuk aktivasi enzim-enzim yang toleran kekeringan. 3) Mekanisme efisiensi yaitu penggunaan air yang tersedia secara efisien dan memaksimalkan indeks panen. Secara umum tanaman akan menunjukkan respon tertentu bila mengalami cekaman kekeringan. Apabila tanaman kehilangan lebih dari

12

separoh air jaringannya dapat dikatakan bahwa tanaman mengalami kekeringan. Praktikum yang dilakukan kali ini adalah untuk menguji ketahanan suatu tanaman terhadap cekaman kekeringan. Kondisi kekeringan dilakukan dengan menyiram tanaman hanya setengah kapasitas lapang setiap satu minggu sekali. Komoditas tanaman yang diuji yaitu tanaman padi dan pengamatan dilakukan setiap satu minggu sekali. Variabel yang diamatai adalah tinggi tanaman, bobot kering akar dan bobot kering tajuk. Berdasarkan hasil pengukuran tinggi tanaman, bobot kering akar, panjang akar terpanjang, bobot kering tajuk, dan bobot kering yang disajikan pada grafik diatas terlihat bahwa pada grafik setiap variabel pertumbuhan, terjadi variasi pengaruh perlakuan kekeringan terhadap

pertumbuhan tanaman. Selain itu secara fisik tanaman yang tercekam keringan pertumbuhannya terhambat,daunnya mengering dan mati. Berdasarkan hasil analisis data terlihat bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tinggi tanaman padi. Hasil analisis data tinggi tanaman pada perlakuan normal menunjukan bahwa semua varietas berbeda nyata. Sedangkan hasil analisis dari data tanaman padi menunjukan ketiga varietas yang diuji tidak tahan terhadap cekaman kekeringan. Hasil analisis data tentang bobot akar tanaman pada perlakuan cekaman menunjukan bahwa semua varietas tidak berbeda nyata. Respon tanaman terhadap stres air sangat ditentukan oleh tingkat stres yang dialami dan fase pertumbuhan tanaman saat mengalami cekaman. Respon tanaman yang mengalami cekaman kekeringan mencakup perubahan ditingkat

13

seluler dan molekuler seperti perubahan pada pertumbuhan tanaman, volume sel menjadi lebih kecil, penurunan luas daun, daun menjadi tebal, adanya rambut pada daun, peningakatan ratio akar-tajuk, sensitivitas stomata, penurunan laju fotosintesis, perubahan metabolisme karbon dan nitrogen, perubahan produksi aktivitas enzim dan hormon, serta perubahan ekspresi (Sinaga, 2008). Kedalaman perakaran sangat berpengaruh terhadap jumlah air yang diserap. Pada umumnya tanaman dengan pengairan yang baik mempunyai sistem perakaran yang lebih panjang daripada tanaman yang tumbuh pada tempat yang kering. Rendahnya kadar air tanah akan menurunkan perpanjangan akar, kedalaman penetrasi dan diameter akar (Haryati, 2006). Hasil penelitian Nour dan Weibel tahun 1978 menunjukkan bahwa kultivarkultivar sorghum yang lebih tahan terhadap kekeringan, mempunyai perkaran yang lebih banyak, volume akar lebih besar dan nisbah akar tajuk lebih tinggi daripada lini-lini yang rentan kekeringan (Goldsworthy and Fisher, 1992.). Senyawa biokimia yang dihasilkan tanaman sebagai respon terhadap kekeringan dan berperan dalam penyesuaian osmotik bervariasi, antara lain gulagula, asam amino, dan senyawa terlarut yang kompatibel. Senyawa osmotik yang banyak dipelajari pada toleransi tanaman terhadap kekeringan antara lain prolin, asam absisik, protein dehidrin, total gula, pati, sorbitol, vitamin C, asam organik, aspargin, glisin-betain, serta superoksida dismutase dan K+ yang bertujuan untuk menurunkan potensial osmotik sel tanpa membatasi fungsi enzim (Sinaga, 2008).

14

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Kekeringan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, baik secara morfologi maupun fisiologi. 2. Setiap variabel pertumbuhan, terjadi variasi pengaruh perlakuan kekeringan terhadap pertumbuhan tanaman. 3. hasil analisis data terlihat bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tinggi tanaman padi. Hasil analisis data tinggi tanaman pada perlakuan normal menunjukan bahwa semua varietas berbeda nyata. Sedangkan hasil analisis dari data tanaman padi menunjukan ketiga varietas yang diuji tidak tahan terhadap cekaman kekeringan. Hasil analisis data

tentang bobot akar tanaman pada perlakuan cekaman menunjukan bahwa semua varietas tidak berbeda nyata.

B.

Saran

Sebaiknya praktikum dimulai pada saat awal perkuliahan sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan acara praktikum dapat selesai pada waktunya dan praktikum dilakukan dengan teliti agar data yang didapat tidak rancu dan analisisnya akan benar.

15

DAFTAR PUSTAKA

Campbell. 2003. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga. Gardner, F. P.,R.Brent pearce dan Goger L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanamanan Budidaya. Universitas Indonesia Press. Goldsworthy, P. R., and Fisher N. M. 1992. Fisiologi Budidaya Tanaman Tropik. Penterjemah Tohari. Gadjah Mada University Press. Haryati. 2008. Pengaruh Cekaman Air Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman http://library.usu.ac.id/download/fp/hslpertanian-haryati2.pdf. Diakses pada tanggal 5 Juni 2011. Jumin, H. B., 1992, Ekologi Tanaman suatu Pendekatan Fisiologi, Rajawali Press, Jakarta. Lestari, E.G. 2006. Hubungan antara kerapatan stomata dengan ketahanan kekeringan pada somaklon padi Gajah Mungkur, Towuti, dan IR 64. Jurnal Biodiversitas 7(1): 44-48. Maynard, G.H. and D.M. Orcott. 1987. The Physiology of Plants Under Stress. John Willey and Sons, Inc, New York. Mubiyanto, B.M. 1997. Tanggapan tanaman kopi terhadap cekaman air. Warta Puslit Kopi dan Kakao 13(2): 83-95. Noggle, G.R. and G.J. Fritz.1983. Introductory Plant Physiology. Prentice Hall, Inc, New Jersey. Sinaga. 2008. Peran Air Bagi Tanaman. http://puslit.mercubuana.ac.id/file/8 Artikel %20Sinaga.pdf. Diakses pada tanggal 5 Juni 2011.

16

LAPORAN PRAKTIKUM PEMULIAAN TANAMAN TOLERAN LINGKUNGAN RAWAN

ACARA II CEKAMAN GENANGAN

Oleh: Nurul Purwaningsih A1L010109

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2013

17

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Akhir akhir ini lahan sawah tersebut baru sebagian kecil yang dimanfaatkan, karena terdapat beberapa kendala, seperti kejenuhan air atau genangan yang dapat menimbulkan rendahnya produktivitas. Kelebihan air tersebut dapat terjadi karena periode yang panjang dari musim hujan dan curah hujan yang tinggi . Keadaan tersebut, juga disebabkan karena adanya lapisan kedap air pada kedalaman 15-20 cm di bawah permukaan. Genangan merupakan masalah utama di banyak daerah pertanian. Di Indonesia, kedelai umumnya diusahakan di lahan sawah setelah padi. Kondisi tanah yang tergenang (jenuh air) akibat air sisa penanaman padi atau air hujan sering menjadi salah satu penyebab rendahnya produktivitas kedelai di lahan sawah. Genangan atau kondisi jenuh air disebabkan oleh kandungan lengas tanah yang berada di atas kapasitas lapang (Purwanto, 2003). Genangan berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman karena tanaman memerlukan pertukaran gas yang cepat dengan lingkungannya dan ketersediaan air yang memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan evapotranspirasi. Menurut Linkemer dan Musgrave (1998), pada kedelai genangan dapat menurunkan hasil kedelai dari 2453 kg ha-1 menjadi 1550 kg ha-1 karena terjadi penurunan jumlah cabang produktif per tanaman, jumlah buku per tanaman, jumlah biji per tanaman, bobot biji, dan diketahui bahwa pada periode reproduktif lebih sensitif dibandingkan dengan periode vegetatif.

18

B. Tujuan

1. Mengetahui respon dan perubahan pertumbuhan tanaman dalam kondisi cekaman kelebihan air. 2. Mengetahui genotipe tanaman yang toleran terhadap kelebihan air.

19

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Kerusakan yang timbul akibat stres dapat dikelompokkan dalam 3 jenis kerusakan yaitu: a) Kerusakan stres langsung primer b) Kerusakan stres tak langsung primer c) Kerusakan stres sekunder (dapat terjadi juga stres tersier) (Sipayung, 2006). Genangan berpengaruh terhadap proses fisiologis dan biokimiawi antara lain respirasi, permeabilitas akar, penyerapan air dan hara, penyematan N. Genangan menyebabkan kematian akar di kedalaman tertentu dan hal ini akan memacu pembentukan akar adventif pada bagian di dekat permukaan tanah pada tanaman yang tahan genangan (Staff Lab Ilmu Tanaman, 2008). Dampak genangan: menurunkan pertukaran gas antara tanah dan udara yang mengakibatkan menurunnya ketersediaan O2 bagi akar, menghambat pasokan O2 bagi akar dan mikroorganisme (mendorong udara keluar dari pori tanah maupun menghambat laju difusi). Besarnya kerusakan tanaman sebagai dampak genangan tergantung pada fase pertumbuhan tanaman. Fase yang peka genangan fase perkecambahan, fase pembungaan, dan pengisian (Askari, 2007). Tanaman yang tergenang dalam waktu singkat akan mengalami kondisi hipoksia (kekurangan O2). Hipoksia biasanya terjadi jika hanya bagian akar tanaman yang tergenang (bagian tajuk tidak tergenang) atau tanaman tergenang dalam periode yang panjang tetapi akar berada dekat permukaan tanah. Jika tanaman tergenang seluruhnya, akar tanaman berada jauh di dalam permukaan

20

tanah dan mengalami penggenangan lebih panjang sehingga tanaman berada pada kondisi anoksia (keadaan lingkungan tanpa O2). Kondisi anoksia tercapai 68 jam setelah penggenangan, karena O2terdesak oleh air dan sisa O2 dimanfaatkan oleh mikroorganisme. Pada kondisi tergenang, kandungan O2 yang tersisa dalam tanah lebih cepat habis bila terdapat tanaman karena laju difusi O2 di tanah basah 10.000 kali lebih lambat dibandingkan dengan di udara (Amstrong 1979 dalam Dennis et al. 2000). Ada dua perubahan lingkungan yang terjadi saat rendaman, yaitu aerobik ke anaerobik dan sebaliknya dari anaerobik ke aerobik setelah air berkurang. Faktor kunci untuk adaptasi dari aerobik ke anaerobik adalah suplai energi. Asimilasi karbon selama terendam akan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti suplai CO2, radiasi matahari, kapasitas fotosintesis di bawah permukaan air yang dilemahkan oleh klorosis. Efisiensi penggunaan energi selama rendaman juga penting untuk adaptasi pada lingkungan anaerob (Kawano et al. 2008). Pengaruh penggenangan ditunjukkan oleh daun yang menguning,

pengguguran daun pada buku terbawah, kerdil, serta berkurangnya berat kering dan hasil tanaman (Scott, 1989). Kekurangan oksigen dalam tanah akibat genangan merupakan faktor pembatas pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Kekurangan oksigen menggeser metabolisme energi dari aerob menjadi anaerob sehingga berpengaruh kurang baik terhadap serapan nutrisi dan air. Akibatnya, tanaman menunjukkan gejala kelayuan walaupun tersedia banyak air (Sairam, 2009).

21

VanToai et al. (2001) membagi genangan berdasarkan kondisi pertanaman menjadi dua yaitu: 1. Kondisi jenuh air (waterlogging) di mana hanya akar tanaman yang tergenang air 2. Kondisi bagian tanaman sepenuhnya tergenang air (complete submergence). Oksigen merupakan syarat dalam respirasi tanaman, sehingga pada saat tanaman tergenang dan dalam kondisi anaerob, aktivitas glikolitik akan menghasilkan asam piruvat dari glukosa yang dikonversi menjadi etanol dan karbon dioksida (Riche 2004).

22

III.

METODE PRAKTIKUM

A. Tempat dan Waktu Praktikum

Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi dan Screen House Universitas Jenderal Soedirman pada bulan Mei 2013.

B. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah benih kedelai, benih jagung, benih kacang hijau, benih cabai, benih buncis, dan medium tanam tanah. Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah polybag, alat penyiram, oven, tali rafia, kertas label, amplop kertas, plastik, alat tulis, timbangan analitik, penggaris panjang.

C. Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan diulang tiga kali.

D. Variabel Pengamatan

Variabel yang diamati dalam praktikum adalah tinggi tanaman, panjang akar tanaman, bobot kering tanaman, bobot kering tajuk, bobot kering akar.

23

E. Prosedur Kerja

a. Disiapkan semua bahan dan alat yang akan digunakan. b. Disiapkan tanah sebagai media tanam, dimasukkan ke dalam polybag yang telah dibuat lubang. Disiram dengan air hingga kapasitas lapang, lalu polybag yang telah berisi tanah dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama sebagai kontrol (G0), dan kelompok kedua sebagai perlakuan kekeringan (G1). c. Dipilih benih yang baik dan bernas untuk ditanam. Masing-masing polybag ditanam 3 benih. d. Polybag diletakkan sesuai dengan perlakuan yang sudah ditentukan berdasarkan rancangan acak kelompok (RAK), dan diulang sebanyak 3 kali. e. Dilakukan pemeliharaan seperti biasa, yaitu pemberian air hingga kapasitas lapang pada kontrol. f. Dilakukan pemberian perlakuan cekaman genangan saat tanaman berumur 7 hari dan 21 hari yaitu dengan cara menggenangi tanaman kira-kira batas air setinggi 3 cm. g. Diamati pertumbuhan tanaman hingga akhir praktikum yang meliputi tinggi tanaman, dan panjang akar terpanjang. h. Tanaman dioven hingga kering kemudian diukur bobot kering tanaman, bobot kering tajuk, bobot kering akar dan rasio akar/tajuk.

24

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Terlampir

B. Pembahasan

Dampak genangan air adalah menurunkan pertukaran gas antara tanah dan udara yang mengakibatkan menurunnya ketersediaan O2 bagi akar, menghambat pasokan O2 bagi akar dan mikroorganisme (mendorong udara keluar dari pori tanah maupun menghambat laju difusi). Genangan berpengaruh terhadap proses fisiologis dan biokimiawi antara lain respirasi, permeabilitas akar, penyerapan air dan hara, penyematan N. Genangan menyebabkan kematian akar di kedalaman tertentu dan hal ini akan memacu pembentukan akar adventif pada bagian di dekat permukaan tanah pada tanaman yang tahan genangan. Kematian akar menjadi penyebab kekahatan N dan cekaman kekeringan fisiologis (Sinaga, 2008). Peran air yang sangat penting tersebut menimbulkan konsekuensi bahwa langsung atau tidak langsung kekurangan air pada tanaman akan mempengaruhi semua proses metaboliknya sehingga dapat menurunkan pertumbuhan tanaman (Sinaga, 2008). Efek kelebihan air atau banjir yang umum adalah kekurangan oksigen, sedangkan kekurangan air atau kekeringan akan mengakibatkan dehidrasi pada tanaman yang berpengaruh terhadap zona sel turgor yang selanjutnya dapat menghambat pertumbuhan tanaman (Fallah, 2006). Kebutuhan air bagi tanaman

25

dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain jenis tanaman dalam hubungannya dengan tipe dan perkembangannya, kadar air tanah dan kondisi cuaca. Menurut Noggle dan Frizt (1983), fungsi air bagi tanaman yaitu: a) Sebagai senyawa utama pembentuk protoplasma b) Sebagai senyawa pelarut bagi masuknya mineral-mineral dari larutan tanah ke tanaman dan sebagai pelarut mineralnutrisi yang akan diangkut dari satu bagian sel ke bagian sel yang lainnya c) Sebagai media terjadinya reaksi-reaksi metabolik d) Sebagai reaktan pada sejumlah siklus asam trikarboksilat e) Sebagai penghasil hidrogen pada proses fotosintesis f) Menjaga turdigitas sel dan berperan sebagai tenaga mekanik dalam pembesaran sel g) Mengatur mekanisme gerakan tanaman seperti membuka dan menutupnya stomata, membuka dan menutupnya bunga serta melipatnya daun-daun tanaman tertentu h) Berperan dalam perpanjangan sel i) Sebagai bahan metabolisme dan produk akhir respirasi Carbon , Oksigen dan Hidrogen merupakan bahan baku dalam pembentukan jaringan tubuh tanaman, berada dalam bentuk H2O (air), H2CO3 ( asam karbonat) dan CO2 (gas karbondioksida). Karbon adalah unsur penting sebagai pembangun bahan organik, karena sebagian besar bahan kering tanaman terdiri dari bahan organik. Unsur Karbon ( C ), ini diserap tanaman dalam bentuk gas CO2 yang selanjutnya digunakan dalam proses yang sangat penting yaitu fotosintesis.

26

Faktor air dalam fisiologi tanaman merupakan faktor utama yang sangat penting. Tanaman tidak akan dapat hidup tanpa air, karena air adalah matrik dari kehidupan, bahkan makhluk lain akan punah tanpa air. Kramer menjelaskan tentang betapa pentingnya air bagi tumbuh-tumbuhan; yakni air merupakan bagian dari protoplasma (85-90%) dari berat keseluruhan bahagian hijau tumbuhtumbuhan (jaringan yang sedang tumbuh) adalah air. Selanjutnya dikatakan bahwa air merupakan reagen yang penting dalam proses-proses fotosintesa dan dalam proses-proses hidrolik. Disamping itu juga merupakan pelarut dari garam-garam, gas-gas dan material-material yang bergerak kedalam tumbuh tumbuhan, melalui dinding sel dan jaringan esensial untuk menjamin adanya turgiditas, pertumbuhan sel, stabilitas bentuk daun, proses membuka dan menutupnya stomata, kelangsungan gerak struktur tumbuhtumbuhan. Praktikum yang dilakukan kali ini adalah untuk menguji ketahanan suatu tanaman terhadap cekaman genangan (kelebihan air). Dilakukan pemberian perlakuan cekaman genangan saat tanaman berumur 7 hari dan 21 hari yaitu dengan cara menggenangi tanaman kira-kira batas air setinggi 3 cm. Komoditas tanaman yang diuji adalah tanaman kedelai dan pengamatan dilakukan setiap satu minggu sekali. Variabel yang diamatai adalah tinggi tanaman, bobot kering akar dan bobot kering tajuk. Berdasarkan hasil pengukuran tinggi tanaman, bobot kering akar, panjang akar terpanjang, bobot kering tajuk, dan bobot kering yang disajikan pada grafik diatas terlihat bahwa pada grafik setiap variabel pertumbuhan, terjadi variasi pengaruh perlakuan kekeringan terhadap

27

pertumbuhan tanaman. Selain itu secara fisik tanaman yang tercekam genangan pertumbuhannya terhambat dan mengalami kelayuan. Berdasarkan hasil analisis data terlihat bahwa pada semua uji barlet lingkungan optimum dan lingkungan tercekam genangan semuanya bersifat homogen. Pada analisis tinggi tanaman diketahui V1 dan V3 memiliki tingkat toleransi lebih tinggi dibandingkan dengan V2. V1 dan V3 merupakan tanaman yang ketahanannya termasuk toleran, sedangkan V2 merupakan tanaman yang agak toleran terhadap kondisi lingkungan cekaman genangan. Lalu pada hasil analisis grafik panjang akar hasilnya V1 dan V3 memiliki tingkat toleransi lebih tinggi dibandingkan dengan V2. V1 dan V3 merupakan tanaman yang ketahanannya termasuk toleran, sedangkan V2 merupakan tanaman yang agak toleran terhadap kondisi lingkungan cekaman genangan. Sedangkan pada analisis bobot akar didapat hasil V3 memiliki tingkat toleransi lebih tinggi dibandingkan dengan V1 dan V2 . V3 merupakan tanaman yang ketahanannya termasuk toleran, sedangkan V1 dan V2 merupakan tanaman yang agak toleran terhadap kondisi lingkungan cekaman genangan. Dan pada analisis bobot tajuk hasilnya V2 dan V3 memiliki tingkat toleransi lebih tinggi dibandingkan dengan V1. V2 dan V3 merupakan tanaman yang ketahanannya termasuk toleran, sedangkan V1 merupakan tanaman yang agak toleran terhadap kondisi lingkungan cekaman genangan. Sedangkan pada grafik bobot tanaman

diperoleh kesimpulan V3 memiliki tingkat toleransi lebih tinggi dibandingkan dengan V1 dan V2 . V3 merupakan tanaman yang ketahanannya termasuk toleran,

28

sedangkan V1 dan V2 merupakan tanaman yang agak toleran terhadap kondisi lingkungan cekaman genangan. Mengacu pada pendapat Kozlowski (1984), bahwa pertumbuhan tanaman memerlukan adanya pertukaran gas yang cepat dengan lingkungannya serta danya ketersediaan air yang memenuhi kebutuhan pertumbuhannya dan

evapotranspirasi. Pengaruh yang satu atau yang lainnya baa berlebih atau mengalami kekurangan menyebabkan terjadinya cekaman dan akibatnya produktivitas tanaman menurun atau bahkan terjadi kematian. Dalam keadaan tergenang, ruang pori tanah semuanya terisi oleh air sehingga pertu-karan gas antar akar, tanah, dm atmosfir terhambat yang mengakibatkan tanaman mengalami cekaman. Karakter aktivitas alkohol dehydrogenase (ADH) yang rendah pada varietas kedelai dalam kondisi tergenang menunjukkan bahwa varietas tersebut memiliki ketahanan (toleransi) terhadap genangan, sebab pada kondisi tergenang akan terjadi akumulasi ethanol sebagai hasil glikolisis dari acetaldehyde dengan bantuan enzim ADH mengakibatkan kematian sel pada akar tanaman. Ethanol diduga juga sebagai penyebab kerusakan pada bagian pupus tanaman dalam keadaan tergenang. Dengan demikian semakin tinggi aktivitas ADH pada kondisi tergenang, tanaman akan semakin rusak dan menunjukkan tanaman tersebut peka terhadap genangan. Identifikasi varietas kedelai toleran terhadap genangan. Apabila merujuk pada pendapat Gietl(1992), alkohol dehidrogenase(ADH) merupakan enzim yang berperan mempertahankan level ATP melahi respirasi anaerobik. Respirasi anaerobik merupakan suatu mekanisme yang dan lakukan sel

29

dalam memenuhi kebutuhan ATP pada saat tidak terdapat cukup oksigen. Hasil akhir adalah alkohol atau asam laktat dan CO2 dengan jumlah ATP setara dengan 21 kkal per molekul. Respirasi anaerobic tidak menghasilkan senyawa organic yang dapat menjadi substrat siklus Kreb's sehingga siklus Kreb's tidak dapat berlangsung. Apabila kondisi anaerob berlangsung lama sehingga terjadi kerusakan sel akar karena terdapat penumpukan alkohol atau asam laktat maka kerusakan tersebut akan mengganggu aktivitas metabolisme, sehingga

menghambat partumbuhan dan hasil tanaman. Respirasi an aerobik menghasilkan jumlah ATP yang lebih rendah dibandingkan dengan respirasi aerobik. Dengan demikian respirasi anaerobik merupakan upaya pemenuhan ATP dalam jangka pendek. Aktivitas malate dehydrogenase (MDH) berbeda dengan aktivitas ADH. MDH adalah enzim yang mengkatalisasi reaksi Oksaloasetat dan NADH membentuk malate dan NAD menurut persamaan reaksi : Oksaloasetat + NADH o Malate + NAD Dengan demikian semakin tinggi aktivitas MDH menunjukkan spesies tanaman toleran terhadap genangan. Hal ini sejalan dengan pendapat Chang et al. (2000), bahwa tanaman yang toleran memeiliki kemampuan menginduksi gembentukan protein anaerob dan memiliki alternatif jalur glykolisis dan fermentasi. Nilai stress tolerance index (STI) dihitung berdasarkan perkalian hasil genotipe kedelai pada kondisi tergenang dan kondisi normal dibandingkan dengan kuadrat hasil rata-rata genotipe kedelai pada kondisi normal, sehingga tinggi

30

rendahnya nilai STI &pengaruhi oleh tinggi rendahnya hasil pada kondisi tergenang (Femandez, 1992). Rendahnya hasil tanaman pada kondisi tergenang menunjukkan bahwa tanaman tersebut peka (intoleran) terhadap genangan, sebab genangan akan mempengaruhi fisika, kimia, dan biologi tanah. Genangan akan mengakibatkan peningkatan konsentrasi C02 menjadi lebih dari 50% karena genangan memutus suplai O2 ke tanah (pomamperunna, 1981). Dengan terputusnya suplai O2 ke tanah akan menurunkan potensial redoks dan menghambat proses dekomposisi bahan organ dan oleh microorganism aerob sehingga hanya te qadi dekomposisi anaerob (fermentasi) yang menghasilkan energi lebii rendah dari pada dekomposisi secara aerob.

31

V.

SIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1) Genangan berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman karena tanaman memerlukan adanya pertukaran gas yang cepat dengan

lingkungannya dan adanya ketersediaan air yang memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan evapotranspirasi. 2) Genangan dapat menurunkan pertukaran gas dalam tanah dan di udara sehingga mengurangi ketersediaan O2 bagi akar dan menghambat pasokan O2 bagi akar dan mikroorganisme.

B. Saran

Seharusnya semua praktikan mengetahui bagaimana kegiatan yang dilakukan pada setiap acara praktikum, agar pada saat responsi dan mengerjakan laporan hasil praktikum, praktikan akan mengerti pada setiap acaranya.

32

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2003. Statistik Indonesia. Badan Pusat Statistik, Jakarta. Chang, W.W.P., L. Huang, M. Shen,, L. Webster, A. L. Burlingame, and J. K. M. Roberts. 2000. Pattern of protein synthesis and tolerance to anoxia in roots tips of maize seedling acclimated to a low oxygen environment and identification of proteins by mass spectrometry. Plant Physiol. 12(2): 295317. Fallah, Affan Fajar. 2006. Perspektif Pertanian dalam Lingkungan yang Terkontrol. http://io.ppi jepang.org. Diakses pada tanggal5 Juni 2011. Fernandez, G.C.J. 1992. Effective selection criteria for assessing plant stress tolerance.. In c.g. Kuo (ed.). Adaptation of food crops to temperature and water stress. Proc. Int. Symp. Asian Vegetable Research and Development Center, Taiwan. 257-270 pp. Gietl, C. 1992. Partitioning of malate dehydrogenase isoenzymes into glyoxysomes, mitochondria, and chloroplasts. Plant Phys. 100(1): 557-559. Kozlowski, T.T. 1984. Flooding and plant growth. Academic Press, Inc., Orlando, FL. Linkemer, G., and Musgrave. 1998. Waterlogging effect on growth and yield components in late planted soybean. Crop Sci. 38(6): 1576-1584. Maynard, G.H. and D.M. Orcott. 1987. The Physiology of Plants Under Stress. John Willey and Sons, Inc, New York. Noggle, G.R. and G.J. Fritz.1983. Introductory Plant Physiology. Prentice Hall, Inc, New Jersey. Pomamperunna, F.N. 1981. Some aspect of the physical chemistry of paddy soils. In Prossiding of Symphosium of Paddy Soils. Beijing. China. Purwanto. E. 2003. Photosynthesis activity of soybean (glycine max l.) Under drought stress. Agrosains 5(1):121-130. Sinaga. 2008. Peran Air Bagi Tanaman. http://puslit.mercubuana.ac.id/file/8 Artikel %20Sinaga.pdf. Diakses pada tanggal 5 Juni 2011.

33

LAPORAN PRAKTIKUM PEMULIAAN TANAMAN TOLERAN LINGKUNGAN RAWAN

ACARA III CEKAMAN SALINITAS

Oleh: Nurul Purwaningsih A1L010109

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2013

34

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lahan pertanian yang masih subur saat ini ketersediaanya semakin berkurang dan akan terus berkurang karena tidak diimbangi dengan pertumbuhan penduduk dan konsumsi yang terus meningkat. Pemanfaatan dialihkan pada

lahan-lahan marginal, salah satunya tanah salin. Salinitas tanah menyebabkan terjadinya kekeringan fisiologis pada tanaman sehingga menyebabkan kematian. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan guna didapatkan tanah yang cocok dengan tanaman. Stres (cekaman) biasanya didefinisikan sebagai faktor luar yang tidak menguntungkan yang berpengaruh buruk terhadap tanaman (Fallah, 2006). Campbell (2003), mendefinisikan cekaman sebagai kondisi lingkungan yang dapat memberi pengaruh buruk pada pertumbuhan, reproduksi, dan kelangsungan hidup tumbuhan. Menurut Hidayat (2002), pada umumnya cekaman lingkungan pada tumbuhan dikelompokkan menjadi dua, yaitu: (1) cekaman biotik, terdiri dari: (a) kompetisi intra spesies dan antar spesies, (b) infeksi oleh hama dan penyakit, dan (2) cekaman abiotik berupa: (a) suhu (tinggi dan rendah), (b) air (kelebihan dan kekurangan), (c) radiasi (ultraviolet, infra merah, dan radiasi mengionisasi), (d) kimiawi (garam, gas, dan pestisida), (e) angin, dan (f) suara. Stres garam terjadi dengan terdapatnya salinitas atau konsentrasi garamgaram terlarut yang berlebihan dalam tanaman. Stres garam ini umumnya terjadi dalam tanaman pada tanah salin. Stres garam meningkat dengan meningkatnya

35

konsentrasi garam hingga tingkat konsentrasi tertentu yang dapat mengakibatkan kematian tanaman. Garam-garam yang menimbulkan stres tanaman antara lain ialah NaCl, NaSO4, CaCl2, MgSO4, MgCl2 yang terlarut dalam air. Dalam larutan tanah, garam-garam ini mempengaruhi pH dan daya hantar listrik. Tanah salin memiliki pH < 8,5 dengan daya hantar listrik > 4 mmhos/cm. Pada kebanyakan spesies, pengaruh jenis-jenis garam umumnya tidak khas terhadap tumbuhan tanaman tetapi lebih tergantung pada konsentrasi total garam. Stres garam merupakan salah-satu dari antara enam bentuk stres tanaman yaitu stres suhu, stres air, stres radiasi, stres bahan kimia dan stres angin, tekanan, bunyi dan lainnya. Stres garam termasuk stres bahan kimia yang meliputi garam, ion-ion, gas, herbisida, insektisida dan lain sebagainya. (Harjadi dan Yahya, 1988).

B. Tujuan

1. Mengetahui respon dan perubahan pertumbuhan tanaman dalam kondisi cekaman garam. 2. Mengetahui genotipe tanaman yang toleran terhadap cekaman garam.

36

II. TINJAUAN PUSTAKA

Salinitas adalah sebuah proses dimana garam yang terlarut dalam air terakumulasi dalam tanah. Kelebihan garam dapat menghalangi pertumbuhan tanaman dengan cara menghalangi kemampuan tanaman untuk menyerap air. Salinitas dapat terjadi secara natural karena kondisi yang disebabkan oleh praktek pengolahan dan manajemen lahan pertanian salah satunya adalah praktek irigasi (Materechera, 2011). Proses yang mempengaruhi keseimbangan air tanah dapat meberikan efek pada pergerakan dan akumulasi kadar garam pada tanah. Proses-proses tersebut antara lain adalah proses hidrologi, iklim, irigasi, peresapan (drainage), karakter akar tanaman, dan praktek pertanian yang diterapkan. Proses salinisasi pada permukaan tanah terjadi jika pada kondisi yang bersamaan pada munculnya garam terlarut seperti sulfat, natrium, kalium yang terdapat pada tanah. Adanya kadar garam yang tinggi pada tanah memiliki efek yang mirip dengan kekeringan dimana membuat air tanah menjadi kurang tersedia untuk diambil oleh tanaman. Hanya beberapa tanaman saja yang mampu tumbuh pada tanah yang bersalinitas tinggi, sehingga salinisasi sering membatasi pilihan tumbuhan yang ditanam pada area tersebut. Salinisasi menurunkan derajat kualitas dari air tanah dan sumber air tanah seperti rawa. Salinitas selalu diasosiasikan dengan kadar NaCl dalam tanah. Adanya kadar salinitas terlarut pada tanah menyebabkan proses fotosintesis tanaman terganggu. Na+dan Cl- dapat menghambat fotosintesis dan asimilasi karbohidrat. Namun

37

demikian, gejala kerusakan akibat Cl- muncul lebih awal ketimbang Na+ (Mc Kersie dan Leshem, 1994). Garam (NaCl) mempunyai nilai osmosis yang tinggi. Kimball (1983), menyatakan bahwa osmosis adalah difusi air melalui selaput yang permeabel secara differensial dari satu konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Keadaan osmosis tinggi (mengandung garam) pada sel tumbuhan menyebabkan cekaman berupa plasmolisis (penyusutan) di dalam sel tumbuhan, kecenderungan untuk terjadinya plasmolisis merupakan perwujudan kisaran toleransi yang sempit. Menurut Adisyputra (2004), biji, telur, embrio termasuk kecambah mempunyai kisaran toleransi yang lebih sempit dibandingkan pada fase dewasa. Stres garam terjadi dengan terdapatnya salinitas atau konsentrasi garamgaram terlarut yang berlebihan dalam tanaman. Stres garam ini umumnya terjadi dalam tanaman pada tanah salin. Stres garam meningkat dengan meningkatnya konsentrasi garam hingga tingkat konsentrasi tertentu yang dapat mengakibatkan kematian tanaman. Garam-garam yang menimbulkan stres tanaman antara lain ialah NaCl, NaSO4, CaCl2, MgSO4, MgCl2 yang terlarut dalam air (Sipayung, 2006). Stres akibat kelebihan Na+ dapat mempengaruhi beberapa proses fisiologi dari mulai perkecambahan sampai pertumbuhan tanaman (Fallah, 2006). Salinitas tidak ditentukan oleh garam NaCl saja tetapi oleh berbagai jenis garam yang berpengaruh dan menimbulkan stres pada tanaman. Tanaman mengalami stres garam bila konsentrasi garam yang berlebih cukup tinggi sehingga menurunkan potensial air sebesar 0,05 0,1 Mpa. (Lewit, dalam Sipayung, 2006).

38

III. METODE PRAKTIKUM

A. Tempat dan Waktu Praktikum

Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi dan Screen House Universitas Jenderal Soedirman bulan Mei 2013.

B. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah benih kedelai, benih jagung, benih kacang hijau, benih cabai, benih buncis, medium tanam tanah dan garam NaCl. Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah polybag, alat penyiram, oven, aluminium foil,stirre, magnetic stirres, kertas label, amplop kertas, plastik, alat tulis, timbangan analitik, penggaris panjang.

C. Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan diulang tiga kali.

D. Variabel Pengamatan

Variabel yang diamati dalam praktikum adalah tinggi tanaman, panjang akar tanaman, bobot kering tanaman, bobot kering tajuk, bobot kering akar.

39

E. Prosedur Kerja

a. Disiapkan semua bahan dan alat yang akan digunakan. b. Disiapkan tanah sebagai media tanam, dimasukkan ke dalam polybag yang telah dibuat lubang. Disiram dengan air hingga kapasitas lapang, lalu polybag yang telah berisi tanah dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama sebagai kontrol (S0), dan kelompok kedua sebagai perlakuan kekeringan (S1). c. Dipilih benih yang baik dan bernas untuk ditanam. Masing-masing polybag ditanam 3 benih. d. Polybag diletakkan sesuai dengan perlakuan yang sudah ditentukan berdasarkan rancangan acak kelompok (RAK), dan diulang sebanyak 3 kali. e. Dilakukan pemeliharaan seperti biasa, yaitu pemberian air hingga kapasitas lapang pada kontrol. f. Dilakukan perlakuan dengan menyiapkan larutan garam NaCl. Garam NaCl dilarutkan dalam air dengan konsentrasi 0.6 DHL untuk tanaman jagung dan cabai. Serta 0.8 DHL untuk tanaman kedelai, kacang hijau, dan buncis. g. Dilaksanakan perlakuan dengan cara menyiram tanaman dengan larutan garam NaCl yang telah dibuat. Dilakukan penyiraman larutan garam NaCl saat tanam dan diulang setelah tanaman berumur 7 hari dan 21 jari setelah tanam. h. Diamati pertumbuhan tanaman hingga akhir praktikum yang meliputi tinggi tanaman, dan panjang akar terpanjang. i. Tanaman dioven hingga kering kemudian diukur bobot kering tanaman, bobot kering tajuk, bobot kering akar dan rasio akar/tajuk.

40

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Terlampir

B. Pembahasan

Selama masa pertumbuhannya, tanaman mengalami beberapa fase dan salinitas mempengaruhi fase-fase pertumbuhan tersebut. Respon tanaman terhadap salinitas selama masa pertumbuhannya tidak sama untuk semua varietas. Pada fase kecambah salinitas menyebabkan penurunan persentase kecambah dan penundaan proses perkecambahan. Salinitas adalah keadaan dengan kadar konsentrasi garam yang berlebihan, sehingga menekan pertumbuhan tanaman. Penekanan ini lebih disebabkan oleh konsentrasi total garam terlarut, bukan pengaruh garam tertentu. Macam garam hanya berpengaruh kecil terhadap pertumbuhan tanaman (Haryadi dan Yahya, 1988). Tanaman mempunyai toleransi yang berbeda-beda terhadap kadar garam di dalam tanah, dan berakibat spesifik pula untuk masing-masing spesies tanaman. Spesies-spesies tanaman yang hanya mentoleransi konsentrasi garam rendah termasuk dalam kelompok tanaman glikofita, dan spesies-spesies tanaman yang mentoleransi konsentrasi garam tinggi termasuk kelompok tanaman halofita. Mekanisme toleransi tanaman terhadap garam dapat dilihat dalam dua bentuk adaptasi yaitu dengan mekanisme morfologi (Bentuk adaptasi morfologi

41

dan anatomi yang dapat diturunkan dan unik dapat ditemukan pada halofita yang mengalami evolusi melalui seleksi alami pada kawasan pantai dan rawa-rawa asin.) dan mekanisme fisiologi (Osmoregulasi atau pengaturan potensial osmosis, kompartementasi dan sekresi garam dan Integritas Membran). Mekanisme toleransi yang paling jelas adalah dengan adaptasi morfologi (Sipayung, 2003). Tanah dikatakan salin apabila mengandung garam yang dapat larut dalam jumlah banyak sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman. Garam-garam tersebut adalah NaCl, Na2SO4, CaCO3, dan MgCO3.Tumbuhan umumnya melakukan osmoregulasi untuk mengatasi cekaman air pada lingkungan salin,. Osmoregulasi adalah upaya tumbuhan untuk menjaga turgor sel dengan mengakumulasi solut yang memiliki berat molekul rendah atau nilai osmotik tinggi (Heuer 1994). Praktikum yang dilakukan adalah untuk menguji ketahanan suatu tanaman terhadap cekaman salinitas. Komoditas tanaman yang diuji yaitu tanaman padi. Kondisi salinitas dilakukan dengan menyiram tanaman dengan larutan garam NaCl konsentrasi dengan konsentrasi tertentu. Pengamatan dilakukan setiap satu minggu sekali. Variabel yang diamatai adalah tinggi tanaman, bobot kering akar dan bobot kering tajuk. Berdasarkan hasil pengukuran tinggi tanaman, bobot kering akar, panjang akar terpanjang, bobot kering tajuk, dan bobot kering yang disajikan pada grafik diatas terlihat bahwa pada grafik setiap variabel pertumbuhan, terjadi variasi pengaruh perlakuan salinitas terhadap pertumbuhan tanaman.

42

Berdasarkan hasil analisis terlihat bahwa perlakuan garam ( penyiraman larutan garam) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil data pengamatan tinggi tanaman dan bobot basah tanaman. Sedangkan pada variabel lainya tidak signifikan sehingga tidak dilakukan uji lanjut. Tanah salin sangat menghambat pertumbuhan kedelai. Menurut Donahue et al (1983), penyiraman larutan garam dosis 0,2% sangat menekan dan mempengaruhi pertumbuhan kedelai. Tanaman yang tercekam salin akan mengalami hambatan pertumbuhan, karena konsentrasi garam yang berlebih bisa menyebabkan toksik. Salinitas akan berpengaruh pada fase vegetatif dan generatif, sehingga akan berdampak merusak hasil. Besarnya hambatan pertumbuhan tergantung pada varietas itu sendiri.

Tanaman yang mengalami stress garam umumnya tidak menunjukkan respon dalam bentuk kerusakan langsung tetapi pertumbuhan yang tertekan dan perubahan secara perlahan. Salinitas pada umumnya bersumber pada tanah dan air tanah. Salin atau tidaknya suatu tanah ataupun air diukur berdasarkan daya hantar listriknya yang tergantung pada kadar garam yang terlarut dalam air ataupun dalam larutan yang berhubungan dengan pertumbuhan tanaman. Gejala pertumbuhan tanaman pada tanah dengan tingkat salinitas yang cukup tinggi adalah pertumbuhan yang tidak normal seperti daun mengering di bagian ujung dan gejala khlorosis. Gejala ini timbul karena konsentrasi garam terlarut yang tinggi menyebabkan menurunnya potensial larutan tanah sehingga tanaman kekurangan air. Sifat fisik tanah berpengaruh terhadap bentuk struktur,

43

daya pegang air, dan permeabilitas tanah. Semakin tinggi konsentrasi NaCl pada tanah, semakin tinggi tekanan osmotik dan daya hantar listrik tanah. Kelebihan NaCl atau garam lain dapat mengancam tumbuhan karena dua alasan. Pertama, dengan cara menurunkan potensial air larutan tanah, garam dapat menyebabkan kekurangan air pada tumbuhan meskipun tanah tersebut mengandung banyak sekali air. Hal ini karena potensial air lingkungan yang lebih negatif dibandingkan dengan potensial air jaringan akar, sehingga air akan kehilangan air, bukan menyerapnya. Kedua, pada tanah bergaram, natrium dan ion-ion tertentu lainnya dapat menjadi racun bagi tumbuhan jika konsentrasinya relative tinggi. Membran sel akar yang selektif permeabel akan menghambat pengambilan sebagian besar ion yang berbahaya, akan tetapi hal ini akan memperburuk permasalahan pengambilan air dari tanah yang kaya akan zat terlarut (Campbell, 2003). Salinitas tidak ditentukan oleh garam Na Cl saja tetapi oleh berbagai jenis garam yang berpengaruh dan menimbulkan stres pada tanaman. Dalam konteks ini tanaman mengalami stres garam bila konsentrasi garam yang berlebih cukup tinggi sehingga menurunkan potensial air sebesar 0,05 0,1 Mpa. Stres garam ini berbeda dengan stres ion yang tidak begitu menekan potensial air (Sipayung, 2006). Stres garam terjadi dengan terdapatnya salinitas atau konsentrasi garamgaram terlarut yang berlebihan dalam tanaman. Stres garam ini umumnya terjadi dalam tanaman pada tanah salin. Stres garam meningkat dengan meningkatnya konsentrasi garam hingga tingkat konsentrasi tertentu yang dapat mengakibatkan

44

kematian tanaman. Garam-garam yang menimbulkan stres tanaman antara lain ialah NaCl, NaSO4, CaCl2, MgSO4, MgCl2 yang terlarut dalam air (Sipayung, 2006). Stres akibat kelebihan Na+ dapat mempengaruhi beberapa proses fisiologi dari mulai perkecambahan sampai pertumbuhan tanaman (Fallah, 2006). Tanaman yang tidak toleran salinitas menyebabkan pertumbuhan tanaman kerdil, daun pucat, penyerapan air dan unsur hara terhambat, akar membengkak, terjadi penebalan lapisan kutikula sehingga mengganggu proses fotosintesis. Jika salinitas terlalu tinggi maka dapat menyebakan keracunan bagi tanaman. Tanaman yang diberi perlakuan cekaman garam mengalami pertumbuhan terhambat dan terdapat benih tidak tumbuh, tanaman mengalami kelayuan dan lama kelamaan mati.

45

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1.

Konsentrasi garam-garam terlarut yang cukup tinggi dalam tanaman dan tanah salin akan menimbulkan stres garam dalam tanaman. Tingkat stres yang dialami tanaman adalah berbeda pada berbagai spesies dengan toleransi yang tidak sama terhadap konsentrasi garam yang berbeda.

2.

Tanaman yang mengalami cekaman salinitas ialah daun lebih sempit, lebih gelap, menurunkan nisbah tajuk dan akar, berkurangnya anakan,

memperpanjang dormansi kuncup samping, menunda dan menurunkan pembungaan serta jumlah dan ukuran buah lebih kecil. 3. hasil analisis terlihat bahwa perlakuan garam ( penyiraman larutan garam) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil data pengamatan tinggi tanaman dan bobot basah tanaman. Sedangkan pada variabel lainya tidak signifikan sehingga tidak dilakukan uji lanjut.

B. Saran

Praktikum sebaiknya dilakukan pada saat awal perkuliahan, sehingga pengamatan yang dilakukan praktikan akan lebih teliti dan praktikan punya banyak waktu untuk menganalisis data.

46

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, at al. 2003. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga. Donahue, R. L., R. W. Miler, J. C. Shicluna. 1983. Soil an Introductionto Soil and Plant Growth. 5rd Ed , Prentice-hall, inc. Englewood Cliffs, New jersey. Fallah, Affan Fajar. 2006. Perspektif Pertanian dalam Lingkungan yang Terkontrol. http://io.ppi jepang.org diakses pada tanggal 5 Juni 2011. Haryadi, S.S dan S. Yahya. 1988. Fisiologi Stres Lingkungan. Bogor: PAU Biotek IPB. Heuer, B. 1994. Osmoregulatory role of proline in water and salt stressed plant. In Pessarakli, M. (ed.). Handbook of Plant and Crop Stress. New York: Marcel Dekker, Inc. Hidayat. 2002. Cekaman Pada Tumbuhan. http://www.scribd.com/ document_downloads/13096496?extension=pdf&secret_password= diakses pada tanggal 5 Juni 2011. Sipayung, R. 2003. Stress Garam dan Mekanisme Toleransi Tanaman. Fakultas Pertanian, Jurusan Budidaya Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. http://www.library.usu.ac.id diakses tanggal 1 Juli 2011. Sipayung, Rosita. 2006. Cekaman Garam. http://www. library.usu.ac.id/download/ fp/bdp-rosita2.pdf Diakses pada tanggal 5 Juni 2011. Sunarto. 2001. Toleransi Kedelai terhadap Tanah Salin. Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

47

LAPORAN PRAKTIKUM PEMULIAAN TANAMAN TOLERAN LINGKUNGAN RAWAN

ACARA 1V CEKAMAN CAHAYA (INTENSITAS CAHAYA RENDAH)

Oleh: Nurul Purwaningsih A1L010109

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2013

48

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kondisi wilayah di Indonesia yang masih terdapat banyak wilayah hutan dapat dimanfaatkan oleh petani untuk melakukan budidaya agroforestri. Dengan demikian dapat menambah produksi dan menanggulangi penikangkatan konsumsi pangan masyarakat. Selain itu juga dapat dilakukan budidaya secara tumpangsari pada lahan lahan pertanian. Menurut Handayani (2003), cekaman naungan 50% menyebabkan hasil per hektar tanaman kedelai menurun 10-40%. Oleh karena itu, diperlukan genotipe atau varietas baru kedelai yang mampu beradaptasi dan berproduksi tinggi pada lingkungan tercekam naungan. Agar mampu beradaptasi pada lingkungan intensitas cahaya rendah, tanaman mengalami berbagai perubahan pada tingkat molekuler, biokimia, anatomi, morfologi, fisiologi, dan agronomi (Sopandie et al., 2001; Khumaida, 2002; Juraimi et al., 2004). Pada kebanyakan tanaman, kemampuan tanaman dalam mengatasi cekaman intensitas cahaya rendah tergantung kepada kemampuannya melanjutkan fotosintesis dalam kondisi kekurangan cahaya,sebagaimana dilaporkan beberapa peneliti sebelumnya. Hale dan Orcutt (1987) menjelaskan bahwa adaptasi tanaman terhadap intensitas cahaya rendah melalui dua cara, yaitu: (a)

peningkatan luas daun untuk mengurangi penggunaan metabolit, dan (b) mengurangi jumlah cahaya yang ditransmisikan dan yang direfleksikan.

49

Levitt (1980) menggolongkan adaptasi tanaman terhadap naungan melalui dua mekanisme: mekanisme penghindaran (avoidance) dan mekanisme toleransi (tolerance). Mekanisme penghindaran berkaitan dengan perubahan anatomi dan morfologi daun untuk memaksimalkan penangkapan cahaya dan fotosintesis yang efisien, seperti peningkatan luas daun dan kandungan klorofil b, serta penurunan tebal daun, rasio klorofil a/b, jumlah kutikula, lilin, bulu daun, dan pigmen antosianin. Walter et al. (1999) melaporkan, pengaturan jumlah klorofil b pada Arabidopsis terjadi melalui peningkatan jumlah kloroplas per sel dan/atau per satuan luas daun. Aklimatisasi kloroplas ini kadangkadang digolongkan shade tolerance. Mekanisme toleransi (tolerance) berkaitan dengan penurunan titik kompensasi cahaya serta respirasi yang efisien. Tanaman naungan ditandai dengan rendahnya titik kompensasi cahaya sehingga dapat mengakumulasi produk fotosintat pada tingkat cahaya yang rendah dibanding tanaman cahaya penuh (Levitt, 1980).

B. Tujuan

1. Mengetahui respon dan perubahan pertumbuhan tanaman dalam kondisi cekaman cahaya (intensitas cahaya rendah). 2. Mengetahui genotipe tanaman toleran terhadap kelebihan air.

50

II. TINJAUAN PUSTAKA

Adanya naungan kanopi dari tanaman yang lebih tinggi menyebabkan cahaya menjadi kendala utama atau faktor pembatas bagi pertumbuhan dan perkembangan kedelai. Penelitian aspek fisiologi seperti mekanisme adaptasi dan respon pertumbuhan dan perkembangan kedelai terhadap cekaman naungan sudah didokumentasikan dengan baik (Khumaida, 2002; Sopandie et al., 2006; Kisman et al., 2007; Muhuria, 2007). Hal yang belum banyak dilaporkan adalah respon tanaman kedelai terhadap cekaman naungan pada fase awal pertumbuhan. Khusus pada tahap awal pertumbuhan tanaman, cahaya merupakan faktor penting, karena selain berperan dominan pada proses fotosintesis, juga sebagai pengendali, pemicu dan modulator respon morfogenesis (McNellis dan Deng, 1995). Dalam mempelajari pola perkembangan awal suatu tanaman tingkat tinggi terhadap kondisi cahaya penuh (in light grown) dan tanpa cahaya (in dark grown), McNellis dan Deng (1995) menjadikan tanaman kedelai sebagai tanaman contoh selain Arabidopsis karena tanaman tersebut memiliki tingkat kepekaan yang tinggi terhadap cahaya, memiliki ciri morfologi yang mudah diamati pada tahap awal perkembangannya dan yang tak kalah pentingnya adalah karena tanaman kedelai termasuk tanaman yang tidak efisien dalam penggunaan cahaya. Berdasarkan ketergantungannya terhadap cahaya (light dependent), pola perkembangan suatu tanaman (tanaman tingkat tinggi) dapat digolongkan menjadi pola skotomorfogenesis dan fotomorfogenesis (Staub dan Deng, 1996; Sullivandan Gray, 1999). Pola skotomorfogenesis (etiolated) merupakan pola

51

perkembangan awal tanaman yang akibat tidak mendapatkan cahaya (indarkgrown) secara terus menerus selama perkecambahan, tanaman memiliki karakteristik: hipokotil panjang, apikal hook, kotiledon yang tertutup, kandungan klorofil rendah, dan tingkat ekspresi gen fotosintesis yang rendah. Hal ini karena terganggunya sistem kerja enzim NADPH protoklorifillide oksidoreduktase (POR), enzim yang sangat tergantung cahaya (light-dependent enzyme), yang mereduksi protoklorifillide menjadi klorofillide sehingga proses biosintesis klorofil menjadi terganggu (Holtorf,et al., 1995; Sundqvistdan Dahlin, 1997). Pola fotomorfogenesis (deetiolated) merupakan pola perkembangan awal tanaman yang selama perkecambahan mendapatkan cahaya penuh terus menerus (in lightgrown). Pola perkembangan ini dicirikan antara lain hipokotil yang pendek, tidak mempunyai apikal hook, kedua kotiledon membuka dan berkembang dengan baik, kandungan klorofil tinggi, dan tingkat ekspresi genfotosintesis yang tinggi. Pada kondisi gelap (tidak ada cahaya) fotosintesis tidak berlangsung, tetapi respirasi terus berlangsung. Peningkatan intensitas cahaya secara berangsurangsur, diikuti dengan peningkatan fotosintesis sampai pada batas terjadinya tingkat kompensasi cahaya. Kompensasi cahaya adalah kondisi penyinaran di mana jumlah CO2 yang digunakan pada proses fotosintesis sama dengan jumlah CO2 yang dikeluarkan pada proses respirasi. Setiap jenis tumbuhan berbeda responsnya terhadap tingkat intensitas cahaya (Anonim, 2009).

52

III. METODE PRAKTIKUM

A. Tempat dan Waktu Praktikum

Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi dan Screen House Universitas Jenderal Soedirman pada hari bulan Mei 2013.

B. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah benih kedelai, benih jagung, benih kacang hijau, benih cabai, benih buncis, dan medium tanam tanah. Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah polybag, alat penyiram, oven, tali rafia, kertas label, amplop kertas, plastik, alat tulis, timbangan analitik, penggaris panjang.

C. Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan diulang tiga kali.

D. Variabel Pengamatan

Variabel yang diamati dalam praktikum adalah tinggi tanaman, panjang akar tanaman, bobot kering tanaman, bobot kering tajuk, bobot kering akar.

53

E. Prosedur Kerja

a. Disiapkan semua bahan dan alat yang akan digunakan. b. Disiapkan tanah sebagai media tanam, dimasukkan ke dalam polybag yang telah dibuat lubang. Disiram dengan air hingga kapasitas lapang, lalu polybag yang telah berisi tanah dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama sebagai kontrol (N0), dan kelompok kedua sebagai perlakuan kekeringan (N1). c. Dipilih benih yang baik dan bernas untuk ditanam. Masing-masing polybag ditanam 3 benih. d. Polybag diletakkan sesuai dengan perlakuan yang sudah ditentukan berdasarkan rancangan acak kelompok (RAK), dan diulang sebanyak 3 kali. e. Dilakukan pemeliharaan seperti biasa, yaitu pemberian air hingga kapasitas lapang pada control dan juga perlakuan. f. Diletakkan tanaman yang sebagai control di luar dan yang diberi perlakuan diletakkan di bawah naungan sebesar 65%. g. Diukur intensitas cahaya tiap 3 hari sekali dengan menggunakan lux meter hingga akhir pengamatan. h. Dilakukan pengamatan tiap minggu dengan mengamati pertumbuhan tanaman pada masing-masing benih pada tiap perlakuan. i. Diamati pertumbuhan tanaman hingga akhir praktikum yang meliputi tinggi tanaman, dan panjang akar terpanjang. j. Tanaman dioven hingga kering kemudian diukur bobot kering tanaman, bobot kering tajuk, bobot kering akar dan rasio akar/tajuk.

54

55

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan Terlampir

B. Pembahasan

Cahaya dibutuhkan oleh tanaman mulai dari proses perkecambahan biji sampai tanaman dewasa. Respon tanaman terhadap cahaya berbeda-beda antara jenis satu dengan jenis lainnya. Ada tanaman yang tahan (mampu tumbuh ) dalam kondisi cahaya yang terbatas atau sering disebut tanaman toleran dan ada tanaman yang tidak mampu tumbuh dalam kondisi cahaya terbatas atau tanaman intoleran. Kedua kondisi cahaya tersebut memberikan respon yang berbeda-beda terhadap tanaman, baik secara anatomis maupun secara morfologis. Tanaman yang tahan dalam kondisi cahaya terbatas secara umum mempunyai ciri morfologis yaitu daun lebar dan tipis, sedangkan pada tanaman yang intoleran akan mempunyai ciri morfologis daun kecil dan tebal. Kedua kondisi tersebut akan dapat menjadi faktor penghambat pertumbuhan tanaman apabila pemilihan jenis tidak sesuai dengan kondisi lahan, artinya tanaman yang toleran ketika ditanam diareal yang cukup cahaya justru akan mengalami pertumbuhan yang kurang baik, begitu juga dengan tanaman intolean apabila di tanam pada areal yang kondisi cahaya terbatas pertumbuhan akan mengalami ketidak normalan. Dengan demikian pemilihan jenis berdasarkan pada sifat dasar tanaman akan menjadi kunci penentu dalam keberhasilan pembuatan tanaman.

56

Naungan

mengurangi

volume

kecepatan

aliran

permukaan

dan

meningkatkan air tersedia bagi tanaman, Naungan dapat menghindari fluktuasi temperatur yang tinggi dan kadar air tanah, Naungan dapat digunakan sebagai saranan konservasi tanah, karena meningkatkan jumlah pori penyedia air tanah (melalui pengaturan temperatur dan evaporasi), Besar kecilnya fotosintesis tergantung pada temperatur, suplai air, unsur-unsur hara, sifat morfologis tanaman. Puncak fotosintesis terkait dengan besarnya sinar dan temperatur, tanaman memerlukan intensitas cahaya relative rendah, Mengurangi IC di sekitar sebesar 30-40%, Mengurangi aliran udara disekitar tajuk, Kelembaban udara disekitar tajuk lebih stabil (60-70%), Mengurangi laju evapotranspirasi, Terjadi keseimbangan antara ketersediaan air dengan tingkat transpirasi tanaman (Staf Lab. Ilmu Tanaman, 2008). Khumaida (2002) dan Sopandie et al. (2003) melaporkan bahwa genotipe yang toleran naungan mempunyai daun yang lebih lebar dan tipis, kandungan klorofil b yang lebih tinggi dan rasio klorofil a/b yang lebih rendah dari pada genotipe peka. Perubahan karakter morfologi dan fisiologi daun tersebut merupakan bentuk mekanisme adaptasi tanaman terhadap cekaman naungan. Adaptasi tanaman terhadap intensitas cahaya rendah melalui dua cara, yaitu: (a) peningkatan luas daun untuk mengurangi penggunaan metabolit, dan (b) mengurangi jumlah cahaya yang ditransmisikan dan yang direfleksikan (Evans dan Poorter, 2001; Kim et al., 2005; Jufri, 2006; Muhuria, 2007). Levitt (1980) menggolongkan adaptasi tanaman terhadap naungan melalui dua mekanisme: mekanisme penghindaran (avoidance) dan mekanisme toleransi

57

(tolerance). Mekanisme penghindaran berkaitan dengan perubahan anatomi dan morfologi daun untuk memaksimalkan penangkapan cahaya dan fotosintesis yang efisien, seperti peningkatan luas daun dan kandungan klorofil b, serta penurunan tebal daun, rasio klorofil a/b, jumlah kutikula, lilin, bulu daun, dan pigmen antosianin. Mekanisme toleransi (tolerance) berkaitan dengan penurunan titik kompensasi cahaya serta respirasi yang efisien. Tanaman naungan ditandai dengan rendahnya titik kompensasi cahaya sehingga dapat mengakumulasi produk fotosintat pada tingkat cahaya yang rendah dibanding tanaman cahaya penuh. Hasil analisis yang didapat pada tinggi tanaman varietasnya berbeda sangat nyata yaitu varietas a. Untuk pengamatan pada data terakhir juga didapat hasil analisis yang sangat signifikan pada varietas, perlakuan dan Varietas x perlakuan. Analisis luas daun trifoliat juga berbeda nyata pada setiap varietasnya baik tanaman kedelai normal dan tanaman perlakuanya. Bobot total tanamn hasilnya juga signifikan tetapi bobot tajuknya tidak ada yang menunjukan hasil signifikan sehingga tidak dilakukan uji lanjut. Sedangkan pada analisis bobot akar

semuanya berbeda nyata dan semua hasil uji barletnya tidak nyata. Penampilan fenotip tanaman dalam cekaman cahaya rendah ialah terjadi etiolasi atau pemanjangan sel yang cepat, daun lebih tipis dan lebar, warna daun dan batang lebih terang (klorofil rendah), bobot kering daun lebih rendah, akar lebih sedikit dan rasio pucuk akar lebih tinggi. Analisis data tanaman terhadap cekaman intensitas cahaya rendah menggunakan analisis Nested atau Pola tersarang dimana penganalisisan lebih diutamakan pada inti atau detailnya.

58

59

IV.

SIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1.

Adaptasi tanaman terhadap naungan melalui dua mekanisme: mekanisme penghindaran (avoidance) dan mekanisme toleransi (tolerance).

2.

Tanaman dalam cekaman cahaya rendah ialah terjadi etiolasi atau pemanjangan sel yang cepat, daun lebih tipis dan lebar, warna daun dan batang lebih terang (klorofil rendah), bobot kering daun lebih rendah, akar lebih sedikit dan rasio pucuk akar lebih tinggi.

B. Saran

Saat pelaksanaan praktikum sebaiknya semua praktikan memperhatikan setiap perlakuan yang diberikan dan selalu melakukan pengamatan sesuai prosedur agar diperoleh data yang signifikan dan tidak terjadi error.

60

DAFTAR PUSTAKA

Asadi, B., D.M. Arsyad, H. Zahara, Darmijati. 1997. Pemuliaan kedelai untuk toleran naungan. Buletin Agrobio. 1:15-20. Chozin, M.A., D. Sopandie, S. Sastrosumajo, Sumarno. 1999. Physiology and Genetic of Upland Rice Adaptation to Shade. Final Report of Graduate Tem Research Grant, URGE Project. Directorate General of Higher Education, Ministry of Education and Culture. Evans, J.R., H. Poorter. 2001. Photosynthetic acclimation of plants to growth irradiance: The relative importance of specific leaf area and nitrogen partitioning in maximizing carbon gain. Plant Cell Environ. 24:755-767. Hale, M.G., D.M. Orcutt. 1987. The Physiology of Plants under Stress. John Wiley and Sons, New York. 206 hal. Handayani, T. 2003. Pola pewarisan sifat toleran terhadap intensitas cahaya rendah pada kedelai (Glycine max L. Merr) dengan penciri spesifik karakter anatomi, morfologi dan molekuler. Disertasi. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. 175h. Jufri, A. 2006. Mekanisme adaptasi kedelai terhadap cekaman intensitas cahaya rendah. Disertasi. Bogor. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. 167h. Juraimi, A.S., D.S.H. Drennan, N. Anuar. 2004. The effects of shading on the growth, development and partitioning of biomass in bermudagrass (Cynodon dactylon (L.) Pers). J Biol Sci. 4:756-762. Khumaida, N. 2002. Studies on adaptability of soybean and upland rice to shade stress. Dissertation. The University of Tokyo. Tokyo. 98 p. Lautt, B.S. 2003. Fisiologi toleransi padi gogo terhadap naungan: tinjauan karakteristik fotosintesis dan respirasi. Disertasi. Bogor. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. 109h. Levitt, J. 1980. Responses of Plants to Environmental Stress. 2nd Edition. New York : Academic Press. 606 hal.

61

Muhuria, L. 2007. Mekanisme fisiologi dan pewarisan sifat toleransi kedelai (Glycine max L. Merrill) terhadap intensitas cahaya rendah [disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. 163h. Sopandie, D., M.A. Chozin, S. Sastrosumarjo, T. Juhaeti, Sahardi. 2003b. Toleransi terhadap naungan pada padi gogo. Hayati. 10:71-75. Staf Lab. Ilmu Tanaman. 2008. Hubungan Cahaya dan Tanaman. http://faperta.ugm.ac.id/buper/download/ diakses tanggal 1 Juli 2011.

Sundari, T. et al. 2005. Keragaan Hasil dan Toleransi Genotipe Kacang Hijau terhadap Penaungan. http://www.agrisci.ugm.ac.id/vol12_1/2 diakses tanggal 1 Juli 2011. Soverda, N. 2002. Karakteristik fisiologi fotosintesis dan pewarisan sifat toleran naungan pada padi gogo. Disertasi. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Walter, R.G., J.J.M. Rogers, F. Shephard, P. Horton. 1999. Acclimation of Arabidopsis thaliana to the light environment: the role of photoreseptors. Planta. 209:517-527.

62

LAPORAN PRAKTIKUM PEMULIAAN TANAMAN TOLERAN LINGKUNGAN RAWAN

ACARA V CEKAMAN BIOTIK PENYAKIT KARAT DAUN KEDELAI

Oleh: Nurul Purwaningsih A1L010109

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2013

63

I.

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Kedelai merupakan komoditas strategis ketiga setelah padi dan jagung di Indonesia, karena setiap hari dikonsumsi oleh hampir sebagian masyarakat dengan tingkat konsumsi rata-rata 8,12 kg/kapita/tahun. Produksi kedelai di Indonesia sejak tahun 1995 cederung mengalami penurunan. Produksi kedelai tahun 2006 dan 2007 masing-masing mencapai 795.340 dan 782.530 ton, dan tahun 2009 diperkirakan turun menjadi 757.540 ton. Salah satu hambatan dalam peningkatan dan stabilisasi produksi kedelai di Indonesia adalah serangan penyakit karat daun yang disebabkan oleh cendawan Phakopsora pachyrhizi. Penyakit karat (P. pachyrhizi) merupakan penyakit utama pada tanaman kedelai di Indonesia di samping penyakit lain yaitu pustul bakteri yang disebabkan oleh Xanthomonas axonopodis, antraknose yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum dematium var truncatum. Penyakit tersebut dapat dikendalikan dengan memadukan berbagai teknik pengendalian, antara lain menaman varietas tahan, cendawan antagonis (Verticillium sp.), dan fungisida nabati (minyak cengkeh). B. Tujuan

1.

Mengetahui respon dan perubahan pertumbuhan tanaman dalam kondisi cekaman biotik (penyakit karat daun kedelai Phakopsora pachyrhizi).

2.

Mengetahui genotipe tanaman yang toleran terhadap penyakit karat daun.

64

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Salah satu hambatan dalam peningkatan dan stabilisasi produksi kedelai di Indonesia adalah serangan penyakit karat daun yang disebabkan oleh cendawan Phakopsora pachyrhizi. Penyakit karat telah tersebar luas di sentra produksi dedelai di dunia. Di Indonesia, penyakit karat terdapat di sentra produksi kedelai di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan dan Sulawesi (Semangun, 1991). Penyakit karat yang disebabkan jamur Phakopspora pachyrhizi merupakan penyakit penting pada kedelai. Penyakit karat dapat menurunkan hasil karena daun-daun yang terserang akan mengalami defoliasi lebih awal sehingga akan mengakibatkan berkurangnya berat biji dan jumlah polong yang bervariasi antara 10-90%, tergantung pada fase perkembangan tanaman, lingkungan dan varietas kedelai (Sinclair dan Hartman, 1999). Kehilangan hasil akibat penyakit karat di Indonesia mencapai 90% (Sudjono, 1979). Besarnya kehilangan hasil bergantung pada berbagai faktor antara lain ketahanan tanaman. Pada varietas Orba, kehilangan hasil dapat mencapai 36%, sedangkan pada varietas TK-5 sebesar 81% (Sumarno dan Sudjono, 1977). Gejala kerusakan tanaman akibat serangan penyakit karat kedelai adalah terdapatnya bintik-bintik kecil yang kemudian berubah menjadi bercak-bercak berwarna coklat pada bagian bawah daun, yaitu uredium penghasil uredospora. Serangan berat menyebabkan daun gugur dan polong hampa. Terjadi bercak-

65

bercak kecil berwarna cokelat kelabu atau bercak yang sedikit demi sedikit berubah menjadi cokelat atau coklat tua. Bercak karat terlihat sebelum bisul- bisul (pustule) pecah. Bercak tampak bersudut-sudut karena dibatasi oleh tulang-tulang daun tepatnya didekat daun yang terinfeksi. Biasanya dimulai dari daun bawah baru kemudian ke daun yang lebih muda. Cendawan P. pachyrhizi merupakan parasit obligat. Jika di lapangan tidak terdapat tanaman kedelai, spora hidup pada tanaman inang lain. Spora hanya bertahan 2 jam pada tanaman bukan inang. Spora tidak dapat bertahan pada kondisi kering, jaringan mati atau tanah. Jika tidak ada tanaman kedelai, gulma yang termasuk ke dalam famili Leguminosae dapat menjadi tanaman inang alternatif. Dari 27 jenis tanaman Leguminosae yang diuji, tujuh di antaranya menunjukkan reaksi hipersensitif sehingga infeksi pada tanaman tersebut tidak menghasilkan spora. Sudjono (1979) menyatakan bahwa dari 17 jenis tanaman kacang-kacangan selain kedelai yang diinokulasi secara buatan, tiga di antaranya menunjukkan gejala yang bersporulasi, yaitu kacang asu, kacang kratok, dan kacang panjang. Oleh karena itu, keberadaan tanaman tersebut perlu diwaspadai. Varietas yang toleran dapat terinfeksi patogen karat, tetapi masih dapat menghasilkan biji. Varietas dengan kategori agak tahan memiliki ketahanan terhadap penyakit karat yang berada antara tahan dan agak rentan. Apabila menanam varietas yang agak tahan, perlu dipadukan dengan cara pengendalian lain, misalnya dengan fungisida nabati (Sumartini. 2010).

66

III.

METODE PRAKTIKUM

A.

Tempat dan Waktu

Praktikum Pemuliaan Tanaman Toleran Lingkungan Rawan dilakukan di screen house Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman pada bulan Mei 2013.

B.

Alat dan bahan

Bahan yang digunakan adalah tiga genotipe kedelai, yaitu Slamet, Burangrang, Mitani dan inokulum Phakopsora pachyrhizi. Alat yang digunakan adalah hand sprayer, alat penyiram, tali rafia, kertas label, amplop kertas, plastik, alat tulis, timbangan analitik, penggaris panjang, gelas ukur, mortar, dan polibag.

C.

Rancangan Percobaan

Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Faktor yang dicoba adalah tiga genotipe kedelai dan perlakuan inokulasi Phakopsora pachyrhizi. Burangrang, dan Mitani. Genotipe kedelai yang digunakan yaitu Slamet, Perlakuan inokulasi yang diberikan adalah tanpa

inokulasi Phakopsora pachyrhizi/kontrol (P0) dan inokulasi Phakopsora pachyrhizi (P1). Jadi pada penelitian ini terdapat 6 kombinasi perlakuan yang diulang 3 kali. Setiap kombinasi perlakuan menggunakan 3 polibag. Percobaan dilakukan menggunakan polibag di rumah kaca. Total keseluruhan polibag yang digunakan adalah 6 x 3 x 3 = 54.

67

D.

Variabel Pengamatan

Variabel yang diamati adalah Tinggi tanaman (cm), Bobot basah tanaman (g), Masa inkubasi (HSI), Reaksi tanaman terhadap penyakit karat. Penilaian ketahanan tanaman terhadap penyakit karat daun dilakukan berdasarkan kriteria Cook (1972).

E.

Prosedur Kerja

1.

Persiapan Tanah sebagai media tanam disiapkan, dimasukkan dalam polibag yang telah dibuat lubang tanam. Siram dengan air hingga kapasitas lapang.

Polibag yang telah berisi tanah tadi dibagi 2 kelompok. Kelompok pertama sebagai kontrol (P0). Kelompok kedua adalah sebagai perlakuan cekaman penyakit karat daun (P1). Polibag diletakkan sesuai rancangan perlakuan yang telah ditentukan. 2. Penanaman Penanaman dilakukan dengan membuat lubang tanah di polibag. Lubang diisi dengan 3 biji. Setelah tumbuh dengan baik dipilih 2 tanaman terbaik untuk diamati. Setiap unit percobaan menggunakan 3 polibag. 3. Pemeliharaan dan penerapan perlakuan Pemeliharaan meliputi pemupukan dan penyiraman dan pemberantasan hama penyakit (jika terserang). Sebagai kontrol tanaman dalam polibag tidak diberi inokulum Phakopsora pachyrhizi dan sebagai perlakuan tanaman diberi inokulum Phakopsora pachyrhizi. Inokulasi dilakukan pada

68

14 hari setelah tanam. Inokulasi dilakukan dengan cara menghancurkan daun sumber inokulum Phakopsora pachyrhizi menggunakan mortar, kemudian dicampur dengan aquades dan disemprotkan menggunakan hand sprayer. Setelah inokulasi, setiap hari diamati gejala penyakit karat daun dan catat gejala pertama kali terlihat. 4. Pengamatan dan pengukuran Pengamatan dan pengukuran dilakukan pada saat yang bersesuaian dengan variabel yang diamati.

69

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.

Hasil Pengamatan

Terlampir

B.

Pembahasan

Penyebaran penyakit karat daun ini melalui spora yang diterbangkan oleh angin, melalui tanah, air dan tanaman inang. Patogen ini tidak dapat bertahan di dalam biji karena termasuk cendawan obligat dan tidak dapat ditularkan melalui benih. Akibat serangan cendawan ini proses fotosintesis terganggu karena daun tidak berfungsi sebagaimana fungsinya dapat menurunkan hasil produksi sebesar 20-80 %. Penurunan hasil bisa mencapai 100% bila varietas yang ditanam rentan terhadap karat daun dan dibudidayakan sewaktu musim hujan dalam keadaan cuaca yang lembab serta tanaman dalam kondisi tergenang (Khaerunisa, 2010). Sumber: Balitkabi 2007 Penyakit yang disebabkan oleh cendawan Phakopsora pachyrhizi berasal dari kelompok Basidiomycetes. Phakopsora pachyrizhy mempunyai uredium pada sisi bawah dan atas daun, coklat muda sampai coklat, bergaris tengah 100-200 m, sering tersebar merata memenuhi permukaan daun. Parafisa pangkalnya bersatu, membentuk penutup yang mirip dengan kubah diatas uredium. Parafisa membengkok dan berbentuk gada atau mempunyai ujung membengkak, hialin

70

atau berwarna jerami dengan ruang sel sempit. Ujungnya berukuran 7,5-15m dengan panjang 20-47m. Uredium bentuknya mirip dengan gunung api kecil yang dibentuk di bawah epidermis, jika dilihat dari atas berbentuk bulat atau jorong. Di pusat bagian uredium yang menonjol berbentuk lubang yang menjadi jalan keluarnya urediospora. Urediospora membulat pendek, bulat telur atau jorong, hialin sampai coklat kekuningan, dengan dinding tebal yang hialin dan berduri halus. Ketahanan berkaitan dengan kemampuan tanaman untuk mencegah, menghambat atau memperlambat perkembangan penyakit (Bell, 1982). Suatu ketahanan genetik mempunyai nilai yang lebih berarti dalam mengendalikan penyakit tanaman, bila ketahanan genetik tersebut mampu memberikan perlindungan yang baik dan menyeluruh dari kemungkinan kerusakan yang diakibatkan oleh penyakit (Baswarsiati, 1994). Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan terdapat perbedaan yang nyata pada tinggi tanaman perlakuan. Hasil analisis data tentang tinggi tanaman dengan perlakuan dengan karat daun menunjukan bahwa semua varietas berbeda nyata terhadap kondisi tercekam penyakit karat daun tanaman kedelai. Sedangkan pada tanaman kontrol hasilnya tidak signifika, karena semua varietas dan perlakuan tidak memberikan hasil yang berbeda nyata. Uji barlet dan analisis intensitas penyakit yang dilakukan pada acara praktikum ini juga tidak berbeda nyata lalu variabel inkubasi dan bobot tanaman juga mununjukan hasil yang tidak berbeda nyata sedangkan interaksi yang terjadi antara bobot tanaman tercekam dan

tanaman normal berbeda nyata pada varietasnya.

71

Fanani dkk. (1981), mengemukakan bahwa ketahanan kedelai terhadap penyakit karat berupa ketahanan morfologis yang disebabkan adanya bulubulu daun (trichoma) yang lebih rapat dan jaringan kutikula yang tebal sehingga sulit terinfeksi oleh patogen. Hasil pengamatannya menunjukkan bahwa tanamantanaman yang agak tahan daunnya lebih kaku dan warnanya lebih gelap sedangkan pada yang peka daunnya agak lemas dan warnanya lebih terang.

72

V.

SIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan

1. Ketahanan kedelai terhadap penyakit karat berupa ketahanan morfologis yang disebabkan adanya bulubulu daun (trichoma) yang lebih rapat dan jaringan kutikula yang tebal sehingga sulit terinfeksi oleh patogen. 2. Hasil pengamatannya menunjukkan bahwa tanaman- tanaman yang agak tahan daunnya lebih kaku dan warnanya lebih gelap sedangkan pada yang peka daunnya agak lemas dan warnanya lebih terang.

B.

Saran

Pada saat melakukuan praktikum dilakukan dengan sungguh-sungguh agar bisa diperoleh data yang benar dan bisa diketahui varietas mana yang tahan terhadap cekaman biotik penyakit karat daun kedelai.

73

DAFTAR PUSTAKA

Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. 2007. Panduan umum pengelolaan tanaman terpadu kedelai. Puslitbangtan. Balitbangtan. 54 hal. Khaerunisa, R. 2010. Karat Daun pada Kedelai. (Online).http://rizkihaerunisa1009.wordpress.com/2010/06/20/karat-daunpada-kedelai/ diakses 25 Mei 2012. Semangun H. 1991. Penyakit-penyakit tanaman pangan di Indonesia. Gadjah Mada University Poress, Yogyakarta. 449 hal. Sinclair, J.B. and G.L. Hartman. 1999. Soybean Rust. In G.L. Hartman, J.B. Sinclair, J.C. Rupe (Eds.) Compendium of Soybean Diseases (Fourth Edition). APS Press The American Phytopathological Society. p.25-26. Sudjono, M.S. 1979. Ekobiologi cendawan karat kedelai dan resistensi varietas kedelai. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. 60 hal. Sumarno dan S. Sudjono. 1977. Breeding for soybean rust resistance in Indonesia. P. 66-70. Report of Workshop on Rust of Soybean Problem and Research Needs. Manila. Sumartini. 2010. Penyakit karat pada kedelai dan cara pengendaliannya yang ramah lingkungan. Jurn Penel dan Pengemb Pert. Indonensian Agricultural Research and Development Journal: 29(3).

74

LAPORAN PRAKTIKUM PEMULIAAN TANAMAN TOLERAN LINGKUNGAN RAWAN

ACARA VI CEKAMAN BIOTIK PENYAKIT KRESEK

Oleh: Nurul Purwaningsih A1L010109

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2013

75

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tanaman padi (Oryza sativa L.) adalah salah satu tanaman pokok terpenting di dunia. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia (Anonim, 2012). Produksi padi dunia seringkali mengalami penurunan akibat serangan hama ataupun penyakit. Memperhatikan pentingnya faktor hama dan penyakit, maka pengendaliannya perlu diusahakan. Hal inipun telah menjadi perhatian nasional sehingga usaha pengendalian hama dan penyakit dimasukkan sebagai salah satu dari program panca usaha dalam budidaya padi. Empat usaha lainnya adalah penggunaan bibit ungul, pengairan yang baik, dan pemupukan yang seimbang. Salah satu syarat keberhasilan usaha pengendalian hama dan penyakit padi adalah identifikasi terhadap jasad penggagunya. Identifikasi ini selain di lakukan lansung pada jasad penggagunya , juga dapat di bantu dengan pengenalan terhadap gejala serangan yang ditimbulkan. Oleh karena itu uraian mengenai gejala serangan jasad pengganggu dalam makalah ini punya arti yang penting, khususnya bagi praktisi di lapang. Jika jasad penggagunya telah di ketahui, maka berdasarkan sifat-sifatnya cara pengendalian yang sesuai dapat diterapkan. Cara pengendalian hama dan penyakit padi

biasanya terdiri dari beberapa macam. Dalam pelaksanaannya sebaiknya cara-cara

76

itu jika saling menunjang atau memungkinkan dilakukan secara terpadu. Biasanya dari beberapa cara yang tersedia, yang hampir selalu dapat di sarankan adalah penanaman varietas yang tahan terhadap hama atau penyakit yang potensi di suatu daerah. Penyakit yang sering menyerang padi salah satunya yaitu penyakit kresek. Menurut para pakar hama dan penyakit tanaman, penyakit kresek ini bisa diantisipasi dengan budidaya tanaman secara sehat. Beberapa perlakuan yang dapat dilakukan antara lain adalah: 1. Menggunakan benih unggul dengan varietas tahan penyakit hawar daun bakteri 2. Jarak tanam yang tidak terlalu rapat sehingga mengurangi kelembaban lingkungan sekitar tanaman 3. Pengurangan penggunaan pupuk urea agar tanaman tidak sukulen sehingga batang dan daun menjadi lunak yang menjadikannya mudah terserang penyakit 4. Mengaplikasi tanaman padi dengan Corine bacterium. Telah diketahui bahwaCorine bakaterium adalah musuh utama dan pemangsa bakteri Xanthomonas oryzae sebagai penyebab hawar daun bakteri pada tanaman padi.

77

Sekali lagi hendaknya masalah pengendalian hama dan penyakit padi ini terus kita perhatikan agar swasembada beras nasional yang telah tercapai dapat dimantapkan (Sholikah, 2012).

B. Tujuan 1. Mengetahui respon dan perubahan pertumbuhan tanaman dalam kondisi cekaman biotic (penyakit kresek X. oryzae pv. Oryzae) 2. Mengetahui genotype tanaman yang toleran terhadap penyakit kresek

78

II. TINJAUAN PUSTAKA

Indonesia merupakan negara agraris, dimana sebagian besar penduduknya merupakan petani. Tanaman yang banyak dibudidayakan oleh petani di Indonesia adalah padi. Padi yang menghasilkan beras merupakan bahan pangan pokok sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, padi sebagai penghasil beras harus mendapat perhatian baik mengenai lahan, benih, cara budidaya maupun pasca panen. Banyak permasalahan yang dihadapi petani padi saat ini, diantaranya adalah : rendahnya harga gabah, langka dan mahalnya harga pupuk, perubahan cuaca yang mulai tidak bisa diprediksi yang menyebabkan petani sulit untuk menentukan masa tanam, serangan hama dan penyakit, dan lainlain. Salah satunya adalah adanya OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) baik berupa hama maupun penyakit. Penyakit yang sering menyerang tanaman padi diantaranya adalah hawar daun bakteri atau BLB (bacterial leaf blight) yang lebih populer dengan nama penyakit kresek. Banyak petani yang belum mengetahui bagaimana cara mengendalikan penyakit ini. Kebanyakan petani menganggap kresek sebagai penyakit yang disebabkan oleh jamur sehingga mereka mengendalikannya dengan fungisida. Bahkan ada yang lebih parah lagi menganggap penyakit ini berasal dari serangan hama sehingga mereka mengendalikannya dengan insektisida. Penyakit hawar daun bakteri merupakan penyakit yang tersebar luas di pertanaman padi sawah dan bisa menurunkan hasil sampai 36%. Penyakit ini pada umumnya terjadi pada

79

musim hujan atau lembab >75%, terutama pada lahan sawah yang selalu tergenang dengan pemupukan N yang tinggi. Di Indonesia, penyakit ini mula-mula ditemukan oleh Reitsma dan Schure pada tanaman muda di daerah Bogor dengan gejala layu. Penyakit ini dinamai kresek dan patogennya dinamai Xanthomonas kresek Schure. Terbukti bahwa penyakit ini sama dengan penyakit hawar daun bakteri yang terdapat di Jepang. Pengembangan varietas padi unggul dengan hasil tinggi tetapi peka terhadap penyakit menyebabkan semakin tersebar luasnya penyakit ini. Akhir-akhir ini penyakit hawar daun bakteri dilaporkan telah terdapat di negara-negara yang mewakili hampir seluruh benua, misalnya Bangladesh, India, Korea Malaysia, Filipina, Cina, Taiwan dan Vietnam. Penyakit ini bahkan telah dilaporkan dari Rusia, Afrika dan Amerika Latin. Kerugian hasil padi di Jepang yang diakibatkan oleh penyakit hawar daun bakteri setiap tahunnya mencapai 30% bahkan lebih. Di Indonesia kerugian akibat penyakit ini diperkirakan berkisar antara 15-25% tiap tahun. Kerusakan berat terjadi bila penyakit ini menyerang tanaman muda yang peka, sehingga menimbulkan gejala kresek dan kemudian tanaman mati. Klasifikasi Xanthomonas adalah sebagai berikut (Dina, 2012) : Phylum Kelas Ordo Famili Genus : Prokaryota : Schizomycetes : Pseudomonadales : Pseudomonadaceae : Xanthomonas

80

Spesies

: Xanthomonas oryzae pv. oryzae

Beberapa perlakuan yang dapat dilakukan mengendalikan penyakit kresek antara lain: 1. Menggunakan benih unggul dengan varietas tahan penyakit hawar daun bakteri seperti inpari, conde dan mekongga. Sedangkan padi hibrida masih tergolong tanaman yang kurang tahan terhadap penyakit kresek. 2. Jarak tanam yang tidak terlalu rapat sehingga mengurangi kelembaban lingkungan sekitar tanaman 3. Pengurangan penggunaan pupuk urea hal ini dimaksudkan agar tanaman tidak sukulen sehingga batang dan daun menjadi lunak yang menjadikannya mudah terserang penyakit ini 4. Mengaplikasi tanaman padi dengan corine bacterium. Telah diketahui bahwa corine bakaterium adalah musuh utama dan pemangsa bakteri Xanthomonas oryzae sebagai penyebab hawar daun bakteri pada tanaman padi. Kendalanya bakteri corine ini belum beredar dipasaran sehingga petani kesulitan untuk mendapatkannya

81

III. METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat penyiram, oven, kertas label, amplop, kertas, alat tulis, timbangan analitik, penggaris panjang, gelas ukur dan polibag. Bahan yang digunakan meliputi benih padi dengan 3 varietas yang berbeda.

B. Rancangan Lapang

Rancangan percobaan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga kali ulangan.

C. Prosedur Kerja

1. Disiapkan tanah sebagai media tanam, dimasukkan ke dalam polybag yang telah dibuat lubang. Disiram dengan air hingga kapasitas lapang, lalu polybag yang telah berisi tanah dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama sebagai kontrol (X0), dan kelompok kedua sebagai perlakuan kekeringan (X1). 2. Dipilih benih yang baik dan bernas untuk ditanam. 3. Benih ditanam masing-masing polybag ditanam 3 benih.

82

4. Polybag diletakkan sesuai dengan perlakuan yang sudah ditentukan berdasarkan rancangan acak kelompok (RAK), dan diulang sebanyak 3 kali. 5. Dilakukan pemeliharaan seperti biasa, yaitu pemberian air hingga kapasitas lapang pada kontrol. 6. Sebagai control tanaman dalam polibag tidak diberi inokulum X. oryzae pv. Oryzae dan sebagai perlakuan tanaman diberi inokulum X. oryzae pv. Oryzae, digunakan metode pengguntingan daun. 7. Diamati masa inkubasi dari masing- masing varietas yang diuji. 8. Setelah diberi perlakuan pemberian inokulum X. oryzae pv. Oryzae, setiap hari diamati gejala penyakit kresek dan setelah muncul gejala diukur intensitas penyakit dengan rumus: IP = x 100%

Kategori ketahanan tanaman terhadap gejala Xanthomonas oryzae pv. Oryzae menurut Suparyono et al, 2004: Besarnya Intensitas Penyakit Kurang dari 11% Lebih dari 11% Kategori Tahan Rentan

9. Dilakukan pemeliharaan dengan menjaga kelembaban tanaman dengan menyiram hingga kapasitas lapang. 10. Diamati pertumbuhan tanaman hingga akhir praktikum yang meliputi tinggi tanaman dan panjang akar terpanjang.

83

11. Setelah itu, tanaman dioven selama 3 hari kemudian diukur bobot kering tanaman, bobot kering tajuk, bobot kering akar dan rasio tajuk/ akar.

D. Analisis Data

Data yang diperoleh (tinggi tanaman, ratio akar tajuk, bobot kering tanaman, bobot kering tajuk, bobot kering akar dan panjang akar terpanjang) dianalisis menggunakan uji F. untuk variabel IP dilakukan transformasi data menggunakan x dan apabila berbeda nyata kemudian dilanjut menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan taraf kesalahan 5%.

84

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Terlampir

B. Pembahasan

Penyakit hawar bakteri atau yang biasa dikenal dengan penyakit kresek pada tanaman padi bersifat sistemik dan dapat menginfeksi tanaman pada berbagai stadium pertumbuhan. Xanthomonas menginfeksi tanaman dengan cara masuk kedalam jaringan tanaman melalui luka, hidatoda, stomata, atau benih yang terkontaminasi. Penyebarannya pada wilayah persawahan melalui perantara air irigasi. Penyakit kresek yang biasa juga disebut Xoo merupakan penyakit penting pada tanaman padi di Indonesia bahkan di Asia Tropis. Penyakit kresek yang disebabkan bakteri Xanthomonas oryzae pv oryzae pertama kali ditemukan di Jepang pada tahun 1884. Penyakit ini telah dikenal secara umum di Indonesia sejak tahun 1948, dan hampir selalu ditemukan pada setiap areal pertanaman padi, tidak saja pada tanaman padi gogo, tetapi juga pada padi sawah dengan intensitas serangan yang berbeda. Di Sumatera Barat penyakit kresek selalu dilaporkan menyerang tanaman padi dengan luas serangan berfluktuasi setiap tahunnya. Dalam periode 1986-1990 penyakit kresek ini telah menjadi penyakit terpenting diantara penyakit utama lainnya. Patogen penyebab penyakit ini tidak saja menyerang tanaman muda tetapi

85

juga menyerang tanaman dewasa. Apabila menyerang tanaman muda, penyakit ini disebut kresek, yang dapat mematikan tanaman, sedangkan apabila menyerang tanaman dewasa penyakit ini disebut hawar (blight)/ hawar daun bakteri. Secara umum kehilangan hasil akibat penyakit ini berkisar 20-60 %. Gejala yang ditimbulkan oleh bakteri ini tergolong khas, yaitu mulai dari terbentuknya garis basah pada helaian daun yang akan berubah menjadi kuning kemudian putih. Gejala ini umum dijumpai pada stadium anakan, berbunga, dan pemasakan. Gejala kresek ditemukan pada tanaman muda, gejala mulai terlihat 12 minggu setelah bibit tanaman padi pindah kelapangan. Daun-daun tanaman padi yang terserang penyakit ini berbunyi kresek-kresek ketika tertiup angin. Untuk lebih memudahkannya dinamakan penyakit ini dengan nama penyakit kresek. Gejala diawali dengan bercak kecil kebasahan atau water soaking pada tepi daun yang terus berkembang ke bagian bawah. Patogen akan lebih cepat menyerang apabila bibit padi dipotong ujungnya. Dekat bekas potongan terjadi becak hijau kelabu, dan seiiring dengan itu ibu tulang daun menjadi berwarna kuning. Sejalan dengan berkembangnya bercak, daun mulai menguning, kering lebih cepat dan akhirnya menjadi layu, helaian daun menggulung, dan daun melipat sepanjang tulang daun. Warna daun yang kering segera beroabah menjadi kuning jerami sampai coklat muda. Gejala dapat juga meluas ke upih daun. Bakteri Xoo dapat menyerang beberapa daun sampai seluruh daun hingga membuat tanaman menjadi mati. Bakteri Xoo juga dapat mengadakan infeksi melalui luka-luka pada akar sebagai akibat pencabutan yang tidak hati-hati.

86

Penyakit kresek yang terjadi pada daun menghambat fase pertumbuhan tanaman padi terutama proses fotosintesis. Hal tersebut mengakibatkan cahaya sebagai bahan sumber energy sulit masuk dan sulit memfiksasi CO2. Terserangnya penyakit pada tanaman yang berkepanjangan mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak optimal, bahkan menyebabkan kematian. Penyebaran penyakit yang disebabkan oleh Xoo dibantu oleh hujan, karena hujan akan meningkatkan kelembapan dan membantu pemencaran bakteri. Intensitas penyakit yang tertinggi terjadi pada akhir musim hujan, menjelang musim kemarau. Suhu optimum untuk perkembangan Xoo adalah sekitar 25C 35C. Faktor lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan penyakit di lapangan, kelembapan tinggi, hujan angin, dan pemupukan N yang berlebihan dapat meningkatkan keparahan penyakit. Pada acara enam, praktikum dilakukan dengan penanaman padi

menggunakan rancangan acak lengkap yang diulang sebanyak 3 kali menggunakan tiga varietas yang berbeda pada tiap ulanganya. Pengukuran tinggi tanaman diukur sebanyak 3 kali dan didapat perbedaan hasil pada masing- masing pengamatan. Pengukuran pertama menunjukkan hasil tidak beda nyata atau tidak adanya pengaruh perlakuan pada pertumbuhan tinggi tanaman dengan perlakuan. Pengamatan kedua dan ketiga menunjukkan hasil yang beda tidak berbeda nyata juga atau tidak adanya pengaruh karena perlakuan yang dipengaruhi oleh masingmasing varietas. Analisis yang menunjukan hasil signifikan yaitu pada anaisis hasil masa inkubasi, semuanya berbeda nyata baik pada tanaman kontrol maupun tanaman tercekam. Sehingga pada analisis masa inkubasi perlu dilakukan uji

87

lanjut.

Hasil tidak menunjukkan hasil yang signifikan karena tidak adanya

pengaruh dari serangan penyakit kresek. Pada tanaman yang terkena penyakit kresek daunnya menjadi kecokelatan, akan terdengan bunyi kresek saat tanaman terkena angin karena gesekan daun padi yang terserang penyakit dan daun yang terserang tidak segar seperti tanaman yang tidak terkena penyakit kresek.

88

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Xanthomonas menginfeksi tanaman dengan cara masuk kedalam jaringan tanaman melalui luka, hidatoda, stomata, atau benih yang terkontaminasi. 2. Pada tanaman yang terkena penyakit kresek daunnya menjadi kecokelatan, akan terdengan bunyi kresek saat tanaman terkena angin karena gesekan daun padi yang terserang penyakit dan daun yang terserang tidak segar seperti tanaman yang tidak terkena penyakit kresek. 3. Analisis yang menunjukan hasil signifikan yaitu pada anaisis hasil masa inkubasi, semuanya berbeda nyata baik pada tanaman kontrol maupun tanaman tercekam. Seangkan analisis pada variabel lainya tidak ada yang berbeda nyata.

B. Saran

Sebaiknya analisis data yang berbeda antar kelompok, juga diberitahukan agar saat pengerjaan laporan tidak mengalami kebingungan akibat analisis yang berbeda.

89

DAFTAR PUSTAKA

Dina. 2012. Bacillus subtilis B1 sebagai Agensia Hayati Pengendali Penyakit Hawar Daun Bakteri Pada Tanaman Padi. http://dinapoenyablog.blogspot.com/2012_01_01_archive.html (On-line). Diakses tanggal 20 Mei 2012. Dewi, Iswari S. 2007. Evaluasi ketahanan tanaman padi haploid ganda calon tetua padi hibrida terhadap wereng batang vcoklat dan hawar daun bakteri. Bul. Agron. (35) (1) 15 21. Lakitan, B. 2010. Dasar- dasar Fisiologi Tumbuhan. PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta. Solikah. 2010. Pengendalian Penyakit Kresek atau Xanthomonas oryzae. http://agriculturproduct.blogspot.com/2012/05/pengendalian-penyakitkresek-atau.html (On-line). Diakses tanggal 20 Mei 2012. Tjahjadi, N. 2010. Hama dan Penyakit Tanaman. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

90