Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN CASE STUDY 3 BLOK AESTHETIC DENTISTRY 2 Pascalis Adhi Kurniawan (G1G009034)

Skenario Kasus Candra, seorang mahasiswi (25 tahun) dating ke RSGMP UNSOED untuk membuatkan gigi palsu. Dia seorang model iklan dan putri seorang pejabat. Gigi belakang bawah kanan (A)/kiri (B) dicabut 2 tahun lalu karena berlubang besar. Hasil pemeriksaan objektif menunjukkan bahwa gigi 46 (A) / 36 (B) telah hilang, dengan gigi 47 (A) / 37 (B) telah miring kearah mesial sebanyak 5 dan gigi 16 (A) / 26 (B) telah turun sebesar 2 mm. Kebersihan rongga mulut pasien dalam rentang sedang. 2.

kanan yang berlubang besar dua tahun lalu. PMH : Tidak ada riwayat SH : Model iklan dan putri seorang pejabat.

Pemeriksaan Objektif a. Ekstraoral : muka, nodus

lympha, bibir, TMJ b. Intraoral : pemeriksaan gigi (jumlah gigi hilang, tes vitalitas, warna gigi, OH) dan jaringan sekitarnya. Didapati gigi 36 telah hilang karena dicabut 2 tahun lalu. Gigi 37 telah miring kearah

Analisis Kasus 1. Pemeriksaan Subjektif (Anamnesis) CC PI : Ingin dibuatkan gigi palsu. : Gigi belakang bawah kanan yang hilang, gigi sebelahnya yang miring ke arah mesial, dan gigi antagonisnya yang turun sebanyak 2 mm. PDH : Pernah ke dokter gigi

mesial sebanyak 5 dan gigi 26 telah turun sebesar 2 mm.

3. Pemeriksaan Penunjang: Foto rontgen periapikal atau panoramik. Radiografi bertujuan

untuk melihat kondisi gigi dan jaringan pendukung gigi seperti kepadatan alveolar, atau kelainan tulang

kelainan

periapikal,

mencabut gigi belakang bawah

kelainan bentuk pada akar gigi, bentuk dan kondisi pulpa. Radiografi

PENUGASAN BLOK AESTHETIC DENTISTRY 2 TA. 2012/2013 1

dapat

dilakukan

untuk

melihat

kerja menggunakan surveyor.

dental

apakah gigi yang akan dijadikan abutment memang memenuhi

b. Preparasi gigi abutment (35 dan 37) 1) Sebelumnya dianestesi

standar atau tidak.

4. Diagnosis Diagnosis pada kasus ini adalah klasifikasi kehilangan gigi

terlebih dahulu untuk rasa ngilu berlebih. 2) Pengurangan proksimal. Menggunakan pointed bidang

Applegate-Kennedy kelas VI gigi 36.

5. Rencana Perawatan Pembuatan gigi tiruan jembatan jenis rigid fixed bridge pada gigi 36 dengan gigi 37 dan 35 sebagai retainer atau gigi abutment.

tapered cylindrical bur. Garis pedoman dibuat berjarak 1-1,5 mm dari titik kontak pada permukaan labial proksimal gigi. Kemudian dilakukan Kesejajaran gigi

pengurangan. 6. Prosedur Perawatan a. Persiapan sebelum preparasi gigi abutment 35 dan 37 1) Devitalisasi gigi 26. bidang

proksimal

penyangga satu dengan yang gigi penyangga lain atau

sesuai dengan hasil surveyor dan dibuat konvergen ke arah insisal dengan sudut kemiringan maksimal 6o. 3) Preparasi oklusal

Kemudian pengurangan 2mm dan onlay gigi 26 yang ekstrusi supaya menyediakan ruang untuk pontik. 2) Pencetakan menggunakan rahang, alginat.

a) Mengikuti bentuk anatomi gigi asli. b) Pedoman dengan preparasi membentuk

Kemudian diisi dengan gips stone untuk djadikan sebagai model kerja. 3) Pemeriksaan kesejajaran

groove pada 2 bidang oklusal oklusal (bidang dan buko linguo

bidang aksial pada model

PENUGASAN BLOK AESTHETIC DENTISTRY 2 TA. 2012/2013 2

oklusal) sedalam 1 - 1,5 mm. c) Pengasahan/ pengurangan bidang terlebih buko dahulu oklusal dari

groove ke arah mesial distal, baru dilanjutkan pada oklusal. d) Tonjol bukal > tonjol lingual. 4) Preparasi bukal dan lingual a) Dibuat pedoman groove seperti pada mahkota bidang linguo

tiruan penuh. b) Pengasahan dilakukan

sesuai dengan sumbu gigi dan sedikit konvergen 2 50 dari sumbu gigi ke arah oklusal. 5) Preparasi servikal Bentuk preparasi disesuaikan dengan bahan restorasi yang akan digunakan. Untuk

restorasi Porcelain Fused to Metal, finishing line tipe chamfer menggunakan round end tapered cylindrical bur.

c. Pembuatan mahkota tiruan sementara 1) Membuat model malam pontik gigi 36 pada cetakan gigi sebelum dipreparasi. 2) Gigi yang akan dipreparasi dan model malam pontik dicetak dengan alginat, kemudian disimpan sejenak dengan menggunakan tissue lembab. 3) Setelah preparasi gigi selesai, gigi yang telah dipreparasi dan daerah di sekitarnya diolesi dengan vaseline. 4) Cetakan alginat yang telah dibuat dicobakan kemudian diberi tanda dengan pensil warna, tujuannya untuk mempermudah reposisi kedudukan pada saat dimasukkan kembali ke dalam mulut. 5) Buat adonan cold cure acrylic sewarna gigi pada dappen glass 6) Adonan akrilik tersebut dimasukkan ke dalam cetakan alginat. Posisikan kembali cetakan ke dalam mulut, fiksasi sebentar hingga hampir mengeras. 7) Cetakan alginat dikeluarkan dari dalam mulut, kelebihan akrilik pada alginat dibuang, rapihkan bagian proksimal, bukal, lingual. Kemudian akrilik dilepaskan dari alginat. 8) Mahkota tiruan sementara tersebut dicobakan kembali ke dalam mulut

PENUGASAN BLOK AESTHETIC DENTISTRY 2 TA. 2012/2013 3

9) Mahkota sementara dipoles dengan pemoles akrilik. 10) Mahkota tiruan disementasi dengan semen sementara (Zinc Oxide Eugenol/ ZOE). d. Pembuatan Porcelain Fused to Metal 1) Setelah mendapatkan metal coping, diberi lapisan tipis opaque porcelain. Dentin powder dicampur mengunakan air yang terdestilasi. Sebagian besar dari gigi terbentuk oleh dentin. Bagian dari dentin, daerah insisal,dikurangi kemudian ditambahkan dengan enamel porcelain. 2) Setelah terbentuk dan reaksi kondensasi berakhir, cetakan dari dentin dan enamel siap untuk dilebur. Restorasi diletakkan di dalam preheated porcelain furnace terbuka selama 5-8 menit (drying). Kemudian dilakukan proses pembakaran porselen (firing). 3) Restorasi porselen dicobakan ke mulut pasien. Bagian yang kurang sesuai di grinding. Hasil grinding tersebut dibakar lagi untuk membuat permukaan halus dan berkilau (glazing), setelah itu diakhiri dengan proses pendinginan (cooling) (Soratur, 2002).

Kesimpulan Berdasarkan hasil pemeriksaan

subjektif dan objektif, diagnosis yang diperoleh adalah klasifikasi kehilangan gigi Applegate-Kennedy kelas VI. Rencana dilakukan perawatannya pembuatan gigi adalah tiruan

jembatan jenis rigid fixed bridge. Prosedur perawatannya terdiri dari pencetakan rahang, preparasi gigi

abutment, pembuatan mahkota tiruan sementara, serta pembuatan bridge. Perlu diperhatikan pula retensi, stabilisasi, serta oklusi setelah

pemasangan bridge. Dan jangan lupa instruksikan pasien untuk control.

Referensi Smith, B. G. N., 2007, Planning and Making Crowns and Bridges, 3rd ed, London. Soratur,S.H., 2002, Essentials of Dental Materials, Jaypee, New Delhi.

PENUGASAN BLOK AESTHETIC DENTISTRY 2 TA. 2012/2013 4