Anda di halaman 1dari 25

MESIN PENGANGKAT ELEVATOR

Sekilas tentang elevator Ada 2 jenis penggerak motor pada pesawat elevator yaitu : - Motor listrik arus bolak balik (Induction motor / AC motor) - Motor listrik arus searah (DC motor) Elevator harus dioperasikan dengan sumber daya listrik yang mempunyai karakteristik sebagai berikut: Voltage : 380 Volt AC , 3 Phase Frequency : 50 Hz Elevator digerakkan dengan : - Motor penggerak (Traction Lift) - Dongkrak Hidrolik (Hydraulic Lift) Kecepatan Elevator Hydraulic antara 0.30 sampai 0.90 m/s Kapasitas angkut maksimum 10 ton (tuas tunggal ) dan 50 ton (tuas ganda) Alat - alat yang terdapat pada Elevator yaitu : - Kereta (Elevator Car) - Kabel - kable (Cables) - Mesin elevator (Elevator Machine) - Sistem kontrol (Panel Equipment) - Beban pemberat (Counter Weight) - Tabung elevator (Elevator Shaft) - Rel (Rails) - Ruang mesin (Machine Room) - Alas (Pit) - Penahan (Buffer)

Definisi elevator Elevator (Lift) adalah pesawat pengangkat atau pengangkut manusia yang digerakkan dengan tenaga listrik baik melalui transmisi tarikan langsung (tanpa atau dengan roda gigi) maupun transmisi sistem hidrolik dengan gerakan vertikal (toleransi 7%) naik dan turun. Cara kerja elevator Bobot kereta dan counterweight menghasilkan traksi yang memadai antara puli katrol dan hoist ropes sehingga puli katrol dapat menggenggam hoist ropes dan bergerak serta menahan kereta tanpa selip berlebihan, kereta dan counterweight bergerak sepanjang rel yang vertikal agar tidak berayun - ayun.

Mesin Elevator (Gearless) Mesin untuk menggerakkan elevator terletak di ruang mesin yang biasanya tepat di atas ruang luncur kereta, untuk memasok listrik ke kereta dan menerima sinyal listrik dari kereta ini dipergunakan sebuah kabel listrik multi wire untuk menghubungkan ruang mesin dengan kereta. Ujung kabel yang terikat pada kereta turut bergerak dengan kereta sehingga disebut sebagai kabel bergerak (traveling cable). Jalur Elevator (Hoistway) & Ruang mesin di atasnya Mesin geared memiliki motor dengan kecepatan tinggi dan drive sheave dihubungkan dengan poros motor melalui gigi - gigi di kotak gigi yang dapat mengurangi kecepatan rotasi poros motor menjadikecepatan drive sheave rendah. Mesin gearless memiliki motor kecepatan rendah dan puli katrol penggerak dihubungkan langsung ke poros motor. Sistem pergerakan Elevator dengan Gearless Pada sistem hidrolik (terutama digunakan pada instalasi di gedung rendah dengan kecepatan kereta menengah) kereta dihubungkan ke bagian atas dari piston panjang yang bergerak naik dan turun di dalam sebuah silinder. Kereta bergerak naik saat oli dipompa ke dalam silinder dari tangki oli sehingga mendorong piston naik, kereta turun saat oli kembali ke tangki oli.

Aksi pengangkatan dapat bersifat langsung (piston terhubungkan ke kereta) atau roped (piston terikat ke kereta melalui rope). Pada kedua cara tersebut pekerjaan pengangkatan yang dilakukan oleh pompa motor (energi kinetik) untuk mengangkat kereta ke elevasi yang lebih tinggi sehingga membuat kereta mampu melakukan pekerjaan (energi potensial). Transfer energi ini terjadi setiap kali kereta diangkat, ketika kereta diturunkan energi potensial digunakan habis dan siklus energi menjadi lengkap sudah, gerakan naik dan turu kereta elevator dikendalikan oleh katup hidrolik. System operasi elevator terdiri dari 3 macam yaitu : 1. System operasional Otomatis 2. System operasional Manual - diperlukan untuk mengoperasikan car pada kecepatan rendah - berhenti pada posisi yang diinginkan untuk keperluan maintenance dan lainnya 3. System operasional Independent Fungsi dari system ini adalah untuk memisahkan dari pengendalian group supervisory control system.

Jenis elevator dan penggunaannya Pembagian Jenis Dilihat dari Sudut Muatan : Secara umum jenis lift dilihat dari pemakaian muatan dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu : 1. Lift Penumpang (Passenger Elevator) 2. Lift Barang (Freight Elevator) 3. Lift Pelayan (Dumb Waiter, lift barang berukuran kecil). Secara teknis lift-lift tersebut tidak jauh berbeda secara prinsip. Namun perbedaan yang nyata dari kedua lift tersebut biasanya dapat kita bedakan pada interior dan perlengkapan operasi dari lift-lift tersebut. Juga pada sistem pengamanan operasi yang dipasang sebagian besar sama, hanya pada dumb waiter sistem pengamanan operasi yang disediakan lebih sederhana.

Perbedaan tersebut akan semakin nyata apabila dibandingkan antara lift barang untuk pabrik (besar) dengan lift penumpang yang dipergunakan didalam gedunggedung diperkantoran. Lift barang untuk pabrik (sesuai dengan kebutuhan) biasanya dilengkapi dengan pembuka pintu yang lebih besar, baik dipasang dengan pembukaan secara horizontal (terdiri lebih dari dua pintu) maupun yang dipasang dengan sistem pembukaan pintu vertikal (biasanya terdiri dari dua daun pintu atau lebih). Perbedaan lain juga dapat dilihat pada cara penulisan kapasitas muatannya. Kapasitas digerakan pada COP (Car Operation Panel, Operation Panel Board) didalam kereta biasanya dinyatakan dalarn kilogram (kg) atau (Ib) untuk jenis lift barang, sedangkan untuk penumpang sering dinyatakan dalam jumlah orang (persons) atau kombinasi keduanya. Akan tetapi perbedaan tersebut akan menjadi semakin tipis apabila kita bandingkan lift penumpang dan lift barang yang terpasang dalam gedung perkantoran. Hal tersebut disebabkan karena sebagian besar lift barang yang terpasang didalam gedung hunian dipersyaratkan juga untuk dapat mengangkut penumpang atau orang. Pembagian jenis dilihat dari penggunaan 1. Elevator Penumpang Elevator penumpang ini merupakan elevator yang sifatnya berfungsi dan sangat khusus untuk manusia saja, elevator ini sangat dijaga kehandalannya dan juga sangat dijaga keamanan dan keselamatan manusianya.

2. Elevator Barang atau Dumb Waiter Elevator ini sangat khusus fungsinya untuk barang saja, elevator ini juga tak kalah handalnya dengan elevator penumpang namun ada sedikit perbedaan dalam system keamanannya.

3. Elevator Service Elevator servise ini biasanya dipasang diperhotelan, yaitu fungsinya untuk pelayan-pelayan hotel untuk mengantarkan barang ke kamar-kamar penghuni hotel. Namun disini pula elevator ini tak kalah handalnya dengan elevator penumpang, perbedaan dari elevator service dengan elevator penumpang ini sangat jelas dari sistrem pengangkutannya, yaitu elevator penumpang hanya khusus untuk manusia saja tapi elevator service ini juga berfungsi sebagai pengangkutan manusia dan barang.

4. Elevator Hidraulik Elevator hidrolik ini sangat lain darpada yang lain, ini dilihat dari cara kerjanya dan juga fisiknya. Elevator ini biasanya digunakan oleh pasukan pemadam kebakaran dan kapasitas daya angkutnya pun sangat terbatas, elevator hidrolik ini sekarang tidak hanya dipakai oleh pemadam kebakaran saja. Sekarang elevator hidrolik sering dipakai oleh perusahaan telekomunikasi, bengkel-bengkel kendaraan bermotor, dan lain-lain.

Mesin Crane
o Tower Crane Pada Gedung Bertingkat.

Di dalam proyek konstruksi bangunan bertingkat, tower crane sangat cocok dipakai untuk pelayanan bangunan bertingkat (high rise building) untuk melayani daerah konstruksi sesuai luas lahan. Tower crane menjadi sentral atau alat yang paling utama karena dalam proyek gedung bertingkat tower crane digunakan untuk mengangkat muatan secara horisontal maupun vertikal, menahannya apabila diperlukan, dan menurunkan muatan ke tempat lain yang ditentukan dengan mekanisme pendongkrak (luffing), pemutar (slewing), dan pejalan (travelling). Tower crane yang memegang peranan penting soal kecepatan dan percepatan pekerjaan. Seluruh operasional proyek sangat dipengaruhi oleh berfungsinya tower crane, disebabkan peranannya yang dominan untuk kelancaran jalannya

pembangunan proyek. Untuk efisiensi biaya proyek, perkiraan jadwal dan waktu penggunaan tower crane perlu dilakukan sebelum. pelaksanaan konstruksi. Pada proyek bangunan bertingkat tower crane pada umumnya digunakan untuk pekerjaan pengangkatan tulangan, pekerjaan

pengecoran, pengangkatan bekisting, pengangkatan dinding precast, pasir, batu bata, atap rangka baja, unit-unit elektrikal dan mekanikal. Banyaknya pekerjaan yang dapat dilakukan tower crane maka dibutuhkan perhitungan yang dapat menghitung efektivitas penggunaan tower crane. Dengan mempelajari karakteristik

dan spesifikasi tower crane beserta observasi lapangan. Untuk keperluan operasional, ketinggian tower crane minimal harus lebih tinggi 4-6 meter dari ketinggian maksimum pekerjaan yang dilayani. Prinsip kerja tower crane berdasarkan kekuatan mesin (genset), keseimbangan beban, momen dan tegangan tarik kabel, serta sifatnya dapat berputar 360 derajat. Pada prinsipnya, tower crane merupakan pesawat pengangkat dan pengangkut yang memiliki mekanisme gerakan yang cukup lengkap yakni : kemampuan mengangkat muatan (lifting) menggeser (trolleying), menahannya tetap di atas bila diperlukan dan membawa muatan ke tempat yang ditentukan (slewing dan travelling). Operasi kerja yang identik dan muatan yang seragam yang diangkutnya, memungkinkan fasilitas transport dilakukan secara otomatis. Bukan hanya untuk memindahkan, melainkan juga untuk proses bongkar muatan. Tower crane mampu menjangkau tempat yang jauh, mempunyai kapasitas angkut yang besar, dan dapat diatur mengikuti ketinggian bangunan. Pemilihan dan penempatan tower crane harus sebaik mungkin agar dapat mengangkut material secara maksimal dan menjangkau seluruh wilayah proyek. dengan menggunakan panjang lengan (jib length). Semakin jauh radius jib, maka kemampuan angkat menurun. Pada Tower Crane terdapat dua buah limit switch : Switch beban maksimum : untuk memonitor pada kabel dan memastikan tidak terjadinya overload. Switch momen beban : untuk memastikan operator tidak melebihi rating ton-meter bagi crane, ketika beban bergerak pada jib. Sebuah alat yang dinamakan cat head assembly pada slewing unit, dapat mendeteksi secara dini bila terjadi kondisi overload.

o Tipe - Tipe Tower Crane Tipe crane dibagi berdasarkan cara crane tersebut berdiri yaitu : 1. Crane yang dapat berdiri bebas (free standing crane). 2. Crane di atas rel (rial mounted crane). 3. Crane yang ditambatkan pada bangunan (tied-in tower crane). Dari berbagai tipe ini prinsip kerjanya hampir sama, mengangkat pada gerakan horisontal, berputar, bergerak secara radial dan sebagainya. Hampir semua fasilitas transport memindahkan muatan dengan berbagai sudut atau secara vertikal dapat dilakukan. o Bagian - Bagian Tower Crane Tower crane terbagi atas beberapa bagian, berikut adalah penjelasan mengenai bagian - bagian tower crane dan kegunaannya :

Gambar Detail Tower Crane

1. Jib atau Boom Merupakan bagian dari tower crane yang panjang dan bisa berputar secara horisontal sebesar 360 atau sering disebut lengan tower crane yang berfungsi untuk mengangkat material atau alat bantu pada proyek dengan bantuan kabel baja (sling). Jib, merupakan lengan tower crane yang terdiri dari elemen-elemen besi yang tersusun menjadi satu bagian rangka batang. Pemasangan jib harus sesuai dengan keperluan dan persyaratannya, baik dengan panjang yang standard maupun yang mencapai maksimum. Pemasangan jib ini, selanjutnya mempengaruhi terhadap beban yang diangkat. Untuk tiap panjang jib tertentu, ada batasan beban maksimum.

Gambar Jib Section

2. Counter Jib Dan Couter Weight Selain jib, juga terdapat counter jib yang berfungsi sebagai jib penyeimbang terhadap jib yang terpasang. Caunter weight berupa beton pemberat yang terdapat pada bagian belakang tower crane yang berfungsi untuk memberikan

keseimbangan pada tower crane.

Gambar Counter Jib Dan Counter Weight

3.

Hoist, Trolley Dan Sling Hoist adalah bagian tower crane yang berfungsi sebagai alat angkut arah vertikal. Sedangkan trolley adalah bagian tower crane yang berfungsi sebagai alat angkut tower crane arah horisontal. Lalu sling merupakan bagian tower crane yang berupa kabel baja dan menjadi bagian hoist. Pemakaian sling bisa berubah ubah diameternya atau dapat di tambahkan (double sling), tergantung pada kebutuhan di lapangan.

4.

Cabin (joint pin) Cabin (joint pin) adalah bagian tower crane yang merupakan tempat operator mengoperasikan tower crane.

Gambar Cabin (joint pin)

5.

Mast section Mast section adalah bagian dari tower crane yang menentukan tinggi dari tower crane, dimana pemasangan tiap tiap mast section dibantu dengan alat hidrolik untuk menyusun mast section tersebut kearah vertikal.

Gambar Mast Section

6.

Base section dan Fine Angel Base section dan fine angel merupakan bagian yang ditanam pada pondasi, yang berfungsi untuk memperkokoh pondasi.

Gambar Pondasi dan Fine Angel Tower Crane

7.

Slewing Mechanism Slewing mechanism adalah bagian yang bertugas untuk memutar tower crane.

Gambar Slewing Mechanism

8.

Tower Top Tower top adalah bagian puncak dari tower crane.

Gambar Tower Top

9.

Sabuk Pengaman Sabuk pengaman (collar frame atau anchorages frame). Setelah ketinggian tower crane melampaui batas free standing yang diijinkan oleh pabrik pembuat, tower crane harus dipasang sabuk pengaman (tie beam) yang diikatkan pada bangunan (kolom). Dalam pemasangannya, harus diperhatikan kekuatan bracing agar konstruksi stabil menerima beban tarik dan tekan. Sabuk pengaman di pasang pada setiap 20 meter antara satu section dengan section yang lain.

Gambar Sabuk Pengaman

ESCALATOR
o Pengertian Eskalator Eskalator atau yang lazim disebut sebagai tangga berjalan, adalah sebuah alat transpotasi konveyor untuk membawa orang antaralantai bangunan. Peralatan ini terdiri dari motor yang menggerakkan rantai, dan terhubung dengan anak-anak tangga yang saling terkait sedemikian rupa, sehingga anak-anak tangga tersebut tetap berposisi horisontal.

Gambar Escalator

o Kapasitas escalator Kemampuan eskalator mengangkut orang atau daya angkut dalam waktu lima menit sebagai berikut: untuk jenis eskalator Tunggal dengan kecepatan 0,45 m/det adalah 170 orang, sedangkan dengan kecepatan 0,60 m/det bisa mencapai 225 orang. Daya angkut untuk jenis Ganda dalam waktu lima menit, untuk kecepatan 0,45 m/det adalah 340 orang,sedangkan dengan kecepatan 0,60 m/det bisa mencapai 450 orang.

Rantai dan roda gigi (chain and gear) Rantai dan roda gigi merupakan peralatan penggerak anak tangga dan pegangan tangan. Ada beberapa jenis rantai : 1. Rantai penggerak utama (driving chain) 2. Rantai penggerak anak tangga (step chain) 3. Rantai penggerak pegangan tangan (hand rail driving chain) 4. Ada beberapa janis roda gigi : 1. poros roda gigi atas (upper terminal gear) 2. Poros roda gigi bawah (lower terminal gear)

Anak Tangga (step) Anak tangga merupakan tempat pijakan dari penumpang escalator dan bagian permukaannya harus selalu dalam keadaan horizontal pada saat membawa penumpang. Adapaun material yang digunakan harus terbuat dari bahan bahan yang tidak mudah terbakar seperti aluminium, stainless steel dan besi cor. Untuk memudahkan penumpang dalam membedakan satu anak tangga dengan anak tangga yang lain harus diberi warna kuning. Ukuran dari anak tangga ini pada umumnya : 1. 600 mm, untuk satu orang per anak tangga. 2. 800 mm, (permintaan khusus) 3. 1000 mm, untuk dua orang per anak tangga.

Dinding Penyangga Rel Tangan (balustrade) Yang dimaksud dengan balustrade adalah dinding kiri dan kanan dari escalator. Dasar dinding yang berdekatan dengan tangga biasanya terbuat dari kaca yang ditemper dengan ketebalan 10 mm (tempered glass balustrade), dapat juga mengguanakan stainless steel balustrade. Stainless steel balustrade dipakai untuk escalator yang dipasang pada stasiun

kereta, bandar udara atau tempat lain yang sejenis, dimana banyak kemungkinan balustrade tersebut terkena benturan dari luar.

Gambar Balustrade

Pegangan Tangan (handrail) Dinding penyangga (balustrade) kiri dan kanan harus dilengkapi dengan rel penyangga tangan (handrail) yang dapat bergerak kontinu dan bersamaan arah dengan gerak tangga saat berjalan. Kecepatannya harus sama dengan kecepatan tangga saat berjalan. Pegangan tangan berfungsi untuk membantu penumpang pada saat melangkah masuk atau keluar dari anak tangga, agar penumpang tidak jatuh atau terseret. Material yang dipergunakan untuk pegangan tangan ini adalah karet khusus (hypalon) dengan yang tahan panas, dimana panas tersebut sebagai akibat gesekan gesekan, baik yang disebabkan oleh mekanisme penggerak ataupun oleh gesekan antara handrail dengan frame handrail (aluminium).

Handrail

Gambar Handrail

Untuk mekanisme handrail ini juga dilengkapi dengan switch pengaman terhadap benda benda asing yang terjepit. Pada handrail (1 unit escalator terdapat 2 handrail) kelilingnya harus tersambung secara sempurna, artinya tidak boleh ada sambungan yang dapat menyebabkan macet akibat toleransi dengan handrail yang kecil dan pemuaian akibat panas (sifat zat apabila terkena panas akan memuai). Untuk itu diperlukan toleransi kurang lebih 2 mm, dengan sisi sisi sampingnya. Panas yang timbul akibat gesekan adalah antara 400 450 C (merupakan panas maksimum untuk kondisi ruangan tanpa AC). Mekanisme handrail ini menggunakan penggerak utama berasal dari rol rol step yang digerakkan oleh rantai dan ditekan pula dengan rol rol khusus yang menekan handrail sehingga akibat tekanan tersebut dan adanya putaran dari rol rol tersebut menyebabkan handrail dapat bergerak. Dalam 1 unit escalator terdiri dari 4 unit rol (2 unit untuk menekan dan menggerakkan bagian atas dan 2 unit bagian bawah), penggerak handrail dan masing masing terdiri dari 4 rol. Bahan rol tersebut adalah besi cor dan dibagian permukaannya dilapisi oleh karet tahan panas.

Arah gerak handrail

Arah gerak rantai

Gambar Mekanisme penggerak handrail

Lantai pijak (Landing Plates) Lantai pijak penting ditempatkan pada bagian masuk dan keluar escalator dikedua ujung escalator. Lantai selain berfungsi untuk tempat pijakan masuk dan keluar juga berfungsi sebagai penutup bagian mekanis escalator. Oleh karena itu harus dapat dibuka atau diangkat untuk memudahkan perbaikan escalator. Lantai ini harus dibuat dari material yang tahan api dan mampu memberikan kemantapan saat berpijak. Lantai Bergerigi (combplates) Selain lantai pijak yang menutup ruang ruang mesin maupun ruang mekanis escalator, ada lagi lantai spesifik yang melengkapi escalator yaitu lantai pijak yang mempunyai alur alur bergerigi di ujungnya. Lantai ini fungsinya sebagai lantai pendarat bagi penumpang escalator dan alur alur geriginya berfungsi untuk menyisir kotoran yang ada pada tangga (yang juga beralur). Gigi pada combplates harus mempunyai kesejajaran dengan alur alur pada tangga dan ujungnya tidak boleh sampai mengenai alur alur dalam ditangga tersebut. Bagian yang begerigi harus dapat dipisahkan dengan bagian utama lantai sehingga jika gigi gigi tersebut patah akan mudah untuk menggantinya. Jarak antara ujung gigi dengan alur dalam ditangga dan jarak antara akar gigi dengan bagian atas dari alur ditangga harus berada diantara 2,5 mm sampai 4 mm

Ruang Mesin Ruang mesin harus mempunyai kelonggaran yang cukup untuk seseorang melakukan perbaikan atau perawatan bagian bagian mekanis dari penggerak escalator. Ventilasi yang tersedia harus cukup agar panas radiasi dari mesin dapat segera keluar. Pencahayaan juga harus ada pada ruang mesin, lampu lampunya harus dilindungi agar tidak mudah pecah terkena alat alat atau gerak gerak mekanis komponen mesin. Pintu pintu untuk perawatan dan perbaikan harus mempunyai kunci yang hanya dapat dibuka oleh orang yang berkepentingan saja sehingga tidak sembarang orang dapat membukanya.

Pencahayaan (lighting) Jaringan listrik untuk pencahayaan pada daerah yang dekat dengan kaki, pencahayaan pada dinding balustrade, dan pencahayaan pada ruang mesin harus terpisah dari jaringan listrik untuk motor penggerak sehingga jika terjadi kegagalan pada motor atau komponen lainnya, lampu lampu yang menerangi escalator akan tetap menyala. Unit Penggerak (drive unit) Unit penggerak terdiri dari : a. motor penggerak (motor induksi) b. Reduction gear box c. Rem magnet (magnetic brake) Motor penggerak adalah motor induksi 3 phasa dengan arus bolak balik, frekuensi 50 Hz, dapat terhubung bintang atau delta, dengan star-delta starting ataupun direct on line starting. Putaran dari motor penggerak ini kemudian diturunkan oleh reduction gear box, sehingga didapat kecepatan linear kurang lebih 30 meter permenit. Untuk menahan gerakan anak tangga pada saat motor terhenti, ataupun pada saat suplay daya terputus dipasang rem magnet.

Peralatan Listrik (Electrical Parts) Peralatan listrik dapat dibagi atas : a. Panel kontrol Panel kontrol berfungsi untuk pengatur arah gerak naik dan turun dan juga berfungsi untuk mematikan atau menghidupkan motor escalator. b. Kontak pengaman Escalator dilengkapi dengan kontak kontak pengaman, baik untuk mencegah terjadinya kecelakaan pada penumpang, maupun untuk mencegah kerusakan escalator itu sendiri. Ada dua jenis kontak pengaman : 1. Reset secara otomatis (automatic reset) 2. Reset secara manual (manual reset) Adapun beberapa kontak pengaman yang umum dipasang : 1. Handrail inlet safety switch Berfungsi untuk mematikan escalator bila terdapat benda asing yang menahan gerakan pegangan tangan (handrail), ada 4 (empat) buah kontak pengaman yang dipasang : kanan atas, kiri atas, kanan bawah, kiri bawah, namun dilihat dari arah gerak escalator hanya 2 buah yang berfungsi : arah naik : kanan dan kiri atas arah turun : kanan dan kiri bawah

2. Skirt guard safety switch Berfungsi untuk mematikan escalator bila ada benda asing yang terjepit diantara skirt guard dan step (anak tangga), dipasang pada sisi kanan dan kiri. Jumlahnya disesuaikan dengan panjang escaltor namun pada umumnya 6 (enam) buah. Kontak adalah jenis reset otomatis. 3. Driving chain safety switch Berfungsi untuk mematikan escalator bila rantai penggerak utama putus. Kontak tidak otomatis reset (manual reset). 4. Step chain tension safety switch

Berfungsi untuk mematikan escalator bila salah satu rantai penggerak anak tangga (step chain) putus atau tidak tegang. Kontak tidak otomatis reset. 5. Step roller safety switch Berfungsi untuk mematikan escaltor bila roda anak tangga keluar dari rel (tidak normal). Kontak tidak otomatis reset. 6. Step travel safety switch Berfungsi untuk mematikan escalator bila ada gerakan anak tangga yang tidak normal. Kontak tidak otomatis reset. c. Panel Pengoperasian (operating panel board)

Panel pengoperasian sesuai dengan namanya adalah untuk menghidupkan atau mematikan escalator. Fungsi yang umum tersedia : 1. Tombol nyala (starting switch) Tombol nyala harus ditempatkan pada kedua ujung escalator (atas dan bawah) dan penempatannya harus sedemikian rupa sehingga saat dinyalakan oleh operator, ia dapat melihat pergerakkan tangga. Tombol ini sebaiknya menggunakan type tombol yang berfungsi dengan memutar kunci (key operated switch) 2. Tombol mati (stop switch) Tombol mati mempunyai warna merah dan ditempatkan di kedua ujung escalator berdekatan dengan tombol nyala. Jika tombol ini digunakan, maka ia harus dapat memotong seluruh arus listrik yang bekerja pada motor penggerak maupun rem. 3. Tombol mati darurat (emergency stop switch) Tombol darurat ini harus berwarna merah dan ditempatkan di kedua ujung escalator pada posisi yang memungkinkan untuk segera dijangkau tetapi harus pula cukup terlindung dari penyalaan yang tidak disengaja. Jika tombol ini ditekan, ia harus segera mematikan arus yang bekerja ada motor penggerak maupun pada rem. 4. Tombol pendeteksi rantai putus ( broken step chain device) Tiap escaltor harus dilengkapi dengan tombol yang dapat segera berfungsi mematikan arus listrik ke motor penggerak dan mengaktifkan rem jika rantai tangga terputus atau terenggang melampaui batas maksimum regangan jika gerak rantainya terganggu.

5. Tombol pendeteksi kegagalan motor penggerak (broken drive devices) Jika escalator mempunyai sistem penggerak menghubungkan motor dengan sproket tangga melalui transmisi rantai, maka tombol ini harus ditempatkan pada posisi yang memungkinkan segera memotong arus listrik ke motor dan mengaktifkkan rem saat rantai penggerak putus. Untuk cara cara pengoperasian yang benar, dapat dibaca dari manual operasi yang diberikan oleh masing masing pabrik pembuat. Beberapa hal yang penting untuk diperhatikan dalam pengoperasian escalator : 1. Pada saat terjadi kebakaran, gempa bumi atau keadaan darurat lain, hendaknya seluruh escalator segera dimatikan oleh petugas, blokir jalan masuk / keluar escalator dan umumkan agar penumpang tidak menggunakan escalator. 2. Untuk mencegah kerusakan escalator dan juga demi keselamatan, dianjurkan untuk mematikan escalator bila : a. b. c. d. e. f. Salah satu pegangan tangan tidak berjalan Ada bunyi tabrakan / gesekan yang tidak normal Keluar asap / bau terbakar dari panel kontrol maupun dari motor atau rem magnet. Ada balustrade kaca yang pecah. Ada salah satu penutup yang lepas Jumlah penumpang melebihi kapasitas

3. Adapun hal hal yang dianjurkan untuk diperhatikan a. b. c. d. Dilarang membuang sampah diatas anak tangga escalator Anak kecil hendaknya didampingi orang tua Dilarang duduk diatas anak tangga Dilarang menaiki / duduk pada pegangan tangan

Pemilihan Escalator Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemesanan : a. Ketinggian dari lantai kelantai (riser) Setiap escalator dibuat berdasarkan ketinggian dari lantai kelantai dimana escalator tersebut akan dipasang. Kesalahan menentukan ketinggian dari lantai ke lantai akan mengakibatkan perbedaan permukaan escalator dan lantai terakhir

b. Jumlah kapasitas Berdasarkan kapasitas / kemampuan yang dipilih kemudian ditentukan jumlah dari escalator yang akan dipasang perlantai baik untuk arah naik maupun untuk arah turun. c. Konfigurasi pemasangan Ada dua jenis konfigurasi 1. Sejajar / paralel 2. Silang (crossing) Konfigurasi silang merupakan pilihan terbaik untuk kelancaran arus penumang, namun bila diinginkan penumpang untuk berkeliling terlebih dahulu seperti halnya pada pusat perbelanjaan, departemen store maka konfigurasi sejajar merupakan pilihan yang terbaik. d. Jenis balustrade Untuk escalator dengan kondisi operasi urban traffic, hendaknya dipilih panelled stainless balustrade, sedangkan untuk penggunaan pada pusat perbelanjaan dan sejenis lebih cocok dipakai jenis transparant glass balustrade. Bila penerangan disekeliling tidak mencukupi atau bila diinginkan oleh desainer interior dapat dipilih transparantbalustrade dengan lampu penerangan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk pemasangan escalator : a. Reaksi dan jarak tumpuan (reaction and support spacing) Berdasarkan jarak dari lantai kelantai yang telah ditentukan dan juga berdasarkan sudut (30/35 derajat), maka dapat ditentukan support spacing yang dibutuhkan agar escalator tersebut dapat terpasang, toleransi umunya berkisar antara 20 mm sampai 40 mm. Kita tidak perlu menghitung karena brosur umumnya telah disediakan tabel dari support spacing ini, beserta keterangan reaksi yang harus dipikul oleh struktur penunjangnya. b. Pit (sumuran) Untuk escalator pada lokasi paling bawah diperlukan pit (sumuran), dimensi untuk pit ini (kedalaman, lebar dan panjang) harus dibuat sesuai dengan kebutuhan dan kedap air (water proof).

c. Ruang antara (clearence) Ruang antara yang dibutuhkan adalah minimum 2200 mm dihitung dari level anak tangga, sepanjang perjalanan dari anak tangga.

Perawatan Escalator Kita bicara mengenai suatu arti dari suatu perawatan escalator true value maintenance. Dalam perawatan escalator berarti kita melakukan suatu penghematan karena memperpanjang umur dari peralatan tersebut, jika : Dilakukan oleh ahlinya Menggunakan peralatan (tools) yang cocok Memakai suku cadang yang tepat dan asli (correct genuine parts) Dilaksanakan secara sistematis

Berdasarkan pengalaman, maka biaya perawatan escalator adalah : 1. Kurang lebih 3 % dari harga barang pertahun untuk sistem menyeluruh / terpadu (full maintenance) 2. Kurang lebih 2 % dari harga barang pertahun untuk sekadar oiling and greasing (OGMaintenance) Umur rata rata escalator yang wajar, jika dirawat secara teratur, sistematis periodik, dapat mencapai labih dari 40 tahun. Setelah berumur 30 sampai 40 tahun terserah kepada pemiliknya atau pengelola gedung. Escalator yang tidak dirawat akan rusak dalam waktu kurang lebih 5 6 tahun. Bila dirawat sekedarnya akan rusak pada umur 8 10 tahun. Sebagai contoh perbandingan biaya perawatan escalator setelah 40 tahun, dengan perawatan sama dengan 40 x 3 % = 120 % dari harga harga awal. Sdangkan tanpa perawatan akan mengalami 4 atau 5 kali ganti baru atau 3 kali lipat lebih mahal.

Sistem Perawatan Ada dua cara berlangganan pemeliharaan escalator yang pada umumnya dilaksanakan oleh agen pemegang merk dagang, yaitu : A. Full or Comprehensive Maintenance (OM) Sistem perawatan terpadu meliputi : 1. Pemeriksaan berkala (periodic check up) 2. Pelumasan (lubrication) 3. Penyetelan kembali (re-adjustment) 4. Penggantian part (replacement) 5. Reparasi, kecuali jika ada kerusakan tidak wajar (repair) 6. Test tahunan (annual test) 7. Pelayanan macet (call back service) B. Oil and Grease (OG), meliputi : 1. Pemeriksaan berkala 2. Pelumasan 3. Penyetelan sekedarnya (minor adjustment) Sedangkan point no 4 7 atas dasar laporan/ pesanan terpisah, dan persetujuan tersendiri antara pelaksana dan pemilik atau pengelola gedung. Keuntungan dan kerugian antara dua sistem Atas dasar pengalaman maka sistem OM (full Maintenance) mempunyai banyak keuntungan dan secara total pada akhirnya lebih menguntungkan dibandingkan sistem OG. Daftar perbandingan : FULL MAINTENANCE (OM) OIL AND GREASE (OG)

1. Anggaran biaya tidak berubah tiap 1. Biaya naik turun tergantung repair tiap tahun dapat dianggarkan. dan part part yang diganti. 2. Tidak perlu negosiasi atas suatu 2. Atas dasar laporan kerusakan dan kerusakan persetujuan. 3. Biaya mahal pada awalnya tetapi 3. Biaya murah pada awalnya karena

secara keseluruhan setelah + 10 tahun menjadi lebih murah, seterusnya lebih ekonomis.

escalator baru belum ada keausan atau kerewelan

4. Beban moral pemilik terhadap 4. Manajemen gedung bertanggung penyewa gedung berkurang jika jawab atas kecelakaan terjadi kecelakaan penumpang akibat kelalaian keterlambatan mengganti part

Prosedur Pelaksanaan Escalator dibagi atas dua macam golongan komponen : 1. komponen utama yang senantiasa bekerja selama operasi memerlukan perawatan rata rata 80 jam setahun. a. Traction machine termsuk motor dan brake b. Controller, tombol tombol dan travelling cables fixtures c. - Rantai penarik (traction / chain) dan sproket - Rantai pembawa step d. Governor dan tripping switch e. Step roller and step track f. Hand rails dan lain lain 2. Komponen sampingan yang kurang / tidak berfungsi atau hanya berfungsi jika terjadi bahaya / emergency, memerlukan perawatan rata rata 30 jam / tahun. a. Step c. Safety device b. Balustrade d. Indle sheave

e. Landing step dan decking masing masing komponen mendapat giliran pemeriksaan / perawatan sesuai jadwalnya sehingga tidak ada yang terlupakan mulai dari peralatan pit terbawah sampai ujung atas kamar mesin.