Anda di halaman 1dari 9

SATUAN ACARA PENYULUHAN CARA PEMBERIAN ASI YANG BENAR

Oleh : I Nyoman Widiantara NIM : 1102115022

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN DENPASAR 2013

SATUAN ACARA PENYULUHAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Topik Pokok bahasan Sasaran Media Metode Waktu Tempat Tujuan a. Tujuan umum Setelah dilakukan penyuluhan klien mengetahui dan mengerti tentang pentingnya cara pemberian ASI yang benar pada bayi sehingga kebutuhan nutrisi bayi dapat terpenuhi. b. Tujuan khusus 1) Klien mampu menyebutkan tentang teknik menyusui yang benar. 2) Klien mampu menyebutkan tentang posisi menyusui yang benar. 3) Klien mampu menyebutkan langkah-langkah menyusui yang benar. 4) Klien mampu menyebutkan cara pengamatan teknik menyusui yang benar. 5) Klien mampu menyebutkan lama dan frekwensi menyusui. 6) Klien mampu menyebutkan cara menyusui yang benar. 7) Klien mampu menyebutkan tentang cara penyimpanan ASI. 8) Klien mampu menyebutkan tentang pemberian ASI perasan. 9. Kegiatan penyuluhan Tahap kegiatan Pendahuluan/ pengenalan Waktu 5 menit Kegiatan penyuluh Memperkenalkan diri Menjelaskan tujuan Menggali pengetahuan klien Menyampaikan materi Menjawab pertanyaan Kegiatan peserta Mendengarkan Menjawab pertanyaan : Manajemen Laktasi : Cara Pemberian ASI Yang Benar : Ibu yang baru melahirkan : Leaflet : Ceramah dan tanya jawab : 17 Juli 2013 pukul 10.00-10.30 WIB : Ruang Bakung Timur RSUP Sanglah Denpasar :

Penyajian

15 menit

Mendengarkan Menjawab pertanyaan

Penutup

10 menit

Mengevaluasi dengan memberi pertanyan. Memberikan kesimpulan Menyampaikan harapan

Mendengarkan Menjawab pertanyaan

MATERI PENYULUHAN CARA PEMBERIAN ASI YANG BENAR A. PENDAHULUAN TEKNIK MENYUSUI Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami berbagai masalah, hanya karena tidak mengetahui cara-cara yang sebenarnya sangat sederhana, seperti misalnya cara menaruh bayi pada payudara ketika menyusui isapan bayi yang mengakibatkan puting terasa nyeri, dan masih banyak lagi masalah yang lain. Terlebih pada minggu pertama setelah persalinan seorang ibu lebih peka dalam emosi. Untuk itu seorang ibu butuh seseorang yang dapat membimbingnya dalam merawat bayi termasuk dalam menyusui. Orang yang dapat membantunya terutama adalah orang yang berpengaruh besar dalam kehidupannya atau yang disegani, seperti suami, keluarga/kerabat terdekat, atau kelompok ibu-ibu pendukung ASI dan dokter/tenaga kesehatan. Seorang dokter atau tenaga kesehatan yang berkecimpung dalam bidang laktasi, seharusnya mengetahui bahwa walaupun menyusui itu merupakan suatu proses alamiah, namun untuk mencapai keberhasilan menyusui diperlukan pengetahuan mengenai teknik-teknik menyusui yang benar. Sehingga pada suatu saat nanti dapat disampaikan pada ibu yang membutuhkan bimbingan laktasi. B. POSISI MENYUSUI Ada berbagai macam posisi menyusui, yang biasa dilakukan adalah dengan duduk (Gambar a), berdiri atau berbaring (Gambar b, c, d). Ada posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu seperti menyusui bayi kembar dilakukan dengan cara seperti memegang bola (football position), di mana kedua bayi disusui bersamaan kiri dan kanan (Gambar e). Pada ASI yang memancar kepala bayi, dengan posisi ini maka bayi tidak akan tersedak. C. LANGKAH-LANGKAH MENYUSUI YANG BENAR 1. Sebelum menyusui ASI dikeluarkan sedikit, kemudian dioleskan pada putting dan di sekitar kalang payudara. Cara ini mempunyai manfaat sebagai desinfektan dan menjaga kelembutan putting susu. 2. Bayi akan diletakkan menghadap perut ibu/payudara. Ibu duduk atau berbaring dengan santai, bila duduk lebih baik menggunakan kursi ynang rendah (agar kaki ibu tidak menggantung) dan punggung ibu bisa bersandar pada sandaran kursi. Bayi dipegang pada belakang bahunya dengan satu lengan, kepala bayi terletak pada lengkung siku ibu (kepala tidak boleh menengadah, dan bokong bayo ditahan dengan telapak tangan). Satu tangan bayi diletakkan di belakang badan ibu, dan yang lain di depan. Perut bayi menempel pada badan ibu, kepala bayi menghadap payudara (tidak boleh membelokkan kepala bayi). Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus. Ibu menatap bayi dengan kasih sayang.

3. 4.

Payudara dipegang dengan ibu jari di atas dan jari yang lain menopang di bawah, jangan menekan putting susu atau kalang payudaranya saja. Bayi diberi rangsangan agar membuka mulut (rooting reflex) dengan cara: Menyentuh pipi dengan putting susu atau, Menyentuh sisi mulut bayi

5.

Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dan puting serta kalang payudara dimasukkan kemulut bayi: Usahakan sebagian besar kalang payudara dapat masuk ke mulut bayi, sehingga puting susu berada di bawah langit-langit dan lidah bayi akan menekan ASI keluar dari tempat penampungan ASI yang terletak di bawah kalang payudara. Posisi yang salah, yaitu apabila bayi hanya menghisap pada putting susu saja, akan mengakibatkan masukan ASI yang tidak adekuat dan putting susu lecet. Setelah bayi mulai menghisap payudara tidak perlu dipegang atau disangga lagi.

CARA PENGAMATAN TEKNIK MENYUSUI YANG BENAR Teknik menyusui yang tidak benar dapat mengakibatkan putting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusui. Untuk mengetahui bayi telah menyusui dengan teknik yang benar, dapat dilihat: a. b. c. d. e. f. g. h. i. 6. Bayi tampak tenang. Badan bayi menempel pada perut ibu. Mulut bayi membuka lebar. Dagu menempel pada payudara ibu. Sebagian besar kalang payudara masuk ke dalam mulut bayi. Bayi tampak menghisap kuat dengan irama perlahan. Putting susu ibu tidak terasa nyeri. Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus. Kepala tidak menengadah.

Melepas isapan bayi Setelah menyusui pada satu payudara sampai terasa kosong, sebaiknya diganti dengan payudara yang satunya. Cara melepas isapan bayi: Jari kelingking ibu dimasukkan ke mulut bayi melalui sudut mulut atau, Dagu bayi ditekan ke bawah

7. 8.

Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada putting susu dan di sekitar kalang payudara; biarkan kering dengan sndirinya. Menyendawakan bayi Tujuan menyendawakan bayi adalah mengeluarkan udara dari lambung supaya bayi tidak muntah (gumoh Jawa) setelah menyusui. Cara menyendawakan bayi adalah: Bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu ibu, kemudian punggungnya ditepuk perlahan-lahan.

Bayi tidur tengkurap di pangkuan ibu kemudian punggungnya ditepuk perlahanlahan.

D. LAMA DAN FREKWENSI MENYUSUI Sebaiknya menyusui bayi tanpa dijadwal ( on demand), karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing, dsb) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya bayi akan menyusu dengan jadwal yang tidak teratur, dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1-2 minggu kemudian. Menyusui yang dijadwalkan akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui tanpa dijadwal, sesuai kebutuhan bayi, akan mencegah banyak masalah yang akan timbul. Menyusui pada malam hari sangat berguna bagi ibu yang bekerja, karena dengan sering menyusukan pada malam hari akan memacu produksi ASI, dan juga dapat mendukung keberhasilan menunda keberhasilan. Untuk menjaga keseimbangan besarnya kedua payudara, maka sebaiknya setiap kali menyusui harus digunakan kedua payudara dan diusahakan sampai payudara terasa kosong, agar produksi ASI tetap baik. Setiap menyusui dimulai dengan payudara yang terakhir disusukan. Selama masa menyusui, sebaiknya ibu menggunakan kutang (BH) yang dapat menyangga payudara, tetapi tidka terlalu ketat. E. PENGELUARAN ASI Apabila ASI berlebihan sampai keluar memancar, maka sebelum menyusui sebaiknya ASI dikeluarkan terlebih dahulu, untuk menghindari bayi tersedak atau enggan menyusu. Pengeluaran ASI juga dilakukan: pada ibu bekerja yang akan meninggalkan ASI bagi bayinya di rumah, ASI yang merembes karena payudara penuh, pada bayi yang mempunyai masalah mengisap (misal BBLR=Bayi Berat Lahir Rendah), menghilangkan bendungan atau memacu produksi ASI saat ibu sakit dan tidak dapat langsung menyusui bayinya. Pengeluaran ASI dapat dilakukan dengan dua cara: 1. Pengeluaran ASI dengan tangan Cara ini yang lazim digunakan karena tidak banyak membutuhkan sarana dan lebih mudah. a. b. c. Tangan dicuci sampai bersih Siapkan cangkir/ gelas bertutup yang telah dicuci dengan air mendidih Payudara dikompres dengan kain handuk yang hangat dan dimasase dengan kedua telapak tangan dari pangkal kea rah belakang payudara, ulangi pemijatan ini pada sekitar payudara secara merata d. e. Dengan ibu jari disekitar kalang payudara bagian atas dan jari telunjuk pada sisi yang lain, lalu daerah kalang payudara ditekan kearah dada. Daerah kalang payudara diperas dengan ibu jari dan jari telunjuk, jangan memijat/menekan putting, karena dapat menyebabkan rasa nyeri/lecet.

f. g. 2.

Ulangi tekan-peras-lepas-tekan-peras-lepas, pada mulanya ASI tidak keluar, setelah beberapa kali maka ASI akan keluar. Gerakan ini diulang pada sekitar kalang payudara pada semua sisi, agar yakin bahwa ASI telah diperas dari semua payudara

Pengeluaran dengan pompa Bila payudara bengkak/terbendung (engorgement) dan putting susu terasa nyeri, maka akan lebih baik bila ASI dikeluarkan dengan pompa payudara. Pompa dapat digunakan bila ASI benar-benar penuh, tetapi pada payudara yang lunak akan lebih sukar. Ada 2 macam yang dapat digunakan yaitu pompa tangan dan listrik; yang biasa digunakan adalah pompa tangan. Cara pengeluaran ASI dengan pompa payudara: a. Tekan bola karet untuk mengeluarkan udara. b. Ujung leher tabung diletakkan pada payudara dengan putting susu tepat di tengah, dan tabung benar-benar melekat pada kulit. c. Bola karet dilepas, sehingga putting susu dan kalang payudara tertarik ke dalam. d. Tekan dan lepas beberapa kali, sehingga ASI akan keluar dan terkumpul pada lekukan penampung pada sisi tabung. e. Setelah selesai dipakai atau akan dipakai, maka alat yang harus dicuci bersih dengan menggunakan air mendidih. Bola karet sukar dibersihkan, oleh karenanya bila memungkinkan lebih baik pengeluaran ASI dengan menggunakan tangan.

F. PENYIMPANAN ASI ASI yang dikeluarkan dapat disimpan untuk beberapa saat dengan syarat, bila disimpan: Di udara terbuka/bebas Di lemari es (4C) Di lemari pendingin /beku (-18C) : 6-8 jam : 24 jam : 6 bulan

ASI yang telah didinginkan bila akan dipakai tidak boleh direbus, karena kualitasnya akan menurun yaitubunsur kekebalannya. ASI tersebut cukup didiamkan beberapa saat di dalam suhu kamar, agar tidak terlalu dingin; atau dapat pula direndam di dalam wadah yang telah berisi air panas. Pada penelitian efek pemanasan dengan gelombang mikro (microwave) terbukti bahwa dengan pemanasan yang rendah menurunkan aktivitas lisosim dan Ig A, lebih-lebih pada pemanasan yang tinggi semua aktivitas yang diteliti tidak berfungsi. G. PEMBERIAN ASI PERASAN Perlu diperhatikan pada pemberian ASI yang telah dikeluarkan adalah bagaimana cara pemberiannya pada bayi. Jangan diberikan dengan dot/botol, karena hal ini akan menyebabkan bayi bingung putting. Berikan pada bayi dengan menggunakan cangkir atau sendok, sehingga bila saatnya ibu menyusui langsung, bayi tidak menolak menyusui. Pemberian dengan menggunakan sendok biasanya kurang praktis dibandingkan cangkir, karena membutuhkan waktu yang lebih lama. Namun pada keadaan di mana bayi membutuhkan hanya sedikit ASI, atau bayi sering tersedak/muntah, maka lebih baik bila ASI perasan diberikan dengan menggunkan sendok. Cara pemberian dengan menggunakan cangkir: a. Ibu atau yang member minum bayi duduk dengan memangku bayi.

b. c. d. e.

Pegang punggung bayi dengan lengan. Letakkan cangkir pada bibir bawah bayi. Lidah bayi berada di atas pinggir cangkir dan biarkan bayi menghisap ASI dari dalam cangkir (saat cangkur dimiringkan). Beri sedikit waktu istirahat setiap kali bayi menelan.

Tidak dianjurkan menggunakan empongan (pacifier), karena penggunaan empongan secara rutin (lebih dari 2 jam/hari) akan mengakibatkan masalah laktasi, seperti bayi malas minum dan sebaginya. Penggunaan empongan mempunyai korelasi yang tinggi dengan cepatnya penyapihan.

DAFTAR HADIR PENYULUHAN CARA PEMBERIAN ASI YANG BENAR DI RUANG BAKUNG TIMUR RSUP SANGLAH DENPASAR No. Nama Alamat Tanda tangan

DAFTAR PUSTAKA Soetjiningsih. 1997. ASI Petunjuk Untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta: EGC