Anda di halaman 1dari 5

BEKTI LESTARI 207.121.0042 MENIRAN (Phylanthus niruri L.

) SEBAGAI IMUNOSTIMULATOR MELALUI PENINGKATAN AKTIFITAS MAKROFAG

I.

Rumusan Masalah Kandungan apa saja yang terkandung pada Meniran dan efeknya? Apakah kandungan dari Meniran dapat meningkatkan aktifitas makrofag? Apakah Meniran ini dapat membantu meningkatkan system kekebalan tubuh? Bagaimana cara Meniran bekerja sebagai imunomodulator dalam kaitannya pada aktifitas makrofag?

II. Tujuan Penelitian II. 1. Tujuan Penelitian II.1.1 Tujuan Umum Mengetahui kandungan dari Meniran. Khasiat meniran dalam meningkatkan sistem imun. Pengaruh dan khasiat meniran dalam menyembuhkan berbagai penyakit. Efek yang ditimbulkan dari masing-masing kandungan yang ada pada meniran.

II.1.2. Tujuan Khusus Mengetahui efek yang ditimbulkan dari ekstrak Meniran dalam peningkatan system imun pada mencit.

III. Hipotesis Penelitian


Adapun hipotesis yang diangkat pada penelitian ini adalah

Ho: Pemberian ekstrak ini secara oral dapat mempengaruhi fungsi dan aktivitas komponen sistem imun, di antaranya dalam produksi IFN-y (Interferon-gamma) dan TNF alpha (Tumor necrosis factor-alfa). Ekstrak Meniran pada percobaan mencit dapat memperbanyak jumlah limfosit, meningkatkan toksisitas sel pembunuh kanker (natural killer) dan sintetis antibodi spesifik, sehingga sifat-sifat tersebut di atas akan menguatkan mekanisme pertahanan tubuh terhadap virus maupun sel kanker. H1: Pemberian ekstrak Meniran tidak mempengaruhi aktivitas system imun. Ekstrak Meniran tidak mampu memperbanyak jumlah limfosit, dan meningkatkan toksisitas natural killer cell.

IV. Design / Metode Penelitian IV. 1. Hewan coba Hewan coba yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencit (24 ekor) berumur 4-6 bulan, berat badan 20-25 g. Sebelum digunakan sebagai hewan percobaan, semua mencit dipelihara terlebih dahulu selama kurang lebih satu minggu untuk penyesuaian lingkungan, mengontrol kesehatan dan berat badan serta menyeragamkan makanannya. IV. 2. Bakteri uji Bakteri uji yang digunakan adalah Staphylococcus aureus (SA) yang ditanam pada media agar nutrien miring dan disuspensikan dalam larutan Kaldu pepton. IV. 3. Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Malang. IV. 4. Metode ekstraksi Secara INFUSASI , yaitu metode ekstraksi senyawa kimia atau bagian tanaman (Batang, akar, kulit kayu, atau rimpang), dengan cara mendidihkannya dalam air selama 15 menit.

Alat : Becker glass Erlenmeyer Sendok Gelas ukur Kompor listrik Panci Kertas saring Corong Aluminium foil Refrigerator IV. 5. Prosedur kerja.

Bahan : - Tanaman meniran yang sudah dikeringkan (20 gr) - Aquadest (200 ml)

24 ekor mencit dibagi ke dalam 6 kelompok, sebagai berikut: Kelompok kontrol pertama (Group I) mendapatkan Phytohemaglutinin Kontrol kedua (group II) mendapatkan CMC Na 0,5%. Kontrol ketiga (group III) mendapatkan akuades.

Kelompok perlakuan: Group IV mendapatkan 42 mg ekstrak etanol KC/20 g BB. Group V 84 mg/20 BB Group VI 168 mg/20 g BB

Ekstrak Meniran diberikan sejak hari pertama hingga ketujuh. Pada hari kedelapan, kepada masing-masing mencit diinjeksikan intraperitoneal bakteri Staphylococcus aureus (SA). Aktivitas dan kapasitas sel makrofag dihitung dari sediaan apus cairan peritoneum dengan

menghitung persentase fagosit yang melakukan fagositosis dari 100 fagosit. Kapasitas fagositosis ditetapkan berdasarkan jumlah SA yang difagositosis oleh 50 fagosit aktif.

V. Objek / Subjek Penelitian Pada hari kedelapan, setiap mencit diinfeksi intraperitoneal dengan 0,5 mL suspensi bakteri SA dan dibiarkan selama satu jam. Mencit dieuthanasi dengan eter lalu dibedah perutnya dengan menggunakan gunting bedah dan pinset steril. Cairan peritoneum diambil dengan menggunakan pipet mikro. Cairan peritoneal dipulas pada gelas obyek dan difiksasi dengan metanol selama 5 menit, kemudian diwarnai dengan pewarnaan Giemsa, didiamkan 20 menit, dibilas dengan air mengalir. Setelah sediaan kering, dilihat di bawah mikroskop menggunakan minyak imersi dengan perbesaran (10x100x) dihitung aktivitas dan kapasitas fagositosis makrofag. Aktivitas fagositosis ditetapkan berdasarkan jumlah sel fagosit yang aktif melakukan proses fagositosis dalam 100 sel fagosit. Kapasitas fagositosis ditetapkan berdasarkan jumlah bakteri SA yang difagositosis oleh 50 sel fagosit aktif.

VI. Analisis Data Untuk mengetahui efek yang ditimbulkan dari kandungan Meniran dalam meningkatkan sistem imun melalui mekanismenya yaitu meningkatkan akttifitas fagositosis oleh makrofag. Menurut banyak referensi, seluruh tanaman dan bagian-bagiannya dipakai untuk beragam obat, kebanyakan untuk biliary (berhubungan dengan empedu) dan diuretik (peluruh air seni). Khasiat meniran di antaranya untuk ginjal, batu empedu, hepatitis, masuk angin/pilek, flu, tuberkulosis, dan infeksi virus lainnya. Herba ini secara tradisional dapat digunakan sebagai obat radang ginjal, radang selaput lendir mata, virus hepatitis, peluruh dahak, peluruh haid, ayan, nyeri gigi, sakit kuning, sariawan, antibakteri, kanker, dan infeksi saluran kencing (Anonim, 2005; Mangan, 2003). Dari minyak bijinya telah diidentifikasi beberapa asam lemak yaitu, asam ricinoleat, asam linoleat, dan asam linolenat. Beberapa senyawa lignan baru juga telah diisolasi dari Phyllanthus niruri yaitu, seco-4-hidroksilintetralin, seco-isoarisiresinol trimetil eter,

hidroksinirantin, dibenzilbutirolakton, nirfilin, neolignan (filnirurin) (Yanmedik-DEPKES).

Herba meniran juga mengandung metabolit sekunder plavonoid, terpenoid, alkaloid dan steroid (Kardinan dan Kusuma, 2004). Beberapa hasil penelitian menunjukkan senyawa terpenoid memiliki aktivitas sebagai antibakteri yaitu monoterpenoid linalool, diterpenoid (-) hardwicklic acid, phytol, triterpenoid saponin dan triterpenoid glikosida. (Grayson, 2000; Bigham et al., 2003; Lim et al., 2006; Anonim, 2007; Anonim, 2007)