Anda di halaman 1dari 21

Presentasi Kasus

KATARAK SENILIS MATUR OS KATARAK SENILIS IMATUR OD

DIAJUKAN OLEH :

YUNIKA SARI 1102000121

PEMBIMBING :

Dr. Helmi Muchtar, Sp.M Dr. Junita Shara, Sp.M Dr. Paulus Dwi Mahdi Nugraha, Sp.M

SMF ILMU PENYAKIT MATA RSUD Dr. H. ABDUL MOELOEK

BANDAR LAMPUNG MEI 2006


PRESENTASI KASUS 1. Identitas
-Nama -Umur - Jenis kelamin - Pekerjaan - Alamat - Masuk RSUAM : Tn. H : 53 tahun : Laki-laki : Swasta : Jln. Sukarame. Lampung : 23 Mei 2006

2. Anamnesa
Autoanamnesa, (23 05 - 2006) - Keluhan Utama - Keluhan Tambahan : Penglihatan mata kiri kabur :-

- Riwayat penyakit sekarang Pasien datang dengan keluhan penglihatan mata kiri kabur sejak 1 tahun yang lalu. Penglihatan dirasakan makin lama makin menurun. Awalnya penglihatan kurang jelas, kemudian lama kelamaan hanya dapat melihat dengan jarak yang dekat sekali dan kemudian bertambah buram seperti ada asap yang menghalangi, sehingga aktifitas sehari hari pasien menjadi terganggu. Selama keluhan ini berlangsung, pasien belum pernah berobat ke dokter. Pasien mengaku sebelumnya tidak memakai kacamata, mata tidak merah, tidak ada penyakit seperti kencing manis atau darah tinggi, tidak mengalami trauma ( benturan atau tertusuk ). Penglihatan mata kanan pasien juga mulai kabur sejak 3 bulan yang lalu tetapi tidak sampai mengganggu aktifitas sehari-hari. Karena tidak ada perbaikan, pasien kemudian memutuskan untuk berobat ke RSUAM dan disarankan oleh dokter untuk operasi pada mata kirinya. - Riwayat penyakit dahulu 2

Pasien tidak memiliki riwayat Hipertensi, Paru, DM dan sakit jantung, riwayat trauma disangkal. - Riwayat penyakit keluarga Pasien tidak memiliki riwayat Hipertensi, Paru, DM dan sakit jantung dan tidak ada anggota keluarga lainnya yang menderita sakit seperti ini.

3. Pemeriksaan Fisik
Status Present - Keadaan umum - Kesadaran - Tekanan darah - Nadi - Pernafasan - Suhu Status Generalis - Kepala Bentuk Rambut Mata Telinga Hidung Mulut : Bulat, simetris : Hitam campur uban, lurus, tidak mudah dicabut : Status Oftamologis : Bentuk normal, simetris, liang lapang : Bentuk normal, tidak ada septum deviasi, pernafasan Cuping hidung tidak ada, sekret tidak ada. : Bibir tidak sianosis, lidah tidak kotor, faring tidak hiperemis, Tidak ada perdarahan gusi. - Leher Inspeksi Palpasi JVP : Bentuk simetris, trakea tidak deviasi, kelenjar getah bening tidak membesar. : kelenjar getah bening tidak membesar. : tidak meningkat : Tampak sakit sedang : Compos mentis : 130/80 mmHg : 80 x/menit : 22 x/menit : 36 C

- Toraks PARU Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : Pergerakan nafas kanan-kiri simetris. : Fremitus taktil simetris kanan-kiri : Sonor pada kedua lapang paru : Suara nafas vesikuler pada seluruh lapangan paru, wheezing (-/-), ronkhi (-/-). JANTUNG Inspeksi Palpasi Perkusi : Ictus cordis tidak terlihat. : Ictus cordis tidak teraba : Batas atas sela iga III garis midclavicula sinistra Batas jantung kanan sela iga V garis sternal dextra Batas jantung kiri sela iga V garis midclavicula sinistra. Auskultasi ABDOMEN Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi EKSTREMITAS Superior Inferior : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : Perut datar simetris. : Hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (-) : Timpani. : Bising usus (+) normal. : Bunyi jantung I-II murni, murmur (-).

STATUS OFTALMOLOGIS

Keruh, shadow tes (-)

OCCULUS DEXTRA 6/60 Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Normal Tidak ada kelainan Tidak ditemukan Normal Normal Tenang Tenang Tenang Anikterik Jernih, arcus senilis (+) Sedang Gambaran kripta baik Bulat, sentral, RC (+) Jernih, shadow tes (+) Tidak dilakukan Tidak dilakukan Normal Normal

VISUS KOREKSI SKIASKOPI SENSUS KOLORIS BULBUS OCULI SUPERCILIA PARESE/PARALYSE PALPEBRA SUPERIOR PALPEBRA INFERIOR CONJUNGTIVA PALPEBRA CONJUNGTIVA FORNICES CONJUNGTIVA BULBI SCLERA CORNEA CAMERA OCULI ANTERIOR IRIS PUPIL LENSA FUNDUS REFLEKS CORPUS VITREUM TENSIO OCULI SISTEM CANALIS LACRIMALIS

OCCULUS SINISTRA 1/300 Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Normal Tidak ada kelainan Tidak ditemukan Normal Normal Tenang Tenang Tenang Anikterik Jernih, arcus senilis (+) Sedang Gambaran kripta baik Bulat, sentral, RC (+) Keruh, shadow tes (-) Tidak dilakukan Tidak dilakukan Normal Normal

RESUME
Pasien laki-laki, berusia 53 tahun, datang dengan keluhan penglihatan mata kiri kabur sejak 1 tahun yang lalu. Keluhan dirasakan semakin lama semakin berat dan mengganggu aktifitas. Pada pemeriksaan fisik ditemukan Status generalis Oculi dextra Visus 6/60, bulbus oculi normal, cornea jernih & arcus senilis (+), COA sedang, lensa jernih dan shadow tes (+). Oculi sinistra Visus 1/300, bulbus oculi normal, cornea jernih & arcus senilis (+), COA sedang, lensa keruh dan shadow tes (-). : Dalam batas normal Status oftalmologis :

Diagnosa Kerja
Katarak senilis matur OS Katarak senilis imatur OD

Penatalaksanaan
1. Pro Ekstraksi katarak ektra kapsular ( EKEK ) non IOL OS dengan anastesi lokal 2. Post operasi : - Medikamentosa Amoxycillin 500 mg 3 x 1 Asam mefenamat 250 mg 3 x 1 Dexametason tab 2 x 1 Optixitrol ED 6 x 2 gtt OS Prognosa - Quo ad vitam - Qou ad functionam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

4. Pemeriksaan Persiapan Operasi


1. Darah lengkap, tgl 19-05-2006 Hb Leukosit Hitung jenis LED GDS CT BT SGOT : 11 : 3 : 30 u/l : 48 u/l : 33 mg/dl : 1,0 mg/dl : 13,8 g% : 7.800/ul : 0/2/0/65/28/5 : 5 mm/jam : 87 mg/dl ( 9 15 ) ( 1 7 ) ( 6 30 u/l ) ( 6 45 u/l ) ( 10 40 mg/dl ) ( 0,7 1,3 mg/dl ) ( 13,5 - 18 ) ( 4.500-10.700 )

SGPT Ureum Creatinin

2. Radiologis Ro thoraks : Pulmo dan besar cor normal

Tanggal Subjektive Objektive

24 Mei 2006 Penglihatan kabur terutama mata kiri KU : Baik, compos mentis TD : 130/80 ND : 80x/mnt RR : 20x/mnt T : 36 C OD 6/60 Tenang Jernih, arkus senilis Jernih, shadow test (+) Sedang Bulat, central, RC (+) Pro EKEK non IOL OS OS 1/300 Tenang Jernih, arkus senilis Keruh, shadow test (-) Sedang Bulat, central, RC (+)

St. oftalmologis : - Visus - Konj. Bulbi - Kornea - Lensa - COA - Pupil Keterangan

Laporan Operasi
Tanggal Operator Jenis Operasi Perjalanan operasi : Pasien di atas meja operasi dalam posisi supine Mata kiri diteteskan pantocain 2% sebanyak 2 tetes Dilakukan aseptik dan antiseptik pada mata kiri, kemudian ditutup dengan doek steril Diberi anestesi peribulber dengan lidocain 2% 3,5 cc dan Marcaine 0,5% 1,5 cc Dilakukan massage pada OS Dipasang speculum dan dipasang kendali pada M. Rectus Superior dengan siede 3.0 Dibuat insisi pada limbus superior 160, perdarahan dirawat dengan couter COA di tembus dengan jarum spuit 1 cc pada arah jam 12 Dilakukan kapsulektomi anterior dengan jarum 1cc yang telah dibengkokkan Insisi limbus diperlebar dengan gunting kornea Nucleus lensa dikeluarkan dengan sendok lensa dan muscle hook Dimasukkan cairan isoosmotik kedalam COA Dilakukan aspirasi dan irigasi sisa massa lensa dengan alat SIMCO dan cairan Ringer Laktat Limbus dijahit dengan benang dexon 8.0 Dimasukkan udara ke dalam COA Diberi injeksi gentamycin 20 mg + dexametason 2,5 mg subkonjungtiva Mata diberi salep antibiotic (gentamycin 0,3%) kemudian ditutup kasa steril dan diplester Operasi selesai Anjuran dan keterangan untuk pasien post op : Tidak boleh menundukkan kepala selama 1 bulan Mata kiri tidak boleh kena air selama 1 bulan Dianjurkan tidur terlentang, jika hendak tidur miring, dianjurkan ke arah yang sehat. 8 : : : 24 Mei 2006 dr.H.Helmi Muchtar, Sp.M. EKEK NON IOL OS

Tidak boleh mengangkat benda berat. FOLLOW UP

Tanggal Subjektive Objektive

25 Mei 2006 KU : Baik, compos mentis TD : 130/80 ND : 80x/mnt RR : 20x/mnt SH : 36 C

St. oftalmologis : - Visus - Konj. Bulbi - Kornea - Lensa - COA - Pupil Keterangan Anjuran

OD 6/60

OS 1/60

Tenang Hiperemis Jernih, arkus senilis Jernih, arkus senilis Jernih, shadow test (+) Afakia Sedang Dalam Bulat, central, RC (+) Bulat, central, RC (+) Post op EKEK non IOL OS (Afakia OS) - Tidak boleh menundukkan kepala selama 1 bulan Mata kiri tidak boleh kena air selama 1 bulan Dianjurkan tidur terlentang, jika hendak tidur miring, dianjurkan ke arah yang sehat. Tidak boleh mengangkat benda berat.

Therapi

Amoxycillin 500 mg 3 x 1 Asam mefenamat 250 mg 3 x 1 Dexametason tab 2 x 1 Optixitrol ED 6 x 2 gtt OS

Tanggal Subjektive Objektive

27 Mei 2006 KU : Baik, compos mentis 9

TD : 130/80 ND : 80x/mnt RR : 20x/mnt SH : 36 C St. oftalmologis : - Visus - Konj. Bulbi - Kornea - Lensa - COA - Pupil Keterangan Therapi OD 6/60 Tenang Jernih, arcus senilis Jernih, shadow test (+) Sedang Bulat, central, RC (+) Afakia OS Amoxycillin 500 mg 3 x 1 Asam mefenamat 250 mg 3 x 1 Dexametason tab 2 x 1 Optixitrol ED 6 x 2 gtt OS Pada tanggal 27 Mei 2006, pasien Pulang Atas Persetujuan dokter. OS 1/60 Hiperemis Jernih, arcus senilis Afakia Dalam Bulat, central, RC (+)

KATARAK SENILIS DEFINISI Katarak senilis adalah kekeruhan lensa yang terdapat pada usia diatas 40 tahun. Jenis katarak yang paling sering dijumpai. Kedua mata dapat terlihat dengan derajat kekeruhan yang sama ataupun berbeda. Satu-satunya gejala adalah distorsi penglihatan yang semakin kabur. Katarak memiliki derajat kepadatan yang sangat bervariasi dan dapat disebabkan oleh berbagai hal, tetapi biasanya berkaitan dengan penuaan.

10

Pada katarak senil akan terjadi degenerasi lensa secara perlahan lahan. Tajam penglihatan akan menurun secara berangsur angsur hingga tinggal proyeksi sinar saja. Katarak senil merupakan katarak yang terjadi akibat terjadinya degenerasi serat lensa karena proses penuaan. EPIDEMIOLOGI Penelitian mengidentifikasi adanya katarak pada sekitar 10% pada orang amerika, dan prevalensi ini meningkat sampai sekitar 50% untuk meraka yang berusia antara 65 dan 74 tahun dan sampai sekitar 70% untuk meraka yang berusia lebih dari 75 tahun ETIOLOGI Penyebabnya sampai sekarang belum diketahui secara pasti, diduga terjadi karena : Proses pada nucleus : Oleh karena serabut-serabut yang terbentuk lebih dahulu selalu terdorong kearah tengah, maka serabut-serabut lensa bagian tengah menjadi lebih padat (nukleus), mengalami dehidrasi, penimbunan ion calcium, dan sklerosis. Pada nukleus ini kemudian terjadi penimbunan pigmen. Pada keadaan ini lensa menjadi lebih hipermetrop Proses pada korteks : Timbulnya celah-celah diantara serabut-serabut lensa, yang berisi air dan penimbunan calcium sehingga lensa menjadi lebih padat, lebih cembung dan membengkak, menjadi lebih miop. Kekeruhan lensa dengan nucleus yang mengeras akibat usia lanjut yang biasanya mulai terjadi pada usia lebih dari 60 tahun. Pada katarak senile sebaiknya singkirkan penyakit mata local dan penyakit sistemik seperti diabetes mellitus yang dapat menimbulkan katarak komplikata. Katarak senilis secara klinik dibagi dalan 4 stadium yaitu 1. Stadium insipien 2. Stadium imatur 3. Stadium matur 11

4. Stadium hipermatur Stadium insipien Stadium yang paling dini, yang belum menimbulkan gangguan visus. Dengan koreksi visus dapat menjadi 6/6. Kekeruhan lensa berbentuk bercak bercak kekeruhan yang tidak teratur, kekeruhan terutama terdapat pada bagian perifer berupa bercakbercak seperti baji (jari-jari roda), terutama mengenai korteks anterior, sedang aksis relatif masih jernih. Gambaran inilah yang disebut spokes of a wheel yang nyata bila pupil dilebarkan. Pada stadium yang lanjut baji dapat dilihat pula pada pupil yang normal. Pasien akan mengeluh gangguan penglihatan seperti melihat ganda dengan satu matanya. Pada stadium ini proses degenerasi belum menyerap cairan mata kedalam lensa sehingga akan terlihat bilik mata depan dengan kedalaman yang normal, iris dalam posisi biasa disertai kekeruhan ringan pada lensa. Stadium imatur Kekeruhan belum mengenai seluruh lapisan lensa. Kekeruhan ini terutama terdapat dibagian posterior dan bagian belakang nukleus lensa. Pada stadium ini lensa yang berdegeneratif mulai menyerap cairan mata ke dalam lensa sehingga lensa menjadi cembung. Pada stadium ini terjadi pembengkakan lensa yang disebut katarak intumesen. Pada stadium ini dapat terjadi miopisasi akibat lensa yang cembungf.Akibat lensa yang bengkak, iris terdorong ke depan, bilik mata dangkal, dan sudut bilik mata akan sempit atau tertutup. Keadaan lensa yang mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil, sehingga terjadi glaucoma sekunder. Pada uji bayangan iris atau shadow test akan terlihat bayangan iris pada lensa sehingga shadow test (+). Katarak Matur Pada katarak matur kekeruhan telah mengenai seluruh masa lensa. Kekeruhan ini biasa terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh. Tekanan cairan di dalam lensa sudah seimbang dengan cairan dalam mata sehingga ukuran lensa akan menjadi normal kembali. Bilik mata depan kedalaman normal kembali. Pada uji bayangan iris pada lensa tidak ada atau shadow test (-). Katarak Hipermatur

12

Katarak yang mengalami proses degenerasi lanjut dapat menjadi keras atau lembek dan mencair. Masa lensa berdegerasi keluar dari kapsul lensa sehingga lensa menjadi mengecil, berwarna kuning dan kering. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai dengan kapsul yang tebal maka korteks yang berdegerasi dan cair tidak dapat keluar, maka korteks akan memperlihatkan bentuk sebagai sekantong susu disertai dengan nucleus yang terbenam di dalam korteks lensa karena lebih berat. Keadaan ini disebut sebagai katarak morgagni. Pada stadium ini juga terjadi degenerasi kapsul lensa sehingga bahan lensa atau korteks lensa yang cair keluar dan masuk ke dalam bilik mata depan. Akibat bahan lensa keluar dari kapsul, maka akan timbul reaksi jaringan uvea berupa uveitis. Bahan lensa ini juga dapat menutup jalan keluar cairan bilik mata sehingga menimbulkan glaucoma fakolitik. Pada stadium hipermatur akan terlihat lensa yang lebih kecil dari normal, yang akan mengakibatkan iris tremulans dan bilik mata depan terbuka. Pada uji bayangan iris terlihat positif walaupun seluruh lensa telah keruh sehingga pada stadium ini disebut uji bayangan iris pseudopositif. Bayangan iris yang terbentuk pada kapsul lensa anterior yang telah keruh dengan lensa yang mengecil. Perbedaan stadium katarak senile Kekeruhan Besar lensa Cairan Lensa Insipien Ringan Normal Normal Immatur Sebagian Lebih Besar Bertambah ( Air masuk) Iris Bilik depan Sudut bilik mata Penyulit Visus Bayangan Iris Normal Normal Normal (+) Terdorong Dangkal Sempit Glukoma < (++) Normal Normal Normal << Matur Seluruh Normal Normal Hipermatur Masif Kecil Berkurang (Air + massa lensa keluar) Tremulans Dalam Terbuka Uveitis,glaucoma <<< (+/-)

Pengobatan Katarak Senilis


Tidak ada satupun obat yang dapat diberikan untuk katarak senilis kecuali tindakan bedah. Tindakan bedah dilakukan bila telah ada indikasi bedah pada katarak senilis, seperti: katarak telah menggangu pekerjaan sehari-hari walaupun katarak belum matur, katarak matur karena bila terjadi hipermatur akan menimbulkan penyulit katarak hipermatur yaitu uveitis dan glaucoma, dan katarak telah menimbulkan penyulit glaucoma. Katarak senilis biasanya berkembang lambat selama beberapa tahun. Apabila

13

diindikasikan pembedahan, maka ekstraksi lensa akan memperbaiki ketajaman penglihatan. Persiapan operasi katarak : 1. Tidak ada infeksi disekitar mata seperti keratitis, konjungtivitis, blefaritis, hordeolum dan kalazion 2. Tekanan bola mata normal atau tidak ada glaucoma 3. Keadaan umum harus baik 4. Tidak batuk, terutama pada saat pembedahan 5. Fungsi retina harus baik, yang diperiksa dengan tes proyeksi sinar, dimana penderita dapat menentukan semua arah sinar yang menyinari retina. Pemeriksaan sebelum operasi : 1. Gula darah 2. Tekanan darah 3. Elektrokardiografi 4. Pernafasan 5. Riwayat alergi obat 6. Pemeriksaan rutin medik lainnya dan bila perlu konsultasi untuk keadaan fisik prabedah 7. Tekanan bola mata 8. Uji Anel 9. Uji Ultrasonografi sken A untuk mengukur panjang bola mata.Pada pasien tertentu kadang kadang terdapat perbedaan lensa yang harus ditanam pada kedua mata. Dengan cara ini dapat ditentukan ukuran lensa yang akan ditanam untuk mendapatkan kekuatan refraksi pascabedah.

14

10. Kelengkungan kornea dapat menentukan kekuatan lensa intraokular yang akan ditanam. Keratometri yaitu mengukur kelengkungan kornea dan bersama pemeriksaan Ultrasonografi dapat menentukan kekuatan lensa yang akan ditanam. Bedah katarak senilis dibedakan dalam bentuk ekstraksi lensa

intrakapsular dan ekstraksi lensa ekstrakapsular

Ekstraksi Lensa Intrakapsular


Mengeluarkan lensa secara bersama-sama dengan kapsul lensa. Penyulit pada saat pembedahan yang dapat terjadi adalah : 1. Kapsul lensa pecah sehingga lensa tidak dapa dikeluarkan bersama-sama kapsulnya. Pada keadaan ini terjadi ekstraksi lensa ekstrakapsular tanpa rencana karena kapsul posterior akan tertinggal 2. Prolap badan kaca pada saat lensa dikeluarkan

Ekstraksi Lensa Ekstrakapsular


Dilakukan dengan merobek kapsul anterior lensa dan mengeluarkan nucleus lensa dan korteks. Katarak ekstraksi ekstrakapsular dilakukan pada katarak senile bila tidak mungkin dilakukan intrakapsular misal pada keadaan terdapatnya banyak sinekia posterior bekas suatu uveitis sehingga bila kapsul ditarik akan mengakibatkan penarikan kepada iris yang akan menimbulkan perdarahan. Ekstrakapsular sering dianjurkan pada katarak dengan myopia tinggi untuk mencegah mengalirnya badan kaca yang cair keluar, dengan meninggalkan kapsul kapsul posterior untuk menahannya. Pada saat ini ekstrakapsular lebih dianjurkan pada katarak senile untuk mencegah degenerasi macula pasca bedah. Penyulit yang mungkin timbul pada waktu melakukan operasi katarak adalah : 1. Perdarahan 2. Prolaps iris 15

3. Prolaps badan siliar Penyulit yang timbul setelah operasi adalah : 1. Pada hari pertama dapat timbul peradangan 2. Udara yang dimasukkan untuk membentuk COA masuk ke belakang iris sehingga COA menjadi dangkal 3. Prolaps iris 4. Ablasi retina apabila prolaps ini dibiarkan pada hari ke 4 5 dapat menyebabkan COA dangkal. 5. Sesudah prolaps iris, bila dibiarkan pada hari ke 4 5, dapat menyebabkan COA dangkal, kemudian dapat timbul ablasi retina, alibat badan siliar ke depan.

Fakofragmentasi dan fakoemulsifikasi


Dengan irigasi atau aspirasi (atau keduanya) adalah teknik ekstrakapsular yang menggunakan getaran getaran ultrasonic untuk mengangkat nucleus dan korteks melalui insisi limbus yang kecil (mm) sehingga mempermudah penyembuhan luka pasca operasi. Pada perjalanan katarak dapat terjadi penyulit. Yang tersering adalah glaukoma, yang terjadi karena proses : a. Fakotopik Berdasarkan kedudukan lensa, iris terdorong kedepan, sudut coa dangkal, aliran coa tak lancar sedang produksi terus berlangsung, sehingga tekanan intraokuler meninggi dan menimbulkan glaukoma. b. Fakolitik 1. Lensa yang keruh, jika kapsulnya menjadi rusak, substansi lensa yang keluar akan diresorbsi oleh serbukan fagosit atau makrofag yang banyak di COA dan menyebabkan glaukoma. 2. Penyumbatan dapat terjadi pula oleh substansi lensa sendiri yang menumpuk disudut COA, terutama bagian kapsul lensa. c Fakotoksik

16

Substansi lensa di COA merupakan zat yang toksis bagi mata (protein asing) sehingga terjadi reaksi alergi dan timbulah uveitis. Uveitis ini dapat menyebabkan glaukoma.

Penglihatan setelah pembedahan katarak :


Bila lensa yang keruh telah dikeluarkan maka diperlukan lensa pengganti untuk memusatkan sinar ke dalam mata. Diperlukan nasihat medis mengenai cara memperbaiki penglihatan setelah lensa dikeluarkan. Jenis lensa pengganti dapat dengan lensa afakik atau kacamata yang terletak didepan mata; lensa kontak, lensa yang menempel pada mata; lensa intraokular, yaitu lensa yang ditanamkan pada mata. Pada mata yang telah dikeluarkan lensanya akibat katarak akan mengalami mata tidak dapat melihat dekat atau berakomodasi. Untuk menentukan pilihan apa yang direncanakan sebagai pengganti lensa mata dengan katarak maka sebaiknya dibicarakan dengan dokter pembedah sebelum dilakukannya pembedahan. Semua keuntungan dan kerugian pemakaian lensa ini sebaiknya diketahui sebelum pembedahan katarak. Kacamata pascabedah Sebelum tahun 1960 dipergunakan lensa katarak (afakik) setelah bedah katarak. Kacamata ini sangat sederhana, aman dipergunakan dan tidak mahal. Memakai kacamata ini memerlukan penyesuaian dahulu akibat dari sifat lensa yang memperbesar bayangan 30 %. Penglihatan seakan- akan melihat dekat. Kaca mata yang tebal ini memberi efek seakan akan melihat melalui corong sehingga untuk melihat ke samping diperlukan mengarahkan kepala ke arah benda yang dilihat. Bila satu mata normal sedang mata yang sebelahnya telah dibelah katarak maka kacamata yang dipergunakan akan membingungkan akibat pembesaran benda yang dilihat mata sebelahnya. Didalam hal ini kacamata afakik masih lebih tebal dibandingkan kacamata biasanya. Kacamata ini akan sangat tebal dan berat. Bahan plastik dapat dipergunakan untuk mengurangi berat kacamata. Lensa kontak pascabedah Lensa kontak dengan ukuran tertentu dapat dipergunakan sebagai pengganti lensa mata untuk melihat jauh. Lensa kontak akan mengapung pada

17

permukaan selaput bening, sehingga akan mengurangi beberapa keluhan yang terdapat pada pemakaian kacamata katarak. Mempergunakan lensa kontak akan memberikan beberapa kesukaran, seperti : penyimpanan yang selamanya harus bersih, steril pemakaiannya, menyimpan lensa dalam keadaan bersih. Semua hal ini sukar bagi lansia untuk mebuka secara bersih. Sering orang yang telah lanjut usia disertai pula dengan parkinson, tremor, arthritis sehingga pemakaian lensa kontak akan menjadi sukar. Pada keadaan tertentu tidak dapat dipergunakan seperti pada mata sakit, merah, berair,dan silau. Lensa kontak lembut pakai lama yang dapat dipakai selama 12 jam ataupun 2 4 minggu. Lensa kontak sebagai lensa pengganti setelah katarak dikeluarkan akan lebih bermanfaat untuk penglihatan akan tetapi pemasangannya pada mata orang usia lanjut akan mendapat kesukaran. Lensa tanam intraokular Biasanya setelah lensa dikeluarkan maka ditanam lensa pengganti ke dalam mata. Lensa ini dinamakan lensa tanam intraokular. Pada waktu belakangan ini dipergunakan lensa yang ditanamkan ke dalam mata sebagai pengganti lensa mata yang keruh pada bedah katarak. Pemasangan lensa dalam mata ini akan memberikan beberapa keuntungan, seperti : tidak perlu dibersihkan karena dimasukkan ke dalam mata dilakukan hanya satu kali pada saat pembedahan segera dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan karena lensa intraokular menggantikan kedudukan lensa katarak yang dikeluarkan. Pemasangan lensa intraokular tidak dianjurkan pada : 1. Anak yang terlalu kecil (dibawah 3 tahun) 2. Uveitis menahun 3. Retinopati diabetik proliferatif berat 4. Glaukoma neovaskular Perbandingan pemakaian lensa koreksi setelah pembedahan Luas pandangan Pembesaran benda Benda melengkung Pemakaian 24 jam/hari Lensa tanam Penuh Normal Tidak Ya Lensa kontak Penuh 7 10 % tidak tidak Kacamata Terbatas 25 30 % ya tidak 18

Lihat serentak 2 mata Penglihatan kedalaman Kerja berdebu Dipasang Penyulit pemakaian Pasien tremor Habilitasi peglihatan Aman pakai Penampilan wajah

Ya 85 % dapat saat bedah tidak ada dapat segera sedang tidak berubah

kadang 50 % tidak dapat saat kerja harus bersih tidak dapat 2 bulan kurang biasa

tidak 30 % tidak dapat saat kerja berat sukar 2 bulan baik kacamata tebal

Pada pasien yang telah mengalami pembedahan katarak selain diperlukan lensa pengganti seperti kacamata katarak, lensa kontak, atau lensa intraokular yang ditanamkan masih diperlukan kacamata untuk melihat dekat karena mata ini tidak mempunyai daya akomodasi.

Perawatan pascabedah
Segera setelah pembedahan, pasien akan diberi obat untuk : Mengurangi rasa sakit Antibiotik mencegah infeksi Mata ditutup dengan pelindung Obat tetes mata steroid, untuk mengurangi reaksi radang akibat tindakan bedah Obat tetes yang mengandung antibiotik Mata akan ditutup atau dibebat paling lama 1 minggu. Untuk mendapatkan kacamata pascabedah sebaiknya menunggu 8 minggu. Terdapat beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Hal yang boleh dilakukan setelah pembedahan : Memakai dan meneteskan obat seperti yang dianjurkan Pakai penutup mata seperti yang dinasihatkan Melakukan pekerjaan yang tidak berat Jangan menggosok mata

Selanjutnya -

Hal yang jangan dilakukan : -

19

Jangan bungkuk terlalu dalam Jangan menggendong yang berat Jangan membaca berlebih-lebihan dari pada biasanya Jangan mengedan keras sewaktu buang air besar Jangan berbaring ke sisi mata yang baru dibedaH Jangan sampai terkena air

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas S. Katarak dalam ilmu penyakit mata, Edisi II, Cetakan ke-1. Balai penerbit FKUI,Jakarta,2002. Hal 212 215. 2. Ilyas S. Katarak dalam penuntun ilmu penyakit mata, Edisi ke-2, Cetakan ulang 2003. balai penerbit FKUI, Jakarta,2003. Hal 133-137. 3. Ilyas S, Mailangkung, H.B.B Taim H, Saman R. Katarak dalam ilmu penyakit mata untuk dokter umum dan mahasiswa kedoktera. Edisi II, Cetakan pertama.Penerbit C.V. Sagung Seto, Jakarta 2002. Hal 148 152. 4. Vaughan D, Ashbury T, Riodan P.lensa dalam Ofthalmologi umum. Edisi 14, Cetakan I. Penerbit Klidya Medika 2000. Hal 177.

20

5. Nana wijaya. Katarak dalam ilmu penyakit mata, Cetakan ke 6.Hal 192-211. 6. Ilyas S. Katarak(Lensa mata keruh), Cetakan ke-2. Balai penerbit FKUI,Jakarta,1999.

21