Anda di halaman 1dari 10

VARIASI KASUS PENGANIAYAAN YANG MENGAKIBATKAN KEMATIAN YANG DIKIRIM KE INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK RS. DR.

SARDJITO YOGYAKARTA PERIODE JANUARI 2004 DESEMBER 2004


Doddy Afprianto. 2Soegandhi. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Fakultas Kedokteran
1

Intisari: Banyaknya kasus penganiayaan yang mengakibatkan kematian yang terjadi di Indonesia membutuhkan otopsi agar dapat mengetahui sebab kematian dan variasi benda yang dipakai untuk menganiaya. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil data dari hasil Visum et Repertum di Instalasi Kedokteran Forensik RS. Dr.Sardjito Yogayakarta sebagai sampel dalam penelitian. Pendahuluan Dengan meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia yang memadati seluruh daerah yang ada meningkat pula tindak kejahatan antar penduduk seperti penganiayaan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh perekonomian rata rata penduduk yang minim membuat persaingan untuk hidup terus meningkat.Dalam tindak penganiayaan yang terjadi tidak sedikit yang menyebabkan hilangnya nyawa sesesorang. Kasus ini merupakan kasus lama yang sering terjadi dengan berbagai alasan, dari berbagai aspek agama, sosial, budaya dan ekonomi..Hal-hal yang menjadi penyebab kematian pada kasus penganiayaan adalah tusukan benda tajam, pukulan benda keras, jeratan di leher, dan keracunan. Ilmu kedokteran forensik sebagai salah satu komponen kriminalistik mempelajari hal ikhwal manusia atau organnya dalam kaitannya dengan peristiwa kejahatan dalam hal ini yang menyebabkan kematian. Pemeriksaan sebab-sebab kematian sangat diperlukan untuk menentukan peristiwa apa yang sebenarnya telah terjadi. Tujuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat gambaran kasus kematian karena penganiayaan, juga untuk dapat mengetahui tentang variasi penganiayaan dan sebab-sebab kematian karena penganiayaan yang diotopsi di Instalasi Kedokteran Forensik di RS. DR. Sardjito periode 2004. Hasil penelitian ini bagi Ilmu Kedokteran Forensik diharapkan dapat memberikan informasi yang berkaitan dengan variasi penganiayaan dan penyebab kematian Dibutuhkan dokumen yang dapat menceritakan tentang terjadinya tindak pidana yang menyebabkan luka, terganggunya kesehatan dan juga matinya korban, yang dapat menjadi bukti yang kemudian diusut dalam waktu yang lain. Dokumen yang dimaksud adalah Visum et Repertum (Waluyadi, 2000). Visum et repertum dibuat dan dibutuhkan di dalam kerangka upaya penegakan hukum dan keadilan. Tujuan dari Visum et Repertum adalah sebagai pembuktian mengenai telah terjadinya suatu tindak pidana, yang selanjutnya kejadian tersebut oleh dokter berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukannya. Otopsi yang dilakukan terhadap korban meninggal yang kematiannya dianggap tidak wajar oleh penyidik dikenal sebagai otopsi forensik. Yang mengatur

KUHP yang bersangkutan dengan Bab XX( tentang penganiayaan ), terutama pasal 351 dan pasal 352. Menurut proses terjadinya, kematian dibedakan atas kematian wajar dan kematian tidak wajar. Peristiwa kekerasan sering menimbulkan keadaan fatal pada tubuh yang menyebabkan kematian, baik langsung seperti perdarahan, asfiksi, kerusakan organ, emboli udara, dan inhibisi vagal maupun melalui komplikasi yang timbul akibat kefatalan tersebut. Benda tumpul bila mengenai tubuh dapat menyebabkan luka, yaitu luka lecet, memar, dan luka robek atau luka terbuka. Luka akibat benda tajam pada umumnya mudah dibedakan dari luka yang disebabkan oleh benda tumpul dan dari luka akibat tembakan senjata api. Pada kematian yang disebabkan oleh benda tajam, walaupun tetap harus dipikirkan kemungkinan karena kecelakaan; tetapi pada umumnya karena suatu peristiwa pembunuhan atau peristiwa bunuh diri, Kecepatan proses kematian tergantung pada kecepatan dan jumlah perdarahannya. Metode Penelitian Rancangan penelitian ini dilakukan secara retrospektif dengan data diambil dari Visum et ` Repertum kasus penganiayaan yang mengakibatkan kematian di Instalasi Kedokteran Forensik RS. DR. Sardjito periode 2004.Penelitian ini mempergunakan rancangan penelitian observasional deskriptif, yang diambil dengan melihat data sekunder dari hasil penelitian dokter forensik yang tertuang dalam hasil Visum et Repertum di Instalasi Kedokteran Forensik RS. DR. Sardjito periode bulan Januari 2004 Desember 2004. Data kualitatif tersebut diolah dalam bentuk tabel dan di deskripsikan dalam bentuk data kuantitatif. Hasil Penelitian Dalam kurun waktu satu tahun yaitu terhitung sejak Januari 2004 sampai dengan Desember 2004 laporan kejadian penganiayaan yang masuk di Instalasi Kedokteran Forensik RS. DR. Sardjito didapatkan sejumlah 49 kasus yang keseluruhannya dilakukan otopsi atas permintaan penyidik. TABEL 1. Jenis pemeriksaan yang dilakukan terhadap korban yang meninggal karena penganiayaan di Instalasi Kedokteran Forensik RS. Dr. Sardjito periode tahun 2004. Jenis pemeriksaan Luar Dalam Luar TOTAL Tahun 2004 Jumlah 20 29 49 % 40,8 59,2 100

Dari 49 kasus yang masuk selama periode tahun 2004 yang dilakukan pemeriksaan Luar saja yaitu sebesar 29 kasus (59,2%). Sedangkan yang dilakukan pemeriksaan luar dan dalam sebesar 20 kasus (40,8%). Hal ini disebabkan karena

sedikitnya permintaan pemeriksaan penunjang dari pihak penyidik yang dimungkinkan tidak adanya persetujuan dari pihak keluarga korban untuk dilakukannya pemeriksan dalam . TABEL 2. Variasi jenis benda yang dipakai untuk melakukan tindak penganiayaan yang menyebabkan kematian hasil otopsi tahun 2004 Variasi benda Bulan Jml % Jml February % Jml Maret % Jml April % Jml Mei % Jml Juni % Jml Juli % Jml Agustus % Jml September % Jml Oktober % Jml November % Jml Desember % Jml TOTAL % Januari 1 33,3 3 50 1 33,3 3 50 3 75 3 50 4 57,1 1 20 1 33,3 3 60 23 46,9 1 50 1 33,3 2 66,7 1 16,7 1 25 1 16,7 1 14,3 2 40 10 20,4 Benda Tumpul Benda Tajam Penekanan dinding pernafasan 1 50 1 33,3 1 16,7 1 16,7 2 33,3 2 28,6 2 40 2 66,7 2 40 14 28,6

Racun 1 16,7 1 16,7 2 4,1

Jumlah 2 100 3 100 5 100 3 100 6 100 4 100 6 100 7 100 5 100 3 100 5 100 49 100

Dari variasi penganiayaan yang digunakan yang dapat diungkap dari otopsi forensik di Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Dr. Sardjito periode tahun 2004 variasi cara penganiayaan terbanyak adalah dengan benda tumpul yaitu 23 kasus (46,9%). Dalam penganiayaan dengan benda tumpul kemungkinan maksud dari penganiayaan yang dilakukan tidak untuk menghilangkan nyawa korban, tetapi

awalnya hanya bermaksud untuk menyakiti korban. Penganiayaan dengan benda tumpul dapat mengakibatkan perdarahan dalam rongga tubuh yang berakibat fatal sehingga dapat dengan mudah berakibat kematian (Satyanegara,1998). Penyebab kematian karena penekanan dinding pernafasan yang meliputi penjeratan, pencekikan, pembekapan merupakan cara penganiayaan terbanyak setelah dengan benda tumpul yaitu sebesar 14 kasus (28,6%). Kemudiaan cara penganiayaan dengan benda tajam sebanyak 10 kasus (20,4 %). Penganiayaan dengan racun sebesar 2 kasus (4,1%)

TABEL 3. Distribusi penyebab kematian hasil otopsi forensik tahun 2004 Penyebab kematian Bulan Januari February Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml

Perdarahan 1 50 2 66,7 3 60 2 66,7 4 66,7 3 75 4 66,7 3 42,9 2 40 -

Asfiksia 1 50 1 33,3 2 40 1 33,3 2 33,3 1 25 2 33,3 4 57,1 3 60 3

Jumlah 2 100 3 100 5 100 3 100 6 100 4 100 6 100 7 100 5 100 3

Desember TOTAL

% Jml % Jml %

2 40 26 53,1

100 3 60 23 46,9

100 5 100 49 100

Dari pemeriksaan otopsi forensik di Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Dr. Sardjito periode tahun 2004 Perdarahan merupakan penyebab kematian terbanyak sebesar 26 kasus (53,1%). Karena kecepatan proses kematian tergantung pada kecepatan dan jumlah perdarahannya (Hadikusumo, 1997). Perdarahan merupakan salah satu penyebab kematian yang sifatnya bisa perdarahan keluar tubuh atau perdarahan dalam tubuh (Chada, 1995). Sedangkan penyebab kematian yang kedua adalah asfiksi yaitu sebesar 23 kasus (46,9 %). TABEL 4. Variasi jenis lokasi perdarahan sebagai penyebab kematian hasil otopsi tahun 2004. Lokasi Perdarahan Bulan Januari February Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml 1 100 2 66,7 1 50 3 75 2 66,7 3 75 2 66,7 1 50 2 2 100 1 50 1 33,3 1 25 1 33,3 1 50 1 33,3 1 25 1 100 2 100 3 100 2 100 4 100 3 100 4 100 3 100 2 100 2

Kepala

Dada

Perut

J umlah

Total

% Jml %

100 17 65,4

7 26,9

2 7,7

100 26 100

Perdarahan rongga kepala merupakan jenis perdarahan terbanyak sebagai penyebab kematian yaitu 17 kasus (65,4%) dari hasil pemeriksaan otopsi forensik di Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Dr. Sardjito periode tahun 2004. Dikarenakan banyak orang berfikir bahwa dengan menganiaya kepala akan lebih mudah untuk melumpuhkan korban. Kemudian jenis perdarahan dada 7 kasus (26,9%), perdarahan perut 2 kasus (7,7%). TABEL 5. Jenis penyebab asfiksi sebagai penyebab kematian dari hasil otopsi tahun 2004. Jenis Asfiksi Mekanik Bulan Januari February Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Total Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % 1 100 1 100 1 50 1 100 1 50 1 100 2 100 4 100 3 100 3 100 3 100 21 91,3 1 50 1 50 2 8,7 1 100 1 100 2 100 1 100 2 100 1 100 2 100 4 100 3 100 100 3 100 23 100 Racun Jumlah

Jenis asfiksi terbanyak sebagai penyebab kematian adalah asfiksi mekanik yaitu sebesar 21 kasus (91,3%). Dikatakan oleh Purwadianto, dkk (1981) bahwa asfiksi mekanik merupakan jenis asfiksi yang sering ditemukan sebagai penyebab kematian. Jenis asfiksi lainnya yang diketemukan pada penelitian ini adalah asfiksi karena racun sebesar 2 kasus (8,7 %). TABEL 6. Prosentasi korban penganiayaan menurut jenis kelamin dari hasil otopsi tahun 2004 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan TOTAL Tahun 2004 Jumlah 35 14 49 % 71,4 28,6 100

Korban penganiayaan terbanyak dari hasil pemeriksaan otopsi forensik di Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Dr. Sardjito periode tahun 2004 adalah berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 35 orang (71,4%). Indonesia secara umum masih menganut system patriarki dalam system pembedaan gender memungkinkan aktifitas kaum laki yang relative lebih tinggi dari kaum wanita. Hal ini menyebabkan laki laki lebih banyak mengalami konflik hubungan dengan sesama. Namun hal tersebut bukanlah satu-satunya faktor dalam permasalahan ini. Masalah sosial seperti stress bisa memacu seseorang untuk melakukan tindak pidana penganiayaan baik sebagai tersangka maupun korban. Sedangkan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 14 orang (28,6%). TABEL 7. Prosentasi korban penganiayaan menurut kelompok umur dari hasil otopsi tahun 2004 Umur < 15 16 20 21 29 30 45 46 64 65 > TOTAL Tahun 2004 Jumlah 7 3 12 18 6 3 49 % 14,3 6,1 24,5 36,7 12,2 6,1 100

Dari segi kelompok umur, korban terbanyak adalah kelompok umur 30 45 tahun yaitu sebesar 18 kasus (36,7%) dari seluruh kelompok umur. Hal ini dimungkinkan karena pada kelompok umur tersebut banyak terjadi konflik kehidupan seperti terjadi konflik pada pekerjaan, rumah tangga, dan lingkungan. Pada kelompok

umur ini banyak kebutuhan yang harus dipenuhi dan hal ini menyebabkan kerentanan yang lebih tinggi terhadap adanya masalah dalam hubungan antar personal dan komunikasi sosial. Dari pengelompokan umur ini urutan selanjutnya adalah kelompok umur 21 29 tahun yaitu 12 kasus (24,5%), karena konflik sosial yang cukup kompleks sering terjadi pada umur ini, dan hal tersebut membawa resiko terjadinya konflik. Urutan selanjutnya adalah kelompok umur < 15 tahun yaitu 7 kasus (14,3%), dari kelompok umur 46 64 tahun sebesar 6 kasus (12,2%), sedangkan dari kelompok umur 16 20 tahun dan kelompok umur 65> sebesar 3 kasus (6,1%). TABEL 8. Jumlah korban meninggal karena penganiayaan berdasarkan distribusi geografis pengirim barang bukti tahun 2004 Wilayah Sleman Bantul Kodya Yogyakarta Gunungkidul Lain-lain TOTAL Tahun 2004 Jumlah 17 8 16 3 5 49 % 34,7 16,3 32,6 6,1 10,3 100

Melihat dari letak geografis berdasarkan penelitian dalam kurun waktu 1 tahun didapatkan bahwa pengirim barang bukti yang terbanyak adalah dari kabupaten Sleman dengan 17 kasus (34,7%) hal ini dimungkinkan karena Kabupaten Sleman merupakan daerah dengan tingkat mobilitas sosial, ekonomi, dan politik yang relative lebih tinggi juga jumlah penduduk yang terbanyak dibandingkan dengan daerah yang lain. Konflik horizontal dimungkinkan dari sebab-sebab diatas karena masing-masing orang akan beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ada dan sebagian akan menempuh segala cara. Melihat dari hasil penelitian diatas maka peringkat seterusnya berdasarkan distribusi geografis pengirim adalah Kodya yogyakarta dengan 16 kasus (32,6%), dari Kabupaten Bantul sebanyak 8 kasus (16,3%), dari Kabupaten Gunung Kidul dengan 3 kasus (6,1%), dari luar Yogyakarta dengan 5 kasus (10,3%). Kesimpulan Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tedapat 49 kasus penganiayaan yang dikirim ke Instalasi Kedokteran Forensik RS. Dr. Sardjito periode tahun 2004, yang dapat diungkap penyebab kematian dan variasi cara penganiayaan. Dilakukan pemeriksaan Luar 29 kasus (59,2%) dan dalam 20 kasus (40,8%). Variasi benda yang digunakan untuk tindak penganiayaan terbanyak dengan benda tumpul 23 kasus (46,9%), penekanan dinding pernafasan 14 kasus (28,6%), benda tajam 10 kasus (20,4%), racun sebesar 2 kasus (4,1%). Dari pemeriksaan perdarahan merupakan penyebab kematian terbanyak sebesar 26 kasus (53,1%), asfiksi 23 kasus (46,9%).

Jenis perdarahan kepala sebesar 17 kasus (65,4%), dada 7 kasus (26,9%), perut 2 kasus (7,7%). Jenis asfiksi terbanyak sebagai penyebab kematian adalah asfiksi mekanik yaitu sebesar 21 kasus (91,3%), asfiksi karena racun sebesar 2 kasus (8,7%). Korban penganiayaan berjenis kelamin laki-laki 35 orang (71,4%), perempuan 14 orang (28,6%). Dari pengelompokan umur, 30 45 tahun 18 kasus (36,7%), 21 29 tahun 12 kasus (24,5%), <15 tahun 7 kasus (14,3%), 46 64 tahun 6 kasus (12,2%), 16 20 tahun dan 65> 3 kasus (6,1%). Pengiriman barang bukti dari kabupaten Sleman 17 kasus (34,7%), Kodya Yogyakarta 16 kasus (32,6%), Kabupaten Bantul 8 kasus (16,3%), Kabupaten Gunung Kidul 3 kasus (6,1%), luar Yogyakarta 5 kasus (10,3%). Saran Diwaktu mendatang diperlukan koordinasi antara penyidik dan maasyarakat serta pihak terkait dalam upaya memberikan pertolongan dengan cepat dan benar terhadap korban penganiayaan yang mungkin masih bisa diselamatkan, sehingga angka kematian karena penganiayaan dapat berkurang. Kajian - kajian media masa akan lebih menentukan pembentukan sikap seseorang yang melihatnya. Oleh karena itu format media masa yang lebih mendidik diperlukan secara mendesak. Perlunya dikembangkan kembali kegiatan yang berhubungan dengan keamanan dan ketertiban masyarakat guna terciptanya situasi yang aman dan kondusif sehingga tingkat kejahatan dapat berkurang melalui operasi pekat yang perlu ditingkatkan dan melalui penyuluhan oleh aparat terkait, pemuka agama dan tokoh masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Anonim, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana dan Penjelasannya, Yayasan Pelita, Jakarta, 1982. Chada, P. V., Ilmu Forensik dan Toksikologi, Edisi Bahasa V, Widya Medika, Jakarta, 1995. Courville, 1954, Forensic Aspects of Trauma to The Central Nervous System and Its Membranes, In: Gradwohl, R.B.H., Legal Medicine, The C.V. Mosby Company, St. Louis. Gonzales, Vance, Helperm, Umberger, 1954, Legal Medicine Pathology and Toxicologi, 2nded, Appleton Century-Crofts,Inc, New York. Hadikusumo, Nawawi, Dr., DSPF, Kuliah Ilmu Kedokteran Forensik, Fakultas Kedokteran UGM, Fakultas Kedokteran UMY, 1997. Idries, A.M., 1997, Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik, Edisi Pertama, Binarupa Aksara, Jakarta.

Knight, B., 1996, Forensic Pathology, 2nd ed., Oxford University Press, Inc., New York. Lazarov, I., 1992, Current Reasons for Death After Mechanical Damages, In: Sawaguchi, T. ( editor ), Causality and Non-causality, Forensic Press, Tokyo. Mason, J. K., Forensic Medicine for Lawyers, 2nd ed., English Language Book Society, Edinburgh, 1988. Messmer, J.M., Massive Head Trauma as a Cause of Intravascular Air, Journal of Forensic Sciences, JFSCA, Vol. 29, No.2, April 1984. Moritz, A.R., Moris, R.C., Hirch, C.S., 1975, Handbook of Legal Medicine, 4th ed., The C.V. Mosby Company, Cleveland, Ohio. Moore, K.L., 1992, Clinically Oriented Anatomy, 3th ed., Williams and wilkins, Baltimore. Purwadianto, A., Sampurna, B., Herkutanto, Kristal-kristal Ilmu Kedokteran Forensik, Cetakan I, Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FK UI/LK UI, Jakarta, 1981. Simpson. K., 1988, Forensic Medicine, 9th ed., The English Language Book Society and Edward Arnold Ltd., London. Sjamsuhidajat, R., Wim de Jong, 1997, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, Jakarta. Soegandhi, R., Pedoman Pemeriksaan Jenazah Forensik dan Kesimpulan Visum et Repertum di RSUP Sardjito, Bagian IKK FK-UGM, Yogyakarta, 1997.

10