Seni Memahami Akuntansi

ANDA pernah membaca laporan keuangan? Pahamkah Anda? Atau Anda malah merasa hampa karena sulit mencerna konsepnya? Jangankan orang awam seperti Anda, mahasiswa akuntansi pun, banyak juga yang merasa sulit memahami laporan keuangan. Cukup aneh bukan?! Masa awal berkembangnya, akuntansi adalah sebuah kerajinan (art). Sekarang, akuntansi tidak layak lagi disebut kerajinan, apalagi pembukuan. Akuntansi lebih kompleks dari sekadar estetika. Yang dimaksud seni dalam akuntansi adalah cara menerapkannya. Hal ini diungkapkan penulis buku Teori Akuntansi – Perekayasaan Pelaporan Keuangan, Suwardjono (2005:12). Beliau juga dikenal sebagai Bapak Istilah Tata Bahasa Akuntansi di Indonesia. Barangkali karena kompleksnya itu, akuntansi makin sulit dipahami. Melihat buku teks kuliah saja mahasiswa kadang sudah ngeri. Bisa jadi bahasa ragam ilmiah yang dipakai terasa kurang membumi. Apalagi membaca buku teks kuliah hasil terjemahan. Bahasa ilmiahnya semakin awut-awutan. Memang, mahasiswa harusnya membiasakan diri membaca buku teks. Namun, semua itu membuat mahasiswa menjadi bosan. Akibatnya, mahasiswa beralih kegiatan lain yang lebih mengasyikkan sebagai pelarian. Mulai sir-siran (pacaran) sampai cangkru’an (nongkrong). Mulai bal-balan (sepak bola) sampai multiplayeran (game). Semuanya dilakukan tanpa beban. Malahan jadi kebutuhan karena sudah ketagihan. Karena itu, mahasiswa jadi makin malas membaca (yang semula memang tidak suka membaca). Jika malas membaca bagaimana bisa berpikir (menghitung)? Dosen manapun pasti susah mengajar mahasiswa yang tidak suka membaca. Orang Jawa bilang seperti nguyai segara (menabur garam di lautan). Dosen akan merasakan suasana belajar mengajar yang siasia. Tanpa gairah! Kadang, dosen “memaksa” mahasiswa membaca sebelum kuliah. Karena “dipaksa” membaca, mahasiswa cenderung menghafal. Alasannya pun bermacam-macam. Salah satunya takut “dihukum” bila gagal menjawab soal kuis. Baik kuis yang mencongak maupun yang tertulis. Terlalu seringnya menghafal, otak mahasiswa makin tidak kreatif. Pola pikir mahasiswa jadi monoton. Bak mesin penjawab telpon. Bila menjawab soal-soal ujian, selalu pakai cara instan. Memang nilai ujiannya lumayan. Namun, bukan nilai hasil terobosan pemikiran (kebanyakan hasil contekan). Jangan heran, ketika lulus nanti mahasiswa ada yang melebarkan sayap. Artinya, bekerja di luar disiplin ilmunya. Mahasiswa merasa tidak pede lagi memakai ilmu akuntansi. “Saya

Teman kuliah saya yang punya bisnis warung berkata lain. munculah buku komik Cara Mudah Menyajikan dan Memahami Laporan Keuangan Neraca Lajur (2004). Kadang kita tidak pernah sadar faedah kegiatan membaca. Fransisko sendiri orang manajemen (keuangan). Ini seakan menjadi angin segar mahasiswa di tengah penatnya buku teks ilmiah. Ia bekerja sebagai staf akunting perusahaan swasta dan ilustrator majalah. dasar semua pendidikan adalah membaca. kita harus paham dulu meja seperti apa yang ingin dibuat. Yang penting mahasiswa jangan berhenti membaca. sangat kreatif dan inspiratif. baru kita bisa memasang bagiannya satu persatu. “Setelah lulus nanti. Ia berhasil melukiskan siklus akuntansi melalui rangkaian gambar ilustrasi. buku komik akuntansi Nikolaus Fransisko menjadi alternatif di tengah kepenatan buku teks ilmiah. . Imajinasinya memudahkan mahasiswa menyelami neraca lajur yang luas itu. Bakatnya dalam bidang disain. Nicolaus Fransisko –si penulis komik. mengerti ayat jurnal penyesuaian. Meski demikian. Selama ini. Menyusun neraca lajur. dan logika (halaman 4). Bagi saya. Setidaknya. Ia memberikan 3 kunci: memahami item-item neraca dan rugi-laba. “Setelah lulus nanti. mana mungkin lahir sebuah teori akuntansi yang baru?). di bawahnya ada kata “KOMIK”. “Ini Bukan Teks Book (textbook)!” Terus. kedua ilmu itu masih serumpun. Karena itu. Berkah Tersamar Di sebuah toko buku. Bukan murni orang akuntansi. saya menjumpai buku akuntansi yang unik. saya akan mengabdi pada suami saja” (Kalau suasana akademisnya begini terus. banyak mahasiswa akuntansi “tenggelam” karena tidak paham. Kemudian. Sebab. ada teman kuliah cewek bilang.tidak ada bayangan sama sekali untuk jadi seorang akuntan. kita bisa coba ragam bahasa yang lain. Keduanya di tulis dengan huruf kapital warna merah tebal (78 halaman). Otak kanannya yang imajinatif mampu berpacu dengan otak kirinya yang logis matematis. seperti tukang kayu yang membuat meja. Mengapa ini bisa terjadi? Salah pilih jurusan? Jangan buru-buru memvonis diri dulu! Bila masalahnya sulit memahami bahasa ragam ilmiah. Karena ia sering didesak teman yang ingin belajar neraca lajur. Di sampul depannya. kata Fransisko.” kata teman kuliah yang juga seorang musisi. ada tulisan melingkar mirip cetakan st empel. saya akan fokus mengembangkan kerajaan bisnis keluarga”. Bagian meja mana yang harus dibuat dulu. membuatnya berhasil mengawinkan hobi dan pekerjaan sekaligus. Lucunya.

hanya dimengerti diri sendiri. kita harus belajar dari mereka. enak dibaca dan perlu. Sumber: www. yang dalam bab-bab awalnya bercerita tentang detik-detik menegangkan ujian sidang tesis. Sorbonne. Kalau kita baca semua novel tetralogi Laskar Pelangi (2005)-nya. Uang di Kantong Stetoskop Dokter). setengah serius (misalnya.Novelis Andrea Hirata pun demikian.duniaakuntansi. perdebatan sengit antara kaum klasik dan moneter dalam buku ketiga tetralogi Laskar Pelangi. Dan. sekarang sudah dibukukan. buku kedua tetraloginya. Edensor (2007:129-136). terkesan ruwet. lucu dan indah. bagaimana menulis buku yang ringan. dan panjang-lebar tidak jelas kemana juntrungannya. 2020.com . ia kembali sukses menceritakan bagaimana model transfer pricing. yang menulis kata pengantarnya. ia berhasil melukiskan ilmu ekonomi dengan kalimat metafora nakal. Misalnya. terutama orang awam. Tiongkok Nomor Satu). Saya sepakat dengan Ibu Mari Elka Pangestu. Belum lagi tulisan-tulisan Dahlan Iskan tentang masalah ekonomi dan pembangunan. Membikin Indah Wajah Kota). Menteri Perdagangan RI 2009-2014 itu menilai tema tulisan-tulisan Pak Dahlan bervariasi (halaman vi). Mulai dari yang serius (misalnya. terlampau teknis. Sepertinya. apa salahnya kita menggunakan alternatif bahasa ragam sastra dan jurnalistik? Ini bukan berarti menggeser peranan bahasa ragam ilmiah akuntansi yang masih “diluruskan” Pak Suwardjono. mudah memahami laporan keuangan. dan tak terjebak pada buku teks ilmiah yang kering kerontang. ditutup oleh Maryamah Karpov (2008). Yang menurut Wahyu Wibowo dalam buku Berani Menulis Artikel: Babakan Baru Kiat Menulis Artikel untuk Media Massa Cetak (2006:133). proposal tesisnya guna merebut tiket Beasiswa Uni Eropa ke Universite de Paris. Kumpulan tulisan beliau dalam bentuk catatan ringan di koran harian Jawa Pos itu. Salah satunya berjudul Pelajaran dari Tiongkok (2008). Bila sekadar memahami substansi laporan keuangan. sampai ia berhasil lulus menyenangkan (cum laude) sebagai master of (economics) science (halaman 17-29). buku terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi. Sehingga mahasiswa. yang juga sarjana economics science tamatan Fakultas Ekononomi Universitas Indonesia. Bukan terpaku kaku pada ragam bahasa ilmiah. Prancis (halaman 254). hingga unik (misalnya. Melalui Sang Pemimpi (2006).