Anda di halaman 1dari 10

EFEKTIVITAS STRATEGI FORMASI REGU TEMBAK TERHADAP KEMAMPUAN APRESIASI NASKAH DRAMA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI

2 SEI BAMBAN TAHUN PEMBELAJARAN 2009/2010 BESLINA AFRIANI SIAGIAN

ABSTRAK Strategi formasi regu tembak merupakan salah satu dari 101 strategi pembelajaran aktif (active learning). Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang diperoleh oleh anak didik sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. pembelajaran aktif, strategi formasi regu tembak dirancang dengan menampilkan pasangan secara bergilir dalam formasi dua barisan berhadapan. Kata kunci : efektivitas ,strategi formasi regu tembak terhadap kemampuan apresiasi naskah drama. PENDAHULUAN Efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti mempunyai nilai efektif, pengaruh atau akibat, bisa diartikan sebagai kegiatan yang bisa memberikan hasil yang memuaskan, dapat dikatakan juga bahwa efektivitas merupakan keterkaitan antara tujuan dan hasil yang dinyatakan dan menunjukan derajat kesesuaian antara tujuan yang dinyatakan dengan hasil yang dicapai. Depdiknas (KBBI, 2002: 284) mengungkapkan bahwa kata efektivitas berasal dari kata dasar efektif yang mendapat penambahan akhiran as yang artinya ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya). Lebih lengkap lagi Depdiknas (KBBI, 2005: 284) memuat, Efektivitas: keefektivan adalah (1) keadaan berpengaruh, hal berkesan; (2) kemanjuran; kemujaraban (tentang obat); (3) keberhasilan (tentang usaha, tindakan), kemangkusan; (4) hal mulai berlakunya (tentang undang-undang, peraturan). Sedangkan Mulyasa (2002: 250) mengatakan: 1. efektivitas adalah bagaimana suatu organisasi berhasil mendapatkan dan memanfaatkan sumber daya dalam usaha mewujudkan tujuan operasional, dan 2. efektivitas adalah adanya kesesuaian antara orang yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang dituju.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa efektivitas adalah pengaruh suatu hal dalam mencapai suatu tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan untuk menuju keberhasilan.

Hakikat Strategi Pembelajaran Kata "strategi" pada mulanya sangat akrab di kalangan militer. Kata ini secara

etimologis berasal dari kata majemuk bahasa Yunani yaitu strategos yang berarti pasukan dan aegin yang berarti memimpin. Secara umum kata strategis yang dipergunakan di kalangan militer sering diartikan sebagai seni memenangkan perang melawan musuh dengan pemanfaatan kekuatan yang dimiliki secara maksimal. Namun, pada akhirnya kata tersebut tidak hanya dipergunakan untuk kepentingan militer saja tetapi berkembang ke berbagai bidang yang berbeda seperti strategi bisnis, olahraga (misalnya sepak bola dan tenis), catur, ekonomi, pemasaran, perdagangan, manajemen strategi, strategi pembelajaran, dan lain-lain. Oleh karena perkembangan tersebut, strategi dapat diartikan sebagai rencana jangka panjang dengan diikuti tindakan-tindakan yang ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu yang umumnya adalah kemenangan. Memahami pengertian tersebut, maka strategi identik dengan teknik atau siasat yang dilakukan untuk mencapai kemenangan. Pengertian tersebut akan semakin meluas apabila berubah menjadi strategi pembelajaran. Oleh karena itu, apabila kata strategi digabungkan dengan kata pembelajaran menjadi strategi pembelajaran, maka pengertiannya akan meluas menjadi suatu cara atau seperangkat cara atau jalan yang dilakukan dan ditempuh oleh seorang guru atau murid dalam melakukan upaya terjadinya suatu perubahan tingkah laku atau sikap. Hal itu senada dengan pendapat Sanjaya (2008: 126) yang mengemukakan, Strategi pembelajaran adalah perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Berkaitan dengan hal di atas, Kemp (1995) dalam Sanjaya (2008: 126) menyatakan, Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dan dari sumber yang sama, Dick and Carey (1985) menyebutkan, Strategi pembelajaran itu adalah satu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa. Sedangkan Sagala (2009: 222) mengemukakan, Strategi bila diartikan dalam belajar mengajar disebut sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan murid dalam

perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu upaya yang dilakukan, baik berupa kegiatan, perencanaan, maupun tindakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Hakikat Strategi Pembelajaran Formasi Regu Tembak Strategi formasi regu tembak merupakan salah satu strategi dari 101 cara atau

strategi yang digunakan dalam pembelajaran aktif (active learning). Pembelajaran aktif (active learning) pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimulus dan respon anak didik dalam pembelajaran sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan dan tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka. Pemberian metode pembelajaran aktif pada anak didik dapat membantu ingatan mereka. Hal itu dapat menghantarkan mereka kepada tujuan pembelajaran dengan sukses. Hal ini kurang diperhatikan pada pembelajaran konvensional. Ada banyak strategi yang dapat digunakan dalam menerapkan active learning (pembelajaran aktif), salah satunya adalah strategi formasi regu tembak. Strategi formasi regu tembak merupakan strategi pembelajaran yang dirancang dengan menampilkan pasangan secara bergilir dalam formasi dua barisan berhadapan. Melalui formasi tersebut, siswa dituntut untuk mengapresiasi sebuah naskah drama dalam regu masing-masing dan menembakkan pemikiran-pemikirannya kepada regu tembak lawan. Dengan cara demikian, siswa dituntut untuk mampu berbagi pengetahuan mengenai apresiasi naskah drama melalui forum diskusi yang dibentuk pada regu masing-masing. Setelah itu, siswa diinstruksikan untuk menembakkan hasil apresiasi tersebut dengan regu lawan dalam formasi regu tembak yang diciptakan dengan menampilkan pasangan secara bergilir. Oleh karena itu, dengan alur pembelajaran seperti itu siswa diharapkan mampu mendapatkan dan mengolah

pengetahuannya melalui siswa yang berbeda dan pengetahuan yang berbeda sehingga terjadilah transfer pengetahuan antarsiswa dalam satu kelas. Maka melalui strategi tersebut, siswa diharapkan mampu meningkatkan kemampuan apresiasi naskah drama.

Strategi formasi regu tembak merupakan salah satu strategi pembelajaran yang bertujuan untuk partisipasi siswa. Strategi ini dirancang untuk mengatasi kesulitan siswa dalam memahami suatu masalah dan dapat membantu hal-hal penting yang sulit dilupakan

siswa sehingga lebih ingat dengan pelajaran yang telah disampaikan. Dan kriteria ini akan membantu siswa untuk mengingat konsep drama dan unsur-unsurnya yang merupakan pembelajaran yang baru bagi mereka. Strategi formasi regu tembak akan mengajak siswa untuk dapat menyampaikan pendapatnya tentang suatu konsep melalui kegiatan permainan. Melalui strategi ini diharapkan pembelajaran apresiasi naskah drama menjadi menyenangkan dan lama bertahan dalam ingatan siswa.

Langkah-Langkah Strategi Pembelajaran Formasi Regu Tembak Silberman (2006: 223) mengatakan bahwa strategi formasi regu tembak memiliki

beberapa prosedur atau tata cara, yaitu sebagai berikut. a. Tetapkan tujuan Anda untuk menggunakan regu tembak. Berikut ini adalah contohnya bila yang menjadi tujuan Anda adalah pengembangan kemampuan: 1. Siswa dapat menguji atau melatih satu sama lain. 2. Siswa dapat melakonkan (mendramatisasi) situasi yang diberikan kepada mereka. 3. Siswa dapat mengajar satu sama lain. Kita juga dapat menggunakan strategi ini untuk situasi lain. Berikut ini adalah beberapa contohnya: 1. Siswa dapat mewawancarai temannya untuk mengetahui pendapat dan pandangannya. 2. Siswa dapat mendiskusikan kutipan atau naskah pendek. a. Susunlah kursi dalam formasi dua baris berhadapan. Sediakan kursi yang cukup untuk seluruh siswa di kelas. b. Pisahkan kursi-kursi menjadi sejumlah regu beranggotakan tiga hingga lima siswa pada tiap sisi atau deret. c. Bagikan pada tiap siswa x sebuah kartu berisi sebuah tugas atau pekerjaan yang akan dia mintakan untuk dijawab oleh siswa y yang duduk berhadapan dengannya, misalnya sebuah pertanyaan tes (misalnya, tanyakan kepada siswa yang duduk di hadapanmu, Apa rumus untuk .....?).

Berikan kartu yang berbeda untuk tiap anggota x dari sebuah regu. Mulailah tugas pertama. Dalam waktu yang tidak begitu lama, umumkan bahwa sekaranglah waktunya bagi siswa y untuk berpindah satu kursi di sebelah kirinya di dalam regunya. Jangan merotasi atau memindahkan siswa x. Perintahkan siswa x untuk menembakkan tugas atau pertanyaannya kepada siswa y yang duduk di hadapannya. Lanjutkan dengan jumlah babak sesuai dengan jumlah tugas yang Anda berikan. Oleh karena itu di bawah ini akan disajikan langkah-langkah pembelajaran strategi formasi regu tembak dalam meningkatkan kemampuan apresiasi naskah drama, yaitu sebagai berikut. a. Menentukan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi dasar. b. Menjelaskan materi drama dan unsur-unsurnya secara lengkap. c. Membagikan sebuah naskah drama sebagai bahan apresiasi. d. Membagi kelas menjadi empat regu yang beranggotakan enam orang dalam satu regu. e. Menentukan regu penanya (yang terdiri dari 6 orang perkelompok) yang akan memberikan stimulus dan regu penjawab yang akan memberikan respon. f. Membentuk kursi-kursi dalam dua baris yang berhadapan membentuk formasi regu tembak dan mengusahakan kursi tersebut cukup untuk semua peserta didik di kelas seperti formasi di bawah ini.

g. Mendistribusikan kepada setiap regu sebuah kartu kosong (kartu pertanuntuk regu penanya dan kartu jawaban untuk regu penjawab).

h. Memberi waktu kepada setiap regu mengapresiasi naskah tersebut dalam diskusi. Meski guru telah menentukan kelompok penanya dan penjawab, namun semua siswa tetap harus menguasai semua unsur yang terdapat dalam naskah tersebut. i. Mendistribusikan kepada setiap peserta didik X sebuah kartu yang berisi tugas dimana dia akan menginstruksikan kepada setiap peserta didik Y yang di hadapannya untuk merespon atau menjawab. Format kartu yang dimaksud adalah sebagai berikut. KARTU PERTANYAAN (siswa X) Nama Pertanyaan : : KARTU JAWABAN (siswa Y) Nama Jawaban : :

KARTU PERTANYAAN

KARTU JAWABAN

Pertanyaan tes yang digunakan seputar pertanyaan berikut. 1. Jelaskan tema yang terdapat dalam drama! 2. Jelaskan amanat yang terdapat dalam drama! 3. Jelaskan tokoh-tokoh dengan penokohan yang terdapat dalam naskah drama! 4. Jelaskan latar dalam drama! 5. Jelaskan alur yang terdapat dalam drama! 6. Jelaskan dialog yang terdapat dalam drama! j. Memulai tugas pertama. Setelah jangka waktu yang singkat, memerintahkan siswa X untuk memberikan tugas atau pertanyaan kepada siswa Y yang duduk di hadapannya, lalu meneruskan untuk sebanyak mungkin tugas berbeda yang telah disiapkan. Format ini tidak lagi mengunggulkan hasil kerja kelompok melainkan bagaimana setiap siswa mempertahankan bagian masing-masing. k. Selain itu, strategi ini dapat divariasikan dengan menukar peran antarkelompok. Ketentuannya adalah bahwa setiap siswa harus berani mempertahankan bagian masing-masing sesuai dengan pemahaman yang telah didapatkan dalam diskusi kelompok. Artinya, siswa penanya harus mengarahkan pertanyaannya kepada siswa penjawab, sebaliknya siswa penjawab juga harus berani mempertahankan jawabannya.

Kartu pertanyaan dan jawaban tersebut digunakan agar siswa semakin termotivasi untuk mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya agar tidak kalah melawan regu lain. Oleh karena itu, melalui kartu itu siswa diharapkan dapat memahami materi yang diajarkan. Dengan adanya pertanyaan dalam kartu tersebut maka anggota kelompok akan berusaha menjawab pertanyaan yang diajukan oleh lawan sehingga siswa dapat menguasai pelajaran dengan lebih baik dan dapat meningkatkan hasil belajar. Kelebihan Strategi Pembelajaran Formasi Regu Tembak Silberman (2006: 13-15) mengungkap beberapa kelebihan strategi formasi regu tembak yang akan dijelaskan dalam pemaparan berikut. 1) Membantu siswa lebih mengenal satu sama lain atau menciptakan semangat kerja sama dan saling ketergantungan. 2) Membantu proses belajar secara langsung sehingga menimbulkan minat awal terhadap pelajaran. 3) Membantu siswa mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara aktif. 4) Menstimulus siswa dalam dialog dan debat tentang persoalan-persoalan utama. 5) Menjadikan Belajar Tak Terlupakan. 6) Membantu siswa dalam menyampaikan pikiran, perasaan, dan persoalan yang dihadapi. Kelemahan Strategi Pembelajaran Formasi Regu Tembak Selain memiliki kelebihan, strategi pembelajaran formasi regu tembak juga memiliki kelemahan, yaitu sebagai berikut. 1) Strategi formasi regu tembak hanya menjadi kumpulan kegembiraan dan permainan semata atau hanya sekedar bersenang-senang. 2) Strategi formasi regu tembak hanya berfokus pada aktivitas itu sendiri sampai-sampai siswa tidak memahami apa yang mereka pelajari. 3) Banyaknya waktu yang dihabiskan dalam strategi pembelajaran formasi regu tembak.

Hakikat Strategi Pembelajaran Inkuiri Strategi pembelajaran inkuiri adalah strategi pembelajaran yang menuntut siswa untuk belajar melibatkan keaktifan dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip sedangkan

guru berperan mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri. Menurut Sanjaya (2006: 196), Strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Lebih jelas lagi, Dimyati (2004: 173) mengungkapkan mengenai strategi pembelajaran inkuiri, yaitu sebagai berikut. Strategi inkuiri merupakan pengajaran yang mengharuskan siswa mengolah pesan sehingga memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai. Dalam model inkuiri siswa dirancang untuk terlibat melakukan inkuiri. Model pengajaran inkuiri merupakan pengajaran yang terpusat pada siswa. Dalam pengajaran ini siswa menjadi aktif belajar. Tujuan utama model inkuiri adalah mengembangkan keterampilan intelektual, berpikir kritis, dan mampu memecahkan masalah secara ilmiah. Tekanan utama pembelajaran dengan pendekatan inkuiri menurut Nurhadi (2004: 122) adalah: 1) Pengembangan kemampuan berpikir individual lewat penelitian; 2) Peningkatan kemampuan mempraktikkan metode dan teknik penelitian; 3) Latihan keterampilan intelektual khusus yang sesuai dengan cabang ilmu tertentu; 4) Latihan menemukan sesuatu seperti belajar bagaimana belajar sesuatu. Berdasarkan pendapat di atas, tekanan utama pembelajaran dengan pendekatan inkuiri menuntut siswa berpikir individual lewat penelitian, mampu mempraktikkan metode dan teknik penelitian dan mampu menemukan sesuatu seperti belajar bagaimana belajar sesuatu.

KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan , maka dapat disimpulkan bahwa: Strategi formasi regu tembak merupakan salah satu dari 101 strategi pembelajaran aktif (active learning). Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang diperoleh oleh anak didik sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Sebagai bagian dari pembelajaran aktif, strategi formasi regu tembak dirancang dengan menampilkan pasangan secara bergilir dalam formasi dua barisan berhadapan. Strategi pembelajaran ini menuntut siswa mampu berbagi pengetahuan mengenai materi yang

disajikan melalui forum diskusi yang dibentuk pada regu masing-masing. Hal itu dilakukan dengan memberi waktu pada setiap siswa untuk berdiskusi dalam regu tersebut mengenai suatu materi. Setelah itu, siswa dalam regu tersebut berpencar untuk mengambil pasangan masing-masing dari regu lawan dan kemudian membentuk formasi dua barisan berhadapan seperti formasi regu tembak. Kemudian, setiap siswa diinstruksikan untuk menembakkan hasil diskusi dari regu masing-masing terhadap regu lawan melalui sebuah pertanyaan maupun jawaban. Setiap siswa harus berperan sesuai dengan peranan masing-masing, baik sebagai penanya maupun sebagai penjawab. Kedua peran itu diaplikasikan melalui sebuah kartu yang berisi jawaban maupun pertanyaan. Oleh karena itu, dengan alur pembelajaran seperti itu siswa diharapkan mampu mendapatkan dan mengolah pengetahuan dengan siswa yang berbeda dan pengetahuan yang berbeda pula. Dengan demikian, terjadilah transfer pengetahuan antarsiswa dalam satu kelas. Mengapresiasi naskah drama merupakan salah satu pembelajaran sastra di Sekolah Menengah Pertama, tepatnya di kelas VIII semester ganjil. Melalui pembelajaran ini siswa diharapkan mampu menentukan unsur-unsur intrinsik naskah drama, mampu menganalisis naskah drama berdasarkan unsur-unsur tersebut serta mampu menganalisis keterkaitan antarunsur intrinsik dalam naskah drama. Apresiasi adalah penghargaan atau penilaian terhadap karya sastra berdasarkan pemahaman yang jelas, sadar, dan kritis untuk menumbuhkan pengertian yang mengandung nilai dalam kehidupan. Seseorang yang dikatakan berhasil mengapresiasi adalah seseorang yang mampu memberi penilaian sendiri terhadap sebuah karya tersebut. Sesuai dengan keterangan di atas dapat diketahui bahwa agar dapat memberi penilaian terhadap sebuah karya, seseorang harus mengenal karya itu dengan baik dan bertindak dengan seadil-adilnya terhadap karya tersebut agar dapat memberi penghargaan yang setimpal. Oleh karena itu, pengenalan terhadap karya tersebut dapat ditempuh melalui diskusi dengan orang yang berbeda dan dengan tingkat pengetahuan yang berbeda. Maka, melalui penelitian ini diharapkan agar nilai apresiasi naskah drama dapat ditingkatkan dengan strategi pembelajaran formasi regu tembak.

DAFTAR PUSTAKA Agustien, dkk. 2006. Buku Pintar Bahasa dan Sastra Indonesia. Semarang: Aneka Ilmu. Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Asmah H. J. 1988. Kemampuan Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Bandung: Rineka Cipta. Bahruddin, dkk. 2006. Kamus Pintar Plus Bahasa Indonesia. Bandung: Espilon Grup. Chaer, A. 2007. Kajian Bahasa; Struktur Internal, Pemakaian dan Pemelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. ------------,2008. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Bandung: Yrama Widya. Effendi, S. 2003. Bimbingan Apresiasi Puisi. Ende: Nusa Indah. Esten, Mursal. 2000. Kesusasteraan Pengantar Teori dan Sejarah. Bandung: Angkasa. Fuadi, D. S. 2005. Ringkasan dan Bank Soal Bahasa Indonesia. Bandung: Yrama Widya. http://mgmpbhsjawapo.blogspot.com/ http://www.google.co.id/search?hl=id&source=hp&q=model+pembelajaran+aktif+%28active +learning%29&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq= Mulyasa, E. 2002. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara. Omar. 1998. Metodologi Research. Yogyakarta: Fakultas Psikologi. Prasmadji. 1984. Teknik Menyutradarai Drama Konvensional. Jakarta: Balai Pustaka. Rumadi, A. 1991. Kumpulan Drama Remaja. Jakarta: PT. Grasindo. Sagala, S. 2009. Konsep dan Metode Pembelajaran. Bandung: Penerbit Alfabeta. San, S. 2004. Telaah Drama; Konsep Teori dan Kajian. Medan: Media Persada. Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standard Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. -------------------, 2008. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Silberman, M. L. 2004. Active Learning, 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Penerbit Nuansa dan Nusa Media. Sudijono, Anas. 2004. Pengantar Statistika Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Bandung: PT. Tarsito. Sumardjo, Jakob dan Saini KM. 1994. Apresiasi Kesusasteraan. Jakarta: Gramedia. Waluyo, J. Herman. 2001. Drama dan Teori Pengkajiannya. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya.