Anda di halaman 1dari 16

KAD

Definisi kegawatan di bidang endokrinologi yang di tandai oleh trias (hiperglikemia, asidosis, dan ketosis) Etiologi (faktor pencetus) 1. Infeksi (pneumonia, ISPA, meningitis, pankreatitis akut) 2. AMI 3. Penggunaan obat steroid 4. Trauma 5. Menghentikan / mengurangi dosis insulin 6. Kelainan endokrin (hipertiroid, sindrom cushing)

PATOFISIOLOGI KAD KEKURANGAN INSULIN HIPERGLIKEMI peningkatan lipolisis peningkatan Asam lemak bebas GLUKOSURIA peningkatan ketogenesis peningkatan ketogenemia OSMOTIK DIURESIS asidosis Dehidrasi & kehilangan elektrolit peningkatan ketonuria

Manifestasi klinik
1. polidipsi, poiuria dan kelemahan 2. Anoreksia, mual, muntah, dan nyeri perut yang di sebabkan oleh ketonemia 3. Pernafasan kussmaul sbg kompensasi dari asidosis metabolik 4. Secara neurologis, 20 % penderita tanpa perubahan sensoris. 10 % penderita tjd koma.

Pemeriksaan
1. 2. 3. 4. 5. Turgor kulit Respirasi Kussmaul Takikardia Hipotensi Perubahan status mental 6. Syok, dan koma

Terapi
1. 2. 3. 4. Cairan Insulin Kalium Bikarbonat

Terapi
1. Cairan NaCl 0,9% NaCl 0,45% Pemasangan CVP 1-2 liter dalam jam pertama 4-14 ml/kgBB/jam

Dextrose 5%, dextrose 5% pada NaCl 0,9%, dextrose 5% pada NaCl 0,45%

Terapi

2. Insulin I. Diberikan setelah syok teratasi dan resusitasi cairan dimulai. II. Gunakan rapid (regular) Insulin secara intravena dengan dosis insulin antara 0,05 -0,1 U/kgBB/jam. Bolus insulin tidak perlu diberikan III. Penurunan kadar gula secara bertahap tidak lebih cepat dari 3. 75 100 mg/dl/jam. IV. Insulin intravena dihentikan dan asupan per oral dimulai apabila secara metabolik sudah stabil (kadar biknat> 15 mEq/q/L, q/L, gula darah <200 mg/dl, pH > 7.3). Sebelum insulin dihentikan asupan per oral diberikan dengan menambah dosis insulin sebagai berikut : a) Untuk makan ringan dosis insulin digandakan 2 kali selama makan sampai 30 menit setelah selesai. b) Untuk makan besar dosis insulin digandakan 3 kali selama makan sampai 60 menit setelah selesai. V. Selanjutnya insulin regular diberikan secara subkutan dengan dosis 0,5-1 U/kgBB/hari dibagi 4 dosis atau untuk pasien lama dapat digunakan dosis sebelumnya. VI. Untuk terapi insulin selanjutnya dirujuk ke dokter ahli endokrinologi anak.

Terapi
3 Kalium
K plasma 3-4 meq KCl 26 meq/jam

< 3 meq
< 5-6 meq > 6 meq

39 meq/jam
10 meq/jam STOP

Terapi
4. Bikarbonat Diperlukan bila pH darah kurang dari 7,0

100 meq bikarbonat + 20 meq KCl 20-40 menit

Pencegahan DM

Primer
Sekunder Tersier

upaya yang ditujukan pada kelompok yang memiliki faktor risiko, yakni mereka yang belum terkena, tetapi berpotensi untuk mendapat DM dan kelompok intoleransi glukosa Penurunan BB, diet sehat, latihan jasmani,berhenti merokok

Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat timbulnya penyulit pada pasien yang telah menderita DM Non-farmakologi & farmakologi

Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok penyandang diabetes yang telah mengalami penyulit dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut.

Pencegahan DM tipe 2
Pencegahan primer : Upaya yang ditujukan pada kelompok yang memiliki faktor risiko, yakni mereka yang belum terkena, tetapi berpotensi untuk mendapat DM dan kelompok intoleransi glukosa Penyuluhan tentang penurunan BB, diet sehat, latihan jasmani,berhenti merokok

Lanjutan
Pencegahan sekunder : Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat timbulnya komplikasi pada pasien yang telah menderita DM Penyuluhan tentang pengobatan secara non-farmakologi, farmakologi, deteksi dini DM

Pencegahan tersier : Lanjutan

Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok penyandang diabetes yang telah mengalami komplikasi(akut ataupun kronis) untuk mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut.
Upaya rehabilitasi pada pasien sebelum kecacatan menetap Penyuluhan juga sangat dibutuhkan untuk meningkatkan motivasi pasien untuk mengendalikan penyakit DM. (universitas sumatera utara, diabetes melitus)

Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006

Pencegahan KAD
Faktor pencetus utama KAD ialah pemberian dosis insulin yang kurang memadai dan kejadian infeksi.

Pada beberapa kasus, kejadian tersebut dapat dicegah dengan akses pada system pelayanan kesehatan lebih baik dan komunikasi efektif terutama pada saat penyandang DM mengalami sakit akut (misalnya batuk pilek, diare, demam, luka).

Lanjutan
Pasien DM harus didorong agar teratur melakukan pemantauan kadar glukosa darah dan keton urin sendiri. Di sinilah pentingnya edukator diabetes yang dapat membantu pasien dan keluarga, terutama pada keadaan sulit.
Misnadiarly, 2006, Diabetes Mellitus: Gangren, Ulcer, Infeksi. Mengenal Gejala, Menanggulangi, dan Mencegah Komplikasi, Pustaka Populer Obor, Jakarta.

Prognosis
Prognosis baik selama terapi adekuat dan selama tidak ada penyakit lain yang fatal (sepsis, syok septik, infark miokard akut, thrombosis serebral, dll).

Soewondo P, 2006, Ketoasidosis Diabetik, Dalam: Buku Ajar Penyakit Dalam