Anda di halaman 1dari 11

SISTEM KAPITALIS DUNIA DALAM MENYEBABKAN TINGGINYA ANGKA PEKERJA ANAK DI BAWAH UMUR di PAKISTAN

CAPITALISM WORLD SYSTEM in GENERATING HIGH NUMBERS UNDERAGE CHILD LABOUR in PAKISTAN

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh: Deta Malatasya Andani NIM 110910101001

JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS JEMBER 2013

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kajian utama dalam ilmu Hubungan Internasional telah berubah seiring dengan berkembangnya pola hubungan negara yang terjadi di dunia. Pada abad ke-19 pola hubungan antar negara yang amsih didominasi oleh perang menyebabkan pusat perhatian dalam ilmu Hubungan Internasional juga mengarah pada negara. Oleh karenanya teori-teori awal yang berkembang dalam Hubungan Internasional melihat negara sebagai aktor utama dalam hubungan internasional seperti internasionalisme dan realisme. Namun seiring dengan dinamika sosial yang terjadi pada masyarakat dunia, pola hubungan antar negara yang pada mulanya hanya berkisar pada tindakan perang mulai berubah menjadi pola hubungan yang lebih kooperatif. Berbagai tindakan destruktif yang dilakukan oleh negara dianggap tidak dapat menyelesaikan persoalan yang dialami oleh dunia internasional yaitu mengenai masalah perdamaian. Tindakan-tindakan yang bersifat kooperatif dianggap lebih mampu untuk mencapai perdamaian yang diinginkan oleh semua negara di dunia. Maka kemudian berkembanglah teori-teori dalam Hubungan Internasional yang tidak lagi menjadikan negara sebagai pusat analisisnya, tetapi lebih mengkhusukan analisisnya pada entitas-entitas yang lebih kecil dari negara, yang dapat berupa individu atau kelompok-kelompok. Pergeseran kajian utama dalam Hubungan Intenasional ini dikarenakan mulai tumbuhnya pemahaman mengenai perdamaian yang ingin dicapai oleh seluruh negara. Johan Galtung telah memberikan definisi yang berbeda mengenai positive peace dan juga negative peace. Menurutnya positive peace menggambarkan keseragaman dari berbagai kondisi yang diinginkan oleh pemikiran dan juga oleh masyarakat, seperti harmoni, keadilan, kesamarataan, dan

lain-lain. Sementara itu negative peace menggambarkan tidak adanya perang dan berbagai bentuk kekerasan konflik kemanusiaan dalam skala besar1. Pada awal studi Hubungan Internasional dapat dikatakan bahwa pemahaman perdamaian lebih dominan pada negative peace dari pada positive peace karena kategori perdamaian hanya dilihat dari tidak adanya perang di dunia internasional. Pada masa ini, perang masih dianggap sebagai cara yang paling efektif untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul antar negara dan juga masih kuatnya keinginan untuk memperluas wilayah negara sebagai warisan dari kehidupan zaman sebelum terbentuknya negara. Pada masa ini negara-negara di dunia masih dapat dikatakan sebagai negara yang baru, sehingga permasalahan utama yang harus dihadapi adalah mengenai keamanan dalam negerinya. Setelah terjadinya Perang Dunia I dan juga Perang Dunia II yang memberikan banyak kerugian pada peradaban Barat, mulai dicari pendekatan lain untuk mencapai perdamaian di dunia selain perang untuk menghindari kerugian yang sama agar tidak terulang. Akan tetapi, meskipun pasca terjadinya Perang Dunia II tidak ada perang terbuka antara negara-negara di dunia, perdamaian yang pada waktu itu ada di dunia dirasa bukan perdamaian ideal yang ingin dicapai karena masih menimbulkan berbagai kekhawatiran pada negara-negara di dunia. Masa yang dikenal dengan Perang Dingin ini kemudian menumbuhkan kesadaran bahwa rasa aman dalam perdamaian yang ingin dicapai tidak hanya sebatas tidak adanya perang, tetapi lebih dari itu juga meliputi keamanan yang lebih bersifat privat. Konsep keamanan telah meluas dari konsep semula yang hanya meliputi keamanan negara, tetapi juga telah meluas hingga mencakup keamanan individual2. Keamanan individual meliputi rasa aman dari berbagai ancaman baik itu ancaman militer ataupun bukan. Konsep kemanan yang mulai bergeser ini, diikuti dengan upaya penegakan Hak Asasi Manusia yang semakin gencar
1

Charles Webel, Johan Galtung. 2007. Handbook of Peace and Conflict Studies. London and New York: Routledge. halaman 6 2 Barry Buza, Lene Hansen. 2007. International Security Volume III: Widening Security. London: SAGE Publication Ltd. halaman 2

menyebabkan individu juga menjadi aktor utama dalam kajian Hubungan Internasional. Maka dari itu, isu-isu mengenai Hak Asasi Manusia menjadi topik yang juga perlu diangkat dalam hubungan internasional. Meskipun upaya untuk menegakkan HAM telah banyak dilakukan, tetapi pelanggaran terhadap HAM juga masih banyak terjadi. Pada negara-negara yang telah maju, penghargaan terhadap HAM lebih tinggi dari pada di negara-negara yang masih berkembang. Oleh karenanya pelanggaran HAM masih banyak terjadi di negara-negara yang masih berkembang atau bahkan negara terbelakang. Salah satu bentuk pelanggaran HAM yang masih banyak terjadi, bahkan masih memiliki jumlah yang tinggi adalah mengenai tenaga kerja anak dibawah umur (underage labor). Masalah tenaga kerja di bawah umur ini umumnya masih banyak terjadi di negara-negara yang terbelakang, meskipun banyak negara-negara maju yang juga masih mengalaminya. Mayoritas permasalahan ini ada di negara-negara Afrika dan juga negara-negara Islam kawasan Timur Tengah seperti Pakistan. Permasalahan ini tidak tiba-tiba muncul dalam negara-negara itu. Terdapat berbagai faktor yang menyebabkan tingginya angka pekerja anak di bawah umur ini yang salah satunya adalah sistem kapitalis dunia. Untuk itu penulisan skripsi ini memiliki judul: SISTEM KAPITALIS DUNIA DALAM MENYEBABKAN TINGGINYA ANGKA PEKERJA ANAK DI BAWAH UMUR di PAKISTAN

1.2 Ruang Lingkup Pembahasan Ruang lingkup penelitian penting ditentukan dalam suatu penelitian guna membatasi lingkup-lingkup yang akan diteliti ataupun dijadikan obyek penelitian. Dengan menentukan ruang lingkup penelitian, diharapkan penelitian yang dilakukan dapat tepat sasaran dan menemukan kesimpulan yang valid, dengan kata lain dengan menentukan ruang lingkup penelitian maka penelitian yang dilakukan tidak terlalu meluas dan berada pada lingkup yang sesuai. 4

Pekerja anak di bawah umur adalah anak-anak yang berusia di bawah 18 tahun yang telah terlibat dalam berbagai tindakan produksi. Ruang penelitian berada pada negara-negara yang memiliki angka pekerja anak di bawah tahun yang tinggi yang pada penulisan kali ini adalah Pakistan. Batasan waktu yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah mulai tahun 1998 ketika ILO pertama kali mengeluarkan aturan fundamental dalam bekerja hingga tahun 2012. Sistem kapitalisme dunia merujuk pada sistem ekonomi yang saat ini mengatur pola perdagangan serta pola berbagai tindakan ekonomi (produksi, konsumsi, dan distribusi) yang mana hanya aktor-aktor yang memiliki modal yang tinggi saja yang dapat bertahan dalam sistem tersebut. Sementara aktor-aktor yang tidak memiliki modal akan secara perlahan-lahan tersingkir atau terpinggirkan dari sistem yang berlaku. Pola kegiatan perekonomian seperti ini dapat diakatakan sebagai pola yang sedang berlaku pada pasar dunia yang bebas yang memberikan kesempatan bagi seluruh negara untuk berpartisipaasi di dalamnya. Hanya negaranegara yang industry yang memiliki modal yang tinggi yang dapat bertahan dalam sistem karena negara-negara itulah yang mampu mendominasi kegiatan perekonomian.

1.3 Rumusan Masalah Dari latar belakang yang sudah dipaparkan sebelumnya, maka dengan ini dirumuskan suatu permasalahan yaitu: bagaimana sistem kapitalis dunia dapat menyebabkan tingginya angka pekerja anak di bawah umur di Pakistan?

1.4 Tujuan Penelitian Dalam melakukan suatu penelitian, penelitian yang akan dilakukan haruslah memiliki suatu tujuan tertentu. Tujuan pada penelitian yang akan dilakukan ini adalah untuk menjelaskan hubungan kausalitas antara sistem kapitalis yang sedang berlaku di dunia dengan tingginya angka pekerja anak di

bawah umur di Pakistan. Lebih lanjut lagi penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam memcahkan permasalahan yang serupa.

1.5 Kerangka Dasar Pemikiran Dasar pemikiran yang diguankan dalam suatu penelitian ini dapat berupa teori atau konsep yang dapat digunakan untuk melihat permasalahan sehingga dapat terbentuk frame work yang tepat untuk menganalisis permasalahan yang ada. Pada penulisan skripsi ini, dasar pemikiran yang digunakan adalah: 1.5.1 Dependensia eori ini berpendapat bahwa kemiskinan dan keterbelakangan yang terjadi di negara-negara Dunia Ketiga bukan disebabkan oleh faktor internal di negara tersebut, namun lebih banyak ditentukan oleh faktor eksternal dari luar negara Dunia Ketiga itu. Faktor luar yang paling menentukan keterbelakangan negara Dunia Ketiga adalah adanya campur tangan dan dominasi negara maju pada laju pembangunan di negara Dunia Ketiga. Dengan campur tangan tersebut, maka pembangunan di negara Dunia Ketiga tidak berjalan dan berguna untuk menghilangkan keterbelakangan yang sedang terjadi, namun semakin membawa kesengsaraan dan keterbelakangan.

Keterbelakangan jilid dua di negara Dunia Ketiga ini disebabkan oleh ketergantungan yang diciptakan oleh campur tangan negara maju kepada negara Dunia Ketiga. Jika pembangunan ingin berhasil, maka ketergantungan ini harus diputus dan biarkan negara Dunia Ketiga melakukan roda pembangunannya secara mandiri. Teori Dependensi kali pertama muncul di Amerika Latin. Pada awal kelahirannya, teori ini lebih merupakan jawaban atas kegagalan program yang dijalankan oleh ECLA (United Nation Economic Commission for Latin Amerika) pada masa awal tahun 1960-an. Lembaga tersebut dibentuk dengan tujuan untuk mampu

menggerakkan perekonomian di negara-negara Amerika Latin dengan membawa percontohan teori Modernisasi yang telah terbukti berhasil di Eropa. Teori Dependensi juga lahir atas respon ilmiah terhadap pendapat kaum Marxis Klasik tentang pembangunan yang dijalankan di negara maju dan berkembang. Aliran neo-marxisme yang kemudian menopang keberadaan teori Dependensi ini. Tentang imperialisme, kaum Marxis Klasik melihatnya dari sudut pandang negara maju yang melakukannya sebagai bagian dari upaya manifestasi Kapitalisme Dewasa, sedangkan kalangan Neo-Marxis melihatnya dari sudut pandang negara pinggiran yang terkena akibat penjajahan. Dalam dua tahapan revolusi, Marxis Klasik berpendapat bahwa revolusi borjuis harus lebih dahulu dilakukan baru kemudian revolusi proletar. Sedangkan Neo-Marxis berpendapat bahwa kalangan borjuis di negara terbelakang pada dasarnya adalah alat atau kepanjangan tangan dari imperialis di negara maju. Maka revolusi yang mereka lakukan tidak akan membawa perubahan di negara pinggiran, terlebih lagi, revolusi tersebut tidak akan mampu membebaskan kalangan proletar di negara berkembang dari eksploitasi kekuatan alat-alat produksi kelompok borjuis di negara tersebut dan kaum borjuis di negara maju. Bantahan teori Dependensi atas pendapat kaum Marxis Klasik ada dua hal. Pertama, negara pinggiran yang pra-kapitalis memiliki dinamika tersendiri yang berbeda dengan dinamika negara kapitalis. Bila tidak mendapat sentuhan dari negara kapitalis yang telah maju, mereka akan bergerak dengan sendirinya mencapai kemajuan yang diinginkannya. Kedua, justru karena dominasi, sentuhan dan campur tangan negara maju terhadap negara Dunia Ketiga, maka negara prakapitalis menjadi tidak pernah maju karena tergantung kepada negara maju tersebut. Ketergantungan tersebut ada dalam format neo-

kolonialisme yang diterapkan oleh negara maju kepada negara Dunia Ketiga tanpa harus menghapuskan kedaulatan negara Dunia Ketiga3. 1.5.2 Konstruktivisme Konstruktivis dibangun dari basis ide, norma, budaya, dan nilai. Atas dasar itulah konstruktivis digolongkan ke dalam teori idealis. Formulasi teoritik konstruktivis menyatakan bahwa lingkungan sosial menentukan bentuk identitas aktor. Identitas kemudian menentukan kepentingan, dan kepentingan akan menentukan bentuk tingkah laku, aksi ataupun kebijakan dari aktor. Tindakan negara dalam pandangan konstruktivisme memberikan pengaruh terhadap bentuk sistem internasional, sebaliknya sistem tersebut juga memberikan pengaruh pada perilaku negara-negara. Dalam proses saling mempengaruhi itu terbentuklah apa yang disebut dengan collective meanings. Collective meanings itulah yang menjadi dasar terbentuknya intersubyektifitas dan kemudian membentuk struktur dan pada akhirnya mengatur tindakan negara-negara4.

1.6 Hipotesis Hipotesa merupakan asumsi awal dari peneliti terhadap kesimpulan dari penelitian yang akan dilakukan atau dapat dikatakan sebagai kesimpulan sementara terhadap penelitian. Pada skripsi ini, dapat disimpulkan sementara bahwa: sistem kapitalisme dunia dapat menyebabkan tingginya angka pekerja anak di bawah umur karena sistem kapitalisme menimbulkan interdependensi antara negara berkembang terhadap negara maju sehingga negara berkembang cenderung akan melakukan berbagai bentuk kerjasama ekonomi meskipun itu dengan mempekerjakan anak di bawah umur.

http://vitrianamasfita.blogspot.com/2012/02/teori-pembangunan.html diakses pada 23 September 2013 4 http://alfianheri.blogspot.com/2009/11/konstruktivisme-dalam-hubungan.html diakses pada 23 September 2013

1.7 Metode Penelitian Terdapat dua metode yang umumnya digunakan dalam penelitian yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif. Dalam penelitian ini metode yang akan digunakan merupakan metode kualitatif dengan data-data yang dapat berupa kalimat-kalimat, suara, atau tulisan. Data yang akan dinalisa dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang tidak diperoleh langsung oleh peneliti dari narasumber melainkan diperoleh dari media dengan metode studi kepustakaan. Metode analisis yang diguankan adalah metode analisis deduktif, yaitu mengambil kesimpulan dari premis-premis umum yang kemudian di cari premis khusunya.

1.8 Sistematika Penulisan Dalam penulisan skripsi ini, akan dibagi menjadi lima bab yaitu: BAB 1 : PENDAHULUAN Pada bab ini dituliskan mengenai latar belakang, ruang lingkup pembahasan, rumusan masalah, tujuan, kerangka dasar pemikiran, hipotesis, metode penelitian, dan sistematika penulisan. BAB 2 : MUNCULNYA SISTEM KAPITALISME DI DUNIA Pada bab ini dituliskan mengenai awal munculnya negara-negara industri dan berkembangnya sistem kapitalisme di dunia oleh negara-negara industri. BAB 3 :KAPITALISME dan PENGARUHNYA TERHADAP

NEGARA DUNIA KETIGA Pada bab ini dituliskan mengenai munculnya negara-negara dunia ketiga dan pengaruh sistem kapitalisme yang telah dikembangkan oleh negara-negara industri terhadap negara-negara dunia ketiga.

BAB 4

:KAITAN

ANTARA

SISTEM

KAPITALISME

dan

TINGGINYA ANGKA PERKERJA ANAK DI BAWAH UMUR di PAKISTAN Pada bab ini dituliskan mengenai kaitan antara sistem kapitalisme yang berlaku pada sistem perekonomian dunia membawa dampak terhadap kondisi tingginya angka pekerja anak di bawah umur di Pakistan. BAB 5 : KESIMPULAN Pada bab ini dituliskan kesimpulan dari skripsi ini yang menjawab rumusan masalah pada BAB 1.

10

DAFTAR PUSTAKA

Buku Barry Buza, Lene Hansen. 2007. International Security Volume III: Widening Security. London: SAGE Publication Ltd. Charles Webel, Johan Galtung. 2007. Handbook of Peace and Conflict Studies. London and New York: Routledge.

Internet http://alfianheri.blogspot.com/2009/11/konstruktivisme-dalam-hubungan.html diakses pada 23 September 2013 http://vitrianamasfita.blogspot.com/2012/02/teori-pembangunan.html pada 23 September 2013 diakses

11