Anda di halaman 1dari 4

EPIDEMIOLOGI Dyspepsia merupakan keluhan umum yang dalam waktu tertentu dapat dialami oleh seseorang.

Berdasarkan penelitian pada populasi umum didapatkan bahwa 15-30% orang dewasa pernah mengalami hal ini dalam beberapa hari. Dari data di negara barat didapatkan angka prevalensinya berkisar 7-41%, tapi hanya 10-20% yang mencari pertolongan medis. Di Amerika Serikat sendiri, penduduk yang diperkirakan mengalami dyspepsia ada sekitar 20% di mana hanya 10% dari mereka yang mencari [ertolongan medis. Angka insidens dyspepsia diperkirakan antara 1-8%. Belum ada data epidemiologi di Indonesia.

TERAPI

Luasnya lingkup manajemen kasus dyspepsia fungsional menggambarkan adanya ketidakpastian dalam patogenesisnya. Adanya respons placebo yang tinggi mempersulit untuk mencari regimen pengobatan yang lebih pasti. Penjelasan dan reassurance kepada pasien mengenai latar belakang keluhan yang dialaminya, merupakan langkah awal yang penting. Diagnosis klinis dan evaluasi bahwa tidak ada penyakit serius atau fatal yang mengancam dilakukan. Perlu dijelaskan sejauh mungkin tentang pathogenesis penyakit yang dideritanya. Latar belakang factor psikologis perlu dievaluasi. Pasien dinasehati untuk menghindari makanan yang dapat menentukan serangan keluhan. System rujukan yang baik akan berdampak positif bagi perjalanan penyakit pada kasus dyspepsia fungsional.

Dietetik Tidak ada dietetic baku yang menghasilkan penyembuhan keluhan secara bermakna. Prinsip dasar menghindari makanan pencetus serangan merupakan pegangan yang lebih bermanfaat. Makanan yang merangsang, seperti pedas, asam, tinggi lemak, sebaiknya dipakai sebagai pegangan umum secara proporsional dan jangan sampai menurunkan/mempengaruhi kualitas hidup pasien.

MEDIKAMENTOSA Antasida Antasida merupakan obat yang paling umum dikonsumsi oleh pasien dyspepsia, tapi dalam studi metaanalisis, obat ini tidak lebih unggul dibandingkan placebo. Penyekat H2 Reseptor obat ini juga umum diberikan pada pasien dyspepsia. Dari data studi acak ganda tersamar, didapatkan hasil yang controversial. Sebagian gagal memperlihatkan manfaatnya pada dyspepsia fungsional, dan sebagian lagi berhasil. Secara meta analisis diperkirakan manfaat terapinya 20% di atas placebo. Masalah pokok adalah kriteria inklusi pada berbagai penelitian, dan juga kemungkinan masuknya kasus GERD. Umumnya manfaatnya ditujukan untuk menghilangkan rasa nyeri ulu hati. Penghambat Pompa Proton obat ini tampaknya cukup superior dibandingkan placebo pada dyspepsia fungsional, walaupun pada banyak studi secara tidak sengaja terlibat kasus GERD yang tidak terdeteksi. Respons terbaik terlihat pada sekelompok dyspepsia fungsional tipe seperti ulkus. Sitoproteksi

Tidak banyak studi untuk memperoleh manfaat yang dapat dinilai dari obat ini (misalnya misoprostol dan sukralfat). Metoklopramid Merupakan antagonis reseptor dopamine D2 dan antagonis reseptor serotonin (5-HT3) yang tampaknya cukup bermanfaat pada dyspepsia fungsional, tapi terbatas studinya dan hambatan efek samping piramidalnya. Domperidon Termasuk antagonis dopamine D2 yang tidak melewati sawar otak sehingga tidak ada efek ekstrapiramidal. Obat ini lebih unggul dibandingkan placebo dalam menurunkan keluhan. Cisapride Tergolong agonis reseptor 6-HT4 dan antagonis 5-HT3, yang secara metaanalisis memperlihatkan angka keberhasilan dua kali lipat dibandingkan dengan placebo. Beraksi pada pengosongan lambung dan disritmia lambung. Masalah saat ini adalah setelah diketahuinya efek samping aritmia jantung, terutama perpanjangan masa Q-T, sehingga pemakaiannya berada dalam pengawasan. Agonis Motilin Obat yang termasuk golongan ini adalah eritromisin, yang dapat meningkatkan pengosongan lambung pada gastroparesis. Tapi aplikasi klinisnya tidak praktis. Obat Lain-Lain Kappa agonist fedotoxine dapat menurunkan hipersensitivitas lambung dalam studi pada sukarelawan serta pada beberapa studi dapat menurunkan keluhan dyspepsia fungsional, walaupun manfaat klinisnya masih dipertanyakan. Obat golongan agonis 5-HT1 (sumatriptan dan buspiron) dapat memperbaiki akomodasi lambung dan memperbaiki keluhan setelah makan. Antispasmodic dicyclomin tidak lebih baik dibandingkan placebo. Anti mual ondansentron juga pernah dicoba pada studi terbatas dan memperlihatkan manfaat sedikit di atas placebo. Obat antidepresi seperti amitriptilin dosis rendah memperlihatkan perbaikan keluhan pada kasus dyspepsia fungsional. Psikoterapi

Dalam beberapa studi terbatas, tampaknya behavioral therapy memperlihatkan manfaatnya pada kasus dyspepsia fungsional dibandingkan terapi baku.

Modalitas pengobatan lain seperti acupuncture, acupressure, acustimulation, gastric electrical stimulation pernah dicoba untuk kasus dyspepsia, walaupun belum sistematis untuk dyspepsia fungsional.