Anda di halaman 1dari 24

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Usaha Mikro Kecil dan Menengah 2.1.1 Usaha Mikro Menurut UU No. 20 Tahun 2008 Pasal 1 Ayat 1 Tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah bahwa usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam UU No. 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Adapun kriteria yang dimaksud usaha mikro dalam UU No. 20 Tahun 2008 Pasal 6 Ayat 1 Tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah yakni : - Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000,00 (Lima Puluh Juta Rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau - Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.000.000,00 (Tiga Ratus Juta Rupiah). 2.1.2 Usaha Kecil Menurut UU No. 20 Tahun 2008 Pasal 1 Ayat 2 Tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah bahwa usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif

yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan atau bukan cabang

10

perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam UU No. 20 Tahun 2008 ini. Adapun kriteria yang dimaksud usaha kecil dalam UU No. 20 Tahun 2008 Pasal 6 Ayat 2 Tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah yakni : - Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50.000.000,00 (Lima Puluh Juta Rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima Ratus Juta Rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau - Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.000.000,00 (Tiga Ratus Juta Rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 2.500.000.000 (Dua Milyar Lima Ratus Juta Rupiah). 2.1.3 Usaha Menengah Menurut UU No. 20 Tahun 2008 Pasal 1 Ayat 3 Tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah bahwa usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam UU No. 20 Tahun 2008 ini. Adapun kriteria yang dimaksud usaha menengah dalam UU No. 20 Tahun 2008 Pasal 6 Ayat 3 Tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah yakni :

11

Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.00,00 (Lima Ratus Juta Rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (Sepuluh Milyar Rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 2.500.000.000,00 (Dua Milyar Lima Ratus Juta Rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 50.000.000.000,00 (Lima Puluh Milyar Rupiah).

2.2 Biaya 2.2.1 Definisi Biaya Menurut Carter (2009:30): Biaya adalah suatu nilai tukar, pengeluaran, pengorbanan, atau pengorbanan yang dilakukan untuk menjamin perolehan manfaat. Sedangkan beban adalah penurunan dalam aset bersih sebagai akibat dari penggunaan jasa ekonomi dalam menciptakan pendapatan atau dari pengenaan pajak oleh badan pemerintah. Beban dalam arti paling luas mencakup semua biaya yang sudah habis masa berlakunya yang dapat dikurangkan dari pendapatan. Misal, penggunaan 200 Kg kedelai dengan harga Rp. 6.000,00/Kg dalam pembuatan tahu yang dapat menghasilkan lebih dari 12000 unit tahu. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa kedelai merupakan suatu pengorbanan yang dilakukan untuk memperoleh manfaat. 2.2.2 Klasifikasi Biaya Menurut Carter (2009:40): Klasifikasi biaya adalah sangat penting untuk membuat ikhtisar yang berarti atas data biaya. Klasifikasi yang paling umum digunakan didasarkan pada hubungan antara biaya dengan produk (atau unit dari suatu barang jadi atau jasa), volume produksi, departemen, periode akuntansi dan suatu keputusan atau tindakan.

12

2.2.2.1 Biaya dalam Hubungannya dengan Produk Menurut Carter (2009:40) dalam lingkungan manufaktur, total biaya operasi terdiri atas dua elemen yakni biaya manufaktur dan beban komersial. Biaya manufaktur disebut biaya produksi atau biaya pabrik biasanya didefinisikan sebagai jumlah dari tiga elemen biaya yaitu bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Bahan baku langsung adalah semua bahan baku yang membentuk bagian integral dari produk jadi dan dimasukkan secara eksplisit dalam perhitungan biaya produk. Contohnya adalah kayu sebagai bahan baku utama dalam pembuatan furniture. Dan tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang melakukan konversi bahan baku langsung menjadi produk jadi dan dapat dibebankan secara layak ke produk tertentu. Overhead pabrik terdiri atas semua biaya manufaktur yang tidak ditelusuri secara langsung ke output tertentu. Adapun tenaga kerja tidak langsung dan bahan baku tidak langsung sebagai overhead pabrik. Tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja yang tidak secara langsung ditelusuri ke konstruksi atau komposisi produk jadi. Sedangkan bahan baku tidak langsung adalah bahan baku yang diperlukan untuk penyelesaian suatu produk tetapi tidak diklasifikasikan sebagai bahan baku langsung karena bahan baku tersebut tidak menjadi bagian dari produk.

13

Selain biaya manufaktur terdapat pula beban komersial yang terdiri atas dua klasifikasi umum yaitu beban pemasaran dan beban administratif. Beban pemasaran dimulai dari titik dimana biaya manufaktur berakhir. Yaitu, ketika proses manufaktur selesai dan produk ada dalam kondisi siap dijual. Beban pemasaran mencakup beban promosi, penjualan, dan pengiriman. Dan beban administratif termasuk beban yang terjadi dalam mengarahkan dan mengendalikan organisasi. 2.2.2.2 Biaya dalam Hubungannya dengan Volume Produksi Menurut Carter (2009:43) beberapa jenis biaya bervariasi secara proposional terhadap perubahan dalam volume produksi atau output, sementara yang lainnya tetap relatif konstan dalam jumlah. Oleh karena itu ada suatu pengklasifikasian biaya dalam hubungannya dengan volume produksi seperti biaya variabel, biaya tetap, dan biaya semi variabel. Jumlah total biaya variabel berubah secara proposional terhadap perubahan dalam aktivitas dalam rentang yang relevan (relevant range). Dengan kata lain, biaya variabel menunjukkan jumlah per unit yang relatif konstan dengan berubahnya aktivitas dalam rentang yang relevan. Biaya variabel biasanya dapat dibebankan ke departemen operasi dengan cukup mudah dan akurat, dan dapat dikendalikan oleh tingkat penyelia pada tingkat operasi tertentu. Biaya variabel biasanya

14

mencakup biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung. Adapun biaya overhead pabrik yang dapat diklasifikasikan sebagai biaya variabel seperti perlengkapan, bahan bakar, peralatan kecil, biaya penerimaan, royalti, biaya komunikasi dan lain-lain. Biaya tetap bersifat konstan secara total dalam rentang yang relevan. Dengan kata lain, biaya tetap per unit semakin kecil seiring dengan meningkatnya aktivitas dalam rentang yang relevan. Tanggung jawab atas pengendalian untuk biaya tetap biasanya berada pada tingkatan manajemen menengah atau manajemen eksekutif dan bukannya pada penyelia operasi. Biaya overhead tetap antara lain gaji eksekutif produksi, depresiasi, pajak properti, amortisasi paten, gaji penyelia dan lain-lain. Beberapa jenis biaya memiliki elemen biaya tetap dan biaya variabel. Jenis biaya ini disebut biaya semivariabel. Beberapa biaya overhead yang diklasifikasikan sebagai biaya semivariabel adalah listrik, inspeksi, jasa departemen biaya, jasa departemen penggajian, jasa departemen personalia, air dan limbah, pajak penghasilan dan lain-lain. 2.2.2.3 Biaya dalam Hubungannya dengan Departemen Produksi atau Segmen Lain Menurut Carter (2009:45) departemen-departemen dalam suatu pabrik biasanya dapat diklasifikasikan dalam dua kategorii :

15

departemen produksi dan departemen jasa. Di departemen produksi, operasi manual dan operasi mesin seperti pembentukan dan perakitan dilakukan secara langsung pada produk atau bagian-bagian dari produk. Di departemen jasa, jasa diberikan untuk keuntungan departemen lain . Dalam beberapa kasus, jasa ini juga dinikmati oleh departemen jasa yang lain maupun departemen produksi. Meskipun departemen jasa tidak secara langsung terlibat dalam proses produksi, biaya departemen ini merupakan bagian dari biaya overhead dan juga merupakan biaya dari produk. Istilah langsung dan tidak langsung dalam pengklasifikasian

biaya juga dapat digunakan dalam hubungannya dengan pembebanan biaya overhead ke departemen-departemen di organisasi manapun. Jika suatu biaya dapat ditelusuri ke suatu departemen dari mana biaya tersebut berasal, maka biaya tersebut disebut sebagai biaya langsung departemen. Dan jika suatu biaya ditanggung bersama oleh beberapa departemen yang memperoleh manfaat dari biaya tersebut, maka biaya itu disebut sebagai biaya tidak langsung. Biaya bersama (common cost) dan biaya gabungan (joint cost) adalah jenis biaya tidak langsung. Biaya bersama adalah biaya dari fasilitas atau jasa yang digunakan oleh dua atau lebih operasi. Tingkat segmentasi meningkatkan kecenderungan bahwa semakin banyak

16

biaya menjadi biaya bersama. Sedangkan biaya gabungan terjadi ketika produksi dari suatu produk menghasilkan satu atau beberapa produk lain tanpa dapat dihindari. Biaya gabungan dapat dialokasikan ke produk gabungan hanya dengan perhitungan arbitrer. Misal, biaya pembelian 1000 Kg kedelai dapat memproduksi beberapa jenis produk tahu. 2.2.2.4 Biaya dalam Hubungannya dengan Periode Akuntansi Menurut Carter (2009:47) biaya dapat diklasifikasikan sebagai belanja modal (capital expenditure) atau sebagai belanja pendapatan (revenue expenditure). Suatu belanja modal dimaksudkan untuk memberikan manfaat pada periode-periode mendatang dan dilaporkan sebagai aset. Belanja pendapatan memberikan manfaat untuk periode sekarang dan dilaporkan sebagai beban. Aset akhirnya akan menjadi beban ketika dikonsumsi atau kehilangan kegunaannya. Misalkan pembelian kendaraan merupakan belanja modal sedangkan pembelian kertas untuk keperluan administrasi merupakan belanja pendapatan. 2.2.2.5 Biaya dalam Hubungannya dengan Suatu Keputusan, Tindakan, atau Evaluasi Menurut Carter (2009:47) biaya diferensial adalah salah satu nama dari biaya yang relevan untuk suatu pilihan di antara banyak alternatif lainnya. Biaya diferensial sering kali disebut sebagai biaya marginal atau biaya inkremental. Jika biaya diferensial hanya akan

17

terjadi apabila satu alternatif tertentu diambil, maka biaya tersebut juga dapat disebut sebagai biaya tunai yang berkaitan dengan alternatif itu. Sejumlah pendapatan atau manfaat lain yang mungkin hilang bila alternatif tertentu diambil disebut biaya oportunitas dari alternatif tersebut. Suatu biaya yang telah terjadi dan, oleh karena itu, tidak relevan terhadap pengambilan keputusan disebut biaya tertanam (sunk cost). Dalam suatu keputusan untuk menghentikan suatu produk atau divisi, beberapa dari biaya produk atau divisi tersebut mungkin saja tidak terpengaruh dengan keputusan itu. Biaya seperti itu disebut biaya yang tidak dapat dihindari. Sebaliknya, biaya yang dapat dihindari, justru relevan terhadap pengambilan keputusan. Contoh, ketika kinerja dari seorang manajer dievakuasi, suatu langkah penting melibatkan pengklasifikasian biaya yang berada di bawah kendali manajer tersebut. Biaya yang tidak berada di bawah kendali manajer tersebut umumnya tidak relevan terhadap evaluasi dari kinerja manajer itu, dan manajer itu sebaiknya tidak dianggap bertanggung jawab atas biaya tersebut. 2.3 Akuntansi Biaya 2.3.1 Definisi Akuntansi Biaya Menurut Horngren at all.(2008:2) menyatakan bahwa: Akuntansi biaya adalah mengukur, menganalisis, dan melaporkan informasi keuangan dan nonkeuangan yang terkait dengan biaya perolehan atau penggunaan sumberdaya dalam suatu organisasi.

18

Sedangkan menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2010:3) akuntansi biaya adalah: Bidang ilmu akuntansi yang mempelajari bagaimana cara mencatat, mengukur dan pelaporan informasi biaya yang digunakan. Disamping itu akuntansi biaya juga membahas tentang penentuan harga pokok dari suatu produk yang diproduksi dan dijual kepada pemesan maupun untuk pasar, serta untuk persediaan produk yang akan dijual. Dalam hal ini, perusahaan manufaktur yang kegiatannya mengubah barang mentah (bahan baku) menjadi produk jadi yang siap digunakan adalah pengguna akuntansi biaya, karena perusahaan dapat mengendalikan dan memantau penggunaan biaya yang terjadi dalam periode tertentu. 2.4 Harga Pokok Produksi 2.4.1 Definisi Harga Pokok Produksi Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2010:49) bahwa: Harga pokok produksi adalah kumpulan biaya produksi yang terdiri dari bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik ditambah persediaan produk dalam proses awal dan dikurang persediaan produk dalam proses akhir. Harga pokok produksi terikat pada periode waktu tertentu. Harga pokok produksi akan sama dengan biaya produksi apabila tidak ada persediaan produk dalam proses awal dan akhir. Sedangkan menurut Carter (2009:40) harga pokok produksi didefinisikan sebagai: Jumlah dari tiga elemen biaya: bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung disebut biaya utama (prime cost). Tenaga kerja langsung dan overhead pabrik keduanya disebut biaya konversi.

19

Misalnya, dalam satu departemen produksi furnitur terdapat biaya bahan baku berupa kayu jati dan cat, beberapa upah bagi karyawan produksi, dan beberapa perlengkapan berupa ampelas, paku, dan perlengkapan lainnya sebagai bahan penolong dalam pembuatan furnitur. Seluruh biaya yang terkandung dalam produk dan diakumulasikan tersebut merupakan suatu harga pokok produksi. 2.4.2 Komponen Harga Pokok Produksi Menurut Carter (2009:40) ada beberapa komponen yang terdapat didalam biaya manufaktur atau dapat disebut biaya produksi, antara lain ; Bahan baku langsung Adalah semua bahan baku yang membentuk bagian integral dari produk jadi dan dimasukkan secara eksplisit dalam perhitungan biaya produk. Misalnya, gandum dalam pembuatan roti, bijih besi dalam pembuatan besi batangan dan bubur kayu dalam pembuatan kertas. Tenaga kerja langsung Adalah tenaga kerja yang melakukan konversi bahan baku langsung menjadi produk jadi dan dapat dibebankan secara layak ke produk tertentu. Overhead pabrik

20

Adalah terdiri atas semua biaya manufaktur yang tidak secara langsung ditelusuri ke output tertentu. Misalnya biaya energi bagi pabrik seperti gas, listrik, minyak dan sebagainya. 2.5 Akumulasi Biaya Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2010:40) akumulasi biaya adalah: Suatu cara untuk mengetahui berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk suatu produk dan jasa atau menyangkut suatu hal. Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam akumulasi biaya, tetapi yang lazim digunakan adalah dua metode yaitu metode akumulasi biaya pesanan dan metode akumulasi biaya proses. 2.5.1 Metode Akumulasi Biaya Berdasarkan Pesanan Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2010:40) akumulasi biaya berdasarkan pesanan adalah: Suatu sistem akuntansi yang menelusuri biaya pada unit individual atau pekerjaan, kontrak, tumpukan produk atau pesanan pelanggan yang spesifik. Ada beberapa karakteristik dalam melakukan pengakumulasian biaya berdasarkan pesanan, antara lain ; 1. Sifat proses produksi yang dilakukan terputus-putus, dan tergantung pada pesanan yang diterima. 2. 3. Spesifikasi dan bentuk produk tergantung pada pemesan. Pencatatan biaya produksi masing-masing pesanan dilakukan pada kartu biaya pesanan secara terperinci untuk masing-masing pesanan.

21

4.

Total biaya produksi untuk setiap elemen biaya dikalkulasi setelah pesanan selesai.

5.

Biaya per unit dihitung, dengan membagi total biaya produksi yang terdiri dari : bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead dibebankan, dengan total unit yang dipesan.

6. 7.

Akumulasi biaya pada umumnya menggunakan biaya normal. Produk yang sudah selesai dapat disimpan di gudang atau langsung diserahkan pada pemesan. Adapun manfaat perhitungan biaya pesanan yaitu bermanfaat untuk

menetapkan harga jual dan pengendalian biaya. Umumnya calon pelanggan selalu meminta estimasi biaya terlebih dahulu sebelum mereka memesan, dan seringkali mereka memesan atau memberi pekerjaan, membandingkannya dengan pesaing. Oleh sebab itu perusahaan harus dapat mengestimasi biaya secara akurat agar dapat bersaing dengan perusahaan lain dan menghasilkan laba yang optimal.

22

2.5.2 Sistem Perhitungan Biaya Berdasarkan Proses Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2010:91) bahwa: Sistem perhitungan biaya berdasarkan proses adalah suatu metode dimana bahan baku, tenaga kerja, dan overhead pabrik dibebankan ke pusat biaya atau departemen. Biaya yang dibebankan ke setiap unit produk yang hasil ditentukan dengan membagi total biaya yang dibebankan ke pusat biaya atau departemen tersebut dengan jumlah unit yang diproduksi pada pusat biaya yang bersangkutan.

Adapun karakteristik dalam pengakumulasian biaya berdasarkan proses, antara lain; 1. 2. Aktivitas produksi bersifat terus-menerus. Produk bersifat massa, dengan tujuannya mengisi persediaan yang siap dijual. 3. Produk yang dihasilkan dalam suatu departemen atau pusat biaya relatif homogen dan berdasarkan standar. 4. Biaya dibebankan ke setiap unit dengan membagi total biaya yang dibebankan ke pusat biaya dengan total unit yang diproduksi 5. Pengumpulan biaya dilakukan berdasarkan periode waktu tertentu.

23

Misalnya produksi pembuatan makanan seperti roti, kudapan ringan, dan produksi yang tidak memerlukan spesifikasi khusus, semuanya melakukan perhitungan biaya berdasarkan proses. Arus biaya produksi dalam perhitungan biaya proses secara umum sama dengan perhitungan biaya pesanan. Begitu bahan baku dibeli, biaya bahan baku ini mengalir ke dalam akun persediaan bahan baku. Biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik yang dibebankan akan mengalir ke dalam akun produk dalam proses. Ketika produk selesai, biaya produk yang telah selesai mengalir dari akun produk dalam proses ke produk jadi. Setelah produk terjual, biaya produk jadi dipindahkan ke akun harga pokok penjualan. Untuk penjurnalan secara umum sama dengan yang terdapat pada perhitungan biaya pesanan. Untuk pembebanan biaya apabila terdapat produk dalam proses dengan tingkat penyelesaian tertentu, perlu dilakukan penyetaraan produk dalam proses tersebut menjadi produk jadi yang disebut dengan unit ekuivalen produksi atau ekuivalen produksi. Jadi unit ekuivalen produksi menunjukkan unit produk jadi dan unit produksi dalam proses yang disetarakan dengan produk jadi. Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2010:95) terdapat dua metode aliran biaya untuk mengkalkulasi biaya produksi produk dalam proses, dengan

24

perhitungan unit ekuivalen produksi berbeda yaitu aliran biaya rata-rata tertimbang dan aliran biaya FIFO (First In First Out). Aliran biaya rata-rata tertimbang yaitu meratakan biaya penyelesaian persediaan awal produk dalam proses periode sebelumnya dengan menambahkan biaya periode berjalan untuk mendapatkan biaya per unit. Unit persediaan awal menerima biaya per unit yang besarnya sama dengan unit yang baru dimulai dan diselesaikan selama periode bersangkutan, sehingga semua unit yang ditransfer akan memiliki biaya per unit yang sama. Rumus unit ekuivalen produksi: Produk Selesai + (Produk Dalam Proses Akhir x Tingkat Penyelesaian). Sedangkan aliran biaya FIFO adalah memisahkan biaya per unit yang terdapat pada persediaan awal dari biaya per unit produk yang dimasukkan dan diselesaikan pada suatu periode tertentu. Biaya produk yang ditransfer terdiri dari biaya produk dalam proses awal dari periode sebelumnya, dan biaya produk dari produk yang dimulai dan diselesaikan selama periode berjalan. Rumus unit ekuivalen produksi : Produk Selesai + (Produk Dalam Proses Akhir x Tingkat Penyelesaian) (Produk Dalam Proses Awal x Tingkat Penyelesaian).

25

Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2010:99): Dalam penentuan biaya proses, semua biaya yang dibebankan ke setiap departemen produksi dapat diikhtisarkan dalam laporan biaya produksi untuk masing-masing departemen.

Laporan biaya produksi setiap departemen memiliki format yang beragam, dengan informasi menunjukkan; 1. Skedul kuantitas, memuat informasi produk dalam proses awal, produk masuk proses pada periode bersangkutan, produk selesai yang ditransfer ke departemen berikutnya atau gudang, produk dalam proses akhir, produk hilang, produk rusak dan produk cacat. 2. Biaya dibebankan, memuat informasi biaya produk dalam proses awal, biaya yang dibebankan dari departemen sebelumnya, biaya dibebankan periode bersangkutan, unit ekuivalen dari biaya per unit masing-masing elemen biaya. 3. Pertanggungjawaban biaya, memuat informasi biaya yang ditransfer ke departemen berikutnya atau gudang, biaya produk yang hilang akhir proses, biaya produk rusak, biaya produk cacat. Biaya yang telah diserap produk dalam proses.

26

Berikut adalah contoh laporan biaya produksi (Gambar 2.2) pada satu departemen dalam buku Akuntansi Biaya karangan Bastian Bustami dan Nurlela (2010:99); PT. X adalah perusahaan pengolahan nanas yang dikemas dalam kaleng untuk dipasarkan dalam negeri, pengolahan dilakukan melalui satu tahap pengolahan yaitu melalui departemen pengolahan. Pada awal september perusahaan baru memulai beroperasi, dengan mengolah nanas sebanyak 8.000 kg, pada akhir September produk selesai yang ditransfer ke gudang sebanyak 7.600 kg, sedangkan yang 400 kg masih dalam proses dengan tingkat penyerapan biaya bahan baku 100%, biaya tenaga kerja 75%, dan biaya overhead pabrik 80%. Biaya yang dikeluarkan untuk mengolah nanas tersebut adalah: biaya bahan baku Rp. 6.000.000,- biaya tenaga kerja Rp. 4.740.000,- dan biaya overhead pabrik Rp. 3.168.000,-

Gambar 2.1 Laporan Biaya Produksi


PT. X DEPARTEMEN PENGOLAHAN Laporan Biaya Produksi Untuk Bulan September 2007
Skedul Kuantitas Produk Masuk Proses Produk Selesai = = 8.000 kg 7.600 kg

27

Produk Dalam Proses Akhir (100% bahan, 75% Tenaga Kerja, 80% BOP)

400 kg 8.000 kg

Biaya Dibebankan Elemen Biaya Bahan Baku Tenaga Kerja BOP Total Rp Rp Rp Rp Total 6.000.000 4.740.000 3.168.000 13.908.000 E.U.* 8.000 kg 7.900 kg 7.920 kg Biaya/Kg Rp. 750 Rp. 600 Rp. 400 Rp. 1.750

* Unit Ekuivalen = Produk Selesai + Produk Dalam Proses Akhir x Tingkat Penyelesaian) Bahan Baku = 7.600 kg + (400 kg x 100%) = 8.000 kg Tenaga Kerja = 7.600 kg + (400 kg x 75%) = 7.900 kg BOP = 7.600 kg + (400 kg x 80%) = 7.920 kg Pertanggungjawaban Biaya Biaya produk selesai ditransfer = 7.600 kg x Rp. 1750 Produk dalam proses akhir : Bahan Baku BOP = = 400 kg (100%) x Rp. 750 400 kg ( 75%) x Rp 600 400 kg ( 80%) x Rp 400 = = = Rp Rp Rp 300.000 180.000 128.000 Rp. 608.000 Rp. 13.908.000 Tenaga Kerja Langsung = = Rp. 13.300.000

Sumber: Bastian Bustami dan Nurlela. Akuntansi Biaya. Edisi 2. 2010

2.6 Penentuan Harga Pokok Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2010:40): Penentuan harga pokok adalah bagaimana memperhitungkan biaya kepada suatu produk pesanan atau jasa, yang dapat dilakukan dengan cara memasukkan seluruh biaya produksi atau hanya memasukkan unsur biaya produksi variabel saja. Dalam penentuan harga pokok tersebut dapat digunakan dua cara yaitu : Metode

28

kalkulasi biaya penuh (Full Costing) dan Metode kalkulasi biaya variabel (Variable Costing).

2.6.1 Metode Kalkulasi Biaya Penuh (Full Costing) Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2010:40) metode kalkulasi biaya penuh adalah: Suatu metode dalam penentuan harga pokok suatu produk dengan memperhitungkan semua biaya produksi, seperti biaya bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik variabel dan biaya overhead pabrik tetap.

Adapun bentuk laporan laba-rugi dalam bentuk metode kalkulasi biaya penuh seperti yang diilustrasikan Armanto Witjaksono (2006:104) seperti dibawah ini: Penjualan Bersih Dikurangi: Harga Pokok Penjualan Laba Kotor Dikurangi: Biaya Adm. dan Umum Laba Bersih (XXXXX) XXXXX (XXXXX) XXXXX XXXXX

29

2.6.1.1 Perhitungan Biaya Overhead Pabrik dengan Metode Full Costing Jika perusahaan menggunakan metode full costing dalam penentuan harga pokok produksinya, pada akhir periode akuntansi dilakukan perhitungan selisih biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk sebagai berikut: Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk Biaya overhead yang sesungguhnya Selisih biaya overhead pabrik xx xx xx

Untuk mencatat selisih biaya overhead pabrik tersebut perlu dibuat dua jurnal sebagai berikut : Jurnal untuk menutup rekening biaya overhead pabrik yang dibebankan ke rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya. Biaya Overhead Pabrik yang dibebankan Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xx xx

30

Penentuan harga pokok produksi metode full costing menurut Mulyadi (2010:122) terdiri dari: Biaya bahan baku Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik tetap Biaya overhead pabrik variable Harga pokok produk XXX XXX XXX XXX XXX

Dalam metode full costing, biaya overhead pabrik, baik yang berperilaku tetap maupun variabel, dibebankan kepada produk yang diproduksi atas dasar tarif yang ditentukan dimuka pada kapasitas normal atau atas dasar biaya overhead pabrik sesungguhnya. Oleh karena itu, biaya overhead pabrik tetap akan melekat pada harga pokok persediaan produk dalam proses dan persediaan produk jadi yang belum laku dijual, dan baru dianggap sebagai biaya (unsur harga pokok penjualan) apabila produk jadi tersebut telah terjual. Metode full costing menunda pembebanan biaya overhead pabrik tetap sebagai biaya sampai saat produk yang bersangkutan dijual. Jadi biaya overhead

31

pabrik yang terjadi, baik yang berprilaku tetap maupun yang variabel, masih dianggap sebagai aktiva (karena melekat pada persediaan) sebelum persediaan tersebut terjual.

2.6.2 Metode Kalkulasi Biaya Variabel Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2010:40) kalkulasi biaya variabel adalah: Suatu metode dalam penentuan harga pokok suatu produk, hanya memperhitungkan biaya produksi yang bersifat variabel saja seperti bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel. Dalam metode ini biaya overhead tetap tidak diperhitungkan sebagai biaya produksi tetapi biaya overhead tetap akan diperhitungkan sebagai biaya periode yang akan dibebankan dalam laporan laba-rugi tahun berjalan.

Adapun bentuk laporan laba-rugi dalam bentuk metode kalkulasi biaya variabel seperti yang diilustrasikan Armanto Witjaksono (2006:104) seperti dibawah ini: Penjualan Bersih Dikurangi biaya variabel; HPP Variabel XXXXX XXXXX

32

B. Penjualan & Umum variabel Marjin Kontribusi Dikurangi biaya tetap; BOP Tetap B. Penjualan & Umum Tetap Laba Bersih

XXXXX

(XXXXX) XXXXX

XXXXX XXXXX (XXXXX) XXXXX