Anda di halaman 1dari 25

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

I.

PENDAHULUAN

A. KONDISI UMUM WILAYAH PROVINSI PAPUA Posisi Provinsi Papua secara geografis terletak antara garis koordinat 1 000 LU 9030 LS dan 1340 BT 141005 BT dengan luas 31.587.680 ha (luas menurut UU pemekaran provinsi adalah 31.706.200 ha). Provinsi Papua yang terdiri atas 28 kabupaten dan 1 kota. Masing-masing wilayah administrasi tersebut dapat dilihat pada tabel I.1.
Tabel 1.1 Nama Kabupaten/Kota dan Ibukota Masing-masing, di Provinsi Papua No Kabupaten/Kota 1 Kota Jayapura 2 Merauke 3 Jayawijaya 4 Jayapura 5 Nabire 6 Kep. Yapen 7 Biak Numfor 8 Paniai 9 Puncak Jaya 10 Mimika 11 Boven Digoel 12 Mappi 13 Asmat 14 Yahukimo 15 Pegunungan Bintang 16 Tolikara 17 Sarmi 18 Keerom 19 Waropen 20 Supiori 21 Mamberamo Raya 22 Mamberamo Tengah 23 Yalimo 24 Lanny Jaya 25 Nduga 26 Puncak 27 Dogiyai 28 Intan Jaya 29 Deiyai Sumber : UU Pemekaran Daerah Nama Ibu Kota Jayapura Merauke Wamena Sentani Nabire Sarmi Biak Enarotali Mulia Timika Tanah Merah Keppi Agats Dekai Oksibil Karubaga Sarmi Waris Botawa Sorendeweri Burmeso Kobakma Elelim Tiom Kenyam Ilaga Kigamani Sugapa Waghete

Provinsi Papua secara geografis memiliki batas sebagai berikut: 1) Sebelah utara berbatasan dengan Samudera Pasifik 2) Sebelah timur berbatasan dengan Negara Papua New Guinea 3) Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Arafuru 4) Sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Papua Barat.
Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012 I Page 1

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

Peta 1.1. Merupakan visualisasi kedudukan Provinsi Papua.

Batas administrasi di Papua merupakan kendala tersendiri, sebagai akibat dari terjadinya pemekaran provinsi serta pemekaran beberapa kabupaten baru yang dilaksanakan akhir-akhir ini. 1) Permasalahan batas administrasi Negara Ketika membandingkan antara batas administrasi antara Indonesia dan Papua New Guinea, terdapat beberapa data pendukung yang dipakai pada analisa RTRWP dengan hasil pengukuran GPS dan catatan koordinat tugu batas antara Indonesia dan PNG di Sota, ternyata telah bergeser ke arah barat (merugikan wilayah Indonesia). Perbedaan yang sama juga ditunjukkan oleh Peta Rupabumi Skala 1:250.000 untuk Papua, sedangkan antara peta Rupabumi dan pengukuran GPS terdapat kesamaan. Untuk itu batas administrasi negara pada data GIS diperbaiki dengan mengacu kepada Peta Rupa Bumi Skala 1:250.000 terbitan Bakosurtanal. Peta 1.02 menggambarkan batas administrasi Provinsi Papua dan PNG. Sebagai konsekuensi akibat perbaikan batas administrasi negara (yang memperlebar wilayah Indonesia) ini terdapat beberapa dataset yang memiliki wilayah kosong (gap). Ada beberapa data yang bisa ditambahkan dengan mengacu kepada peta asalnya (geologi), mengacu kepada citra satelit (tutupan lahan), namun ada juga yang tidak dapat diperbaiki karena memiliki implikasi legal (kawasan hutan).
Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012 I Page 2

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

2) Permasalahan batas administrasi provinsi Batas administrasi provinsi diidentifikasi ada 4 versi yang berbeda, yaitu menurut Bappeda, BPKH, BPN dan Topdam. Batas Provinsi ini kemudian diperbaiki dengan mengandalkan sebaran titik kampung yang ada, sehingga terdapat pergeseran, baik yang mengurangi luasan maupun yang sifatnya menambah luasan Provinsi Papua. Demikian pula batas administrasi provinsi yang dikeluarkan oleh Provinsi Papua Barat. Perbedaan yang terjadinya merupakan permasalahan yang perlu segera diselesaikan pada tingkat Nasional. Batas yang digunakan dalam peta-peta RTRW Provinsi Papua ini mencoba memadukan keempat batas administasi yang ada. Batas-batas sebelumnya yang ditarik lurus memotong bukit, sungai dan lembah di geser ke tempat bentang alam yang berada sedekat-dekatnya dari salah satu atau beberapa batas administrasi yang ada. Dari utara berpedoman kepada batas yang disarankan oleh Topdam, lalu digeser sedikut sehingga pas mengikuti punggung bukit yang memisahkan Papua dan Papua Barat. Pada bagian tengah, mengikuti batas yang disarankan oleh BPKH dengan masih melanjutkan menggeser batas sehingga berada pada punggung bukit lanjutan sebelumnya. Sedangkan di bagian selatan, menggeser batas yang disarankan oleh baik Topdam maupun BPKH, untuk menggunakan sungai sebagai batas alam antara kedua provinsi ini. Peta 1.03 memvisualisasikan perbedaan batas administrasi Provinsi Papua dan Papua Barat.
3) Permasalahan batas administrasi kabupaten

Undang-undang pemekaran hanya menyebutkan luas masing-masing kabupaten tersebut, namun tidak dilengkapi dengan peta batas administrasinya. Masingmasing kabupaten kemudian menyusun peta batas administrasinya yang hampir semuanya saling tumpangtindih dengan batas yang disusun oleh kabupaten tetangganya. Demikian pula peta batas administrasi tingkat provinsi dari beberapa sumber (Badan Pertanahan Nasional, Bappeda Provinsi Papua, BPS dan Top Dam) yang berhasil diperoleh guna penyusunan RTRW Provinsi Papua, satu dengan yang lainnya memperlihatkan perbedaan yang cukup besar. Peta 1.04 memperlihatkan bagaimana batas kabupaten dari berbagai sumber tadi membagi Papua dengan batas yang berbeda-beda.

Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012

I Page 3

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

Perbedaan definisi batas administrasi yang ada ini tidak mungkin dapat diakomodasikan dalam RTRW Provinsi Papua karena dibutuhkan satu unit wilayah yang konsisten dalam analisis tata ruang. Mengakomodasi semua sumber peta kabupaten juga tidak memungkinkan mengingat jumlah keseluruhan luasnya akan melebihi seluruh daratan Papua. Tabel I.2 membandingkan luas wilayah kabupaten berdasarkan beberapa versi. Satu unit batas administasi kabupaten diperlukan dalam perencanaan RTRW Provinsi Papua. Untuk maksud tersebut, disepakati untuk membangun satu batas administrasi baru yang semata-mata diperlukan bagi kegiatan penyusunan RTRW Provinsi Papua sehingga berbagai perhitungan dan analisis dapat dilakukan. Batas administrasi hasil rasionalisasi yang mengacu kepada sebaran posisi permukiman yang telah berhasil dipetakan seyogyanya tidak dianggap sebagai batas final sampai proses penataan batas administrasi secara yuridis formal telah diselesaikan.
Tabel 1.2. Luas Kabupaten Menurut BPS, Claim Pemda, UU dan Penghitungan data GIS
Luas Berdasarkan: (ha) No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten/Kota Jayapura Keerom Jayawijaya Pegunungan Bintang Yahukimo Tolikara Yapen Waropen Waropen Merauke Boven Digoel Mappi Asmat Pania PuncakJaya Puncak Nabire Mimika BiakNumfor Sarmi Supiori Kota Jayapura Mamberamo Tengah Mamberamo Raya Yalimo 1,631,200 2,004,000 236,000 2,590,200 77,500 94,000 BPS (*) 1,530,900 936,500 1,268,000 1,690,800 1,577,100 881,600 313,100 2,462,800 4,397,900 2,847,100 2,763,200 1,897,600 1,421,500 1,085,200 GIS Claim Pemda 1,751,600 1,435,600 (**) 1,200,800 658,500 902,340 234,100 UU (***) 1,751,400 UU No. 26, tahun 2002 839,000 UU No. 26, tahun 2002 658,500 UU No. 6, tahun 2008 1,568,200 UU No. 26, tahun 2002 1,604,900 UU No. 26, tahun 2002 1,456,400 UU No. 26, tahun 2002 205,000 UU No. 26, tahun 2002 1,694,400 UU No. 26, tahun 2002 647,200 UU No. 26, tahun 2002 2,710,800 UU No. 26, tahun 2002 1,891,200 UU No. 26, tahun 2002 2,965,800 UU No. 26, tahun 2002 1,098,466 UU No. 55, tahun 2008 680,000 UU No. 14, tahun 2008 805,500 UU No. 14, tahun 2008 1,535,801 UU No. 8, tahun 2008 2,003,900 UU No. 14, tahun 2008 260,200 UU No. 35, tahun 2003 3,558,900 UU No. 26, tahun 2002 52,800 UU No. 35, tahun 2003 94,000 UU No. 6, tahun 1993 127,500 UU No. 3, tahun 2008 2,381,391 UU No. 19, tahun 2007 125,300 UU No. 4, tahun 2008

1,586,300 1,462,400 1,604,900 1,509,600 1,456,400 202,300 1,694,400 617,580 244,910 539,200

647,200 4,655,840 2,710,800 2,466,500 1,891,200 2,318,110 2,374,600 2,474,960 1,458,297 680,000 805,500 456,600 495,560 562,730

1,535,800 1,299,230 2,003,900 2,067,370 260,200 52,800 94,000 127,500 226,390 67,710 94,360 339,950 3,558,900 1,402,240

2,381,391 2,802,270 125,300 367,070

Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012

I Page 4

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU


Lanjutan Tabel 1.2. Luas Kabupaten Menurut BPS, Claim Pemda, UU dan Penghitungan data GIS
25 26 27 28 29 Lanny Jaya Nduga Dogiyai Deiyai Intan Jaya Prov. Papua 31,706,200 224,800 216,800 423,740 53,739 392,202 347,350 583,610 451,130 232,080 930,890 224,800 UU No. 5, tahun 2008 216,800 UU No. 6, tahun 2008 423,740 UU No. 8, tahun 2008 53,739 UU No. 55, tahun 2008 392,202 UU No. 54, tahun 2008 32,027,839

32,173,869 31,587,680

Sumber: (*) Data BPS mengacu pada saat Papua masih terdiri dari 20 Kabupaten (**) Data diperoleh dari Web Site Pemda Kabupaten atau Provinsi, jika tidak ada (cetak miring tebal), digunakan data luas menurut UU (***) Data diperoleh dari naskah UU, jika luas wilayah tidak tercantum (cetak miring tebal), menggunakan data BPS

Proses rasionalisasi batas administrasi dilakukan dengan terlebih dahulu menampilkan seluruh batas administrasi yang ada, lalu membandingkan dengan sebaran permukiman berdasarkan kabupaten. Batas kabupaten diperbaiki dengan memindahkan batas sehingga seluruh permukiman satu kabupaten dicakup oleh batas administrasi yang baru dan memindahkan batas sehingga seluruh permukiman dari kabupaten lain yang sebelumnya termasuk berada di dalam wilayah kabupaten yang seharusnya. Peletakan batas administrasi yang baru didasarkan pada beberapa keputusan secara bertahap dengan mempertimbangkan:

Jika dimiliki titik batas kabupaten yang telah diiukur dengan GPS, titik itu dipakai sebagai salah satu acuan.

Jika jarak antara dua permukiman dari kabupaten yang berbeda itu berdekatan, batas diletakkan di tengah kedua permukiman tersebut. Jika antara dua permukiman itu terdapat bentukan yang dapat dianggap sebagai batas (misalnya sungai atau punggung bukit), bentukan itu dipakai sebagai batas. Dalam hal jarak antara dua permukiman dari dua kabupaten yang berbeda terlalu jauh, batas sebisa-bisanya menggunakan batas yang ada. Jika terdapat perbedaan yang besar antara beberapa versi batas kabupaten, maka digunakan yang berada kira-kira di tengah, tentunya dengan

memperhatikan tidak ada permukiman yang menjadi berada di kabupaten yang salah.

Jika ada batas-batas alam dan batas administrasi terdahulu yang ada mengindikasikan penggunaan batas alam itu (sungai, punggung bukit, lembah dan jalan), maka batas baru akan diperbarui hingga sebesar-besarnya dapat mengakomodasikan batas alam tersebut.

Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012

I Page 5

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

Hasil sementara batas administrasi kabupaten berdasarkan posisi 2,071 titik permukiman yang ada dapat dilihat pada peta berikut ini.

Peta 1.2. Batas administrasi Provinsi Papua.

Provinsi Papua tidak hanya mencakup wilayah daratan namun juga wilayah laut dan pulau-pulau kecil yang ada dalam batas wilayahnya. Sektor pesisir, kelautan dan pulau-pulau kecil penting dan patut diperhatikan dalam penyusunan RTRW Provinsi Papua. Perairan pesisir yang dimaksud dalam UU nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Pesisir Laut dan Pulau-pulau Kecil adalah laut yang berbatasan dengan daratan meliputi perairan sejauh 12 mil laut diukur dari garis pantai, perairan yang menghubungkan pantai dan pulau-pulau, estuari, teluk, perairan dangkal, rawa payau dan laguna. Kabupaten/Kota di Provinsi Papua yang memiliki pesisir, laut ataupun pulau-pulau kecil dapat dilihat pada table 1.3.

Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012

I Page 6

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

Tabel 1.3. Luas Laut dan Panjang Garis Pantai di Provinsi Papua Luas Willayah Laut Panjang Garis 2 (km ) Pantai (km) Supiori 35,83 281,00 Biak Numfor 47,85 548,90 Yapen 40,03 897,72 Waropen 666,69 225,59 Sarmi 31,85 306,10 Nabire 234,97 560,180 Mamberamo Raya 1650,37 291,55 Jayapura 1,35 134,50 Kota Jayapura 2,81 116,77 Mimika 2832,30 444,44 Mappi 582,14 161,50 Asmat 2845,91 287,71 Merauke 3179,51 775,16 Sumber: BPS, Provinsi Kabupaten dan Kota tahun 2008, Bakorsutanal, dan hasil pengukuran GIS skala 1:250.000 tahun 2009 dari citra landsat 2000. Kabupaten/ Kota

Provinsi Papua memiliki pesisir sepanjang pantai utara dan pesisir selatan. Terdapat 10 kabupaten dan 1 kota yang wilayahnya memiliki pulau. Rekapitulasi pulau-pulau kecil tersebut adalah sebagaimana tabel berikut.

Tabel 1.4. Rekapitulasi Pulau-pulau Kecil pada Kabupaten/Kota di Provinsi Papua No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kabupaten/Kota Jumlah Pulau Jumlah Pulau Jumlah Pulau yang bernama belum Bernama 8 16 15 3 168 29 9 35 31 6 3 1 1 315 10

Kota Jayapura 8 Jayapura 16 Sarmi 15 Waropen 3 Supiori 168 Nabire 38 Kep. Yapen 35 Biak Numfor 31 Mimika 6 Merauke 4 Asmat 1 Jumlah keseluruhan 325 Sumber : Bappeda Provinsi Papua, 2012.

Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012

I Page 7

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

Tabel 1.5 Kawasan Perbatasan dan Pulau-pulau Terluar di Provinsi Papua No. 1 2 3 4 5 Nama Pulau P. Fanildo P. Brass P. Bepondi P. Liki P. Kolepon/P. Dolok Kabupaten/ Kota Supiori Supiori Supiori Sarmi Merauke Negara yang berbatasan Palau Palau Palau Palau Australia Australia Keterangan Tidak berpenduduk Berpenduduk Berpenduduk Berpenduduk Berpenduduk Tidak berpenduduk

6 P. Lagg Asmat Sumber : Bappeda Provinsi Papua, 2012

Jumlah keseluruhan pulau di Provinsi Papua adalah 325 pulau dengan 315 di antaranya sudah bernama dan masih ada 10 pulau lainnya yang belum bernama, yaitu 9 pulau di Kabupaten Nabire dan 1 pulau di Kabupaten Merauke. Dalam rangka mempercepat semua data-data pulau ini masuk ke dalam badan PBB untuk penamaan geografis, Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN), Gubernur Provinsi Papua telah mengeluarkan SK Gubernur nomor 135/489/set tahun 2007 mengenai survei/identifikasi pulau-pulau kecil yang ada di Provinsi Papua. Data verifikasi dan validasi pulau-pulau kecil ini penting bagi daerah untuk klarifikasi, unsur rupa bumi dengan nama paten sebagai identitas resmi serta harus mengadung informasi yang jelas dan akurat terhadap posisi dan letak geografisnya demi kepentingan daerah, nasional dan internasional.
B. KONDISI FISIK WILAYAH

Kondisi fisik wilayah memberikan penjelasan yang berkaitan dengan fakta lapangan yang bersifat alamiah maupun hasil buatan manusia dengan periode pengamatan, pengukuran dan klasifikasi terakhir yang tersedia.
1) Fisik Dasar

Provinsi Papua adalah provinsi paling timur wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berbatasan dengan negara Papua New Guinea. Provinsi ini terletak di Pulau Nugini (New Guinea Island) yang merupakan pulau terbesar kedua di dunia. Provinsi Papua berada di bagian tengah dan menempati 40 % luas pulau Nugini, yaitu seluas 31.706.206 Ha. Berdasarkan luas daratan ini maka Provinsi Papua menjadi provinsi terluas di Indonesia.

Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012

I Page 8

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

Sepintas bentuk pulau Nugini menyerupai gambar seekor burung yang seolah terbang ke arah barat dengan paruh terbuka. Wilayah Provinsi Papua menempati sebagian dari badan burung bagian barat. Topografi yang membentuk wilayah Provinsi Papua sangat bervariasi, mulai dari laut dangkal dan dataran rendah yang ditempati oleh hutan mangrove, rawa dan padang rumput di bagian selatan, perbukitan dan pegunungan memanjang 650 km berarah timur barat yang ditempati oleh hutan hujan tropis dengan beberapa puncak gunung ditutupi oleh salju abadi di bagian tengah, perbukitan dan dataran antar bukit dibagian utara, serta kepulauan di bagian utara yang berbatasan dengan laut yang dalam. Di jajaran pegunungan di Papua dikenal Pegunungan Jayawijaya yang memiliki 3 puncak tertinggi yang selalu diselimuti oleh salju abadi, yaitu puncak Jayawijaya dengan ketinggian 5,030 meter, puncak Trikora 5.160 meter dan puncak Yamin 5.100 meter. Sungai-sungai besar beserta anak sungainya mengalir ke arah Selatan dan Utara. Sungai Digul bermula dari pedalaman Kabupaten Merauke mengalir ke Laut Arafura. Sungai Warenai, Wagona dan Mamberamo melewati Kabupaten Jayawijaya, Paniai dan Jayapura bermuara di Samudera Pasifik. Sungai-sungai tersebut mempunyai peranan penting bagi masyarakat sepanjang alirannya baik sebagai sumber air bagi kehidupan sehari-hari, sebagai penyedia ikan maupun sebagai sarana penghubung ke daerah luar. Selain itu, terdapat pula beberapa danau, di antaranya yang terkenal adalah Danau Sentani di Kabupaten Jayapura, Danau Yamur, Danau Tigi dan Danau Paniai di Kabupaten Nabire dan Paniai. Kondisi topografi seperti di atas amat dipengaruhi oleh faktor morfologi dan ketinggian serta kelerengan. Sebagian besar morfologi wilayah Provinsi Papua berupa dataran (43,4%) dan pegunungan (38,9%). Dataran terdapat di bagian pesisir selatan bagian yang paling luas- dan pesisir utara. Pegunungan terdapat di bagian tengah wilayah Provinsi Papua, dikenal sebagai wilayah Pegunungan Tengah. Bagian morfologi dataran dengan ketinggian kurang dari 100 m menjadi bagian terluas di wilayah Provinsi Papua, yaitu 16.897.806.02 km2 (53,3%), serta pegunungan yang sangat tinggi dengan ketinggian lebih dari 3000 m dari permukaan laut menjadi bagian tersempit, yaitu 1.029.618,93 km2 (3,2%), lihat Tabel III.1. Kelerengan yang mendominasi wilayah Provinsi Papua adalah lereng landai (0 8)% menempati 45,9% dan lereng sangat terjal (> 40%) menempati 43,3%.

Selengkapnya lihat Tabel 1.6

Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012

I Page 9

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

Tabel 1.6 : Kondisi Ketinggian Tempat di Provinsi Papua


Ketinggian (m dpal) <100 Kategori Sangat rendah Luas Persen Kabupaten Merauke, Asmat, Mappi, Bouven Digul, Mambaeramo Raya, Sarmi, Biak, Yapen Mamberamo Raya, Jayapura, Sarmi, Keerom, Pegunungan Bintang, Mimika, Nabire, Waropen Jayapura, Keerom, Mamberamo Raya, Nabire, Sarmi, Waropen, Mimika Mamberamo Raya, Pegunungan Bintang, Nabire, Yahukimo, Tolikara, Jayapua Yahukimo, Jayawijaya, Pegunungan Bintang, Intan Jaya, Mimika, Paniai, Puncak Lanny Jaya, Yahukimo, Puncak, Puncak Jaya, Paniai, Pegunungan Bintang

16.897.806,02 53,3

100-300

Rendah

4.346.846,28

13,7

300 - 500

Menengah

2.519.273,54

7,9

500-1000

Tinggi

2.420.926,93

7,6

1000-3000

Sangat tinggi

4.487.757,08

14,2

3000 >

Ekstrim

1.029.618,93

3,2

Sumber : Bappeda Provinsi Papua, 2012

Tabel 1.7. Kondisi Kelerengan di Provinsi Papua


Lereng (%) 0-8 8-15 15-40 40 > Kategori Landai Agak curam Terjal Sangat Terjal Luas (km2) 14.518.478,84 3.015.352,51 406.596,40 13.708.119,14 Persen 45,9 9,5 1,3 43,3 Kabupaten Merauke, Asmat, Mappi, Mamberamo Raya, Mimika Bouven Digul, Merauke, Mappi, Mamberamo Raya, Sarmi Sarmi, Mamberamo Raya, Jayapura, Keerom, Nabire Pegunungan Bintang, Memberamo Raya, Yahukimo, Puncak Jaya, Nabire

Sumber : Bappeda Provinsi Papua, 2012 2) Geologi

Secara singkat, geologi akan menguraikan 3 aspek, yaitu materi, proses dan waktu. Aspek materi membahas komponen penyusun bumi, yaitu tanah, batuan, mineral dan air. Aspek proses yaitu proses-proses dinamis yang terjadi permukaan maupun di bawah permukaan bumi. Aspek waktu, membahas peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Dalam kaitannya dengan perencanaan tata ruang, komponen geologi merupakan komponen lingkungan fisik yang dapat bersifat sebagai faktor pendukung (potensi) pengembangan wilayah,
Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012 I Page 10

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

berupa sumber daya geologi yang terkandung di dalam tanah, serta sebagai faktor penghambat (kendala) pengembangan wilayah, berupa aspek

kebencanaan. Seperti telah diketahui, bahwa setiap wilayah (daerah) akan memiliki kondisi geologi yang tidak sama, akibatnya potensi dan kendala yang dimiliki juga akan berbeda pula. Berdasarkan rancangan aktivitas pembangunan yang tertuang di dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah maka segala kemungkinan dampak geologi dan permasalahan yang timbul akibat pembangunan disajikan dalam Tabel 1.8. Konsep pembangunan yang diterapkan oleh pemerintah daerah di Papua adalah pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang berwawasan pada lingkungan hidup. Artinya, pembangunan harus terus berlanjut tanpa menimbulkan kerusakan dan degradasi terhadap lingkungan.

Pembangunan yang dimaksud adalah aktivitas pengelolaan (pemanfaatan dan pendayagunaan) sumber daya alam dan lingkungan hidup yang memperhatikan kelestarian fungsi dan kemampuan, serta keseimbangannya. Dengan demikian kegiatan pembangunan tidak menjadi pemicu terjadinya kerusakan lingkungan maupun bencana. Berdasarkan kajian pengembangan wilayah, diketahui bahwa munculnya berbagai masalah lingkungan terjadi akibat belum dimasukkannya variabel daya dukung dan daya tampung lingkungan secara terpadu dan sinergi dengan aspek lainnya dalam kegiatan pembangunan. Permasalahan yang seringkali terjadi, antara lain:
a. Pembangunan yang dilaksanakan tidak sesuai dengan ketersediaan

sumberdaya alam, sehingga sumber daya yang dimiliki akan tereksploitasi secara berlebihan.
b. Lokasi pembangunan berada pada daerah yang rawan terhadap bencana

alam (geologi).
c.

Kegiatan

pembangunan

menjadi

pemicu

pencemaran

sehingga

mempercepat degradasi lingkungan.

Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012

I Page 11

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

Tabel 1.8 komponen geologi dan bidang pembangunan


Bidang Pembangunan
P e m u k i m a n P e r d a g a n g a n P e r k a n t o r a n I n d u s t r i P e r t a m b a n g a n P e r k e b u n a n H u t a n P a r i w i s a t a T r a n s p o r t a s i T e l k o m & L i s t r i k J a r. p i p a P r a s. A i r B a k u S a m p a h & L i m b a h

Komponen Geologi

Sub Komponen

Bentang alam Air tanah

Tanah & Batuan

Bahan galian Bencana geologi

Topografi Ketinggian Kelerengan Potensi Kedudukan muka air tanah Daerah resapan & lepasan Daya dukung Sifat fisik Sifat keteknikan Sifat kimia Kesuburan tanah Jenis Potensi Posisi & keberadaan Gunung api Erosi & gerakan tanah Penurunan tanah Gempa bumi & sesar aktif Tsunami Likuifaksi Intrusi air laut

xx xx (xx) xx (xx) xx xx x xx x x (xx) x x (xx) (xx) x xx (xx) x xx

(xx) xx (xx) (xx) xx (xx) (xx) x xx x x xx xx (xx) (xx) (xx) xx (xx) xx (xx) (xx)

(xx) (xx) (xx) (xx) x (xx) (xx) x xx x x xx xx (xx) (xx) (xx) (xx) xx xx (xx) (xx)

x x x x xx (xx) o o x x xx (xx) (xx) xx xx xx o xx xx x xx

xx xx xx xx xx (xx) o o o xx (xx) o o o x x o o o o o

xx xx xx xx xx (xx) o o o xx xx o o o x x o o o o o

x (xx) x o o (xx) o o o xx xx o o o x x o x o o o

(xx) x x o o xx x x x o o o o o (xx) (xx) x (xx) x x o

xx xx (xx) o xx xx xx xx xx xx o xx xx x xx (xx) (xx) xx x xx o

(xx) x (xx) o o o xx xx xx o o o o o xx xx xx xx x xx o

(xx) x (xx) o x x xx xx xx o o o o o xx xx xx xx x xx o

(xx) xx xx o o o xx xx xx x xx xx xx xx (xx) xx xx xx o xx o

(xx) x (xx) x (xx) (xx) xx xx xx x xx o o x xx xx xx xx x xx o

Keterangan : (xx) =sangat dipertimbangkan; xx=dipertimbangkan; x=cukup dipertimbangkan; o= kurang dipertimbangkan

Menyadari arti pentingnya geologi dalam mengoptimalisasi pemanfaatan wilayah (ruang) yang berwawasan lingkungan, maka perlu dipahami secara lebih mendalam tentang kondisi dan sejarah geologi Papua secara regional.

a. Kondisi Tektonik Regional


Berdasarkan bentuk pulau yang menyerupai seekor burung maka Papua memiliki kondisi geologi yang unik dan sangat kompleks. Hal ini terjadi akibat interaksi 2 lempeng, yaitu lempeng benua Australia dan lempeng samudera Pasifik. Sebagian besar evolusi tektonik Papua terjadi pada masa (era) Kenozoikum yang menghasilkan Oblique Convergence atau tubrukan menyudut antara lempeng IndoAustralia dan lempeng Pasifik (Hamilton, 1979; Dow dkk, 1988)

Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012

I Page 12

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

Papua memiliki Jalur Pegunungan Tengah ( Central Mountain Range) dikenal sebagai lokasi tipe untuk an active island arc continent collision (Dewey dan Bird, 1970). Jalur tengah ini memiliki panjang 1300 km dan lebar 150 km, dan topografi yang tidak datar serta terdapat sejumlah puncak yang memiliki ketinggian lebih dari 3000 m. Sebagian besar jalur tengah tersusun oleh lapisan Mesozoikum dan Kenozoikum yang telah terlipat kuat dan tersesarkan, dan pengendapan yang terjadi di batas pasif benua Australia (Gambar 1.3).

Gambar 1.3. Peta kondisi tektonik pulau Papua, terdiri dari MTFB = Mamberamo Thrust & Fold Belt; WO = Weyland Overthrust; WT = Waipona Thrust; TAFZ = Tarera-Aiduna Fault Zone; RFZ = Ransiki Fault Zone; LFB = Lengguru Fault Belt; SFZ = Sorong Fault Zone; YFZ = Yapen Fault Zone; MO = MisoolOnin High.

Secara umum geologi di Papua dikendalikan oleh interaksi lempeng benua dan samudera, akibatnya wilayah di Papua dapat dibedakan menjadi 3 mandala geologi, yaitu benua (di sebelah selatan), samudera (di sebalah utara) dan transisi (di bagian tengah). Setiap mandala geologi tersebut memiliki karakteristik masingmasing menurut stratigrafi, proses magmatik dan sejarah tektoniknya.

Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012

I Page 13

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

Mandala benua (continent) terdiri dari endapan yang merupakan bagian dari benua Australia. Mandala samudera (oceanic) terdiri dari batuan ofiolit dan busur kepulauan volkanik kompleks yang merupakan bagian dari samudera pasifik. Mandala transisi adalah zone yang terdiri dari deformasi lanjut dari batuan metamorfik regional, sebagai produk interaksi antara 2 lempeng. Pembagian mandala geologi seperti ini tidak dapat diterapkan pada bagian leher dan kepala burung, karena kedua bagian tersebut memiliki sejarah geologi yang berbeda dari bagian badan burung (Pieter dkk, 1983; Pigram dan Davies, 1987).

b. Kondisi Litotektonik
Bagian badan burung (wilayah Provinsi Papua) dapat dibedakan menjadi 4 litotektonik, yaitu 1) New Guinea Foreland/Foreland Basin (Arafura Platform), 2) Central Range Fold and Thrust Belt , 3) Metamorphic (Ruffaer Metamorphic Belt) dan Ophiolite Belt, dan 4) kompleks busur kepulauan Melanesia (depresi Meervlakte/North West Basin dan Mamberamo Thrust Belt). New Guinea Foreland (Arafura Platform) terdiri dari laut Arafura dan dataran pantai bagian selatan Papua yang terletak pada kerak benua Australia. Stratigrafi platform tersusun oleh sebagian besar batuan laut dan bukan laut Pliosen yang tidak termetamorfikan, dan batuan sedimen silisiklastik Holosen yang mendasari batuan karbonat Kenozoikum dan lapisan selisiklasktik Mesozoikum yang diendapkan pada pasive margin Australia (Dow dan Sukamto, 1984). Foreland dan jalur lipatan patahan Pegunungan Tengah dikenal sebagai New Guinea Mobile Belt (Dow, 1988). Jalur tengah ini merupakan sabuk orogenik yang terdiri dari morfologi lipatan dan patahan yang tersusun oleh batuan Paleozoikum hingga Tersier dari benua Australia. Sabuk metamorfik Ruffaer memiliki lebar 50 km, secara umum terdeformasi lanjut, merupakan batuan metamorfik suhu rendah (<300 oC) yang terbatas dijumpai pada bagian sebalah utara sabuk ofiolit Papua dan di sebelah selatan telah terdeformasi, tetapi pada bagian passive margin belum termetamorfikan (Dow dkk, 1988; Nash dkk, 1993; Warren, 1995; Weilland, 1999). Sabuk ofiolit Papua dipisahkan dari sabuk metamorfik Ruffaer oleh rangkaian patahan dan tertutup oleh aluvium cekungan Meervlakte. Suture pemisah satuan batuan dari kedua lempeng dapat ditemukan pada batas antara kedua sabuk ini. Zona sesar/patahan Derewo menjadi batas antara sabuk metamorfik Ruffaer dan lapisan tidak termetamorfikan dari sabuk lipatan Papua (Dow dkk, 1986).
Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012 I Page 14

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

Pengaruh orogenik di bagian utara Papua sangat sedikit terungkap. Zona kompleks melibatkan batuan oceanik yang berasal dari kolisi busur kepulauan Melanesia dengan lempeng Pasifik. Sabuk ini terdiri dari cekungan Meervlakte (dataran danau) dan sabuk patahan dan lipatan Mamberamo/ Mamberamo Thrust-and-Fold Belt (MTFB). Meervlakte adalah cekungan antar pegunungan ( intermontane) dan cekungan ini memiliki subsidence aktif sejak Miosen Tengah hingga sekarang, dengan kecepatan penurunan lebih besar daripada kecepatan sedimentasinya (Dow dkk, 1988). Lebar MTFB 200km, cenderung berarah NW terdeformasi convergent, sebagian besar berupa dataran busur melanesia yang terjadi pada awal Pliosen dan hingga sekarang masih aktif (Dow dan Sukamto, 1984; Dow dkk, 1988).

c. Kondisi Stratigrafi Regional


Tatanan (nomenclature) urutan batuan di wilayah Papua yang detail dan lengkap diuraikan secara baik oleh Dow dkk (1988) dalam laporan dan peta yang dipublikasikan oleh Badan Geologi Bandung (dahulu: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung), Gambar 1.2. Secara umum stratigrafi Papua dapat diuraikan berdasarkan pembagian mandala geologi, yaitu benua, samudera dan transisi, mulai dari umur tertua hingga termuda. Stratigrafi yang berhubungan dengan lempeng benua diuraikan menurut masa ( era) pengendapannya, yaitu batuan dasar Paleozoikum, sedimentasi masa Mesozoikum hingga Kenozoikum, dan sedimentasi masa Kenozoikum Akhir. Stratigrafi yang berkaitan dengan lempeng samudera dan wilayah transisi diuraikan menurut material pengisinya

Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012

I Page 15

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

Gambar 1.4. Stratigrafi Regional Pulau Papua (Dow dkk, 1988)

3) Jenis Tanah

Tanah merupakan tubuh alam yang terbentuk sebagai hasil proses pelapukan batuan yang berfungsi sebagai tempat hidup tumbuhan. Faktor pembentuk tanah yang dimaksud adalah bahan induk, iklim, topografi, organisme dan waktu. Oleh karena faktor pembentuk tanah tersebut mempengaruhi perkembangan tanah, maka jenis tanah bervariasi dari satu tempat dengan tempat lain, demikian juga produktivitas dalam pemanfaatannya. Berdasarkan jenisnya, maka tanah di Provinsi Papua ada enam yaitu: a. Alfisol. Tanah yang mempunyai kandungan liat yang tinggi di horison B (horison argilik). Tanah ini masih relatif muda (pelapukan belum lanjut), sehingga masih banyak mengandung mineral primer yang muda lapuk, mineral liat kristalin dan kaya unsur hara. Kejenuhan basa tanah ini tinggi (>35%) demikian juga kapasitas tukar kationnya. Tanah ini banyak digunakan untuk pertanian, perumputan atau hutan.

Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012

I Page 16

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

b. Entisol. Adalah tanah yang baru berkembang dari bahan asal atau bahan induknya. Pembentukan tanah ini dapat sebagai akibat dari iklim yang sangat kering sehingga pelapukan dan reaksi kimia sangat lambat, adanya erosi yang kuat sehingga bahan-bahan yang tererosi lebih banyak dari yang terbentuk, pengendapan yang terus menerus, selalu jenuh air sehingga menghambat perkembangan horison. Tanah Entisol banyak digunakan untuk pertanian terutama di daerah endapan sungai yang umumnya subur. c. Inceptisol. Tanah ini merupakan tanah yang belum matang, perkembangan profilnya lemah dan masih banyak menyerupai bahan induknya. Penggunaannya untuk pertanian dan non pertanian adalah beragam, daerah berlereng untuk hutan dan untuk pertanian perlu didrainase jika drainase buruk. d. Mollisol. Tanah ini terbentuk dari adanya proses pembentukan tanah yang berwarna gelap karena penambahan bahan organik. Akibat pelapukan bahan organik di dalam tanah membentuk senyawa-senyawa yang stabil dan berwarna gelap. Warna gelap yang terbentuk, dengan adanya aktivitas mikroorganisme tanah maka terjadi pencampuran bahan organik dan bahan mineral tanah sehingga terbentuk kompleks mineral-organik yang berwarna kelam. Tanah ini merupakan tanah yang subur dengan hanya sedikit pencucian sehingga kejenuhan basa tinggi. Sebagian besar tanah ini digunakan untuk pertanian. e. Histosol. Tanah ini terbentuk akibat penimbunan bahan organik lebih besar dari mineralisasinya. Keadaan ini terbentuk pada tempat-tempat yang selalu tergenang air sehingga sirkulasi oksigen terhambat dan terjadi akumukasi bahan organik. Untuk dapat digunakan bagi usaha pertanian, tanah histosol harus dilakukan perbaikan drainase. Tanah ini biasanya sesuai untuk sayur-sayuran, bawang merah, padi dan sebagainya. f) Ultisol. Tanah ini merupakan tanah yang sudah berkembang dan dicirikan dengan adanya horison argilik, bersifat masam dan kejenuhan basa rendah (<35%). Tanah ini umumnya terbentuk dari bahan induk batuan liat. Untuk pemanfaatan tanah ini ada beberapa kendala yaitu reaksinya masam, kejenuhan basa rendah,
Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012 I Page 17

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

kadar aluminium yang tinggi sehingga dapat meracuni tanaman, ketersediaan unsur hara rendah dan adanya fiksasi fosfor yang tinggi. Dengan demikian untuk pemanfaatannya diperlukan pemupukan dan pengapuran untuk mengatasi kemasaman tanah dan keracunan aluminium. Jenis tanah memiliki tingkat kepekaan terhadap erosi yang berbeda. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa 66,8% dari luas daratan di wilayah Provinsi Papua merupakan jenis tanah yang peka terhadap erosi, dan 33% sisanya adalah jenis tanah yang tidak peka terhadap erosi. Pembagian tingkat, sub tingkat dan kelompok tanah berdasarkan tingkat kepekaan tanah terhadap erosi maka luas masing-masing jenis tanah di wilayah Provinsi Papua.

4)

Hidrologi

Daerah aliran sungai (DAS) merupakan suatu wilayah daratan yang menerima air hujan, menampung dan mengalir melalui sungai utama ke laut dan/atau danau. Pembagian DAS dibatasi dengan batas alam seperti punggung bukit dan gunung. Seluruh wilayah daratan provinsi terbagi habis dalam DAS, masing-masing memiliki kondisi dan permasalahan yang yang berbeda, serta dipengaruhi oleh faktor biofisik dan sosial-ekonomi. Pengelolaan DAS merupakan upaya dalam rangka rehabilitasi lahan dan konservasi tanah, sehingga pemanfaatan sumberdaya alam di sekitar DAS oleh masyarakat tetap dapat dilakukan tanpa menimbulkan kerusakan terhadap sumberdaya alam tersebut. Provinsi Papua memiliki sungai yang terbagi dalam 18 Daerah Aliran Sungai, yang tersebar di 29 Kabupaten/Kota. DAS Mamberamo merupakan DAS Prioritas I yang diklasifikasikan sebagai DAS kritis yang diprioritaskan untuk ditangani secara terpadu. DAS Mamberamo memiliki cakupan wilayah terbesar seluas 9.464.922 ha, meliputi 9 wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Jayapura, Keerom, Sarmi, Waropen, Puncak Jaya, Jayawijaya, Tolikara, Yahukimo, dan Kabupaten

Pegunungan Bintang. Sungai Mamberamo yang merupakan sungai terpanjang yaitu 870 km mempunyai lebar 175-800 meter dan Sungai Digoel yang merupakan sungai terpanjang kedua yaitu 800 km mempunyai lebar 215-1.209 meter. Terdapat pula beberapa sungai besar lainnya seperti Sungai Waipoga, Beraur, Warsamsan, Maturi, Maro, Mimika, Lorenz, Kaibus Karabra dan lainnya. Secara garis besar, daerah tangkapan sungai (catchment area) di Tanah Papua dapat dibagi ke dalam lima satuan wilayah sungai (SWS) dengan 106 DPS.

Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012

I Page 18

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

C. KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGELOLAAN SDA DAN LH

Kebijakan dalam pelaksanaan pembangunan pada hakekatnya merupakan penjabaran dari Visi dan Misi yang telah ditetapkan yaitu : Selamatkan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup untuk pembangunan berkelanjutan menuju Papua Baru (Save our environment and natural resources for sustainble development of New Papua). Pemerintah Provinsi Papua telah menetapkan arah kebijakan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup di Papua sebagai berikut: 1) Memanfaatkan Sumber Daya Alam dan jasa-jasa lingkungannya, secara efisien, efektif, optimal dan akuntabel dalam mendukung perekonomian dan kehidupan rakyat Papua yang mengarah pada penerapan prinsip-prinsip sustainable

management. 2) Melindungi fungsi lingkungan hidup agar kualitas dan daya dukungnya tetap terjaga, sekaligus menjamin tersedianya ruang yang memadai bagi kehidupan masyarakat Papua. 3) Mengembangkan sistem pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup yang mantap yang disertai dengan penguatan kelembagaan, pengembangan teknologi yang ramah lingkungan dan pengembangan instrumen pendukung lainnya dalam pemanfaatan Sumber Daya Alam dan perlindungan lingkungan hidup, yang berdasarkan pada prinsip tata kelola yang baik, termasuk dalam penegakan hukum, pengakuan hak azasi masyarakat adat dan lokal, dan perluasan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. 4) Mengendalikan pencemaran lingkungan hidup untuk mencegah perusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup baik di darat, perairan, maupun udara sehingga masyarakat memperoleh kualitas lingkungan hidup yang bersih dan sehat. 5) Meningkatkan kualitas dan akses informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup dalam mendukung perencanaan pemanfaatan sumber daya alam dan perlindungan lingkungan hidup. 6) Meningkatkan peran aktif Papua dalam perlindungan lingkungan global.

Keenam kebijakan prioritas Pemerintah Provinsi Papua dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup tersebut selanjutnya merupakan prioritas dalam penyusunan program dan kegiatan. Berdasarkan visi, misi, tujuan, sasaran dan kebijakan, maka ditetapkan 5 (lima) program pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang telah diintegrasikan kedalam Rencana Pembangunan Jangka
Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012 I Page 19

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Papua. Program-program pokok tersebut adalah sebagai berikut : 1) Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam. Program ini bertujuan untuk melindungi sumber daya alam dari kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas pengelolaan yang kurang memperhatikan dampak negatif terhadap potensi sumber daya alam dan lingkungan hidup, dan menyelenggarakan pengelolaan kawasan konservasi untuk menjamin keragaman ekosistem dan keberadaan sumber daya alam sehingga terjaga fungsinya sebagai penyangga sistem kehidupan Sasaran yang ingin dicapai dalam program ini adalah terlindunginya kawasan konservasi dan kawasan lindung dari kerusakan akibat pemanfaatan sumber daya alam yang tidak terkendali dan eksploitatif (natural resource s over exploitation and uncontrol utilization). 2) Program Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan Sumber Daya Alam. Program ini bertujuan untuk merehabilitasi sumber daya alam yang rusak dan mempercepat pemulihan cadangan sumber daya alam sehingga selain dapat menjalankan fungsinya sebagai penyangga sistem kehidupan, juga dapat menjadi potensi bagi pengelolaan yang berkelanjutan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua. Sasaran yang ingin dicapai dalam program ini adalah terehabilitasinya sumber daya alam yang mengalami kerusakan akibat pemanfaatan yang tidak terkendali dan eksploitatif, dan terwujudnya pemulihan kondisi sumber daya hutan, lahan, laut dan pesisir, perairan tawar serta sumber daya mineral agar berfungsi optimal sebagai fungsi produksi dan fungsi penyeimbang lingkungan

3) Program Pengembangan Lingkungan Hidup.

Kapasitas Pengelolaan

Sumber

Daya

Alam dan

Program ini ditujukan untuk meningkatkan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup melalui tata kelola yang baik yang berdasarkan pada prinsip transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas. Sasaran yang akan dicapai dalam program ini adalah meningkatnya kapasitas pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup sehingga sumber daya alam yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal, adil dan berkelanjutan yang ditopang dengan kualitas lingkungan hidup yang bersih dan sehat.

Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012

I Page 20

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

4) Program Pengendalian Pencemaran Lingkungan Hidup. Program ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup dalam upaya mencegah perusakan dan/atau pencemaran lingkungan hidup baik di darat, perairan tawar dan laut, maupun udara sehingga masyarakat memperoleh kualitas lingkungan hidup yang baik. Sasaran yang hendak dicapai dalam program ini adalah menurunnya tingkat pencemaran lingkungan dan terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat.

5) Program Peningkatan Kualitas Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan akses informasi sumber daya alam dan lingkungan hidup dalam rangka mendukung pemanfaatan sumber daya alam dan perlindungan fungsi lingkungan hidup. Sasaran yang ingin dicapai dalam program ini adalah tersedianya data dan informasi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang lengkap, akurat, dan mudah diakses oleh semua pemangku kepentingan dan masyarakat luas.

Sedangkan kegiatan pokok yang menjadi prioritas dalam masing-masing program di atas yang dapat dilaksanakan adalah sebagai berikut :

Program 1) Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam, kegiatan pokok meliputi : a. Pengkajian kebijakan perlindungan dan konservasi sumber daya alam. b. Penyelematan dan perlindungan sumber daya alam di dalam kawasan konservasi dan kawasan lain yang rentan terhadap kerusakan dari kegiatan pemanfaatan yang tidak terkendali dan eksploitatif. c. Pengelolaan dan perlindungan keanekaragaman hayati (land and marine species) dari kepunahan. d. Pengembangan sistem insentif dalam konservasi sumber daya alam. e. Penyusunan mekanisme pendanaan bagi kegiatan perlindungan sumber daya alam. f. Inventarisasi hak adat dan ulayat dan pengembangan masyarakat setempat. pengembangan kerja sama

g. Peningkatan partisipasi masyarakat dan

kemitraan dalam perlindungan dan pelestarian alam. h. Pengembangan ekowisata dan jasa lingkungan di kawasan-kawasan konservasi darat dan laut. i. Perlindungan dan pengamanan hutan.
I Page 21

Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

j.

Penanggulangan dan pengendalian kebakaran hutan.

k. Peningkatan penegakan hukum terpadu dan percepatan penyelesaian kasus pelanggaran/kejahatan kehutanan. l. Pemantapan pengelolaan kawasan konservasi dan hutan lindung.

m. Penguatan sarana dan prasarana pengelolaan kawasan konservasi. n. Pembentukan dan peningkatan kapasitas kelembagaan pengelolaan

kawasan konservasi dan kawasan lindung. o. Pengembangan kawasan konservasi laut dan suaka perikanan. p. Pengembangan budidaya perikanan berwawasan lingkungan. q. Penyusunan dan penyempurnaan peraturan perundangan bidang konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup. r. Evaluasi lingkungan dan kawasan konservasi alam geologi untuk pelestarian lingkungan hidup. s. Konservasi geologi dan sumber daya mineral. t. Penanggulangan konversi lahan pertanian produktif dalam rangka

peningkatan ketahanan pangan. u. Survey dan pemetaan kawasan konservasi Provinsi Papua.

Program 2) Program Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan Sumber Daya Alam, kegiatan pokok meliputi : a. Perencanaan dan evaluasi pengelolaan Daerah Aliran Sungai. b. Pembinaan dan pengembangan pembibitan. c. Reboisasi dan penghijauan. d. Pembangunan hutan tanaman industri (HTI), kawasan konservasi dan lindung. e. Rehabilitasi ekosistem pesisir dan laut (mangrove, terumbu karang, dan padang lamun), dan pengembangan sistem manajemen pengelolaan pesisir dan laut. f. Rehabilitasi kawasan perairan tawar seperti waduk, situ, dan danau.

g. Pengkayaan (restocking) sumber daya perikanan dan biota air lainnya. h. Rehabilitasi areal bekas pertambangan terbuka. i. Survey dan pemetaan wilayah terkena dampak akibat pemanfaatan dan pengolahan sumberdaya alam. j. Survey dan pemetaan wilayah rawan bencana alam.

Program 3) Program Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Sumber Daya Alam dan


Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012 I Page 22

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

Lingkungan Hidup, kegiatan pokok meliputi : a. Pengkajian dan analisa instrumen yang mendukung pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan dan perlindungan lingkungan hidup, seperti peraturan perundangan dan kebijakan termasuk penegakan hukumnya. b. Pengembangan dan peningkatan kapasitas institusi dan aparatur penegak hukum dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. c. Penguatan kapasitas kelembagaan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup, baik di tingkat pusat, daerah maupun masyarakat lokal dan adat. d. Pengembangan peran serta masyarakat (warga madani) dan pola kemitraan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. e. Pengembangan tata nilai sosial yang berwawasan lingkungan. f. Pengembangan sistem pengendalian dan pengawasan sumber daya alam (hutan, air, tanah, pesisir, laut, tambang, dan mineral), termasuk sistem pengawasan oleh masyarakat. g. Pengembangan sistem pendanaan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. h. Penetapan standar pelayanan minimal bidang lingkungan. i. j. Penyiapan dan pendirian pusat produksi bersih lingkungan. Pengembangan lingkungan. k. Pengembangan pelaksanaan perjanjian internasional yang telah disepakati. l. Pelaksanaan valuasi ekonomi pengelolaan sumberdaya alam. dan peningkatan penataan dan penegakan hukum

m. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia untuk pelaksanaan Valuasi Ekonomi SDA dan LH. n. Survey dan pemetaan sumber daya mineral untuk mengetahui penyebaran dan jumlah cadangan mineral di Provinsi Papua. o. Pemetaan potensi sumber daya hutan di Provinsi Papua. p. Pemetaan potensi lahan yang sesuai dengan fungsi, daya guna dan daya dukung lingkungan. q. Survey sumber daya energy baru dan terbarukan di wilayah pengembangan. r. Eksplorasi sumber daya mineral yang bernilai strategis dan vital dalam peningkatan perekonomian daerah. s. Eksplorasi sumber daya air bawah tanah guna keperluan penyediaan air bersih dan penyehatan lingkungan.

Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012

I Page 23

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

t.

Eksplorasi sumber daya energy (batu bara, minyak dan gas bumi) untuk mendukung pengembangan industry di daerah.

u. Eksplorasi sumber daya hayati (kehutanan, pertanian dan perkebunan) untuk pengembangan investasi daerah. v. Penyusunan Neraca sumber daya alam (NSDA) Provinsi Papua.

Program 4) Program Pengendalian Pencemaran Lingkungan Hidup, kegiatan pokok meliputi : a. Penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang mendukung pengendalian pencemaran. b. Penetapan indeks dan baku mutu lingkungan dan baku mutu limbah. c. Pengembangan teknologi yang berwawasan lingkungan, termasuk teknologi tradisional dalam pengelolaan sumber daya alam, pengelolaan limbah, dan teknologi industri yang ramah lingkungan. d. Pengintegrasian biaya-biaya lingkungan ke dalam biaya produksi. e. Pemantauan yang kontinu, serta pengawasan dan evaluasi baku mutu lingkungan. f. Pengendalian pencemaran kualitas udara dari sumber bergerak dan sumber tidak bergerak. g. Pengendalian pencemaran kualitas air. h. Inventarisasi dan pengendalian pencemaran dari bahan-bahan perusak ozon (ozon depleting substances). i. j. Perumusan kebijakan untuk mengadaptasi perubahan iklim. Inventarisasi dan persiapan kegiatan melalui Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism). k. Pengendalian Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari sumber-sumber industri dan rumah sakit. l. Pengendalian pencemaran industri, pertambangan dan pertanian melalui berbagai mekanisme insentif dan disintesif kepada para pelaku. m. Pengembangan sistem penilaian kinerja lingkungan industri. n. Penanganan sampah perkotaan dengan konsep 3R (reduce, reuse dan recycle). o. Peningkatan Sarana dan Prasarana Pengelolaan sampah. p. Peningkatan penyuluhan dan interpretasi lingkungan kepada masyarakat menuju budaya produksi dan konsumsi yang berkelanjutan.
Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012 I Page 24

PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU

q. Peningkatan kinerja AMDAL. r. Perbaikan manajemen penanganan kualitas udara perkotaan.

Program 5) Program Peningkatan Kualitas Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, kegiatan pokok meliputi : a. Penyusunan data dasar sumber daya alam baik data potensi maupun data daya dukung kawasan ekosistem, termasuk pulau-pulau kecil. b. Penyusunan statistik bidang lingkungan hidup baik di tingkat nasional maupun daerah. c. Pengembangan sistem jaringan laboratorium nasional bidang lingkungan. d. Pengembangan lingkungan. e. Pengembangan sistem inventarisasi dan informasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup. f. Inventarisasi dan pemantauan kualitas udara perkotaan dan sumber-sumber air. g. Inventarisasi sumber daya mineral melalui penyelidikan geologi, survei eksplorasi, dan kegiatan pemetaan. h. Pengembangan valuasi sumber daya alam (hutan, air, pesisir, dan mineral). i. j. Penyusunan dan penerapan Produk Domestik Bruto (PDB) hijau. Penyusunan Neraca Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup yang antara lain mencakup neraca sumber daya hutan, mineral, dan energi. k. Pendataan dan penyelesaian batas kawasan sumber daya alam, termasuk kawasan hutan dan kawasan perbatasan dengan negara lain. l. Penyusunan indikator keberhasilan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. m. Peningkatan akses informasi kepada masyarakat. n. Penerbitan Bulletin sumberdaya alam dan lingkungan hidup. o. Survey dan pemetaan potensi keaneka ragaman hayati wilayah pesisir dan laut. p. Penyediaan dan penyusunan data dasar dan informasi tentang pemanfaatan sumberdaya alam dan potensi kebencanaan. q. Pengembangan sistim informasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup. r. Pengembangan system evalusi pemanfaatan sumberdaya alam. sistem deteksi dini terhadap kemungkinan bencana

s. Promosi pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

Profil Pengelolaan Tutupan Vegetasi Provinsi Papua 2012

I Page 25