Anda di halaman 1dari 4

2.

Perubahan Struktur Ekonomi Chenery mengatakan bahwa perubahan struktur ekonomi disebut sebagai transformasi struktur yang diartikan sebagai suatu rangkaian perubahan yang saling terkait satu sama lain dalam komposisi agregat demand (AD),ekspor-impor (X-M). Agregat supplay (AS) yang merupakan produksi dan penggunaan faktor -faktor produksi seperti tenaga kerja dan modal guna mendukung proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berlanjut (Tambunan, 2003). Ada dua teori utama yang umum digunakan dalam menganalisis perubahan struktur ekonomi, yakni dari Arthur Lewis tentang teori migrasi dan Holis Chenery tentang teori transportasi struktural. Teori Lewis pada dasarnya membahas proses pembangunan ekonomi yang terjadi di daerah pedesaan dan daerah perkotaan. Dalamnya Lewis mengasumsikan bahwa perekonomian suatu negara pada dasarnya terbagi menjadi dua yaitu perekonomian tradisional di pedesaan yang didominasi sektor pertanian dan perekonomian modern di perkotaan dengan industri sebagai sektor utama. Karena perekonomiannya masih bersifat tradisional dan sub sistem dan pertumbuhan penduduk yang tinggi maka terjadi kelebihan supplay tenaga kerja. Struktur Perekonomian Indonesia Berdasarkan tinjauan makro-sektoral perekonomian suatu negara dapat berstruktur agraris (agricultural), industri (industrial), niaga (commercial) hal ini tergantung pada sektor apa/mana yang dapat menjadi tulang punggung perekonomian negara yang bersangkuatan. Pergeseran struktur ekonomi secara makro-sektoral senada dengan pergeserannya secara keuangan (spasial).Ditinjau dari sudut pandang keuangan (spasial), struktur perekonomian telah bergeser dari struktur pedesaan menjadi struktur perkotaan modern. Struktur perekonomian Indoensia sejak awal orde baru hingga pertengahan dasa warsa 1980-an berstrukturetatis dimana pemerintah atau negara dengan BUMN dan BUMD sebagai perpanjangan tangannya merupakan pelaku utama perekonomian Indonesia. Baru mulai pertengahan dasawarsa 1990-an peran pemerintah dalam perekonomian berangsur-angsur dikurangi, yaitu sesudah secara eksplisit dituangkan melalui GBHN 1988/1989 mengundang kalangan swasta untuk berperan lebih besar dalam perekonomian nasional. Struktur ekonomi dapat pula dilihat berdasarkan tinjauan birokrasi pengambilan keputusan.Berdasarkan tinjauan birokrasi pengambilan keputusannya dapat dikatakan bahwa struktur perekonomian selama era pembangunan jangka panjang tahap pertama adalah sentralistis.Dalam struktur ekonomi yang sentralistik, pembuatan keputusan (decision-making) lebih banyak ditetapkan pemerintah pusat atau kalangan atas pemerintah.

3. Penyebab Perubahan Struktur Industri di Negara Berkembang


A. Penawaran Agregat Yaitu terdiri dari perkembangan teknologi, kualitas SDM, dan inovasi material baru untuk produksi.

1. Perkembangan Teknologi (Technological Progress) Perubahan lingkungan kompetisi pada tahun-tahun terakhir ini membuat fokus perkembangan teknologi dan besarnya peranan pemerintah di masing-masing negara menjadi berlainan. Negara-negara industri secara umum memfokuskan dan berlomba-lomba untuk mencapai batas-batas inovasi mereka, dan mencoba untuk memperbaiki system inovasi nasional. Disisi lain, negara-negara berkembang pada umumnya lebih fokus untuk mengadaptasikan teknologi yang ada secara lebih efektif. Walaupun demikian, perusahaanperusahaan di sejumlah negara berkembang juga menjadi inovator, terutama untuk cerukceruk pasar yang masih memberikan potensi (World Investment Report, 1999: 196). Pengamatan proses perubahan struktur industri amat jelas tidak bisa mengabaikan arah perkembangan teknologi. Dengan demikian, teori-teori mengenai teknologi menjadi sangat relevan kalau para peneliti mengenai hal tersebut untuk memperoleh gambaran yang baik mengenai proses-proses yang berlangsung. Ketertinggalan negara sedang berkembang dalam bidang ekonomi sebenarnya dapat ditelusuri dari ketertinggalan di bidang teknologi ini. Sekarang ini sedang sangat popular soal knowledgebased economy (KNE). Diskusi mengenai KNE berkenaan dengan pengembangan perekonomian suatu negara sudah barang tentu sangat berkaitan dengan persoalan-persoalan (hubungan) antara teknologi dan ekonomi. Teori-teori yang dibahas di depan akan memiliki relevansi yang tinggi dalam melihat persoalan tersebut, khususnya bagi negara sedang berkembang. 2. Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan & Teknologi (IPTEK) Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam reformasi ekonomi, yakni bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global yang selama ini kita abaikan. Rendahnya SDM Indonesia diakibatkan kurangnya penguasaan IPTEK, karena sikap mental dan penguasaan IPTEK yang dapat menjadi subyek atau pelaku pembangunan yang handal. Dalam kerangka globalisasi, penyiapan pendidikan perlu juga disinergikan dengan tuntutan kompetisi. Oleh karena itu, dimensi daya saing dalam SDM semakin menjadi faktor penting sehingga upaya memacu kualitas SDM melalui pendidikan merupakan tuntutan yang harus dikedepankan. Salah satu problem struktural yang dihadapi dalam dunia pendidikan adalah bahwa pendidikan merupakan subordinasi dari pembangunan ekonomi. Pada era sebelum reformasi pembangunan dengan pendekatan fisik begitu dominan. Hal ini sejalan dengan kuatnya orientasi pertumbuhan ekonomi. Arah pembangunan SDM di negara berkembang ditujukan pada pengembangan kualitas SDM secara komprehensif meliputi aspek kepribadian dan sikap mental, penguasaan ilmu dan teknologi, serta profesionalisme dan kompetensi yang ke semuanya dijiwai oleh nilai-nilai religius sesuai dengan agamanya. Dengan kata lain, pengembangan SDM di negara-negara

berkembang meliputi pengembangan kecerdasan akal (IQ), kecerdasan sosial (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). 3. Spesialisasi dan Inovasi Material Baru untuk Produksi Definisi spesialisasi dalam ruang lingkup industri sama saja seperti fundamentalnya, yaitu merupakan suatu bentuk pembagian tenga kerja di mana individu atau perusahaan memusatkan usaha-usaha produktif mereka pada sebuah kegiatan atau sejumlah kegiatankegiatan yang terbatas. Spesialisasi ini dapat memusatkan diri pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannnya. Hal tersebut semua terjadi dalam perubahan struktur industri di negara berkembang, di mana tingkat spesialisasinya masih belum optimal dan efisien. Keunggulan Inovasi: Proses produksi menjadi sederhana dan mudah diaplikasikan, sehingga menciptakan proses produksi yang effisien dan efektif. Alat dan mesin produksi dapat dibuat di dalam negeri. Meningkatkan nilai tambah lokal bagi petani, pengusaha, dan pihak bersangkutan lainnya. 4. Keterbatasan Support dan Dana dari Pemerintah Terbatasnya dana pemerintah di negara-negara berkembang untuk mengembangkan dan memajukan infrastruktur dalam bidang pengembangan teknologi, dana riset teknologi & penelitian dalam meningkatkan IPTEK dan SDM, serta hal-hal yang bersifat fundamental lainnya. Seperti yang telah umum diketahui luas, kekayaan dari suatu negara berkembang memang sangat tidak sebanding dengan negara maju, sehingga wajar saja faktor penyebab yang satu ini menjadi suatu masalah dalam memajukan struktur industrinya. Tapi di samping itu, tetap terdapat banyak cara untuk mencari solusi alternatif terhadap masalah ini. B. Permintaan Agregat Ada dua jenis penyebab dari sisi permintaan agregat, yaitu peningkatan pendapatan perkapita yang mengubah volume dan pola konsumsi. Ketika pendapatan per kapita di suatu negara, khususnya negara-negara berkembang, otomatis masyarakat negara bersangkutan akan meningkatkan tingkat konsumsinya, sehingga secara agregat terjadi permintaan agregat. Selanjutnya dampak yang ditimbulkan oleh faktor penyebab di atas menyebabkan para produsen (yang merupakan aktor industri) meningkatkan penawarannya yang otomatis mereka akan meningkatkan produksi. Yang pada akhirnya, intensitas industri pun menjadi meningkat dan terjadilah perubahan struktur industri ke arah yang lebih berkembang.

Contoh Kasus di Indonesia


Perubahan struktur industri di Indonesia semakin menurun semenjak krisis ekonomi tahun 1998. Kemunduran ini bukanlah berarti Indonesia tidak memiliki modal untuk melakukan

investasi pada industri dalam negeri, tetapi lebih kepada penyerapan barang hasil produksi industri dalam negeri. Membuka pasar dalam negeri adalah kunci penting bagi industri Indonesia untuk bisa bangkit lagi karena saat ini pasar Indonesia dikuasai oleh produk produk asing. Kalau dilihat dari sudut pandang faktor yang dapat mendorong perubahan struktur industri dan penyebab-penyebabnya, jelas sekali bahwa posisi Indonesia negeri tercinta kita ini dalam bentuk implementasi dan pelaksanaanya sangat belum maksimal, hampir di semua poin-poin tersebut perlu untuk diperhatikan oleh pemerintah Indonesia, juga kesadaran dan bantuan dari masyarakatnya itu sendiri. Di Indonesia perubahan struktur ekonomi yang cukup pesat dengan diversifikasi industri sejak tahun 1983. Adapun faktor-faktor pembangkit struktur industri di Indonesia saat itu, antara lain: Struktur organisasi Dilakukan inovasi dalam jaringan institusi pemerintah dan swasta yang melakukan impor. Sebagai pihak yang membawa, mengubah, mengembangkan dan menyebarluaskan teknologi. Ideologi Perlu sikap dalam menentukan pilihan untuk mengembangkan suatu teknologi apakah menganut techno-nasionalism,techno-globalism, atau techno-hybrids. Kepemimpinan Pemimpin dan elit politik Indonesia harus tegas dan cermat dalam mengambil keputusan. Hal ini dimaksudkan untuk mengembalikan kepercayaan pasar dalam negeri maupun luar negeri.