P. 1
Daftar Nama Pejabat Pengusaha Tokoh Indonesia Dan Polda Jawa Tengah Data Kriminal Jawa Tengah

Daftar Nama Pejabat Pengusaha Tokoh Indonesia Dan Polda Jawa Tengah Data Kriminal Jawa Tengah

|Views: 3,524|Likes:
Dipublikasikan oleh terdfertawaqa
daftar nama pejabat pengusaha tokoh indonesia dan polda jawa tengah...
daftar nama pejabat pengusaha tokoh indonesia dan polda jawa tengah...

More info:

Published by: terdfertawaqa on Aug 14, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/15/2013

pdf

text

original

Sections

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

A BCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ

:: Beranda ::Berita ::Profesi ::Politisi ::Pejabat ::Pengusaha :: Pemuka ::Selebriti ::Aneka ::

Jumat, 14 Agustus 2009

P E J A B A T

► Pejabat
► Presiden
► MA
► Bepeka
► MK
► Kabinet
► Departemen
► Badan-Lembaga
► Pemda
► BUMN
► Purnabakti
► Asosiasi

► Search
► Poling Tokoh
► Selamat HUT
► In Memoriam
► Majalah
► Redaksi
► Buku Tamu

C © updated 08022004

► e-ti/

Nama:
H Benjamin Mangkoedilaga SH
Lahir:
Garut, 30 September 1937
Agama:
Islam
Isteri:
Roosliana
Anak:
Dua putri
Ayah:
H Mangkoedilaga

Pendidikan :
- SMP dan SMA Kanisius
- Fakultas Hukum Universitas
Indonesia
Jabatan:
Hakim Agung (2000-2002)

Riwayat Pekerjaan:
• 1962-1967,Asisten Dosen FH
UI
• 1967-1974,Hakim PN Rangkas
Bitung
• 1974-1979,Hakim PN
Denpasar
• 1979-1982,Hakim PN Jakarta
Utara
• 1982-1987,Wakil Ketua PN
Bale Bandung Kab.Bandung
• 1987-1991,Ketua PN Cianjur
• 1991-1993,Ketua PTUN
Surabaya
• 1996-1998,Hakim Tinggi
PTTUN Medan
• 1998-1999,PTTUN Jakarta
• 1999-Anggota Komnas HAM
• 1999-Anggota/Arbiter Badan
Arbitrase Nasional Indonesia
(BANI 2000)
• 2000,Anggota Dewan Pers
Indonesia
• 2000,Anggota/Member of The
Partnership to Support
Governance Reform In
Indonesia
• 2000-2002,Hakim Agung pada
MA RI
- Pengajar pada sejumlah
perguruang tinggi

Benjamin Mangkoedilaga, SH

Ikon Integritas Seorang Hakim Karir

Namanya muncul ke permukaan ketika sebagai hakim di
sidang PTUN Jakarta, memenangkan gugatan majalah Tempo
yang dibredel pemerintah Orde Baru, terhadap Menteri
Penerangan Harmoko. Ia patut disebut sebagai ikon integritas
seorang hakim karir di negeri ini. Kemudian dalam usia 63
tahun ia terpilih menjabat hakim agung (2000-2002).

Sebelum menjabat hakim agung, pria kelahiran Garut 30
September 1937 ini, aktif sebagai anggota berbagai lembaga
penting di Tanah Air. Antara lain, Komisi Nasional Hak Asasi
Manusia (Komnas HAM), Badan Arbitrase Nasional, Dewan
Pers, dan Partnership to Support Governance Reform in
Indonesia.

Benjamin menempuh pendidikan dasar dan menengahnya di
SMP dan SMA Kanisius. Kendati ia seorang muslim, dia
memilih sekolah Katolik itu, karena alasan bermutu dan
berdisiplin tinggi.

Ia lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang akrab dengan
masalah hukum. Ayahnya, H Mangkoedilaga adalah seorang
jaksa. Lalu, ia pun meraih sarjana hukum dari Fakultas Hukum
Universitas Indonesia. Walaupun semasa kecil, ia sempat
bercita-cita menjadi tentara. Namun, cita-cita itu tak terwujud
karena ia gagal masuk Akademi Militer Nasional (AMN) akibat
matanya tidak bisa melihat jauh. Cita-cita jadi tentara sedikit
terobati saat duduk di Fakultas Hukum UI, ia bergabung aktif
dalam Resimen Mahasiswa. Bahkan ia sempat menjadi
Komandan Batalion UI.

Suami dari Roosliana ini adalah hakim karier di PN dan
Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Ia memulai karir tahun
1962-1967 sebagai Asisten Dosen FH UI. Kemudian menjadi
Hakim PN Rangkas Bitung (1967-1974), Hakim PN Denpasar
(1974-1979), Hakim PN Jakarta Utara (1979-1982). Lalu
diangkat menjabat Wakil Ketua PN Bale Bandung
Kab.Bandung (1982-1987), Ketua PN Cianjur (1987-1991), dan
Ketua PTUN Surabaya (1991-1993). Setelah itu, ia dipercaya
menjadi Hakim Tinggi PTTUN Medan (1996-1998) dan PTTUN
Jakarta (1998-1999).

Saat menjadi Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN)
Jakarta, ayah dua putri, ini memenangkan gugatan majalah
Tempo yang dibredel pemerintah Orde Baru, terhadap Menteri
Penerangan Harmoko. Suatu keputusan yang dianggap berani
pada masa itu, ketika campur tangan kekuasaan eksekutif
masih sangat kuat terhadap yudikatif. Namanya pun
melambung sebagai seorang hakim yang punya integritas diri
menegakkan keadilan.

Bukan hanya putusan kasus TEMPO yang membuat integritas
dan kredibilitasnya sebagai haki mencuat. Sebelumnya, ia juga
telah memenangkan gugatan lima perusahaan future trading
terhadap Menteri Perdagangan yang mencabut SIUP mereka.
Juga menjatuhkan putusan hukuman mati terhadap terdakwa
Lince, yang membunuh suaminya sendiri di Pengadilan Negeri
Bandung, pada 1986. Serta putusan menolak gugatan petani
Cimacan, Jawa Barat, yang lahannya dijadikan lapangan golf.

Copyright © 2002-2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

A BCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ

:: Beranda ::Berita ::Profesi ::Politisi ::Pejabat ::Pengusaha :: Pemuka ::Selebriti ::Aneka ::

Jumat, 14 Agustus 2009

P R O F E S I

► Advokat
► Akuntan
► Arsitek
► Bankir
► CEO-Manajer
► Dokter
► Guru-Dosen
► Konsultan
► Kurator
► Notaris
► Peneliti-Ilmuwan
► Pialang
► Psikolog
► Seniman
► Teknolog
► Wartawan
► Profesi Lainnya

► Search
► Poling Tokoh
► Selamat HUT
► Pernikahan
► In Memoriam
► Majalah TI
► Redaksi
► Buku Tamu

C © updated 19082005

► e-ti

Nama:
Budiono Sri Handoko, Ph.D,MA
Lahir:
Jombang, 19 Agustus 1934
Agama:
Islam

Pendidikan:
- B.Sc. (Gadjah Mada
University)
- M.A. and Ph.D. (Boston
University

Karir:
- Dosen Pascasarjana
Universitas Gajah Mada

BUDIONO SRI HANDOKO

► Selamat datang di situs gudang pengalaman
ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ►
Thank you for visiting the experience site ►
TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The
Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia
terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi
Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah
Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh
Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi
Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di
Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug
Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian
Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau
Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew
Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun
Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini.
Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ►
► Selamat datang di situs gudang pengalaman
ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ►
Thank you for visiting the experience site ►
TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The
Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia
terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi
Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah
Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh
Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi
Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di
Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug
Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian
Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau
Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew
Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun
Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini.
Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ►

Budiono Sri Handoko

Guru Besar UGM

Guru besar program Pascasarjana Universitas Gajah Mada,
Yogyakarta, kelahiran Jombang, 19 Agustus 1934. Peraih gelar
B.Sc dari Universitas Gadjah Mada serta gelar M.A. dan Ph.D.
bidang ekonomi dari Boston University ►e-ti

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

A BCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ

:: Beranda ::Berita ::Profesi ::Politisi ::Pejabat ::Pengusaha :: Pemuka ::Selebriti ::Aneka ::

Jumat, 14 Agustus 2009

H O M E

► Home
► Biografi
► Versi Majalah
► Berita
► Kolom
► Buku
► Galeri

P R O F E S I

► Guru-Dosen
► Peneliti-Ilmuwan

► Search
► Poling Tokoh
► Selamat HUT
► Pernikahan
► In Memoriam
► Majalah TI
► Redaksi
► Buku Tamu

C © updated 22072005

► e-ti

Nama:
Bahtiar Effendy
Lahir:
Ambarawa, 10 Desember 1958
Agama:
Islam
Pekerjaan:
- Ketua Dewan Akademi,
Program Pascasarjana
Universitas Islam Negeri
Jakarta, 1999-sekarang

BAHTIAR HOME

► Selamat datang di situs gudang pengalaman
ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ►
Thank you for visiting the experience site ►
TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The
Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia
terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi
Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah
Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh
Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi
Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di
Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug
Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian
Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau
Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew
Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun
Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini.
Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ►
► Selamat datang di situs gudang pengalaman
ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ►
Thank you for visiting the experience site ►
TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The
Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia
terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi
Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah
Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh
Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi
Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di
Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug
Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian
Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau
Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew
Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun
Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini.
Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ►

Bahtiar Effendy

Pengamat Politik Islam

Bahtiar Effendy, lahir di Ambarawa, 10 Desember 1958. Sarjana
IAIN Jakarta, 1986, ini meraih Master Program Studi Asia
Tenggara dari Ohio University, Athens, 1988 dan Master Ilmu
Politik dari Ohio State University, Colombus, OH, 1991. Gelar
Doktor Ilmu Politik diperolehnya dari Ohio State University,
Colombus, OH, 1994.

Bahtiar Effendy

Anomali Transisi Demokrasi

Kompas 23/7/2005 Oleh: IMAM PRIHADIYOKO: Transisi
demokrasi di Indonesia tanpa disadari telah membawa anomali.
Adanya ketidaksesuaian antara apa yang diinginkan dan realitas
politik. Salah satu yang menonjol, keinginan untuk tetap
mempertahankan sistem pemerintahan presidensial, tetapi juga
menoleransi bahkan terkesan mendorong lahirnya multipartai.

Copyright © 2002-2009 Ensikonesia - Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Penerbit pt AsasirA.
Design and Maintenance by Esero

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

Search

A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

SENIMAN

Jumat, 14 Agustus 2009 :: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::

R updated 200602

INDEX PROFESI

:::::: Profesi
:::::: Advokat
:::::: Akuntan
:::::: Arsitek
:::::: Bankers
:::::: CEO-Manajer
:::::: Dokter
:::::: Guru
:::::: Konsultan
:::::: Kurator
:::::: Notaris
:::::: Peneliti-Ilmuwan
:::::: Pialang
:::::: Psikolog
:::::: Seniman
:::::: Teknolog
:::::: Wartawan
:::::: Profesi Lainnya
:::::: Redaksi

Nama:
Butet Kertaradjasa
Lahir:
Yogyakarta 21 November 1961
Ayah:
Bagong Kussudiardja
Isteri:
Rulyani Isfihana (Kutai,
Kalimantan Timur)
Anak:
Giras Basuwondo (1981), Suci
Senanti (1988), Galuh
Paskamagma (1994)
Pendidikan:
Sekolah Menengah Seni Rupa
(1978-1982), Fakultas Seni
Rupa dan Desain, Institut Seni
Indonesia (1982-1987, jebol di
tengah jalan).
Kegiatan:
Tahun 1985 sampai kini, aktif di
Teater Gandrik sebagai pemain
dan organisator produksi.
Sampai sekarang menekuni
teater dan pertunjukan monolog
sebagai media berekspresi.
Bersama Teater Gandrik
berpentas di beberapa kota di
Indonesia, termasuk mewakili
Indonesia dalam Second
ASEAN Theatre Festival (1990),
di Singapura, membawakan
lakon "Dhemit". Dan
mementaskan lakon yang sama
di Kuala Lumpur, Malaysia;
mendukung pementasan
"Brigade Maling" Teater Gandrik
di Monash University,
Melbourne, Australia (1999).
Tahun 1991 menjadi Redaktur

Butet Kertaradjasa

Berpotensi Mati Muda

Inilah Butet Kertaradjasa, salah satu seniman paling "rasional"
yang dimiliki Jogja. Silahkan, katanya, jika orang mau menilainya
sebagai seniman yang kompromistis. Karenanya, ia setengah
mengutuk para seniman yang menjadikan seni sebagai legitimasi
untuk abai terhadap keluarga. Seniman jenis ini, katanya, tak
lebih dari egoisitis berlebihan yang mengharap semua orang
memahami dirinya, sementara dirinya tak mau memahami orang
lain, termasuk keluarganya.

Bagi Butet, kesenian kurang lebih sama dengan profesi lainnya.
Karenanya, ia mesti dikelola dengan baik. Waktulah yang akan
menjawab, seberapa besar seorang seniman telah mengelola
kesenian dengan baik, dari sektor estetika, manajemen, dan
kemanfaatan buat diri si seniman maupun orang lain.
Hasilnya, paling tidak Butet sudah merasa siap untuk mati, kapan
pun Tuhan berkehendak "mengambilnya". Katanya, tanggung
jawab sebagai manusia sudah ia kerjakan semampunya. Di
antaranya, memberi jaminan "kesejahteraan" berupa asuransi,
tanah dan rumah buat ketiga anaknya serta istrinya.
Maka, pada tiap menjelang tidur, doa Butet adalah, ia meminta
maaf kepada Tuhan untuk kesalahannya terhadap keluarga,
handai taulan, dan juga kepada Tuhan yang telah
memeliharanya.
Keinginan Butet kini, adalah mati dalam situasi yang paling indah,
yakni saat dirinya tidur. Keinginan lainnya, ia tak ingin mati dalam
keadaan sakit, berutang, dan merepotkan keluarga yang
ditinggalkan.
Lahir di Yogyakarta 21 November 1961. Anak ke 5 dari 7
bersaudara keluarga seniman (pelukis dan koreographer)
Bagong Kussudiardja. Isteri: Rulyani Isfihana (Kutai, Kalimantan
Timur). Anak: Giras Basuwondo (1981), Suci Senanti (1988),
Galuh Paskamagma (1994). Pendidikan: Sekolah Menengah
Seni Rupa (1978-1982), Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut
Seni Indonesia (1982-1987, jebol di tengah jalan).
Sebelum dikenal sebagai aktor teater, sejak 1978-1992 Butet
pernah menjadi sketser (penggambar vignet) dan penulis
freelance untuk liputan masalah-masalah sosial budaya untuk
media-media lokal maupun nasional: KR, Bernas, Kompas,
Mutiara, Sinar Harapan, Hai, Merdeka, Topik, Zaman, dan lain-
lain. Ia juga aktif sebagai pelukis dan pengamat senirupa.
Sampai sekarang masih menulis esai budaya atau kolom
(tentang masalah sosial budaya) di berbagai media massa cetak
nasional.

(Budaya) Tamu di Bernas.
Teater, mulai ditekuni sejak
1978. Antara lain pernah
bergabung di Teater Kita-Kita
(1977), Teater SSRI (1978-
1981), Sanggarbambu (1978-
1981), Teater Dinasti (1982-
1985), Teater Gandrik (1985-
sekarang), Komunitas Pak
Kanjeng (1993-1994), Teater
Paku (1994), Komunitas seni
Kua Etnika (1995-sekarang).
Puluhan repertoar teater yang
pernah diikuti di Teater Gandrik
antara lain Kesandung, Pasar
Seret, Pensiunan, Sinden, Isyu,
Dhemit, Orde Tabung, Kera-
Kera, Upeti, Proyek, Flu, Buruk
Muka Cermin Dijual, Khayangan
Goyang, Juru Kunci, Juragan
Abiyoso, Tangis, Brigade Maling.
Terakhir bersama Teater Koma,
dalam pementasan lakon
Republik Bagong (2001).
Terlibat di Sinetron untuk judul-
judul seperti Kucing Pak
Selatiban (1985), Ketulusan
Kartika (1995), Asisten
Sutradara "Tajuk" (1996), Air
Kehidupan sampai (1998),
Cintaku Terhalang Tembok
(2001). Tahun 1999, pernah
menjadi figur yang paling
dibenci oleh anak-anak, karena
perannya sebagai Pak Raden di
film Petualangan Sherina.
Untuk Monolog, diawali sejak
tahun 1986 lewat judul Racun
Tembakau, kemudian Lidah
Pingsan, Benggol Maling, Raja
Rimba Jadi Pawang, Iblis
Nganggur, Mayat Terhormat,
dan Guru Ngambeg.
Penghargaan:
Aktor Terbaik Festival Teater
SLTA se DIY ke-2 pada tahun
1979, sebagai Aktor dan
Sutradara Terbaik Festival
Teater SLTA se DIY ke-4 (1981).
Tahun 1999 dinobatkan sebagai
"TOKOH SENI" oleh PWI
Cabang Yogya dan tahun 2000
memperoleh "PENGHARGAAN
SENI" dari Pemda DIY.

Teater, yang kemudian menjadi basis dia berkesenian, mulai
ditekuni sejak 1978. Ia antara lain pernah bergabung di Teater
Kita-Kita (1977), Teater SSRI (1978-1981), Sanggarbambu
(1978-1981), Teater Dinasti (1982-1985), Teater Gandrik (1985-
sekarang), Komunitas Pak Kanjeng (1993-1994), Teater Paku
(1994), Komunitas seni Kua Etnika (1995-sekarang).
Puluhan repertoar teater yang pernah diikuti di Teater Gandrik
antara lain Kesandung, Pasar Seret, Pensiunan, Sinden, Isyu,
Dhemit, Orde Tabung, Kera-Kera, Upeti, Proyek, Flu, Buruk Muka
Cermin Dijual, Khayangan Goyang, Juru Kunci, Juragan Abiyoso,
Tangis, Brigade Maling. Terakhir bersama Teater Koma, Butet
terlibat dalam pementasan lakon Republik Bagong (2001).
Yogyakarta kemudian mencatat prestasi Butet yang pernah
terpilih sebagai Aktor Terbaik Festival Teater SLTA se DIY ke-2
pada tahun 1979, sebagai Aktor dan Sutradara Terbaik Festival
Teater SLTA se DIY ke-4 (1981).
Butet juga pernah terlibat di Sinetron untuk judul-judul seperti
Kucing Pak Selatiban (1985), Ketulusan Kartika (1995), Asisten
Sutradara "Tajuk" (1996), Air Kehidupan sampai (1998), Cintaku
Terhalang Tembok (2001). Tahun 1999, dia pernah menjadi figur
yang paling dibenci oleh anak-anak, karena perannya sebagai
Pak Raden di film Petualangan Sherina.
Untuk Monolog, sebuah cabang kesenian dari seni teater,
sebetulnya sudah lama dikenalnya. Butet mengawalinya sejak
tahun 1986 lewat judul Racun Tembakau, kemudian Lidah
Pingsan, Benggol Maling, Raja Rimba Jadi Pawang, Iblis
Nganggur, Mayat Terhormat, dan Guru Ngambeg. Kepada Jodhi
Yudono dari Kompas Cyber Media, pada Kamis (25/4/2002) lalu,
di sebuah kafe di kawasan Blok M, Butet menuturkan romantika
hidupnya.

Semua acaramu di Jakarta kebanyakan sudah terencana
atau improvisasi?

Improvisasi. Saya nggak punya plan misalnya tahun depan mau
ngapain. Saya ngalir saja. Paling nggak, kalau misalnya saya ada
mood dan waktu saya memungkinkan ya saya pentas bersama
Gandrik. Atau kalau tiba-tiba ada teman yang nawari untuk
pentas panggung seperti Mas Nano (N Riantiarno, sutradara
Teater Koma-Red) kemarin, saya on the spot saja. Mau nggak lu
main, saya cocokkan waktunya, jalan. Atau kalau saya dan
teman-teman mood main monolog, ya kita bikin. Jadi saya nggak
punya plan jangka panjang. Tergantung situasi mood, mood saya
atau moodnya Jadug.
Anda masih memenejeri Gandrik dan Kua Etnika? (Tahun 1995
Mendirikan Komunitas Seni Kua Etnika bersama Djaduk Ferianto,
Purwanto dan Indra Tranggono. Komunitas ini merupakan wadah
pengembagan gagasan kreatif di bidang seni pertunjukan: musik
dan teater.)
Sekarang sudah ada pendelegasian tugas. Pada aspek
pengelolan organisasi, di Kua Etnika saya sudah ada yang
mewakili. Tapi semua masih bermuara ke saya untuk hal-hal
yang sifatnya krusial. Kalau mereka nggak bisa mengambil
keputusan dan berhadapan dengan hal-hal yang sulit, mereka
masih berkonsultasi dengan saya.

Kedudukanmu sekarang?

Ya tetap di manajemen Kua Etnika, Sinten Remen, Gandrik, terus
di Galang (badan usaha berbentuk advertising) juga. Tapi di
Galang saya sudah menyatakan non aktif, komisaris saja.

Galang sendiri pada perkembangannya bergerak di bidang
apa saja?

Awalnya periklanan, tapi konsentrasinya ke desain grafis.
Sekarang penerbitan, percetakan dan yayasan, tapi saya sudah
mengambil jarak. (Tahun 1996 Mendirikan Galang
Communication, sebuah institusi periklanan dan studio grafis.
Tahun 1997 Mendirikan Yayasan Galang yang bergerak dalam
pelayanan kampanye publik untuk masalah-masalah kesehatan
reproduksi berperspektif jender.)

Kelompok-kelompok kesenian yang melibatkan Anda itu
punya
schedule nggak, untuk tahun ini Gandrik main, Kua
Etnika main?

Maunya gitu, inginnya semuanya terencana tapi pada prakteknya
ternyata nggak mungkin. Ada saja hambatannya, ternyata kita
nggak bisa mempersamakan ambisi, tidak bisa mempersamakan
dorongan kebutuhan berkesenian secara kolektif. Saya tak ingin
terjadi andaikan itu terlaksana hanya karena ambisi saya, atau
dorongan kreatif saya, saya nggak mau. Monolog pun begitu,
saya nggak mau hanya dorongan saya saja sebagai pemain. Tapi
maunya saya juga dorongan dari penulisnya. Tapi memang sulit,
kadang ketika dorongan saya semangat untuk tampil, penulisnya
enggak.
Kalau itu saya paksakan, nanti yang kalang kabut cuma saya
sendiri. Prinsip organisasi egaliter yang saya bayangkan nanti
tidak terwujud.

Tapi akhirnya toh Anda dan Jadug yang kelihatan sangat
dominan di dalam kelompok-kelompok itu ya?

Ya begitulah yang terjadi, dan itu sangat saya sayangkan.
Seharusnya mereka berada dalam semangat dan dinamika yang
sama, karena peluang itu kita berikan. Susahnya mereka
mendudukan saya dan Jadug dalam posisi itu, sehingga mereka
tergantung. Kadang-kadang kalau mereka fair sih nggak
masalah. Artinya fair itu tahu peran, tahu posisi. Susahnya pada
saat dituntut kewajiban... pada saat kewajiban itu tidak imbang,
tapi pada saat hak mereka menuntut egalitarian. Itu yang kadang
sangat memprihatinkan pada saat kita berhubungan dengan
sejumlah kepala yang tidak sama dalam menyikapi dunia kerja
itu.

Omong-omong dalam sebulan Anda kumpul sama keluarga
berapa hari?

Sejak Januari tahun ini sangat sedikit. Frekwensinya lebih
banyak ke luar kota. April ini, saya hanya enam hari berada di
rumah. Besok Jumat saya pulang, Senin sudah berangkat lagi.
Saya baru pulang lagi hari Kamis. Setelah itu bulan Mei saya full
di Jogja kecuali hari Senin.

Dari seringnya Anda meninggalkan rumah tidak problem
buat keluarga?

Karena sejak lama sudah terbiasa dengan mekanisme seperti ini,
anak istriku itu sudah kulino (terbiasa) saya tinggal. Waktu saya
jadi wartawan juga sudah kulino sudah latihan mereka, sudah
ngerti dunia saya. Tapi memang sejak saya main di Teater Koma
agak lama mereka saya tinggalkan. Untungnya mereka
mengikhlaskan dan masih mempercayai saya. (Ketika menjadi
wartawan, prestasi Butet juga di atas wartawan biasa. Ia pernah
menjadi juara pertama Lomba Esai TIM (1982). Tahun 1983
sebagai Juara Pertama Lomba Esai Tentang Wartawan, LP3Y.
Tahun 1986-1990, Butet pernah bekerja sebagai wartawan
Tabloid Monitor)

Ada nggak perasaan curiga atau cemburu dari istri karena

seringnya Anda jauh dari keluarga?

Mungkin ya ada, tapi komitmennya, kalau istri saya sedang mood
dan ingin menyusul saya, any time, saya harus memfasilitasi,
mengakomodasinya. Di mana pun.

Kalau anak-anak?

Kalau pas libur sekolah, kadang mereka juga ikut.

Ada kosekwensi logis nggak buat keluarga dari risiko sering
ditinggal pergi?

Apa yang saya lakukan semua ini buat mereka juga. Semua yang
saya peroleh baik bersifat materi maupun non materi buat
mereka. Kalau saya pas pulang, waktu pulang saya itu menjadi
hak mereka. Mereka mau ngajak renang, makan-makan, dan
saya harus konsekwen untuk bertanggungjawab sebagai seorang
ayah.

Untuk urusan pendidikan anak-anak, semuanya diserahkan
ke istri?

Sekolahan, formal. Karena saya dan istri saya hanya melakukan
fungsi kontrol. Saya percaya, bahwa anak-anak itu akan
melakukan pilihan-pilihan yang tepat. Karena saya tidak pernah
mentargetkan apa pun kepada mereka. Sekolah tidak harus
ranking-rankingan, nggak harus pinter-pinter banget, pokoknya
penuhi sajalah kewajiban-kewajiban itu sebaik mungkin. Saya
tumbuhkan kemampuan menyeleksi tindakan-tindakannya
sendiri, karena saya mencoba meyakini kepada mereka bahwa
apa pun yang terjadi merekalah yang menentukan. Termasuk
kalau misalnya raport mereka merah, saya tidak akan marah.
Kewajiban saya hanya menandatangani raport.

Kangen nggak sama mereka kalau ada di luar kota?

Kangen. Kangen sekali. Apalagi kalau sudah berada di hotel.
Saya terhibur kalau pas ketemu teman-teman, sementara di hotel
kan sepi. Sebab saya mengartikan bergaul itu juga sebagai kerja.
Di hotel teman saya paling TV. Paling telpon-telponan sama
mereka, mencari oleh-oleh buat mereka, sebisanya saya pulang
membawa oleh-oleh buat mereka.

Biasanya mereka minta oleh-oleh apa?

Kalau anak sulung saya biasanya minta mentahannya saja, duit
saja.

Sudah beli oleh-oleh apa buat anak-anak?

Anakku yang paling kecil banyak oleh-olehnya. buku bacaan,
boneka. Anakku yang kedua minta dibeliin ponsel. Karena dia
sudah kelas dua SMP, anak perempuan, fungsinya sebagai alat
kontrol saja.

Nomor dua minatnya apa?

Minatnya musik, main drum, biola. Nomor tiga itu monolog, joged,
nyanyi.

Anda ngajarin mereka?

Nggak. Anak saya yang belajar teater justru saya suruh ke mana-
mana, jangan sama saya. Dia ikut teater Garasi. Dia saya suruh
mencari. Anakku justru mendapatkan kepuasan karena tidak
mendapat fasilitas dari saya. Seperti saya dulu, mecari. Saya
sebagai penulis juga diakui, bukan karena katabeletje ayah saya.
Saya main teater diakui juga karena jerih payah sendiri.

Anda merasa punya beban juga sebagai putranya Pak

Bagong waktu masih dalam proses mencari itu?

Ya, beban buat saya. Sebab dengan mudah orang akan
mengkait-kaitkan seakan-akan saya membonceng nama besar
ayah saya. Hal yang sama sekarang terjadi juga pada anak-anak
saya. Apalagi anak saya masuk ke wilayah teater. Buat mereka
berat, makanya saya selalu bilang, kamu jangan dekat-dekat
saya, sekali waktu boleh. Kalau kamu mau mendapatkan
eksistensi, kamu harus belajar dengan orang lain, supaya kamu
juga dapat melihat bahwa bapakmu ini nggak sempurna, ada
kesalahan, dan kamu bisa melihatnya. Kalau kamu di sini, kamu
akan menyangka bahwa aku ini pusat kebenaran.

Kalau yang sulung minatnya apa?

Kalau si mbarep (sulung) ke teater, pantomim dan film
independen. Dia minta kamera tapi belum saya penuhi karena
mahal.

Mahal gimana, kan Anda laris sekali..

Maksud saya, saya tidak ingin kalau memang anak saya mau jadi
kameraman, itu akan saya penuhi, saya akan usahakan secara
maksimal. Tapi karena dia ingin menjadi sutradara, sampai dia
ngotot memiliki kamera, jangan-jangan dia butuh kamera hanya
untuk kebutuhan melegitimasi dalam pergaulan sosialnya. Ya
saya suruh merenungi itu. Kalau itu yang dia inginkan,
pertanyaan saya kepada dia, apa kamu mau dihargai teman-
teman kamu bukan karena prestasi? Tapi hanya karena kamera,
dan itu pun pemberianku. Terus dia bilang, okelah lupakan soal
kamera. Tapi ketika dia bilang begitu, saya malah berpikir, nanti
kalau ada duit sekali waktu saya belikan deh.

Beberapa kali pementasan kan cukup

Kalau sekedar memenuhi hasrat itu bisa, tapi karena konon
seorang ayah juga harus mendidik, saya tidak ingin menjadikan
dia terlalu mudah mendapatkan kemudahan-kemudahan itu.
Sebab saya dulu harus bergulat untuk mendapatkan apa yang
saya inginkan. Begitu saya manjakan fasilitas, sebetulnya diam-
diam saya sedang membunuh dia. Saya tidak ingin melakukan
itu.

Anda mulai booming itu pas momen apa ya?

Pas Soeharto-Soehartoan itu, tahun 1998. Maksudnya ketika
orang di luar komunitas kesenian mengenal saya.

Anda laku sekali setelah itu, tiap hari ada yang mengundang
Anda?

Ya tidak setiap hari, tapi frekwensinya jadi lebih padat.
Sebelum momen itu Anda mengandalkan nafkah dari apa?
Dari Galang. Saya membangun basis ekonomi melalui Galang
itu. Kadang-kadang nulis, diajak main sinetron sama temen. Main
teater tidak bisa diandalkan.

Sekarang ini "jualan" Anda apa saja?

Macem-macem, ada sinetron, acara-acara di berbagai
perusahaan yang aneh-aneh itu. Misalnya, saya diundang
sebuah perusahaan untuk memotivasi karyawan yang patah
semangat karena krisis moneter. Aneh kan? Aku sendiri lupa apa
yang aku omongkan, tapi intinya memotivasi semangat hidup.
Berbagi pengalaman dengan mereka, sambil guyon.
Pengetahuan saya di bidang marketing yang sedikit ya saya bagi
dengan mereka.

Harga tanggapannya berbeda dong, untuk kebutuhan

komunitas kesenian dan mereka yang membuat anda
merasa "terpaksa"?

Ya

Pasti lebih tinggi untuk yang "aneh-aneh" itu?

Jelas. Kalau untuk Gandrik sendiri saya malah nggak berpikir
soal honor.

Untuk monolog Anda, bisanya siapa yang menulis
skenarionya?

Biasanya Agus Noor, dulu ada Indra Tranggono. Kalau kepepet
ya saya tulis sendiri.

Omong-omong soal Indra Tranggono, dia pernah berkata,
mestinya Butet sudah mulai berbagi dengan komunitas
kesenian yang membesarkan dirinya, apa tanggapan Anda?

Pengertian berbagi seperti apa?

Barangkali Anda jadi semacam maisenas buat kelompok-
kelompok teater di Jogja

Kalau toh saya melakukan itu, pertama-tama bukan karena
disuruh orang lain. Kedua, harus dipahami bahwa saya bukan
sinterklas. Dan ketika saya tumbuh pun saya tidak mau dimanja
seperti itu. Tapi saya tahu maksudnya Indra adalah moral
obligation. Mengartikan moral obligation tidak sesederhana itu
dan tidak harus seperti itu. Kedua, kalaupun saya berderma,
saya tidak ingin memamerkan kedermawanan saya untuk
diketahui orang lain. Okelah, kalaupun tidak berbentuk material,
moral.

Moral obligation apa yang sudah Anda berikan kepada dunia
kesenian?

Dengan memberikan kemungkinan-kemungkinan akses yang
saya punya untuk kepentingan grup-grup kesenian di Jogja. Saya
tidak pernah pelit memberikan akses saya yang saya peroleh
kepada teman-teman, siapa pun mereka. Tergantung mereka
mau mengolah akses itu apa tidak. Itu moral obligation saya,
saya tidak pelit. Tapi artinya orang harus bekerja untuk mengolah
akses. Orang tidak bisa hanya tidur, kemudian menerima hasil.
Kalau tidak mengolah akses, ya tidak akan mendapatkan apa-
apa.
Tapi diam-diam, terpaksa saya omongkan karena saya ditanya,
kepada sejumlah anak muda yang melakukan kegiatan, entah
teater, pembuat film independen, datang kepada saya dan
kebetulan pada saat itu saya punya uang, sedikit-sedikitnya saya
menunjukkan konsen kepada mereka, tapi seharusnya tidak saya
omongkan.
Jadi kalau yang diistilahkan tadi berbagi, saya tidak bisa
menerima sebuah pikiran memaksakan kehendak orang kepada
diri saya. Itu namanya tiran. Pertanyaanku, apakah secara
spesifik hanya ditujukan kepada saya? Apakah juga untuk
mereka yang tumbuh dalam atmosfir kesenian Jogja? Kalau kita
berpikirnya egaliter, secara fair itu harus diaplikasikan kepada
siapa pun, termasuk Indra Tranggono sendiri.

Apa Anda ada masalah dengan Indra Tranggono?

Saya merasa tidak ada masalah dengan dia, tapi dia yang tidak
mau saya dekati, tidak mau lagi membantu saya.

Sejak kapan "berpisah" dengan dia?

Ya sejak tiga bulan ini. Saya sangat menyayangi dia, mencintai
dia, karena dia juga teman saya sejak SMP. Tapi Indro sudah

menyatakan tidak mau bekerjasama lagi dengan saya. Saya
tidak tahu masalah apa sebenarnya, karena saya merasa tidak
pernah punya masalah.

Situasi kesenian di Jogja sendiri sekarang macam apa?

Saya tidak melihat yang mengkhawatirkan kalau melihat
semangat mereka. Mereka yang berproses dengan kesungguhan
masih ada. Yang ke industri juga ada. Mereka yang melakukan
pencarian-pencarian kreatif juga masih ada. Artinya, dinamika
kesenian sebagaimana dulu ketika saya tumbuh, itu masih
berlangsung dengan wajar dalam format mereka, dalam
semangat mereka. Saya tidak bisa memaksakan romatisme saya
yang dulu kepada anak muda sekarang.

Karena putra-putra Pak Bagong sebagian sibuk, macam
Anda dan Jadug, hubungan sesama anggota keluarga
Bagong Koesudiardjo bagaimana?

Baik. Tapi dengan bapak saya lama nggak ketemu, karena saya
sering pergi.

Masih ada sisa-sisa romantisme Anda sebagai anak Pak
Bagong?

O masih, kalau ada waktu saya sempatkan main ke rumah
bapak. Guyon-guyon.

Bisa kumpul di rumah bapak biasanya pas momen apa?

Ya kalau hari raya, Natal, lebaran, tahun baru, atau pas slametan
ibuku, pasti kumpul.

Biasanya apa yang diperbicangkan kalau kumpul di rumah
Pak Bagong?

Paling-paling cuma ngomong saru (jorok). Pokoknya nggak ada
omongan serius, yang ada ya guyon saja. Waktu anak-anak sih
serius, sekarang anak-anak sudah mempunyai kepercayan diri
dan kemandirian.

Hubungan Anda dengan adik Anda, Jadug, sangat akrab
sekali. Keakraban yang egaliter itu sudah terjalin sejak
kapan?

Sejak dia mulai berkesenian. Dia ngendang itu sejak SD. Aku
main teater dia sudah musikin saya. Tahun 77/78 dia masih pakai
celana pendek. Aku main teater, dia main musik.

Kalau Pak Bagong punya kegiatan, Anda masih suka
membantu?

Ya, dulu. Sekarang sudah sibuk, jarang. Dulu aku jadi manajer
produksinya.

Kalau nggak ada pekerjaan kesenian, kegiatan anda apa?

Paling-paling kalau di luar kota ya ke warnet. Buat ngecek surat-
surat. Browsing sudah nggak sempet. Kalau ada order ya bikin
tulisan buat media, atau bikin karangan untuk acara, atau bisa
juga bikin proposal. Paling kalau di hotel ya cuma nonton TV dan
baca.

Sebagai orang sibuk, perangkat kerja Anda apa? Laptop
barangkali?

Nggak ada. Apa, ya cuma diriku. Kalau kepingin ngetik ya di
warnet.

Nggak butuh asisten?

Nggak, ndak konangan (nanti ketahuan honornya).

Pernah ada masalah nggak dengan jadwal acara Anda yang
padat karena nggak ada asisten?

Nggak. Saya itu nasibnya tergantung ini (Butet mengambil
sebuah buku agenda kecil dari saku celana). Nyawaku ada di
sini. Ini ilang, kacau aku. Sejak sebelum 1998 saya sudah
mempunyai tradisi pakai agenda harian. Mulainya karena Tempo
dan Jakarta Post selalu memberi agenda kepada saya tiap akhir
tahun, karena saya punya biro iklan itu (Galang-Red), beberapa
media cetak suka ngirim souvenir. Jadi saya punya kebiasaan
mencatat apa yang akan saya lakukan. Seperti ini (menunjukkan
agenda acara), sampai bulan September ada sejumlah kegiatan
yang harus saya tangani. Jadi saya tidak perlu sekretaris.
Sekretarisku ya yang di kantong ini.

Terus kalau ada orang yang tiba-tiba memesan Anda pentas,
padahal jadwal kegiatan Anda sudah penuh sampai
September bagaimana?

Sebetulnya setiap saat bisa, asal waktunya cocok. Jadi kalau ada
orang mau memesan saya, ya harus menyesuaikan dengan
waktu yang masih bolong-bolong belum terisi itu.

Untuk menjaga stamina, jamu Anda apa?

Doping saya pakai obat Cina, ginseng cair yang di botol kecil.
Tapi itu jarang, paling kalau mau pentas yang membutuhkan
kegiatan fisik. Tapi sehari-hari obatnya ya tidur. Prinsipnya kalau
ngantuk terus tidur, entah siang, sedang di dalam taksi. Tiba di
hotel kalau ngantuk langsung tidur, nggak boleh ditunda.

Refreshingnya biasanya apa?

Makan bersama anak-anak, jajan soto, makan malam bersama
mereka.

Punya tempat favorit kalau ngajak makan anak-anak?

Soto Kaditiro, soto Pak Slamet, kalau malam tongseng, sate
Kletek, tongseng Tamansari. Anak-anakku ya ke mal.

Kalau refreshing ketika di luar rumah apa?

Seperti di luar kota ini? Ya ketemu teman-teman, ke kafe, diajak
relasi-relasi, mereka itu seneng nraktir aku.

Menyeleweng nggak?

Ya harus mengaku nggak, hehehe

Pacar punya nggak?

Nggak

Untuk pencerahan batin?

Nggak, cukup istri saya

Karena sering makan enak, sudah mulai ada keluhan?

Ada, diabet dan kolesterol. Pernah kadar gulaku sampai 400,
kolesterolnya 400. Dokter menyarankan saya supaya diet keras
dan olahraga keras sampai mengeluarkan keringat. Sempat coba
saya lakukan sampai sepuluh hari, hasilnya efektif. Jamunya
pakai telor ayam dan asam cuka. Biasanya istriku yang ngurusi.
Tapi kalau di luar kota begini jadi kacau nih acara jamu-jamuan.

Istri Anda kegiatannya apa di rumah?

Nanti pementasan Gandrik dia ikut. Kegiatan lain, dia bisnis kecil-
kecilan, saya ikut memfasilitasi agar dia mandiri. Kenapa saya
dorong dia untuk mandiri? Karena saya merasa saya punya

potensi mati muda. Saya tidak ingin kalau saya mati ngrepotin
orang. Kalau istri saya mandiri secara ekonomi, punya
pengalaman melakukan usaha, relatif amanlah. Dan kalau saya
tidak mati, saya memberikan kesempatan dia mandiri secara
ekonomi. Karena kalau saya tidak lakukan itu, secara ekonomi
istriku dan anak-anakku tergantung pada aku semua. Padahal
aku ada batasnya kan? Fisik bisa hancur, bisa sakit, bisa mati
pula. Karenanya dia saya fasilitasi untuk bisnis itu.

Soal potensi mati muda, memangnya Anda merasakan apa
belakangan ini?

Ya menyadari keterbatasan fisik saya yang sudah terjangkit
macam-macam penyakit, ada gula, ada kolesterol.

Anda siap mati kapan saja?

Ya, bahkan setiap mau tidur doa saya kepada Tuhan adalah,
agar Tuhan memaafkan kesalahan saya kepada teman-teman
saya, keluarga saya, kepada perilaku-perilakuku. Karena
perasaan saya besoknya ketika bangun tidur saya akan mati.
Cita-citaku kan mati tanpa sakit, mati nggak ngerepotin orang
lain. Mati tanpa siksa. Itu mati yang indah buat saya.

Sudah melihat tanda-tandanya?

Ini kebetulan saya sedang membuat rumah. Teman-temanku,
pada saat mereka membangun atau rumah selesai, itu mati. Jadi
ketika saya memutuskan membuat rumah, aku bilang sama
istriku, aku bisa mati ini. Sekarang rumahku sudah memasuki
tahap finishing, aku ge-er ini aku bisa mati, udah deket nih
matiku.

Untuk cadangan hari tua, apa yang sudah Anda perbuat buat
masa depan anak-anak?

Saya meniru ayah saya. Dia itu ingin memfasilitasi anak-anaknya
dalam hal sandang, pangan, papan. Saya membeli tanah, tidak
untuk saya, tapi untuk anak saya. Saya dibelikan tanah oleh
bapak saya, dibuatkan rumah, meskipun saya sekarang
merenovasi rumah itu, sekarang saya sudah membeli tanah
untuk anak-anak saya dalam ukuran yang pantas, sekitar 200
m2.

Menirukan gaya bicara orang masih suka dipakai di
panggung?

Kadang masih, tergantung kebutuhan dan situasi. Tergantung
konteknya. Ketika saya berkesenian, saya ya ge-er merasa diri
saya seniman, tapi ketika orang mengundang saya untuk
memotivasi karyawan, saya ya ge-er merasa sedang berjuang
untuk perusahaan itu sambil menghibur. Ketika orang
mengundang saya untuk mengisi acara agar publik tertawa
karena mereka sedang sedih, saya ge-er bahwa diri saya sedang
jadi seorang entertainer. *** TokohIndonesia DotCom
(Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
, Repro Kompas Cyber Media)

Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

A BCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ

:: Beranda ::Berita ::Profesi ::Politisi ::Pejabat ::Pengusaha :: Pemuka ::Selebriti ::Aneka ::

Jumat, 14 Agustus 2009

H O M E

► Home
► Biografi
► Versi Majalah
► Berita
► Galeri

P E J A B A T

► Pejabat
► Presiden
► MA
► Bepeka
► MK
► Kabinet
► Departemen
► Badan-Lembaga
► Mabes TNI
► Mabes Polri
► Pemda
► BUMN
► Purnabakti
► Asosiasi

► Search
► Poling Tokoh
► Selamat HUT
► Pernikahan
► In Memoriam
► Majalah TI
► Redaksi
► Buku Tamu

C © updated 26102006-
31102004

► e-ti/wilson

Nama:
Bismar Siregar
Lahir:
Sipirok, Sumatera Utara, 15
September 1928
Agama:
Islam
Isteri:
Yunainen F. Damanik
Anak:
Tujuh orang
Cucu:
11 orang (Juni 2006)
Ayah:
Aminuddin Raja Baringin
Siregar
Ibu:
Siti Fatimah

Pendidikan:
-HIS, Sipirok (tidak selesai)
-SMP, Sipirok (tidak selesai
1942)
-SMA, Bandung (1952)
-FH UI, Jakarta (1956)
-National College of the State
Judiciary, Reno, AS (1973)
-American Academy of Judicial
Education, Tescaloosa, AS
(1973)
-Academy of American and
International Law, Dallas, AS
(1980)

Karir:
-Jaksa di Kejari Palembang
(1957-1959)
-Jaksa di Kejari
Makassar/Ambon (1959-1961)
-Hakim di Pengadilan Negeri
Pangkalpinang (1961-1962)
-Hakim di Pengadilan Negeri
Pontianak (1962-1968)
-Panitera Mahkamah Agung RI
(1969-1971)
-Ketua Pengadilan Negeri
Jakarta Utara/Timur (1971-
1980)
-Ketua Pengadilan Tinggi Jawa
Barat, Bandung (1981-1982)
-Ketua Pengadilan Tinggi
Sumatera Utara, Medan (1982-

BISMAR SIREGAR HOME

► Selamat datang di situs gudang pengalaman
ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ►
Thank you for visiting the experience site ►
TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The
Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia
terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi
Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah
Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh
Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi
Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di
Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug
Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian
Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau
Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew
Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun
Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini.
Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ►
► Selamat datang di situs gudang pengalaman
ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ►
Thank you for visiting the experience site ►
TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The
Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia
terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi
Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah
Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh
Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi
Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di
Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug
Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian
Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau
Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew
Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun
Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini.
Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ►

Google TokohIndonesia

BIOGRAFI: 01 02 03 04 = WAWANCARA: 01 02 =
DEPTHNEWS: 01 02 03 =
OPINI: 01 02 =

Bismar Siregar (01)

Cermin Kebeningan Nurani Hakim

Ibarat kaca, mantan hakim agung Bismar Siregar SH, menjadi
cermin kebeningan hati nurani bagi para hakim. Mantan Ketua
Pengadilan Tinggi Sumatra Utara (1984), ini selalu
mengandalkan hati nurani setiap kali mengambil keputusan.
Sebab baginya, hati nurani tidak bisa diajak berbohong. Dia
merasa sangat bersyukur dan bahagia sekali tidak masuk
lingkaran hakim yang bisa disuap atau dibeli.

Bismar Siregar (02)

Pendekar Hukum Jalan Lurus

Selama bergelut di dunia hukum, cap hakim kontroversial selalu
dialamatkan kepada Bismar, karena selalu tampil berbeda di
garda terdepan jalan lurus untuk memperjuangkan tegaknya

Copyright © 2002-2009 Ensikonesia - Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Penerbit pt AsasirA.
Design and Maintenance by Esero

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

A BCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ

:: Beranda ::Berita ::Profesi ::Politisi ::Pejabat ::Pengusaha :: Pemuka ::Selebriti ::Aneka ::

Jumat, 14 Agustus 2009

H O M E

► Home
► Biografi
► Versi Majalah
► Berita
► Galeri

P R O F E S I

► Guru-Dosen

P O L I T I S I

► MPR-RI
► DPR-RI

B E R A N D A

► Search
► Poling Tokoh
► Selamat HUT
► Pernikahan
► In Memoriam
► Majalah TI
► Redaksi
► Buku Tamu

C © updated 02052006

► e-ti/anis

Nama:
DR. H. DEDING ISHAK IBNU
SUDJA, DRS., SH., MM.
Lahir:
Bandung, 4 Juni 1962
Agama:
Islam
Isteri:
Hj. Rachmayani, SH., Sp.N.
Anak:
1. Derisa Zahara
2. Deya Faaghna
3. Dara Daula Mumtaza
4. M. Daria Adiwena Akbar

Ayah:
KH. R. Totoh Abdul Fatah
- Mantan Anggota MPR-RI
(1992-1999)
- Ketua Dewan Penasehat MUI
Jawa Barat (Sekarang)
- Anggota Dewan Penasehat
MUI Pusat (Sekarang)
Ibu:
Hj. Siti Mariyam

Pekerjaan Sekarang:
Anggota Komisi VIII (Bidang♣
Sosial, Agama, Pemberadayaan
Perempuan, dan Perlindungan
Anak) DPR-RI (2004-Sekarang).
Anggota Fraksi Partai Golkar
DPR-RI dari Daerah Pemilihan♣
Jawa Barat III (Kabupaten
Sukabumi, Kota Sukabumi, dan
Kota Cianjur).
Ketua♣ Umum Pimpinan Pusat
(PP) Majelis Dakwah Islamiyah
(MDI) (2006-2009).
Ketua♣ Sekolah Tinggi Agama
Islam (STAI) Yapata Al-Jawami,
Cileunyi, Kabupaten Bandung,
Jawa Barat (1999-Sekarang).

Riwayat Pekerjaan:
Anggota DPRD Provinsi Jawa
Barat (1999-2004).♣
♣ Anggota DPRD Provinsi Jawa
Barat (1997-1999).
Berhenti sebagai PNS♣ (2000).
Dosen IAIN SGD, Bandung
(1996-1999).♣

DEDING ISHAK HOME

► Selamat datang di situs gudang pengalaman
ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ►
Thank you for visiting the experience site ►
TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The
Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia
terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi
Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah
Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh
Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi
Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di
Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug
Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian
Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau
Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew
Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun
Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini.
Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ►
► Selamat datang di situs gudang pengalaman
ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ►
Thank you for visiting the experience site ►
TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The
Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia
terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi
Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah
Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh
Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi
Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di
Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug
Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian
Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau
Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew
Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun
Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini.
Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ►

Dr H Deding Ishak Ibnu Sudja, Drs, SH, MM

Legislator dan Pendidik yang Agamais

Dia adalah seorang wakil rakyat, penyandang gelar doktor
bidang kebijakan publik, pucuk pimpinan Ormas besar, dan
pemangku sebuah lembaga pendidikan tinggi agama Islam.
Dengan kapasitas intelektual dan politis yang dimiliki, dia
bertekad menjadikan pembangunan bidang pendidikan sebagai
panglima di negeri ini demi terciptanya Indonesia yang maju.

Kepribadiannya pun tak diragukan. gaya bicaranya yang lemah
lembut memang agak bertolak belakang dengan perawakannya
yang tinggi besar, dengan kumis tebal menghiasi bibir. Namun,
pribadinya yang sangat ramah mengikis habis kesan angker dari
penampilan fisiknya tersebut.

DR. Deding Ishak Ibnu Sudja adalah anggota DPR-RI periode
2004-2009 dari Partai Golkar. Di Senayan, saat ini pria kelahiran
Bandung, 4 Juni 1962, ini sehari-hari bertugas di Komisi VIII
(bidang Sosial, Agama, dan Pemberdayaan Perempuan).

Bidang-bidang itu relatif sangat pas dengan latar belakang

Copyright © 2002-2009 Ensikonesia - Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Penerbit pt AsasirA.
Design and Maintenance by Esero

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

A BCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ

:: Beranda ::Berita ::Profesi ::Politisi ::Pejabat ::Pengusaha :: Pemuka ::Selebriti ::Aneka ::

Jumat, 14 Agustus 2009

P O L I T I S I

► Politisi
► MPR-RI
► DPR-RI
► DPD
► DPRD
► Partai
► Ormas
► OKP
► LSM-Aktivis
► Asosiasi

► Search
► Poling Tokoh
► Selamat HUT
► Pernikahan
► In Memoriam
► Majalah
► Redaksi
► Buku Tamu

C © updated 29012005

►e-ti/gtr

Nama:
Didik Junaidi Rachbini
Nama Kecil:
Ahmad Junaidi
Lahir:
Pamekasan, Madura, 2
September 1960
Agama:
Islam
Istri:
Dr. Ir. Yuli Retnani
Anak:
= Eisha
= Fitri
= Imam

Pendidikan:
= SD, SMP, SMA di Pamekasan,
Madura
= S1 Institut Pertanian Bogor
(1983)
= S2 (MSc) Studi
Pembangunan, Central Luzon
State University, Filipina (1988)
= S3 (PhD) Studi
Pembangunan, Central Luzon
State University, Filipina (1991)

Karir:
= Asisten dosen IPB (1982-
1983)
= Dosen IPB (1983-1985)
= Peneliti LP3ES, Jakarta,
(1985-1994)
= Kepala Program Penelitian,
LP3ES (1991-1992)
= Wakil Direktur LP3ES (1992-
1994)
= Dosen Universitas Nasional
(1993-1994)
= Konsultan FAO (1990-1991)
= Konsultan UNDP (1993-1995)
= Dosen Pascasarjana
Universitas Indonesia (1993-
sekarang)
= Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Mercu Buana (1995-
1997)
= Pendiri dan Pengajar di
Universitas Paramadina Mulya
(1995-sekarang)
= Direktur Institute for
Development of Economics &

Didik Junaidi Rachbini

Ingin Jadikan PAN Partai Modern

Ketua Dewan Pimpinan Pusat PAN Didik J Rachbini
mendeklarasikan kesediaannya untuk maju sebagai kandidat
ketua umum PAN dalam Kongres II PAN di Semarang, April
2005. Pakar ekonomi yang guru besar Universitas Indonesia ini
mengemukakan lima misi yang akan diwujudkannya dalam
memimpin PAN.

Pada deklarasi yang berlangsung di Jakarta, Rabu (26/1/05)
itu, dia didampingi tokoh PAN lainnya, Miranty Abidin,
Sekretaris Majelis Pertimbangan Partai DPP PAN Purwanto,
dan Ketua DPP PAN Suwardi.

Deklarasi itu diputuskan setelah melalui proses politik panjang,
komunikasi ke daerah dan silaturahmi yang lebih luas.
Sejumlah DPW dan DPD PAN juga sudah menyatakan
dukungan, kendati dia belum mau mengklaim jumlah daerah
yang menyatakan dukungan.

Didik mengemukakan lima misi yang akan diwujudkannya
dalam memimpin PAN. Misi itu adalah membangun sistem
organisasi yang modern dengan kelembagaan yang kuat,
membangun kepemimpinan efektif dan sifat kolektif, sistem
pengkaderan yang baik, menyatukan partai dengan rakyat, dan
memenangkan pemilu.

Didik ingin Partai Amanat Nasional kedepan harus bisa
menjadi partai modern dengan organisasi kepartaian yang rapi.
Penataan organisasi kepartaian dan meningkatkan kerja politik
diharapkan mendekatkan PAN dengan rakyat.

Untuk menjadi partai modern, menurut Didik, politik kepartaian
PAN harus dibenahi. Bukan saja organisasinya yang harus
dibenahi, tetapi juga budaya di partai, dan model
kepemimpinan agar tidak lagi feodalistik.

Kedepan, menurut Didik, Partai Amanat Nasional (PAN) harus
bisa menjadi partai pilihan rakyat, dan bisa berkuasa dalam
pemerintahan dan parlemen yang sehat dan bersih. "Selain,
PAN komit pada reformasi dan tetap jadi simbol reformasi.
Tidak heran jika obyek yang diserang adalah persoalan
kebersihan, KKN, dan good goverment. Sehingga, visi tentang
kebersihan harus tetap akan menonjol dan kuat," ujarnya.

Menjelang pelaksanaan kongres, Didik mengaku mendengar
adanya indikasi politik uang yang dilakukan bakal calon
tertentu. Ia berjanji akan membuka praktik itu kepada pers
apabila menemukan data-data valid.

Aktivitas

Pakar ekonomi dan Anggota Komisi VI DPR-RI dari PAN
(2004-2009), ini bernama kecil Ahmad Junaidi, dengan
panggilan Didik. Kemudian dalam ijazah SD, gurunya menulis
nama Didik Junaidi Rachbini. Tidak tertulis nama Ahmad,
diganti dengan panggilan Didik dan di belakang ditambah
nama ayahnya, Rachbini. Maka untuk menyesuaikan dengan
ijazah, nama Didik Junaidi Rachbini itulah yang dipakai.

Dia menikmati masa kecil dan remajanya di Pemekasan,

Copyright © 2002-2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero
Dipersembahkan untuk Bangsa oleh CPPI Foundation.

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

Search

A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

KABINET

Jumat, 14 Agustus 2009 :: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::

C © updated 151102

INDEX PEJABAT

:::::: Pejabat
:::::: Lembaga Tinggi
:::::::::::: Presiden
:::::::::::: MPR/DPR/DPD
:::::::::::: MA
:::::::::::: Bepeka
:::::::::::: DPA
:::::: Kabinet
:::::: Departemen
:::::: Badan-Lembaga
:::::: Pemda
:::::: BUMN
:::::: Asosiasi
::::::::::: Korpri
::::::::::: APPSI
::::::::::: Apeksi
::::::::::: Apkasi
::::::::::: Lainnya
:::::: MK
:::::: Purnabakti
:::::: Redaksi

Nama :
Prof Dr Dorodjatun Kuntjoro-
Jakti
Lahir:
Rangkasbitung, Banten, 25
November 1939
Agama:
Islam
Istri :
Emiwaty Kuntjoro-Jakti
Pendidikan:
- S1: Fakultas Ekonomi UI, 1964
- S2: Master of Finance
Administration, University of
California, Berkeley, AS, 1966
- S3: Doktor bidang Political
Science, University of California
at Berkeley.

Jabatan :
Menko Perekonomian
Dubes Indonesia untuk AS
(Maret 1998-Juni 2001)
Dekan FE-UI (1994-Februari
1998)
Anggota tim ahli Pacific
Business Forum
Anggota tim ahli APEC

Alamat Kantor:
Jalan Taman Surapati II, Jakarta
Pusat

Dorodjatun Kuntjoro-Jakti

The Dream Team Ingin Bergerak Cepat,
Tapi…

Saat menjabat Menko Bidang Perekonomian Kabinet Gotong
Royong, ia ingin bergerak cepat pada strategi penciptaan lapangan
kerja. Sungguh ia risau tiga tahun terbengkalai sehingga banyak
rakyat Indonesia tidak mendapat pekerjaan yang layak. Ia juga
sangat galau mengenai utang Indonesia. Menurutnya, dibandingkan
dengan utang pada IMF dan Bank Dunia, justeru yang paling gawat
adalah utang dalam negeri Indonesia.

Kala itu, ia juga ingin mempertimbangkan jenis pajak. Jangan
sampai (pajak) membebani perusahaan yang justru menciptakan
lapangan kerja, seperti mebel dan kerajinan tangan. Perbaikan
ekonomi tidak mungkin dilakukan tanpa adanya investasi. Juga
ingin proyek konstruksi jalan laut, prasarana udara mulai kita
laksanakan kembali. Kalau tidak, kita tidak siap masuk AFTA yang
sudah diambang pintu.

Selama tiga tahun lebih, ia aktif ikut dalam tim negosiasi dengan
IMF. Meskipun sesekali ada ketertundaan dalam melakukan
kesepakatan dengan IMF, ia harapkan pemerintah dapat dengan
cepat menyetujui langkah yang dapat diambil bersama dengan IMF.

Ekonom kawakan ini masuk Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia (FE UI) bagai suatu 'kecelakaan'. Kendati kemudian, ia
menemukan kenikmatan tersendiri dalam mempelajari ilmu ekonomi
itu. Maka, begitu meraih gelar SE, pada 1964, ia melanjut ke
Universitas Berkeley, California, AS. Ia merai gelar MA di universitas
ini pada 1966. Gelar doktor (Ph.D.) pun diraih di universitas ini
empat belas tahun kemudian. Disertasinya berjudul, Political
Economy: The Case on Indonesia under the New Order, 1966-1980.

Ayahnya memberinya nama Dorodjatun. Nama itu rupanya diambil
dari nama kecil Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Karena tanggal
lahir Djatun, 25 November 1939 di Rangkasbitung, Jawa Barat,
bertepatan dengan hari naik tahtanya Sultan.

Mantan Dekan FE UI ini selain sering memberikan tanggapan di
koran-koran, juga banyak menulis. Setidaknya ada tiga bukunya
terbit di Singapura, oleh ISEAS, dan tiga lainnya diterbitkan oleh
LP3ES Jakarta, ADC New York, dan Universitas Tokyo/Unesco.

Ia memang rajin membaca, mulai dari buku ekonomi, politik, filsafat,
sejarah, sampai mitologi dan novel. Anggota berbagai kelompok

studi di luar negeri ini menyukai novel karangan Boris Pasternak
dan Solsyenitsin dari Rusia, serta Kawabata dan Mishima dari
Jepang. Ekonom yang sempat ditahan ketika Peristiwa Malari
(1974) ini adalah bekas anggota regu renang mahasiswa UI.
Sampai saat ini ia masih rajin berenang, di samping jogging.

Suami Emiwati (kepala dokumentasi Matari Advertising, Jakarta) ini
sangat terkenal di kalangan pelaku pasar. Dia juga dianggap pandai
dalam melakukan lobi, apalagi terhadap AS. Penunjukan dirinya
sebagai Menko Perekonomian pun disambut positif pasar. Bahkan,
karena faktor namanya, tim ekonomi Kabinet Gotong Royong yang
dipimpinnya disebut banyak orang sebagai The Dream Team.

Kendati belakangan harapan yang terlalu besar digantungkan
kepada tim ini, tidak sepenuhnya dapat dipenuhi. Bahkan tim ini
sering bersilang pendapat di media massa, terutama dengan Kwik
Kian Gie, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional
yang lebih berperangai sebagai pengamat.

Setelah enam bulan masuk tim ekonomi, Djatun panggilan akrab
Prof Dr Dorodjatun Kuntjoro-Jakti- berdiskusi di depan masyarakat
Indonesia di Washington, USA. Pada diskusi itu, ia berbicara
gambling. Ia membeberkan unek-uneknya soal utang dalam negeri
Indonesia. Menurutnya, dibandingkan dengan utang pada IMF dan
Bank Dunia, justeru yang paling gawat adalah utang dalam negeri
Indonesia.

Pada kesempatan itu, ia juga mengungkap isu yang melibatkan
para obligor raksasa maupun menengah. Diakuinya, isu itu sangat
kompleks. Apalagi, sering dipolitisasi dan diplintir. Ia mengaku
sedang berpacu melawan waktu yang mepet, terutama dengan
deadline berakhirnya tugas BPPN pada Desember 2003.

Dalam diskusi saat ramah-tamah dengan sekitar 200 orang
masyarakat Indonesia di KBRI Washington, yang juga dihadiri
antara lain Atase Pertahanan RI di AS Brigjen Hendrawan Ostefan,
dan Ketua IKI (Ikatan Keluarga Indonesia) Ambar Abbink, ia bicara
apa adanya. Diskusi itu dipandu KUAI KBRI Thomas Aquino
Samodra Sriwijaya, mantan Dubes RI di AS.

Nilai utang luar negeri itu sama dengan dalam negeri, yakni kurang
lebih USD 70-an miliar. Sekitar USD 70 miliar di luar, USD 70 miliar
dari dalam. Bedanya, utang dari luar itu berupa soft loan, sehingga
jangka pengembaliannya lama. Bunga pinjaman Bank Dunia hanya
1-2 persen. Bunga pinjaman ODA (official development assistance)
bahkan 0,3 persen. Pinjaman dari IMF juga dikenai bunga rendah,
yakni hanya 3-4 persen. "Tetapi, yang dari dalam negeri itu kan
sama dengan bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia), yakni kurang
lebih 17 persen. Coba bayangkan," katanya.

Ia mengajak hadirin berhitung. Dalam hitungan rupiah, utang USD
70 miliar itu sekitar Rp 655 triliun. Dengan bunga 17 persen, berarti
pembayaran bunganya Rp 60 triliun setiap tahun. "Itu sama dengan
USD 6 miliar toh. Yang di luar paling banter hanya USD 2 miliar,
Anda bayar. Yang di luar selalu bisa dijadwalkan kembali. Dan, ini
kebanggaan Indonesia.

Sejak dulu, tak pernah ngemplang. Indonesia terkenal di lembaga
multilateral. Kita nggak pernah ngemplang, selalu bayar. Tapi, jika
mepet, kita minta penjadwalan kembali, yaitu dari pokok
(pembayaran pokok utang, Red), principal, dan dari bunga,"
jelasnya. Yang parahnya adalah utang dalam negeri. Sebab, harus

dibayar lewat budget (anggaran negara).

"Itu diambil dari penghasilan negara, masuk sebagai pengeluaran,
lalu dikasih ke bank-bank yang bangkrut itu. Supaya bank-nya
enggak bangkrut, kita kasih obligasi. Lantas, kita kasih penghasilan
pada bank, sehingga bank jalan. Jadi, itu sebetulnya kita subsidi
bank-bank itu. Tapi kalau kita tenggelamkan bank itu, sekian juta
nasabah bank kita ini nggak punya lembaga penjamin. Tidak ada
deposit insurance, seperti yang semestinya," katanya.

Di Indonesia belum ada peraturan penjaminan dana nasabah di
bank. Jadi kalau banknya bangkrut maka pemerintah yang harus
ganti. Kalau di AS, jaminannya dilakukan melalui asuransi, terbatas
maksimal 100 ribu USD. Sedangkan untuk Indonesia, untuk jumlah
berapa pun, tidak ada jaminan seperti itu.

Di Indonesia tidak ada. Karena itu, terpaksa dikasih blanket
guarantee (jaminan menyeluruh) saat krisis 1998. Nggak peduli
sebabnya, pokoknya semua yang berurusan dengan bank,
digaransi. Jadi, enak saja, diganti. “Jangan tanya saya kenapa itu
diberikan. Itu kan 1998. Saya cuma mewarisi. Yang hebat, on
budget dan off budget digaransi," ungkapnya.

Ia mengaku tengah berupaya bagaimana mengurangi beban dalam
negeri. "Sebab, yang diberikan kepada orang miskin lewat dana
kompensasi sosial kan hanya Rp 2,85 triliun. Sedangkan yang
dipakai untuk rekapitalisasi Rp 60 triliun. Coba, berapa juta orang
miskin bisa ditolong, kalau bisa dikurangi. Tapi, untuk mengurangi,
bond-nya itu harus di-redeem (bond redemption, penebusan
obligasi). Bond-nya itulah yang bisa ditarik kalau obligor besar,
penghutang besar yang bikin berantakan negeri kita ini, memenuhi
kewajibannya membayar utang-utang itu. “Ini lupa dilakukan selama
4 tahun," ujarnya dengan nada tinggi.

Ia tidak berhenti sampai di situ. Soal obligor ini dicecarnya terus,
dengan kalimat mengalir deras dan bahasa lugas. "Jadi, para
obligor besar itu, baik top 21, top 50, dan top 100, kecil sekali
pengembaliannya. Bahkan, 39 bank yang dibekukan kewajibannya
Rp 27 triliun. Tapi, cuma bayar Rp 1 triliun sampai kini. Itu sudah
empat tahun!" imbuhnya.

Ia melihat saat ini masalah itu makin kompleks dan gawat. "Sudah
mau habis, Desember 2003, kalau tidak diselesaikan, pas nanti itu
BPPN nya habis tugasnya. Tahun 2004 saya harus bikin pidato ibu
(Presiden Megawati, Red) di MPR: 'Saudara-saudara sebangsa
setanah air, ternyata sesudah kita hitung pengembalian yang
dilakukan oleh para obligor besar dan bank-bank beku itu, tak
mungkin mengembalikan seluruh Rp 655 triliun. Masih tersisa
kurang lebih Rp 400 triliun yang harus dibawa sebagai beban utang
dalam negeri Indonesia.' Terus, bagaimana reaksi rakyat?" papar
Djatun panjang lebar.

Suasana ruang pertemuan hening. Seolah paham betapa persoalan
utang yang dihadapi Indonesia, khususnya Menko Perekonomian,
begitu dahsyat. "Ini yang saya pusingkan sekarang. Saya mulai
bilang sama mereka. Bayar dong," katanya. Yang jadi masalah,
ungkap Djatun, syaratnya ketika itu melalui kontrak perdata.
"Karena syaratnya dulu, kontraknya itu dibikin kontrak perdata.
Karena out of court settlement (penyelesaian di luar pengadilan), ya
segitu disetujui dua-duanya tanda tangan pemerintah Indonesia
saat Pak Habibie dan kemudian dengan orang obligornya
tandatangan, itu settle.

Dan sesudah settle, pemerintah mengeluarkan surat letter of
discharge and release (surat bebas dari tuntutan lain) dan tidak bisa
dipidanakan. Sesudah itu, seluruh asset nya dikembalikan ke
mereka, ke pemilik lama. Oleh mereka, disuruh dilola, dijalankan
terus. Kita bayar management fee sama dia untuk menjalankan itu.
Sesudah itu, arus kasnya tidak di-escrow (escrow account, ditaruh
di rekening penjamin, red) di bank. Kemudian di perusahaan-
perusahaan itu, kita tidak menempatkan chief financial officer
(CFO). Now you tell me, siapa, betapa luar biasanya imaginasi
penyusun kontrak saat itu. Don't ask me!" ujarnya, sengit.

Djatun tampak berapi-api membeber isu yang selama ini enggak
pernah terungkap di depan publik. Masalah obligor yang diwarisi
pemerintah Megawati saat ini, ditambah tetek-bengek keanehan
praktik era lama dan jadi beban saat ini dan di masa depan, Djatun
tidak mau tedheng aling-aling.

"Lha, sesudah itu diharapkan mereka sukarela menjual aset. Sudah
dibuktikan, kita dimaki: 'Itu harga Indomobil, Indosiar Pak Djatun
dan sebagainya.' Eh, itu bukan aku yang jual! Itu pemilik lama yang
jual. Itu kewajiban dia. Kenapa nggak dipenjarakan
saja, seperti dibilang nyonya saya (isteri Djatun, Red). Nggak bisa!
Sebab, itu perdata perjanjiannya. Mungkin barang buktinya sudah
susah dicari, duitnya sudah lama ke mana, owners-nya lari ke luar
negeri semua. Kalau saya panggil, kan mesti pakai red
notice interpol.

Makanya, jangan mau gampang jadi Menko," tukasnya di akhir
kalimat seolah menetralisir tegangnya pembeberan soal obligor itu.
Djatun kemudian membuka sedikit cerita awalnya jadi menko.
"Ketika saya jadi menko, saya lihat bagian dalamnya. Ini gimana.
Siapa in the end of the game, yang tanggung jawab semua ini. Kan
obligor itu. Sekarang kita mau coba mereka. Ayo, penuhi janji itu.
Tapi, secepat- cepatnya dan sehebatnya, menurut perkiraan
saudara Ade Sumantri (pejabat BPPN, Red) dan teman-teman,
paling banter kita bisa kembalikan hanya 26 persen. Jadi, yang Rp
400 triliun, itu sisa dalam negeri," katanya.

Karena itu, Djatun heran kenapa justru IMF yang dicibir. Padahal,
bunga pinjaman IMF sangat rendah. "Jadi, banyak cerita diplintir-
plintir di luar. Yang kita pakai di LoI IMF itu adalah semua yang tidak
dikerjakan pemerintah Soeharto dalam 30 tahun. Saya nggak gerti
kenapa disebarkan cerita mengenai IMF. Nggak ngerti saya.
Alternatifnya apa? Bank Dunia digituin juga," ujarnya masygul.

Djatun malah heran, soal obligor ini, para pengkritik itu diam.
"Tetapi, obligor yang tidak mau bayar malah tidak dimarahi. Kita
yang mau selesaikan malah dibilang mau gampang saja sama
obligor. Kita nggak berbuat apa-apa, dimarahin. Kita jual, dibilang
harganya terlalu rendah. Kita diam, dimarahi juga. Jadi, mau yang
mana ini? Padahal, waktunya sudah mau habis, tahun 2003. Itu
cerita utang kita," tutupnya soal utang.

Djatun minta siapa saja supaya mengedepankan fakta ketimbang
persepsi. "Hey, bung. Jangan main persepsi hari-hari ini, tapi main
fakta. Asyik kalau main fakta. Soal persepsi memang sengaja
dikembangkan oleh orang-orang yang mau bermain politik. Saya
nggak main politik. Sampai jam ini, saya nggak mau main politik.
Karena itu, lontarkan saja," jelasnya.

Sebagian hadirin puas campur masygul dengan problematika utang

yang dibeber Djatun. Apalagi, Djatun tampil bersemangat, terbuka,
dan apa adanya. Itu mengingatkan orang pada integritas, kejujuran,
dan idealismenya hingga pernah dua tahun dipenjara tanpa diadili
oleh rezim Soeharto ketika Malari 1974. Djatun di AS menghadiri
World Economic Forum di New York, sekaligus melakukan
pembicaraan dengan IMF, World Bank, dan Treasury (Depkeu AS).
Selain Djatun, anggota delegasinya adalah staf pejabat kantor
Menko Perekonomian, BPPN, dan Depkeu.

*** Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia),

dari berbagai sumber, antara lain Djon D. Siregar
national@mail2.factsoft.de

Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and
Maintenance by Esero
Dipersembahkan untuk Bangsa oleh CPPI Foundation.

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
BERITA TOKOH INDONESIA

A BCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ

:: Beranda ::Berita ::Profesi ::Politisi ::Pejabat ::Pengusaha :: Pemuka ::Selebriti ::Aneka ::

Jumat, 14 Agustus 2009

P E M D A

► NAD
► Sumut
► Sumbar
► Riau
► Kepri
► Jambi
► Sumsel
► Bengkulu
► Lampung
► Babel
► Banten
► DKI Jakarta
► Jabar
► Jateng
► DIY
► Jatim
► Bali
► NTB
► NTT
► Kaltim
► Kalsel
► Kalteng
► Kalbar
► Sulsel
► Sulteng
► Sultra
► Sulut
► Gorontalo
► Sulbar
► Maluku
► Malut
► Papua
► Pabar

B E R A N D A

tidak korupsi. Namun, dia sendiri merasa
penghargaan itu sangat berat dan mungkin
saja belum pantas. Lulusan FH Universitas
Andalas Padang (1982) itu menapak karier
mulai dari staf biasa di Kantor Ditsospol
Pemprov Sumatera Barat.

Drs. Adolf Jouke Sondakh

Konsisten Membangun
Sulawesi Utara

Berangkat dari dunia akademik sebagai
seorang dosen Fisipol Universitas Sam
Ratulangi yang selalu aktif berorganisasi,
akhirnya mengantarkan Adolf Jouke Sondakh,
ke dunia politik praktis yakni menjadi anggota
DPRD dan DPR - MPR selama beberapa
periode. Ia kemudian terpilih menjadi
Gubernur Sulawesi Utara periode 2000-2005.

Demokrasi Indonesia Perjuangan itu meraih
suara 448.325 suara (38,88 persen).

Agustin Teras Narang (01)

Bejana yang Sedang
Ditempa

Pada diri pria kelahiran Banjarmasin 12
Oktober 1955, ini mengalir ‘darah’
politisi sebagai warisan dari ayahnya,
Waldenar August Narang. Sang Ayah yang
berdarah asli suku Dayak Ngaju, berasal dari
Mandomai sebuah desa kecil di pinggiran
daerah aliran sungai Kapuas, Kalimantan
Tengah pernah menjabat sebagai anggota
DPRD Kalimantan Selatan.

Zulkifli Nurdin

Janjikan Perubahan Jambi

Melalui Partai Amanat Nasional (PAN)
dan Partai Golkar, Zulkifli Nurdin
kembaIi maju sebagai calon gubernur
periode kedua 2005-2010, berpasangan
dengan Antony Zeidra Abidin. Selama lima
tahun kepemimpinannya (1999-2004), dia
telah menunjukkan sosok sebagai pemimpin
yang menjanjikan perubahan bagi Jambi.

Copyright © 2002-2009 Ensikonesia - Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Penerbit pt AsasirA.
Design and Maintenance by Esero

BIOGRAFI TOKOH INDONESIA
THE JOURNALISTIC BIOGRAPHY

A BCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ

:: Beranda ::Berita ::Profesi ::Politisi ::Pejabat ::Pengusaha :: Pemuka ::Selebriti ::Aneka ::

Jumat, 14 Agustus 2009

P O L I T I S I

► Politisi
► MPR-RI
► DPR-RI
► DPD
► DPRD
► Partai-Pemilu
► Ormas
► OKP
► LSM-Aktivis
► Asosiasi

► Search
► Poling Tokoh
► Selamat HUT
► Pernikahan
► In Memoriam
► Majalah TI
► Redaksi
► Buku Tamu

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->