ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
Jumat, 14 Agustus 2009

C © updated 08022004

Benjamin Mangkoedilaga, SH

Ikon Integritas Seorang Hakim Karir
PEJABAT
► Pejabat ► Presiden ► MA ► Bepeka ► MK ► Kabinet ► Departemen ► Badan-Lembaga ► Pemda ► BUMN ► Purnabakti ► Asosiasi ► Search ► Poling Tokoh ► Selamat HUT ► In Memoriam ► Majalah ► Redaksi ► Buku Tamu
► e-ti/

Namanya muncul ke permukaan ketika sebagai hakim di sidang PTUN Jakarta, memenangkan gugatan majalah Tempo yang dibredel pemerintah Orde Baru, terhadap Menteri Penerangan Harmoko. Ia patut disebut sebagai ikon integritas seorang hakim karir di negeri ini. Kemudian dalam usia 63 tahun ia terpilih menjabat hakim agung (2000-2002). Sebelum menjabat hakim agung, pria kelahiran Garut 30 September 1937 ini, aktif sebagai anggota berbagai lembaga penting di Tanah Air. Antara lain, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Badan Arbitrase Nasional, Dewan Pers, dan Partnership to Support Governance Reform in Indonesia. Benjamin menempuh pendidikan dasar dan menengahnya di SMP dan SMA Kanisius. Kendati ia seorang muslim, dia memilih sekolah Katolik itu, karena alasan bermutu dan berdisiplin tinggi. Ia lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang akrab dengan masalah hukum. Ayahnya, H Mangkoedilaga adalah seorang jaksa. Lalu, ia pun meraih sarjana hukum dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Walaupun semasa kecil, ia sempat bercita-cita menjadi tentara. Namun, cita-cita itu tak terwujud karena ia gagal masuk Akademi Militer Nasional (AMN) akibat matanya tidak bisa melihat jauh. Cita-cita jadi tentara sedikit terobati saat duduk di Fakultas Hukum UI, ia bergabung aktif dalam Resimen Mahasiswa. Bahkan ia sempat menjadi Komandan Batalion UI. Suami dari Roosliana ini adalah hakim karier di PN dan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Ia memulai karir tahun 1962-1967 sebagai Asisten Dosen FH UI. Kemudian menjadi Hakim PN Rangkas Bitung (1967-1974), Hakim PN Denpasar (1974-1979), Hakim PN Jakarta Utara (1979-1982). Lalu diangkat menjabat Wakil Ketua PN Bale Bandung Kab.Bandung (1982-1987), Ketua PN Cianjur (1987-1991), dan Ketua PTUN Surabaya (1991-1993). Setelah itu, ia dipercaya menjadi Hakim Tinggi PTTUN Medan (1996-1998) dan PTTUN Jakarta (1998-1999). Saat menjadi Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta, ayah dua putri, ini memenangkan gugatan majalah Tempo yang dibredel pemerintah Orde Baru, terhadap Menteri Penerangan Harmoko. Suatu keputusan yang dianggap berani pada masa itu, ketika campur tangan kekuasaan eksekutif masih sangat kuat terhadap yudikatif. Namanya pun melambung sebagai seorang hakim yang punya integritas diri menegakkan keadilan. Bukan hanya putusan kasus TEMPO yang membuat integritas dan kredibilitasnya sebagai haki mencuat. Sebelumnya, ia juga telah memenangkan gugatan lima perusahaan future trading terhadap Menteri Perdagangan yang mencabut SIUP mereka. Juga menjatuhkan putusan hukuman mati terhadap terdakwa Lince, yang membunuh suaminya sendiri di Pengadilan Negeri Bandung, pada 1986. Serta putusan menolak gugatan petani Cimacan, Jawa Barat, yang lahannya dijadikan lapangan golf.

Nama: H Benjamin Mangkoedilaga SH Lahir: Garut, 30 September 1937 Agama: Islam Isteri: Roosliana Anak: Dua putri Ayah: H Mangkoedilaga Pendidikan : - SMP dan SMA Kanisius - Fakultas Hukum Universitas Indonesia Jabatan: Hakim Agung (2000-2002) Riwayat Pekerjaan: • 1962-1967,Asisten Dosen FH UI • 1967-1974,Hakim PN Rangkas Bitung • 1974-1979,Hakim PN Denpasar • 1979-1982,Hakim PN Jakarta Utara • 1982-1987,Wakil Ketua PN Bale Bandung Kab.Bandung • 1987-1991,Ketua PN Cianjur • 1991-1993,Ketua PTUN Surabaya • 1996-1998,Hakim Tinggi PTTUN Medan • 1998-1999,PTTUN Jakarta • 1999-Anggota Komnas HAM • 1999-Anggota/Arbiter Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI 2000) • 2000,Anggota Dewan Pers Indonesia • 2000,Anggota/Member of The Partnership to Support Governance Reform In Indonesia • 2000-2002,Hakim Agung pada MA RI - Pengajar pada sejumlah perguruang tinggi

Copyright © 2002-2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
Jumat, 14 Agustus 2009

C © updated 19082005

BUDIONO SRI HANDOKO
► Selamat datang di situs gudang pengalaman ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ► Thank you for visiting the experience site ► TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ► ► Selamat datang di situs gudang pengalaman ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ► Thank you for visiting the experience site ► TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ► Budiono Sri Handoko

PROFESI
► Advokat ► Akuntan ► Arsitek ► Bankir ► CEO-Manajer ► Dokter ► Guru-Dosen ► Konsultan ► Kurator ► Notaris ► Peneliti-Ilmuwan ► Pialang ► Psikolog ► Seniman ► Teknolog ► Wartawan ► Profesi Lainnya ► Search ► Poling Tokoh ► Selamat HUT ► Pernikahan ► In Memoriam ► Majalah TI ► Redaksi ► Buku Tamu
► e-ti

Nama: Budiono Sri Handoko, Ph.D,MA Lahir: Jombang, 19 Agustus 1934 Agama: Islam Pendidikan: - B.Sc. (Gadjah Mada University) - M.A. and Ph.D. (Boston University Karir: - Dosen Pascasarjana Universitas Gajah Mada

Guru Besar UGM
Guru besar program Pascasarjana Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, kelahiran Jombang, 19 Agustus 1934. Peraih gelar B.Sc dari Universitas Gadjah Mada serta gelar M.A. dan Ph.D. bidang ekonomi dari Boston University ►e-ti *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
Jumat, 14 Agustus 2009

C © updated 22072005

BAHTIAR HOME
► Selamat datang di situs gudang pengalaman ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ► Thank you for visiting the experience site ► TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ► ► Selamat datang di situs gudang pengalaman ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ► Thank you for visiting the experience site ► TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ► Bahtiar Effendy

HOME
► Home ► Biografi ► Versi Majalah ► Berita ► Kolom ► Buku ► Galeri
► e-ti

PROFESI
► Guru-Dosen ► Peneliti-Ilmuwan ► Search ► Poling Tokoh ► Selamat HUT ► Pernikahan ► In Memoriam ► Majalah TI ► Redaksi ► Buku Tamu

Nama: Bahtiar Effendy Lahir: Ambarawa, 10 Desember 1958 Agama: Islam Pekerjaan: - Ketua Dewan Akademi, Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Jakarta, 1999-sekarang

Pengamat Politik Islam
Bahtiar Effendy, lahir di Ambarawa, 10 Desember 1958. Sarjana IAIN Jakarta, 1986, ini meraih Master Program Studi Asia Tenggara dari Ohio University, Athens, 1988 dan Master Ilmu Politik dari Ohio State University, Colombus, OH, 1991. Gelar Doktor Ilmu Politik diperolehnya dari Ohio State University, Colombus, OH, 1994. Bahtiar Effendy

Anomali Transisi Demokrasi
Kompas 23/7/2005 Oleh: IMAM PRIHADIYOKO: Transisi demokrasi di Indonesia tanpa disadari telah membawa anomali. Adanya ketidaksesuaian antara apa yang diinginkan dan realitas politik. Salah satu yang menonjol, keinginan untuk tetap mempertahankan sistem pemerintahan presidensial, tetapi juga menoleransi bahkan terkesan mendorong lahirnya multipartai.

Copyright © 2002-2009 Ensikonesia - Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Penerbit pt AsasirA. Design and Maintenance by Esero

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Search A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

SENIMAN
Jumat, 14 Agustus 2009

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
R updated 200602

Butet Kertaradjasa

Berpotensi Mati Muda
INDEX PROFESI :::::: Profesi :::::: Advokat :::::: Akuntan :::::: Arsitek :::::: Bankers :::::: CEO-Manajer :::::: Dokter :::::: Guru :::::: Konsultan :::::: Kurator :::::: Notaris :::::: Peneliti-Ilmuwan :::::: Pialang :::::: Psikolog :::::: Seniman :::::: Teknolog :::::: Wartawan :::::: Profesi Lainnya :::::: Redaksi Inilah Butet Kertaradjasa, salah satu seniman paling "rasional" yang dimiliki Jogja. Silahkan, katanya, jika orang mau menilainya sebagai seniman yang kompromistis. Karenanya, ia setengah mengutuk para seniman yang menjadikan seni sebagai legitimasi untuk abai terhadap keluarga. Seniman jenis ini, katanya, tak lebih dari egoisitis berlebihan yang mengharap semua orang memahami dirinya, sementara dirinya tak mau memahami orang lain, termasuk keluarganya.
Nama: Butet Kertaradjasa Lahir: Yogyakarta 21 November 1961 Ayah: Bagong Kussudiardja Isteri: Rulyani Isfihana (Kutai, Kalimantan Timur) Anak: Giras Basuwondo (1981), Suci Senanti (1988), Galuh Paskamagma (1994) Pendidikan: Sekolah Menengah Seni Rupa (1978-1982), Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (1982-1987, jebol di tengah jalan). Kegiatan: Tahun 1985 sampai kini, aktif di Teater Gandrik sebagai pemain dan organisator produksi. Sampai sekarang menekuni teater dan pertunjukan monolog sebagai media berekspresi. Bersama Teater Gandrik berpentas di beberapa kota di Indonesia, termasuk mewakili Indonesia dalam Second ASEAN Theatre Festival (1990), di Singapura, membawakan lakon "Dhemit". Dan mementaskan lakon yang sama di Kuala Lumpur, Malaysia; mendukung pementasan "Brigade Maling" Teater Gandrik di Monash University, Melbourne, Australia (1999). Tahun 1991 menjadi Redaktur

Bagi Butet, kesenian kurang lebih sama dengan profesi lainnya. Karenanya, ia mesti dikelola dengan baik. Waktulah yang akan menjawab, seberapa besar seorang seniman telah mengelola kesenian dengan baik, dari sektor estetika, manajemen, dan kemanfaatan buat diri si seniman maupun orang lain. Hasilnya, paling tidak Butet sudah merasa siap untuk mati, kapan pun Tuhan berkehendak "mengambilnya". Katanya, tanggung jawab sebagai manusia sudah ia kerjakan semampunya. Di antaranya, memberi jaminan "kesejahteraan" berupa asuransi, tanah dan rumah buat ketiga anaknya serta istrinya. Maka, pada tiap menjelang tidur, doa Butet adalah, ia meminta maaf kepada Tuhan untuk kesalahannya terhadap keluarga, handai taulan, dan juga kepada Tuhan yang telah memeliharanya. Keinginan Butet kini, adalah mati dalam situasi yang paling indah, yakni saat dirinya tidur. Keinginan lainnya, ia tak ingin mati dalam keadaan sakit, berutang, dan merepotkan keluarga yang ditinggalkan. Lahir di Yogyakarta 21 November 1961. Anak ke 5 dari 7 bersaudara keluarga seniman (pelukis dan koreographer) Bagong Kussudiardja. Isteri: Rulyani Isfihana (Kutai, Kalimantan Timur). Anak: Giras Basuwondo (1981), Suci Senanti (1988), Galuh Paskamagma (1994). Pendidikan: Sekolah Menengah Seni Rupa (1978-1982), Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (1982-1987, jebol di tengah jalan). Sebelum dikenal sebagai aktor teater, sejak 1978-1992 Butet pernah menjadi sketser (penggambar vignet) dan penulis freelance untuk liputan masalah-masalah sosial budaya untuk media-media lokal maupun nasional: KR, Bernas, Kompas, Mutiara, Sinar Harapan, Hai, Merdeka, Topik, Zaman, dan lainlain. Ia juga aktif sebagai pelukis dan pengamat senirupa. Sampai sekarang masih menulis esai budaya atau kolom (tentang masalah sosial budaya) di berbagai media massa cetak nasional.

(Budaya) Tamu di Bernas. Teater, mulai ditekuni sejak 1978. Antara lain pernah bergabung di Teater Kita-Kita (1977), Teater SSRI (19781981), Sanggarbambu (19781981), Teater Dinasti (19821985), Teater Gandrik (1985sekarang), Komunitas Pak Kanjeng (1993-1994), Teater Paku (1994), Komunitas seni Kua Etnika (1995-sekarang). Puluhan repertoar teater yang pernah diikuti di Teater Gandrik antara lain Kesandung, Pasar Seret, Pensiunan, Sinden, Isyu, Dhemit, Orde Tabung, KeraKera, Upeti, Proyek, Flu, Buruk Muka Cermin Dijual, Khayangan Goyang, Juru Kunci, Juragan Abiyoso, Tangis, Brigade Maling. Terakhir bersama Teater Koma, dalam pementasan lakon Republik Bagong (2001). Terlibat di Sinetron untuk juduljudul seperti Kucing Pak Selatiban (1985), Ketulusan Kartika (1995), Asisten Sutradara "Tajuk" (1996), Air Kehidupan sampai (1998), Cintaku Terhalang Tembok (2001). Tahun 1999, pernah menjadi figur yang paling dibenci oleh anak-anak, karena perannya sebagai Pak Raden di film Petualangan Sherina. Untuk Monolog, diawali sejak tahun 1986 lewat judul Racun Tembakau, kemudian Lidah Pingsan, Benggol Maling, Raja Rimba Jadi Pawang, Iblis Nganggur, Mayat Terhormat, dan Guru Ngambeg. Penghargaan: Aktor Terbaik Festival Teater SLTA se DIY ke-2 pada tahun 1979, sebagai Aktor dan Sutradara Terbaik Festival Teater SLTA se DIY ke-4 (1981). Tahun 1999 dinobatkan sebagai "TOKOH SENI" oleh PWI Cabang Yogya dan tahun 2000 memperoleh "PENGHARGAAN SENI" dari Pemda DIY.

Teater, yang kemudian menjadi basis dia berkesenian, mulai ditekuni sejak 1978. Ia antara lain pernah bergabung di Teater Kita-Kita (1977), Teater SSRI (1978-1981), Sanggarbambu (1978-1981), Teater Dinasti (1982-1985), Teater Gandrik (1985sekarang), Komunitas Pak Kanjeng (1993-1994), Teater Paku (1994), Komunitas seni Kua Etnika (1995-sekarang). Puluhan repertoar teater yang pernah diikuti di Teater Gandrik antara lain Kesandung, Pasar Seret, Pensiunan, Sinden, Isyu, Dhemit, Orde Tabung, Kera-Kera, Upeti, Proyek, Flu, Buruk Muka Cermin Dijual, Khayangan Goyang, Juru Kunci, Juragan Abiyoso, Tangis, Brigade Maling. Terakhir bersama Teater Koma, Butet terlibat dalam pementasan lakon Republik Bagong (2001). Yogyakarta kemudian mencatat prestasi Butet yang pernah terpilih sebagai Aktor Terbaik Festival Teater SLTA se DIY ke-2 pada tahun 1979, sebagai Aktor dan Sutradara Terbaik Festival Teater SLTA se DIY ke-4 (1981). Butet juga pernah terlibat di Sinetron untuk judul-judul seperti Kucing Pak Selatiban (1985), Ketulusan Kartika (1995), Asisten Sutradara "Tajuk" (1996), Air Kehidupan sampai (1998), Cintaku Terhalang Tembok (2001). Tahun 1999, dia pernah menjadi figur yang paling dibenci oleh anak-anak, karena perannya sebagai Pak Raden di film Petualangan Sherina. Untuk Monolog, sebuah cabang kesenian dari seni teater, sebetulnya sudah lama dikenalnya. Butet mengawalinya sejak tahun 1986 lewat judul Racun Tembakau, kemudian Lidah Pingsan, Benggol Maling, Raja Rimba Jadi Pawang, Iblis Nganggur, Mayat Terhormat, dan Guru Ngambeg. Kepada Jodhi Yudono dari Kompas Cyber Media, pada Kamis (25/4/2002) lalu, di sebuah kafe di kawasan Blok M, Butet menuturkan romantika hidupnya. Semua acaramu di Jakarta kebanyakan sudah terencana atau improvisasi? Improvisasi. Saya nggak punya plan misalnya tahun depan mau ngapain. Saya ngalir saja. Paling nggak, kalau misalnya saya ada mood dan waktu saya memungkinkan ya saya pentas bersama Gandrik. Atau kalau tiba-tiba ada teman yang nawari untuk pentas panggung seperti Mas Nano (N Riantiarno, sutradara Teater Koma-Red) kemarin, saya on the spot saja. Mau nggak lu main, saya cocokkan waktunya, jalan. Atau kalau saya dan teman-teman mood main monolog, ya kita bikin. Jadi saya nggak punya plan jangka panjang. Tergantung situasi mood, mood saya atau moodnya Jadug. Anda masih memenejeri Gandrik dan Kua Etnika? (Tahun 1995 Mendirikan Komunitas Seni Kua Etnika bersama Djaduk Ferianto, Purwanto dan Indra Tranggono. Komunitas ini merupakan wadah pengembagan gagasan kreatif di bidang seni pertunjukan: musik dan teater.) Sekarang sudah ada pendelegasian tugas. Pada aspek pengelolan organisasi, di Kua Etnika saya sudah ada yang mewakili. Tapi semua masih bermuara ke saya untuk hal-hal yang sifatnya krusial. Kalau mereka nggak bisa mengambil keputusan dan berhadapan dengan hal-hal yang sulit, mereka masih berkonsultasi dengan saya. Kedudukanmu sekarang? Ya tetap di manajemen Kua Etnika, Sinten Remen, Gandrik, terus di Galang (badan usaha berbentuk advertising) juga. Tapi di Galang saya sudah menyatakan non aktif, komisaris saja. Galang sendiri pada perkembangannya bergerak di bidang apa saja?

Awalnya periklanan, tapi konsentrasinya ke desain grafis. Sekarang penerbitan, percetakan dan yayasan, tapi saya sudah mengambil jarak. (Tahun 1996 Mendirikan Galang Communication, sebuah institusi periklanan dan studio grafis. Tahun 1997 Mendirikan Yayasan Galang yang bergerak dalam pelayanan kampanye publik untuk masalah-masalah kesehatan reproduksi berperspektif jender.) Kelompok-kelompok kesenian yang melibatkan Anda itu punya schedule nggak, untuk tahun ini Gandrik main, Kua Etnika main? Maunya gitu, inginnya semuanya terencana tapi pada prakteknya ternyata nggak mungkin. Ada saja hambatannya, ternyata kita nggak bisa mempersamakan ambisi, tidak bisa mempersamakan dorongan kebutuhan berkesenian secara kolektif. Saya tak ingin terjadi andaikan itu terlaksana hanya karena ambisi saya, atau dorongan kreatif saya, saya nggak mau. Monolog pun begitu, saya nggak mau hanya dorongan saya saja sebagai pemain. Tapi maunya saya juga dorongan dari penulisnya. Tapi memang sulit, kadang ketika dorongan saya semangat untuk tampil, penulisnya enggak. Kalau itu saya paksakan, nanti yang kalang kabut cuma saya sendiri. Prinsip organisasi egaliter yang saya bayangkan nanti tidak terwujud. Tapi akhirnya toh Anda dan Jadug yang kelihatan sangat dominan di dalam kelompok-kelompok itu ya? Ya begitulah yang terjadi, dan itu sangat saya sayangkan. Seharusnya mereka berada dalam semangat dan dinamika yang sama, karena peluang itu kita berikan. Susahnya mereka mendudukan saya dan Jadug dalam posisi itu, sehingga mereka tergantung. Kadang-kadang kalau mereka fair sih nggak masalah. Artinya fair itu tahu peran, tahu posisi. Susahnya pada saat dituntut kewajiban... pada saat kewajiban itu tidak imbang, tapi pada saat hak mereka menuntut egalitarian. Itu yang kadang sangat memprihatinkan pada saat kita berhubungan dengan sejumlah kepala yang tidak sama dalam menyikapi dunia kerja itu. Omong-omong dalam sebulan Anda kumpul sama keluarga berapa hari? Sejak Januari tahun ini sangat sedikit. Frekwensinya lebih banyak ke luar kota. April ini, saya hanya enam hari berada di rumah. Besok Jumat saya pulang, Senin sudah berangkat lagi. Saya baru pulang lagi hari Kamis. Setelah itu bulan Mei saya full di Jogja kecuali hari Senin. Dari seringnya Anda meninggalkan rumah tidak problem buat keluarga? Karena sejak lama sudah terbiasa dengan mekanisme seperti ini, anak istriku itu sudah kulino (terbiasa) saya tinggal. Waktu saya jadi wartawan juga sudah kulino sudah latihan mereka, sudah ngerti dunia saya. Tapi memang sejak saya main di Teater Koma agak lama mereka saya tinggalkan. Untungnya mereka mengikhlaskan dan masih mempercayai saya. (Ketika menjadi wartawan, prestasi Butet juga di atas wartawan biasa. Ia pernah menjadi juara pertama Lomba Esai TIM (1982). Tahun 1983 sebagai Juara Pertama Lomba Esai Tentang Wartawan, LP3Y. Tahun 1986-1990, Butet pernah bekerja sebagai wartawan Tabloid Monitor) Ada nggak perasaan curiga atau cemburu dari istri karena

seringnya Anda jauh dari keluarga? Mungkin ya ada, tapi komitmennya, kalau istri saya sedang mood dan ingin menyusul saya, any time, saya harus memfasilitasi, mengakomodasinya. Di mana pun. Kalau anak-anak? Kalau pas libur sekolah, kadang mereka juga ikut. Ada kosekwensi logis nggak buat keluarga dari risiko sering ditinggal pergi? Apa yang saya lakukan semua ini buat mereka juga. Semua yang saya peroleh baik bersifat materi maupun non materi buat mereka. Kalau saya pas pulang, waktu pulang saya itu menjadi hak mereka. Mereka mau ngajak renang, makan-makan, dan saya harus konsekwen untuk bertanggungjawab sebagai seorang ayah. Untuk urusan pendidikan anak-anak, semuanya diserahkan ke istri? Sekolahan, formal. Karena saya dan istri saya hanya melakukan fungsi kontrol. Saya percaya, bahwa anak-anak itu akan melakukan pilihan-pilihan yang tepat. Karena saya tidak pernah mentargetkan apa pun kepada mereka. Sekolah tidak harus ranking-rankingan, nggak harus pinter-pinter banget, pokoknya penuhi sajalah kewajiban-kewajiban itu sebaik mungkin. Saya tumbuhkan kemampuan menyeleksi tindakan-tindakannya sendiri, karena saya mencoba meyakini kepada mereka bahwa apa pun yang terjadi merekalah yang menentukan. Termasuk kalau misalnya raport mereka merah, saya tidak akan marah. Kewajiban saya hanya menandatangani raport. Kangen nggak sama mereka kalau ada di luar kota? Kangen. Kangen sekali. Apalagi kalau sudah berada di hotel. Saya terhibur kalau pas ketemu teman-teman, sementara di hotel kan sepi. Sebab saya mengartikan bergaul itu juga sebagai kerja. Di hotel teman saya paling TV. Paling telpon-telponan sama mereka, mencari oleh-oleh buat mereka, sebisanya saya pulang membawa oleh-oleh buat mereka. Biasanya mereka minta oleh-oleh apa? Kalau anak sulung saya biasanya minta mentahannya saja, duit saja. Sudah beli oleh-oleh apa buat anak-anak? Anakku yang paling kecil banyak oleh-olehnya. buku bacaan, boneka. Anakku yang kedua minta dibeliin ponsel. Karena dia sudah kelas dua SMP, anak perempuan, fungsinya sebagai alat kontrol saja. Nomor dua minatnya apa? Minatnya musik, main drum, biola. Nomor tiga itu monolog, joged, nyanyi. Anda ngajarin mereka? Nggak. Anak saya yang belajar teater justru saya suruh ke manamana, jangan sama saya. Dia ikut teater Garasi. Dia saya suruh mencari. Anakku justru mendapatkan kepuasan karena tidak mendapat fasilitas dari saya. Seperti saya dulu, mecari. Saya sebagai penulis juga diakui, bukan karena katabeletje ayah saya. Saya main teater diakui juga karena jerih payah sendiri. Anda merasa punya beban juga sebagai putranya Pak

Bagong waktu masih dalam proses mencari itu? Ya, beban buat saya. Sebab dengan mudah orang akan mengkait-kaitkan seakan-akan saya membonceng nama besar ayah saya. Hal yang sama sekarang terjadi juga pada anak-anak saya. Apalagi anak saya masuk ke wilayah teater. Buat mereka berat, makanya saya selalu bilang, kamu jangan dekat-dekat saya, sekali waktu boleh. Kalau kamu mau mendapatkan eksistensi, kamu harus belajar dengan orang lain, supaya kamu juga dapat melihat bahwa bapakmu ini nggak sempurna, ada kesalahan, dan kamu bisa melihatnya. Kalau kamu di sini, kamu akan menyangka bahwa aku ini pusat kebenaran. Kalau yang sulung minatnya apa? Kalau si mbarep (sulung) ke teater, pantomim dan film independen. Dia minta kamera tapi belum saya penuhi karena mahal. Mahal gimana, kan Anda laris sekali.. Maksud saya, saya tidak ingin kalau memang anak saya mau jadi kameraman, itu akan saya penuhi, saya akan usahakan secara maksimal. Tapi karena dia ingin menjadi sutradara, sampai dia ngotot memiliki kamera, jangan-jangan dia butuh kamera hanya untuk kebutuhan melegitimasi dalam pergaulan sosialnya. Ya saya suruh merenungi itu. Kalau itu yang dia inginkan, pertanyaan saya kepada dia, apa kamu mau dihargai temanteman kamu bukan karena prestasi? Tapi hanya karena kamera, dan itu pun pemberianku. Terus dia bilang, okelah lupakan soal kamera. Tapi ketika dia bilang begitu, saya malah berpikir, nanti kalau ada duit sekali waktu saya belikan deh. Beberapa kali pementasan kan cukup Kalau sekedar memenuhi hasrat itu bisa, tapi karena konon seorang ayah juga harus mendidik, saya tidak ingin menjadikan dia terlalu mudah mendapatkan kemudahan-kemudahan itu. Sebab saya dulu harus bergulat untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Begitu saya manjakan fasilitas, sebetulnya diamdiam saya sedang membunuh dia. Saya tidak ingin melakukan itu. Anda mulai booming itu pas momen apa ya? Pas Soeharto-Soehartoan itu, tahun 1998. Maksudnya ketika orang di luar komunitas kesenian mengenal saya. Anda laku sekali setelah itu, tiap hari ada yang mengundang Anda? Ya tidak setiap hari, tapi frekwensinya jadi lebih padat. Sebelum momen itu Anda mengandalkan nafkah dari apa? Dari Galang. Saya membangun basis ekonomi melalui Galang itu. Kadang-kadang nulis, diajak main sinetron sama temen. Main teater tidak bisa diandalkan. Sekarang ini "jualan" Anda apa saja? Macem-macem, ada sinetron, acara-acara di berbagai perusahaan yang aneh-aneh itu. Misalnya, saya diundang sebuah perusahaan untuk memotivasi karyawan yang patah semangat karena krisis moneter. Aneh kan? Aku sendiri lupa apa yang aku omongkan, tapi intinya memotivasi semangat hidup. Berbagi pengalaman dengan mereka, sambil guyon. Pengetahuan saya di bidang marketing yang sedikit ya saya bagi dengan mereka. Harga tanggapannya berbeda dong, untuk kebutuhan

komunitas kesenian dan mereka yang membuat anda merasa "terpaksa"? Ya Pasti lebih tinggi untuk yang "aneh-aneh" itu? Jelas. Kalau untuk Gandrik sendiri saya malah nggak berpikir soal honor. Untuk monolog Anda, bisanya siapa yang menulis skenarionya? Biasanya Agus Noor, dulu ada Indra Tranggono. Kalau kepepet ya saya tulis sendiri. Omong-omong soal Indra Tranggono, dia pernah berkata, mestinya Butet sudah mulai berbagi dengan komunitas kesenian yang membesarkan dirinya, apa tanggapan Anda? Pengertian berbagi seperti apa? Barangkali Anda jadi semacam maisenas buat kelompokkelompok teater di Jogja Kalau toh saya melakukan itu, pertama-tama bukan karena disuruh orang lain. Kedua, harus dipahami bahwa saya bukan sinterklas. Dan ketika saya tumbuh pun saya tidak mau dimanja seperti itu. Tapi saya tahu maksudnya Indra adalah moral obligation. Mengartikan moral obligation tidak sesederhana itu dan tidak harus seperti itu. Kedua, kalaupun saya berderma, saya tidak ingin memamerkan kedermawanan saya untuk diketahui orang lain. Okelah, kalaupun tidak berbentuk material, moral. Moral obligation apa yang sudah Anda berikan kepada dunia kesenian? Dengan memberikan kemungkinan-kemungkinan akses yang saya punya untuk kepentingan grup-grup kesenian di Jogja. Saya tidak pernah pelit memberikan akses saya yang saya peroleh kepada teman-teman, siapa pun mereka. Tergantung mereka mau mengolah akses itu apa tidak. Itu moral obligation saya, saya tidak pelit. Tapi artinya orang harus bekerja untuk mengolah akses. Orang tidak bisa hanya tidur, kemudian menerima hasil. Kalau tidak mengolah akses, ya tidak akan mendapatkan apaapa. Tapi diam-diam, terpaksa saya omongkan karena saya ditanya, kepada sejumlah anak muda yang melakukan kegiatan, entah teater, pembuat film independen, datang kepada saya dan kebetulan pada saat itu saya punya uang, sedikit-sedikitnya saya menunjukkan konsen kepada mereka, tapi seharusnya tidak saya omongkan. Jadi kalau yang diistilahkan tadi berbagi, saya tidak bisa menerima sebuah pikiran memaksakan kehendak orang kepada diri saya. Itu namanya tiran. Pertanyaanku, apakah secara spesifik hanya ditujukan kepada saya? Apakah juga untuk mereka yang tumbuh dalam atmosfir kesenian Jogja? Kalau kita berpikirnya egaliter, secara fair itu harus diaplikasikan kepada siapa pun, termasuk Indra Tranggono sendiri. Apa Anda ada masalah dengan Indra Tranggono? Saya merasa tidak ada masalah dengan dia, tapi dia yang tidak mau saya dekati, tidak mau lagi membantu saya. Sejak kapan "berpisah" dengan dia? Ya sejak tiga bulan ini. Saya sangat menyayangi dia, mencintai dia, karena dia juga teman saya sejak SMP. Tapi Indro sudah

menyatakan tidak mau bekerjasama lagi dengan saya. Saya tidak tahu masalah apa sebenarnya, karena saya merasa tidak pernah punya masalah. Situasi kesenian di Jogja sendiri sekarang macam apa? Saya tidak melihat yang mengkhawatirkan kalau melihat semangat mereka. Mereka yang berproses dengan kesungguhan masih ada. Yang ke industri juga ada. Mereka yang melakukan pencarian-pencarian kreatif juga masih ada. Artinya, dinamika kesenian sebagaimana dulu ketika saya tumbuh, itu masih berlangsung dengan wajar dalam format mereka, dalam semangat mereka. Saya tidak bisa memaksakan romatisme saya yang dulu kepada anak muda sekarang. Karena putra-putra Pak Bagong sebagian sibuk, macam Anda dan Jadug, hubungan sesama anggota keluarga Bagong Koesudiardjo bagaimana? Baik. Tapi dengan bapak saya lama nggak ketemu, karena saya sering pergi. Masih ada sisa-sisa romantisme Anda sebagai anak Pak Bagong? O masih, kalau ada waktu saya sempatkan main ke rumah bapak. Guyon-guyon. Bisa kumpul di rumah bapak biasanya pas momen apa? Ya kalau hari raya, Natal, lebaran, tahun baru, atau pas slametan ibuku, pasti kumpul. Biasanya apa yang diperbicangkan kalau kumpul di rumah Pak Bagong? Paling-paling cuma ngomong saru (jorok). Pokoknya nggak ada omongan serius, yang ada ya guyon saja. Waktu anak-anak sih serius, sekarang anak-anak sudah mempunyai kepercayan diri dan kemandirian. Hubungan Anda dengan adik Anda, Jadug, sangat akrab sekali. Keakraban yang egaliter itu sudah terjalin sejak kapan? Sejak dia mulai berkesenian. Dia ngendang itu sejak SD. Aku main teater dia sudah musikin saya. Tahun 77/78 dia masih pakai celana pendek. Aku main teater, dia main musik. Kalau Pak Bagong punya kegiatan, Anda masih suka membantu? Ya, dulu. Sekarang sudah sibuk, jarang. Dulu aku jadi manajer produksinya. Kalau nggak ada pekerjaan kesenian, kegiatan anda apa? Paling-paling kalau di luar kota ya ke warnet. Buat ngecek suratsurat. Browsing sudah nggak sempet. Kalau ada order ya bikin tulisan buat media, atau bikin karangan untuk acara, atau bisa juga bikin proposal. Paling kalau di hotel ya cuma nonton TV dan baca. Sebagai orang sibuk, perangkat kerja Anda apa? Laptop barangkali? Nggak ada. Apa, ya cuma diriku. Kalau kepingin ngetik ya di warnet. Nggak butuh asisten? Nggak, ndak konangan (nanti ketahuan honornya).

Pernah ada masalah nggak dengan jadwal acara Anda yang padat karena nggak ada asisten? Nggak. Saya itu nasibnya tergantung ini (Butet mengambil sebuah buku agenda kecil dari saku celana). Nyawaku ada di sini. Ini ilang, kacau aku. Sejak sebelum 1998 saya sudah mempunyai tradisi pakai agenda harian. Mulainya karena Tempo dan Jakarta Post selalu memberi agenda kepada saya tiap akhir tahun, karena saya punya biro iklan itu (Galang-Red), beberapa media cetak suka ngirim souvenir. Jadi saya punya kebiasaan mencatat apa yang akan saya lakukan. Seperti ini (menunjukkan agenda acara), sampai bulan September ada sejumlah kegiatan yang harus saya tangani. Jadi saya tidak perlu sekretaris. Sekretarisku ya yang di kantong ini. Terus kalau ada orang yang tiba-tiba memesan Anda pentas, padahal jadwal kegiatan Anda sudah penuh sampai September bagaimana? Sebetulnya setiap saat bisa, asal waktunya cocok. Jadi kalau ada orang mau memesan saya, ya harus menyesuaikan dengan waktu yang masih bolong-bolong belum terisi itu. Untuk menjaga stamina, jamu Anda apa? Doping saya pakai obat Cina, ginseng cair yang di botol kecil. Tapi itu jarang, paling kalau mau pentas yang membutuhkan kegiatan fisik. Tapi sehari-hari obatnya ya tidur. Prinsipnya kalau ngantuk terus tidur, entah siang, sedang di dalam taksi. Tiba di hotel kalau ngantuk langsung tidur, nggak boleh ditunda. Refreshingnya biasanya apa? Makan bersama anak-anak, jajan soto, makan malam bersama mereka. Punya tempat favorit kalau ngajak makan anak-anak? Soto Kaditiro, soto Pak Slamet, kalau malam tongseng, sate Kletek, tongseng Tamansari. Anak-anakku ya ke mal. Kalau refreshing ketika di luar rumah apa? Seperti di luar kota ini? Ya ketemu teman-teman, ke kafe, diajak relasi-relasi, mereka itu seneng nraktir aku. Menyeleweng nggak? Ya harus mengaku nggak, hehehe Pacar punya nggak? Nggak Untuk pencerahan batin? Nggak, cukup istri saya Karena sering makan enak, sudah mulai ada keluhan? Ada, diabet dan kolesterol. Pernah kadar gulaku sampai 400, kolesterolnya 400. Dokter menyarankan saya supaya diet keras dan olahraga keras sampai mengeluarkan keringat. Sempat coba saya lakukan sampai sepuluh hari, hasilnya efektif. Jamunya pakai telor ayam dan asam cuka. Biasanya istriku yang ngurusi. Tapi kalau di luar kota begini jadi kacau nih acara jamu-jamuan. Istri Anda kegiatannya apa di rumah? Nanti pementasan Gandrik dia ikut. Kegiatan lain, dia bisnis kecilkecilan, saya ikut memfasilitasi agar dia mandiri. Kenapa saya dorong dia untuk mandiri? Karena saya merasa saya punya

potensi mati muda. Saya tidak ingin kalau saya mati ngrepotin orang. Kalau istri saya mandiri secara ekonomi, punya pengalaman melakukan usaha, relatif amanlah. Dan kalau saya tidak mati, saya memberikan kesempatan dia mandiri secara ekonomi. Karena kalau saya tidak lakukan itu, secara ekonomi istriku dan anak-anakku tergantung pada aku semua. Padahal aku ada batasnya kan? Fisik bisa hancur, bisa sakit, bisa mati pula. Karenanya dia saya fasilitasi untuk bisnis itu. Soal potensi mati muda, memangnya Anda merasakan apa belakangan ini? Ya menyadari keterbatasan fisik saya yang sudah terjangkit macam-macam penyakit, ada gula, ada kolesterol. Anda siap mati kapan saja? Ya, bahkan setiap mau tidur doa saya kepada Tuhan adalah, agar Tuhan memaafkan kesalahan saya kepada teman-teman saya, keluarga saya, kepada perilaku-perilakuku. Karena perasaan saya besoknya ketika bangun tidur saya akan mati. Cita-citaku kan mati tanpa sakit, mati nggak ngerepotin orang lain. Mati tanpa siksa. Itu mati yang indah buat saya. Sudah melihat tanda-tandanya? Ini kebetulan saya sedang membuat rumah. Teman-temanku, pada saat mereka membangun atau rumah selesai, itu mati. Jadi ketika saya memutuskan membuat rumah, aku bilang sama istriku, aku bisa mati ini. Sekarang rumahku sudah memasuki tahap finishing, aku ge-er ini aku bisa mati, udah deket nih matiku. Untuk cadangan hari tua, apa yang sudah Anda perbuat buat masa depan anak-anak? Saya meniru ayah saya. Dia itu ingin memfasilitasi anak-anaknya dalam hal sandang, pangan, papan. Saya membeli tanah, tidak untuk saya, tapi untuk anak saya. Saya dibelikan tanah oleh bapak saya, dibuatkan rumah, meskipun saya sekarang merenovasi rumah itu, sekarang saya sudah membeli tanah untuk anak-anak saya dalam ukuran yang pantas, sekitar 200 m2. Menirukan gaya bicara orang masih suka dipakai di panggung? Kadang masih, tergantung kebutuhan dan situasi. Tergantung konteknya. Ketika saya berkesenian, saya ya ge-er merasa diri saya seniman, tapi ketika orang mengundang saya untuk memotivasi karyawan, saya ya ge-er merasa sedang berjuang untuk perusahaan itu sambil menghibur. Ketika orang mengundang saya untuk mengisi acara agar publik tertawa karena mereka sedang sedih, saya ge-er bahwa diri saya sedang jadi seorang entertainer. *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), Repro Kompas Cyber Media)
Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

A B C D E F G H I

J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
Jumat, 14 Agustus 2009

C © updated 2610200631102004

BISMAR SIREGAR HOME
► Selamat datang di situs gudang pengalaman ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ► Thank you for visiting the experience site ► TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ► ► Selamat datang di situs gudang pengalaman ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ► Thank you for visiting the experience site ► TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ►
Google TokohIndonesia

HOME
► Home ► Biografi ► Versi Majalah ► Berita ► Galeri
► e-ti/wilson

PEJABAT
► Pejabat ► Presiden ► MA ► Bepeka ► MK ► Kabinet ► Departemen ► Badan-Lembaga ► Mabes TNI ► Mabes Polri ► Pemda ► BUMN ► Purnabakti ► Asosiasi ► Search ► Poling Tokoh ► Selamat HUT ► Pernikahan ► In Memoriam ► Majalah TI ► Redaksi ► Buku Tamu

Nama: Bismar Siregar Lahir: Sipirok, Sumatera Utara, 15 September 1928 Agama: Islam Isteri: Yunainen F. Damanik Anak: Tujuh orang Cucu: 11 orang (Juni 2006) Ayah: Aminuddin Raja Baringin Siregar Ibu: Siti Fatimah Pendidikan: -HIS, Sipirok (tidak selesai) -SMP, Sipirok (tidak selesai 1942) -SMA, Bandung (1952) -FH UI, Jakarta (1956) -National College of the State Judiciary, Reno, AS (1973) -American Academy of Judicial Education, Tescaloosa, AS (1973) -Academy of American and International Law, Dallas, AS (1980) Karir: -Jaksa di Kejari Palembang (1957-1959) -Jaksa di Kejari Makassar/Ambon (1959-1961) -Hakim di Pengadilan Negeri Pangkalpinang (1961-1962) -Hakim di Pengadilan Negeri Pontianak (1962-1968) -Panitera Mahkamah Agung RI (1969-1971) -Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara/Timur (19711980) -Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Barat, Bandung (1981-1982) -Ketua Pengadilan Tinggi Sumatera Utara, Medan (1982-

BIOGRAFI: 01 02 03 04 = WAWANCARA: 01 02 = DEPTHNEWS: 01 02 03 = OPINI: 01 02 = Bismar Siregar (01)

Cermin Kebeningan Nurani Hakim
Ibarat kaca, mantan hakim agung Bismar Siregar SH, menjadi cermin kebeningan hati nurani bagi para hakim. Mantan Ketua Pengadilan Tinggi Sumatra Utara (1984), ini selalu mengandalkan hati nurani setiap kali mengambil keputusan. Sebab baginya, hati nurani tidak bisa diajak berbohong. Dia merasa sangat bersyukur dan bahagia sekali tidak masuk lingkaran hakim yang bisa disuap atau dibeli. Bismar Siregar (02)

Pendekar Hukum Jalan Lurus
Selama bergelut di dunia hukum, cap hakim kontroversial selalu dialamatkan kepada Bismar, karena selalu tampil berbeda di garda terdepan jalan lurus untuk memperjuangkan tegaknya

Copyright © 2002-2009 Ensikonesia - Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Penerbit pt AsasirA. Design and Maintenance by Esero

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
Jumat, 14 Agustus 2009

C © updated 02052006

DEDING ISHAK HOME
► Selamat datang di situs gudang pengalaman ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ► Thank you for visiting the experience site ► TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ► ► Selamat datang di situs gudang pengalaman ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ► Thank you for visiting the experience site ► TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ► Dr H Deding Ishak Ibnu Sudja, Drs, SH, MM

HOME
► Home ► Biografi ► Versi Majalah ► Berita ► Galeri
► e-ti/anis

PROFESI
► Guru-Dosen

POLITISI
► MPR-RI ► DPR-RI

BERANDA
► Search ► Poling Tokoh ► Selamat HUT ► Pernikahan ► In Memoriam ► Majalah TI ► Redaksi ► Buku Tamu

Nama: DR. H. DEDING ISHAK IBNU SUDJA, DRS., SH., MM. Lahir: Bandung, 4 Juni 1962 Agama: Islam Isteri: Hj. Rachmayani, SH., Sp.N. Anak: 1. Derisa Zahara 2. Deya Faaghna 3. Dara Daula Mumtaza 4. M. Daria Adiwena Akbar Ayah: KH. R. Totoh Abdul Fatah - Mantan Anggota MPR-RI (1992-1999) - Ketua Dewan Penasehat MUI Jawa Barat (Sekarang) - Anggota Dewan Penasehat MUI Pusat (Sekarang) Ibu: Hj. Siti Mariyam Pekerjaan Sekarang: Anggota Komisi VIII (Bidang♣ Sosial, Agama, Pemberadayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak) DPR-RI (2004-Sekarang). Anggota Fraksi Partai Golkar DPR-RI dari Daerah Pemilihan♣ Jawa Barat III (Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, dan Kota Cianjur). Ketua♣ Umum Pimpinan Pusat (PP) Majelis Dakwah Islamiyah (MDI) (2006-2009). Ketua♣ Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yapata Al-Jawami, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (1999-Sekarang). Riwayat Pekerjaan: Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat (1999-2004).♣ ♣ Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat (1997-1999). Berhenti sebagai PNS♣ (2000). Dosen IAIN SGD, Bandung (1996-1999).♣

Legislator dan Pendidik yang Agamais
Dia adalah seorang wakil rakyat, penyandang gelar doktor bidang kebijakan publik, pucuk pimpinan Ormas besar, dan pemangku sebuah lembaga pendidikan tinggi agama Islam. Dengan kapasitas intelektual dan politis yang dimiliki, dia bertekad menjadikan pembangunan bidang pendidikan sebagai panglima di negeri ini demi terciptanya Indonesia yang maju. Kepribadiannya pun tak diragukan. gaya bicaranya yang lemah lembut memang agak bertolak belakang dengan perawakannya yang tinggi besar, dengan kumis tebal menghiasi bibir. Namun, pribadinya yang sangat ramah mengikis habis kesan angker dari penampilan fisiknya tersebut. DR. Deding Ishak Ibnu Sudja adalah anggota DPR-RI periode 2004-2009 dari Partai Golkar. Di Senayan, saat ini pria kelahiran Bandung, 4 Juni 1962, ini sehari-hari bertugas di Komisi VIII (bidang Sosial, Agama, dan Pemberdayaan Perempuan). Bidang-bidang itu relatif sangat pas dengan latar belakang

Copyright © 2002-2009 Ensikonesia - Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Penerbit pt AsasirA. Design and Maintenance by Esero

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
Jumat, 14 Agustus 2009

C © updated 29012005

Didik Junaidi Rachbini

Ingin Jadikan PAN Partai Modern
POLITISI
► Politisi ► MPR-RI ► DPR-RI ► DPD ► DPRD ► Partai ► Ormas ► OKP ► LSM-Aktivis ► Asosiasi ► Search ► Poling Tokoh ► Selamat HUT ► Pernikahan ► In Memoriam ► Majalah ► Redaksi ► Buku Tamu
►e-ti/gtr

Ketua Dewan Pimpinan Pusat PAN Didik J Rachbini mendeklarasikan kesediaannya untuk maju sebagai kandidat ketua umum PAN dalam Kongres II PAN di Semarang, April 2005. Pakar ekonomi yang guru besar Universitas Indonesia ini mengemukakan lima misi yang akan diwujudkannya dalam memimpin PAN. Pada deklarasi yang berlangsung di Jakarta, Rabu (26/1/05) itu, dia didampingi tokoh PAN lainnya, Miranty Abidin, Sekretaris Majelis Pertimbangan Partai DPP PAN Purwanto, dan Ketua DPP PAN Suwardi. Deklarasi itu diputuskan setelah melalui proses politik panjang, komunikasi ke daerah dan silaturahmi yang lebih luas. Sejumlah DPW dan DPD PAN juga sudah menyatakan dukungan, kendati dia belum mau mengklaim jumlah daerah yang menyatakan dukungan. Didik mengemukakan lima misi yang akan diwujudkannya dalam memimpin PAN. Misi itu adalah membangun sistem organisasi yang modern dengan kelembagaan yang kuat, membangun kepemimpinan efektif dan sifat kolektif, sistem pengkaderan yang baik, menyatukan partai dengan rakyat, dan memenangkan pemilu. Didik ingin Partai Amanat Nasional kedepan harus bisa menjadi partai modern dengan organisasi kepartaian yang rapi. Penataan organisasi kepartaian dan meningkatkan kerja politik diharapkan mendekatkan PAN dengan rakyat. Untuk menjadi partai modern, menurut Didik, politik kepartaian PAN harus dibenahi. Bukan saja organisasinya yang harus dibenahi, tetapi juga budaya di partai, dan model kepemimpinan agar tidak lagi feodalistik. Kedepan, menurut Didik, Partai Amanat Nasional (PAN) harus bisa menjadi partai pilihan rakyat, dan bisa berkuasa dalam pemerintahan dan parlemen yang sehat dan bersih. "Selain, PAN komit pada reformasi dan tetap jadi simbol reformasi. Tidak heran jika obyek yang diserang adalah persoalan kebersihan, KKN, dan good goverment. Sehingga, visi tentang kebersihan harus tetap akan menonjol dan kuat," ujarnya. Menjelang pelaksanaan kongres, Didik mengaku mendengar adanya indikasi politik uang yang dilakukan bakal calon tertentu. Ia berjanji akan membuka praktik itu kepada pers apabila menemukan data-data valid. Aktivitas Pakar ekonomi dan Anggota Komisi VI DPR-RI dari PAN (2004-2009), ini bernama kecil Ahmad Junaidi, dengan panggilan Didik. Kemudian dalam ijazah SD, gurunya menulis nama Didik Junaidi Rachbini. Tidak tertulis nama Ahmad, diganti dengan panggilan Didik dan di belakang ditambah nama ayahnya, Rachbini. Maka untuk menyesuaikan dengan ijazah, nama Didik Junaidi Rachbini itulah yang dipakai. Dia menikmati masa kecil dan remajanya di Pemekasan,

Nama: Didik Junaidi Rachbini Nama Kecil: Ahmad Junaidi Lahir: Pamekasan, Madura, 2 September 1960 Agama: Islam Istri: Dr. Ir. Yuli Retnani Anak: = Eisha = Fitri = Imam Pendidikan: = SD, SMP, SMA di Pamekasan, Madura = S1 Institut Pertanian Bogor (1983) = S2 (MSc) Studi Pembangunan, Central Luzon State University, Filipina (1988) = S3 (PhD) Studi Pembangunan, Central Luzon State University, Filipina (1991) Karir: = Asisten dosen IPB (19821983) = Dosen IPB (1983-1985) = Peneliti LP3ES, Jakarta, (1985-1994) = Kepala Program Penelitian, LP3ES (1991-1992) = Wakil Direktur LP3ES (19921994) = Dosen Universitas Nasional (1993-1994) = Konsultan FAO (1990-1991) = Konsultan UNDP (1993-1995) = Dosen Pascasarjana Universitas Indonesia (1993sekarang) = Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana (19951997) = Pendiri dan Pengajar di Universitas Paramadina Mulya (1995-sekarang) = Direktur Institute for Development of Economics &

Copyright © 2002-2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero Dipersembahkan untuk Bangsa oleh CPPI Foundation.

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Search A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

KABINET
Jumat, 14 Agustus 2009

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
C © updated 151102

Dorodjatun Kuntjoro-Jakti

INDEX PEJABAT :::::: Pejabat :::::: Lembaga Tinggi :::::::::::: Presiden :::::::::::: MPR/DPR/DPD :::::::::::: MA :::::::::::: Bepeka :::::::::::: DPA :::::: Kabinet :::::: Departemen :::::: Badan-Lembaga :::::: Pemda :::::: BUMN :::::: Asosiasi ::::::::::: Korpri ::::::::::: APPSI ::::::::::: Apeksi ::::::::::: Apkasi ::::::::::: Lainnya :::::: MK :::::: Purnabakti :::::: Redaksi

The Dream Team Ingin Bergerak Cepat, Tapi…
Saat menjabat Menko Bidang Perekonomian Kabinet Gotong Royong, ia ingin bergerak cepat pada strategi penciptaan lapangan kerja. Sungguh ia risau tiga tahun terbengkalai sehingga banyak rakyat Indonesia tidak mendapat pekerjaan yang layak. Ia juga sangat galau mengenai utang Indonesia. Menurutnya, dibandingkan dengan utang pada IMF dan Bank Dunia, justeru yang paling gawat adalah utang dalam negeri Indonesia.
Nama : Prof Dr Dorodjatun KuntjoroJakti Lahir: Rangkasbitung, Banten, 25 November 1939 Agama: Islam Istri : Emiwaty Kuntjoro-Jakti Pendidikan: - S1: Fakultas Ekonomi UI, 1964 - S2: Master of Finance Administration, University of California, Berkeley, AS, 1966 - S3: Doktor bidang Political Science, University of California at Berkeley. Jabatan : Menko Perekonomian Dubes Indonesia untuk AS (Maret 1998-Juni 2001) Dekan FE-UI (1994-Februari 1998) Anggota tim ahli Pacific Business Forum Anggota tim ahli APEC

Kala itu, ia juga ingin mempertimbangkan jenis pajak. Jangan sampai (pajak) membebani perusahaan yang justru menciptakan lapangan kerja, seperti mebel dan kerajinan tangan. Perbaikan ekonomi tidak mungkin dilakukan tanpa adanya investasi. Juga ingin proyek konstruksi jalan laut, prasarana udara mulai kita laksanakan kembali. Kalau tidak, kita tidak siap masuk AFTA yang sudah diambang pintu. Selama tiga tahun lebih, ia aktif ikut dalam tim negosiasi dengan IMF. Meskipun sesekali ada ketertundaan dalam melakukan kesepakatan dengan IMF, ia harapkan pemerintah dapat dengan cepat menyetujui langkah yang dapat diambil bersama dengan IMF. Ekonom kawakan ini masuk Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI) bagai suatu 'kecelakaan'. Kendati kemudian, ia menemukan kenikmatan tersendiri dalam mempelajari ilmu ekonomi itu. Maka, begitu meraih gelar SE, pada 1964, ia melanjut ke Universitas Berkeley, California, AS. Ia merai gelar MA di universitas ini pada 1966. Gelar doktor (Ph.D.) pun diraih di universitas ini empat belas tahun kemudian. Disertasinya berjudul, Political Economy: The Case on Indonesia under the New Order, 1966-1980.

Ayahnya memberinya nama Dorodjatun. Nama itu rupanya diambil dari nama kecil Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Karena tanggal lahir Djatun, 25 November 1939 di Rangkasbitung, Jawa Barat, Alamat Kantor: Jalan Taman Surapati II, Jakarta bertepatan dengan hari naik tahtanya Sultan.
Pusat

Mantan Dekan FE UI ini selain sering memberikan tanggapan di koran-koran, juga banyak menulis. Setidaknya ada tiga bukunya terbit di Singapura, oleh ISEAS, dan tiga lainnya diterbitkan oleh LP3ES Jakarta, ADC New York, dan Universitas Tokyo/Unesco. Ia memang rajin membaca, mulai dari buku ekonomi, politik, filsafat, sejarah, sampai mitologi dan novel. Anggota berbagai kelompok

studi di luar negeri ini menyukai novel karangan Boris Pasternak dan Solsyenitsin dari Rusia, serta Kawabata dan Mishima dari Jepang. Ekonom yang sempat ditahan ketika Peristiwa Malari (1974) ini adalah bekas anggota regu renang mahasiswa UI. Sampai saat ini ia masih rajin berenang, di samping jogging. Suami Emiwati (kepala dokumentasi Matari Advertising, Jakarta) ini sangat terkenal di kalangan pelaku pasar. Dia juga dianggap pandai dalam melakukan lobi, apalagi terhadap AS. Penunjukan dirinya sebagai Menko Perekonomian pun disambut positif pasar. Bahkan, karena faktor namanya, tim ekonomi Kabinet Gotong Royong yang dipimpinnya disebut banyak orang sebagai The Dream Team. Kendati belakangan harapan yang terlalu besar digantungkan kepada tim ini, tidak sepenuhnya dapat dipenuhi. Bahkan tim ini sering bersilang pendapat di media massa, terutama dengan Kwik Kian Gie, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional yang lebih berperangai sebagai pengamat. Setelah enam bulan masuk tim ekonomi, Djatun panggilan akrab Prof Dr Dorodjatun Kuntjoro-Jakti- berdiskusi di depan masyarakat Indonesia di Washington, USA. Pada diskusi itu, ia berbicara gambling. Ia membeberkan unek-uneknya soal utang dalam negeri Indonesia. Menurutnya, dibandingkan dengan utang pada IMF dan Bank Dunia, justeru yang paling gawat adalah utang dalam negeri Indonesia. Pada kesempatan itu, ia juga mengungkap isu yang melibatkan para obligor raksasa maupun menengah. Diakuinya, isu itu sangat kompleks. Apalagi, sering dipolitisasi dan diplintir. Ia mengaku sedang berpacu melawan waktu yang mepet, terutama dengan deadline berakhirnya tugas BPPN pada Desember 2003. Dalam diskusi saat ramah-tamah dengan sekitar 200 orang masyarakat Indonesia di KBRI Washington, yang juga dihadiri antara lain Atase Pertahanan RI di AS Brigjen Hendrawan Ostefan, dan Ketua IKI (Ikatan Keluarga Indonesia) Ambar Abbink, ia bicara apa adanya. Diskusi itu dipandu KUAI KBRI Thomas Aquino Samodra Sriwijaya, mantan Dubes RI di AS. Nilai utang luar negeri itu sama dengan dalam negeri, yakni kurang lebih USD 70-an miliar. Sekitar USD 70 miliar di luar, USD 70 miliar dari dalam. Bedanya, utang dari luar itu berupa soft loan, sehingga jangka pengembaliannya lama. Bunga pinjaman Bank Dunia hanya 1-2 persen. Bunga pinjaman ODA (official development assistance) bahkan 0,3 persen. Pinjaman dari IMF juga dikenai bunga rendah, yakni hanya 3-4 persen. "Tetapi, yang dari dalam negeri itu kan sama dengan bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia), yakni kurang lebih 17 persen. Coba bayangkan," katanya. Ia mengajak hadirin berhitung. Dalam hitungan rupiah, utang USD 70 miliar itu sekitar Rp 655 triliun. Dengan bunga 17 persen, berarti pembayaran bunganya Rp 60 triliun setiap tahun. "Itu sama dengan USD 6 miliar toh. Yang di luar paling banter hanya USD 2 miliar, Anda bayar. Yang di luar selalu bisa dijadwalkan kembali. Dan, ini kebanggaan Indonesia. Sejak dulu, tak pernah ngemplang. Indonesia terkenal di lembaga multilateral. Kita nggak pernah ngemplang, selalu bayar. Tapi, jika mepet, kita minta penjadwalan kembali, yaitu dari pokok (pembayaran pokok utang, Red), principal, dan dari bunga," jelasnya. Yang parahnya adalah utang dalam negeri. Sebab, harus

dibayar lewat budget (anggaran negara). "Itu diambil dari penghasilan negara, masuk sebagai pengeluaran, lalu dikasih ke bank-bank yang bangkrut itu. Supaya bank-nya enggak bangkrut, kita kasih obligasi. Lantas, kita kasih penghasilan pada bank, sehingga bank jalan. Jadi, itu sebetulnya kita subsidi bank-bank itu. Tapi kalau kita tenggelamkan bank itu, sekian juta nasabah bank kita ini nggak punya lembaga penjamin. Tidak ada deposit insurance, seperti yang semestinya," katanya. Di Indonesia belum ada peraturan penjaminan dana nasabah di bank. Jadi kalau banknya bangkrut maka pemerintah yang harus ganti. Kalau di AS, jaminannya dilakukan melalui asuransi, terbatas maksimal 100 ribu USD. Sedangkan untuk Indonesia, untuk jumlah berapa pun, tidak ada jaminan seperti itu. Di Indonesia tidak ada. Karena itu, terpaksa dikasih blanket guarantee (jaminan menyeluruh) saat krisis 1998. Nggak peduli sebabnya, pokoknya semua yang berurusan dengan bank, digaransi. Jadi, enak saja, diganti. “Jangan tanya saya kenapa itu diberikan. Itu kan 1998. Saya cuma mewarisi. Yang hebat, on budget dan off budget digaransi," ungkapnya. Ia mengaku tengah berupaya bagaimana mengurangi beban dalam negeri. "Sebab, yang diberikan kepada orang miskin lewat dana kompensasi sosial kan hanya Rp 2,85 triliun. Sedangkan yang dipakai untuk rekapitalisasi Rp 60 triliun. Coba, berapa juta orang miskin bisa ditolong, kalau bisa dikurangi. Tapi, untuk mengurangi, bond-nya itu harus di-redeem (bond redemption, penebusan obligasi). Bond-nya itulah yang bisa ditarik kalau obligor besar, penghutang besar yang bikin berantakan negeri kita ini, memenuhi kewajibannya membayar utang-utang itu. “Ini lupa dilakukan selama 4 tahun," ujarnya dengan nada tinggi. Ia tidak berhenti sampai di situ. Soal obligor ini dicecarnya terus, dengan kalimat mengalir deras dan bahasa lugas. "Jadi, para obligor besar itu, baik top 21, top 50, dan top 100, kecil sekali pengembaliannya. Bahkan, 39 bank yang dibekukan kewajibannya Rp 27 triliun. Tapi, cuma bayar Rp 1 triliun sampai kini. Itu sudah empat tahun!" imbuhnya. Ia melihat saat ini masalah itu makin kompleks dan gawat. "Sudah mau habis, Desember 2003, kalau tidak diselesaikan, pas nanti itu BPPN nya habis tugasnya. Tahun 2004 saya harus bikin pidato ibu (Presiden Megawati, Red) di MPR: 'Saudara-saudara sebangsa setanah air, ternyata sesudah kita hitung pengembalian yang dilakukan oleh para obligor besar dan bank-bank beku itu, tak mungkin mengembalikan seluruh Rp 655 triliun. Masih tersisa kurang lebih Rp 400 triliun yang harus dibawa sebagai beban utang dalam negeri Indonesia.' Terus, bagaimana reaksi rakyat?" papar Djatun panjang lebar. Suasana ruang pertemuan hening. Seolah paham betapa persoalan utang yang dihadapi Indonesia, khususnya Menko Perekonomian, begitu dahsyat. "Ini yang saya pusingkan sekarang. Saya mulai bilang sama mereka. Bayar dong," katanya. Yang jadi masalah, ungkap Djatun, syaratnya ketika itu melalui kontrak perdata. "Karena syaratnya dulu, kontraknya itu dibikin kontrak perdata. Karena out of court settlement (penyelesaian di luar pengadilan), ya segitu disetujui dua-duanya tanda tangan pemerintah Indonesia saat Pak Habibie dan kemudian dengan orang obligornya tandatangan, itu settle.

Dan sesudah settle, pemerintah mengeluarkan surat letter of discharge and release (surat bebas dari tuntutan lain) dan tidak bisa dipidanakan. Sesudah itu, seluruh asset nya dikembalikan ke mereka, ke pemilik lama. Oleh mereka, disuruh dilola, dijalankan terus. Kita bayar management fee sama dia untuk menjalankan itu. Sesudah itu, arus kasnya tidak di-escrow (escrow account, ditaruh di rekening penjamin, red) di bank. Kemudian di perusahaanperusahaan itu, kita tidak menempatkan chief financial officer (CFO). Now you tell me, siapa, betapa luar biasanya imaginasi penyusun kontrak saat itu. Don't ask me!" ujarnya, sengit. Djatun tampak berapi-api membeber isu yang selama ini enggak pernah terungkap di depan publik. Masalah obligor yang diwarisi pemerintah Megawati saat ini, ditambah tetek-bengek keanehan praktik era lama dan jadi beban saat ini dan di masa depan, Djatun tidak mau tedheng aling-aling. "Lha, sesudah itu diharapkan mereka sukarela menjual aset. Sudah dibuktikan, kita dimaki: 'Itu harga Indomobil, Indosiar Pak Djatun dan sebagainya.' Eh, itu bukan aku yang jual! Itu pemilik lama yang jual. Itu kewajiban dia. Kenapa nggak dipenjarakan saja, seperti dibilang nyonya saya (isteri Djatun, Red). Nggak bisa! Sebab, itu perdata perjanjiannya. Mungkin barang buktinya sudah susah dicari, duitnya sudah lama ke mana, owners-nya lari ke luar negeri semua. Kalau saya panggil, kan mesti pakai red notice interpol. Makanya, jangan mau gampang jadi Menko," tukasnya di akhir kalimat seolah menetralisir tegangnya pembeberan soal obligor itu. Djatun kemudian membuka sedikit cerita awalnya jadi menko. "Ketika saya jadi menko, saya lihat bagian dalamnya. Ini gimana. Siapa in the end of the game, yang tanggung jawab semua ini. Kan obligor itu. Sekarang kita mau coba mereka. Ayo, penuhi janji itu. Tapi, secepat- cepatnya dan sehebatnya, menurut perkiraan saudara Ade Sumantri (pejabat BPPN, Red) dan teman-teman, paling banter kita bisa kembalikan hanya 26 persen. Jadi, yang Rp 400 triliun, itu sisa dalam negeri," katanya. Karena itu, Djatun heran kenapa justru IMF yang dicibir. Padahal, bunga pinjaman IMF sangat rendah. "Jadi, banyak cerita diplintirplintir di luar. Yang kita pakai di LoI IMF itu adalah semua yang tidak dikerjakan pemerintah Soeharto dalam 30 tahun. Saya nggak gerti kenapa disebarkan cerita mengenai IMF. Nggak ngerti saya. Alternatifnya apa? Bank Dunia digituin juga," ujarnya masygul. Djatun malah heran, soal obligor ini, para pengkritik itu diam. "Tetapi, obligor yang tidak mau bayar malah tidak dimarahi. Kita yang mau selesaikan malah dibilang mau gampang saja sama obligor. Kita nggak berbuat apa-apa, dimarahin. Kita jual, dibilang harganya terlalu rendah. Kita diam, dimarahi juga. Jadi, mau yang mana ini? Padahal, waktunya sudah mau habis, tahun 2003. Itu cerita utang kita," tutupnya soal utang. Djatun minta siapa saja supaya mengedepankan fakta ketimbang persepsi. "Hey, bung. Jangan main persepsi hari-hari ini, tapi main fakta. Asyik kalau main fakta. Soal persepsi memang sengaja dikembangkan oleh orang-orang yang mau bermain politik. Saya nggak main politik. Sampai jam ini, saya nggak mau main politik. Karena itu, lontarkan saja," jelasnya. Sebagian hadirin puas campur masygul dengan problematika utang

yang dibeber Djatun. Apalagi, Djatun tampil bersemangat, terbuka, dan apa adanya. Itu mengingatkan orang pada integritas, kejujuran, dan idealismenya hingga pernah dua tahun dipenjara tanpa diadili oleh rezim Soeharto ketika Malari 1974. Djatun di AS menghadiri World Economic Forum di New York, sekaligus melakukan pembicaraan dengan IMF, World Bank, dan Treasury (Depkeu AS). Selain Djatun, anggota delegasinya adalah staf pejabat kantor Menko Perekonomian, BPPN, dan Depkeu. *** Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari berbagai sumber, antara lain Djon D. Siregar national@mail2.factsoft.de

Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero Dipersembahkan untuk Bangsa oleh CPPI Foundation.

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA BERITA TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
Jumat, 14 Agustus 2009

tidak korupsi. Namun, dia sendiri merasa penghargaan itu sangat berat dan mungkin saja belum pantas. Lulusan FH Universitas Andalas Padang (1982) itu menapak karier mulai dari staf biasa di Kantor Ditsospol Pemprov Sumatera Barat. Drs. Adolf Jouke Sondakh

Demokrasi Indonesia Perjuangan itu meraih suara 448.325 suara (38,88 persen). Agustin Teras Narang (01)

Bejana yang Sedang Ditempa
Pada diri pria kelahiran Banjarmasin 12 Oktober 1955, ini mengalir ‘darah’ politisi sebagai warisan dari ayahnya, Waldenar August Narang. Sang Ayah yang berdarah asli suku Dayak Ngaju, berasal dari Mandomai sebuah desa kecil di pinggiran daerah aliran sungai Kapuas, Kalimantan Tengah pernah menjabat sebagai anggota DPRD Kalimantan Selatan. Zulkifli Nurdin

PEMDA
► NAD ► Sumut ► Sumbar ► Riau ► Kepri ► Jambi ► Sumsel ► Bengkulu ► Lampung ► Babel ► Banten ► DKI Jakarta ► Jabar ► Jateng ► DIY ► Jatim ► Bali ► NTB ► NTT ► Kaltim ► Kalsel ► Kalteng ► Kalbar ► Sulsel ► Sulteng ► Sultra ► Sulut ► Gorontalo ► Sulbar ► Maluku ► Malut ► Papua ► Pabar

Konsisten Membangun Sulawesi Utara
Berangkat dari dunia akademik sebagai seorang dosen Fisipol Universitas Sam Ratulangi yang selalu aktif berorganisasi, akhirnya mengantarkan Adolf Jouke Sondakh, ke dunia politik praktis yakni menjadi anggota DPRD dan DPR - MPR selama beberapa periode. Ia kemudian terpilih menjadi Gubernur Sulawesi Utara periode 2000-2005.

Janjikan Perubahan Jambi
Melalui Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Golkar, Zulkifli Nurdin kembaIi maju sebagai calon gubernur periode kedua 2005-2010, berpasangan dengan Antony Zeidra Abidin. Selama lima tahun kepemimpinannya (1999-2004), dia telah menunjukkan sosok sebagai pemimpin yang menjanjikan perubahan bagi Jambi.

BERANDA

Copyright © 2002-2009 Ensikonesia - Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Penerbit pt AsasirA. Design and Maintenance by Esero

BIOGRAFI TOKOH INDONESIA THE JOURNALISTIC BIOGRAPHY
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
Jumat, 14 Agustus 2009

POLITISI
► Politisi ► MPR-RI ► DPR-RI ► DPD ► DPRD ► Partai-Pemilu ► Ormas ► OKP ► LSM-Aktivis ► Asosiasi ► Search ► Poling Tokoh ► Selamat HUT ► Pernikahan ► In Memoriam ► Majalah TI ► Redaksi ► Buku Tamu

dp d
DEWAN PERWAKILAN DAERAH

Aksa Mahmud, HM

Pengusaha dan Politisi Negarawan
Dia pengusaha pejuang yang kemudian bertekad mengabdi sebagai politisi negarawan. Setelah bekerja keras membangun imperium bisnis Bosowa Group, HM Aksa Mahmud, bertekad mengabdikan diri sebagai negarawan, baik sebagai Anggota DPD maupun wakil Ketua MPR (2004-2009). Aryanthi Baramuli

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Periode 2004-2009 Ketua: ►Ginandjar Kartasasmita Wakil Ketua: ► Irman Gusman ► La Ode Ida Angota: 1. Nanggroe Aceh Darussalam • Drs. H.A. Malik Raden, MM • H. Helmi Mahera Al Mujahid • Adnan NS, S.Sos • Dra. Hj. Mediati Hafni Hanum 2. Sumatera Utara • Drs. H. Abd. Halim Harahap • Ir. Nurdin Tampubolon • Raja Inal Siregar • Drs. H. Yopie Sangkot Batubara 3. Sumatera Barat • H. Irman Gusman, SE, MBA • Drs. H. Zairin Kasim • Afdal, S.Si • Dr. Muchtar Naim 4. Riau • Drs. H. Soemardi Thaher • Dinawaty, S.Ag. • Intsiawati Ayus, SH • Dra. Hj. Maimanah Umar 5. Jambi • Nuzran Joher, S.Ag. • Dra. Hj. Nyimas Ena, MM • Muhammad Nasir • Drs. H. Hasan 6. Sumatera Selatan • Hj. Asmawati, SE, MM • Drs. H.M. Kafrawi Rahim • Drs. M. Jum Perkasa • Ir. Ruslan Wijaya SE, M.Sc 7. Bengkulu • Dipl. Ing. Bambang Soeroso • H. Mahyudin Shobri, SE • Muspani, SH • Dra. Eni Khaerani, M.Si 8. Lampung • H. Kasmir Tri Putra, S.Pd, MM • Hj. Hariyanti Safrin , SH

Politisi Perempuan Potensial
Apa hubungan antara politik, tinju, dan kelapa? Bagi Aryanthi Baramuli Putri, tiga hal itulah yang membentuk dan mewarnai hidupnya saat ini. Masih ada lagi, Aryanthi senang mengumpulkan benda-benda purbakala dari waruga, kuburan kuno masyarakat Minahasa, juga bermain sepak bola. Maskulin? "Saya tetap perempuan," tukasnya. Benyamin Bura

Pengabdian Tiada Akhir
Anggota DPD RI dari Provinsi Sulsel/Sulbar, kelahiran Tana Toraja, 18 September 1942, ini tak mengenal akhir dalam pengabdiannya kepada bangsa dan negara. Mantan Inspektur Pembinaan Sumber Daya, Irjen TNI AL, berpangkat Laksma TNI ini telah mengabdi dari kapal perang hingga di Senayan. Ginandjar Kartasasmita

Orba itu Hanya Masa Lalu
Anggota DPD dari Jawa Barat yang mantan Mentamben dan Menteri Negara PPN/Ketua Bappenas ini kendati diserang sebagai bagian dari Orde Baru, akhirnya berhasil memenangi pemilihan ketua Dewan Perwakilan Daerah dalam Rapat Paripurna DPD periode 20042001. Ia didampingi Irman Gusman dan La Ode Ida sebagai wakil ketua. Irman Gusman

Pengusaha Pejuang Daerah

Copyright © 2002-2009 Ensikonesia - Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Penerbit pt AsasirA. Design and Maintenance by Esero

BIOGRAFI TOKOH INDONESIA THE JOURNALISTIC BIOGRAPHY
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
Jumat, 14 Agustus 2009

Spesialis Sinetron Dakwah
Sutradara, produser, sekaligus aktor kawakan, Deddy Mizwar, belakangan aktif memproduksi film dan sinetron bernuansa dakwah. Aktor senior pemenang 4 piala Citra (untuk film) dan 2 piala Vidya (untuk sinetron) ini sudah berpengalaman membuat sejumlah sinetron bermuatan dakwah dari serial Pengembara, Mat Angin sampai Lorong Waktu. Sophan Sophian

SELEBRITI
► Selebriti ► Artis ► Musisi ► Model ► Disainer ► Announcer ► Lainnya ► Asosiasi ► Selebriti Dunia ► Majalah TI ► Nusantara ► Search ► Poling Tokoh ► Selamat HUT ► In Memoriam ► Redaksi ► Buku Tamu

Kiprah Politik Sang Aktor Film
Dia seorang aktor film yang piawai bermain kepura-puraan atau bersandiwara. Ia menghayati kepurapuraan sebagai seni. Kemudian ia terjun dalam dunia politik praktis, menjadi Ketua Fraksi PDIP MPR, lalu mengundurkan diri. Belakangan ia pun meloncat memainkan adegan (peran) baru masuk tim sukses (bintang iklan) Capres-Cawapres PAN. Lidya Kandou

Eksis Sejak Remaja
Kurang lebih dua puluh lima tahun, Lidya Kandou berkiprah di dunia perfilman Indonesia. Usianya belum genap 17 kala pertama bermain dalam Wanita Segala Zaman tahun 1979. Berkat film Boneka dari Indiana (1990) dan Ramadhan dan Ramona (1992, ia meraih predikat Aktris terbaik dan berhak atas Piala Citra di Festival Film Indonesia. Maya Rumantir

Tiada Kata Terlambat
Life begin at 40, tampaknya benarbenar menjadi kenyataan dalam kehidupan Olivia Maya Rumantir (40) yang dulu dikenal sebagai penyanyi. Ketua Yayasan Maya Bhakti Pertiwi ini akhirnya menikah di usia 40 dengan Ir Takala Gerald Manumpak Hutasoit (41) pada 2 April 2004. Baginya tiada kata terlambat memulai hidup baru dalam berkeluarga.

Copyright © 2002-2009 Ensikonesia - Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Penerbit pt AsasirA. Design and Maintenance by Esero

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

A B C D E F G H I

J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
Jumat, 14 Agustus 2009

SUT RA DAR A
SELEBRITI
► Selebriti ► Announcer ► Artis ► Disainer ► Musisi ► Model ► Sutradara ► Lainnya ► Asosiasi ► Selebriti Dunia ► Majalah TI ► Nusantara ► Search ► Poling Tokoh ► Selamat HUT ► Pernikahan ► In Memoriam ► Redaksi ► Buku Tamu INDONESIA ► Arifin Chairin Noer (1941-1995) ► Deddy Mizwar ► Djenar Maesa Ayu ► Turino Djunaedi (1927-2008) ► Wim Umboh (1933-1996) Arifin Chairin Noer (1941-1995)

Turino Djunaedi (1927-2008)

Tokoh Paripurna Perfilman Nasional
OBITUARI: Tokoh paripurna perfilman Indonesia, Turino Djunaedi, meninggal dunia Sabtu 8 Maret 2008 pukul 20.55 di RS Setia Mitra, Jakarta. Aktor film, sutradara, produser, penulis cerita dan skenario film, kelahiran Padang Tiji, NAD, 6 Juni 1927, itu sudah lama menderita sakit karena stroke. Djenar Maesa Ayu

Sutradara Film G-30-S/PKI
Arifin C. Noer, adalah sutradara teater dan film Indonesia terkemuka dan termahal pada masanya. Sutradara kelahiran Cirebon, 10 Maret 1941, ini beberapa kali memenangkan Piala Citra untuk penghargaan film terbaik dan penulis skenario terbaik. Meninggal di Jakarta, 28 Mei 1995. Wim Umboh (1933-1996)

Melawan Ketabuan dengan Pena
Dari segelintir perempuan penulis Indonesia saat ini, nama Djenar Maesa Ayu terasa sangat menonjol dari yang lainnya. Pada mulanya ia menulis cerita pendek (cerpen), lalu beringsut ke novel. Namanya semakin melangit ketika ia melebarkan sayap ke dunia televisi dan layar lebar. Deddy Mizwar

Sutradara Film-film Cinta
Sutradara film-film cinta Indonesia kelahiran Manado, 26 Maret 1933, ini meraih 27 Piala Citra, sebagian sebagai sutradara terbaik, khususnya film cinta. Dia merilis kl 59 film cinta. Saat menikah ketiga kalinya, dia masuk Islam dengan nama baru, Achmad Salim. Dia meninggal di Jakarta, 24 Januari 1996.

Spesialis Sinetron Dakwah
Sutradara, produser, sekaligus aktor kawakan, Deddy Mizwar, belakangan aktif memproduksi film dan sinetron bernuansa dakwah. Aktor senior pemenang 4 piala Citra (untuk film) dan 2 piala Vidya (untuk sinetron) ini sudah berpengalaman membuat sejumlah sinetron bermuatan dakwah dari serial Pengembara, Mat Angin sampai Lorong Waktu.

Copyright © 2002-2009 Ensikonesia - Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Penerbit pt AsasirA. Design and Maintenance by Esero

BIOGRAFI TOKOH INDONESIA BERITA TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
Jumat, 14 Agustus 2009

DEP AR TEME N
PEJABAT
► Pejabat ► Presiden ► MA ► Bepeka ► MK ► Kabinet ► Departemen ► Badan-Lembaga ► Mabes TNI ► Mabes Polri ► Pemda ► BUMN ► Purnabakti ► Asosiasi ► Majalah TI ► Nusantara ► Search ► Poling Tokoh ► Selamat HUT ► In Memoriam ► Redaksi ► Buku Tamu
KEMENTERIAN DAN SETINGKAT

Mardiyanto

Mendagri yang 'Bapak Rakyat'
Mardiyanto seorang pemimpin yang cerdas, bersahaja dan selalu menempatkan diri sebagai bapak selutuh rakyat. Karifannya sebagai pemimpin telah teruji selama menjabat Gubernur Jawa Tengah 1998-2007, melayakkannya menjabat Menteri Dalam Negeri 2007-2009. Widodo Adi Sucipto

DEPARTEMEN - KEMENTERIAN NEGARA DAN SETINGKAT MENTERI Kabinet Indonesia Bersatu Menteri Koordinator Menko Polkam Menko Perekonomian Menko Kesra Sekretaris Negara Departemen Departemen Dalam Negeri Departemen Luar Negeri Departemen Pertahanan Departemen Hukum & HAM Departemen Keuangan Departemen Energi & Sumber Daya Mineral Departemen Perindustrian Departemen Perdagangan Departemen Pertanian Departemen Kehutanan Departemen Kelautan dan Perikanan Departemen Perhubungan Departemen Pekerjaan Umum Departemen Kesehatan Departemen Pendidikan Nasional Departemen Agama Departemen Tenaga Kerja & Transmigrasi Departemen Sosial Departemen Komunikasi dan Informasi Menteri Negara Meneg Pemberdayaan Perempuan Meneg Pendayagunaan Aparatur Negara Meneg Koperasi & UKM Meneg Riset dan Teknologi Meneg Lingkungan Hidup Meneg Kebudayaan & Pariwisata Meneg PPDT Meneg PPN/Kepala Bapenas Meneg BUMN Meneg Pemuda dan Olahraga Instansi Setingkat Kementerian Sekretaris Kabinet Mabes TNI Mabes Polri Kejaksaan Agung Badan Intelijen Nasional Andi Mattalata, SH, MH

Prioritas Atasi Konflik & Teroris
Mantan Panglima TNI 1999-2002 ini menerima amanah sebagai Menko Polhukam Kabinet Indonesia Bersatu. Seusai serah terima jabatan dari Menko Polkam ad interim Hari Sabarno, Kamis (21/10/2004), dia mengemukakan, akan memprioritaskan upaya penyelesaian masalah konflik Aceh dan Papu serta upaya penanganan terorisme. Juwono Sudarsono

Dipercaya Lima Presiden
Dia orang hebat! Dia dipercaya lima Presiden RI. Mantan Wakil Gubernur Lemhanas, ini diangkat Presiden Yudhoyono menjabat Menhan (Menteri Pertahanan) KIB. Pada pemerintahan Presiden Megawati, menjabat Dubes RI untuk Inggris. Sebelumnya, Presiden Abdurrahman Wahid mengangkatnya Menhan Kabinet Persatuan Nasional. Aburizal Bakrie

Pengusaha Jadi Menko
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian ini seusai serah terima jabatan dengan Dorodjatun Kuntjoro-Jakti (21/10/2004) mengatakan, untuk menggerakkan sektor riil, pemerintah tidak lagi hanya mengandalkan dana yang berasal dari fiskal. Pemerintah juga harus bisa memanfaatkan dana perbankan, Jamsostek, atau lainnya yang dapat digunakan sebagai dana jangka panjang. Mohammad Ma’ruf

Politisi Golkar Jadi

Pamong Penjunjung

Copyright © 2002-2009 Ensikonesia - Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Penerbit pt AsasirA. Design and Maintenance by Esero

THE JOURNALISTIC BIOGRAPHY BIOGRAFI TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
Jumat, 14 Agustus 2009

LSM
AKTIVIS - LSM

Arsinah Sumetro

Srikandi Pembela Buruh Migran
Prihatin atas nasib buruh migran perempuan yang sering diperlakukan secara semenamena di negeri jiran Malaysia, Arsinah Sumetro mendirikan LSM Anak Bangsa. Srikandi yang sudah menjanda dan hanya lulusan SMA Persamaan, itu berjuang secara kesatria untuk membela hak-hak buruh migran. Aliansi Bhineka Tunggal Ika

POLITISI
► Politisi ► MPR-RI ► DPR-RI ► DPD ► DPRD ► Partai-Pemilu ► Ormas ► OKP ► LSM-Aktivis ► Asosiasi

LSM: ► Aliansi Bhineka Tunggal Ika ► Yayasan Solidaritas Nusa Bangsa (SNB) ► Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) AKTIVIS: ►Alexander Hermanus Manuputty ►Andri Irwanto ►Arsinah Sumetro ►Binny Buchori ►Budiman Sudjatmiko ►Chalid Muhammad ►Debra Yatim ►Handoko Wibowo ►Ja'far Umar Thalib ►Maria Ulfah Anshor ►Moeslim Abdurrahman ►Munir, SH (1965-2004) ►Ratna Sarumpaet ►Siti Musdah Mulia ►Teten Masduki ►Wiji Thukul ►Yenny Wahid :: Moeslim Abdurrahman

Pancasila Rumah Kita
Aliansi Bhineka Tunggal Ika bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Departemen Dalam Negeri menyelenggarakan Curhat Budaya & Karnaval Budaya bertema: Pancasila Rumah Kita, di Hotel Nikko, Jakarta, 1-2 Juni 2006 dan di Lapangan Monas – Semnanggi – Bundaran Hotel Indonesia, 3 Juni 2006. Aliansi Bhineka Tunggal Ika ini menolak penyeragaman budaya. Debra Yatim

BERANDA
► Majalah TI ► Nusantara ► Search ► Poling Tokoh ► Selamat HUT ► Pernikahan ► In Memoriam ► Redaksi ► Buku Tamu

Potret Keberagamaan Empiris
Master dan doktor antropologi University of Illinois, Urbana, Amerika Serikat, ini menemukan keberagamaan menurut pengalaman religiusnya sendiri. Ada perasaan kemanusiaan yang lebih humanis sifatnya, yang merupakan bagian dari artikulasi keberagamaan Direktur Ma’arif Institute for Culture, dan Direktur Lembaga Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial ini. Yenny Wahid

Bangun Negara dari Kesenian
Bukan tanpa maksud jika selama ini Debra Yatim, aktivis Koalisi Perempuan, Jurnal Perempuan dan Perempuan Peka, getol menghidupkan kembali berbagai aktivitas kesenian. Bagi dia, membangun sebuah negara yang berbudi tak lepas dari dunia kesenian. Chalid Muhammad

Menggalang Sahabat Walhi
Direktur Eksekutif Walhi Chalid Muhammad yang dilahirkan di kota kecil Parigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), 1966, ini tengah giat menggalang Sahabat Walhi. Sudah ada sekitar 2.000 anggota Sahabat Walhi dan di antaranya sekitar 700 anggota menjadi donatur tetap. Sebagai donatur cukup dengan Rp 10.000 per bulan dan maksimum Rp 50 juta. Handoko Wibowo

Regenerasi Politik Gus Dur
Dia selalu mendampingi Gus Dur. Kemudian dia dipercaya menjabat direktur The Wahid Institute, sebuah lembaga kajian Islam dan kebudayaan yang diprakarsai Gus Dur dkk. Bisa jadi, kehadiran mantan koresponden koran The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne), ini memberikan warna tersendiri bagi wajah politik Indonesia.

"Guru Demokrasi" Petani

Copyright © 2002-2009 Ensikonesia - Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Penerbit pt AsasirA. Design and Maintenance by Esero

ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA DATABASE TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
Jumat, 14 Agustus 2009

C © updated 0812200221012005

Agnes Monica Muljoto

Gapai Mimpi Go International
Agnes Monica makin berkibar. Artis remaja, penyanyi, presenter dan bintang iklan yang senang belajar politik ini makin menunjukkan kelasnya. Kendati masih belia, artis kelahiran Jakarta, 1 Juli 1986, ini telah meraih berbagai penghargaan. Bahkan kini Agnes segera menggapai mimpi go international, main film di Taiwan. Sesungguhnya, ia bukanlah pendatang baru dalam dunia hiburan Indonesia. Ia memulai karir sebagai penyanyi dan presenter cilik. Secara berturut-turut ia meraih penghargaan Bintang Sinetron Terfavorit - Panasonic Awards 2001 dan 2002. Hingga namanya pun populer di beberapa negara, yang membuatnta mendapat tawaran main film di Taiwan.

SELEBRITI
► Selebriti ► Artis ► Musisi ► Model ► Disainer ► Announcer ► Lainnya ► Asosiasi ► Selebriti Dunia ► Search ► Poling Tokoh ► Selamat HUT ► Pernikahan ► In Memoriam ► Majalah ► Redaksi ► Buku Tamu
►e-ti/rpr

Nama: Agnes Monica Muljoto Panggilan: Nyez, Amon Lahir: Jakarta, 1 Juli 1986 Ayah: Ricky Muljoto Ibu: Jeanny Siswono Postur: Tinggi 165cm, berat 49 kg Pendidikan: - SD Tarakanita, Pluit, Jakarta - SLTP Pelita Harapan - SMU Pelita Harapan Hobi: Ice Skate dan Badminton Warna favorit: Biru, kuning dan hitam Prestasi: Pembawa Acara Anak-anak Terbaik versi Panasinoc Award 1999 Bintang Senitrion TerfavoritPanasonic Awards 2001 Bintang Sinetron TerfavoritPanasonic Awards 2002 Bintang Sinetron Terfavorit SCTV Awards 2002 Karir Album: Si Meong Yess Bala-bala Tralala-trilili Sinetron: Mr Hologram Lupus Milenia Pernikahan Dini (2001) Kejarlah Daku Kau Ku tangkap (2002) Ciuman Pertama (2002) Pemeran Melati dalan FTV di SCTV Presenter: Viva Romeo (Trans TV) Tralala-Trilili di stasiun RCTI VAN (Video Anak Anteve) Iklan: Jas Jus, So Klin Pewangi, Biore

Saat peluncuran salah satu sinetron yang dibintanginya, Ku T'lah Jatuh Cinta, belum lama ini, di Jakarta, terungkap rencananya, dia akan membintangi film itu bersama salah seorang personel F4 (baca: ef-se). F4 adalah kelompok artis muda asal Taiwan dengan personel Jerry Yan, Vic Zhao, Ken Zhu, dan Vanness Wu. Syutingnya dimulai sekitar Maret hingga Mei 2005. Di sinetron Ku T'lah Jatuh Cinta, Agnes berperan sebagai Riby, gadis kelas 3 SMA, yang terjebak di antara dua pemuda yang sama-sama mencintai dan dicintainya. Saat peluncurannya, sinetron bertema cinta remaja ini baru menyelesaikan lima dari 26 episode yang direncanakan. Agnes akan menyelesaikan syuting sinetron yang disutradarai Agusti Tanjung itu sebelum keberangkatannya ke Taiwan. Selain itu, setelah ke Taiwan, dua minggu sekali dia pasti pulang ke Jakarta.

Senang Belajar Politik
Sebelumnya, ia sudah cukup dikenal sebagai penyanyi cilik populer dengan tembang Si Meong, Yess dan Bala-bala. Kemudian ia menjadi presenter program anak-anak VAN (Video Anak Anteve) serta Tralala-Trilili di stasiun RCTI. Tapi ia bukan seperti banyak penyanyi cilik, yang setelah remaja dan dewasa malah kurang populer. Monica malah semakin berkibar dan semakin matang dalam dunia hiburan dan seni. Ia tidak hanya seorang artis penyanyi, tetapi juga model, bintang sinetron, bintang iklan, presenter bahkan terlibat dalam baca puisi. Dalam acara baca puisi berjudul Opera Negeri Kaum Terdakwa di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jumat 5/7/02 lalu, ia turut ambil bagian. Katanya, untuk mencari pengalaman. “Sebagai generasi muda aku harus belajar banyak untuk membantu negara dan bangsa ini," kata Agnes Monica (15) ketika itu. Gadis remaja penggemar warna kuning, biru dan hitam ini terlibat dalam baca puisi bersama para tokoh politisi seperti Amien Rais dan Syaifullah Yusuf, aktivis pembela buruh Dita Indah Sari, ilmuwan Faisal Basri, Nurcholis Madjid, pengusaha Siswono Yudo Husodo dan para seniman

Copyright © 2002-2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero Dipersembahkan untuk Bangsa oleh CPPI Foundation.

THE EXCELLENT BIOGRAPHY THE JOURNALISTIC BIOGRAPHY

A B C D E F G H I

J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
Jumat, 14 Agustus 2009

DEP AR TEME N
PEJABAT
► Pejabat ► Presiden ► MA ► Bepeka ► MK ► Kabinet ► Departemen ► Badan-Lembaga ► Mabes TNI ► Mabes Polri ► Pemda ► BUMN ► Purnabakti ► Asosiasi ► Majalah TI ► Nusantara ► Search ► Poling Tokoh ► Selamat HUT ► In Memoriam ► Redaksi ► Buku Tamu
KEMENTERIAN DAN SETINGKAT

Mardiyanto

Mendagri yang 'Bapak Rakyat'
Mardiyanto seorang pemimpin yang cerdas, bersahaja dan selalu menempatkan diri sebagai bapak selutuh rakyat. Karifannya sebagai pemimpin telah teruji selama menjabat Gubernur Jawa Tengah 1998-2007, melayakkannya menjabat Menteri Dalam Negeri 2007-2009. Widodo Adi Sucipto

DEPARTEMEN - KEMENTERIAN NEGARA DAN SETINGKAT MENTERI Kabinet Indonesia Bersatu Menteri Koordinator Menko Polkam Menko Perekonomian Menko Kesra Sekretaris Negara Departemen Departemen Dalam Negeri Departemen Luar Negeri Departemen Pertahanan Departemen Hukum & HAM Departemen Keuangan Departemen Energi & Sumber Daya Mineral Departemen Perindustrian Departemen Perdagangan Departemen Pertanian Departemen Kehutanan Departemen Kelautan dan Perikanan Departemen Perhubungan Departemen Pekerjaan Umum Departemen Kesehatan Departemen Pendidikan Nasional Departemen Agama Departemen Tenaga Kerja & Transmigrasi Departemen Sosial Departemen Komunikasi dan Informasi Menteri Negara Meneg Pemberdayaan Perempuan Meneg Pendayagunaan Aparatur Negara Meneg Koperasi & UKM Meneg Riset dan Teknologi Meneg Lingkungan Hidup Meneg Kebudayaan & Pariwisata Meneg PPDT Meneg PPN/Kepala Bapenas Meneg BUMN Meneg Pemuda dan Olahraga Instansi Setingkat Kementerian Sekretaris Kabinet Mabes TNI Mabes Polri Kejaksaan Agung Badan Intelijen Nasional Andi Mattalata, SH, MH

Prioritas Atasi Konflik & Teroris
Mantan Panglima TNI 1999-2002 ini menerima amanah sebagai Menko Polhukam Kabinet Indonesia Bersatu. Seusai serah terima jabatan dari Menko Polkam ad interim Hari Sabarno, Kamis (21/10/2004), dia mengemukakan, akan memprioritaskan upaya penyelesaian masalah konflik Aceh dan Papu serta upaya penanganan terorisme. Juwono Sudarsono

Dipercaya Lima Presiden
Dia orang hebat! Dia dipercaya lima Presiden RI. Mantan Wakil Gubernur Lemhanas, ini diangkat Presiden Yudhoyono menjabat Menhan (Menteri Pertahanan) KIB. Pada pemerintahan Presiden Megawati, menjabat Dubes RI untuk Inggris. Sebelumnya, Presiden Abdurrahman Wahid mengangkatnya Menhan Kabinet Persatuan Nasional. Aburizal Bakrie

Pengusaha Jadi Menko
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian ini seusai serah terima jabatan dengan Dorodjatun Kuntjoro-Jakti (21/10/2004) mengatakan, untuk menggerakkan sektor riil, pemerintah tidak lagi hanya mengandalkan dana yang berasal dari fiskal. Pemerintah juga harus bisa memanfaatkan dana perbankan, Jamsostek, atau lainnya yang dapat digunakan sebagai dana jangka panjang. Mohammad Ma’ruf

Politisi Golkar Jadi

Pamong Penjunjung

Copyright © 2002-2009 Ensikonesia - Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Penerbit pt AsasirA. Design and Maintenance by Esero

Informasi curanmor jawa tengah

Home | Profile | Tupok | Yan Publik | Informasi Penting | Diskusi | Buku Tamu

Inforanmor
Judul Laporan
Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Perampasan Perampasan Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang

Plat Nomor
AA-2231-ZA AA-5180-S AA-6542-YA AA-2401-HK G-4465-AP G-4408-PP DK-2041BK G-4500-JP AB 4438 TY G 5742 K G 3515 RB H-3026-UD H-5768-CD AA 9429 OB R 3013 KD AA-2246-HA AA-2041-RB AB 3296 JH G 4292 AA AA-4049-BK G 2359 KB AA-5749-VD G-3350 RP AA 5213 CM AA-5213-CM H-3251-KE G-4559-P AA-2169-WB G-4464-TP H-4161-GD

Nomor Laporan
0175 0174 147 136 LP/29/II/2006/Res Tegal LP/16/II/2006/SEK ADW LP/05/I/2006/SEK DK.WARU LT/08/I/2006/SPK LT / 04 / I / 2-006 / B/ND/351a/XII/2005/SPK B/ND/351/XII/2005/SPK LT/170/XII/2005/SPK LT/168/XII/2005/SPK R/342 / XII/ 200/ Ops 138 LP/107/XI/ 2005/Resta Mgl LP/103/X/2005/Resta Mgl R /297 /X/2005/OPS B/ND/283/X/2005/SPK LP / 98 / X / 2005 / Resta Mgl B/ND/277/X/2005/SPK 131 130 R / 275 / X / 2005129 R/275/X/2005 87/K/VIII/SPK LP/25/IX/2005/Sek Suradadi LT/185/VIII/2005 LP/15/VIII/2005 LT / 179 / VIII / 2005

Tanggal
20-11-2007 20-11-2007 06-10-2007 20-09-2007 24-02-2006 14-02-2006 06-01-2006 10-01-2006 11-01-2006 29-12-2005 29-12-2005 10-12-2005 10-12-2005 08-12-2005 28-11-2005 24-11-2005 25-10-2005 24-10-2005 18-10-2005 14-10-2005 13-10-2005 10-10-2005 04-10-2005 20-10-2004 04-10-2005 28-08-2005 05-09-2005 27-08-2005 25-08-2005 15-08-2005

No.Mesin
5TP720743 F109ID875071 5TL-299744 KEV761175759 KEVJE1061192 HB11E1145350 GFE1010794 JB22E1413487 MFGE1596123 5LM131479 KEVJE1003433 5TP671443 SAE1005512 4D56C735157 KEV7E1039759 E4021D904027 HB11E1454295 JD12E102570 KEVAE1578863 1255512 STP-865103 NFGDE1003096 KEVAE1688586 E402ID129941 E402Id129941 WABE1021702 KEVPV1216283 JB12E1037556 5LM206710 NFE-1094312

No.Rangka
MH35TP0065K474145 MH8FDIIOX2J870077 MH35TL0036K MH1KEV7162K175411 MHIKEVJ19XK060448 MHIHBB11103146055 MHIGF000RRK0010787 MHIJB22185K414133 MH 1 MF600VVK394853 MH35LM0022K130967 MH1KEVJ10XK0033181 MH35TP0055K426526 MHISAOOORRK005554 DP 247931 MH1KEV7161KO39584 MH8FD110J908923 MH1HB1114Ka503560 MHIJD12144K026485 MH1KEVA133K579034 4191SL03123 MH3STP0065K649677 MH1NFGD15YK002899 MHIKECA114K689405 MH8FD110C3I130005 MH8ED110C3i430005 MHIWABOOTTK021620 MHIKEVP10WK217093 MH1JB12155K037934 MH352N00033K206738 MH1NF000SSK093737

1
Copyright 2006

2 3 4 5

Home | Profile | Tupok | Yan Publik | Informasi Penting | Diskusi | Buku Tamu

Inforanmor
Judul Laporan
Hilang Hilang Perampasan Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang Hilang

Plat Nomor
H-2871-SW G 2959 BB AA-2746-FB G 3032 JB G 4465 TA H 1713 HC AA-6274-HB AA-5046-GA AA-2458-VD H-6676-WY H-6191-JE H-3146-ZW AD 7232 Fb G 3939 VE AA 4371 YB G 3628 VE G 3473 TE G 8522 AE G 5289 BE G-5289-Be AA-4711-K AA-4306-K AA-3667-LA G 2120 AA G 6585 GA H-3317-M H-5243-WW AA-3642-DM H-6243-TD AA-9817-HD

Nomor Laporan
LP/65/IV/2005/SPK B/ND/182/VII/2005/SPK LT / 154 / VII / 2005 / Ops B/ND/175/VII/2005/SPK B/ND/170b/VI/2005/SPK 117 LT/144/VI/2005/OPS LT/142/VI/2005/OPS LK/52/VI/2005/RES KBM LP/82/VI/2005/SPK LP/81/VI/2005/SPK LP/80/VI/2005/SPK 110 lp/114/V/2005/SPK LT/ 134 / V / 2005 / Ops 17 LP/108/V/2005/SPK LP/105V/2005/SPK LP/104/V/2005/SPK 103 LT/125/V/2005/OPS LT/124/V/2005/OPS LT/121/V/2005 B/ND/124/V/2005/SPK B/ND/119b/V/2005/SPK LT/100/V/2005 LP/52/IV/2005/SPK LK/441/IV/2005/RES KEBUMEN LT / 84 / IV / 2005 LP/105/IV/2005/0PS RES KBM

Tanggal
01-07-2005 11-07-2005 05-07-2005 05-07-2005 27-06-2005 26-06-2005 16-06-2005 11-06-2005 05-06-2005 06-06-2005 04-06-2005 03-06-2005 02-06-2005 30-05-2005 01-06-2005 27-05-2005 22-05-2005 22-05-2005 21-05-2005 26-05-2005 19-05-2005 19-05-2005 16-05-2005 12-05-2005 05-05-2005 06-05-2005 26-04-2005 18-04-2005 15-04-2005 14-04-2005

No.Mesin
5TP 718492 JB21E1395610 AN112BEP38381 JB22E11198673 JB1E-1028691 4G17C799655 E4051D154356

No.Rangka
MH35IP0065K471155 MH1JB21194K40017 MH4AN112D4KP33807 MH1JB221X4K19 MH1JB11143K029340 T120SP028558 MH8FD110C5J138793

ME109-ID-327439 RMHDV10DVC-326734 KEVJI911435 A100897794 5TP517802 5TP572257 985838 NFGCE- 1080566 JB22E1213099 EYO11D249303 5K9262323 JB 22E1112048 JB22E1112048 KEV4E1188531 KEV3E1060272 JB21E10303D6 HB11E1064696 4ST771426 KEV8E1256463 NFGEE1267333 4ST536203 5TP19114 NFGFE1309275 MH1KEWT15XKO1139 A100178174 MH35TP0054K165209 MH35TP0054K247778 992450 MHINFGC12YK080347 MH1JB22154K213403 MH8FD110X3J2J2Y3203 MHF21KF4000182995 MH1JB22154K112300 MH1JB22154K112300 MHIKEV4181K186333 MHIKEV31X1K061027 MH19B211X2K0299763 MH1HB11183K066647 MH34STI064K439345 MH1KEV8132K256221 MHINFGE142K266797 MH34ST1053K204006 MH35TP0045K393054 MH1NFGF103K310245

12 3 4 5
Copyright 2006

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful