Anda di halaman 1dari 51

KELOMPOK B14

Ketua Sekretaris Anggota : : : : Muhammad Rizdimas R.P Nadya Afiefa Putri Rhezza Imam Morgandha Sandrya Depisicka S. Muhammad Adiguna Said Olivia Oktaviani Prastiwi Putri Adnyani Rhemenda Permata A. Rohumaniora Bumantari Talib Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi Jakarta 2012/2013 1102011181 1102011189 1102009242 1102009259 1102010174 1102011204 1102011211 1102011232 1102011244 1102011274

SKENARIO 1 Pilek Pagi Hari


Seorang

pemuda usia 20 tahun, selalu bersin-bersin di pagi hari, keluar ingus encer, gatal di hidung dan mata, terutama bila udara berdebu, diderita sejak usia 14 tahun. Tidak ada pada keluarganya yang menderita seperti ini, tetapi ayahnya mempunyai riwayat penyakit asma. Pemuda tersebut sangat rajin sholat tahajud, sehingga dia bertanya adakah hubungannya memasukan air wudhu ke dalam hidungnya di malam hari dengan penyakitnya? Kawannya menyarankan untuk memeriksakan ke dokter, menanyakan mengapa bisa terjadi demikian, dan apakah berbahaya apabila menderita seperti ini dalam waktu yang lSeorang pemuda usia 20 tahun, selalu bersin-bersin di pagi hari, keluar ingus encer, gatal di hidung dan mata, terutama bila udara berdebu, diderita sejak usia 14 tahun. Tidak ada pada keluarganya yang menderita seperti ini, tetapi ayahnya mempunyai riwayat penyakit asma. Pemuda tersebut sangat rajin sholat tahajud, sehingga dia bertanya adakah hubungannya memasukan air wudhu ke dalam hidungnya di malam hari dengan penyakitnya? Kawannya menyarankan untuk memeriksakan ke dokter, menanyakan mengapa bisa terjadi demikian, dan apakah berbahaya apabila menderita seperti ini dalam waktu yang ama.

SASBEL

LI 1 MM makroskopis dan mikroskopis saluran nafas


LI 2 MM fisiologi saluran nafas LI 3 MM rhinitis alergi


LO 1.1 MM makroskopis LO 1.2 MM mikrioskopis

LI 4 MM anatomi pernafasan menurut islam


LO 3.1 Definisi LO 3.2 Klasifikasi LO 3.3 Etiologi LO 3.4 Patofisiologi dan patogenesis LO 3.5 Manifestasi klinis LO 3.6 Diagnosis dan diagnosis banding LO 3.7 Penatalaksanaan LO 3.8 Komplikasi LO 3.9 Pencegahan LO 3.10 Prognosis

LO 4.1 Adab bersin dalam agama islam LO 4.2 Adab menguap dalam agama islam LO 4.3 Adab bersendawa dalam agama islam

LI 1.1 MM makroskopis dan mikroskopis saluran nafas atas

LO 1.1 makroskopis
nares anterior vestibulum nasi cavum

nasi nares posterior = choanae masuk


ke nasopharyng laryngopharynx (epiglotis membuka aditus laryngis/ pintu larynx) daerah larynx trachea bronchus primer bronchus sekunder bronchiolus segmentalis (tersier) brochiulus terminalis melalui

brochiulus respiratorius ductus


alveolaris alveoli

Anatomi Hidung
Nares anterior = apertura nasalis anterior Vestebulum nasi Cavum nasi (rongga) Ada 3 tonjolan di dalam hidung yaitu : 1. Konka Nasalis Superior. 2. Konka Nasalis Media. 3. Konka Nasalis Inferior terdapat pleksus pembuluh darah. Saluran dibawah konka 1. Meatus nasalis superior 2. Meatus nasalis media 3. Meatus nasalis posterior Septum nasi (sekat) yang berasal dari tulang dan tulang rawan 1. Cartilago septi nasi 2. Os Vomer 3. Lamina parpendicularis os ethmoidalis Nares posterior (choana)

Pada tulang neurocranium

dan splachnocranium terdapat rongga-rongga yang disebut dengan sinus. Sinus-sinus berhubungan dengan cavum nasi dikenal dengan Sinus-sinus Paranasalis, antara lain:

Sinus sphenodalis, mergeluarkan sekresinya melalu meatus superior Sinus frontalis, ke meatus media Sinus maxillaris ke meatus media Sinus ethmoidalis ke meatus superior dan media

Persarafan hidung

Persarafan sensorik dan sekremotorik hidung: bagian

depan dan atas cavum nasi mendapat persarafan sensorik dari cabang nervus opthalmicus, bagian lainnya termasuk mucusa hidung dipersarafi oleh gangglion sfenopalatinum. Daerah nasopharynx dan concha nasalis mendapat persarafan sensorik dari cabang gangglion pterygopalatinum Serabut-serabut nervus olfactoris (keluar dari cavum cranii melalui lamina cribosa ethmoidalis) bukan untuk mensarafi hidung tapi untuk fungsional penciuman

Vaskularisasi hidung
Plexus kisselbach

terbentuk dari: a. ethmoidalis anterior, a. ethmoidalis posterior, dan a. Sphenopalatinum sering menjadi sumber epistaxis Setiap cabang arteri yang mensuplai hidung ke area ini saling berhubungan membentuk anastomosis.

Anatomi Pharynx

Adalah bagian dari traktus digestivus dan traktus respiratorius yang

terletak dibelakang cavum nasi, cavum oris, dan di belakang larynx. Membentang dari basis cranii (tuberculum pharyngeum) sampai setinggi cartilgo cricoid di bagian depan dan setinggi VC 6 di bagian belakang. Mempunyai panjang sekitar 12,5 cm, diameter transversal dari lumen pharynx lebih besar daripada diameter antero-posterior lumen pharynx. Berdasarkan letaknya pharynx dibagi menjadi 3 bagian: Nasopharynx (pars nasalis pharyngis) Oropharynx (pars oralis pharyngis) Laryngopharynx (pars laryngea pharyngis)

Anatomi Larnyx
Epiglotis aditus laringis vestibulum laringis plica vestibularis (terdapat rima vestibul) ventriculus laringis plica vocalis (terdapat rima glotis)

Rangka dibentuk oleh: Tulang, yakni os.hyoid (1 buah)

Tulang rawan: Cartilago thyroid (1 buah) Cartilago arytenoid (2 buah) Epiglotis (1 buah) Cartilago criocoid

Dalam cavum larynges:


Plica vocalis (pita suara asli). Plica vocalis di bentuk

dari lipatan mucusa ligamentum vocale dan ligamentum ventricularis. Plica vestibularis (pita suara palsu).

Otot-otot larnyx
Otot external larynx yang membantu pergerakan larynx adalah: Otot-otot suprahyoid menarik larynx ke bawa (m.digastricus, m.geniohyoideus, dan m.mylohyoideus) Otot-otot infrahyoid menarik larynx ke atas (m.sternohyodeus, m.omohyoideus, m.thyrohyodeus) Otot internal larynx: M.crycoarytenoideus posterior dikenal debagai safety of muscle larynx, berfungsi untuk membuka kedua pita suara, kalau ada gangguan pada fungsi otot tsb dapat menyebabkan orang bisa tercekik dan bisa mati, karena rima glotis tertutup, misal trauma pada nervus vagus yang mensyarafi otot-otot larynx. M.crycoarytenoideus lateralis untuk menutup rima glotis. M.arytenoideus transversus dan arytenoideus obliq M.vocalis M.aryepiglotica

Persarafan daerah larynx

Berasal dari serabut-serabut nervus cranialis ke 10

(vn.vagus) dengan cabang-cabang ke larynx sebagai n.laryngis superior dan n.reccurent (n.laryngis inferior).

LO 1.2 Mikroskopis
Sistem pernapasan biasanya dibagi menjadi 2 daerah utama: Bagian konduksi, meliputi rongga hidung, nasofaring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus dan bronkiolus terminalis Bagian respirasi, meliputi bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris dan alveolus.

Sebagian besar bagian konduksi dilapisi epitel

respirasi, yaitu epitel bertingkat silindris bersilia dengan sel goblet.

Rongga hidung
Epitel di dalam vestibulum merupakan epitel respirasi

sebelum memasuki fosa nasalis Pada fosa nasalis (cavum nasi) terdapat konka (superior, media, inferior) Konka media dan inferior ditutupi oleh epitel respirasi, sedangkan konka superior ditutupi oleh epitel olfaktorius

Sinus paranasalis

Terdiri atas sinus frontalis, sinus maksilaris, sinus

ethmoidales dan sinus sphenoid

Sinus-sinus tersebut dilapisi oleh epitel respirasi yang lebih tipis dan mengandung sel goblet

Faring

Nasofaring dilapisi oleh epitel respirasi pada

bagian yang berkontak dengan palatum mole, sedangkan orofaring dilapisi epitel tipe skuamosa/gepeng.

Laring
Pada lamina propria laring terdapat tulang rawan hialin

dan elastin Bagian lingual dan apikal epiglotis ditutupi oleh epitel gepeng berlapis, sedangkan permukaan laringeal ditutupi oleh epitel respirasi bertingkat bersilindris bersilia. pita suara palsu (plika vestibularis) yang terdiri dari epitel respirasi dan kelenjar serosa, serta di lipatan bawah membentuk pita suara sejati yang terdiri dari epitel berlapis gepeng

LI 2 MM Fisiologi saluran pernapasan

Mekanisme respirasi normal/istirahat:

Proses inspirasi

rangsangan otomatis datang dari pusat pernafasan dorsal medula oblongata. Sinyal dibawa n. splenknikus ke diafragma diafragma berkontraksi perluasan volume thorak & paru + penurunan tekanan intra thorak udara atmosfer mengalir masuk ke paru Proses ekspirasi rangsang dari pusat pernafasan dorsal di medula oblongata dihentikan oleh pusat pneumotaksik di medula oblongata sinyal terhenti diafragma relaksasi rongga thorak menyempit tekanan naik udara keluar.

Perubahan dalam Pernapasan.


Terdapat berbagai jenis perubahan volume dalam proses respirasi, yakni: Volume Tidal (TV), adalah volume udara yang masuk atau keluar dari hidung sewaktu bernapas dalam keadaan istirahat, sebanyak 500 Cc. Volume Cadangan ekspirasi (Suplemen), yaitu volume udara ekspirasi yang masih dapat dikeluarkan setelah ekspirasi normal (tidal), kira-kira 1250 Cc. Volume cadangan inspirasi (komplemen), yaitu volume udara inspirasi yang masih dapat dihirup setelah inspirasi normal (tidal), adalah 3000 Cc. Kapasitas Vital (KV), yaitu sejumlah Volume Suplemen + Volume Tidal + Volume Komplemen; atau sama dengan Volume Udara Maksimal yang dapat dikeluarkan dalam sekali ekspirasi setelah inspirasi maksimal; volumenya 4750 Cc.

Volume Residual (VR), nilai rata-ratanya =1200

Cc). Walaupun dilakukan ekspirasi sangat maksimal, selalu terdapat sisa udara dalam paru yang tidak dapat dikeluarkan dengan ekspirasi biasa. Ini disebut Volume Residu. Ventilasi semenit, adalah seberapa banyak udara yang dihirup atau dihembuskan (tidak kedua-duanya) dalam waktu satu menit, selanjutnya yang digunakan sebagai ukuran adalah udara yang dikeluarkan (Volume Ekspirasi = VE). Jumlah ini dapat ditentukan dengan mengetahui: 1). Volume Tidal (VT), yaitu berapa banyak jumlah udara yang dihirup dan dikeluarkan setiap daur pernapasan; dan 2). Frekuensi bernapas, yaitu berapa kali bernapas dalam satu menit.

Pusat Pernafasan

Pusat pernapasan berada di sebelah bilateral medula oblongata dan pons. Daerah ini dibagi menjadi 3 kelompok neuron utama :

kelompok pernapasan dorsal, di bagian dorsal medula yang terutama menyebabkan inspirasi, kelompok pernapasan ventral, terletak di ventromedial medula, pusat pneumotaksik, di seblah dorsal bagian superior pons, yang membantu mengatur kecepatan dan pola bernapas.

L.I 3 MM rhinitis alergi

LO 3.1 Definisi dan epidemiologi


Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its

Impact on Asthma) tahun 2001, rinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE. Usia rata-rata onset rinitis alergi adalah 8-11 tahun, dan 80% rinitis alergi berkembang dengan usia 20 tahun. Biasanya rinitis alergi timbul pada usia muda (remaja dan dewasa muda).

LO 3.2 KLASIFIKASI
Saat ini digunakan klasifikasi rinitis alergi berdasarkan rekomendasi dari WHO Iniative ARIA yaitu berdasarkan sifat berlangsungnya dibagi menjadi: Intermiten (kadang-kadang): bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4 minggu. Persisten/menetap bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan atau lebih dari 4 minggu.

Sedangkan untuk tingkat berat ringannya penyakit, rinitis alergi dibagi menjadi: Ringan, bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktifitas harian, bersantai, berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu. Sedang atau berat bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut diatas

LO 3.3 ETIOLOGI
Genetik

Riwayat keluarga yang menderita rinitis alergi, dermatitis atopik, dan asma dapat memicu rinitis alergi pada anak.
Paparan alergen

Paparan alergen dapat memicu timbulnya rinitis alergi. Sementara bukti terbaru menunjukkan bahwa pemaparan anak terhadap bakteri-bakteri yang tidak berbahaya sejak tahun pertama mereka dapat mengurangi risiko terjadinya penyakit alergi Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas:

Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur. Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang. Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin atau sengatan lebah. Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan

Faktor lainnya

yaitu meningkatnya kadar IgE serum (>100 IU/ml) sebelum usia 6 tahun, eksim, dan paparan terhadap asap rokok.

LO 3.4 Patofisiologi
Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu : Immediate Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya. Munculnya segera dalam 5-30 menit Late Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiperreaktifitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung sampai 24-48 jam.

LO 3.5 Manifestasi klinis


Rinorea, bersin, kongesti hidung, keluarnya ingus

(postnasal drip), konjungtivitis alergik, ruam mata, telinga, atau hidung Bila tidak ditangani dapat menyebabkan lemas, lelah, dan memburuknya efisiensi kerja Rhinitis alegik merupakan faktor risiko asma ; 78% penderita asma memiliki gejala nasal, 38 % pasien rhinitis alergik menderita asma

LO 3.6 Diagnosis dan diagnosis banding


Anamnesis

Anamnesis sangat penting, karena seringkali serangan tidak terjadi di hadapan pemeriksa. Hampir 50% diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis saja.
Pemeriksaan rinoskopi anterior

Pada rinoskopi anterior tampak mukosa edema, basah, berwarna pucat atau livid disertai adanya sekret encer yang banyak.

Pemeriksaan naso endoskopi Pemeriksaan sitologi hidung

Walaupun tidak dapat memastikan diagnosis, tetap berguna sebagai pemeriksaan pelengkap. Ditemukannya eosinofil dalam jumlah banyak menunjukkan kemungkinan alergi inhalan. Jika basofil 5 sel/lap mungkin disebabkan alergi makanan, sedangkan jika ditemukan sel PMN menunjukkan adanya infeksi bakteri.

Hitung eosinofil dalam darah tepi

Dapat normal atau meningkat. Demikian pula pemeriksaan IgE total (prist-paper radio immunosorbent test) seringkali menunjukkan nilai normal, kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu macam penyakit. Pemeriksaan ini berguna untuk prediksi kemungkinan alergi pada bayi atau anak kecil dari suatu keluarga dengan derajat alergi yang tinggi. Lebih bermakna adalah pemeriksaan IgE spesifik dengan RAST (Radio Immuno Sorbent Test) atau ELISA (Enzym Linked Immuno Sorbent Assay)
Uji kulit

Untuk mencari alergen penyebab secara invivo. Jenisnya skin end-point tetration/SET (uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri), prick test (uji cukit), scratch test (uji gores), challenge test (diet eliminasi dan provokasi) khusus untuk alergi makanan (ingestan alergen) dan provocative neutralization test atau intracutaneus provocative food test (IPFT) untuk alergi makanan (ingestan alergen)

DIAGNOSA BANDING

Rinitis alergika harus dibedakan dengan :

Rinitis vasomotorik
Rinitis bakterial Rinitis virus

LO 3.7 Penatalaksanaan
Menurut ARIA penatalaksanaan rinitis alergi meliputi : Penghindaran alergen. Pengobatan medikamentosa

Jenis obat

Bersin

Rinorea

Buntu

Gatal hidung

Keluhan mata

Antihistamin H1 Oral Intranasal Intraokuler

++ ++ 0

++ ++ 0

+ + 0

+++ ++ 0

++ 0 +++

Kortikosteroid intranasal Kromolin Intranasal Intraokuler

+++

+++

+++

++

++

+ 0

+ 9

+ 0

+ 0

0 ++

Dekongestan Intranasal Oral

0 0

0 0

+++ +

0 0

0 0

Antikolinergik Antilekotrien

0 9

++ +

0 ++

0 0

0 ++

LO 3.8 Komplikasi
Polip hidung. Rinitis alergi dapat menyebabkan atau

menimbulkan kekambuhan polip hidung. Otitis media yang sering residif, terutama pada anak-anak. Sinusitis paranasal. Masalah ortodonti dan efek penyakit lain dari pernafasan mulut yang lama khususnya pada anakanak. Asma bronkial. Pasien alergi hidung memiliki resiko 4 kali lebih besar mendapat asma bronkial.

LO 3.9 pencegahan
Pada dasarnya penyakit alergi dapat dicegah dan dibagi menjadi 3 tahap, yaitu: Pencegahan primer untuk mencegah sensitisasi atau proses pengenalan dini terhadap alergen. Pencegahan sekunder untuk mencegah manifestasi klinis alergi pada anak berupa asma dan pilek alergi yang sudah tersensitisasi dengan gejala alergi tahap awal berupa alergi makanan dan kulit. Pencegahan tersier untuk mengurangi gejala klinis dan derajat beratnya penyakit alergi dengan penghindaran alergen dan pengobatan

LO 3.10 Prognosis
Kebanyakan pasien dapat hidup normal dengan gejala.

Hanya pasien yang menerima imunoterapi spesifik-

alergen sembuh dari penyakit, namun banyak pasien melakukannya dengan sangat baik dengan perawatan gejala intermiten. Gejala rhinitis alergi bisa kambuh 2-3 tahun setelah penghentian imunoterapi alergen. Sebagian kecil pasien mengalami perbaikan selama masa remaja, tapi di sebagian besar, gejala muncul kembali di awal dua puluhan atau lebih. Gejala mulai berkurang ketika pasien mencapai dasawarsa kelima kehidupan.

LI 4. Anatomi pernafasan menurut islam

LO 4.1 Adab bersin dalam agama islam


Adab bersin Rasulullah SAW:

Merendahkan suara dan menutup mulut serta wajah saat bersin

Tidak memalingkan leher ke kiri atau ke kanan

ketika bersin

Mengeraskan bacaan hamdalah meskipun sedang shalat wajib Wajib bagi yang mendengar bacaan hamdalah untuk mengucapkan tasymit yaitu Yarhamukallaah

Tasymit (mendoakan seserang yang bersin)

Jawaban setelah mendengar orang yang bertasymit

LO 4.2 Adab menguap dalam agama islam


Islam juga mengatur bagaimana menguap yg baik.

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasululloh SAW

bersabda: Menguap adalah dari setan, jika salah seorang dari kalian menguap, maka hendaknya ditahan semampu dia, sesungguhnya jika salah seorang dari kalian (ketika menguap) mengatakan (keluar bunyi): hah, maka setan tertawa. (HR. AlBukhari, Muslim, dan ini lafazh riwayat Al-Bukhari)

LO 4.3 Adab bersendawa dalam agama islam


usai bersendawa hendaklah mengucapkan hamdalah

(Alhamdulillah). Alasan yg saya dapatkan mengapa mesti mengucapkan hamdalah adalah bersendawa itu pada hakikatnya mengeluarkan hal (angin) yg buruk dan akan membuat tubuh kita menjadi lebih sehat. Dengan kian sehatnya tubuh kita, maka kita mesti mensyukuri nikmat sehat yg didapat.

Daftar Pustaka
Baratawidjaja, Kamen G, Iris Rengganis (2010). Imunologi Dasar. Edisi 9. Jakarta :

Balai Penerbit FKUI

Boeis [et.al] (2001). Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakart: EGC. Kumala, Poppy [et.al] (1998). Kamus Saku Kedokteran Dorland. Edisi 25. Jakarta :

EGC
EGC

Leeson CR, Leeson TS, Paparo AA (1996). Buku Ajar Histologi. Edisi 5. Jakarta :

Raden, Inmar (2011). Anatomi Kedokteran Sistem Kardiovaskular dan Sistem

Respiratorius. Jakarta : Balai Penerbit FKUY


: EGC

Sherwood, Lauralee (2001). Fisiologi Manusia : Dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta

www.konsultasisyariah.com