Anda di halaman 1dari 3

ADA UPAYA KRIMINALISASI TERHADAP PARA PENGHULU Oleh : H. E.

Nadzier Wiriadinata

Gratifikasi adalah sebuah istilah yang terkait dengan suatu tindakan yang dikategorikan sebagai bagian dari tindakan korupsi. Pertanyaannya sekarang adalah apakah pemberian uang dari masyarakat untuk biaya pencatatan nikah melebihi standar biaya yang sudah ditetapkan ( Rp 30.000 ) itu dipandang sebagai gratifikasi ? Pertanyaan tersebut memunculkan

perdebatan panjang di kalangan masyarakat. Penanganan Pemerintah yang begitu lambat dalam mengambil langkah solusi terbaik atas permasalahan tersebut membuat semua pihak kebingungan. Kondisi tersebut semakin diperparah lagi dengan kebiasaan aparat penegak hukum kita yang senantiasa hobby mencari kambing hitam atas setiap permasalahan yang muncul dan kemudian mengambil langkah-langkah solusi pragmatis tanpa menyentuh inti permasalahan yang sebenarnya. Tidak sedikit kasus berupa upaya kriminalisassi para

penghulu oleh beberapa oknum aparat penegak hukum telah dan sedang sedang terjadi di beberapa daerah. Salah seorang penghulu di Kediri, Jawa Timur, dijadikan pesakitan oleh Kejaksaan setempat. Sementara dibeberapa daerah di Jawa Barat, para penghulu dijadikan obyek pemerasan oleh oknum LSM dan oknum aparat penegak hukum. Sayangnya, pemerasan yang dilakukan oleh para oknum tersebut tidak pernah mencuat ke permukaan.

Jika ditelaah secara cermat maka apa yang dilakukan rekan-rekan penghulu di Jawa Timur seperti yang diberitakan TVONE hari kamis Malam (5/12) yang sepakat untuk tidak melayani pencatatan nikah di luar kantor dan diluar jam kerja sama sekali tidak bisa disalahkan dari perspektif regulasi yang selama ini dijadikan dasar oleh LSM, , media massa dan sebagian masyarakat untuk mendiskreditkan para penghulu sebagai pihak yang dituduh telah melakukan gratifikasi.

Harusnya masyarakat merespons posisitf atas apa yang dilakukan rekan-rekan Penghulu itu. Bukankah masyarakat menghendaki biaya pencatatan nikah hanya Rp 30.000,memang masyarakat Kalau

ingin membayar biaya pencatatan nikah sebesar itu, maka tempatnya

adalah memang di kantor dan didalam jam kerja. Bunyi peraturannya memang begitu. Sangat tidak manusiawi jika masyarakat menuntut pelaksanaan akad nikah diluar kantor dan diluar jam kerja dengan biaya Rp 30.000,-. Malah bukan hanya tidak manusiawi, melainkan juga sangat bertentangan dengan peraturan yang ada, yang seringkali peraturan tersebut mereka jadikan dasar menuding para penghulu sebagai pelaku gratifikasi.

Mengapa dikatakan sangat tidak manusiawi karena masyarakat, LSM maupun media massa ketika melihat permasalahan biaya pencatatan nikah tersebut mengabaikan dua aspek tuntutan faktual, yaitu: pertama, biaya transportasi. Haruskah para penghulu mengeluarkan biaya tranportasi dari saku mereka sendiri hanya untuk memenuhi kepuasan masyarakat sementara masyarakat sendiri tidak mau tahu dengan kondisi keuangan mereka yang boleh jadi sedang dalam kesulitan ekonomi. Kedua, hak asasi manusia. Mengingat hari Sabtu, hari Minggu, dan diluar jam kerja adalah waktu diluar dinas yang sepenuhnya milik para penghulu,

sebagaimana umumnya PNS, untuk beristirahat, berkumpul dan bercengkerama dengan anak isteri mereka, maka siapapun tidak berhak mengganggu apa yang menjadi hak asasi mereka.

Uang lebih yang dibayarkan masyarakat dalam biaya pencatatan nikah tersebut harusnya dilihat dari perspektif dua aspek di atas. Dengan kata lain, ketika masyarakat menghendaki pelaksanaan pencatatan nikah itu diluar kantor dan diluar jam kerja, maka masyarakat secara sadar hendaknya mempertimbangkan biaya transportasi dan biaya kompensasi atas waktu libur yang sepenuhnya milik pribadi si penghulu. Jadi sangat tidak masuk akal apabila uang lebih yang diberikan masyarakat dalam biaya pencatatan nikah tersebut dikategorikan sebagai gratifikasi. Kalaupun misalnya biaya yang harus dikeluarkan dipandang mahal tinggal dinegosiasikan. Sederhana saja.

Tidak bisa dipungkiri bahwa mayoritas masyarakat menghendaki peristiwa akad nikah itu diluar kantor dan diluar jam kerja sementara regulasi yang ada hanya mengatur peristiwa akad nikah itu didalam kantor dan didalam jam kerja saja. Tinggal kemudian bagaimana sekarang pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama, agar segera mencabut PP No 47 tahun 2004 dan PMA No 11 tahun 2007 yang selama ini berlaku untuk kemudian digantikan dengan PP dan PMA baru yang lebih komprehensif dan mengakomodir tuntutan masyarakat.

Sudah saatnya sekarang pemerintah melalui Kementerian Agama benar-benar mulai memperhatikan peran KUA dan pemberdayaannya kedepan. Apa yang berlangsung selama ini terkait urusan pernikahan tentunya tidak bisa dilihat dari sisi gratifikasi atau bukan. Fakta dilapangan menggambarkan bahwa peristiwa suatu pernikahan itu sangat terkait erat dengan tradisi masyarakat dan juga melibatkan aspek-aspek budaya lainnya. Hal ini yang luput dari perhatian pemerintah. Dengan kata lain, pemerintah belum mengakomodir apa yang menjadi tuntutan masyarakat melalui regulasi yang ditetapkannya selama ini. Selanjutnya, kepada aparat penegak hukum, khususnya kepolisian dan kejaksaan, sambil menunggu PP dan PMA

baru, dimohon benar-benar arif dalam menyikapi permasalahan ini agar di Jawa Barat tidak terjadi kasus seperti di Jawa Timur.