Anda di halaman 1dari 3

BAB 4.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL 4.2 PEMBAHASAN


Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca berdasarkan waktu yang panjang untuk suatu lokasi. Faktor iklim sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanam. Informasi kesesuaian iklim dapat digunakan untuk perencanaan alokasi penggunaan lahan, perluasan areal tanam dan rekomendasi pola tanam dan pengaturan jadwal tanam. Untuk itu pengetahuan tentang spesifikasi iklim sangat diperlukan. Spesifikasi tersebut dapat diketahui melalui klasifikasi iklim. Klasifikasi iklim dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain : klasifikasi iklim Wladimir Koppen, klasifikasi mohr, sistem klasifikasi Schmidth Ferguson, dan sistem klasifikasi Oldeman. Pada hakekatnya kegunaan klasifikasi iklim adalah untuk memperoleh efisiensi informasi dalam bentuk yang umum dan sederhana. Dalam bidang pertanian klasifikasi iklim dapat digunakan untuk pertimbangan dalam penentuan kecocokan jenis tanaman yang akan dibudidayakan di suatu tempat, menentukan jenis tanaman dan sistem usaha tani yang sesuai dengan produktivitas potensi suatu lahan, pemanfaatan air secara efektif yang berasal dari curah hujan dalam selang waktu yang tepat, membuat perencanaan, yakni perencanaan stratejik dan perencanaan operasional, serta pengendalian pelaksanaan kegiatan pertanian. Selain itu, klasifikasi iklim juga dapat digunakan untuk memperkirakan curah hujan tahunan, sifat hujan, tingkat ketersediaan air tanah, menentukan awal musim, hingga menentukan potensi banjir suatu wilayah. Klasifikasi iklim yang banyak digunakan di Indonesia adalah klasifikasi Schmidth Ferguson dan klasifikasi Oldeman. 1. Sistem klasifikasi Schmidth Ferguson

Sistem klasifikasi ini banyak digunakan dalam bidang kehutanan dan perkebuanan. Pengklasifikasian iklim menurut Schmidth-Fergusson ini didasarkan pada nisbah bulan basah dan bulan kering seperti kriteria bulan basah dan bulan kering klasifikasi iklim Mohr. Menurut AsSyakur (2008) pencarian rata-rata bulan kering atau bulan basah dalam klasifikasian iklim SchmidthFergusson dilakukan dengan membandingkan jumlah/frekwensi bulan kering atau bulan basah selama tahun pengamatan dengan banyaknya tahun pengamatan. Klasifikasi Iklim menurut Schmidth-Fergusson (1951) didasarkan kepada perbandingan antara Bulan Kering (BK) dan Bulan Basah (BB). Ketentuan penetapan bulan basah dan bulan kering mengikuti aturan sebagai berikut : Bulan Kering : bulan dengan curah hujan lebih kecil dari 60 mm Bulan Basah : bulan dengan curah hujan lebih besar dari 100 mm Bulan Lembab : bulan dengan curah hujan antara 60 100 mm. Bulan Lembab (BL) tidak dimasukkan dalam rumus penentuan tipe curah hujan yang dinyatakan dalam nilai Q, yang dihitung dengan persamaan berikut :
Rata-rata jumlah BK Q = ----------------------------- x 100 % Rata-rata jumlah BB

Rata-rata jumlah bulan basah adalah banyaknya bulan basah dari seluruh data pengamatan dibagi jumlah tahun data pengamatan, demikian pula rata-rata jumlah bulan kering adalah banyaknya bulan kering dari seluruh data pengamatan dibagi jumlah tahun data pengamatan. Berdasarkan besarnya nilai Q ini selanjutnya ditentukan tipe curah hujan suatu tempat atau daerah dengan menggunakan Tabel Q atau diagram segitiga kriteria klasifikasi tipe iklim menurut SchmidthFergusson. Tabel Kriteria Pembagian Tipe Iklim Schmidth-Fergusson. (Tabel Q) Tipe Iklim A ( Sangat Basah ) B ( Basah ) C ( Agak Basah ) D ( Sedang ) E ( Agak kering ) F ( Kering ) G ( Sangat kering ) H ( Luar Biasa Kering ) Tabel Zona Agroklimat Schmidth-Fergusson. Tipe Iklim Schmidth-Fergusson A B C Zona Agroklimat Hutan hujan tropis Hutan hujan tropis Hutan dengan jenis tanaman yang mampu menggugurkan daunnya dimusim kemarau Hutan musim Hutan savana Hutan savana Padang ilalang Padang ilalang Kriteria 0 Q < 0,143 0,143 Q < 0,333 0,333 Q < 0,600 0,600 Q < 1,000 1,000 Q < 1,670 1,670 Q < 3,000 3,000 Q < 7,000 7,000 Q

D E F G H

2. Sistem

Oldeman Klasifikasi iklim yang dilakukan oleh Oldeman didasarkan kepada jumlah kebutuhan air oleh tanaman, terutama pada tanaman padi. Penyusunan tipe iklimnya berdasarkan jumlah bulan basah yang berlangsung secara berturut-turut. Oldeman et al. (1980) mengungkapkan bahwa kebutuhan air untuk tanaman padi adalah 150 mm per bulan, sedangkan untuk tanaman palawija adalah 70 mm/bulan. Dengan asumsi bahwa peluang terjadinya hujan yang sama adalah 75%, maka untuk mencukupi kebutuhan air tanaman padi 150 mm/bulan diperlukan curah hujan sebesar 220 mm/bulan, untuk mencukupi kebutuhan air untuk tanaman palawija diperlukan curah hujan sebesar 120 mm/bulan. Maka menurut Oldeman suatu bulan dikatakan bulan basah apabila mempunyai curah hujan bulanan lebih besar dari 200 mm dan dikatakan bulan kering apabila curah hujan bulanan lebih kecil dari 100 mm.

Lamanya periode pertumbuhan padi terutama ditentukan oleh jenis/varietas yang digunakan, sehingga periode 5 bulan basah berurutan dalam satu tahun dipandang optimal untuk satu kali tanam. Jika lebih dari 9 bulan basah maka petani dapat melakukan 2 kali masa tanam. Jika kurang dari 3 bulan basah berurutan, maka tidak dapat membudidayakan padi tanpa irigasi tambahan (Bayong, 2004). Oldeman et al.(1980) membagi lima zona iklim dan lima sub zona iklim. Zona iklim merupakan pembagian dari banyaknya jumlah bulan basah berturut-turut yang terjadi dalam setahun, sedangkan sub zona iklim merupakan banyaknya jumlah bulan kering berturut-turut dalam setahun.

Tabel Zona Agroklimat Oldeman

Tipe Iklim A1-A2

B1 B2-B3

C1 C2-C4

D1 D2-D4 E

Penjabaran Sesuai untuk padi terus menerus tetapi produksi kurang karena fluks radiasi matahari sepanjang tahun rendah. Sesuai untuk padi terus menerus dengan perencanaan awal musim yang baik. Dapat tanam padi dua kali setahun dengan varietas umur pendek dan musim kering yang pendek cukup untuk palawija. Dapat tanam padi sekali dan palawija dua kali setahun. Setahuan hanya dapat tanam padi satu kali dan penanaman palawija jangan tanam dimusim kering. Tanam padi umur pendek satu kali dan palawija cukup. Hanya mugkin tanam padi sekali dan palawija sekali. Perlu adanya irigasi. Satu kali menanam tanam palawija

Dampak dari perubahan iklim bagi sektor pertanian adalah berubahnya karakteristik musim yaitu musim hujan dan musim kering, pergeseran awal musim tanam 2 4 minggu sejak lima tahun terakhir bahkan di daerah pantura mundur selama 1 - 2 bulan, peningkatan hama penyakit tanaman serta penurunan produksi hasil pertanian yang dapat mengancam ketahanan pangan nasional (Litbang pertanian, 2009). Untuk mendapatkan hasil yang optimal, ketersediaan dan kevalidan data sangat dibutuhkan untuk menghindari data outlier. Dengan begitu kita dapat mengklasifikasi iklim secara akurat sehingga kita lebih mudah untuk menentukan bulan basah, bulan kering, awal musim hujan dan awal musim kemarau.