Anda di halaman 1dari 13

Adhitya Pratama 1102011005 (A-12) No.

Urut 37

Kabupaten Gunung Mas adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia. Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Kapuas provinsi Kalimantan Tengah berdasarkan UU Nomor 5 tahun 2002.

PENGERTIAN DAN ARTI LAMBANG DAERAH A. UMUM


1. 2. 3.

4.

5. 6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

Perisai (talawang) adalah alat penangkis/pertahanan untuk melindungi terhadap ancaman serta tekanan baik dari dalam maupun luar. Mandau dan tombak (lunju) alat berperang yang merupakan ciri khas masyarakat Dayak Kalimantan Tengah. Rumah Betang adalah rumah adat yang dimiliki oleh masyarakat Dayak Kalimantan Tengah, yang disini melambangkan suatu kebersamaan serta kedamaian bagi semua masyarakat, rumah ini biasa dihuni beberapa rumpun keluarga. Kalata Balanga (guci) berupakan benda bernilai tinggi yang terbuat dari bahan bantuan yang melambangkan besarnya potensi sumber kekayaan alam yang dimiliki masyarakat Dayak Kabupaten Gunung Mas. Kembang padi dan kapas merupakan sandang dan pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kabupaten Gunung Mas. Rantai menghubungkan kembang padi dan kembang kapas melambangkan sandang dan pangan untuk pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat Gunung Mas yang berkesinambungan. Bintang segi lima melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa, yang merupakan pengalaman budi luhur seluruh masyarakat Gunung Mas yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Motif Bajakah (sejenis akar kayu yang menjalar) dalam talawang bentuk ukirukiran/ornamen ciri khas Dayak Ngaju yang merupakan bagian adat istiadat kebudayaan yang memiliki nilai sejarah. Motif Burung Tingang merupakan spesies burung langka yang hidup di rimba Kalimantan dan sebagai simbol bagi rumah adat yang memiliki nilai estetika yang tinggi. Burung Dara (sepasang merpati putih) merupakan simbol perwujudan rasa kedamaian dan keselarasan hidup dari seluruh masyarakat untuk selalu mejaga keharmonisan didalam kemajemukan bagi masyarakat yang hidup di wilayah Kabupaten Gunung Mas. Warna dasar kuning di dalam logo, paruh burung tingang, dan jendela rumah betang melambangkan defosit emas yang terkandung di bumi Gunung Mas cukup besar dan melambangkan keluhuran budi pekerti serta adanya nuansa yang selalu gembira disertai dengan jiwa dan semangat yang tinggi untuk membangun Kabupaten Gunung Mas. Warna hijau muda pada bingkai logo dan kelompok bunga kapas melambangkan kekayaan dan kemakmuran hasil sumber daya alam, pertanian, hutan dan perkebunan yang dimiliki oleh Kabupaten Gunung Mas. Warna kuning emas pada pati dan bintang lima melambangkan berlimpahnya rejeki sebagai berkat dan karunia dan pemberian Tuhan.

Warna putih sepasang burung merpati, motif perisai, rantai, mandau, tombak, pita motto, buah kapas ekor motif burung tinggang dan bingkai perisai melambangkan kesucian dan budi luhur sehingga peduli akan kehidupan alam dan lingkungannya. 15. Warna coklat tua pada atap dan tiang rumah betang melambangkan nilai-nilai solidaritas masyarakat Kabupaten Gunung Mas dalam membentuk kreativitas bangsa. 16. Warna coklat guci, dan dinding rumah betang melambangkan sikap cinta tanah air dan bangsa serta ikut mendukung pembangunan Kabupaten Gunung Mas disegala bidang khususnya dan membangun Indonesia pada umumnya. 17. Warna hitam tulisan Gunung Mas dan Habangkalan Penyang Karuhei Tatau melambangkan kehidupan masyarakat Kabupaten Gunung Mas, suci bersih kokoh, dan teguh dalam pendirian yang sifatnya kekal
14.

KHUSUS Tulisan motto HABANGKALAN PENYANG KARUHEI TATAU berasal dari bahasa Sangiang yang mempunyai arti : Habangkalan : Kumpulan, himpunan, cita-cita yang menyatu menjadi satu kebulatan tekad. Penyang : Kekuatan jiwa, semangat, spiritual yang dilandasi oleh iman. Karuhei : Daya usaha-upaya untuk mencapai suatu tujuan. Tatau : Kesejahteraan, kebahagian, kejayaan. ARTI KESELURUHAN LAMBANG Habangkalan Penyang Karuhei Tatau yang mempunyai arti kumpulan, himpunan cita-cita yang menyatu atas dasar tekad dengan semangat yang tinggi dengan didasari agama dan keimanan dalam upaya bersama untuk membangun. Yang bertujuan mensejahterakan, membahagiakan dan kejayaan seluruh masyarakat diwilayah Kabupaten Gunung Mas. Secara lengkap "Habangkalan Penyang Karuhei Tatau" berarti: Kumpulan, himpunan cita-cita yang menyatu atas dasar tekad dengan semangat yang tinggi dengan didasari agama dan keimanan dalam upaya bersama untuk membangun yang bertujuan mensejahterakan, membahagiakan dan kejayaan seluruh masyarakat di wilayah Kabupaten Gunung Mas. Batas wilayah Menurut Staatsblad van Nederlandisch Indi tahun 1849, wilayah Dayak Besar termasuk daerah ini merupakan bagian dari dalam zuid-ooster-afdeeling berdasarkan Bsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8[2] Batas wilayah kabupaten Gunung Mas adalah: Utara Kabupaten Murung Raya Selatan Kabupaten Pulang Pisau dan Kota Palangka Raya Barat Kabupaten Katingan dan Provinsi Kalimantan Barat Timur Kabupaten Kapuas

Geografi Kabupaten ini secara astronomi terletak pada 0 18 00 Lintang Selatan s/d 01 40 30 Lintang Selatan dan 113 01 00 Bujur Timur s/d 114 01 00 Bujur Timur. Berpenduduk sebanyak 74.823 jiwa (sensus 2000). Luas wilayah kabupaten Gunung Mas adalah 10.804 km dan merupakan kabupaten terluas keenam dari 14 kabupaten yang ada di Kalimantan Tengah (7,04% dari luas Provinsi Kalimantan Tengah). Luas wilayah tersebut terdiri atas :

Kawasan hutan belantara Kawasan pemukiman Sungai, danau dan rawa Daerah pertanian (sawah, ladang dan kebun)

Wilayah Gunung Mas termasuk dataran tinggi yang memiliki potensi untuk dijadikan daerah perkebunan. Daerah utara merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian antara 100-500 meter dari permukaan air laut dan mempunyai tingkat kemiringan 8-15 serta mempunyai daerah pegunungan dengan tingkat kemiringan 15-25. Pada daerah tersebut terdapat pegunungan Muller dan pegunungan Schwanner dengan puncak tertinggi (Bukit Raya) mencapai 2.278 meter dari permukaan laut. Bagian selatan terdiri dari dataran rendah dan rawa-rawa yang sering mengalami banjir pada musim hujan. Kabupaten Gunung Mas juga memiliki wilayah perairan yang meliputi danau, rawa-rawa dan terdapat 4 jalur sungai yang melintasi wilayah ini, yaitu:

Sungai Manuhing dengan panjang 28,75 km Sungai Rungan dengan panjang 86,25 km Sungai Kahayan dengan panjang 600 km Sungai Miri

Jumlah penduduk Kabupaten Gunung Mas sekitar 96.838 jiwa dengan klasifikasi 51.385 laki-laki dan 45.453 perempuan serta jumlah Rumah Tangga sebanyak 22.933 KK (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010). Pembagian administratif Kabupaten Gunung Mas terdiri atas 12 kecamatan, antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kahayan Hulu Utara Damang Batu Miri Manasa Kurun Manuhing Manuhing Raya Rungan Rungan Barat

9. Rungan Hulu 10. Sepang 11. Mihing Raya 12. Tewah

Bupati Gunung Mas : Hambit Bintih Wakil Bupati Gunung Mas : Arton S. Dohong

Visi
TERBUKANYA ISOLASI DAERAH MENUJU PERCEPATAN PENINGKATAN KESEJAHTERAAN, KEMANDIRIAN DAN DAYA SAING KABUPATEN GUNUNG MAS YANG BERMARTABAT

Misi
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Membuka isolasi daerah Meningkatkan kualitas sumber daya manusia Meningkatkan daya saing dan daya serap perekonomian daerah Mewujudkan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa Menegakkan supremasi hukum dan HAM yang berkeadilan Meningkatkan kehidupan politik dan sosial budaya Menerapkan pembangunan yang berwawasan lingkungan

Air Terjun Bawin Kameloh Air Terjun Bawin Kameloh merupakan cagar alam yang juga tempat rekreasi masyarakat berupa hutan-hutan alami dengan berbagai jenis tumbuhtumbuhan/pepohonan alami dan tanaman industri. Daya tarik yang menonjol dari air terjun Bawin Kameloh adalah terdapatnya hutan alami, ditumbuhi beraneka ragam pepohonan hutan beserta semak belukarnya serta terdapatnya tanaman produksi sehingga menambah indahnya panorama dan kesejukan alam sekitarnya. Lokasi ini juga sering digunakan untuk perkemahan. Sarana penunjang pada obyek wiasata ini sudah cukup memadai walaupun kurang terpelihara dengan baik. Fasilitas tersebut berupa jalan permanen menuju kelokasi dari pintu gerbang, papan nama berserta peta lokasi, wc umum dan tempat istirahat (pendopo, rumah). Lokasi wisata ini secara administratif berada terletak di km. 7 arah jalan trans Kurun-Hurun Tampang ke arah Kapuas Hulu. Arboretum Bawi Kameloh ini mempunyai luas areal 500 hektar, dan kelerenganmencapai 5-20%. Pengelolaan Arboretum / ait terjun Batu Mahasur ini berada pada Dinas Kehutanan Kabupaten Gunung Mas bekerjasama dengan Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Tengah.

Sungai Kahayan

Batu Suli merupakan Obyek wisata alam yang berlokasi di tepian Sungai Kahayan antara desa Upon Batu dan desa Tumbang Manange , kecamatan Tewah. Obyek wiasata ini menawarkan pemandangan yang indah dan mempesona, berbentuk batu besar yang berdiri menjulang tinggi di sungai Kahayan. Dari segi budaya lokal Batu Suli dikenal sebagai legenda yang cukup merakyat, dipuncak Batu Suli ada onggokan batu yang disebut Batu Antang (Batu Tingkes/teka-teki) mempunyai arti lorong yang sempit . Batu Suli dalam sejarah lisan Suku Dayak Ngaju adalah bekas pemukiman Temanggung Mambu salah satu tokoh di daerah Kahayan Hulu dan hidup di jaman Sasana Bandar. Selain filosopi yang ada pada objek wisata Batu Suli juga terkenal dengan keindahan dan panaroma disekitar lokasi yang masih asri dan menarik sebagai tempat wisata. Dengan latar belakang sungai kahayan menambah nilai keasrian panoroma alam Batu Suli. Disekitar objek wisata masih sangat alami, dengan tumbuhan dan pepohonan hutan yang tumbuh disekitarnya. Lokasi wisata Batu Suli ini dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat dari Kota Kuala Kurun sejauh 37,7 km, luas areal yang ada kurang lebih 50 hektar. Jalan masuk ke lokasi masih berupa jalan tanah. Fasilitas yang tersedia hanya berupa pondok-pondok kecil sebagai tempat persinggahan sementara bagi pengunjung dengan daya tampung sangat minim.

BUDAYA TIWAH Nilai Budaya Tiwah Upacara Tiwah atau Tiwah Lale atau Magah Salumpuk liau Uluh Matei ialah upacara sakral terbesar untuk mengantarkan jiwa atau roh manusia yang telah meninggal dunia menuju tempat yang dituju yaitu Lewu Tatau Dia Rumpang Tulang, Rundung Raja Dia Kamalesu Uhate, Lewu Tatau Habaras Bulau, Habusung Hintan, Hakarangan Lamiang atau Lewu Liau yang letaknya di langit ke tujuh. Perantara dalam upacara ini ialah : Rawing Tempun Telun, Raja Dohong Bulau atau Mantir Mama Luhing Bungai Raja Malawung Bulau, yang bertempat tinggal di langit ketiga. Dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya Rawing Tempun Telun dibantu oleh Telun dan Hamparung, dengan melalui bermacam-macam rintangan. Kendaraan yang digunakan oleh Rawing Tempun Telun mengantarkan liau ke Lewu Liau ialah Banama Balai Rabia, Bulau Pulau Tanduh Nyahu Sali Rabia, Manuk Ambun. Perjalanan jauh menuju Lewu Liau meliewati empat puluh lapisan embun , melalui sungai-sungai, gunung-gunung, tasik, laut, telaga, jembatan-jembatan yang mungkin saja apabila pelaksanaan tidak sempurna, Salumpuk liau yang diantar menuju alam baka tersesat. Pelaksana di pantai danum kalunen dilakukan oleh Basir dan Balian. Untuk lebih memahami uraian selanjutnya, beberapa istilah perlu diketahui : Pengertian yang Perlu Dipahami 1. Jiwa atau Roh. a. Jiwa/roh manusia yang masih hidup di dunia disebut Hambaruan atau Semenget. b. Jiwa/roh orang yang telah meninggal dunia disebut Salumpuk Liau. Selumpuk Liau harus dikembalikan kepada Hatalla. Prinsip keyakinan Kaharingan menyatakan bahwa tanpa diantar ke lewu liau dengan sarana upacara Tiwah, tak akan mungkin arwah mencapai lewu liau. Bila dana belum mencukupi, ada kematian, pelaksanaan upacara Tiwah boleh ditunda menunggu terkumpulnya dana dan bertambahnya jumlah keluarga yang akan bergabung untuk bersama melaksanakan upacara sakral tersebut. Upacara besar yang berlangsung antara tujuh sampai empat puluh hari tentu saja membutuhkan dana yang tidak sedikit, namun karena adanya sifat gotong royong yang telah mendarah daging, maka segala kesulitan dapat diatasi. Tumbuh suburnya prinsip saling mendukung dalam kebersamaan menumbuhkan sifat kepedulian yang sangat mendalam sehingga kewajiban melaksanakan upacara Tiwah bagi keluargakeluarga yang ditinggalkan didukung dan dilaksanakan bersama oleh mereka yang merasa senasib dan sepenanggungan. c. Salumpuk Bereng yaitu raga manusia yang telah terpisah dari jiwa karena

terjadinya proses kematian. Setelah mengalami kematian, salumpuk bereng diletakkan dalam peti mati, sambil menunggu pelaksanaan upacara Tiwah, salumpuk bereng dikuburkan terlebih dahulu. d. Pengertian dosa

Tiga hukuman dosa yang harus ditanggung oleh Salumpuk liau akibat perbuatan semasa hidupnya : 1). Merampas, mengambil isteri orang, mencuri dan merampok. Hukuman yang harus dijalani oleh Salumpuk liau untuk perbuatan ini ialah menanggung siksaan di Tasik Layang Jalajan. Untuk selamanya mereka akan menjadi penghuni tempat tersebut. Di tempat itu pula Salumpuk liau harus mengangkat barang-barang yang telah dicuri atau dirampok ketika hidup di dunia. Barang-barang curian tersebut akan selalu dijunjung sampai pemilik barang yang barangnya dicuri meninggal dunia. 2). Ketidakadilan dalam memutuskan perkara bagi mereka yang berwewenang memutuskannya, yaitu para kepala kampung, kepala suku dan kepala adat. Mereka juga akan dihukum di Tasik Layang Jalajan untuk selamanya dalam rupa setengah kijang dan setengah manusia. 3). Tindakan tidak adil atau menerima suap atau uang Sorok bagi mereka yang bertugas mengadili perkara di Pantai Danum Kalunen (dunia). Mereka akan dimasukkan ke dalam goa-goa kecil yang terkunci untuk selamanya. 2. Jenis dan Nama Peti Mati : a. Runi yaitu jenis peti mati yang terbuat dari batang kayu bulat, bagian tengahnya dibuat berongga/diberi lubang dan ukuran lubang tengah disesuaikan dengan ukuran salumpuk bereng yang akan diletakkan di situ. b. Raung yaitu peti mati terbuat dari kayu bulat, seperti peti mati pada umumnya, ada tutup peti pada bagian atas. c. Kakurung, yaitu jenis peti mati pada umumnya terbuat dari papan persegi empat panjang, dengan tutup dibagian atas. d. Kakiring, peti mati berbentuk dulang tempat makanan babi, kakinya berbentuk tiang panjang ukuran satu depa. e. Sandung, berbentuk rumah kecil berukuran tinggi, dengan empat tiang.

f. Sandung Raung, berbentuk rumah kecil berukuran tinggi, dengan enam tiang. g. Sandung Tulang, berbentuk rumah kecil berukuran tinggi, dengan satu tiang. h. Sandung Rahung, umumnya digunakan oleh mereka yang mati terbunuh. Sandung Rahung juga disebut Balai Telun karena Rawing Tempun Telun akan memberikan balasan kepada si pembunuh. i. Tambak, di kubur di dalam tanah bentuknya persegi empat. j. Pambak, juga dikubur dalam tanah, namun bentuknya sedikit berbeda dengan Tambak. k. Jiwab, bentuknya menyerupai sandung namun tanpa tiang. l. Sandung Dulang, tempat menyimpan abu jenazah. m. Sandung Naung, tempat menyimpan tulang belulang. n. Ambatan, patung-patung yang terbuat dari kayu dan diletakan disekitar sandung. o. Sapundu, patung terbuat dari kayu berukuran besar dan diletakan di depan rumah. p. Sandaran Sangkalan Tabalien yaitu patung besar jalan ke langit. q. Pantar Tabalien yaitu Pantar kayu jalan ke lewu liau. r. Sandung Balanga, yaitu belanga tempat menyimpan abu jenazah.

Upacara Tiwah adalah upacara sakral terbesar yang beresiko tinggi, maka pelaksanaan dan persiapan segala sesuatunya harus dilakukan dengan benar-benar cermat, karena kalau terjadi kekeliruan atau pelaksanaan tidak sempurna, para ahli waris yang ditinggalkan akan menanggung beban berat, diantaranya : 1). Pali akan pambelum itah harian . 2). Tau pamparesen itah limbah gawie toh . 3). Indu kakicas, pambelum itah harian andau . Banyak persyaratan yang harus dipenuhi, diantaranya harus tersedia hewan korban seperti kerbau, sapi, babi, ayam, bahkan di masa yang telah lalu persyaratan yang tersedia masih dilengkapi lagi dengan kepala manusia. Makna persembahan kepala manusia ialah ungkapan rasa hormat dan bakti para ahli waris kepada salumpuk liau yang siap diantar ke Lewu Liau. Mereka yakin bahwa kelak di kemudian hari apabila salumpuk liau telah mencapai tempat yang dituju yaitu Lewu Liau, maka sejumlah kepala yang dipersembahkan, sejumlah itu pula pelayan yang dimilikinya kelak. Mereka yang terpilih dan kepala mereka yang telah dipersembahkan dalam

upacara sakral tersebut, secara otomatis Salumpuk liau-nya akan masuk Lewu Liau tanpa harus di-tiwah-kan walau keberadaan mereka di Lewu Liau hanya sebagai pelayan. Namun di masa kini hal tersebut telah tidak berlaku lagi. Kepala manusia digantikan oleh kepala kerbau atau kepala sapi.

Pelaksana upacara sakral 1. Balian Balian adalah seorang perempuan yang bertugas sebagai mediator dan komunikator antara manusia dengan makhluk lain yang keberadaannya tidak terlihat oleh kasat mata jasmani manusia. Balian menyampaikan permohonan-permohonan manusia kepada Ranying Hatalla dengan perantaraan roh baik yang telah menerima tugas khusus dari Ranying Hatalla untuk mengayomi manusia. Tidak setiap orang sekalipun berusaha keras, mampu melakukan tugas dan kewajiban sebagai Balian. Biasanya hanya orang-orang terpilih saja. Adapun tanda-tanda yang mungkin dapat dijadikan pedoman kemungkinannya seorang anak kelak dikemudian hari bila telah dewasa menjadi seorang Balian, antara lain apabila seorang anak perempuan lahir bungkus yaitu pada saat dilahirkan plasenta anak tidak pecah karena proses kelahiran, namun lahir utuh terbungkus plasentanya, juga sikap dan tingkah laku anak sejak kecil berbeda dengan anak-anak pada umumnya, ia pun banyak mengalami peristiwa-peristiwa tidak masuk akal bagi lingkungannya.

2. Basir. Basir seperti halnya Balian adalah mediator dan komunikator manusia dengan

makhluk lain yang keberadaannya tidak terlihat oleh mata jasmani. Di masa silam, Basir selalu seorang laki-laki yang bersifat dan bertingkah laku seperti perempuan, namun untuk masa sekarang hal tersebut sudah tidak berlaku lagi. Dalam dunia spiritual Basir memiliki kemampuan lebih, dalam hal pengobatan, khususnya penyembuhan penyakit yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat mistik. 3. Telun atau Pisur Telun atau Pisur adalah pangkat atau jabatan dalam agama Kaharingan. Telun bertugas hanya akan hal-hal yang berkaitan dengan upacara-upacara adat keagamaan. Telun tidak termasuk dalam jabatan atau anggota Kerapatan Adat. Dengan demikian Telun tidak punya suara dalam Putusan Kerapatan Adat. 4. Mahanteran Mahanteran atau Manjangen adalah mediator dan komunikator manusia dengan Rawing Tempun Telun. Biasanya seorang Mahanteran atau Manjangen, selalu duduk di atas gong, sambil memegang duhung dan batanggui sampule dare . Proses Pelaksanaan Upacara Tiwah Diawali dengan musyawarah para Bakas Lewu , yang hasilnya diumumkan bahwa dalam waktu dekat akan diadakan Upacara Tiwah , sehingga siapapun yang berniat meniwahkan keluarganya mengetahui dan dapat turut serta. Setelah diumumkan, siapapun yang ingin bergabung terlebih dahulu harus menyatakan niatnya dengan menyebutkan jumlah salumpuk liau yang akan diikutsertakan dalam upacara Tiwah. Setelah pendataan jumlah salumpuk liau yang akan bergabung untuk diantarkan ke Lewu Liau, barulah ditentukan dengan pemilihan siapa dari para Bakas Lewu yang pantas menjadi Bakas Tiwah .

Setelah pemilihan Bakas Tiwah, barulah pembicaraan lebih detail dilaksanakan. Detail pembicaraan antara lain menyangkut jumlah kesanggupan yang akan diberikan oleh pihak-pihak keluarga yang telah menyatakan diri akan bergabung. Kesanggupan itu menyangkut masalah konsumsi, hewan-hewan yang akan dipersembahkan sebagai korban juga bersama memutuskan siapa pelaksana Upacara Tiwah itu nantinya, apakah Mahanteran atau Balian. Disamping ditawarkan kebutuhan-kebutuhan upacara Tiwah sesuai dengan kemampuan masing-masing keluarga salumpuk liau, masih ada beberapa persyaratan yang wajib harus disediakan oleh pihak keluarga. Salah satunya, minimal wajib menyediakan seekor ayam untuk setiap Salumpuk liau. Upacara diadakan di rumah Bakas Tiwah, dengan waktu pelaksanaan ditentukan musyawarah. Pada hari yang ditentukan, semua keluarga berkumpul di rumah Bakas Tiwah.

Situs Tambun Bungai

Situs ini terletak di Tumbang Pajangei, Kecamatan Tewah. Kabupaten Gunung Mas. Lokasi tersebut hanya berjarak 9,2 km dari Kota Kuala Kurun sehingga dapat ditempuh oleh segala jenis kendaraan dengan kondisi jalan yang sudah beraspal. Kelerangan obyek wisata ini berkisar 5-20%. Situs ini menyimpan berbagai bentuk peninggalan sejarah, antara lain berupa : patung Tambun Bungai, Kumpulan Penyang Pusaka, Pasah Patahu Tambun Bungai, situs Batu Bulan, Sandung Tamanggung Sempung. Dilihat dari berbagai koleksi peninggalan sejarah yang dimiliki, situs ini bisa dikembangkan sebagai sarana wisata sejarah disamping juga untuk kegiatan pedagogik (muatan lokal).

Rumah Betang Toyoi/Betang Tumbang Malahoi

Rumah Betang Toyoi merupakan objek wisata budaya yang terletak di desa Malahoi, kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas. Betang ini merupakan rumah peninggalan Almarhum Panjat Bin Toyoi yang dibangun pada tahun 1894-1901 dan menempati areal 1 hektar . Keaslian rumah betang masih terjaga walaupun pernah dilakukan renovasi beberapa kali. Penghuninya terdiri dari beberapa keturunan langsung dari Toyoi. Sarana dan Prasarana penunjang masih sangat kurang. Waalupun sudah dilengkapi dengan penerangan deas, namun air bersih, kamar mandi, tempat sampah, warung makan dan toko penjualan souvernir, belum tersedia. Untuk mencapai Betang Toyoi ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat melalui jalan darat, dengan jarak tempuh 73,1 km dari Kota Kuala Kurun. Dikelola oleh keluarga keturunan yang menghuni betang tersebut, karena betang ini telah masuk dalam kategori cagar wisata budaya maka pemerintah juga ikut membantu dalam pemeliharaan. Seluruh bangunan masih asli dan masih tersimpan sebuah guci dengan cerita mitos yang unik yang dikenal dengan nama Halamaung Putri Anding Sawung.