Anda di halaman 1dari 11

PAPER KELOMPOK MATAKULIAH PSIKOLOGI BELAJAR

DISUSUN OLEH: Mochammad Said (PS/05462) Nur Afifah (PS/05689) Septyo Eko Saputro (PS/05749)

PROGRAM S1 PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2010

PSIKOLOGI BELAJAR

Definisi Belajar dan Psikologi Belajar Belajar hingga saat ini masih didefinisikan oleh kebanyakan orang tak jauh dari proses belajar mengajar disekolah. Pendapat itu tidak sepenuhnya benar, karena belajar tidak sesederhana itu. Para ahli mengartikan belajar antara lain sebagai berikut: 1. Morgan dalam Introdution to Psycology (1978) berpendapat belajar adalah perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai hasil dari latihan. 2. Hergenhahn & Olson (1997): Belajar adalah suatu perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau dalam potensialitas perilaku yang diakibatkan oleh pengalaman dan tidak dapat diatribusikan pada kondisi tubuh sementara seperti kondisi-kondisi tubuh yang disebabkan oleh penyakit, kelelahan. atau obat-obat . 3. Anderson (1995): Belajar adalah suatu proses yang mana perubahan-perubahan yang bersifat relatif permanen terjadi dalam potensi perilaku sebagai suatu akibat pengalaman. 4. Domjan & Bukhard (1986): Belajar adalah suatu perubahan yang tahan lama dalam mekanisme-mekanisme perilaku yang diakibatkan oleh pengalaman dengan peristiwaperistiwa lingkungan. Belajar dalam arti yang sesungguhnya cukup memenuhi empat syarat untuk dapat dikatakan belajar yakni: 1. belajar adalah sebuah proses perubahan 2. adanya perubahan perilaku dan potensi perilaku 3. bersifat permanen 4. akibat dari pengalaman Sedangkan psikologi adalah ilmu yang mempelajari, menerangkan,

memprediksikan, dan selanjutnya mengntrol perilaku dan potensi perilaku. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa psikologi belajar adalah ilmu psikologi yang

mengkhususkan pada proses perubahan perilaku atau potensi perilaku seseorang atau kelompok akibat dari masuknya pengalaman secara sadar atau tidak sadar, secara langsung atau tidak langsung, dan bersifat relatif permanen. Dalam psikologi belajar ada empat paradigma belajar, yakni Asosiasi,

Fungsionalis, Kognitif, dan Neurofisiologis. Berikut ini adalah tokok-tokoh psikologi yang mewakili empat paradigma di atas dalam memberikan pandangannya terhadap belajar.

Paradigma Asosiasi ( Ivan Pavlov) Konsep dasar Organisme belajar melalui asosiasi 2 stimulus di mana satu stimulus mendatangkan sebuah respon yang semula didatangkan hanya dengan stimulus yang lain. Ia menemukan bahwa ia dapat menggunakan stimulus netral, seperti sebuah nada atau sinar untuk membentuk perilaku (respons). Dalam teori Pavlov dikenal istilah: 1. Unconditioned Stimulus(UCS) adalah stimulus asli yang mendatangkan respon bawaan atau wajar tanpa perlu dipelajari sebelumnya oleh organisme. 2. Unconditioned Respons (UCR) adalah respon asli atau bawaan yang datang dari stimulus bawaan atau wajar tanpa dipelajari sebelumnya oleh organisme atau bisa dikatakan sebagai tindakan yang merupakan naluri alamiah organisme sebagai bentuk respon terhadap sesuatu. 3. Conditioned Stimulus (CS) adalah stimulus yang dipasangkan dengan UCS, yang mendatangkan respon yang terkondisi yang sama dengan UCR asli. 4. Conditioned Respons (CR) adalah bentuk respon yang datang dari stimulus yang terkondisi yang sama persis dengan respon aslinya. 5. Extinction atau penghapusan jika organisme secara terus-menerus diberikan stimulus yang dikondisikan dan kemudian mengeluarkan respon yang dikondisikan tanpa diberikan stimulus asli. Maka kemampuan stimulus yang dikondisikan(CS) untuk

menimbulkan respon yang dikondisikan(CR) akan hilang. 6. Generalisasi stimulus adalah stimulus pengondisian kedua (CS2) yang sejenis dengan stimulus pengondisian pertama (CS1) dapat memberikan respon (CR) yang sama. 7. Diskriminasi yakni tidak semua stimulus pengondisian (CS1,CS2, CS3,dll) akan memberikan respon yang sama. 8. Higher order conditioning, yaitu pengondisian yang lebih tinggi dibandingkan pengondisian biasa dengan menggunakan netral stimuli (NS)yang didampingi oleh conditioned stimuli (CS) tanpa menggunakan unconditioned stimuli (UCS). 9. Counter Conditioning yaitu prosedur classical conditioning yang dilakukan untuk melemahkan suatu CR dengan mengasosiasikannya dengan stimulus yang
Comment [SD2]: Kalau dibuat dalam kalimat kalian sendiri bagaimana ya bunyinya...agar kalian dapat betul2 mengerti.. Saya kok kurang paham dengan kalimat no.8 ini..karena kayak terjemahan/rangkuman kalimat orang lain Comment [SD1]: Coba dibaca ulang: ada pengaruh waktu pengkondisian dengan terjadinya no.6 dan no.7 ini...tambah penjelasan ya

menimbulkan rasa takut (fear-provoking stimulus) dengan suatu respons baru yang bertentangan dengan rasa takut tersebut.

Tipe belajar Dalam teori pavlov yag dikenal adalah classical conditioning dimana terjadi proses pemberian stimulus oleh lingkungan sekitar terhadap objek. Dalam classical cond itioning dikenal adanya masa akuisisi (acquisition) yakni periode selama respon yang dikondisikan itu dipelajari oleh organisme. Mekanisme belajar

Berikut adalah tahap-tahap eksperimen dan penjelasan dari gambar diatas: 1. Di mana anjing bila diberikan sebuah makanan (UCS) maka secara otonom anjing akan mengeluarkan air liur (UCR). 2. Jika anjing dibunyikan sebuah bel maka ia tidak merespon atau mengeluarkan air liur. 3. Sehingga dalam eksperimen ini anjing diberikan sebuah makanan (UCS) setelah diberikan bunyi bel (CS) terlebih dahulu, sehingga anjing akan mengeluarkan air liur (UCR) akibat pemberian makanan. 4. Setelah perlakukan ini dilakukan secara berulang-ulang, maka ketika anjing mendengar bunyi bel (CS) tanpa diberikan makanan, secara otonom anjing akan memberikan respon berupa keluarnya air liur dari mulutnya (CR). Dalam klasikal kondisioning ada lima macam pola kondisioning yakni: 1. Delayed Conditioning yakni dalam kondisioning pola ini, CS muncul terlebih dulu, dan menghilang pada saat, atau selama kemunculan UCS.

2.

Trace Conditioning yakni CS muncul terlebih dahulu dan menghilang sebelum kemunculan UCS.

3.

Simultaneous Conditioning (Kondisioning Simultan) yakni CS dan UCS dihadirkan secara bersamaan.

4.

Backward Conditioning (Kondisioning Terbalik) adalah UCS justru muncul dan berhenti sebelum CS. UCS dihadirkan sebelum CS

5.

Temporal Conditioning (Kondisioning Temporer) ,dalam kondisioning ini, posisi CS dan UCS tidak bisa dijelaskan secara eksplisit. UCS dimunculkan dalam jarak waktu yang telah ditentukan.

Aplikasi dalam kehidupan nyata Proses pembelajaran dapat terjadi secara tidak disadari baik oleh subjek ataupun objek pembelajaran seperti yang akan diilustrasikan berikut ini. Dalam sebuah SD saat guru mengucapkan Baik anak-anak, sekian pelajaran dari bapak hari ini (UCS) lalu akan diikuti oleh murid-muridnya yang membereskan buku sambil bersorak (UCR), namun ketika suatu hari SD tersebut mulai memasang bel dan bel itu berbunyi saat jam pulang sekolah (CS) dan dibarengi oleh ucapan gurunya (UCS) maka respon yang terjadi adalah hal yang biasa (UCR). Namun beberapa hari yang berikutnya bel itu berbunyi (CS) padahal belum waktunya pulang, namun anak-anak tetap bersorak (CR). Disadari atau tidak proses di atas adalah proses pembelajaran pengondisian.

Paradigma Fungsionalis (Clark L. Hull) Konsep dasar Teori belajar yang dikembangkan oleh Hull sama dengan para ahli fungsionalis lainnya, yaitu menggunakan tipe belajar hubungan Stimulus-Respon (S-R). Menurut

pandangan ini, belajar tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi karena adanya hubungan S-R. Namun menurut Hull, selain hubungan antara S-R, perilaku juga dipengaruhi oleh suatu proses yang terjadi dalam diri organisme, yang tidak dapat diamati. Variabel ini kemudian dikenal dengan nama variabel intervening (intervening variable). Tipe belajar Tipe belajar Hull dapat kita skemakan sebagai berikut : Stimulus Variabel Intervening Respon

Dalam buku Principle of Behavior (1943), Hull mengajukan 16 (enam belas) buah postulat. Keenambelas postulat tersebut adalah sebagai berikut: 1. Indera memproses lingkungan dan jejak stimulus, dengan skema S s r R,

di mana S adalah stimulus eksternal, s adalah jejak stimulus, r adalah reaksi motorik dan R adalah respon/refleks. 2. 3. 4. Interaksi impuls-impuls sensori Perilaku yang tidak dipelajari. Contiguity dan drive reduction sebagai syarat munculnya belajar. Yang dimaksud dengan contiguity adalah bahwa hubungan antara stimulus dan respon akan semakin kuat bila respon dapat memenuhi kebutuhan biologis. Semakin tinggi intensitas

hubungan stimulus dan respon, maka semakin kuat hubungan S-R tersebut. 5. Stimulus Generalization. Suatu stimulus yang berbeda dengan stimulus pertama penghasil respon original dapat menghasilkan respon yang sama tergantung pada kemiripan kedua stimulus tersebut. 6. Stimulus dihubungkan dengan Drives. Respon yang muncul dari suatu stimulus dipengaruhi oleh adanya drive yang merupakan manifestasi defisiensi biologis. 7. Reaksi potensial merupakan fungsi dari Drive dan Habit Strength. Semakin suatu stimulus dibiasakan (habit) untuk diikuti dengan respon, maka hubungan S-R akan semakin kuat. 8. Respon akan menyebabkan Kelelahan, yang akan menghambat munculnya respon bersyarat. Respon membutuhkan kerja, dan kerja selalu memunculkan kelelahan, sehingga menghambat respon yang akan dibentuk (reactive inhibition). 9. Respon yang dipelajari dari yang tidak direspon. Karena terlalu sering mengalami reactive inhibition, maka organisme akan merasa senang untuk tidak melakukan respon, dan hasil dari proses belajar ini disebut conditioned inhibition. 10. Faktor yang cenderung menghambat respon yang dipelajari berubah dari waktu ke waktu. 11. Momentary Effective Reaction Potential (MERP) harus menghasilkan satu nilai tertentu sebelum respon yang dipelajari dapat muncul. MERP adalah hasil dari hubungan habit strength dan drive dikurangi semua hambatan potensial. 12. Kemungkinan dari suatu respon yang dipelajari dapat dibuat merupakan fungsi dari MERP, Oscillation effect dan reaction threshold.

13. Semakin tinggi nilai MERP, maka akan semakin pendek Latency antara stimulus dan respon 14. Nilai MERP akan menentukan resistensi terjadinya extinction 15. Lebar atau luasnya respon yang dipelajari bervariasi secara langsung berdasarkan MERP 16. Jika ada dua respon yang tidak bersesuaian muncul pada waktu yang sama, maka respon yang memiliki nilai MERP yang besar yang mungkin muncul. Namun pada tahun 1952 sejumlah postulat direvisi dalam buku keduanya yang berjudul A Behavior System. Mekanisme belajar Teori belajar Hull dapat kita skemakan sebagai berikut: Variabel Independen K I R HS PRE D IS IM TPR TR IR MERP PR TPI OP R Variabel Intervening Variabel dependen

KS Keterangan : K : Kerja R : Reinforcement IS : Intensitas Stimulus I : Inhibitor HS: Habit Strength D : Dorongan IM : Incentive Motivation KS : Kekuatan Stimulus TPI : Total Potensi Inhibitor TPR: Total Potensi Reaksi PRE: Potensi Reaksi Efektif OP : Osilasi Perilaku PR : Potensi Reaksi MERP: Momentary Effective Reaction Potential R : Respon RL : Response Latency IR : Intensitas Respon

Aplikasi dalam kehidupan nyata

Sebagai contoh adalah ketika seorang anak belajar membaca, di mana kemampuannya dalam membaca akan meningkat tergantung pada faktor-faktor seperti rajin belajar (IS), pujian dari orang tua (Reinforcement), dan sebagainya yang berpotensi untuk memunculkan peningkatan kemampuan membacanya.

Paradigma Kognitif (Teori Gestalt) Konsep dasar Teori Gestalt merupakan teori yang dikembangkan oleh Kohler, Koffka, dan Wertheimer. Dasar dari teori ini adalah proses persepsi. Teori ini menekankan pada proses kognitif yang lebih tinggi daripada aliran behaviorisme. Para psikolog Gestalt berpendapat bahwa kita tidak mengalami dan memahami dunia ini secara sederhana, di mana sejumlah informasi yang masuk ke dalam pikiran kita dikombinasikan menjadi ideide yang kompleks. Menurut teori ini, kita memahami dunia ini dalam pola-pola yang memiliki makna (meaningful) atau sebagai suatu keseluruhan yang teratur (organised whole). Tipe belajar Teori Gestalt berargumen bahwa pengetahuan berasal dari penggabungan (grouping) di antara elemen-elemen yang didasarkan pada prinsip proximity,

similarity/differentiation, closure dan simplicity. a. Proximity: kita cenderung menggabungkan elemen-elemen berdasarkan kedekatan di antara mereka dan pola-pola yang terbentuk darinya. b. Similarity: kita cenderung menggabungkan secara bersamaan item-item yang mirip dengan respek tertentu. Ketika menggambarkan kemiripan, seseorang pada saat yang sama akan menggambarkan perbedaan di antara item-item tersebut. c. Closure: kita cenderung menggabungkan secara bersamaan item-item jika mereka tampaknya mampu melengkapi atau menggambarkan sebuah entitas tertentu. d. Simplicity: pola-pola yang lebih kuat atau lebih pas/cocok cenderung mendominasi pola-pola yang lebih lemah dalam persepsi. Kita mengorganisasikan item-item ke dalam figur-figur/bentuk-bentuk sederhana berdasarkan simetri, keteraturan, dan kehalusan (smoothness) jika mereka dominan. Keempat prinsip ini disebut hukum organisasi (laws of organisation) dan digunakan dalam konteks penjelasan tentang persepsi dan pemecahan masalah (problem-solving).

Konsep penting dalam psikologi Gestalt adalah tentang proses munculnya insight. Ia merupakan suatu proses belajar yang terjadi secara tiba-tiba, di mana seseorang tibatiba merasa bahwa dirinya menjadi tahu atau paham. Ketika insight ini muncul, orang tersebut akan mampu melihat suatu problem atau situasi secara keseluruhan dengan cara baru yang didasarkan pada pemahaman logis terhadap keseluruhan problem atau situasi tersebut. Ada 4 ciri atau karakteristik dalam belajar secara insightful (Hergenhahn, 1997, dalam Hastjarjo, 2001), yaitu: 1. perubahan dari presolusi menjadi solusi terjadi secara tiba-tiba dan lengkap 2. biasanya performance yang didasarkan pada solusi yang dicapai (melalui insight) berlangsung dengan lancar dan tanpa kesalahan 3. solusi yang diperoleh mampu tersimpan dan diingat dalam jangka waktu tertentu 4. prinsip solusi (yang diperoleh dari proses insight) dapat diterapkan dengan mudah bagi pemecahan permasalahan yang lain Mekanisme belajar Ada 4 karakteristik yang menjadi hukum belajar dalam psikologi Gestalt, yaitu: a. Law of Zeirganik, disebut juga efek zeirganik, yaitu prinsip di mana individu cenderung lebih mengingat suatu hal yang belum lengkap/selesai secara lebih mendetail dan lebih lama daripada yang sudah lengkap/selesai. b. Law of Pragnanz, yaitu bahwa individu cenderung untuk mencari, menemukan, dan mencapai completeness (kelengkapan), simplicity (kesederhanaan) dan

meaningfulness (keberartian), sehingga tercapai kualitas yang baik (simple, penuh arti dan selaras). c. Cognitive Disequilibrium, yaitu prinsip di mana individu ketika menghadapi suatu permasalahan, ia mengalami ketidakseimbangan kognitif, sehingga ia akan berusaha untuk mencari dan mencapai keseimbangan kognitif. d. Transposisi, yaitu penerapan suatu solusi permasalahan untuk permasalahan yang lain dengan suatu proses membandingkan dua stimulus. Secara skematik, konsep psikologi Gestalt dapat digambarkan sebagai berikut:

Stimulus eksternal

S1 S2 S3 S4

Otak mentransformasikan data sensoris berdasar pada Law of Pragnanz 8

Pengalaman mental ditentukan oleh interaksi antara stimulus eksternal dengan bagian otak yang diaktifkan

S5 S6 S7

Sumber: Hastjarjo, 2001

Aplikasi dalam kehidupan nyata Contoh aplikasi dari teori Gestalt adalah seorang siswa atau mahasiswa yang mendapatkan tugas untuk merangkum suatu bab pelajaran akan membaca seluruh bagian bab tersebut terlebih dahulu sebelum membuat rangkumannya.

Paradigma Neuropsikologis (Donald O. Hebb) Konsep dasar Donald O. Hebb menggunakan prinsip neuropsikologis. Awalnya Hebb memulai teori belajarnya dengan sel sinapsis. Yang dimaksud dengan sel sinapsis ialah jarak antar sel. Intinya Hebb menekankan kepada hubungan antar sel neurin atau saraf dalam otak. Saat sel saling berhubungan, maka bagian saraf akan terstimulasi lebih aktif melalui impuls yang dikirimkan. Lokalisasi otak menyorot mengenai pembagian letak otak berdasarkan fungsinya. Misalnya tentang perbedaan sifat dua hemisfer (otak kiri dan otak kanan). Sebagai contoh adalah lobus oksipitalis yang salah satunya berfungsi untuk mengatur penglihatan. Tipe belajar Untuk tipe belajar, paradigma neuropsikologis menggunakan prinsip memori. Memori terbagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu, short term memory (STM), working memory, dan long term memory (LTM). Short term memory adalah memori yang disadari pada saat ini; jangka waktunya kurang dari 1 menit. Working memory adalah yaitu penyimpanan, manipulasi, dan penggunaan informasi yang tersimpan itu sendiri. Sedangkan long term memory adalah informasi yang disimpan dalam ingatan untuk kebutuhan jangka panjang; jangka waktunya adalah lebih dari 1 menit. Mekanisme belajar Dalam paradigma neuropsikologis, mekanisme belajar terdiri dari 3 tahap. Masingmasing tahapan tersebut memiliki fungsi serta kemampuan yang berbeda.

1. Cell assembly Proses otak untuk mempelajari dan mengembangkan prinsip dasar dari suatu hal. 2. Sequencial phase Proses otak untuk menghubungkan berbagai hal yang tidak beraturan sehingga dapat membuat hubungan antar paket data komunikasi. Kekacauan dalam sequencial phase dapat mengakibatkan tidak utuhnya informasi yang diproses. 3. Sensory deprivation adalah pengurangan atau penghapusan stimulus dari satu atau lebih panca indera. penggurangan atau penghapusan ini dapat menggunakan perangkat sederhana seperti penutup mata, penutup telinga dan lain sebagainya. Apabila otak tidak mendapatkan stimulus, maka dapat menyebabkan halusinasi.

Aplikasi dalam kehidupan nyata Sebagai contoh apabila seseorang melihat kipas angin. Hal tersebut akan terekam oleh otaknya. Hal ini dinamakan cell assembly. Bentuk dari yang terekam dan termemori dalam otak akan disimpulkan. Ini adalah kipas angin. Lalu di lain waktu yang sama, ia melihat hanya baling-baling dari kipas angin, akan tetapi dia dapat menarik kesimpulan bahwa baling-baling ini adalah bagian dari kipas angin. Hal ini dinamakan dengan sequencial phase. Dia merangkai suatu hubungan dari hal yang pernah dia jumpai. Contoh lainnya ialah bahwa seseorang akan lebih mudah untuk mengingat sesuatu dengan wujud yang hampir sama dengan apa yang pernah dilihatnya (pengalaman). Orang yang pernah melihat kipas angin akan lebih mudah mengingat bentuk kincir angin dibandingkan dengan mengingat bentuk tugu.

10