Anda di halaman 1dari 26

DAFTAR ISI

BAB I

PENDAHULUAN2

BAB II

: LAPORAN KASUS 3

BAB III

: PEMBAHASAN..5

BAB IV

: TINJAUAN PUSTAKA..17

BAB VI

: DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN
Pada diskusi kasus 3 modul Obstetri Ginekologi yang berjudul seorang wanita 25 tahun
dengan keputihan. Diskusi kasus 3 dibagi dalam 2 sesi diskusi. . Diskusi bertempat di Ruang
708B lantai 7 Kampus B Fakultas Kedokteran Trisakti. Diskusi diikuti oleh 12 orang
mahasiswa. Diskusi sesi 1 yang dilaksanakan pada hari kamis, 11 Juli 2013 pukul 13.00-15.00
WIB dengan tutor Dr. Triseno yang diketuai oleh Muhammad Zaky dan Malika sebagai
sekretaris, diskusi berjalan cukup aktif, semua mahasiswa ikut berpartisipasi. Dan jalannya
diskusi cukup terarah, dr. Triseno sebagai tutor cukup membantu mengarahkan jalannya
diskusi.
Kasus ini membahas tentang wanita yang mengalami keputihan disertai rasa gatal yang
berbau amis, kelompok kami mencoba mencari diagnosis berdasarkan anamnesis dan juga
pemantauan klinis yang ditunjang dengan pemeriksaan tambahan, dimana dari data yang telah
dikumpulkan dapat dibuat suatu kesimpulan diagnosis. Kelompok kami mengidentifikasi
keluhan pasien yang diduga disebabkan karena infeksi pada pada vagina.
Infeksi yang menyebabkan keputihan pada wanita dapat disebabkan oleh banyak faktor,
antara lain infeksi bakteri, jamur, parasite, virus dan juga campuran dari berbagai macam
penyebab (mikroorganisme). Maka penting bagi kita untuk mengidentifikasi perbedaan yang
menjadi dasar dari berbagai infeksi mikroorganisme tersebut untuk memberikan pengelolaan
yang terbaik bagi pasien.

BAB II
2

LAPORAN KASUS
Sesi I
Seorang perempuan berusia 25 tahun, P1A0, datang ke poliklinik dengan keluhan sering
keputihan yang hilang timbul sejak 3 bulan terakhir. Keputihan ini dirasakan pasien lebih encer
dan berwarna sedikit lebih abu-abu, berbau agak amis. Pada kemaluan juga timbul rasa gatal
dan sering lecet karena digaruk. Pasien merasa tidak nyaman dan enggan melakukan hubungan
sex dengan suaminya. Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami keputihan seperti saat ini.
Pasien sering keluar lendir dari kemaluan berupa lendir bening yang terjadi di pertengahan
siklus menstruasi. Selama terdapat keluhan ini, pasien belum pernah berobat.
Pasien seorang ibu rumah tangga dan suaminya adalah seorang eksekutif muda yang
sedang menanjak karirnya, sering lembur, pulang malam dan meeting.
Pada pemeriksaan didapatkan
Keadaan umum

: Baik,, tanda vital dalam batas normal

Pemeriksaan ginekologi
Inspeksi

: tampak cairan putih abu-abu keluar dari vagina. Daerah vulva

kemerahan
dengan beberapa luka bekas garukan.
Inspekulo

: portio arah jam 6, tampak kista Nabothi di portio, tampak flour (+)

putih
keabu-abuan dan encer, fluksus (-). Tidak terdapat massa. Dinding
vagina
terdapat sekret putih abu-abu yang menempel. Ostium uteri eksternum
tertutup.

Sesi II
Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan swab vagina. Didapatkan hasil

BAB III

PEMBAHASAN

1.1 ANAMNESIS
Identitas Pasien

Nama

:-

Usia

: 25 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

:-

Status pernikahan

: Menikah

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Keluhan Utama

: Sering keputihan yang hilang timbul sejak 3

bulan terakhir

Masalah
P1A0

Dasar masalah
Anamnesis

Hipotesis
Pasien sudah pernah
melahirkan, yang berarti

Sering keputihan hilang

Anamnesis

canalis serviks lebih lebar


Bakterialis vaginosis

Anamnesis

- Bakterialis vaginosis

timbul selama 3 bulan


terakhir. Lebih encer dan
berwarna sedikit lebih abuabu, berbau agak amis
Pada kemaluan juga timbul
rasa gatal dan sering lecet
karena digaruk
Pasien merasa tidak

- Trikomoniasis
Anamnesis

- Candidiasis
Bakterialis vaginosis

nyaman dan enggan


5

melakukan hubungan sex


dengan suaminya
Pasien sering keluar lendir

Anamnesis

Fisiologis

Anamnesis

Terjadi karena keluhan

dari kemaluan berupa


lendir bening yang terjadi
di pertengahan siklus
menstruasi
Selama terdapat keluhan
ini, pasien belum pernah

tersebut belum terlalu

berobat

mengganggu pasien.

Suaminya adalah seorang

Anamnesis

Perlu pendalaman

eksekutif muda yang

anamnesis terhadap suami

sedang menanjak karirnya,

dan pemeriksaan swab

sering lembur, pulang

preputial untuk memastikan

malam dan meeting

apakah suami sebagai


pemicu masalah pasien atau
tidak.

Anamnesis tambahan yang kami ajukan :


1. Riwayat Penyakit Sekarang :
apakah saat koitus bertambah bau?
apakah merasa nyeri saat berhubungan?
apakah merasa nyeri saat berkemih?
kapan hari pertama haid terakhir?
apakah memakai kontrasepsi? Jenis apa?
2. Riwayat Kebiasaan :
bagaimana cara menjaga kebersihan?

apakah sering berganti-ganti pasangan ?


apakah sering memakai celana tebal?

3. Riwayat Penyakit Dahulu :


apakah terdapat penyakit sistemik seperti DM yang menyertai?

4. Riwayat Pengobatan
apakah sudah mengkonsumsi obat-obatan? Seperti antibiotik?

1.2

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan

Hasil

Interpretasi

Keadaan Umum

Baik

Normal

Tanda vital

Dalam batas normal

Normal

1.3

PEMERIKSAAN GINEKOLOGI
Pemeriksaan

Hasil

Interpretasi

Tampak cairan putih abu-abu keluar dari

Terdapat keputihan yang

vagina

patologis yang kemungkinan


disebabkan oleh
7

Inspeksi

mikroorganisme
Daerah vulva kemerahan dengan

Terjadi peradangan/inflamasi

beberapa luka bekas garukan


Portio erosi arah jam 6

Terdapat luka didaerah


tersebut, yang memungkinkan
mudahnya terinfeksi oleh
bakteri, virus lainnya.

Tampak kista Nabothi di portio


Inspekulo

Benjolan kecil berukuran 2


10 mm berisi sekret

Tampak flour (+) putih keabu-abuan dan

Keputihan patologis

encer, fluksus (-)

kemungkinan karena bakterial


vaginosis, tanpa adanya
perdarahan.

Tidak terdapat massa

Normal

Dinding vagina terdapat sekret putih

Keputihan patologis karena

abu-abu yang menempel

bacterial vaginosis

Ostium uteri eksternum tertutup

Normal

1.4 PEMBAHASAN
Berdasarkan diskusi kasus, menurut kelompok kami yang menjadi masalah pada pasien ini
adalah :
1. P1A0

Pasien ini sudah pernah melahirkan , ini berarti bahwa canalis servikalis lebih lebar.
2. Sering keputihan hilang timbul selama 3 bulan terakhir. Lebih encer dan
berwarna sedikit lebih abu-abu, berbau agak amis
Berdasarkan keluhan utama, pasien sering keputihan yang hilang timbul sejak 3
bulan terakhir. Keputihan atau flour albus yaitu keluarnya cairan (bukan darah) dari
vagina. Dan dibedakan menjadi keputihan fisiologis dan keputihan patologis. Namun,
dalam anamnesis kasus ini didapatkan bahwa keputihan pasien merupakan keadaan
patologis, jika keputihan fisiologis yaitu memiliki ciri warnanya bening, tidak berbau,
dan kental.
Berikut tabel untuk membedakan keputihan berdasarkan penyebabnya :
Penyebab

Keluhan

Jenis sekret

Fisiologis

Tidak ada keluhan

Bening

Bakterial vaginosis

Bau, lebih bau setelah

Abu-abu atau putih (baunya

koitus

progresif)

Kandidiasis

Gatal, rasa terbakar,

Putih keju

Trikomoniasis

Sekret berbusa, bau,

Hijau, kuning berbusa

spotting
Bakterial lain

Sekret encer, pruritus

Purulent

Jika dari hasil anamnesis yang didapat, kelompok kami mencurigai keputihan
pasien karena bacterial vaginosis. Namun perlu dilakukan pemeriksaan anjuran untuk
memastikannya.

3. Pada kemaluan juga timbul rasa gatal dan sering lecet karena digaruk

Jika keputihan pasien disebabkan oleh gardinella vaginalis, rasa gatal terjadi karena
sel epitel vagina berdegenerasi. Terjadi akibat G.vaginalis melakukan simbiosis
dengan kuman anaerob dan bakteri fakultatif di vagina yang mengubah asam amino
9

menjadi amin sehingga meningkatkan ph secret vagina menjadi basa. Beberapa amin
menyebabkan iritasi kulit. Iritasi kulit dapat berupa rasa gatal dan rasa terbakar.

Pada candidiasis rasa gatal terjadi akibat reaksi alergi (reaksi imun) pada daerah
yang di invasi oleh candida albicans. Reaksi alergi menyebabkan terjadi proses
inflamasi yang kronik sehinga kulit menjadi iritasi, gatal dan nyeri.

Sering lecet karena digaruk menyebabkan adanya luka yang menjadi pintu masuk
untuk mikroorganisme untuk berkembang sehingga memperberat iritasi.

4. Pasien merasa tidak nyaman dan enggan melakukan hubungan sex dengan
suaminya
Kelompok kami memikirkan, rasa tidak nyaman pasien untuk melakukan koitus
dengan suaminya karena rasa gatal dan bau amis akibat keputihannya. Sensasi subyektif
akibat duh yang keluar dan berbau amis sering menyebabkan pasien dan suami jarang
berhubungan seksual.
5. Pasien sering keluar lendir dari kemaluan berupa lendir bening yang terjadi di
pertengahan siklus menstruasi
Keadaan ini merupakan keadaaan fisiologis yang muncul pada sekitar fase sekresi
antara hari ke 10-16 saat menstruasi. Dimana sekret ini berfungsi untuk mencegah
sperma masuk.

6. Selama terdapat keluhan ini, pasien belum pernah berobat


Belum ada penanganan apapun , bisa juga menandakan bahwa pasien kurang peduli
terhadap dirinya sendiri.
7. Suaminya adalah seorang eksekutif muda yang sedang menanjak karirnya, sering
lembur, pulang malam dan meeting

10

Keadaan ini mungkin bisa menjadi pemicu terjadi keputihan patologis pada pasien
karena keadaan psikologinya yang kurang mendapat perhatian dari suami. Dan patut
dicurigai kemungkinan suami yang melakukan hubungan seksual dengan wanita lain
yang menyebabkan tertularnya pasien.

1.5 PEMERIKSAAN ANJURAN1


1. Pemeriksaan Sekret Vagina
Jika ditemukan clue cell (epitel vagina yang dikelilingi oleh kokobasil) khas
pada gardinella vaginosis
2. Tes amin, dengan KOH 10 % sekret
3. Pemeriksaan PH Vagina
Jika didapat PH 4,5 vsginosis
4. Kultur sekret vagina.
Pemeriksaan anjuran diatas perlu dilakukan mengingat kita harus mencari
mikroorganisme apa yang menginfeksi pasien , pemeriksaan yang pertama
dilakukan ialah swab vagina yang cukup relevan untuk melihat bakteri yang terdapat
didalamnya, tes amin dan juga pemeriksaan ph vagina penting disini demi
mengetahui lebih jelas baud an juga keadaan asam-basa daerah vagina, seperti
diketahui bahwa penyebab masing-masing infeksi memiliki karakteristik yang
berbeda, dengan dilakukannya pemeriksaan tersebut dapat lebih memastikan etiologi
terjadinya keputihan bau amis dan juga rasa tidak nyaman yang dialami pasien.

1.6 INTERPRETASI SWAB VAGINA


Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan swab vagina. Didapatkan hasil

11

Interpretasi : a) swab vagina ini menunjukkan adanya bakteri gardnerella

vaginalis ditambah

dengan ditemukannya clue cell ( sel epitel vagina yang diliputi oleh kokobasil
sehingga batas sel tidak jelas).
b) Ditemukan clue cell merupakan patognomonik dari infeksi

Gardnerella vaginalis

yang patologis.

1.7 DIAGNOSIS
Dengan melihat gejala pasien yang mengalami keputihan berbau amis serta berwarna disertai
pemeriksaan penunjang yang sudah dilakukan, dan ditemukan interpretasi swab yang sudah
dijabarkan disertai clue cell dapat membantu untuk menegakkan diagnosis.

12

Untuk itu kelompok kami menegakkan diagnosis pasien ini dengan INFEKSI VAGINOSIS
BAKTERIAL, yang merupakan sindrom klinik akibat pergantian beberapa flora normal vagina
dengan bakteri anaerob dalam konsentrasi tinggi seperti Gardnerella vaginalis.

1.8 PENATALAKSANAAN
Dengan diagnosis yang telah kita tegakkan disertai dengan kemungkinan penyebab dari
terjadinya vaginosis bacterial pada pasien ini maka berikut adalah tatalaksana yang akan dilakukan
pada pasien2 :

Medikamentosa
1.

Metronidazol 2 x 500mg per harridan diberikan selama 7 hari

Non medikamentosa
1. Menjaga higenitas pasien, dengan harapan bakteri-bakteri lain tidak ikut menginvasi vagina
sehingga menimbukan masalh baru.
2. Edukasi berupa :
o

Batasan untuk tidak berhubungan sex dulu selama pengobatan

Penjelasan mengenai infeksi vaginosis bacterial yang sedang dialami

Menganjurkan suami untuk diperiksa juga menggunakan usapan pada preputial. Guna
mengetahui apakah suami memiliki infeksi bakteri yang sama yang merupakan
penyebab, sehingga tidak terjadi fenomena ping-pong.

1.9 PROGNOSIS
Ad Vitam

: Ad Bonam

Ad Fungtionam : Ad Bonam
13

Ad Sanationam : Dubia Ad Bonam

Prognosis yang dijabarkan diatas merupakan hasil pemeriksaan klinis dan hasil pemeriksaan
penunjang serta penilaian terapi yang masih bias dijalani dengan baik, secara keseluruhan prognosis
pada pasien akan berlangsung baik, hanya saja yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana
kekambuhan yang mungkin terjadi pada pasien ini ketika tidak diketahui sumber infeksi tersebut.

KOMPLIKASI
Menanggapi diagnosis kerja dari pasien ini yang terinfeksi bacterial vaginosis maka perlu
dilakukan pengelolaan masalah pada pasien dimulai dari mengobati keluhan dan juga menjaga kondisi
pasien dari masalah baru, diagnosis yang tepat dan juga penatalaksanaan yang baik akan menimbulkan
keserasian dalam menyembuhkan pasien, namun kita perlu waspada terhadap komplikasi yang mungkin
terjadi pada pasien ini. Berikut berbagai komplikasi yang mungkin timbul 3 :
-

Infeksi bakteri atau mikroorganisme lainnya, dan juga HIV

Besar kemungkinan terjadi servisitis, klamidiasis dan juga infeksi herpes simpleks.

Terjadinya Sistitis

Jika seorang wanita memiliki BV selama kehamilan, ada peningkatan risiko pada
kehamilan besar hasil yang merugikan, misalnya berat lahir rendah, persalinan prematur,
ruptur membran prematur, dan aborsi spontan.

PATOGENESIS INFEKSI BAKTERIAL VAGINOSIS (BV)4

Banyak penelitian telah menunjukkan hubungan Gardnerella vaginalis dengan bakteri


lain dalam menyebabkan BV. BV dikenal sebagai infeksi polimikrobiologi sinergis. Beberapa
bakteri yang terkait termasuk spesies Lactobacillus, Prevotella, dan anaerob, termasuk

14

Mobiluncus, Bacteroides, Peptostreptococcus, Fusobacterium, Veillonella, dan spesies


Eubacterium. Mycoplasma hominis, Ureaplasma urealyticum, dan Streptococcus viridans juga
mungkin memainkan peran dalam BV. Atopobium vaginae sekarang dikenal sebagai patogen
yang berhubungan dengan BV.
Pada BV, flora vagina menjadi diubah

menyebabkan peningkatan pH lokal. Ini

mungkin hasil dari penurunan hidrogen peroksida-memproduksi lactobacilli. Lactobacilli


adalah organisme berbentuk batang besar yang membantu menjaga pH asam dari vagina yang
sehat dan menghambat mikroorganisme anaerob lain melalui elaborasi hidrogen peroksida.
Biasanya, lactobacilli yang ditemukan dalam konsentrasi tinggi dalam vagina yang sehat. Di
BV, populasi lactobacilli berkurang sangat, sementara populasi berbagai bakteri anaerob dan
Gardnella vaginalis meningkat.
Gardnella vaginalis membentuk biofilm pada vagina. Beberapa studi menunjukkan
bahwa biofilm ini mungkin resisten terhadap beberapa bentuk perawatan medis. Ini dominan
Gardnella vaginalis biofilm telah terbukti bertahan dalam hidrogen peroksida (H2O2), asam
laktat, dan tingkat tinggi antibiotik. Ketika biofilm menjadi sasaran di laboratorium untuk
pembubaran enzimatik, kerentanan terhadap H2O2 dan asam laktat dipulihkan Temuan ini dapat
menyebabkan pengembangan untuk terapi baru yang melibatkan degradasi enzimatik biofilm.
G. vaginalis melekat pada sel-sel epitel vagina in vitro, kemudian menambahkan
deskuamasi sel epitel vagina sehingga terjadi perlekatan duh tubuh pada dinding vagina.
Organisme ini tidak invasif dan respon inflamasi lokal yang terbatas dapat dibuktikan dengan
sedikitnya jumlah leukosit dalam sekret vagina dandengan pemeriksaan histopatologis.
Timbulnya bakterial vaginosis ada hubungannyadengan aktivitas seksual atau pernah menderita
infeksi Trichomonas.
Bakterialvaginosis yang sering rekurens bisa disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang
faktor penyebab berulangnya atau etiologi penyakit ini. Walaupun alasan sering rekurennya
belum sepenuhnya dipahami namun ada 4 kemungkinan yang dapat menjelaskan, yaitu
1. Infeksi berulang dari pasangan yang telah ada mikroorganisme penyebab bakterial vaginosis.
Laki-laki yang mitra seksual wanitanya terinfeksi G.vaginalis mengandung G. vaginalis
dengan biotipe yang sama dalam uretratetapi tidak menyebabkan uretritis pada laki-laki
15

(asimptomatik) sehinggawanita yang telah mengalami pengobatan bakterial vaginosis


cenderung untuk kambuh lagi akibat kontak seksual yang tidak menggunakan pelindung.
2. Kekambuhan disebabkan oleh mikroorganisme bakterial vaginosis yang hanya dihambat
pertumbuhannya tetapi tidak dibunuh.
3. Kegagalan selama pengobatan untuk mengembalikan Lactobacillus sebagai flora normal
yang berfungsi sebagai protektor dalam vagina.
4. Menetapnya mikroorganisme lain yang belum diidentifikasi faktor hostnya pada penderita,
membuatnya rentan terhadap kekambuhan.

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA

1. Anatomi alat reproduksi wanita


Genetalia Eksterna & Genetalia Interna
Genetalia Eksterna

16

Gambar 1
1.

Mons Veneris
Daerah yang menggunung di atas simfisis, yang akan ditumbuhi rambut kemaluan

(pubis) apabila wanita berangkat dewasa. Rambut ini membentuk sudut lengkung (pada
wanita) sedang pria membentuk sudut runcing ke atas5.
2.

Labia Mayora (bibir besar)


Berada pada kanan dan kiri, berbentuk lonjong, yang pada wanita menjelang dewasa di

tumbuhi rambut lanjutan dari mons veneris.bertemunya labia mayor membentuk komisura
posterior
3.

Labia Minora (bibir Kecil)


Bagian dalam dari bibir besar yang berwarna merah jambu. Merupakan suatu lipatan

kanan dan kiri bertemu diatas preputium klitoridis dan dibawah klitoris. Bagian belakang
kedua lipatan setelah mengelilingi orifisium vagina bersatu disebut faurchet (hanya nampak
pada wanita yang belum pernah melahirkan).
4.

Klitoris (kelentit)
Identik dengan penis pria, kira-kira sebesar kacang hijau sampai cabe rawit dan ditutupi

frenulum klitorodis. Glans klitoris berisi jaringan yang dapat berereksi, sifatnya amat
sensitif karena banyak memiliki serabut saraf.

17

5.

Vestibulum
Merupakan rongga yang sebelah lateral dibatasi oleh kedua labia minora, anterior oleh

klitoris dan dorsal oleh faurchet. Pada vestibulum juga bermuara uretra dan 2 buah kelenjar
skene dan 2 buah kelenjar bartholin, yang mana kelenjar ini akan mengeluarkan sekret pada
waktu koitus. Introitus vagina juga terdapat disini.
6.

Hymen (selaput dara)


Merupakan selaput yang menutupi introitus vagina, biasanya berlubang membentuk

semilunaris, anularis, tapisan, septata, atau fimbria. Bila tidak berlubang disebut atresia
himenalis atau hymen imperforata. Hymen akan robek pada koitus apalagi setelah bersalin
(hymen ini disebut karunkulae mirtiformis). Lubang-lubang pada hymen berfungsi untuk
tempat keluarnya sekret dan darah haid.
7.

Perineum
Terletak diantara vulva dan anus, panjang sekitar 4 cm.

8.

Vulva
Bagian dari alat kandungan yang berbentuk lonjong, berukuran panjang mulai dari

klitoris, kanan kiri diatas bibir kecil, sampai ke belakang di batasi perineum.

Genitalia Interna

18

Genetalia Interna
Merupakan alat kelamin yang tidak dapat dilihat dari luar, terletak disebelah dalam dan
hanya dapat dilihat dengan alat khusus atau dengan pembedahan7.
1.

Vagina (liang sanggama)


Adalah liang atau saluran yang menghubungkan vulva dan rahim, terletak diantara

kandung kencing dan rectum. Suplai darah vagina diperoleh dari arteria uterina, arteria
vesikalis inferior, arteria hemoroidalis mediana san arteria pudendus interna. Fungsi penting
vagina adalah :
-

saluran keluar untuk mengalirkan darah haid dan sekret lain dari rahim

alat untuk bersenggama

jalan lahir pada waktu bersalin

2.

Uterus (rahim)
suatu struktur otot yang cukup kuat, bagian luarnya ditutupi oleh peritoneum,

sedangkan rongga dalamnya dilapisi oleh mukosa rahim. Dalam keadaan tidak hamil, rahim
terletak dalam rongga panggul kecil diantara kandung kencing dan rektum. Bentuknya
seperti bola lampu yang gepeng atau buah alpukat yang terdiri dari 3 bagian yaitu :
- badan rahim (korpus uteri) berbentuk segitiga
- leher rahim (serviks uteri) berbentuk silinder
- rongga rahim (kavum uteri)
Bagian rahim antara kedua pangkal tuba disebut fundus uteri, merupakan bagian
proksimal rahim. Besarnya rhim berbeda-beda, tergantung pda usia dan pernah melahirkan
19

anak atau belum. Ukurannya kira-kira sebesar telur ayam kampung. Pada nulipara
ukurannya 5,5-8 cm x 3,4-4 cm x 2-2,5 cm, multipara 9-9,5 cm x 5,5-6 cm x 3- 3,5 cm.
Beratnya 40-50 gram pada nulipara dan 60-70 gram pada multipara. Serviks uteri terbagi 2
bagian yaitu pars supravaginal dan pars vaginal (portio) saluran yang menghubungkan
orifisium uteri interna (oui) dan orifisium uteri eksterna (oue) disebut kanalis servikalis.
3.

Tuba Falopii (saluran telur)


Tuba ini terdapat pada tepi atas lig. Latum, berjalan ke arah lateral, mulai dari kornu

uteri kanan kiri. Panjangnya "12 cm, diameter 3-8 cm.


4.

Ovarium (indung telur)


Ovarium ada 2, kanan dan kiri, dihubungkan dengan uterus oleh ligamen ovarii propium

dan dihubungkan dengan dinding panggul dengan perantara ligamen infundibulo pelvicum,
disini terdapat pembuluh darah untuk ovarium.
-

Ukuran ovarium:2,5-5 cm x 1,5-3 cm x 0.9-1,5 cm dan beratnya 4-5 gram.

Terletak pada dinding lateral panggul dalam sebuah lekuk yang disebut fossa ovarica
Waldeyeri.

5.

Parametium
Jaringan ikat yang terdapat diantara kedua lembar ligamentum latum disebut

parametrium. Parametrium ini dibatasi oleh :


Bagian atas terdapat tuba falopii dengan mesosalphing
Bagian depan mengandung ligamentum teres uteri
Bagian kaudal berhubungan dengan mesometrium
Bagian belakang terdapat ligamentum ovarii propium
Ke samping berjalan ligamentum suspensorium ovarii. Pada parametrium ini terdapat uretra
kanan dan kiri dan pembuluh darah arteria uterina.
Pertumbuhan alat genetalia wanita berasal dari duktus Muller (tuba falopii, uterus, vagian
bagian atas) dan kloaka (vagina bagian bawah, hymen, kandung kemih, anus).

20

2. Bakterial vaginosis
Bacterial vaginosis (BV), atau vaginitis nonspesifik dinamakan tersebut karena bakteri
merupakan agen etiologi. Banyak penelitian telah menunjukkan hubungan Gardnerella
vaginalis dengan bakteri lain

menyebabkan BV, seperti Lactobacillus, Prevotella, dan

anaerob, termasuk Mobiluncus, Bacteroides, Peptostreptococcus, Fusobacterium, Veillonella,


dan Eubacterium. Mycoplasma hominis, Ureaplasma urealyticum, Streptococcus viridans, dan
Atopobium vaginae juga telah dikaitkan dengan BV8.

Epidemiologi
Pada wanita yang memeriksakan kesehatannya, penyakit bakterial vaginosis lebih sering
ditemukan daripada vaginitis jenis lainnya. Frekuensi bergantung paningkatan sosial ekonomi
penduduk pernah disebutkan bahwa 50 % wanita aktif seksual terkena infeksi
Gardnella vaginalis, tetapi hanya sedikit yang menyebabkan gejala sekitar 50 % ditemukan
pada pemakai alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dan 86% bersama-sama dengan infeksi
Trichomonas. Terdapat hubungan antara infeksi G.vaginalis dengan ras, promiskuitas,stabilitas
marital, dan kehamilan sebelumnya. Pada penggunaan AKDR dapatditemukan infeksi
G.vaginalis dan kuman-kuman anaerob gram negatif. Hampir 90% laki-laki yang mitra seksual
wanitanya terinfeksi G.vaginalis, mengandung G.vaginalis dengan biotipe yang sama dalam
uretra, tetapi tidak menyebabkan uretritis. Pada suatu penyelidikan ditemukan adanya hubungan
antara timbulnya rekurensi setelah pengobatan tehadap kontak seksual. Ditemukannya
G.vaginalis sering diikuti dengan infeksi lain yang ditularkan melalui hubungan seksual.
Infeksi vaginalis G biasanya terjadi pada wanita usia reproduksi. Tetapi beberapa studi juga
telah mendokumentasikan kolonisasi Gardnella vaginalis di prapubertas dan/atau anak
perempuan perawan dan anak laki-laki.

Etiologi
1. Gardnella vaginalis

21

Penyebab bakterial vaginosis bukan organisme tunggal. Pada suatu analisisdari data
flora vagina memperlihatkan bahwa ada beberapa kategori dari bakterivagina yang
berhubungan dengan bakterial vaginosis, yaitu Gardnerella vaginalis. Organisme ini mulamula dikenal sebagai H. vaginalis kemudian diubah menjadi genus Gardnerella atas dasar
penyelidikan mengenai fenetopik dan asamdioksi-ribonukleat. Tidak mempunyai kapsul, tidak
bergerak dan berbentuk batanggram negatif atau variabel gram. Tes katalase, oksidase, reduksi
nitrat, indole, danurease semuanya negatif. Kuman ini bersifat anaerob fakultatif, dengan
produksi akhir utama pada fermentasi berupa asam asetat, banyak galur yang jugamenghasilkan
asam laktat dan asam format. Ditemukan juga galur anaerob obligat. Untuk pertumbuhannya
dibutuhkan tiamin, riboflavin, niasin, asam folat, biotin, purin, dan pirimidin.
2. Bakteri anaerob : Mobilincus Spp dan Bacteriodes Spp
Bacteriodes Spp diisolasi sebanyak 76% dan Peptostreptococcus sebanyak 36% pada
wanita dengan bakterial vaginosis. Pada wanita normal kedua tipe anaerob ini lebih jarang
ditemukan. Penemuan spesies anaerob dihubungkandengan penurunan laktat dan peningkatan
suksinat dan asetat pada cairan vagina.Setelah terapi dengan metronidazole, Bacteriodes dan
Peptostreptococcus tidak ditemukan lagi dan laktat kembali menjadi asam organik yang
predominan dalamcairan vagina. Spiegel menyimpulkan bahwa bakteri anaerob berinteraksi
dengan G.vaginalis untuk menimbulkan vaginosis. Peneliti lain memperkuat hubungan antara
bakteri anaerob dengan vaginosis bakterial. Mikroorganisme anaerob lainyaitu Mobiluncus
Spp,
merupakan batang anaerob lengkung yang juga ditemukan pada vagina bersama-sama dengan
organisme lain yang dihubungkan dengan bakterial vaginosis. Mobiluncus Spp hampir tidak
pernah ditemukan pada wanitanormal, 85% wanita dengan bakterial vaginosis mengandung
organisme ini.
3.

Mycoplasma hominis
Berbagai

penelitian

menyimpulkan

bahwa

Mycoplasma

hominis

juga

harusdipertimbangkan sebagai agen etiologik untuk vaginosis bakterial, bersama-samadengan


G.vaginalis dan bakteri anaerob lainnya. Prevalensi tiap mikroorganismeini meningkat pada

22

wanita dengan bakterial vaginosis. Organisme ini terdapatdengan konsentrasi 100-1000 kali
lebih besar pada wanita dibandingkan dengan bakterial vaginosis pada wanita normal.
Pertumbuhan Mycoplasma hominis mungkin distimulasi oleh putrescine, satu dari amin yang
konsentrasinya meningkat pada bakterial vaginosis. Konsentrasi normal bakteri dalam vagina
biasanya 105 organisme/ml cairan vagina danmeningkat menjadi 108-9 organisme/ml pada
bakterial vaginosis. Terjadi peningkatan konsentrasi Gardnerella vaginalis dan bakteri anaerob
termasuk Bacteroides, Leptostreptococcus, dan Mobilincus Spp sebesar 100-1000 kali lipat.
Tanda dan Gejala
Tipikal9:
-

Vagina (yang paling umum, dan sering pada awal gejala BV), sering dikenal hanya
setelah hubungan seksual

Keputihan sedang-agak banyak

Iritasi vulva (jarang)

Disuria atau dispareunia (jarang)

Faktor risiko yang dapat mempengaruhi pasien untuk BV adalah sebagai berikut:
-

Penggunaan antibiotik terakhir

Produksi estrogen menurun

Memakai alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR)

Douching (mencuci vagina)

Aktivitas seksual yang dapat menyebabkan transmisi (misalnya, memiliki pasangan


seksual baru atau jumlah pasangan seksual yang banyak)

Temuan fisik di BV mungkin termasuk yang berikut:


-

Abu-abu , tipis, dan keputihan, yang melekat pada mukosa vagina

23

Peningkatan refleks cahaya dari dinding vagina, tetapi biasanya dengan atau tidak
dengan peradangan

Disertai servisitis (beberapa kasus)

Diagnosis
Diagnosis bedasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik vagina, dan pemeriksaan mikroskopik.
Pada pemeriksaan mikroskopis, 3 dari 4 kriteria Amsel berikut dianggpa diangnosis yang paling memungkinkan
adalah10:

Adanya clue cells (kriteria diagnostik yang paling spesifik)

PH lebih besar dari 4,5 (hingga 90% dari pasien)

Duh yang homogen, tipis, putih, melekat pada dinding vagina dan abnormal

Uji amin positif berbau (hingga 70% dari pasien)

Kriteria Nugent dapat digunakan untuk mengukur atau bakteri kelas melalui pewarnaan Gram sampel vagina.
Kriteria ini mengevaluasi 3 jenis bakteri dan dengan kriteria skoring, seperti berikut:

Lactobacillus (skor, 0-4)

Bacteroides / Gardnerella (skor, 0-4)

Mobiluncus (skor, 0-2)

Skor total dihitung dan diinterpretasikan sebagai berikut:


0-3: normal
4-6: Menengah jumlah bakteri
7-10: BV

24

Diagnosis Banding

Clinical Elements

Bacterial Vaginosis Trichomoniasis

Symptoms

Vaginal odor

Vaginal discharge

Thin,

+/gray, Green-yellow

Vaginal
Candidiasis
White, curdlike

homogenous

Signs

Vulvar irritation

+/-

Dyspareunia

Vulvar erythema

+/-

+/-

Bubbles in vaginal +

+/-

+/-

Clue cells

Motile protozoa

Pseudohyphae

Whiff test

+/-

pH

>4.5

>4.5

< 4.5

fluid
Strawberry cervix
Microscopy Saline wet mount

KOH test

DAFTAR PUSTAKA

25

1. Wirakusumah FF, Mose JC, Handono B. Obstetri Fisiologi Ilmu Kesehatan Reproduksi.
2nd ed. Jakarta : EGC; 2010. p. 110-21; 129-31; 152-3.
2. Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka sarwono
Prawirohardjo
3. Agboola, 1979, Effect of type and Duration of Anemia on Placenta Weight and Villous
Histology, 1979 Journal of The National Medical Assotiation Vol. :71. No.11, Available
from : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/pdf/jnma00031-0031.pdf
4. Gleadle J. Obstetric Gynecology. In: Gleadle J, et al. History And Examination At A
Glance. Jakarta:Erlangga;2005;p.33-5
5. Sastrawinata, Sulaeman, dkk. 2004. Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan
Reproduksi. Jakarta: EGC
6. Aghamohammadi A and Noortarijor M., 2011, Maternal Age as a Risk Factor for
Pregnancy Out Comes: Maternal, Foetal and Neonatal Complication: 2011 African
Journal of Pharmacy and Pharmacology, Vol. 5(2), pp. 264-269, February 2011,
Available online http://www.accademicjournal.org/ajpp
7. Mocthar, Rustam.Sinopsis Obstetri Obstetri Fisiologis Obstetri Patologi Jilid I.
Jakarta:EGC;1998;p.122-34
8. Winkjosastro, H : Ilmu Kebidanan edisi ketiga cetakan keempat. Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, Jakarta. 1999; 302-312.
9. Linda, Walsh. Buku Ajar Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC. 2007. Hlm: 452-453
10. Sastrawinata, Sulaeman, dkk. 2004. Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan
Reproduksi. Jakarta: EGC

26