Anda di halaman 1dari 3

Laboratorium TK 2012 Metode Pengukuran dan Analisis Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi

i Bandung

LAPORAN SINGKAT MODUL : 11 SPEKTROMETER


Kelompok Nama / NIM : A.1314.1.08 : 1. Adi Theodosius Sembiring/ 13012115 2. Regina Putri Lowren / 13012006 Hari / Tanggal Waktu Praktikum A. KONDISI RUANG Mulai praktikum pk 08.00 Temperatur : Tekanan : ( 0,5)C ( 0,05) mmHg Akhir praktikum pk 11.00 (28,5 0,5)C (699,4 0,05) mmHg : Kamis / 10 Oktober 2013 : pk. 07.00 pk. 12.00

B. PENENTUAN PANJANG GELOMBANG TERBAIK Larutan yang digunakan untuk penentuan adalah larutan baku 3 (konsentrasi 3 ppm). Panjang gelombang 490 495 500 505 510 515 520 Absorbansi 0,166 0,177 0,175 0,176 0,178 0,176 0,160
Kurva Penentuan Panjang Gelombang Kerja Spektrofotometer 0.18
Absorbansi

0.16 485 495 505 515 525


Panjang Gelombang (nm)

Dari percobaan yang telah dilakukan, panjang gelombang maksimum yang memnghasilkan nilai absorbansi terbesar adalah pada panjang gelombang 510 nm (absorbansi = 0,178) sehingga panjang gelombang tersebut digunakan sebagai panjang gelombang kerja spektrofotmeter. C. DATA ABSORBANSI LARUTAN BAKU DAN SAMPEL No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Yang diukur Blanko Baku 1 (Fe 1 ppm) Baku 2 (Fe 2 ppm) Baku 3 (Fe 3 ppm) Baku 4 (Fe 4 ppm) Baku 5 (Fe 5 ppm) Sampel A* Sampel B Sampel C Absorbansi 1 2 Rata2 0,000 0,000 0,000 0,179 0,181 0,180 0,394 0,392 0,393 0,595 0,596 0,596 0,791 0,791 0,791 0,999 0,999 0,999 1,563 1,560 1,561 0,021 0,022 0,022 0,000 0,000 0,000 Kurva Kalibrasi Absorbansi terhadap Konsentrasi Fe
1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 0 2 y = 0.1984x R = 0.9994

Absorbasni

Konsentrasi Fe (ppm)

Keterangan : Sampel A : Air limbah Sampel B : Air sumur Sampel A : Air keran Sampel A memiliki konsentrasi 1,563 dan 1,560 ppm (melebihi batas maksimum absorbansi yang dapat diukur ) sehingga perlu pengenceran sebanyak 8 kali sehingga diperoleh absorbansinya 0,397 dan 0,395 (dalam 200 mL). Persamaan kalibrasi y = 0,984x, di mana y menunjukkan nilai absorbansi dan x adalah konsentrasi dalam ppm. Hubungan absorbansi dan konsentrasi berbanding 0,984 yaitu slope (faktor pengali) dari kurva kalibrasi. Konsentrasi sampel adalah y = 1. Sampel A (air limbah) Absorbansi, x= 1,561 namun telah diencerkan 8x menjadi 0,396 ppm. Konsentrasi sampel A, y = Dalam 200 mL, konsentrasi Fe dalam sampel A = 2. Sampel B (air sumur) Absorbansi, x= 0,0251 Konsentrasi sampel B, y = 3. Sampel C (air keran) Absorbansi, x= 0,000 Konsentrasi sampel C, y = D. PEMBAHASAN Dalam percobaan kali ini, untuk membuat larutan baku Fe 1,2,3,4,5 dan 0 pppm digunakan beberapa macam zat untuk membuat kurva absorbansi terhadap konsentrasi.kurva tersebut digunakan untuk menentukan konsentrasi sampel A,B, dan C. mula-mula, Na-asetat ditambahkan pada larutan Fe untuk mempertahankan suasana reaksi yang terjadi di dalamnya. Kemudia Na-asetat berfungsi sebagai larutan penyamgga sehingga jika ada penambahan asam ata basa kuat, pH tidak berubah secara signifikan. Penambahan hidroksilaminklorida 10% berfungsi untuk mereduksi Fe3+ agar reaksi dalam larutan tetap membentuk Fe2+. Penambahan fenantrolin 0,25% berguna untuk membentuk senyawa kompleks ion besi (feroin) sehingga jika larutan Fe2+ bereaksi dengan senyawa komplek tersebut,larutan dapat berubah warna menjadi warna merah. Jika larutan berwarna merah, maka spektrofotometer dapat mendeteksi warna tesebut dan melakukan absorbansi pada larutan (karena ada penyerapan warna oleh spektrofotometer) sehingga praktikan dapat melaksanakan perhitungan konsentrasi. Dalam penentuan kadar Fe dalam sampel air limbah, nilai absorbansi berada di luar garis kalibrasi sehingga dilakukan pengenceran sebanyak 8 kali untuk menurunkan nilai absorbansinya dan membuatnya berada dalam range daerah kalibrasi. Dengan mengetahui konsentrasi Fe dalam 25mL larutan (sebelum diencerkan menjadi 200mL) maka konsentrasi dapat dihitung dengan mengalikan faktor pengali (slope) dengan 200mL dibagi volum awal , 25mL. Dalam percobaan kali ini sampel B dan C yaitu air sumur dan air keran tidak berubah warna secara signifikan menjadi merah karena konsentrasi fe di dalam sampel sangat kecil bahkan tidak ada. Hal ini disebabkan ikatan senyawa kompleks khususnya pada sampel air keran yang menunjukkan konsentrasi 0 ppm , tidak erat berikatan sehingga nilai absorbansinya menunjukkan angka nol. E. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan: Konsentrasi Fe pada sampel A (air limbah) adalah 15,968 ppm.

Saran:

Konsentrasi Fe pada sampel B (air sumur) adalah 0,432 ppm. Konsentrasi Fe pada sampel C (air kran) adalah 0,000 ppm.

Praktikan selanjutnya hendaknya mengikuti urutan penambahan Na-asetat, fenantrolin dan hidroksilaminklorida dengan baik agar pembuatan larutan baku maupun sampel tidak menunjukkan hasil yang tidak sesuai dengan yang diharapkan (misal warna larutan tidak merah) Untuk praktikum selanjutnya, tempat pembuangan limbah umum diletakkkan di dalam ruangan laboratorium agar lalu lintas masuk dan keluar tidak terlalu sering sehingga kegiatan dapat lebih focus dalam ruangan. Untuk praktikum ke depan, sebaiknya jumlah spektrofotometer yang akan digunakan harap ditambah unitnya, agar waktu yang digunakan praktikan dalam pengukuran absorbansi lebih efisien dan bekerja lebih cepat. Untuk praktikan berikutnya, segeralah tutup larutan standar atau larutan sampel saat percobaan agar tidak menguap ke udara atau berinteraksi dengan zat-zat lain di udara sehingga hasil pengukuran dan pengolahan data menjadi lebih akurat.