Anda di halaman 1dari 59

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Dalam rangka meningkatan produktivitas dan pendapatan petani dari pemanfaatan sumber daya lahan, penting adanya pertimbangan dalam mengambil keputusan, salah satunya dengan melakukan survei tanah. Survei tanah merupakan suatu cara mengumpulkan data, baik data fisik, kimia, biologi, lingkungan, dan iklim dengan turun langsung kelapangan. Dengan adanya data dan informasi yang tersedia, maka akan diketahui potensi suatu lahan atau suatu satuan peta lahan (SPL) dan kesesuaian dari penggunaan lahan serta tindakan pengelolaan yang diperlukan untuk setiap penggunaan dari satuan peta tersebut. Evaluasi kesesuaian lahan adalah proses penilaian atau keragaan (perfomance) lahan jika dipergunakan untuk tujuan tertentu, meliputi pelaksanaan dan interpretasi survei dan studi bentuk lahan, tanah, vegetasi, iklim, dan aspek lahan lainya, agar dapat mengindentifikasi dan membuat perbandingan berbagai alternatif penggunaan lahan yang mungkin di kembangkan (FAO, 1976 dalam arsyad, 1989 ; 209). Lahan dalam pengertian yang lebih luas termasuk yang telah dipengaruhi oleh berbagai aktivitas manusia baik di masa lalu maupun masa sekarang. Sebagai contoh pengunaan lahan dalam pertanian, dan konservasi tahan. Dalam hal ini maka penulis berusaha untuk melakukan identifikasi hasil survei tanah dan evaluasi lahan yang telah dilakukan tepatnya di lereng Dusun Payan Geneng, Desa Punten Kecamatan Bumiaji, Batu yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana kemampuan lahan dan kesesuaian lahan di daerah tersebut dengan adanya berbagai komoditas yang dibudidayakan di sekitarnya.

1.2 Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dari penyusunan laporan survei tanah dan evaluasi lahan ini yaitu: 1. Untuk fisiografi lahan yang meliputi landuse, lereng, relief,erosi, dan batuan permukaan yang ada di Desa Punten 2. Untuk mengetahui Morfologi Tanah yang meliputi warna, tekstur, struktur, konsistensi, perakaran, pori,drainase, permeabilitas, bahan kasar,top soil dan sub soil yang ada di Desa Punten

3. Untuk mengetahui kondisi kemampuan lahan antar titik pengamatan yang dilakukan di Desa Punten 4. Untuk mengetahui kondisi kesesuaian lahan antar titik pengamatan yang dilakukan di Desa Punten 5. Untuk mengetahui analisis usahatani yang dilakukan di Desa Punten 6. Untuk mengetahui keterkaitan dan keselarasan analisis biofisik dan sosial ekonomi tentang hasil survei tanah yang dilakukan di Desa Punten 7. Untuk mengetahui manfaat yang didapat dalam kegiatan survei tanah yang dilakukan di Desa Punten.

1.3 Manfaat Manfaat yang diperoleh dari praktikum survei tanah dan evaluasi lahan yaitu 1. Agar mahasiswa mampu mengidentifikasi hasil survei tanah dan evaluasi lahan di desa Punten, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu dan bisa mengetahui kemampuan serta kesesuaian lahan di daerah tersebut. 2. Agar mahasiswa mampu menganalisis hasil usahatani di lahan tersebut sehingga bisa juga mengetahui keuntungan dan kelayakan usaha tani yang dilakukan oleh petani di daerah Punten tersebut.

BAB II METODOLOGI

2.1 Lokasi Observasi dan Waktu Pelaksanaan fieldwork Survei Tanah dan Evaluasi Lahan dilaksanakan di desa Punten, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Pelaksanaan survei dilakukan di lereng dusun Payan Geneng dan dilakukan pada hari Minggu pada tanggal 24 November 2013.

2.2 Peralatan dan Bahan Survei serta Fungsi Peralatan dan bahan yang digunakan dalam penyusunan peta kerja antara lain: a. Cangkul b. Sekop c. Tanah lahan) d. Meteran : digunakan untuk mengukur kedalaman profil tanah : digunakan untuk menggali tanah dalam pembuatan minipit. : digunakan untuk menggali tanah dalam pembuatan minipit. : digunakan sebagai obyek pengamatan survei tanah (kesesuaian

dan ketebalan horison yang telah digali. e. Sabuk Profil f. Pisau Belati : digunakan untuk menentukan batas ketebalan horizon. : digunakan untuk mengambil sample tanah dan menandai

perbatasan dari jenis tanah pada satu titik g. Munsell Soil Color Chart : digunakan untuk menentukan warna dari tanah

h. Botol Semprot : digunakan untuk melembabkan tanah pada saat penentuan tekstur , struktur , dan konsistensi tanah. i. Abney level atau Clinometer : digunakan untuk menentukan kelerengan lokasi pengamatan. j. Kantong plastik : digunakan sebagai tempat sampel tanah yang diambil. k. Kompas l. Kamera : digunakan sebagai penunjuk arah titik lokasi pengamatan. : digunakan untuk mendokumentasikan kegiatan survei.

m. Buku atau modul Panduan Deskripsi Lapang : digunakan untuk panduan lapang. n. Form Pengamatan : digunakan untuk mencatat hasil data yang didapat o. Alat tulis (bolpoin, kertas, pensil, penghapus, tipe-x, penggaris) : digunakan untuk mencatat dan membuat laporan hasil survei.

2.3 Metode Survei dan Penentuan Titik Pengamatan Metode yang di gunakan dalam survei tanah adalah metode Grid Kaku. Dimana pelaksanaannya membutuhkan Persiapan Peta, Interpretasi Foto Udara, Pembuatan Mosaik Foto, Pembuatan peta acuan, Pembuatan satuan peta, transek dan penentuan titik pengamatan. Penentuan Titik Pengamatan Untuk penentuan titik pengamatan, didasarkan pada keberadaan satuanpeta lahan (SPL). Dari yang suatu bentang alam atau hamparan tanah, permukaan topografi,

bumi(landscape)

mencakup

komponen

iklim,

hidrologi,dan vegetasi akan terbagi menjadi beberapa SPL, dalam artian kelompok lahan yang mempunyai karakteristik sama. Kemudian dari SPL tersebutdapat ditentukan titik pengamatan untuk survei tanah. Syarat penentuan titik pengamatan : a. Berada jauh dari lokasi penimbunan sampah, tanah galian atau bekas bangunan , kuburan atau bahan bahan lainnya. b. Berjarak > 50 m dari pemukiman, pekarangan, jalan, saluran air dan bagunan lainnya. c. d. Jauh dari pohon besar, agar perakaran tidak menyulitkan galian profil Pada daerah berlereng , profil dibuat searah lereng

2.4 Pembuatan Profil, Minipit dan Singkapan Membersihkan dahulu daerah yang ditetapkan sebagai tempat penggalian profil tanah

Buatlah galian dengan menggunakan cangkul yang telah tersedia dengan ukuran lubang galian yaitu 1,5 x 1 meter

Kemudian tanah bekas galian diangkut keatas menggunakan sekop, dengan tanah bekas galian tidak ditumpuk diatas sisi penampang pemeriksaan

Setelah terbentuk lubang penampang yang diinginkan ratakan dinding penampang dengan menggunakan linggis

Selanjutnya mulai dengan melakukan pengamatan pada profil tanah

2.5 Tahap Pengamatan Profil Tanah 1) Menggali tanah sedalam 60 cm. 2) Memberi batas tiap-tiap horizon dan mengukur masing-masing horizon dengan menggunakan meteran. 3) Mengambil sampel tanah pada tiap-tiap horizon dengan menggunakan pisau lapang, lalu amati: a. Kejelasan topografi (lihat lebar peralihan antara horizon pertama dan kedua, dan seterusnya lalu ukur dengan menggunakan meteran untuk mengetahui tingkat kejelasan topografi horison tersebut) b. Bentuk topografi (lihat garis perbatasan antara horison pertama dengan horison kedua lalu lihat bentuk garis tersebut, berombak, tidak teratur atau terputus) berbentuk lurus teratur,

c. Warna tanah (cocokkan warna sampel tanah yang diuji dengan warna yang terdapat dalam buku Musell colour chart, kemudian lihat nilai hue, value dan chroma untuk dapat menentukan warna tanah tersebut) d. Tekstur tanah (sampel diberi sedikit air, kemudian tanah dipirit dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk, sambil dirasakan persentase halus kasarnya tanah) e. Konsistensi tanah (tekan sampel tanah secara pelan, sedang, dan kuat. Kemudian lihat konsistensinya dalam keadaan lembab dan basah, dalam keadaan lembab apakah tanah memiliki konsistensi yag gembur, teguh, sangat teguh, atau sangat teguh sekali dan keadaan basah apakah tanah konsistensi yang tidak lekat, agak lekat atau sangat lekat) f. Struktur tanah (remas sampel kemudian perhatikan struktur tanah yang dihasilkan dari remasan tersebut) g. Perakaran (melihat perbandingan perakaran yang kasar dengan akar yang halus dalam masing-masing horison)

2.6 Tabulasi Data Tabulasi adalah proses menempatkan data dalam bentuk tabel dengan cara membuat tabel yang berisikan data sesuai dengan kebutuhan analisis. Tabel yang dibuat sebaiknya mampu meringkas semua data yang akan dianalisis. Langkah langkah yang dilakukan adalah: a) Menyiapkan data survei tanah b) Membuat tabel dan memasukkan data c) Satu table dengan posisi mendatar (horizontal) agar memudahkan untuk membaca dan menginterpretasikannya d) Antara lereng yang satu dengan yang lainnya dibuat dalam posisi vertikal untuk memudahkan dalam membedakannya.

Berikut ini merupakan tabulasi data hasil fieldwork K2 : Horizon 1 Penciri Tekstur Struktur Konsistensi Agak lekat, Agak plastis Gembur Lembab Warna 10 YR 3/6 Lereng 18 0 33 % Relief Berbukit 15 30 % 30 300 m Kedalaman efektif 66 cm Pori Meso Erosi Basah Jenis Derajat Tekstur Struktur Konsistensi Basah Alur Sedang Lempung berpasir Gumpal membulat Lekat ,plastis Teguh 10 YR 2/1 14 0 18 % Berbukit kecil 15 30 % 10 50 m 66 cm Meso Alur Sedang Lempung berliat Gumpal membulat Lekat ,plastis Teguh 10 YR 3/1 14 0 18 % Berbukit kecil 15 30 % 10 50 m 66 cm Meso Alur Sedang Pasir berlempung Gumpal bersudut Lekat ,plastis Teguh 10 YR 4/2 16 0 25 % Berbukit kecil 15 30 % 10 50 m 63 cm Titik 1 (Lereng Atas) Lempung berpasir Gumpal membulat Titik 2 (Lereng Bawah ) Lempung berliat Gumpal membulat Titik 3 (Lereng Tengah) Lempung liat berpasir Gumpal membulat

Alur Sedang Lempung berpasir Gumpal membulat Lekat ,plastis Teguh 10 YR 4/3 16 0 25 % Berbukit kecil 15 30 % 10 50 m 63 cm Mikro Alur Sedang Lempung berpasir Gumpal membulat Agak lekat ,

Agak lekat,agak plastis Gembur Lembab Warna 10 YR Lereng 18 0 33 % Relief Berbukit 15 30 % 30 300 m Kedalaman efektif 66 cm Pori Meso Erosi Alur Jenis Sedang Derajat Tekstur Lempung berliat Struktur Konsistensi Basah Gumpal membulat lekat, plastis

Agak lekat , agak

Lembab Warna Lereng Relief

Teguh 10 YR 3/3 18 0 33 % Berbukit 15 30 % 30 300 m Kedalaman efektif 66 cm Pori Mikro Erosi Alur Jenis Sedang Derajat Tekstur Lempung berliat Struktur Konsistensi Basah Lembab Warna Lereng Relief Gumpal membulat lekat, plastis

plastis Gembur 10 YR 4/3 14 0 18 % Berbukit kecil 15 30 % 10 50 m 66 cm Makro Alur Sedang Pasir berlempung Gumpal bersudut

agak plastis Teguh 10 YR 4/4 16 0 25 % Berbukit kecil 15 30 % 10 50 m 63 cm Meso Alur Sedang Lempung berpasir Gumpal membulat Agak lekat, agak plastis Teguh 10 YR 4/6 16 0 25 % Berbukit kecil 15 30 % 10 50 m 63 cm Meso Alur Sedang

Teguh 10 YR 3/2 18 0 33 % Berbukit 15 30 % 30 300 m Kedalaman efektif 66 cm Pori Mikro Erosi Alur Jenis Sedang Derajat

Agak lekat, agak plastis Gembur 10 YR 14 0 18 % Berbukit kecil 15 30 % 10 50 m 66 cm Meso Alur Sedang

2.7 Evaluasi Lahan dan Analisis Usahatani Urutan kegiatan dalam evaluasi lahan antara lain : evaluasi kemampuan lahan, evaluasi kesesuaian lahan, dan analisis kelas kesuburan tanah. Langkah-langkah kegiatannya adalah : a) Evaluasi Kemampuan Lahan Pengkelasan data-data pengukuran lapangan di tiap satuan lahan Cocokkan informasi data lapangan dengan tabel kemampuan lahan Penentuan faktor pembatas dengan melihat faktor yang memiliki potensi kerusakan lahan terberat Penentuan kelas dan subkelas kemampuan lahan

Penyusunan arahan penggunaan lahan berdasarkan kelas kemampuan lahan b) Evaluasi Kesesuaian Lahan Isikan data lapangan ke dalam tabel isian evaluasi kesesuaian lahan Cocokkan data lapangan ke dalam persyaratan tumbuh suatu tanaman Tentukan kelas kesesuaian lahan tiap karakteristik lahannya Tentukan faktor pembatas terberat yang ditentukan dari karakteristik lahan yang dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan tanaman Tentukan kelas kesesuaian lahannya c) Analisis Kelas Kesuburan Tanah Isikan data lapangan (karakteristik lahan) ke dalam tabel isian kemampuan kesuburan tanah Tentukan tipe kesuburan tanahnya berdasarkan karakteristik di lapisan tanah atas Tentukan tipe/subtipe kesuburan tanahnya berdasarkan karakteristik di lapisan tanah bawah Tentukan unit (kondisi modifier) berdasarkan kendala kesuburan tanah yang ada Tentukan kelas kemampuan kesuburan tanahnya Analisis usaha digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan suatu jenis usaha yang dilakukan, menilai kelangsungan usaha, stabilitas, profitabilitas dari suatu usaha.Langkah-langkah yang dilakukan adalah : a) Melakukan wawancara dengan petani b) Menggali data yang diperlukan untuk menganalisis usahatani c) Memasukkan data kedalam perhitungan : Analisislaba rugi Revenue cost ratio (RC Ratio) Break even point (BEP), dll d) Menginterpretasikanhasilperhitungan

BAB III HASIL

3.1 Fisiografi Lahan (Land Use, Lereng, Relief, Erosi, Batuan Permukaan) Titik Atas Landuse Pohon pinus Rumput gajah 14o 18% Lereng 18
o

Relief Berbukit 15-30% 30-300 m

Erosi Jenis Alur Derajat Sedang

Batuan permukaan Tidak berbatu 0%

33%

Bawah

Kubis Wortel Pillo dendron

Berbukit kecil 15-30% 10-50 m

Alur

Sedang

Sedikit berbatu <2%

Tengah

Pohon pinus Ketela pohon Rumput gajah

16o 25%

Berbukit kecil 15-30% 10-50 m

Alur

Sedang

Tidak berbatu 0%

10

3.2 Morfologi Tanah (Warna, Tekstur, Struktur, Konsistensi, Perakaran, Pori, Drainase, Permeabilitas, Bahan Kasar, Top Soil dan Sub Soil) a. Titik 1: Lereng Atas Hasil Titik Atas Gambar

H1 H2

20 38

H3
59

H4
66 Kondisi Perakaran = 0-66 cm

Warna

Struktur

Tekstur

Konsistensi Basah Lembab Gembur

Pori Dominan Meso

H A. 0 20 cm 10 YR 3/6 H Bt1. 20 38 cm 10 YR H Bt2. 38 59 cm 10 YR 3/3 H Bt3.

Gumpal Membulat

Lempung Berpasir

Agak Lekat

Agak Plastis

Gumpal Membulat

Lempung Berpasir

Agak Lekat

Agak Plastis

Gembur

Meso

Gumpal Membulat

Lempung Berliat

Lekat

Plastis

Teguh

Mikro

Gumpal

Lempung Berliat

Lekat

Plastis

Teguh

Mikro

59 66 cm Membulat 10 YR 3/2

11

Titik

Drainase

Permeabilitas

Bahan Kasar

Top soil

Sub Soil

Atas

Agak Baik

Sedang

Tidak ada

Horiszon A (0-20 cm)

Horizon (Bt) 20-66 cm

b. Titik 2: Lereng Bawah Hasil Titik Bawah Gambar

H1
25

H2
39

H3
57

H4
66
Kondisi Perakaran = 0 66 cm

Warna

Struktur

Tekstur

Konsistensi Basah Lembab Teguh

Pori Dominan Meso

H Ap. 0 25 cm 10 YR 2/1 H Bw1. 25 39 cm 10 YR 3/1

Gumpal Membulat

Lempung Berliat

Lekat

Plastis

Gumpal Membulat

Lempung Berliat

Lekat

Plastis

Teguh

Meso

12

H Bw2. 39 57 cm 10 YR 4/3 H C. 57 66 cm 10 YR

Gumpal Bersudut

Pasir Berlempung

Agak Lekat

Agak Plastis

Gembur

Makro

Gumpal Bersudut

Pasir Berlempung

Agak Lekat

Agak Plastis

Gembur

Makro

Titik Bawah

Drainase Permeabilitas Bahan Kasar baik Cepat Tidak ada

Top soil Horizon (Ap) 0- 25 cm

Sub Soil Horizon (Bw) 25- 66 cm

c. Titik 3: Lereng Tengah Hasil Titik Tengah Gambar

H1 H2 H3 H4

0 26 38 50 63

Kondisi Perakaran = 0 63 cm

13

Warna

Struktur

Tekstur

Konsistensi Basah Lembab Teguh

Pori Dominan Mikro

H. Ap 0 26 cm 10 YR 4/2 H Bw1 26 38 cm 10 YR 4/3 H Bw2. 38 50 cm 10 YR 4/4

Gumpal Membulat

Lempung Liat Berpasir

Lekat

Plastis

Gumpal Membulat

Lempung Liat Berpasir

Lekat

Plastis

Teguh

Mikro

Gumpal Membulat

Lempung Berpasir

Agak Lekat

Agak Plastis

Teguh

Meso

H C. 50 Gumpal 63 10 YR 4/6 Membulat

Lempung Berpasir

Agak Lekat

Agak Plastis

Teguh

Meso

Titik Tengah

Drainase Sedang

Permeabilitas Agak Cepat

Bahan Kasar Tidak Ada

Top soil Horizon (Ap) 0-26 cm

Sub Soil Horizon (Bw) 2663 cm

3.3 Kelas Kemampuan Lahan 1. Poin Pengamatan I (Lereng Atas) No Faktor Pembatas Kelas Kemampuan Lahan Data 1. Tekstur tanah (t) a. Lapisan Atas b. Lapisan Bawah 2. 3. 4. 5. Lereng (%) Drainase Kedalaman tanah Tingkat Erosi Lempung berpasir Lempung berliat 33 % Baik 66 cm Ringan t4 t2 l4 d0 k2 e1 IV I VI I IV III Kode Kelas

14

6. 7.

Batu/Kerikil Bahaya Banjir

Tidak berbatu Tidak ada

b0 o0

III I VI l4 VI, l

Kelas Kemampuan Lahan Faktor Pembatas Sub Kelas Kemampuan

2. Point Pengamatan II (Lereng Bawah) No Faktor Pembatas Kelas Kemampuan Lahan Data 1. Tekstur tanah (t) a. Lapisan Atas b. Lapisan Bawah 2. 3. 4. 5. 6. 7. Lereng (%) Drainase Kedalaman tanah Tingkat Erosi Batu/Kerikil Bahaya Banjir Lempung berliat Lempung Berpasir 14 % Agak baik 63 cm Sedang Sedikit Kadang-kadang t2 t4 l3 d1 k2 e2 b1 o1 I III III I IV IV IV II IV k2 , e2, b1 IV, keb Kode Kelas

Kelas Kemampuan Lahan Faktor Pembatas Sub Kelas Kemampuan

3. Point Pengamatan III (Lereng Tengah) No Faktor Pembatas Kelas Kemampuan Lahan Data 1. Tekstur tanah (t) a. Lapisan Atas b. Lapisan Bawah 2. 3. 4. 5. 6. Lereng (%) Drainase Kedalaman tanah Tingkat Erosi Batu/Kerikil Lempung liat berpasir Lempung berpasir 25 % Agak buruk 63 cm Sedang Tidak berbatu t2 t4 l3 d2 k2 e2 b0 I III IV II IV IV III Kode Kelas

15

7.

Bahaya Banjir

Tidak ada

o0

I IV l3, k2, e2, IV, lke

Kelas Kemampuan Lahan Faktor Pembatas Sub Kelas Kemampuan

3.4 Kelas Kesesuaian Lahan Lahan Lereng Atas Kriteria lahan aktual tanaman pinus Kelas kesesuaian lahan aktual Kesesuaian lahan actual adalah kesesuaian lahan berdasarkan data sifat biofisik tanah atau sumberdaya lahan sebelum lahan tersebut diberikan masukan masukan yang diperlukan untuk mengatasi kendala. Data biofisik tersebut berupa karakteristik tanah dan iklim yang berhubungan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang dievaluasi. Dapat diketahui komoditas yang ada pada saat itu yaitu pada lereng tengah adalah jeruk Sunkist, lereng atas adalah tanaman pinus dan lereng bawah adalah tanaman kubis. Berikut ini adalah table kesesuaian masingmasing lereng.

16

17

Kesesuaian Lahan Tanaman Pinus Persyaratan Penggunaan/Karakteristik Lahan Temperatur (tc) Temperatur rerata (0C) Ketersediaan Air (wa) Curah Hujan (mm) pada masa pertumbuhan Kelembaban (%) Ketersediaan oksigen (oa) Drainase Media perakaran (rc) Tekstur Bahan Kasar (%) Kedalaman Tanah (cm) Bahaya erosi (eh) Lereng (%) Bahaya erosi Bahaya banjir Genangan Penyiapan lahan (lp) Batuan di permukaan (%) Singkapan batuan (%) KELAS KESESUAIAN LAHAN FAKTOR PEMBATAS SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN N Eh N eh 0% S1 33 % Ringan N S2 66 cm S3 Agak halus S1 Baik S1 Data SPL 1 Kelas

18

Kesesuaian Lahan Potensial Kriteria kesesuaian tanaman karet

19

Kesesuaian lahan potensial tanaman karet Persyaratan Penggunaan/Karakteristik Lahan Temperatur (tc) Temperatur rerata (0C) Ketersediaan Air (wa) Curah Hujan (mm) pada masa pertumbuhan Kelembaban (%) Ketersediaan oksigen (oa) Drainase Media perakaran (rc) Tekstur Bahan Kasar (%) Kedalaman Tanah (cm) Bahaya erosi (eh) Lereng (%) Bahaya erosi Bahaya banjir Genangan Penyiapan lahan (lp) Batuan di permukaan (%) Singkapan batuan (%) KELAS KESESUAIAN LAHAN FAKTOR PEMBATAS SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN S3 eh, rc S3 eh, rc 0% S1 33 % Ringan S3 S2 66 cm S3 Agak halus S1 Baik S1 Data SPL 1 Kelas

20

Lahan LerengBawah Komoditas: Kubis (Brassica oleracea L.) Tabel Kriteria Kesesuaian lahan Kubis

21

Kesesuaian Lahan Tanaman Kubis Persyaratan Penggunaan/Karakteristik Lahan Temperatur (tc) Temperatur rerata (0C) Ketersediaan Air (wa) Curah Hujan (mm) pada masa Data SPL 1 Kelas

pertumbuhan Kelembaban (%) Ketersediaan oksigen (oa) Drainase Media perakaran (rc) Tekstur Bahan Kasar (%) Kedalaman Tanah (cm) Bahaya erosi (eh) Lereng (%) Bahaya erosi Bahaya banjir Genangan Penyiapan lahan (lp) Batuan di permukaan (%0 Singkapan batuan (%) KELAS KESESUAIAN LAHAN FAKTOR PEMBATAS SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN 2-5 % S1 S2 eh S2 eh 14% Sedang S2 S2 Halus 66 cm S1 S3 Agak Baik S1 -

Pada lahan lereng baawah tidak diperlukan perubahan tanaman, dikarenakan pada lahan tersebut sudah sesuai jika ditanami tanaman kubis. Namun hal ini perlu dilakukan konservasi lahan dengan cara di bentuk terasering.

22

Lahan Lereng Tengah Komoditas : Ubi Kayu (Manihot esculenta) Tabel kriteria kesuaian lahan Ubi Kayu (Manihot esculenta)
Persyaratan penggunaan/ karakteristik lahan Temperatur (tc) Temperatur rerata (C) Ketersediaan air (wa) Curah hujan (mm) Lama bulan kering (bln) Ketersediaan oksigen (oa) Drainase Media perakaran (rc) Tekstur Bahan kasar (%) Kedalaman tanah (cm) Gambut: Ketebalan (cm) Ketebalan (cm), jika ada sisipan bahan mineral/ pengkayaan Kematangan Retensi hara (nr) KTK liat (cmol) Kejenuhan basa (%) pH H2O C-organik (%) Toksisitas (xc) Salinitas (dS/m) Sodisitas (xn) Alkalinitas/ESP (%) Bahaya sulfidik (xs) Kedalaman sulfidik (cm) Bahaya erosi (eh) Lereng (%) Bahaya erosi Bahaya banjir (fh) Genangan Penyiapan lahan (lp) Batuan di permukaan (%) Singkapan batuan (%) agak halus, sedang < 15 > 100 < 60 < 140 halus, agak kasar 15 - 35 75 - 100 60 - 140 140 - 200 saprik, hemik+ 16 < 20 4,8 - 5,2 7,0 - 7,6 0,8 2-3 75 - 100 8 - 16 rendah - sedang 5 - 15 5 - 15 sangat halus 35 - 55 50 - 75 140 - 200 200 - 400 hemik, fibrik+ kasar > 55 < 50 > 200 > 400 1.000 - 2.000 3,5 - 5 baik, agak terhambat 600 - 1.000 2.000 - 3.000 5-6 500 - 600 3.000 -5.000 6-7 < 500 > 5.000 >7 sangat terhambat, cepat Kelas kesesuaian lahan S1 S2 S3 18 - 20 30 - 35 N < 18 > 35

22 - 28

28 - 30

agak cepat, sedang

terhambat

saprik+

fibrik

> 16 20 5,2 - 7,0 > 0,8 <2 > 100 <8 sangat rendah F0 <5 <5

< 4,8 > 7,6

3-4 40 - 75 16 - 30 berat F1 15 - 40 15 - 25

>4 < 40 > 30 sangat berat > F1 > 40 > 25

23

Kesesuaian lahan Ubi Kayu (Manihot esculenta) Persyaratan Penggunaan/Karakteristik Lahan Temperatur (tc) Temperatur rerata (0C) Ketersediaan Air (wa) Curah Hujan (mm) pada masa Data SPL 1 Kelas

pertumbuhan Kelembaban (%) Ketersediaan oksigen (oa) Drainase Media perakaran (rc) Tekstur Bahan Kasar (%) Kedalaman Tanah (cm) Bahaya erosi (eh) Lereng (%) Bahaya erosi Bahaya banjir Genangan Penyiapan lahan (lp) Batuan di permukaan (%0 Singkapan batuan (%) KELAS KESESUAIAN LAHAN FAKTOR PEMBATAS SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN 0% S1 S3 rc, eh S3 rc, eh 25 % Sedang S3 S2 63 cm S3 Agak Kasar S2 Agak Buruk S2 -

24

Kesesuaian Lahan Potensial Kriteria kesesuaian lahan potensial tanaman Kapas (Gossypium hirsutum)

25

kesesuaian lahan potensial tanaman Kapas (Gossypium hirsutum) Persyaratan Penggunaan/Karakteristik Lahan Temperatur (tc) Temperatur rerata (0C) Ketersediaan Air (wa) Curah Hujan (mm) pada masa Data SPL 1 Kelas

pertumbuhan Kelembaban (%) Ketersediaan oksigen (oa) Drainase Media perakaran (rc) Tekstur Bahan Kasar (%) Kedalaman Tanah (cm) Bahaya erosi (eh) Lereng (%) Bahaya erosi Bahaya banjir Genangan Penyiapan lahan (lp) Batuan di permukaan (%0 Singkapan batuan (%) KELAS KESESUAIAN LAHAN FAKTOR PEMBATAS SUB KELAS KESESUAIAN LAHAN 0% S1 S3 eh S3 eh 25 % Sedang S3 S2 63 cm S2 Agak Kasar S2 Agak Buruk S2 -

3.5 Hasil Kompilasi Data Usahatani Dalam Survey Tanah dan Evaluasi Lahan yang dilakukan terdapat beberapa petani yang melakukan usahatani di wilayah tersebut, yang terbagi atas tiga lahan yang berbeda. Seperti bagian pada pengamatan lahan di titik 4 bagian atas, bawah

26

dan tengah berikut data usahatani yang kami dapatkan dari wawancara dengan petani penggarap maupun pemilik lahan di daerah setempat. Titik 1 : Data Usahatani Lahan Atas Berdasarkan hasil survey yang kami lakukan di lahan pertama yaitu pada lahan atas, lahan tersebut bukan milik petani melainkan milik perhutani, sehingga disini tidak dilakukan wawancara dengan pihak perhutani. Lereng Atas Nama responden Umur Alamat : Bapak Durmanam : 64 tahun : Desa Punten, RT03 RW02, Kecamatan Bumiaji, Kabupaten Batu, Malang Pekerjaan utama Jumlah anggota keluarga Status kepemilikan lahan Luas lahan Komoditas yang ditanam : Buruh tani :4 : punya sendiri : 0,125 ha : tanaman ucet dan tanaman jahe

Analisis usahatani 3 kali masa panen : Biaya tetap (TFC) : per tahun 3 kali masa panen (informasi biaya) No Nama Jumlah Komoditas Proporsional Harga Penggunaan Awal (Rp) 1 2 Cangkul Sabit 3 buah 3 buah Tanaman ucet Tanaman jahe Tanaman ucet Keterangan: Rumus Nilai Penyusutan tiap alat: harga beli/umur ekonomis(th) x proporsional penggunaan x jumlah satuan. Rumus sewa lahan: nilai sewa lahan x proporsional penggunaan Dalam satu tahun terdapat tiga kali masa produksi untuk tanaman jagung, dan sekali masa produksi untuk tanaman singkong, dengan asumsi setiap kali produksi selalu sama TC dan TR-nya (sesuai pernyataan Bapak Durmanam). 2/3 alat 1/3 alat 2/3 alat 100.000 15.000 Umur Ekonomis (th) 6 6

27

a) TFC tanaman ucet : No Perincian Satuan Harga satuan (Rp) Jumlah pengeluaran 1. Penyusutan alat: Cangkul Sabit 3 3 11.111 833 33.333 2.499 35.832 Nilai (Rp)

b) TFC tanaman jahe : No Perincian Satuan Harga satuan (Rp) Jumlah pengeluaran 1. Penyusutan alat: Sabit 3 833 2.499 2.499 Nilai (Rp)

Biaya variabel (TVC) : per tahun (3 kali masa panen)

a) TVC tanaman ucet : No Perincian Satuan Harga satuan (Rp) Jumlah pengeluaran 1. 2. Benih Pupuk phonska Pupuk kandang 2 kg x 1 = 2 kg 1 x 5 kg = 5 kg 2 karung x 3 = 6 karung 4.500 2.000 5.000 9.000 10.000 30.000 49.000 Nilai (Rp)

28

b) TVC tanaman jahe : No Perincian Satuan Harga satuan (Rp) Jumlah pengeluaran 1. 2. Benih Pupuk urea Pupuk kandang 2 kg x 1 = 2 kg 2 x 5 kg = 10 kg 2 karung x 3 = 6 karung 3. Pestisida ditan 1 liter 7.500 7.500 2.000 3.000 5.000 71.500 4.000 30.000 30.000 Nilai (Rp)

Total Biaya (TC) a) TC tanaman ucet = TFC + TVC (tanaman ucet) = 35.832 + 49.000 = 84.832 b) TC tanaman jahe = TFC + TVC (tanaman jahe) = 2.499 + 71.500 = 73.999

Total Penerimaan (TR) Usahatani Bapak Durmanam : a) TR tanaman ucet =PxQ = 3000 x 150 = 450.000 b) TR tanaman jahe =PxQ = 15.000 x 150 = 2.250.000

Total keuntungan () Usahatani Bapak Darmanam a) tanaman ucet = TR TC = 450.000 84.832 = 365.168 b) tanaman jahe = TR TC = 2.250.000 73.999 = 2.176.001

Total keuntungan keseluruhan

= tanaman ucet + tanaman jahe = 365.168 + 2.176.001

29

= 2.541.169 Analisis BEP : a) Analisis BEP tanaman ucet TFC/tahun = Rp 35.832

TFC/produksi = 35.832/3 = Rp 11.944 P TVC/tahun = Rp 3.000 = Rp 49.000

TVC/produksi = 49.000/3 = Rp 16.333,33 TVC/unit TC/tahun TC/produksi BEP unit = 16.333,33/ (150) = Rp 108,88 = Rp 84.832 = 84.832/3 = 28.277,33 = 4,13 kg BEP rupiah = = Rp 28.277,33/150 = Rp 188,51 = 11.944/3.000 108,88 = 11.944/2891,12 =

Analisis RC Ratio R/C Ratio b) = TR/TC = 450.000/84.832 = 5,3

Analisis BEP tanaman jahe TFC/tahun = Rp 35.832

TFC/produksi = 35.832/3 = Rp 11.944 P TVC/tahun = Rp 3.000 = Rp 49.000

TVC/produksi = 49.000/3 = Rp 16.333,33 TVC/unit TC/tahun TC/produksi BEP unit = 16.333,33/ (150) = Rp 108,88 = Rp 84.832 = 84.832/3 = 28.277,33 = 4,13 kg BEP rupiah = = Rp 28.277,33/150 = Rp 188,51 = 11.944/3.000 108,88 = 11.944/2891,12 =

Analisis RC Ratio R/C Ratio = TR/TC = 450.000/84.832 = 5,3

30

Titik 2: Data Usahatani Lahan Bawah Nama Petani Desa Dusun RT/RW Kota / Kab Propinsi Komoditas : Pak Maskuri : Punten : Payan Geneng, Sawah Dukuh : 04 / 03 : Batu : Jawa Timur : Sayur (Kubis, Wortel, dan Jagung)

A. Sejarah Usahatani Sejarah pertanian di daerah ini dimulai sejak dahulu yang melakukan bercocok tanam sayuran, seperti wortel dan sawi daging. Usahatani di lahan ini sudah turun temurun dari orang tua petani responden yang mengelolah lahan budidaya sayuran ini. Hingga kini petani responden yang melanjutkan usahatani yang diwariskan kepada beliau namun beliau tidak sepenuhnya mengandalkan hasil panen dari lahan tersebut karena beliau telah memiliki pekerjaan sebagai karyawan di selekta. Hal ini membuat usahatani yang dilakukan lebih kepada pemenuhan kebutuhan sehari-hari keluarga petani responden saja. B. Data Petani Responden 1. Nama 2. Umur 3. Pendidikan 4. Pekerjaan Utama 5. Pekerjaan Sampingan 6. Jumlah anggota keluarga : Pak Maskuri : 43 tahun : MAN hingga kelas 2 : Karyawan Selekta : Ternak Sapi : 4 Jiwa

7. Penguasaan Lahan Garapan Pertanian Tabel Data Luas Penguasaan Lahan Pertanian No 1 Keterangan Milik sendiri -digarap sendiri -disewakan -dibagi-hasilkan jumlah (a) 1 1 Ada Ada Jenis Lahan (Ha) Sawah Tegal/Kebun Pekarangan Jumlah 450 m2 = sawah 3 ha = tegal

31

milik orang lain -disewakan -dibagi-hasilkan jumlah (b) jumlah (a+b)

8.

Kepemilikan Ternak Tabel Data Kepemilikan Ternak

No. 1 2 3 Sapi Kambing Ayam

Jenis Ternak

Jumlah 4

50

C. Usahatani (Kegiatan Bercocok Tanam) 1. Komoditas 2. Pola Tanam : Wortel , Sawi, dan Jagung : Rotasi Tanaman

D. Biaya, Penerimaan, Dan Keuntungan Usahatani 1. Biaya Tetap No. Uraian Jumlah (Unit) 1. 2. 3. Sewa Lahan/ Pajak Sewa Alat Penyusutan Alat: Cangkul Sabit Garpu Jumlah 4 6 1 Rp 2.600,Rp 2.500,Rp 2.200,Rp 14.400,Rp 15.000,Rp 2.200,Rp 47.600,Rp 16.000,Harga (Rp) Biaya (Rp)

32

2. Biaya Variabel No. 1. Uraian Benih/ Bibit Jumlah (Unit) 1 Kw Harga (Rp) Rp 5.000,- / set kg 2. Pupuk - Organik - Urea 3. 4. 5. 6. Obat-obatan Tenaga Kerja Air Listrik Jumlah 20 Kg 2 Botol Rp 4.000,- / kg Rp 25.000,Rp 25.000,Rp 80.000,Rp 50.000,Rp 655.000,Biaya (Rp) Rp 500.000,-

3. Total Biaya Total Biaya Usahatani = Biaya Tetap + Biaya Variabel = Rp 47.600 + Rp 655.000 = Rp 702.600,4. Penerimaan Produksi Wortel Harga Wortel = 470 Kg = Rp 3.200,-

Penerimaan Usahatani Wortel = Rp 1.504.000,5. Keuntungan a. Modal b. Penerimaan c. Keuntungan : Rp 750.000,: Rp 1.504.000,: Rp 754.000,-

E. Pemasaran Hasil Pertanian No. Uraian Jumlah Unit % Pemasaran Lembaga Pemasaran 1. Dikonsumsi Sendiri: Jagung Wortel Tengkulak Diambil Tidak membutuhkan Lokasi Alasan

33

Sawi Daging

biaya transport asi.

2.

Dijual

Titik 3 Data Usahatani Lahan Tengah Nama Petani Desa Dusun : Pak Abdul Rokhim : Punten : Payan Geneng, Sawah Dukuh

RT/RW : 04 / 03 Kota / Kab : Batu

Propinsi : Jawa Timur Komoditas : Jeruk Keprok

A. Sejarah Usahatani Menurut petani responden, sejarah usahatani ini merupakan hibah dari orang tua beliau. Sehingga beliau tinggal melanjutkan usahatani jeruk keprok yang telah dilakukan secara turun temurun. B. Data Petani Responden 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Nama Umur Pendidikan Pekerjaan Utama Pekerjaan Sampingan Jumlah anggota keluarga : Pak Abdul Rokhim : 44 tahun : SLTP : Karyawan Selekta : Ternak Kambing dan Ayam : 4 Jiwa

Penguasaan Lahan Garapan Pertanian Kepemilikan Ternak Tabel Data Kepemilikan Ternak

No. 1 2 3 Sapi Kambing Ayam

Jenis Ternak

Jumlah

8 2

34

C.

Usahatani 1. Komoditas 2. Pola Tanam : Jeruk Keprok : Tumpang sari dengan Jambu Biji

D. Biaya, Penerimaan dan Keuntungan Usahatani 1. Biaya Tetap No. 1. 2. 3. Uraian Sewa Lahan/ Pajak Sewa Alat Penyusutan Alat: Cangkul Sabit Garpu Jumlah 2 3 1 Rp 2.600,Rp 2.500,Rp 2.200,Rp 5.200,Rp 7.500,Rp 2.200,Rp 29.900,Jumlah (Unit) Harga (Rp) Biaya (Rp) Rp 15.000,-

2. Biaya Variabel No. Uraian 1. 2. Benih/ Bibit Pupuk - Organik - NPK 3. 4. 5. 6. Obat-obatan Tenaga Kerja Air Listrik 10 Kg 25 Kg < Botol Jumlah Rp 25.000,0 Rp 115.000,- per sak Rp 63.000,- / Botol Rp 5.000,Rp115.000,Rp 15.000,Rp 435.000,Jumlah (Unit) 60 Bibit Harga (Rp) Rp 5.000,- / Bibit Biaya (Rp) Rp 300.000,-

3. Total Biaya Total Biaya Usahatani = Biaya Tetap + Biaya Variabel = Rp 29.900 + Rp 435.000 = Rp 469.900,4. Penerimaan Produksi Jeruk Keprok : 300 Kg

35

Harga Jeruk Keprok Pendapatan 5. Keuntungan a. Modal b. Pendapatan c. Keuntungan

: Rp 8.000,: Rp 2.400.000,-

: Rp 500.000,: Rp 2.400.000,: Rp 1.900.000,-

E. No.

Pemasaran Uraian Jumlah Unit % Pemasaran Lembaga Pemasaran Lokasi Alasan

1. 2.

Dikonsumsi Sendiri: Dijual Jeruk Keprok 3 Kw Tengkulak Di Antar Lebih Praktis Ke Pasar dan Tidak

membutuhka n biaya

Transportasi.

36

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Penjelasan

Fisiografi

Lahan

(Perbedaan

Antar

Titik,

Faktor

Yang

Mempengaruhi) Dari hasil pengamatan terhadap ketiga titik yaitu titik atas, bawah dan tengah terdapat perbedaan landuse, lereng, relief dan batuan permukaan. Sedangkan untuk tingkat erosi sama. Berikut ini adalah penjelasan perbedaan antar titik tersebut: a. Landuse Perbedaan landuse antara ketiga titik dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain karena perbadaan fungsi dari penggunaan lahan tersebut. Titik atas yaitu lahan hutan, landuse berupa pohon pinus dan rumput gajah. Hal ini berkaitan erat dengan fungsi hutan sebagai fungsi lindung terhadap sumber daya alam yang ada disekitarnya. Apabila fungsi ini tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka potensi terjadinya bencana alam di lingkungan yang ada dibawahnya sulit dihindari, dan potensi kerusakan lingkungan sulit untuk ditanggulangi. Selain itu dengan adanya hutan ini mampu menjaga ekosistem alami didesa tersebut. Karena di wilayah Punten mayoritas masyarakat di desa tersebut menjadi petani. Penggunaan landuse berupa pohon pinus ditanam di titik atas dikarenakan untuk menahan erosi dan mencegah sedimentasi. Selain itu pada titik atas juga terdapat semak seperti rumput gajah. Rumput gajah tersebut dapat digunakan sebagai makanan ternak atau bahkan dijual kepada petani lain yang membutuhkan serta dengan adanya rumput gajah juga akan dapat mengurangi tingkat erosi terutama di lereng atas. Sedangkan di titik tengah, landuse berupa pohon pinus, rumput gajah dan ketela pohon. Di titik ini sudah terdapat pengolahan tanah. Penanaman ketela pohon ini dimungkinkan karena pada titik tengah masih mudah untuk dilakukan pengolahan, perawatan dan pemanenan. Tanaman tersebut dapat ditanam di lereng tengah walaupun berada pada lahan miring. Kondisi lahan tersebut tidak terlalu basah dan drainase cukup baik, sehingga dalam kondisi yang berlereng pun dapat digunakan untuk penanaman tanaman semusim misalnya ketela pohon dan tanaman tahunan misalnya pinus. Sama seperti lereng atas, pada lereng tengah juga ditemukan rumput gajah yang dapat mengurangi tingkat erosi dan memiliki nilai ekonomi.

37

Pada titik bawah landuse berupa tanaman semusim yakni kubis dan wortel serta tanaman Pillodendron. Tanaman-tanaman tersebut ditanam di lereng bawah karena lereng bawah memiliki tingkat kelerengan yang cukup landai, drainase yang baik, dan lebih datar dari pada lereng tengah dan lereng atas. Selain itu, lereng bawah mudah dijangkau oleh petani sehingga mudah untuk dilakukan pengolahan dan pemanenan. b. Lereng Dari segi kelerengan, terdapat perbedaan kelerengan antar tiga titik. Yaitu 18 33% pada lereng atas, 14o 18% pada lereng tengah dan 16o 25% pada lereng bawah. Perbedaan tersebut disebabkan karena adanya perbedaan ketinggian tempat. Semakin tinggi tempat tersebut maka kelerengannya semakin curam. c. Relief Dari ketiga lereng yaitu lereng yaitu lereng atas, bawah dan tengah memilki relief yang tidak sama. Relief pada lereng atas berbukit 15-30% 30-300 m, sedangkan untuk lereng tengah dan bawah memilki relief yang sama yaitu berbukit kecil 15-30% 10-50 m. Perbedaan ini disebabkan karena perbedaan ketinggian dan kelerengan, semakin tinggi atau curam suatu tempat maka relief yang terbentuk semakin berbukit dengan tinggi relief yang berbeda. d. Erosi Erosi yang terjadi pada ketiga titik sama yaitu memiliki jenis alur dengan derajat sedang. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat kelerengan dan vegetasi yang ada di lereng tersebut. e. Batuan Permukaan Batuan permukaan yang terdapat pada ketiga titik bebeda. Pada titik atas dan tengah tidak berbatu (0%), sedangkan pada titik bawah sedikit berbatu <2%. Hal ini dipengaruhi oleh aktivitas organisme dan mikroorganisme dalam tanah. Pada titik atas dan tengah masih terdapat BOT dan terdapat banyak organisme seperti cacing, orong-orong, semut dll, sehingga aktivitas organisme berjalan dengan baik. Aktivitas tersebut dapat berpengaruh pada tingkat pengolahan tanah. Semakin banyak organisme maka akan semakin tinggi tingkat pengolahan tanah yang dilakukan oleh organisme tersebut dan selanjutnya dapat membantu pembentukan tanah dari batuan.
o

38

4.2 Penjelasan

Morfologi

Lahan

(Perbedaan

Antar

Titik,

Faktor

Yang

Mempengaruhi) Berdasarkan hasil pengamatan dari 3 titik yang di amati yaitu titik 1 di lereng atas, titik 2 di lereng bawah, dan titik 3 di lereng tengah. Pada pengamatan titik 1 (lereng atas) terdapat 4 horizon. Horizon 1 antara 0-20 cm, horizon 2 antara 20-38 cm, horizon 3 antara 38-59 cm, dan horizon 4 antara 59-66 cm. Pada pengamatan 2 (lereng bawah) terdapat 4 horizon. Horizon 1 antara 0-25 cm, horizon 2 antara 25-39 cm, horizon 3 antara 39-57 cm, dan horizon 4 antara 57-66 cm. Pada pengamatan titik 3 (lereng tengah) terdapat 4 horizon, horizon 1 antara 0-26 cm, horizon 2 antara 26-38, horizon 3 antara 38-50 cm, dan horizon 4 antara 50-63 cm. Tekstur Pada pengamatan titik 1 (Lereng atas), Tekstur yang ditemukan pada horizon 1 dan 2 adalah lempung berpasir dimana di temukan ciri-ciri rasa kasar agak jelas, membentuk bola agak keras tapi mudah hancur serta melekat. sedangkan pada horizon 3 dan 4 tekstur yang ditemukan adalah lempung berliat dengan ciri-ciri rasa agak kasar, membentuk bola agak teguh, kering, dapat sedikit di gulung jika di plirit, gulungan mudah hancur, melekatnya sedang. Pada pengamatan titik 2 (lereng bawah), tekstur pada horizon 1 dan 2 adalah lempung berliat dengan ciri- ciri rasa agak kasar, membentuk bola agak teguh, kering, dapat sedikit di gulung jika di plirit, gulungan mudah hancur, melekatnya sedang, sedangkan pada horizon 3 dan 4 adalah pasir berlempung dengan ciri-ciri rasa kasar agak jelas, membentuk bola yang mudah sekali hancur dan sedikit melekat. Pada pengamatan titik 3 (lereng tengah), tekstur yang ditemukan pada horizon 1 dan 2 adalah lempung liat berpasir dengan ciri-ciri rasa kasar agak jelas, membentuk bolateguh (kering), membentuk guludan jika di plirit, gulungan mudah hancur, dan melekat. sedangkan pada horizon 3 dan 4 teksturnya adalah lempung berpasir dengan ciri-ciri rasa kasar agak jelas,

membentuk bola agak keras tapi mudah hancur serta melekat . Struktur yang di temukan pada pengamatan titik 1 (lereng atas), Struktur pada horizon 1,2,3 dan 4 adalah gumpal membulat karena memiliki ciri-ciri menyerupai kubus dengan sudut yang membulat. Pada titik 2 (lereng bawah) struktur horizon 1 dan 2 adalah gumpal membulat ciri-ciri menyerupai kubus dengan sudut yang membulat, sedangkan pada horizon 3 dan 4 adalah gumpal bersudut dengan ciri menyerupai kubus bersuut tajam dengan sumbu horizontal setara dengan sumbu vertikal. Pada titik 3 (lereng tengah), struktur yang di temukan pada horizon 1,2,3

39

dan 4 adalah gumpal membulat karena memiliki ciri menyerupai kubus dengan sudut yang membulat . Warna yang di temukan pada pengamatan titik 1 (lereng atas). Pada horizon 1 warnanya adalah 10 YR 3/6, horizon 2 warnanya 10 YR 3/4, horizon 3 warnanya 10 YR 3/3, dan horizon 4 warnanya adalah 10 YR 3/2. Pada pengamatan titik 2 (lereng bawah), warna yang di temukan pada horizon 1 adalah 10 YR 2/1, horizon 2 warnanya adalah 10 YR 3/1, horizon 3 warnanya adalah 10 YR 4/3, dan pada horizon 4 warnanya adalah 10 YR 3/4. Sedangkan pada pengamatan titik 3 (lereng tengah), di horizon 1 warnanya adalah 10 YR 4/2, horizon 2 warnanya adalah 10 YR 4/3, horizon 3 warnanya adalah 10 YR 4/4, dan pada horizon 4 warna yang di temukan adalah 10 YR 4/6. Untuk pengamatan konsistensi menggunakan konsistensi basah dan lembab. Pada titik 1 (lereng atas), Pada horizon 1 dan 2 konsistensinya sama, konsistensi basahnya di temukan agak lekat karena pada saat pengamatan tanah yang tertinggal di tangan hanya sedikit dan agak plastis karena terbentuk gelintir tanah dan tahan terhadap tekanan, sedangkan pada konsistensi lembabnya adalah gembur karena pada saat di remas bisa bercerai, bila di genggam massa tanah bergumpal dan melekat bila di tekan. Pada horizon 3 dan 4 konsistensinya sama, konsistensi basahnya lekat karena tanah tertinggal pada kedua belah jari dan plastis sedangkan konsistensi lembabnya adalah teguh karena massa tanah tahan terhadap remasan tak mudah berubah-ubah. Di titik 2 (lereng bawah) pada horizon 1 dan 2 konsistensi basahnya lekat karena tanah tertinggal pada kedua belah jari dan plastis, sedangkan pada konsistensi lembabnya adalah teguh karena massa tanah tahan terhadap remasan tak mudah berubah-ubah. Pada horizon 3 dan 4 konsistensinya juga sama, konsistensi basahnya adalah agak lekat karena tanah tertinggal di salah satu jari dan agak plastis karena terbentuk gelintir tanah dan tahan terhadap tekanan, sedangkan untuk konsistensi lembabnya adalah gembur karena pada saat di remas bisa bercerai, bila di genggam massa tanah bergumpal dan melekat bila di tekan. Di titik 3 (lereng tengah), horizon 1 dan 2 konsistensi basahnya adalah lekat dan plastis, sedangkan untuk konsistensi lembabnya adalah teguh. Pada horizon 3 dan 4 konsistensi basahnya adalah agak lekat karena tanah tertinggal di salah satu jari dan agak plastis karena terbentuk gelintir tanah dan tahan terhadap tekanan, sedangkan konsistensi

40

lembabnya adalah teguh karena karena massa tanah tahan terhadap remasan tak mudah berubah-ubah. Untuk permeabilitas dan drainase pada pengamatan titik 1 ( lereng atas) permeabilitasnya adalah sedang, sedangkan drainasenya agak baik. Pada titik 2 (lereng bawah) permeabilitasnya adalah cepat. Sedangkan drainasenya adalah agak baik. Pada titik 3 permeabilitasnya adalah agak cepat. Sedangkan drainasenya adalah agak buruk. Perakaran pada pengamatan titik satu (lereng atas) adalah 36 cm. Pada pengamatan titik 2 (lereng bawah) Perakaran adalah 15 cm. Pada titik 3 (lereng tengah) Perakaran adalah 26 cm. Pada pengamatan titik 1, 2, dan 3 bahan kasarnya adalah tidak ada. Karena pada setiap titik pengamatan tidak menemukan bahan kasar seperti kerikil, krokol, sampai batu. Pada pengamatan titik 1 (lereng atas) topsoil yang di temukan adalah pada horizon A dengan kedalaman 0-25 cm sedangkan subsoilnya adalah pada horizon Bt dengan kedalaman 25-66 cm. Pada pengamatan titik 2 (lereng bawah) topsoil yang di temukan adalah pada horizon Ap dengan kedalaman 0-26 cm sedangkan untuk sub soilnya adalah pada horizon Bw 26-66 cm. Pada pengamatan titik 3 (lereng tengah) top soilnya adalah pada horizon Ap dengan kedalaman 0-26 cm sedangkan untuk sub soilnya adalah horizon Bw dengan kedalaman 26-63 cm. 4.3 Kondisi Kemampuan Lahan Antar Titik Pengamatan Poin Pengamatan I (Lereng Atas) No Faktor Pembatas Kelas Kemampuan Lahan Data 1. Tekstur tanah (t) c. Lapisan Atas d. Lapisan Bawah 2. 3. 4. 5. Lereng (%) Drainase Kedalaman Efektif Tingkat Erosi Lempung berpasir Lempung berliat 33 % Baik 66 cm Ringan t4 t2 l4 d0 k1 e1 IV I VI I III III Kode Kelas

41

6. 7.

Batu/Kerikil Bahaya Banjir

Tidak berbatu Tidak ada

b0 o0

III I VI l4 VI, l4

Kelas Kemampuan Lahan Faktor Pembatas Sub Kelas Kemampuan

Dari hasil tabel kelas kemampuan lahan pertama dengan pengamatan di lereng atas, dapat disimpulkan bahwa lereng atas tergolong kelas kemampuan lahan VI dengan faktor pembatas l4 dan sub kelas kemapuan VI, l. Lahan dengan kemampuan lahan VI ini cocok digunakan untuk tanaman kayu. Tanah-tanah kelas VI yang terletak pada lereng agak curam jika digunakan untuk penggembalaan dan hutan produksi harus dikelola dengan baik untuk menghindari erosi. Beberapa tanah di dalam lahan kelas VI yang daerah perakarannya dalam, tetapi terletak pada lereng agak curam dapat digunakan untuk tanaman semusim dengan tindakan konservasi yang berat seperti, pembuatan teras bangku yang baik. Point Pengamatan II (Lereng Bawah) No Faktor Pembatas Kelas Kemampuan Lahan Data 1. Tekstur tanah (t) c. Lapisan Atas d. Lapisan Bawah 2. 3. 4. 5. 6. 7. Lereng (%) Drainase Kedalaman Efektif Tingkat Erosi Batu/Kerikil Bahaya Banjir Lempung berliat Lempung Berpasir 14 % Agak baik 66 cm Sedang Sedikit Kadang-kadang t2 t4 l3 d1 k1 e2 b1 o1 I III III I III IV IV II IV k2 , e2, b1 IV, k2, e2, b1 Kode Kelas

Kelas Kemampuan Lahan Faktor Pembatas Sub Kelas Kemampuan

42

Dari hasil tabel kelas kemampuan lahan kedua dengan pengamatan di lereng bawah, dapat disimpulkan bahwa lereng bawah tergolong kelas kemapuan lahan IV dengan faktor pembatas k2, e2, dan b1 dan sub kelas kemapuan IV keb. Jika digunakan untuk tanaman semusim diperlukan pengelolaan yang lebih hati-hati dan tindakan konservasi yang lebih sulit diterapkan dan dipelihara, seperti teras bangku, saluran bervegatasi dan dam penghambat, disamping tindakan yang dilakukan untuk memelihara kesuburan dan kondisi fisik tanah. Tanah di dalam kelas IV dapat digunakan untuk tanaman semusim dan tanaman pertanian dan pada umumnya, tanaman rumput, hutan produksi, padang penggembalaan, hutan lindung dan cagar alam. Point Pengamatan III (Lereng Tengah) No Faktor Pembatas Kelas Kemampuan Lahan Data 1. Tekstur tanah (t) c. Lapisan Atas d. Lapisan Bawah 2. 3. 4. 5. 6. 7. Lereng (%) Drainase Kedalaman Efektif Tingkat Erosi Batu/Kerikil Bahaya Banjir Lempung liat berpasir Lempung berpasir 25 % Agak buruk 63 cm Sedang Tidak berbatu Tidak ada t2 t4 l3 d2 k1 e2 b0 o0 I III IV II III IV III I IV l3, k2, e2, IV, l3, k2, e2 Kode Kelas

Kelas Kemampuan Lahan Faktor Pembatas Sub Kelas Kemampuan

Dari hasil tabel kelas kemampuan lahan ketiga dengan pengamatan di lereng tengah, dapat disimpulkan bahwa lereng tengah tergolong kelas kemapuan lahan IV dengan faktor pembatas l3, k2 dan e2 sub kelas kemapuan IV lke. Jika digunakan untuk tanaman semusim diperlukan pengelolaan yang lebih hati-hati dan tindakan konservasi yang lebih sulit diterapkan dan dipelihara, seperti teras bangku, saluran bervegatasi dan dam penghambat, disamping tindakan yang dilakukan untuk

43

memelihara kesuburan dan kondisi fisik tanah. Tanah di dalam kelas IV dapat digunakan untuk tanaman semusim dan tanaman pertanian dan pada umumnya, tanaman rumput, hutan produksi, padang penggembalaan, hutan lindung dan cagar alam.

4.4 Kondisi Kesesuaian Lahan Antar Titik Pengamatan dan Kesuaian Potensial Hasil fieltrip yang dilakuan di desa Punten yang mana dalam pengamatannya dibagi menjadi 3 lahan pengamatan yaitu sebagai berikut : Pengamatan pertama dilakukan di lahan atas dengan komoditas utama yang ditemukan adalah tanaman pinus. Dari hasil pencocokan data hasil pengamatan dengan kriteria kesesuaian lahan untuk tanaman pinus dapat diperoleh hasil bahwa kelas kesesuaiannya menunjukkan kelas N eh, yang berartikan bahwa pada lahan tersebut sangat tidak sesuai untuk dilanjutkan ditanami tanaman pinus. Hal itu dikarenakan pada kelas N, lahan tersebut mempunyai pembatas yang sangat berat, sehingga tidak mungkin digunakan bagi suatu penggunaan yang lestari. Sehingga bisa dilakukan penggunaan tanaman karet, yang mana kelas kesesuaiannya menunjukkan kelas S3 rc, eh, yang berarti mengalami kenaikan kelas dari N menjadi S3. Yang mana pada kelas S3 lahannya memiliki pembatas yang lebih ringan dibandingkan N dan masih mungkin untuk dilakukan upaya untuk diatasi. Untuk mengatasi permasalahan kelerengan yang cukup curang, bisa dilakukan dengan upaya memaksimalkan penanaman penutupan lahan sehingga bisa mengurangi resiko erosi. Pengamatan kedua dilakukan di lahan bawah dengan komoditas utama yang ditemukan adalah tanaman kubis. Dari hasil pencocokan data hasil pengamatan dengan kriteria kesesuaian lahan untuk tanaman kubis dapat diperoleh hasil bahwa kelas kesesuaiannya menunjukkan kelas S2 eh, yang berartikan bahwa pada lahan tersebut mempunyai pembatas yang sedikit berat untuk mempertahankan tingkat pengelolaannya yang harus dilakukan. Mengingat faktor pembatasnya adalah kelerengan, maka usaha yang bisa dilakukan adalah dengan dilakukan upaya membuat terasering pada lahan tersebut sehingga tidak diperlukannya penggantian komoditas. Pengamatan ketiga dilakukan di lahan tengah dengan komoditas utama yang ditemukan adalah tanaman ubi kayu. Dari hasil pencocokan data hasil pengamatan dengan kriteria kesesuaian lahan untuk tanaman kubis dapat diperoleh hasil bahwa

44

kelas kesesuaiannya menunjukkan kelas S2 rc, eh, yang berartikan bahwa pada lahan tersebut mempunyai pembatas yang sedikit berat untuk mempertahankan tingkat pengelolaannya yang harus dilakukan. Terdiri dari 2 faktor pembatas yaitu masalah kedalam tanah dan kelerengan pada lahan tersebut. Pada lahan tengah ini, ketika tanaman ubi kayu telah selesai panen, bisa dilakukan penggantian tanaman menjadi tanaman kapas. Hal ini dilakukan untuk mengurangi resiko dari faktor pembatas kedalaman tanah, karena pada tanaman kapas untuk kedalam tanah 63 cm termasuk dalam S2 sehingga kelas kesesuaiannya mengalami kenaikan kelas. Sehingga dapat menfurangi faktor pembatasnya. Untuk mengatasi faktor pembatas kelerangan bisa dilakukan upaya dengan memaksimalkan penanaman tanaman penutup tanah.

4.5 Analisis Usahatani Analisis usahatani untuk mengetahui kelayakan usahatani yang dilakukan oleh petani yang ada di Desa Punten yaitu dengan melakukan analisis menggunakan BEP dan R/C Ratio. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui usahatani yang dilakukan oleh petani layak untuk dilanjutkan atau tidak. Berikut ini merupakan analisis usahatani yang ada pada lahan di Desa Punten. Titik 1 : Lahan Atas Berdasarkan hasil survey yang kami lakukan di lahan pertama yaitu pada lahan atas lahan tersebut tidak dikelola oleh petani melainkan dikelolah oleh pihak perhutani, sehingga disini tidak dilakukan wawancara dengan pihak perhutani. a. Identitas Petani Nama responden Umur Alamat : Bapak Durmanam : 64 tahun : Desa Punten, RT03 RW02, Kecamatan Bumiaji, Kabupaten Batu, Malang Pekerjaan utama Jumlah anggota keluarga Status kepemilikan lahan Luas lahan Komoditas yang ditanam : Buruh tani :4 : punya sendiri : 0,125 ha : tanaman ucet dan tanaman jahe

45

b. Analisis usahatani 3 kali masa panen : Biaya tetap (TFC) : per tahun 3 kali masa panen (informasi biaya) No Nama Jumlah Komoditas Proporsional Penggunaan Harga Awal (Rp) 1 2 Cangkul Sabit 3 buah 3 buah Tanaman ucet Tanaman jahe Tanaman ucet Keterangan: Rumus Nilai Penyusutan tiap alat: harga beli/umur ekonomis(th) x proporsional penggunaan x jumlah satuan. Rumus sewa lahan: nilai sewa lahan x proporsional penggunaan Dalam satu tahun terdapat tiga kali masa produksi untuk tanaman jagung, dan sekali masa produksi untuk tanaman singkong, dengan asumsi setiap kali produksi selalu sama TC dan TR-nya (sesuai pernyataan Bapak Durmanam). No 2/3 alat 1/3 alat 2/3 alat 100.000 15.000 Umur Ekonomis (th) 6 6

TFC tanaman ucet : Perincian Satuan Harga satuan (Rp) Nilai (Rp)

Jumlah pengeluaran 1. Penyusutan alat: Cangkul Sabit No TFC tanaman jahe : Perincian Satuan Harga satuan (Rp) Jumlah pengeluaran 1. Penyusutan alat: Sabit 3 833 3 3 11.111 833

35.832

33.333 2.500

Nilai (Rp)

2.499

2.499

46

Biaya variabel (TVC) : per tahun (3 kali masa panen) No TVC tanaman ucet : Perincian Satuan Harga satuan (Rp) Jumlah pengeluaran 1. 2. Benih Pupuk phonska Pupuk kandang No 2 kg x 1 = 2 kg 1 x 5 kg = 5 kg 2 karung x 3 = 6 karung TVC tanaman jahe : Perincian Satuan Harga satuan (Rp) Jumlah pengeluaran 1. 2. Benih Pupuk urea Pupuk kandang 2 kg x 1 = 2 kg 2 x 5 kg = 10 kg 2 karung x 3 = 6 karung 3. Pestisida ditan 1 liter 7.500 7.500 2.000 3.000 5.000 71.500 4.000 30.000 30.000 Nilai (Rp) 4.500 2.000 5.000 49.000 9.000 10.000 30.000 Nilai (Rp)

Total Biaya (TC) TC tanaman ucet = TFC + TVC (tanaman ucet) = 35.832 + 49.000 = 84.832 TC tanaman jahe = TFC + TVC (tanaman jahe) = 2.499 + 71.500 = 73.999

Total Penerimaan (TR) Usahatani Bapak Durmanam : TR tanaman ucet =PxQ = 3000 x 150 = 450.000 TR tanaman jahe =PxQ = 15.000 x 150 = 2.250.000

47

Total keuntungan () Usahatani Bapak Darmanam tanaman ucet = TR TC = 450.000 84.832 = 365.168 tanaman jahe = TR TC = 2.250.000 73.999 = 2.176.001 = tanaman ucet + tanaman jahe = 365.168 + 2.176.001 = 2.541.169

Total keuntungan keseluruhan

Analisis BEP : Analisis BEP tanaman ucet TFC/tahun = Rp 35.832

TFC/produksi = 35.832/3 = Rp 11.944 P TVC/tahun = Rp 3.000 = Rp 49.000

TVC/produksi = 49.000/3 = Rp 16.333,33 TVC/unit TC/tahun TC/produksi BEP unit = 16.333,33/ (150) = Rp 108,88 = Rp 84.832 = 84.832/3 = 28.277,33 = 4,13 kg BEP rupiah = = Rp 28.277,33/150 = Rp 188,51 = 11.944/3.000 108,88 = 11.944/2891,12 =

Analisis RC Ratio R/C Ratio = TR/TC = 450.000/84.832 = 5,3

Analisis BEP tanaman jahe TFC/tahun = Rp 35.832

TFC/produksi = 35.832/3 = Rp 11.944 P TVC/tahun = Rp 3.000 = Rp 49.000

TVC/produksi = 49.000/3 = Rp 16.333,33 TVC/unit = 16.333,33/ (150) = Rp 108,88

48

TC/tahun TC/produksi BEP unit

= Rp 84.832 = 84.832/3 = 28.277,33 = 4,13 kg = 11.944/3.000 108,88 = 11.944/2891,12 =

BEP rupiah

= Rp 28.277,33/150 = Rp 188,51

Analisis RC Ratio R/C Ratio = TR/TC = 450.000/84.832 = 5,3

(data dari kelas G Agribisnis 2011)

Dari hasil perhitungan BEP dan R/C Ratio di atas dapat diketahui bahwa usahatani ucet dan jahe yang dilakukan oleh Bapak Durmanam layak untuk dilanjutkan. Dilihat dari hasil perhitungan BEP unit yaitu 4,13 kg dan BEP rupiah sebesar Rp 188,5. Dari hasil tersebut maka petani tersebut akan mengalami titik impas atau tidak mengalami untung dan rugi ketika bisa menghasilkan produksi sebesar itu. Sedangkan untuk nilai R/C ratio yaitu 5,3. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani ucet dan jahe tersebut menguntungkan dan layak untuk dilanjutkan.

Titik 2 : Lahan Bawah Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan petani yang ada di lahan bawah di dapatkan data biaya tetap, biaya variabel, total biaya dan penerimaan usahatani sebagai berikut : Biaya Tetap No. Uraian 1. 2. 3. Sewa Lahan/ Pajak Sewa Alat Penyusutan Alat: Cangkul Sabit Garpu Jumlah 4 6 1 2.600 2.500 2.200 14.400 15.000 2.200 47.600 Jumlah (Unit) Harga (Rp) Biaya (Rp) Rp 16.000,00 -

49

No. 1. 2.

Biaya Variabel Uraian Benih/ Bibit Pupuk - Organik - Urea 20 Kg 2 Botol Jumlah Rp 4.000,- / kg Rp 25.000,Rp 25.000,Rp 80.000,Rp 50.000,655.000 Jumlah (Unit) 1 Kw Harga (Rp) Rp 5.000,- / set kg Biaya (Rp) Rp 500.000

3. 4. 5. 6.

Obat-obatan Tenaga Kerja Air Listrik

No 1 2 Jumlah No 1

Total Biaya/ TC (Total Cost) Biaya Total Biaya Tetap (Total Fixed Cost) Total Biaya Variabel ( Total Variabel Cost) Total Biaya (Rp) 47.600 655.000 702.600

Penerimaan Usahatani Uraian Produksi Wortel Penerimaan Usahatani 470 Kg 470 Kg Nilai Jumlah (Rp)

Harga (Per satuan unit) Wortel Rp 3200 3200 Rp 1.504.000

50

BEP Produksi (Unit) = = = = = 26,35 BEP Penerimaan (Rp) = = = = = 85.000

BEP Harga (Rp)

= = = = 1.494,89

R/C Ratio

= TR/TC = 1.504.000/ = 2,14

Dari hasil perhitungan BEP dan R/C Ratio diatas dapat diketahui bahwa usahatani wortel yang dilakukan oleh petani punten layak untuk dilanjutkan. Dilihat dari hasil perhitungan BEP Produksi yaitu 26,35, BEP Penerimaan

sebesar 85.000, dan BEP Harga sebesar 1.494,89 maka petani tersebut akan mengalami titik impas atau tidak mengalami untung dan rugi ketika bisa menghasilkan produksi sebesar itu. Perhitungan R/C Ratio untuk usahatani wortel ini didapatkan hasil sebesar 2,14. Hal ini menunjukan bahwa usahatani tersebut layak untuk dilanjutkan karena nilai R/C Ratio lebih dari 1.

51

Titik 3 : Lahan Tengah Biaya Tetap

No. 1. 2. 3.

Uraian Sewa Lahan/ Pajak Sewa Alat Penyusutan Alat: Cangkul Sabit Garpu

Jumlah (Unit) -

Harga (Rp) -

Biaya (Rp) Rp 15.000,00 -

2 3 1

2.600 2.500 2.200

5.200 7.500 2.200 29.900

Biaya Variabel No. 1. 2. Uraian Benih/ Bibit Pupuk - Organik - NPK 3. 4. 5. 6. Obat-obatan Tenaga Kerja Air Listrik 10 Kg 25 Kg < Botol Jumlah Rp 25.000,- / Sak Rp 115.000,- / sak Rp 63.000,- / Botol Rp 5000 Rp115.000,Rp 15.000,Rp 435.000 Jumlah (Unit) 60 Bibit Harga (Rp) Rp 5.000,- / Bibit Biaya (Rp) Rp 300.000,-

Total Biaya/ TC (Total Cost) No 1 2 Biaya Total Biaya Tetap (Total Fixed Cost) Total Biaya Variabel ( Total Variabel Cost) Jumlah Total Biaya (Rp) 29.900 435.000 469.900

52

Penerimaan Usahatani No Uraian 1 Produksi 2 Jeruk Keprok 300 Kg 300 Kg Nilai Jumlah (Rp)

Harga (Per satuan unit) Jeruk Keprok Penerimaan Usahatani Rp 8000 8000 Rp 2.400.000

BEP Produksi (Unit) = = = = = 3,7382

BEP Penerimaan (Rp) = = = = = 36.463,41 BEP Harga (Rp) = = = = 1.566,34 R/C Ratio = TR/TC = 2.400.000/ = 5,1 Dari hasil perhitungan BEP dan R/C Ratio diatas dapat diketahui bahwa usahatani Komoditas Jeruk Keprok yang dilakukan oleh petani punten layak untuk dilanjutkan. Dilihat dari hasil perhitungan BEP Produksi yaitu 3,7382, BEP

53

Penerimaan sebesar 36.463,41, dan BEP Harga sebesar 1.566,34 maka petani tersebut akan mengalami titik impas atau tidak mengalami untung dan rugi ketika bisa menghasilkan produksi sebesar itu. Perhitungan R/C Ratio untuk usahatani wortel ini didapatkan hasil sebesar 5,1. Hal ini menunjukan bahwa usahatani tersebut layak untuk dilanjutkan karena nilai R/C Ratio lebih dari 1.

4.5 Keterkaitan dan Keselarasan Analisis Biofisik dan Sosial Ekonomi Tentang Hasil Survei Tanah Dari hasil pengamatan yang terdiri dari tiga titik yaitu titik 1 yakni lahan atas, titik 2 yaitu lahan bawah dan titik 3 yakni lahan tengah . berikut hasil analisa keterkaitan dan keselarasan analisis biofisik dan sosial ekonomi pada saat survei a. Lokasi titik 1 ( lahan atas) Penggunaan landuse berupa pohon pinus ditanam di titik atas dikarenakan untuk menahan erosi dan mencegah sedimentasi. Selain itu pada titik atas juga terdapat semak seperti rumput gajah. Rumput gajah tersebut dapat digunakan sebagai makanan ternak atau bahkan dijual kepada petani lain yang membutuhkan serta dengan adanya rumput gajah juga akan dapat mengurangi tingkat erosi terutama di lereng atas. Dari segi kelerengan yaitu 18o 33% pada lereng atas dan Relief pada lereng atas berbukit 15-30% 30-300 m,erosi yang terjadi pada ketiga titik sama yaitu memiliki jenis alur dengan derajat sedang. Batuan PermukaanPada titik atas dan tengah tidak berbatu (0%), Sedangkan untuk kondisi sosial ekonomi lahan atas ini adalah yaitu pada lahan atas lahan tersebut tidak dikelola oleh petani melainkan dikelolah oleh pihak perhutani, sehingga disini tidak dilakukan wawancara dengan pihak perhutani b. Lokasi titik 2 ( lahan bawah ) Pada titik bawah landuse berupa tanaman semusim yakni kubis dan wortel serta tanaman Pillodendron. Tanaman-tanaman tersebut ditanam di lereng bawah karena lereng bawah memiliki tingkat kelerengan yang cukup landai, drainase yang baik, dan lebih datar dari pada lereng tengah dan lereng atas. Selain itu, lereng bawah mudah dijangkau oleh petani sehingga mudah untuk dilakukan pengolahan dan pemanenan. Dari segi kelerengan 16o 25% , Relief bawah

memilki relief berbukit kecil 15-30% 10-50 m dan erosi yang terjadi yaitu

54

memiliki jenis alur dengan derajat sedang . Batuan Permukaan pada titik bawah sedikit berbatu <2%. Hal ini dipengaruhi oleh aktivitas organisme dan mikroorganisme dalam tanah Lahan dengan luas 450 m2 , dengan penggunaan lahan sebagai sawah dan seluas 3 Ha digunakan sebagai lahan tegal dimana terdapat komoditas sayuran yakni wortel, sawi , dan jagung ini dimiliki oleh seorang warga sendiri yang bernama Bapak. maskuri, yang terletak di Desa punten, dusun payan geneng,sawah dukuh . Lama usaha pak Maskuri adalah sekitar 1 tahun untuk tiap komoditasnya penyiapan lahan menggunakn tenaga hewan ternak dengan membutuhkan SDM 5 HOK. Dengan biaya pembibitan benih sebesar Rp 500.000/kwintal ,. Penanaman dilakukan secara berkala antara komoditas satu dengan yang lain karena manganut sisten rotasi tanaman. Bapak Maskuri menggunakan pupuk organik yaitu dengan menggunakan pupuk kandang hasil kotoran ternak sendiri dengan kisaran pemakaian sebesar 1 ton Pupuk organik yang digunakan adalah pupuk kandang buatan sendiri. namun tidak menutup kemungkinan untuk kemudian bapak maskuri menggunakan pupuk anorganik seperti Urea sebesar 20 Kg dengan harga Rp 80.000. Selain itu juga menggunakan pupuk organik sebnayak 2 ton untu singkong, dan 6 ton untuk tebu.. semua tenaga kerja yang digunakan adalah dengan tenaga kerja dari keluarga sendiri dan juga terdapat sistem bergilir yakni saling membantu dalam penggarapan warga secara bergiliran . Sama halnya dengan sistem irigasi Dalam memenuhi kebutuhan air tiap tanaman, Pak Maskuri tidak hanya mengandalkan air hujan, tapi yang digunakan dengan menggunakan sistem giliran yang pertama mengantri adalah yang mendapat giliran pertama dan begitu juga seterusnya. Tak ada OPT di lahan tersebut sehingga tak ada pengeluaran biaya untuk pestisida, namun jikalau ada bapak maskuri mengatasinya dengan air seni hewan ternak kelinci (penanganan masa dahulu) Penyiangan dilakukan pada saat rumput sudah meninggi. Selain dari usaha lahan pak maskuri juga mengandalkan pendapatan dari ternak sapi dan ayam dari hasil ternak inilah yang menjadi pendapatan utama dan memiliki keuntungan yang cukup besar dalam memenuhi kebutuhan hidup seharihari dan untuk mengembangkan usahanya. Hasil panen tersebut dijual kepada tengkulak yang diambil sendiri di lokasi ini dikarenakan alasan menurut pak maskuri adalah tidak membutuhkan biaya

55

transportasi sehingga dari hasil panen tersebut didapatkan hasil produksi sebesar Rp 1.504.000 untuk wortel (meskipun terdapat 3 komoditas data yang diambil dari hasil wawancara adalah panen yang terahir yakni pada komoditas wortel) c. Lokasi Titik 3 ( lahan tengah ) di titik tengah, landuse berupa pohon pinus, rumput gajah dan ketela pohon. Di titik ini sudah terdapat pengolahan tanah. Penanaman ketela pohon ini dimungkinkan karena pada titik tengah masih mudah untuk dilakukan pengolahan, perawatan dan pemanenan. Tanaman tersebut dapat ditanam di lereng tengah walaupun berada pada lahan miring. Kondisi lahan tersebut tidak terlalu basah dan drainase cukup baik, sehingga dalam kondisi yang berlereng pun dapat digunakan untuk penanaman tanaman semusim misalnya ketela pohon dan tanaman tahunan misalnya pinus. Sama seperti lereng atas, pada lereng tengah juga ditemukan rumput gajah yang dapat mengurangi tingkat erosi dan memiliki nilai ekonomi.untuk kelerengan adalah 14o 18% ,dan untuk relief yaitu berbukit kecil 15-30% 10-50 m. Erosi yang terjadi pada ketiga titik sama yaitu memiliki jenis alur dengan derajat sedang. Batuan permukaan yang terdapat pada ketiga titik bebeda tengah tidak berbatu (0%), Lahan dengan luas 0,25 Ha , dengan penggunaan lahan sebagai lahan sawah dimana terdapat komoditas jeruk keprok ini dimiliki oleh seorang warga yang bernama Bapak. Abdul Rokhim , yang terletak di Desa punten, dusun payan geneng, sawah duhkuh , lahan milik sendiri yang merupakan hibah dari orang tua beliau. Lama usaha pak Riasan adalah sekitar 1,5 tahun untuk tiap komoditasya. Dengan biaya pembibitan tebu Rp 300.000 untuk 60 bibit , Penanaman ini dilkaukan pada musim hujan. Bapak Abdul Rokhim menggunakan pupuk anorganik NPK sebesar 25 Kg dengan harga Rp 115.000 / sak ,dan juga menggunakan pupuk organik. Pupuk organik yang digunakan adalah pupuk kandang sejumlah 10 Kg dengan harga Rp 5000/ kg . Penyiangan dilakukan tiap 3 bulan sekali. Dalam memenuhi kebutuhan air tiap tanman, Pak Tabsrin hanya mengandalkan air hujan, sehingga tak ada biaya yng dikeluarkan untuk irigasi. Sedangkan untuk pengendalian hama dan penyakit pak Rokhim menggunakan obat obatan kurang lebih sepetir empat botol yang tiap botolnya seharga Rp 63.000.

56

Hasil panen tersebut dijual ke tengkulak yang diantar ke pasar . dari hasil panen tersebut didapatkan hasil produksi sebesar 300 Kg dengan penerimaan sebesar Rp 2.400.000,- dari modal awal Rp 500.000,- sehingga mendapat keuntungan sebesar Rp 1.900.00,- dikatakan usaha tani bapak abdul Rokhim menguntungkan.

57

BAB V KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa dilihat dari aspek fisiografi terdapat perbedaan antara ketiga lereng. Perbedaan tersebut meliputi landuse, kelerengan, relief, erosi dan batuan permukaan. Hal tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan ketinggian tempat, fungsi penggunaan lahan, dan factor lain yang salinng berkaitan. Sedangkan dari aspek morfologi juga terdapat perbedaan yang meliputi perbedaan warna, tekstur, struktur, konsistensi, perakaran, pori, drainase, permeabilitas, bahan kasar, top soil dan sub soil. Perbedaan tersebut disebabkan factor pembentuk tanah diantarana factor iklim, biologi tanah (organisme tanah), BOT, Topografi, Batuan induk dan waktu. Dilihat dari kondisi keamampuan lahan dapat disimpulkan bahwa lereng atas tergolong kelas kemampuan lahan VI dengan faktor pembatas l4 dan sub kelas kemapuan VI, l. Lahan dengan kemampuan lahan VI ini cocok digunakan untuk tanaman kayu. Sedangkan untuk lereng bawah dapat disimpulkan tergolong kelas kemapuan lahan IV dengan faktor pembatas k2, e2, dan b1 dan sub kelas kemapuan IV keb. Jika digunakan untuk tanaman semusim diperlukan pengelolaan yang lebih hati-hati dan tindakan

konservasi yang lebih sulit diterapkan dan dipelihara, seperti teras bangku, saluran bervegatasi dan dam penghambat, disamping tindakan yang dilakukan untuk memelihara kesuburan dan kondisi fisik tanah. Dan untuk lereng tengah tergolong kelas kemapuan lahan IV dengan faktor pembatas l3, k2 dan e2 sub kelas kemapuan IV lke. Jika digunakan untuk tanaman semusim diperlukan pengelolaan yang lebih hati-hati dan tindakan konservasi yang lebih sulit diterapkan dan dipelihara, seperti teras bangku, saluran bervegatasi dan dam penghambat, disamping tindakan yang dilakukan untuk memelihara kesuburan dan kondisi fisik tanah. Dilihat dari kesesuaian lahan data aktual tanaman yang ada disana yakni terdiri dari tanaman tanaman pinus di lereng atas, tanaman ubi kayu dilereng tengah, dan tanaman kubis di lereng bawah, setelah dilakukan penyesuaian maka tanaman yang sesesuai untuk lereng atas adalah tanaman karet, untuk tanaman lereng tengah tanaman kapas dan untuk lereng bawah masih tetap ditanamai kubis. Namun, meskipun telah dilakukan perubahan komoditas, masih diperlukan upaya konservasi lahan berupa terasering dan memaksimalkan tanaman tutupan. Dari hasil analisis usahatani dapat disimpulkan bahwa usahatani pada lereng atas merupakan milik perhutani tetapi terdapat petani yang memanfaatkan lahan tersebut

58

untuk aktivitas usaha tani. Pada lereng atas usaha tani dilakukan oleh Bapak Durmanam. Komoditas yang diusahakan yaitu ucet dan jahe. Hasil perhitungan dari BEP dan R/C ratio menunjukkan bahwa usaha tani tersebut menguntungkan dan layak untuk dilanjytkan. Untuk lereng bawah, usahatani wortel yang dilakukan oleh Pak Ahmad Rokhim menguntungkan dan layak untuk dilanjutkan. Sedangkan untuk lereng tengah, usahatani Komoditas Jeruk Keprok yang dilakukan oleh Pak Abdul Rakhim juga menguntungkan dan layak untuk dilanjutkan. Hal ini dikarenakan perhitungan dari R/C Ratio lebih besar dari 1. Hal ini juga dimungkinkan karena pada tiap titik yaitu lereng atas, bawah, dan tengah memiliki tanah yang cukup subur dan sesuai untuk ditanami komoditas tersebut.

59