Anda di halaman 1dari 1

Bergeraklah Mahasiswa, Tunjukkan Tinjumu

Oleh : Ketut Bela Nusantara*


erdapat hal yang sangat klasik yang selama ini jarang atau bahkan tidak pernah kita dalami, ketika hendak memahami apa arti nilai dari sebuah kemerdekaan, apa arti sebuah kemerdekaan bagi pendidikan dan sebaliknya apa arti pendidikan bagi kemerdekaan Indonesia. Konteks dan kontekstual pernyataan dalam kursif tersebut, bila kita seret kembali kepada alam sejarahnya perjuangan kemerdekaan, maka hal klasik yang hendak dimaksud dalam permulaan tulisan ini adalah terkait hal ihwal proses, tentang bagaimana pendidikan dan kemerdekaan Indonesia, menjadi dua pilar penting yang saling mendorong satu sama lain. Tidak pernah sekali waktu pun oleh generasigenerasi Muda-Pelajar ketika itu diupayakan melalui cara-cara pasif saja, tidak melalui cara-cara diam-diaman saja di dalam kamar belajarnya, akan tetapi lebih dari itu, kedua pilar tersebut digelorakan secara besar-besaran melalui semangat pergerakan pelajar, digelorakan di surat kabar-surat kabar baik dalam negeri maupun luar negeri, dan digelorakan diradio-radio, bahkan di jalan-jalan. Namun ketika memasuki era baru kancah perpolitikan bangsa Indonesia yang telah sukses mencapai kemerdekaan fisik bangsanya (khususnya pada masa orde baru dan reformasi), keterhubungan antara pendidikan dan kemerdekaan menjadi tenggelam ke dalam carut marutnya konstelasi kehidupan sosial modern, dimana pendidikan dan kemerdekaan menjadi dua hal yang sangat reduktif, dua hal yang terpisahkan oleh jurang pola penalaran gaya barat yang cenderung indivual-liberal-positivistik, dengan tata kerja reduktif, yang menyebabkan segala hal akan dirumuskan dalam tabel pemisahan, kemudian dibeda-bedakan satu sama lain. Hal ini pula yang telah terjadi antara pendidikan dan kemerdekaan, sehingga seolah tiada keterhubungan yang penting antara pendidikan dan kemerdekaan, yang ada hanya pendidikan berhubungan dengan kerja mencari uang, pendidikan untuk manfaat individual bukan sosial, pendidikan untuk mengangkat derajat diri sendiri, bukan mengangkat apa yang

adalah Integrasi, dan jadilah kita hanya menjadi pandai membelahbelah daripada mengintegrasikan sebuah realitas. Oleh sebab itu, kita harus meminimalisir kegitan dikotomis, dan dalam waktu dekat kita harus memulai suatu gerakan integrasi, bahwa antara Meminimalisir Tindakan Dikoto- Pendidikan dan kemerdekaan memiliki kedudukan layaknya mis benang dan layang-layang. Dua modal yang membuat kita meDengan pola pikir yang nikmati dunia dan menikmati dikotomis terhadap realitas, sesmartabat bangsa yang lebih baik di ungguhnya hanya membuat mahasiswa menjadi manusia-manusia bawah kolong langit ciptaan Tuhan terasing (disinherited masses) dari ini. realita dirinya sendiri dan realita Truth is Out There dunia sekitarnya, karena pola metodis semacam ini justru hanya Saatnya kita sebagai mamenjadikan mahasiwa berada hasiswa melakukan pembenahan dalam kedudukan menjadi sepkesadaran, dan memahami bahwa erti, yang berarti menjadi seperti orang lain, bukan menjadi dirinya mahasiswa adalah kumpulan sendiri, sehingga mahasiswa tidak individu yang menjadi pintu pernah menyadari bahwa kehidu- masuk untuk menyingkap maknamakna yang tersebar dalam banyak pannya sangat integratif dengan kebenaran di level kehidupan realitas kehidupan sosial disekisosial, khususnya tentang kematarnya. suk-akalan yang lumrah (common Keadaan yang menduduksense), ilmu pengetahuan, etika kan mahasiswa tidak menjadikan dan agama. Sehingga kita mampu dirinya sendiri, sehingga tidak melepaskan keterjebakan dari memberikan kesempatan pada belenggu paradigma naif. Hakesadaran diri mahasiswa itu sendiri untuk memahami realitas. sil sebagai mahasiswa kita bisa Keadaan ini, menurut Paulo Freire, menemukan suatu peran sebagai orang per orang atau subyek bebas cenderung akan melahirkan sifat mahasiswa hanya sebagai penon- dengan segenap motif dan instrument untuk berlomba mengkritisi ton, dan peniru bukan pencipta. Bersedihlah kita, karena ini dan memberi respons terhadap yang terjadi di Indonesia beberapa segala tampakan (seeming) realitas 4 dekade terakhir. Sehingga mudah dan mengartikan atau memaknai gejala-gejala (being) tampakan itu dipahami mengapa sumber daya manusia di Indonesia tidak pernah secara mandiri. Dengan begitu kita akan terasah untuk memanfaatkan menghasilkan penemuan besar, tidak pernah menghasilkan sebuah daya imajinasi kita, dan mengkarya yang mampu mengguncang gerakkan kita pada suatu proses mendobrak-membangun (revoludunia, tidak pernah malahirkan tionaire) terhadap paradigma yang konsepsi-konsepsi yang melamcenderung membodoh-bodohi bungkan nama Indonesia sebagai pemikiran kita, pembodohan yang suatu Bangsa. hanya membuat kita menjadi peJawaban terpenting hanynonton dan peniru. alah satu, yaitu karena kita menKebenaran tidak ada dalam dudukkan diri sebagai Penonton kelas-kelas perkuliahan, di dalam dan Peniru. Yang mereduksi, ruangan yang ada hanya proses bahwa ini berbeda dengan itu, bahwa Negara barat adalah cerdas, pengajaran hanya ada das Sollen atau dunia keharusan (asas dan Negara timur kurang cerdas, teori) an sich!, kebenaran yang sehingga kita tidak pernah mesejati ada di luar ruang-ruang kelas nyadari adanya sebuah variabel perkuliahan tersebut, kebenaran bebas yang terkorbankan akibat sejati tumbuh dan berkembang dari kegiatan dikotomis formal jauh melampaui asas dan teori, seyang memisahkan antara hal satu dengan hal lainnya, seperti halnya hingga kita harus menemukannya diluar sana. Melalui Pergerakan dikotomi antar Pendidikan dan Mahasiswa secara menyeluruh, Kemerdekaan, hukum dan hanya dengan itu, kita sebagai moral dan sebagainya. Variabel yang terkorbankan mahasiswa dapat menemukan kedewasaan berfikir, sehingga yang dimaksud sebelumnya itu namanya Bangsa yang Merdeka. Pendidikan pragmatisme yang melulu pribadi-pribadi inilah yang melenyapkan kuatnya tinju pergerakan mahasiswa, menyembunyikan kebesaran nama Bangsa Indonesia di mata dunia.

bukan lagi menjadi peniru dan penonton, akan tetapi mendorong untuk mencari jalan keluar menghadapi dan menyelesaikan masalah realitas tersebut dengan mengkonkritisasi imajinasi menjadi penemuan baru, manjadi konsepsi baru demi selamatnya kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan motivasi itu kita akan menjadi Bangsa yang besar, Bangsa yang bergerak progresif, Bangsa yang kaya dengan ide-ide, konsepsi-konsepsi, dan bukan lagi menjadi sang Peniru, tidak lagi menjadi sang Penonton. Itulah integrasi antara Pendidikan dan Kemerdekaan, bahwa Pendidikan adalah alat untuk Kemerdekaan, dan Kemerdekaan adalah ruang bebas untuk mengembangkan Pendidikan yang mencari selamatnya umat manusia, bukan untuk mencari keuntungan belaka, bukan untuk mencari kedudukan martabat pribadi semata. Karena kita merdeka bukan untuk menciptakan tempat bagi orang yang kaya raya, sedangkan yang lainnya miskin bertempat dipinggir kali menunggu tergusur, Sekali lagi kita merdeka adalah untuk mencari selamatnya seluruh umat manusia, hanya itu yang penting. Maka bergeraklah, bergeraklah mahasiswa Indonesia. Niscaya fajar pembaharuan Bangsa Indonesia akan segera datang. Yakinlah seperti saya yakin, bahwa kita sejajar, tidak ada dikotomi Negara barat dan timur, kita sama Merdeka, sama-sama leluasa untuk mencari selamatnya kebangsaan kita, mencari selamatnya anak cucu bangsa kita. * Keua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI) Denpasar

Tabloid Akademika Edisi 57/2010

10