Anda di halaman 1dari 3

Pembahasan NSAID bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandin yang merupakan penyebab sensitisasi reseptor nyeri.

Paracetamol (acetaminophen) adalah obat COX-3 yang menghambat kerja system saraf pusat, terutama rasa nyeri dan demam. Jadi, setelah penggunaan NSAID, seharusnya terdapat penambahan durasi ketahanan karena NSAID berperan dalam menekan rasa nyeri. Pada praktikum ini, dilakukan oleh 4 naracoba, dengan 1 laki-laki dan 3 perempuan. Terjadi peningkatan tekanan darah dan juga peningkatan ketahanan pada setiap naracoba. NSAID yang dikonsumsi 2 jam sebelum percobaan, ternyata memberikan efek peningkatan durasi ketahanan, yang terjadi tidak hanya pada satu naracoba, tetapi pada semua naracoba yang mengonsumsi Paracetamol. Pada 1 laki-laki dan 3 wanita yang mengalami peningkatan, hal ini disebabkan selain karena efek dari NSAID, dapat juga diakibatkan persepsi nyeri yang subyektif sehingga keempat orang tersebut mengalami peningkatan durasi. Perbandingan hasil antara laki-laki dan perempuan ternyata tidak memiliki perbedaan yang sangat jauh. Karena rata-rata peningkatan durasi itu sama 20, baik laki-laki maupun perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa persebaran percbaan yang dilakukan kelompok H merata. Persebaran yang merata ini sesuai dengan Gill (1990, dalam Perry & Potter, 2005) yang menyatakan laki-laki dan perempuan tidak memiliki perbedaan yang signifikan pada respon terhadap nyeri. Dilihat dari data tersebut setiap probandus memiliki perbedaan waktu dalam merespon terhadap air es maupun tekanan dari sphygmomanometer air raksa. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain: 1. Pengaruh umur Umur penderita sangat memengaruhi kerja dan efek obat sebab metabolism obat dan fungsi ginjal kurang efisien pada bayi yang sangat muda dan pada orang-orang lanjut usia. 2. Pengaruh faktor genetic Faktor genetic berperan dalam menentukan metabolism obat dalam tubuh manusia 3. Massa tubuh

Massa tubuh berkaitan dengan jumlah obat yang diberikan. Dosis harus disesuaikan dengan massa tubuh, sehingga semakin besar ukuran/massa tubuh semakin besar pula dosis yang diberikan. 4. Jenis kelamin Jenis kelamin mempunyai pengruh terhadap efek obat karena perbedaan fisik antara pria dan wanita. Pria biasanya mempunyai postur tubuh lebih besar dari pada wanita sehingga bila suatu dosis yang sama diberikan, tubuh pria akan lebih lambat di dalam melakukan metabolism obat. Tubuh pria lebih banyak mengandung air, sedangkan tubuh wanita mengandung lemak dan obat-obat tertentu dapat lebih cepat bereaksi dalam air atau dalam lemak. 5. Lingkungan Lingkungan berpengaruh terhadap daya kerja obat terutama lingkungan yang dapat merubah obat (missal cahaya), kepribadian pasien dan lingkungan pasien. Lingkungan fisik dapat juga mempengaruhi daya kerja obat misalnya suhu lingkungan tinggi sehingga menyebabkan pembuluh darah perifer melebar sehingga dapat meningkatkan daya kerja vasodilator. 6. Penyakit Penyakit merupakan salah satu pertimbangan dalam pemberian obat. Kondisi penyakit merupakan dasar dalam menentukan jenis obat dan dosis yang diberikan . obat dapat bereaksi secara efektif dalam keadaan sakit. Misalnya, suhu badan orang yang demam dapat dirunkan dengan paracetamol namun apabila diberikan pada orang yang tidak demam, paracetamol tidak akan menurunkan suhu. 7. Faktor psikologis Berkaitan dengan keefektivitasan obat. Orang yang mempercayai bahwa obat yang mereka gunakan dapat mengatasi gangguan kesehatannya akan lebih efektif daya kerja obat yang dia minum dibanding orang yang tidak percaya. Disebut sebagai placebo effect.

Kesimpulan: Obat yang diminum dalam percoboaan ini adalah Golongan obat NSAID dengan memberikan efek analgesik, karena ketahanan probandus terhadap tekanan manset lebih lama setelah meminum obat ini (timbulnya rasa nyeri lebih lama).