Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN I.

Latar Belakang Salah satu bentuk pelaksanaan dan pengembangan upaya kesehatan dalam sistem Kesehatan Nasional adalah Rujukan Upaya Kesehatan. Upaya kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral dari upaya kesehatan secara menyeluruh yang menyelenggarakannya terintegrasi secara lintas program dan lintas sektoral. Rujukan upaya kesehatan gigi dan mulut dilaksanakan melalui pelayanan medic gigi dasar sampai dengan spesialistik. Banyak factor yang mempengaruhi terselenggaranya rujukan upaya kesehatan gigi dan mulut antara lain faktor lingkungan, geografi, transportasi, sosial ekonomi dan sosial budaya. Untuk mendapatkan mutu pelayanan yang lebih terjamin, berhasil guna dan berdayagua, perlu adanya jenjang pembagian tugas di antara unit-unit pelayanan kesehatan melalui suatu tatanan yang disebut sistem rujukan. II. TUJUAN Tujuan Umum : Terwujudnya suatu tatanan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang merata, terjangkau, bermutu, berdaya guna dan berhasil guna Tujuan Khusus : 1. Mantapnya upaya pelayanan kesehatan gigi dan mulut di setiap jenjang pelayanan kesehatan yang berlaku 2. terwujudnya arus rujukan medic gigi dan rujukan kesehatan gigi.

BAB II ISI I. SISTEM RUJUKAN A. PENGERTIAN SISTEM RUJUKAN Sistem rujukan upaya kesehatan adalah suatu tatanan pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas timbulnya masalah dari suatu kasus atau masalah kesehatan masyarakat, baik secara vertical maupun horizontal, kepada yang berwenang dan dilakukan secara rasional. Menurut tata hubungannya Sistem Rujukan terdiri dari : 1. Rujukan Intern 2. Rujukan Extern Ad.1. Rujukan intern adalah rujukan horizontal yang terjadi antar unit pelayanan di dalam institusi tersebut. Ad.2. rujukan extern addalah rujukan yang terjadi antar unit-unit dalam jenjang pelayanan, baik horizontal (dari puskesmas rawat jalan ke puskesmas rawat inap) maupun vertikal (dari puskesmas ke rumah sakit umum daerah).

Menurut lingkup pelayanan Sistem Rujukan terdiri dari : 1. Rujukan Medik 2. Rujukan Kesehatan Ad.1. Rujukan medik adalah rujukan pelayanan yang terutama meliputi upaya penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Misalnya, merujuk pasien puskesmas dengan penyakit kronis (jantung koroner, hipertensi, diabetes mellitus) ke rumah sakit umum daerah. Ad.2. Rujukan kesehatan adalah rujukan pelayanan yang terutama berkaitan dengan upaya peningkatan promosi kesehatan (promotif) dan pencegahan (preventif). Contohnya, merujuk pasien dengan masalah gizi ke klinik konsultasi gizi (pojok gizi puskesmas), atau pasien dengan masalah kesehatan kerja ke klinik sanitasi puskesmas (pos Unit Kesehatan Kerja).

B.

SISTEM RUJUKAN UPAYA KESEHATAN GIGI DAN MULUT 1. Rujukan Medik Gigi terdiri dari : a. Rujukan kasus dengan atau tanpa pasien, untuk keperluan diagnostic, tindakan operatif dan pemulihan (model rahang) b. Rujukan specimen, untuk pemeriksaan penunjang/tambahan

c. Rujukan ilmu pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) ; mendatangkan atau mengirim tenaga/ahli yang kompeten untuk member dan mendapatkan bimbingan pengetahuan dan keterampilan kesehatan gigi dan mulut.

2. Rujukan Kesehatan Gigi terdiri dari : a. Bantuan teknologi Berupa teknologi tepat guna, cukup sederhana, dapat dikuasai dan dilaksanakan, serta terjangkau masyarakat Contoh : -cara menyikat gigi yang baik dan benar, -Bentuk-bentuk sikat gigi yang benar

b. Bantuan sarana Berupa alat-alat, buku-buku, poster-poster, leaflet-leaflet. c. Bantuan operasional Berupa dana operasional dan pemeliharaan peralatan kesehatan gigi dan mulut.

C.

PETUNJUK OPERASIONAL

1. Jenjang Rujukan Kesehatan Gigi dan Mulut

JENJANG TINGKAT RUMAH TANGGA

UNSUR PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT Pelayanan kesehatan gigi oleh individu atau keluarganya sendiri Kegiatan swadaya masyarakat dalam menolong

TINGKAT MASYARAKAT

mereka sendiri oleh kelompok paguyuban, PKK, saka bhakti husada, anggota RW, RT dan masyarakat

FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN GIGI PROFESIONAL TINGKAT PERTAMA FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN GIGI PROFESIONAL TINGKAT KEDUA FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN GIGI PROFESIONAL TINGKAT KETIGA

Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling, Praktek Dokter Gigi Swasta, Poliklinik Gigi Swasta, Dll Rumah Sakit Kabupaten, Rumah Sakit Swasta, Laboratorium Klinik dan Laboratorium Tehnik Gigi Swasta dll. Rumah Sakit Kelas A dan B, Lembaga Spesialistik Swasta, Laboratorium Klinik dan Laboratorium Teknik Gigi Swasta dll.

2. Bagan Alur Rujukan Kesehatan Gigi dan Mulut a. Rujukan Extern SWASTA
P R O F E S III I O N A L

PEMERINTAH
RS. KELAS A

RS. KELAS B

P R O F E S II I O N A L

LAB. KLINIK

RS. SWASTA RS. KELAS C

LAB. KLINIK GIGI

DOKTER GIGI SPESIALIS

P R O F E S I I O N A L

BAL KES MAS KLINIK GIGI DOKTER GIGI

RUMAH SAKIT KELAS D PUSKESMAS DENGAN PELAYANAN KES. GIGI DAN MULUT PUSKESMAS TANPA PELAYANAN KES. GIGI DAN MULUT

PUSKESMAS PEMBANTU POSYANDU KADER


V

MASYARAKAT KK

b. Rujukan Intern

UPF LAIN

DI PUSKESMAS atau RUMAH SAKIT

UPF LAIN

UPF GIGI

UPF LAIN

UPF LAIN

KETERANGAN UPF lain misalnya

: : - Penyakit dalam - Kebidanan - Kulit kelamin - Bedah - Dsb.

3. Tata Cara Rujukan A. Rujukan Medik Gigi : 1. Rujukan kasus dengan atau tanpa pasien a. Dari Posyandu/Sekolah/BKIA ke Puskesmas : Indikasi : Semua kelainan/kasus/keluhan yang ditemukan pada jaringan keras dan jaringan lunak di dalam rongga mulut.

Tata Cara : 1. Formulir rujukan diisi oleh kader/guru/tenaga kesehatan yang merujuk dengan mempergunakan formulir A ( contoh formulir A lihat lampiran 1) 2. Register rujukan kasu diisi oleh yang merujuk untuk mencatat pengiriman dan penerimaan kasus, dengan mempergunakan buku register (contoh buku register lihat lampiran 2) 3. Pasien dikirim ke Puskesmas dengan membawa formulir A 4. Setelah selesai pengobatan di Puskesmas, Pasien dikirim kembali disertai dengan pesan/tindakan/perawatan yang harus dilaksanakan oleh kader/guru/tenaga kesehatan yang merujuk dengan

mempergunakan formulir B (contoh formulir B lihat lampiran 3) 5. Kasus rujukan yang idak dapat ditanggulangi, dirujuk ke unit pelayanan kesehatan lainnya yang lebih mampu.

B. Dari Puskesmas/Rumah Sakit ke unit pelayanan kesehatan gigi lainnya yang lebih mampu Indikasi : Semua kelainan/kasus yang ditemukan oleh tenaga kesehatan gigi di Puskesmas/Rumah Sakit yang memerlukan tindakan diluar kemampuannya (lihat buku Pedoman Pelayanan Kesehatan Gigi di RSU Pemerintah dan Buku Pedoman Penyelenggaraan Upaya Pelayanan Kesehatan Gigi di Puskesmas)

Tata Cara : 1. Formulir rujukan diisi oleh petugas Puskesmas/Rumah Sakit yang merujuk dengan menggunakan formulir C (contoh formulir C lihat lampiran 4) Rujukan dapat langsung dilakukan ke unit pelayanan yang dianggap paling sesuai, Contoh : Rujukan dapat langsung ke Rumah Sakit kelas A/B dalam kasuskasus tertentu yang bersifat penyelamatan jiwa (life saving) 2. Register rujukan pasien diisi oleh petugas Puskesmas/Rumah Sakit yang merujuk (contoh register lihat lampiran 5) 3. Pasien dikirim ke Rumah Sakit yang dirujuk dengan membawa formulir C 4. Setelah selesai pengobatan di Rumah Sakit, pasien dikirim kembali ke Puskesmas/Rumah Sakit yang merujuk dengan mempergunakan formulir D (contoh formulir D lihat lampiran 6) 5. Kasus rujukan yang tidak dapat ditanggulangi, dirujuk ke unit pelayanan kesehatan gigi lainnya yang lebih mampu.

2. Rujukan Model (Prothetik/Ortodonsi) Dari PuSkesmas/Rumah Sakit ke unit pelayanan kesehatan gigi lainnya yang mempunyai fasilitas laboratorium teknik gigi.

Indikasi : Pelayanan kesehatan gigi yang memerlukan pembuatan : Prothesa termasuk mahkota dan jembatan Plat orthodonsi Inlay, Onlay, Uplay Obturator Feeding plate, dsb.

Tata Cara : 1. Formulir rujukan model diisi oleh petugas yang merujuk (lihat lampiran 7) 2. Register rujukan pasien diisi oleh petugas 3. Model dikirim ke laboratorium teknik gigi dengan memperhatikan cara pembungkusan dan pengirimannya agar model tidak rusak atau patah. 4. Laboratorium teknik gigi mengirim kembali hasil pekerjaan yang telah selesai kepada pengirim. 5. Catat kembali dalam register bahwa pekerjaan telah diterima kembali.

3. Rujukan Spesimen Yaitu rujukan bahan diagnostic/bahan laboratorium, dari

Puskesmas/ /Rumah Sakit ke Unit Pelayanan Kesehatan yang lebih mampu. Indikasi : Semua kelainan/kasus yang ditemukan oleh tenaga kesehatan gigi di Puskesmas/Rumah Sakit yang memerlukan pemeriksaan penunjang diagnostic/laboratorium sehubungan dengan kelainan dalam rongga mulutnya.

Tata Cara : 1. Formulir rujukan bahan doagnostik/laboratorium, mengikuti formulir yang ada di setiap unit pelayanan kesehatan, diisi oleh petugas kesehatan/Puskesmas/Rumah Sakit yang merujuk. 2. Bahan diagnostik/laboratorium dikirim dengan tersebut di atas sesuai aturan yang berlaku. 3. Setelah selesai diperiksa, unit pelayanan kesehatan yang di tunjuk memberikan kesan/saran kepada Puskesmas/Rumah Sakit yang merujuk dengan mempergunakan formulir jawaban yang berlaku. membawa formulir

4. Rujukan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Berupa rujukan ilmu pengetahuan dan atau teknologi yang dapat dilaksanakan melalui kunjungan tenaga ahli, konsultasi (melalui tatap muka, sarana komunikasi)

Indikasi : Keadaan dimana dibutuhkan peningkatan ilmu pengetahuan dan atau keterampilan pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada unit pelayanan tersebut agar dapat memberikan pelayanan yang lebih memadai.

Tata Cara : Unit wilayah pelayanan kesehatan setempat membuat rencana

program/proposal kepada yang berwenang untuk pelaksanaan program alih teknologi. Catatan : untuk praktek dokter gigi swasta/Rumah Sakit Swasta, tata laksana rujukan disesuaikan dengan unit pelayanan kesehatan gigi yang setingkat.

b.

Rujukan Kesehatan Gigi Yaitu upaya peningkatan dan pencegahan di bidang kesehatan gigi dan mulut yang meliputi : 1. Bantuan Teknologi 2. Bantuan Sarana 3. Bantuan Operasional Indikasi : Semua kegiatan dan peningkatan dan pencegahan yang memerlukan bantuan tersebut di atas. Tata Cara : 1. Unit administrasi yang lebih rendah mengirim rencana program/proposal ke unit administrasi yang lebih tinggi 2. Unit administrasi yang lebih tinggi memberikan bantuan yang diperlukan

4.

DANA/PEMBIAYAAN Dapat berasal dari : APBN APBD/RUTIN DUKM DANA SEHAT PERUM HUSADA BAKTI ASTEK Penggunaan dana-dana tersebut disesuaikan dengan aturan yang berlaku.

5.

PENCATATAN/PELAPORAN Untuk tertibnya pelaksanaan rujukan kesehatan gigi ini diperlukan pencatatan dan pelaporan yang seragam di semua unit atau fasilitas pelayanan kesehatan gigi yaitu melalui : SP2TP (Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas) SP2RS (Sistem Pencatatan dan Pelaporan Rumah Sakit)

II.

RUMAH SAKIT A. Pengertian Ruamh Sakit Rumah sakit adalah sebuah institusi perawatan kesehatan profesional yang pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat, dan tenaga ahli kesehatan lainnya. Istilah hospital (rumah sakit) berasal dari kata Latin, hospes (tuan rumah), yang juga menjadi akar kata hotel dan hospitality (keramahan). Rumah Sakit merupakan salah satu sarana kesehatan tempat

menyelenggarakan kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Di Indonesia, Rumah Sakit merupakan rujukan pelayanan kesehatan untuk Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), terutama rujukan medis yang dapat diupayakan pelayanan kesehatan untuk meningkatkan pemulihan dan pengobatan., sebab Rumah Sakit mempunyai fungsi utama menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan bagi penderita, yang berarti bahwa pelayanan Rumah Sakit bahwa pelayanan Rumah Sakit untuk penderita rawat jalan dan rawat tinggal hanya bersifat spesifik atau spesialistik, sedangkan pelayanan yang bersifat non spesialistik atau pelayanan dasar harus dilakuka di Puskesmas.

B. Tipe-tipe Rumah Sakit Berdasarkan fugsi dan tugas dari Rumah Sakit, Ada beberapa pembagian tipe-tipe Rumah Sakit berdasarkan kemampuan sebuah Rumah Sakit dalam memberikan pelayanan medis kepada para pasiennya, yaitu: 1. Rumah Sakit Tipe A Merupakan Rumah Sakit yang telah mampu memberikan pelayanan Kedokteran Spesialis dan Subspesialis luas sehingga oleh pemerintah ditetapkan sebagai tempat rujukan tertinggi (Top Referral Hospital) atau biasa juga disebut sebagai Rumah Sakit Pusat. 2. RUMAH SAKIT TIPE B Merupakan Rumah Sakit yang telah mampu memberikan pelayanan Kedokteran Spesialis dan Subspesialis terbatas. Rumah Sakit ini didirikan di setiap Ibukota Propinsi yang mampu menampung pelayanan rujukan dari Rumah Sakit tingkat Kabupaten. 3. RUMAH SAKIT TIPE C Merupakan Rumah Sakit yang telah mampu memberikan pelayanan Kedokeran Spesialis terbatas. Rumah Sakit tipe C ini didirikan di setiap Ibukota Kabupaten (Regency hospital) yang mampu menampung pelayanan rujukan dari Puskesmas.

4. RUMAH SAKIT TIPE D Merupakan Rumah Sakit yang hanya bersifat transisi dengan hanya memiliki kemampuan untuk memberikan pelayanan Kedokteran Umum dan gigi. Rumah sakit tipe C ini mampu menampung rujukan yang berasal dari Puskesmas. 5. RUMAH SAKIT TIPE E Merupakan Rumah Sakit Khusus (spesial hospital) yang hanya mampu menyalenggarakan satu macam pelayan kesehatan kedokteran saja, misal: Rumah Sakit Kusta, Rumah Sakit Paru, Rumah Sakit Jantung, Rumah Sakit Kanker, Rumah Sakit Ibu dan Anak, dll . C. Jenis-jenis Rumah Sakit 1) Rumah sakit umum Melayani hampir seluruh penyakit umum, dan biasanya memiliki institusi perawatan darurat yang siaga 24 jam (ruang gawat darurat) untuk mengatasi bahaya dalam waktu secepatnya dan memberikan pertolongan pertama. Rumah sakit umum biasanya merupakan fasilitas yang mudah ditemui di suatu negara, dengan kapasitas rawat inap sangat besar untuk perawatan intensif ataupun jangka panjang. Rumah sakit jenis ini juga dilengkapi dengan fasilitas bedah, bedah plastik, ruang bersalin,

laboratorium, dan sebagainya. Tetapi kelengkapan fasilitas ini bisa saja bervariasi sesuai kemampuan penyelenggaranya. Rumah sakit yang sangat besar sering disebut Medical Center (pusat kesehatan), biasanya melayani seluruh pengobatan modern. Sebagian besar rumah sakit di Indonesia juga membuka pelayanan kesehatan tanpa menginap (rawat jalan) bagi masyarakat umum (klinik). Biasanya terdapat beberapa klinik/poliklinik di dalam suatu rumah sakit. 2) Rumah sakit terspesialisasi Jenis ini mencakup trauma center, rumah sakit anak, rumah sakit manula, atau rumah sakit yang melayani kepentingan khusus

sepertipsychiatric (psychiatric hospital), penyakit pernapasan, dan lain-lain. Rumah sakit bisa terdiri atas gabungan atau pun hanya satu bangunan. 3) Rumah sakit penelitian/pendidikan Rumah sakit penelitian/pendidikan adalah rumah sakit umum yang terkait dengan kegiatan penelitian dan pendidikan di fakultas kedokteran pada suatu universitas/lembaga pendidikan tinggi. Biasanya rumah sakit ini dipakai untuk pelatihan dokter-dokter muda, uji coba berbagai macam obat baru atau teknik pengobatan baru. Rumah sakit ini diselenggarakan oleh

10

pihak universitas/perguruan tinggi sebagai salah satu wujud pengabdian masyararakat / Tri Dharma perguruan tinggi. 4) Rumah sakit lembaga/perusahaan Rumah sakit yang didirikan oleh suatu lembaga/perusahaan untuk melayani pasien-pasien yang merupakan anggota lembaga

tersebut/karyawan perusahaan tersebut. Alasan pendirian bisa karena penyakit yang berkaitan dengan kegiatan lembaga tersebut (misalnya rumah sakit militer, lapangan udara), bentuk jaminan sosial/pengobatan gratis bagi karyawan, atau karena letak/lokasi perusahaan yang terpencil/jauh dari rumah sakit umum. Biasanya rumah sakit lembaga/perusahaan di Indonesia juga menerima pasien umum dan menyediakan ruang gawat darurat untuk masyarakat umum. 5) Klinik Fasilitas medis yang lebih kecil yang hanya melayani keluhan tertentu. Biasanya dijalankan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat atau dokter-dokter yang ingin menjalankan praktek pribadi. Klinik biasanya hanya menerima rawat jalan. Bentuknya bisa pula berupa kumpulan klinik yang disebut poliklinik. Sebuah klinik (atau rawat jalan klinik atau klinik perawatan rawat jalan) adalah fasilitas perawatan kesehatan yang dikhususkan untuk perawatan pasien rawat jalan. Klinik dapat dioperasikan, dikelola dan didanai secara pribadi atau publik, dan biasanya meliputi perawatan kesehatan primer kebutuhan populasi di masyarakat lokal, berbeda dengan rumah sakit yang lebih besar yang menawarkan perawatan khusus dan mengakui pasien rawat inap untuk menginap semalam.

11

III.

INFORMED CONSENT A. Pengertian INFORMED CONSENT Informed consent adalah suatu proses yang menunjukkan komunikasi yang efektif antara dokter dengan pasien, dan bertemunya pemikiran tentang apa yang akan dan apa yang tidak akan dilakukan terhadap pasien. Informed consent dilihat dari aspek hukum bukanlah sebagai perjanjian antara dua pihak, melainkan lebih ke arah persetujuan sepihak atas layanan yang ditawarkan pihak lain. Definisi operasionalnya adalah suatu pernyataan sepihak dari orang yang berhak (yaitu pasien, keluarga atau walinya) yang isinya berupa izin atau persetujuan kepada dokter untuk melakukan tindakan medik sesudah orang yang berhak tersebut diberi informasi secukupnya. B. Tiga Elemen Informed Consent 1. THRESHOLD ELEMENTS Elemen ini sebenarnya tidak tepat dianggap sebagai elemen, oleh karena sifatnya lebih ke arah syarat, yaitu pemberi consent haruslah seseorang yang kompeten (cakap). Kompeten disini diartikan sebagai kapasitas untuk membuat keputusan medis. Kompetensi manusia untuk membuat keputusan sebenarnya merupakan suaut kontinuum, dari sama sekali tidak memiliki kompetensi hingga memiliki kompetensi yang penuh. Diantaranya terdapat berbagai tingkat kompetensi membuat keputusan tertentu (keputusan yang reasonable berdasarkan alasan yang reasonable). Secara hukum seseorang dianggap cakap (kompeten) apabila telah dewasa, sadar dan berada dalam keadaan mental yang tidak di bawah pengampuan. Dewasa diartikan sebagai usia telah mencapai 21 tahun atau telah pernah menikah. Sedangkan keadaan mental yang dianggap tidak kompeten adalah apabila mempunyai penyakit mental sedemikian rupa sehingga kemampuan membuat keputusan menjadi terganggu. 2. INFORMATION ELEMENTS Elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu, disclosure (pengungkapan) dan understanding(pemahaman). Pengertian berdasarkan pemahaman yang adekuat membawa

konsekuensi kepada tenaga medis untuk memberikan informasi (disclosure) sedemikian rupa sehingga pasien dapat mencapai pemahaman yang adekuat. Dalam hal ini, seberapa baik informasi harus diberikan kepada pasien, dapat dilihat dari 3 standar, yaitu :

12

o Standar Praktik Profesi Bahwa kewajiban memberikan informasi dan kriteria ke-adekuat-an informasi ditentukan bagaimana BIASANYA dilakukan dalam komunitas tenaga medis. Dalam standar ini ada kemungkinan bahwa kebiasaan tersebut di atas tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial setempat, misalnya resiko yang tidak bermakna (menurut medis) tidak diinformasikan, padahal mungkin bermakna dari sisi sosial pasien. o Standar Subyektif Bahwa keputusan harus didasarkan atas nilai-nilai yang dianut oleh pasien secara pribadi, sehingga informasi yang diberikan harus memadai untuk pasien tersebut dalam membuat keputusan. Kesulitannya adalah mustahil (dalam hal waktu/kesempatan) bagi profesional medis memahami nilai-nilai yang secara individual dianut oleh pasien. o Standar pada reasonable person Standar ini merupakan hasil kompromi dari kedua standar sebelumnya, yaitu dianggap cukup apabila informasi yang diberikan telah memenuhi kebutuhan umumnya orang awam. 3. CONSENT ELEMENTS Elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu, voluntariness (kesukarelaan, kebebasan) danauthorization (persetujuan). Kesukarelaan mengharuskan tidak ada tipuan, misrepresentasi ataupun paksaan. Pasien juga harus bebas dari tekanan yang dilakukan tenaga medis yang bersikap seolah-olah akan dibiarkan apabila tidak menyetujui tawarannya. Consent dapat diberikan : a. Dinyatakan (expressed) Dinyatakan secara lisan Dinyatakan secara tertulis. Pernyataan tertulis diperlukan apabila dibutuhkan bukti di kemudian hari, umumnya pada tindakan yang invasif atau yang beresiko mempengaruhi kesehatan penderita secara bermakna. Permenkes tentang persetujuan tindakan medis menyatakan bahwa semua jenis tindakan operatif harus memperoleh persetujuan tertulis.
13

b. Tidak dinyatakan (implied) Pasien tidak menyatakannya, baik secara lisan maupun tertulis, namun melakukan tingkah laku (gerakan) yang menunjukkan jawabannya. Meskipun consent jenis ini tidak memiliki bukti, namun consent jenis inilah yang paling banyak dilakukan dalam praktik sehari-hari. Misalnya adalah seseorang yang menggulung lengan bajunya dan mengulurkan lengannya ketika akan diambil darahnya. C. Proxy Consent Adalah consent yang diberikan oelh orang yang bukan si pasien itu sendiri, dengan syarat bahwa pasien tidak mampu memberikan consent secara pribadi, dan consent tersebut harus mendekati apa yang sekiranya akan diberikan oleh pasien, bukan baik buat orang banyak). Umumnya urutan orang yang dapat memberikan proxy consent adalah suami/istri, anak, orang tua, saudara kandung, dst. Proxy consent hanya boleh dilakukan dengan pertimbangan yang matang dan ketat. D. Konteks dan Informed Consent Doktrin Informed Consent tidak berlaku pada 5 keadaan : 1. Keadaan darurat medis 2. Ancaman terhadap kesehatan masyarakat 3. Pelepasan hak memberikan consent (waiver) 4. Clinical privilege (penggunaan clinical privilege hanya dapat dilakukan pada pasien yang melepaskan haknya memberikan consent. 5. Pasien yang tidak kompeten dalam memberikan consent. Contextual circumstances juga seringkali mempengaruhi pola perolehan informed consent. Seorang yang dianggap sudah pikun, orang yang dianggap memiliki mental lemah untuk dapat menerima kenyataan, dan orang dalam keadaan terminal seringkali tidak dianggap cakap menerima informasi yang benar apalagi membuat keputusan medis. Banyak keluarga pasien melarang para dokter untuk berkata benar kepada pasien tentang keadaan sakitnya. Sebuah penelitian yang dilakukan Cassileth menunjukkan bahwa dari 200 pasien pengidap kanker yang ditanyai sehari sesudah dijelaskan, hanya 60 % yang memahami tujuan dan sifat tindakan medis, hanya 55 % yang dapat menyebut komplikasi yang mungkin timbul, hanya 40 % yang membaca formulir dengan cermat, dan hanya 27 % yang dapat menyebut tindakan alternatif yang dijelaskan. Bahkan Grunder menemukan bahwa dari lima rumah sakit yang diteliti, empat diantaranya membuat penjelasan tertulis yang bahasanya ditujukan untuk dapat

14

dimengerti oleh mahasiswa tingkat atas atau sarjana dan satu lainnya berbahas setingkat majalah akademik spesialis. E. Keluhan Dokter dan Pasien Tentang Informed Consent Keluhan pasien tentang proses informed consent : o Bahasa yang digunakan untuk menjelaskan terlalu teknis o Perilaku dokter yang terlihat terburu-buru atau tidak perhatian, atau tidak ada waktu untuk tanya jawab. o Pasien sedang dalam keadaan stress emosional sehingga tidak mampu mencerna informasi o Pasien dalam keadaan tidak sadar atau mengantuk. Keluhan dokter tentang informed consent Pasien tidak mau diberitahu. Pasien tak mampu memahami. Resiko terlalu umum atau terlalu jarang terjadi. Situasi gawat darurat atau waktu yang sempit

Contoh Inform Consent:

SURAT PERSETUJUAN/PENOLAKAN MEDIS KHUSUS

Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Umur/Tgl Lahir Alamat Telp : (L/P) : : :

Menyatakan dengan sesungguhnya dari saya sendiri/*sebagai orangtua/*suami/*istri/*anak/*wali dari : Nama Umur/Tgl Lahir : (L/P) :

Dengan ini menyatakan SETUJU / MENOLAK untuk dilakukan Tindakan Medis berupa. Dari penjelasan yang diberikan, telah saya mengerti segala hal yang berhubungan denganpenyakit tersebut, serta tindakan medis yang akan dilakukan dan kemungkinana pasca tindakanyang dapat terjadi sesuai penjelasan yang diberikan. Jakarta,.20 Dokter/Pelaksana, Yang membuat pernyataan,Ttd ttd () (..) *Coret yang tidak perlu
15

DAFTAR PUSTAKA Pedoman Rujukan Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut.1995.Departmen Kesehatan RI.
http://www.scribd.com/doc/69985844/Contoh-Inform-Consent http://yusufalamromadhon.blogspot.com/2008/01/informed-consent.html http://en.wikipedia.org/wiki/Informed_consent http://www.dentiadental.com/2009/articles/waktu-pertumbuhan-gigi-geligi/

16

LAMPIRAN-LAMPIRAN Lampiran 1
FORMULIR A

RUJUKAN DARI POSYANDU/SEKOLAH/BKIA KE PUSKESMAS

Tanggal, ............................................ Kepada Yth. : Ka. Puskesmas Kelurahan ......................................... Kecamatan ....................................... di........................................ Bersama ini kami kirimkan penderita. Nama Umur Jenis kelamin Nama orang tua/wali Alamat : .................................. : .................................. : .................................. : .................................... : ....................................

Dengan keluhan/Gejla

: .................................................................................................. ..................................................................................................

Nasehat/Pengobatan/Perawatan yang sudah diberikan : .............................................................. ..................................................................................................

Posyandu/Sekolah/BKIA R.W. Kel. Kec. Nama Kader/Guru : .................... : .................... : .................... :.....................

17

LAMPIRAN 2

CONTOH BUKU REGISTRASI

CATATAN PENGIRIMAN PENDERITA DARI POS YANDU/SEKOLAH/BKIA KE PUSKESMAS

Pos. Yandu / Sekolah / BKIA Kelurahan

: ......................... : .........................

R.W. Kecamatan

: ..................... : .....................

TGL.

NAMA

UMUR

KELURAHAN & TINDAKAN PEGOBATAN

TANGGAL PEGIRIMAN KEMBALI

NASEHAT/TINDAKAN YANG MASIH PERLU DIBERIKAN

18

Lampiran 3
FORMULIR B JAWABAN DARI BPG PUSKESMAS POSYANDU/SEKOLAH/BKIA

Tanggal, .........................................

Kepada Yth. : Pos Yandu/Sekolah/BKIA R.W. .......................................

Kelurahan ....................................... Kecamatan ...................................... di......................................

Bersama ini kami kirimkan penderita : Nama Umur Alamat : ................................................. : ................................................. : .................................................

Pesan/Tindakan/Guru/Perawatan

Utuk Kader/Guru/Petugas BKIA

: .................................................................................... ....................................................................................

Atas bantuan dan perhatian Saudara, kami capkan terimakasih.

A.n Kepala Puskesmas Kecamatan : Kelurahan : Dokter Gigi Perawat gigi

19

Lampiran 4
FORMULIR C CONTOH SURAT RUJUKAN DARI PUSKESMAS/RUMAH SAKIT KE RUMAH SAKIT LAIN

Puskesmas/Rumah Sakit Wilayah Kode

: ............................... : ............................... : ...............................

Tanggal, ....................................................... Kepada Yth. T.S. Dokter Poliklinik ................................................................. RS ........................................................... di...........................................................

Mohon Konsul, Pemeriksaan, Pengobatan, Perawatan dari : Nama Pasien Umur Jenis Kelamin : ............................... : ............................... : ...............................

Dengan hasil pemeriksaan Puskesmas sebagai berikut :

Anamnesa

: ............................................................ ............................................................ ............................................................

Pemeriksaan Fisik

: ............................................................ ............................................................

Obat dan tindakan yang telah diberikan ................................................ ............................................................ Denag diagnosis sementara : ........................................................... ...........................................................

Atas bantusn dsn prhatian sejawat kami ucapkan terimakasih. Dokter Puskesmas/Rumah Sakit,

(....................................................)

20

Lampiran 5
CONTOH BUKIU REGISTRASI CATATAN PENGIRIMAN PASIEN DI PUSKESMAS

TANGGAL
BARU LAMA

NO

NAMA NO. INDEK

PENGOBATAN JENIS JENIS TINDAK SPESI UMUR DIAGNOSA KUNJUNG BAYAR GRATIS ASKES ORAL INJEKSI TOPIKAL LANJUT MEN KELAMIN AN

CATATAN : Model Regiuster yang di gunakan di Puskesmas/Rumah Sakit

21

Lampiran 6
FORMULIR D CONTOH JAWABAN DARI RUMAH SAKIT KEPADA PUSKESMAS/RUMAH SAKIT YANG MERUJUK Rumah Sakit Bagian/Poliklinik : ........................................................ : ........................................................ Tanggal, ...................................... Kepada Yth. : Puskesmas/Rumah Sakit .................................................... di..............................................

Mengenai Rujukan Sejawat atas Penderita : Nama Umur Jenis Kelamin Alamat : : : : ............................................ ............................................ ............................................ ............................................

Dapat Kami sampaikan sebagai berikut : 1. Anamnesa : ............................................................................................. ............................................................................................. ............................................................................................. 2. Pemeriksaan (Fisik/Laboratorium/dll) : ............................................................................................. ............................................................................................. ............................................................................................... 3. Diagnosa : .................................................................................................

4. Pengobatan

................................................................................................. ..............................................................................................

5. Anjuran/lain-lain

: ............................................................................................. ............................................................................................. : ............................................................................................. .............................................................................................

Dokter yang memeriksa,

(.........................................)

22

Lampiran 7 FORMULIR RUJUKAN MODEL


1. 2. 3. 4. 5. 6. Nama petugas yang mengirim model Nama Instansi yang mengirim model Nama pasian/Nomor kode Tanggal Pengirirman Tanggal selesai Jenis pekerjaan : ..................................................................... : ..................................................................... : ..................................................................... : ..................................................................... : ..................................................................... : ..........................................................................

RENCANA THERAPY INLAY UPLAY ONLAY MAHKOTA (termasuk mahkota sementara) JEMBATAN PROTESA SEBAGIAN/PENUH PELAT ORTHODONSI STEELEFRAME DENTURE

7. Warna gigi

: ..............................................................

8. Elemen gigi yang akan dibuat prothesa :

9. Bahan elemen prothesa

: Akrilik

10. Keterangan

Porselen : ................................................................. .................................................................

Catatan : Nomenklatur yang di pakaiberdasarkan WHO contoh 11 = 31 = (................................)

21 =

41=

dst.

23