Anda di halaman 1dari 1

Cho, et al.

, (2008) membuat mikroemulsi tanpa kosurfaktan dengan cara mencampurkan fase minyak dengan surfaktan dengan magnetic stirer, selanjutnya dicampur dengan fase air dengan homogenisasi pada 9000 rpm diiikuti homogenisasi 13500 rpm selama 15 menit menggunakan homogenizer ultraturak, homogenisasi dilakukan pada suhu 70C, selanjutnya mikroemulsi diinkubasi pada suhu ambient selama 24 jam sehingga tercapai keseimbangan. Beberapa penelitian lain seperti Zhang, et al., (2008) membuat mikroemulsi dengan mencampurkan surfaktan dengan fase minyak (dengan atau tanpa alkohol sebagai kosurfaktan) selanjutnya dititrasi dengan fase minyak. Tahap terakhir adalah inkubasi pada suhu ambient selama kurun waktu tertentu sampai terjadi kesetimbangan. Penentuan proporsi fase air : fase minyak dan proporsi surfaktan yang digunakan didasarkan pada diagram tiga fase (pseudoternary phase diagram) yang memberikan kenampakan transparan dan nilai turbiditas rendah. Mikroemulsi w/o akan terbentuk jika tegangan antarmuka negatif, sedangkan mikroemulsi o/w akan terbentuk jika tegangan antarmuka nol atau positif. Selama proses pembentukan mikroemulsi, selama satu fase terpisah menjadi droplet ukuran berukuran maksimum, diameter dari droplet tergantung pada area tegangan antarmuka yang dibentuk molekul surfaktan. Tegangan antarmuka dapat menjadi nol namun bersifat sementara disebabkan adanya difusi alkohol kepermukaan. Mikroemulsi secara spontan dapat terbentuk jika mempunyai tegangan antarmuka 10-4 ke 10-5 dynes/cm. Selain tegangan antarmuka, pembentukan mikroemulsi juga sangat tergantung pada fase penambahan komponen dilakukan. (Sharma dan Shah, 1985). Mikroemulsi juga dapat dibuat dengan metode emulsifikasi energi rendah dengan menambahkan fase air pada campuran surfaktan dengan fase minyak dengan cara titrasi dan diseimbangkan dengan inkubasi pada suhu 25C selama 24 jam. (Cho, et al, 2008)