Anda di halaman 1dari 2

A. VISUS Visus atau ketajaman penglihatan ialah kemampuan mata untuk melihat dengan jelas dan tegas.

Secara fisiologis hal ini ditentukan oleh daya pembiasan mata. Mata normal dapat melihat secara jelas dan tegas dua garis atau titik dengan sudut penglihatan 1 menit. Titik jauh dasar bervariasi diantara mata individu normal tergantung bentuk bola mata dan korneanya. Mata emetrop secara alami memiliki fokus yang optimal untuk penglihatan jauh, sedangkan untuk mata ametrop (miopia, hiperopia atau stigmat) memerlukan lensa koreksi agar terfokus dengan baik untuk melihat jauh. Secara praktis sangat sulit untuk mengukur sudut penglihatan suatu mata. Tahun 1876, Van Snellen menciptakan cara sederhana untuk membandingkan visus seseorang dengan visus orang normal, berdasarkan sudut penglihatan 1 menit. Kartu uji snellen menggunakkan huruf-huruf kapital dengan jenis huruf sans serif. Seiring bertambah baiknya model optotype penguji, dikembangkan kartu-kartu yang paling cocok untuk menguji ketajaman penglihatan jauh, misalnya kartu ETDRS. Menggunakkan 10 huruf kapital dengan tingkat kesulitan sama (D, K,R, H, V, C,N,Z, S dan O) yang ditemukan oleh Louise L. Sloan (Whitcher, 2010). Penurunan ketajaman penglihatan dapat dibagi menjadi dua yaitu penurunan ketajaman visual central dan perifer. Penurunan ketajaman penglihatan central dan perifer seringkali disebabkan oleh perubahan sirkulasi pada suatu lokasi di sepanjang jaras visual neurologik mulai dari retina hingga korteks oksipital. Pemeriksaan untuk penurunan ketajaman bisa digunakkan tes optotype snelen, jarak yang digunakan untuk mengetes ketajaman penglihatan dapat diukur pada jarak jauh yaitu 6 m atau 20 kaki dan jarak dekat 14 inci. Ketajaman penglihatan diberi skor dengan dua angka, angka normal untuk ketaman penglihatan adalah 6/6. Angka pembilang adalah jarak kartu dengan pasien, sedangkan angka penyebut adalah jarak yang dapat dibaca oleh orang normal (Whitcher, 2010). Pasien yang tidak dapat membaca huruf terbesar pada kartu (mis., huruf pada 20/200), harus lebih mendekati kartu sampai huruf itu dapat dibaca. Jarak ke kartu kemudian dicatat sebagai angka pertama. Ketajaman visual 5/200 artinya pasien baru dapat mengenali huruf yang paling besar pada jarak 5 kaki. Mata yang tidak dapat membaca satu huruf pun, diuji dengan cara menghitung jari. Jika tidak bisa

menghitung jari, mata tersebut mungkin masih dapat mendeteksi tangan yang digerakkan secara vertical atau horizontal. Tingkat penglihatan yang lebih rendah lagi adalah kesanggupan mempersepsi cahaya. Mata yang tidak dapat mempersepsi cahaya dianggap buta total (Whitcher, 2010). Refraksi adalah pembelokan berkas cahaya dari satu medium ke medium yang lain yang berbeda. Cahaya melewati dua medium dengan densitas berbeda. Kelainan pembiasan adalah suatu keadaan dimana pada mata yang melihat jauh tak terhingga, berkas cahaya sejajar masuk ke mata, dibiaskan tidak tepat jatuh di retina, sehingga tidak dapat melihat secara jelas. Hal ini dapat disebabkan oleh karena indeks bias sistem lensa mata atau sumbu mata dari lensa. Kelainan ini bisa timbul disepanjang jaras optik dan jaras visual neurologik (Whitcher, 2010). Refraksi adalah prosedur untuk menentukan dan mengukur setiap kelainan optic. Pemeriksaan refraksi sering diperlukan untuk membedakan pandangan kabur akibat kelainan refraksi dari pandangan kabur akibat kelainan medis pada system penglihatan. Jadi, selain menjadi dasar untuk penulisan resep kacamata atau lensa kontak koreksi, prosedur ini juga memiliki fungsi diagnostik.

Whitcher, John P and Eva, Paul Riordan. 2010. Oftalmologi Umum. Jakarta : EGC.