Anda di halaman 1dari 78

Teknologi farmasi

INDUSTRI FARMASI
MENGUBAH BAHAN BAKU MENJADI PRODUK SEDIAAN FARMASI YANG BERKUALITAS MENGGUNAKAN PROSEDUR FABRIKASI YANG TELAH DITETAPKAN

+
PRODUK SEDIAAN FARMASI YANG BERKUALITAS ?

PARAMETERS OF DRUG QUALITY


1. SAFE (AMAN) TIDAK MENIMBULKAN EFEK SAMPING YANG TIDAK DIKEHENDAKI PADA PEMBERIAN DOSIS TERAPEUTIK
2. EFFECTIVE (BERKHASIAT) MENIMBULKAN EFEK FARMAKOLOGIS PADA HEWAN ATAU MANUSIA 3. ACCEPTABLE (NYAMAN) DAPAT DITERIMA OLEH PASIEN (PENGGUNA OBAT)

KANDUNGAN SEDIAAN OBAT


R/ Bahan obat (Zat aktif)

Bahan tambahan (Eksipien)

SAFE EFFECTIVE ACCEPTABLE

BAHAN AKTIF BAHAN AKTIF EKSIPIEN

Quality does not just happen Quality can not be analyzed into a product

Quality has to be designed and built into a product during the entire manufacturing process This process has to be validated

MUTU HARUS DI DESAIN

Realisasinya
Menetapkan metode pembuatan Menetapkan proses pembuatan

1. Menetapkan metode pembuatan


Misal : Pembuatan -- Tablet a. Metode Granulasi Basah , - Untuk zat aktif yang tahan pemanasan dan tahan air b. Metode Granulasi Kering - Untuk zat aktif yang tahan terhadap tekanan tinggi akibat pegempaan c. Metode Kempa Langsung - Untuk zat- zat yang mempunyai sifat alir dan kompresibilitas yang baik

Misal : Tablet PARACETAMOL

Metode Granulasi Basah

2. Menetapkan proses pembuatan

Penimbangan

Penambahan bahan pengikat - waktu pencampuran - volume penambahan

Pencampuran

Pengayakan kering - nomer ayakan

Pengeringan - lama pengeringan

Pengayakan basah - nomer ayakan

Penambahan bahan eksternal

Penabletan
- tekanan kompresi

- lama pencampuran

QUALITY IS NOT ACHIEVED BY ANALYZING A PRODUCT

QUALITY HAS TO BE BUILT IN TO A PRODUCT DURING THE ENTIRE PRODUCTION PROCESS

MUTU HARUS DIBANGUN

Realisasinya Mewujudkan apa yang direncanakan Mengerjakan apa yang tercatat Mencatat apa yang dikerjakan Melakukan kontrol sebelum , selama dan sesudah fabrikasi

1. Mewujudkan apa yang direncanakan

Merealisasikan metode fabrikasi yang sudah ditetapkan dalam proses produksinya.

2. Do What Has Been Written Down

( Mengerjakan semua urutan proses fabrikasi yang sudah ditetapkan )


and 3. Write Down What Has To Be Done

( Pengisian laporan kerja dan pengamatan pada berkas kerja yang ada selama proses berlangsung )

4. Melakukan kontrol sebelum , selama dan sesudah fabrikasi

Sebelum : - Ukuran partikel, bentuk partikel,

kelarutan dalam solven, dan lain-lain Selama : - Kontrol homogenitas campuran, kadar air dalam granul Sesudah : - Kontrol keseragaman bobot tablet , kekerasan ,kerapuhan, waktu hancur tablet , dan kontrol kandungan zat aktif

PETUNJUK UMUM YANG BERTUJUAN UNTUK MEMASTIKAN AGAR SIFAT DAN MUTU OBAT YANG DIHASILKAN SESUAI DENGAN YANG DIKEHENDAKI DAN BILA PERLU DAPAT DILAKUKAN PENYESUAIAN DENGAN SYARAT BAHWA STANDAR MUTU OBAT YANG TELAH DITETAPKAN TETAP TERCAPAI

MACAM BUKU PEDOMAN :

GMP BOG

: GOOD MANUFACTURING PRACTICES : BRITISH ORANGE GUIDE

ASEAN GUIDLINES

KONSEP DASAR : UNTUK MENCAPAI ZERO DEFECT FAKTUAL : 1. PROSES FABRIKASI TERDIRI DARI BEBERAPA TAHAPAN YANG SALING TERKAIT 2. OBAT DIBUAT OLEH MANUSIA

If anything can go wrong

it will, At the worst possible moment !

PERSONALIA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN KERJA SANITASI PERALATAN BAHAN AWAL PRODUKSI PENGAWASAN MUTU DOKUMENTASI INSPEKSI DIRI PENARIKAN PRODUK KEMBALI OBAT KEMBALI DAN OBAT YANG DISELAMATKAN

BAHAN BAKU : Semua bahan baik yang berkhasiat, maupun tidak berkhasiat, yang berubah maupun tidak berubah, yang digunakan dalam pengelolaan obat

BAHAN AWAL :
Semua bahan baku maupun bahan pengemas PRODUK ANTARA : Tiap bahan atau campuran bahan yang masih memerlukan satu atau lebih tahap pengolahan lebih lanjut untuk menjadi produk ruahan

PRODUK RUAHAN
Tiap bahan olahan yang masih memerlukan tahap pengemasan untukmejadi produk jadi PRODUK JADI Suatu produk yang telah melalui seluruh tahap proses pembuatan

BAHAN BAKU ZAT AKTIF + EKSIPIEN

PRODUK ANTARA

BAHAN AWAL
BAHAN PENGEMAS

PRODUK RUAHAN

PRODUK JADI

BATCH : Sejumlah produk obat yang dihasilkan dalam satu siklus pembuatan berdasarkan suatu formulasi yang mempunyai sifat yang seragam Esensi batch : HOMOGENITASNYA NOMER BATCH :

Penandaan yang terdiri dari angka atau huruf atau gabungan dari keduanya yang merupakan tanda pengenal suatu batch, yang memungkinkan penelusuran dan peninjauan kembali riwayat lengkap pembuatan batch tersebut, termasuk tahap-tahap produksi, pengawasan dan distribusi

LOT :

Sebagian tertentu dari suatu batch yang memiliki sifat dan mutu seragam dalam batas yang telah ditetapkan apabila suatu produk obat diproduksi dengan proses terus menerus
NOMER LOT : Penandaan yang terdiri dari angka atau huruf atau gabungan dari keduanya yang merupakan tanda pengenal suatu lot , yang memungkinkan penelusuran dan peninjauan kembali riwayat lengkap pembuatan lot tersebut, termasuk tahap-tahap produksi, pengawasan dan distribusi

THERAPEUTIC AND TOXIC BLOOD LEVEL CONCENTRATION OF SOME DRUG SUBSTANCE


DRUG SUBSTANCE CONCENTRATION (mg/l) DRUG SUBSTANCE ACETAMINOPHEN AMITRIPTYLINE BARBITURATES THERAPEUTIC 10 20 0,5 0,20 1 15 10 0,05 0,2 0,5 2,5 0,0006 0,0013 0,05 0,016 1,2 5,0 0,1 5 22 20 100 TOXIC 400 0,4 7 10 30 40 60 5 10 5 20 0,002 0 009 0,7 6 50 LETHAL 1500 10 20 10 30 80 150 57 >50 2 0,05 4 100 -

Short acting - Intermediate acting Long acting


DEXTROPROPOXYPHENE DIAZEPAM DIGOXIN IMIPRAMIN LIDOCAINE MORPHINE PHENYTOIN THEOPHYLLINE

EXCIPIENTS
ARE USED TO BRING DRUG(S) INTHE MOST SUITABLE DOSAGE FORMS THEY SHOULD IMPROVES THE PROPERTIES OF THE DRUG IN THE DOSAGE FORMS TO BRING THE DRUG IN THE MOST APPROPRIATE FORM TO THE OPTIMAL PLACE ABSORPTION AT THE RIGHT TIME AND THE RIGHT DOSE (INCUDING DRUG TARGETING) TO IMPROVE DRUG STABILITY TO MASK BITTER TASTE TO IMPROVE PATIENT COMPLIANCE

PHYSICAL PROPERTIES dari BAHAN BAKU


BERLAKU UNTUK ZAT AKTIF DAN EKSIPIEN CAKUPAN : - UKURAN PARTIKEL , DISTRIBUSI PARTIKEL - BENTUK PARTIKEL / KRISTAL - POLIMORFI , HIDRAT, SOLVAT - TITIK LEBUR , KELARUTAN - KOEFISIEN PARTISI, DISOLUSI - FLUIDITAS (SIFAT ALIR), KOMPAKTIBILITAS - PEMBASAHAN - PRODUKSI /FABRIKASI - KETERSEDIAAN FARMASETIK / HAYATI

KETETAPAN BAHAN BAKU DALAM CPOB 1. Harus sesuai dengan spesifikasinya 2. Tiap batch diberi nomer rujukan yang jelas

3. Harus diperiksa secara visual


4. Pengambilan sampel harus hati-hati untuk mencegah pencemaran

5. Harus ditahan di karantina sampai saat disetujui


PERLU PENANGANAN YANG BAIK

PRINSIP DASAR PENANGANAN BAHAN BAKU

YANG BAIK
1. PENGANGKUTAN JARAK PENDEK 2. WAKTU TUNGGU YANG PENDEK 3. TRANSPORTASI BOLAK-BALIK 4. HINDARI MUATAN YANG TIDAK PENUH

5. MEKANISASI
6. PENGANGKUTAN ARAH VERTIKAL 7. SELEKSI BARANG YANG DIANGKUT

AKIBAT PENANGANAN BAHAN BAKU YANG

TIDAK BAIK
1. KERUSAKAN BAHAN BAKU

2. PENGANGGURAN ALAT PRODUKSI


3. KEMUNDURAN PRODUKSI 4. KENAIKAN BIAYA OPERASIONAL

BAHAN PENGEMAS
1. BAHAN PENGEMAS PRIMER 2. BAHAN PENGEMAS SEKUNDER BAHAN PENGEMAS PRIMER

SELALU KONTAK DENGAN SEDIAAN OBAT


DAPAT TERJADI INTERAKSI DENGAN BAHAN AKTIF (KUALITAS BAHAN PENGEMAS TERGANTUNG DARI PRODUK YANG DIKEMAS)

Misal : Gelas , dapat membebaskan alkali Plastik , dapat mengabsorpsi obat

SYARAT BAHAN PENGEMAS : (PRIMER)


1. DAPAT MELINDUNGI SEDIAAN KARENA PENGARUH LINGKUNGAN

2. TIDAK BEREAKSI DENGAN PRODUK (ZAT AKTIF)


3. TIDAK BERPENGARUH TERHADAP RASA DAN BAU PRODUK

4. BERSIFAT NON TOKSIK


5. MEMENUHI SYARAT PERATURAN YANG ADA (FDA) 6. DAPAT DIAPLIKASIKAN PADA PENGGUNAAN ALAT PENGEMASAN DENGAN KECEPATAN TINGGI

MACAM BAHAN PENGEMAS :


GELAS PLASTIK KARET LOGAM : TIPE I , II , III dan NP : NYLON, POLYCARBONAT , DLL : ALAM DAN SINTETIS : ALUMINIUM, TIMBAL

KERTAS / KARTON: DERIVAT SELULOSA

GELAS

Banyak digunakan dalam pengemasan, karena mempunyai keuntungan :


1. DAYA PERLINDUNGAN YANG BAIK 2. TERSEDIA BERBAGAI UKURAN DAN BENTUK

3. MURAH
4. UMUMNYA BERSIFAT INERT SECARA KIMIA 5. KERAS, TRANSPARAN DAN MENGKILAP

6. MUDAH DIBERSIHKAN
7. EFEKTIF UNTUK PENGGUNAAN BERULANG

KELEMAHAN
GELAS SEBAGAI BAHAN PENGEMAS
1. MUDAH PECAH 2. BERAT ( BOBOT JENISNYA BERKISAR 2,25 2,5 )

MACAM TIPE GELAS


1. GELAS TIPE I : 2. GELAS TIPE II : 3. GELAS TIPE III : 4. GELAS TIPE NP :

- Gelas netral, borosilicate glass - Treated soda lime glass


- Regular soda lime glass - General purpose soda lime glass

GELAS TIPE I
TERMASUK HIGH HYDROLYTIC RESISTANCE

BERSIFAT LEBIH INERT DIBANDING TIPE LAIN


UNSUR ALKALI DALAM GELAS DINETRALISIR OLEH ASAM BORAT

TITIK LEBURNYA SANGAT TINGGI : 1750O C


DIGUNAKAN UNTUK :

- ampul (parenteral injection)


- menyimpan larutan garam alkaloida
TAHAN TERHADAP HIDROGEN FLUORIDA (HF)

GELAS TIPE II
TERMASUK LIMITED HYDROLYTIC RESISTANCE DIBUAT DARI COMERCIAL SODA LIME GLASS YANG MENGALAMI DE-ALKALIZED, ATAU PERLAKUAN UNTUK MENGHILANGKAN ALKALI DI PERMUKAAN

GELAS (DIKENAL DENGAN SULFUR TREATMENT)


DIGUNAKAN SEPERTI GELAS TIPE I, NAMUN HANYA UNTUK SEKALI PAKAI. PENGGUNAAN BERULANG DAPAT MEMBEBASKAN ALKALI TIDAK TAHAN TERHADAP HIDROGEN FLUORIDA (HF)

GELAS TIPE III


TERMASUK LIMITED HYDROLYTIC RESISTANCE
DIBUAT DARI COMMERCIAL SODA LIME GLASS TIDAK TAHAN TERHADAP HIDROGEN FLUORIDA (HF)

GELAS TIPE NP
BANYAK DIGUNAKAN UNTUK NON PARENTERAL PRODUK
TERUTAMA UNTUK PENGGUNAAN ORAL DAN TOPIKAL TIDAK TAHAN TERHADAP HIDROGEN FLUORIDA (HF)

CARA KONTROL KETAHANAN HIDROLISA


1. BOTOL GELAS DIISI AQUADEST, DAN DIPANASKAN

PADA 120O C DALAM AUTOCLAVE. ALKALI YANG


TERLARUT LALU DITRITASI DENGAN LARUTAN STANDAR HCl, DENGAN MENGGUNAKAN INDIKATOR

METIL MERAH. JUMLAH HCl YANG DIGUNAKAN


DICATAT SEBAGAI a ml.

2. BOTOL GELAS DISERBUK HALUS DAN DITAMBAH AQUADEST, DAN DIPANASKAN PADA 120O C DALAM AUTOCLAVE. ALKALI YANG TERLARUT LALU DITRITASI DENGAN LARUTAN STANDAR HCl, DENGAN MENGGUNAKAN INDIKATOR METIL MERAH. JUMLAH HCl YANG DIGUNAKAN DICATAT SEBAGAI b ml.

Untuk gelas netral (tipe I) maka harga b - a = kecil Untuk gelas alkali ( tipe lain) maka harga b - a = besar

PLASTIK
MACAMNYA : - THERMOPLAST
- THERMOHARDER

THERMOPLAST
BENTUKNYA PADAT MOLEKUL TARIK MENARIK SECARA PHYSICAL ATTRACTION FORCE BILA DIPANASKAN BILA DIDINGINKAN IKATAN MELEMAH KONSISTENSI MELUNAK KEMBALI KE BENTUK SEMULA

LARUT DALAM BEBERAPA SOLVEN ORGANIK

THERMOHARDER
BILA DIPANASKAN TIDAK MELELEH TIDAK LARUT DALAM SOLVEN ORGANIK

DIGUNAKAN UNTUK TUTUP BOTOL, TUBE, DLL

BAHAN BAKU PLASTIK


POLYVINYL CHLORIDE (PVC)
MERUPAKAN POLIMERISASI GAS VINYL CHLORIDA ( CH2 = CHCl ) - CH CH2 CH CH2 CH CH2

Cl

Cl

Cl

BANYAK DIPAKAI UNTUK CAIRAN INTRA VENA LEBIH BERSIFAT PERMEABEL TERHADAP GAS

TRANSPARAN

POLY STYRENE (PS)


MATERIAL TRANSPARAN , KERAS UNTUK MENYIMPAN TABLET DAN CAIRAN MUDAH PECAH

CELLOPHANE
SUATU REGENERASI SELULOSA DIGUNAKAN UNTUK : - WADAH INFUS DAN BLOOD PRODUCT

- DISPOSABLE SYRINGES
- TUBE UNTUK SEDIAAN SALEP - WADAH SEDIAAN CAIR, DAN PADAT

- UNTUK BLISTER

POLYETHYLENE
MERUPAKAN POLIMERISASI ETHYLEN CH2 = CH2 - CH2 CH2- CH2 CH2 CH2 ADA DUA MACAM YANG DIEDARKAN BERDASARKAN

PEMBUATANNYA :
- TEKANAN TINGGI : 200o C 1500 atm - TEKANAN RENDAH

- dapat disterilisasi pada max. 120o C - untuk cairan infus

ZAT ADITIF DALAM pLASTIK


DIGUNAKAN PADA SAAT PEMBUATAN PLASTIK BERTUJUAN UNTUK MENDAPATKAN SIFAT PLASTIK YANG DIKEHENDAKI

Misal :

- Benzoil peroksida ; BF3 ; AlCl3 ; dan SnCl2


yang berguna untuk memacu proses polimerisasi - Glycol ; ester asam ftalat yang berfungsi sebagai softener, atau plasticizer

- CaCO3 ; TiO2 ; dan Kaolin ditambahkan untuk meningkatkan kekuatan mekanik plastik - Benzofenon ; derivat asam salisilat berguna untuk melindungi obat terhadap sinar UV - Zat warna , untuk memberi warna yang diinginkan pada plastik

KELEMAHAN PLASTIK SEBAGAI BAHAN PENGEMAS


PERMEABEL TERHADAP GAS DAN UAP AIR DAPAT MENGABSORPSI ZAT AKTIF DAN EKSIPIEN

Misal : - Mentol, kamfer dapat diabsorpsi plastik


DAPAT MEMBEBASKAN ALKALI DAN BEREAKSI DENGAN
OBAT PLASTIK YANG HIDROFOBIK, MEMPUNYAI AFINITAS

TERHADAP SUBSTANSI LIPOFILIK , PRESERVATIF DAN


EMULSIFYING AGENT, SEHINGGA MENGGANGGU STABILITAS SEDIAAN EMULSI

KARET
ADA DUA MACAM : KARET ALAM DAN KARET SINTETIK KARET ALAM MEMPUNYAI KONSISTENSI YANG KERAS MERUPAKAN DERIFAT METHYLBUTADIENE CH2 CH2 CH = C CH2 n = 9.000 15.000

n KARET SINTETIK YANG BANYAK DIGUNAKAN MERUPAKAN POLIMER ISOBUTANE

CH3
(CH3)2 C = CH2 C CH2 CH3

UNTUK PENGGUNAAN DALAM BIDANG FARMASI, PADA

PROSES PEMBUATANNYA DITAMBAH BAHAN PENGISI


TALK DAN CaCO3, UNTUK MAKSUD MENGURANGI

PERMEABILITAS TERHADAP GAS


BIASA DIGUNAKAN SEBAGAI PENUTUP VIAL

DISAIN dan KONSTRUKSI BANGUNAN


untuk PRODUKSI HARUS MEMILIKI

ASPEK yang DAPAT MENCEGAH BAHAYA


yang DAPAT MERUGIKAN KUALITAS OBAT

PERLU DIPERHATIKAN ADANYA SUMBER


PENCEMARAN LINGKUNGAN

SUMBER PENCEMARAN yang BERASAL DARI LINGKUNGAN UDARA


DEBU JALAN, DEBU INDUSTRI LAIN DAN PARTIKEL PESTISIDA

PERLU VENTILASI UDARA dengan FILTER AWAL dan AKHIR yang MEMPUNYAI EFISIENSI 35% dan 80 %

TANAH
BEKAS TIMBUNAN SAMPAH DAN BAHAN KIMIA KONSTRUKSI BANGUNAN HARUS KOKOH DAN KEDAP AIR

AIR TANAH
BEKAS TIMBUNAN BAHAN KIMIA, ADANYA KUMAN yang PATOGEN dan MASALAH AIR SADAH

PERLU SISTEM PENGOLAHAN LIMBAH YANG BAIK

BANGUNAN PERLU SARANA PERLINDUNGAN TERHADAP :


1. CUACA : - DENGAN MEMBERI CAT TAHAN CUACA - DILENGKAPI DENGAN DEHUMIDIFIER 2. BANJIR :- MEMBUAT LETAK BANGUNAN CUKUP TINGGI - MEMBUAT SALURAN AIR YANG BAIK 3. PEREMBESAN AIR TANAH : - PONDASI YANG BAIK 4. SERANGGA DAN HEWAN KECIL LAIN: - PEMASANGAN KAWAT KACA

- PEMASANGAN PENCEGAH RAYAP

MACAM BANGUNAN

1. WHITE ZONE
a) KELAS I / KELAS 100 b) KELAS II / KELAS 10.000

2. GREY ZONE - KELAS III / KELAS 100.000


3. BLACK ZONE KELAS IV / KELAS >100.000 UNSPECIFIED CLASSE

KELAS I / KELAS 100


SYARAT : MAKSIMUM DALAM SATU KAKI KUBIK
UDARA TERDAPAT 100 PARTIKEL YANG BERUKURAN 0,5 m FUNGSI : TEMPAT PRODUKSI SEDIAAN STERIL YANG ASEPTIS SISTEM PENDUKUNG :- AIR HANDLING UNIT - LAMINAR AIR FLOW TEKANAN UDARA RUANG : POSITIF

KELAS II / KELAS 10.000


SYARAT : MAKSIMUM DALAM SATU KAKI KUBIK UDARA TERDAPAT 10.000 PARTIKEL YANG BERUKURAN 0,5 m FUNGSI : TEMPAT PRODUKSI SEDIAAN STERIL YANG NON ASEPTIS SISTEM PENDUKUNG : AIR HANDLING UNIT TEKANAN UDARA RUANG : POSITIF

KELAS III / KELAS 100.000


SYARAT : MAKSIMUM DALAM SATU KAKI KUBIK UDARA TERDAPAT 100.000 PARTIKEL YANG BERUKURAN 0,5 m FUNGSI : TEMPAT PRODUKSI SEDIAAN NON STERIL SISTEM PENDUKUNG : AIR HANDLING UNIT TEKANAN UDARA RUANG : - UMUMNYA POSITIF - NEGATIF UNTUK PRODUKSI DERIVAT PENISILIN

KELAS IV / KELAS > 100.000


SYARAT : DALAM SATU KAKI KUBIK UDARA BOLEH TERDAPAT LEBIH DARI 100.000 PARTIKEL YANG BERUKURAN 0,5 m FUNGSI : TEMPAT NON PRODUKSI, SEPERTI : - KANTOR - KANTIN - GUDANG - BENGKEL, DLL

PERSONALIA
QUALITY DRUGS ARE MADE BY PEOPLE Unfortunately, poor quality drugs are also made by people! Therefore, The quality of the personnel is of utmost importance! Personnel is asset no.1 on pharmaceutical production

Personnel
There should be an adequate number of personnel of all levels having - Knowledge - Skill - Capabilities relevant to their functions - Good mental health - Good physical health - Able to execute their duties professionally and properly - The attitude to achieve the goals of GMP

Key Personnel Production Manager Quality Control Manager

They should ........


Be different persons
Be not responsible to each other

Have their own, well defined responsibilities


Have no interest outside the company that

prevent or restrict their devotion to the


assigned responsibilities

MANAJER PRODUKSI

Uraian tugas secara umum


Manajer Produksi bertanggungjawab atas

terlaksananya pembuatan obat agar obat


tersebut memenuhi persyaratan kualitas yang ditetapkan dan dibuat dengan memperhatikan pelaksanaan CPOB, dalam batas waktu dan biaya produksi yang telah ditetapkan

Pengetahuan, Ketrampilan dan Kemampuan


Manajer Produksi hendaklah seorang apoteker dengan pengalaman praktis paling sedikit 2 tahun bekerja di bagian produksi pabrik farmsi, memiliki pengalaman dan pengetahuan di bidang pembuatan obat dan perencanaan produksi, pengetahuan mengenai mesin, CPOB dan kepemimpinan

BAGIAN KONTROL KUALITAS (QC)


BERTUGAS UNTUK MELAKUKAN PENGUJIAN TERHADAP PRODUK , MENCAKUP : BAHAN AWAL PRODUK JADI IN PROCESS CONTROL (IPC) SAMPEL PERTINGGAL (RETAINED SAMPLE) KONTROL MIKROBIOLOGI (UNTUK PRODUK TERTENTU) UJI STABILITAS PEMANTAUAN LINGKUNGAN KERJA VALIDASI DOKUMENTASI

KONTROL BAHAN AWAL :


BAHAN OBAT DAN EKSIPIEN - UKURAN PARTIKEL, BENTUK PARTIKEL, KELARUTAN, TITIK LEBUR, KERAPATAN JENIS , DLL - KADAR ZAT AKTIF, DISOLUSI

- CARA PENGAMBILAN SAMPEL : METODE MILITARY


STANDARD = Vn + 1 - TEMPAT PENGAMBILAN DI RUANG KHUSUS

- SAMPEL DENGAN NOMER BATCH YANG TIDAK JELAS


LANGSUNG DITOLAK

BAHAN PENGEMAS - MISALNYA : KETEBALAN BAHAN PENGEMAS, KELENTURAN, PERMEABILITAS - PENGAMBILAN SAMPEL UNTUK ALUMINIUM FOIL : DIAMBIL SEKITAR 3 METER PADA AWAL GULUNGAN - BILA LEBIH DARI SATU ROL, JUMLAH ROL DIAMBIL DENGAN RUMUS Vn + 1 BROSUR, LABEL, ETIKET, FOLDING BOX - DITENTUKAN DENGAN PEDOMAN TERTENTU ( MIS. TIAP 500 LEMBAR/PCS SAMPELNYA SEJUMLAH 15 LEMBAR /PCS )

PENENTUAN JUMLAH SAMPEL

(selain dinyatakan dengan military standart)


MAKIN BESAR JUMLAH SAMPEL MENDEKATI POPULASI, PELUANG KESALAHAN GENERALISASI SEMAKIN KECIL DAN DEMIKIAN SEBALIKNYA

CARA PENENTUAN UKURAN SAMPEL YANG PRAKTIS :


- DENGAN TABEL , YAITU MENGGUNAKAN TABEL KREJCIE

- DENGAN NOMOGRAM HARRY KING

PENETAPAN JUMLAH SAMPEL DENGAN TABEL KREJCIE

KETERANGAN : N POPULASI

S - SAMPEL

PENETUAN UKURAN SAMPEL DENGAN NOMOGRAM HARRY KING

CONTOH PENENTUAN SAMPEL

DENGAN TABEL KREJCIE Bahan baku berupa serbuk yang dikemas dalam drum JUMLAH POPULASI (drum) : 1000 buah BILA KESALAHAN 5% ------- UNTUK POPULASI = 1000, JUMLAH SAMPEL = 278 drum DENGAN NOMOGRAM HARRY KING Bahan baku berupa serbuk yang dikemas dalam drum JUMLAH POPULASI (drum) : 800 buah BILA KESALAHAN 10% --- UNTUK POPULASI = 800, JUMLAH SAMPEL = 9/100 x 800 = 72 drum

2. KONTROL PRODUK JADI

- KESERAGAMAN BOBOT, KEKERASAN, KERAPUHAN,


WAKTU HANCUR, DISOLUSI TABLET - PH, KEKENTALAN SUSPENSI, EMULSI,SIRUP

- PH, KEJERNIHAN INJEKSI


3. IN PROCESS CONTROL (IPC) - KONTROL HOMOGENITAS , KADAR AIR

CONTOH PERTINGGAL ( RETAINED SAMPLE ) - ADALAH SEBAGIAN PRODUK HASIL PRODUKSI YANG DITINGGAL DIPABRIK DAN TIDAK DIDISTRIBUSIKAN / DIPASARKAN - FUNGSINYA SEBAGAI PEMBANDING / KONTROL TERHADAP PRODUK YANG DIPASARKAN (APABILA TERJADI COMPLAIN DAN - UNTUK UJI STABILITAS PRODUK JADI

KONTROL MIKROBIOLOGI - DILAKUKAN TERUTAMA UNTUK PRODUK TERTENTU, SEPERTI PRODUK STERIL, SIMPLISIA NABATI DLL UJI STABILITAS - DAPAT DILAKUKAN DENGAN DUA METODE : a. METODE TEMPERATUR KAMAR b. METODE TEMPERATUR YANG DINAIKKAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN KERJA - DENGAN MENEMPATKAN PLATE MEDIA BAKTERI PADA TEMPAT DAN WAKTU YANG TELAH DITENTUKAN DIBAGIAN PRODUKSI