Anda di halaman 1dari 3

OKGBS aporan Reporter Tribun Jogja, Padhang Pranoto TRIBUNJOGJA.

COM, SLEMAN - Niat yang baik tidak berarti harus memberikan sesuatu yang mewah, akan tetapi kesederhanaan yang dilandasi dengan kesungguhan bisa menjadi kado istimewa. Itulah yang dilakukan sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), yang mendirikan taman bacaan "Omah Karung Goni" di Dusun Ngemplak, Caturharjo, Sleman. Para mahasiswa UGM tersebut merupakan penghuni UGM Residence, atau asrama kampus. Dimana didalamnya mahasiswa dituntut mengembangkan kepekaan sosial lewat program turun langsung ke masyarakat. Menurut Supervisor Kegiatan Life Skill UGM Residence, Putera Iskandar program peningkatan berbasis masyarakat bertujuan meningkatkan kepekaan Mahasiswa terhadap lingkungan. "Ini merupakan bentuk kegiatan mahasiswa utk membentuk lifeskill, jiwa sosial dan diwujudkan oleh baksos. Tahun lalu sudah dilaksanakan di Wonosari. Namun untuk taman baca baru kali ini," terangnya. Ia melanjutkan, bahwa program life skill tersebut berbeda dengan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Menurutnya hal tersebut merupakan program internal dari UGM Residence yang terintegrasi dengan kampus. Putera yang kerap dipanggil Puis ini menambahkan, program berupa taman bacaan ini sangat didukung oleh kampus. Dalam dua tahun kedepan akan terus dikembangkan format taman bacaan khususnya di daerah Sleman. Mengenai pemilihan mengapa Dusun Ngemplak yang dipilih menjadi tempat taman bacaan OKG, karena dinilai wilayah ini tergolong sebagai daerah miskin. Pada acara tersebut, selain peresmian taman baca Omah Karung Goni, juga diadakan bazar pakaian murah dan pengobatan gratis. Sementara itu ketua Panitia Pelaksana acara tersebut Yulika mengutarakan, selain didukung penuh oleh kampusnya. Ia juga mendapatkan banyak sokongan dari teman-temannya seasrama yang menyumbangkan buku-buku bacaan. Dalam catatannya ada sekitar 500-700 buah buku yang memenuhi taman bacaan OKG.

"Kami terbantu dari berbagai pihak, kampus, pihak swasta dan terutama dari teman-teman asrama yang menyumbangkan banyak buku," ucapnya. Ia menambahkan realisasi program ini merupakan hasil dari pengajuan proposalnya setahun yang lalu. Namun baru dilaksanakan sekitar September 2013. Hal ini juga tidak lepas dari bantuan warga sekitar, terutama kepala Dukuh Ngemplak Hardoko, yang merelakan ruangannya menjadi taman baca. Mengenai nama "karung goni", Yulika sengaja memilihnya berdasarkan warna jass almamater UGM, yang nampak seperti karung goni. "Karung goni menyimbolkan sebuah tempat pembawa beras yang ulet, namun banyak digunakan petani kecil zaman dahulu," tandasnya Ia berharap meskipun tempatnya ini tidak mewah, namun bisa memberi kemanfaatan pada warga sekitar.(*)
YOGYAKARTA Keluarga Besar Mahasiswa Asrama UGM mendirikan rumah baca Omah Karung Goni di Dusun Ngemplak, Caturharjo, Kecamatan Sleman, Sleman, Minggu (19/1). Peresmian ditandai dengan pelantikan 7 orang kader pengurus taman bacaan dari anggota karang taruna dan pengguntingan pita oleh Camat Sleman yang menandai dibukanya secara resmi pelayanan rumah taman baca. Tien Simbolon, salah satu mahasiswa asrama UGM yang ikut dalam kegiatan tersebut mengatakan, kegiatan pendirian taman bacaan bagi anak-anak dalam rangka memotivasi anak-anak untuk bersemangat bersekolah menggapai cita-citanya. Kita ingin memotivasi anak putus sekolah di sini agar mereka bersemangat sekolah kembali, kata Tien. Taman bacaan yang dibangun di rumah Kepala Dusun ini menyediakan lebih dari 1.000 buku yang umumnya berupa buku cerita anak, buku pengetahuan, novel, dan buku agama. Buku-buku ini hasil sumbangan mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, dan perpustakaan daerah DIY, tambahnya. Selain meresmikan taman bacaan, tambah Tien, mahasiswa asrama UGM ini juga menggelar pengobatan gratis dan bazaar sembako dan sandang murah. Kegiatan ini dikunjungi ratusan warga dusun Ngemplak dan sekitarnya. Seluruh kegiatan ini diinisiasi mahasiswa asrama sebagai bentuk kepedulian kita dalam melakukan pengabdian di masyarakat, ujarnya Sedikitnya 35 orang mahasiswa asrama UGM yang ikut berpratisipasi dalam kegiatan. Menurut Tien, tiap dua bulan sekali, mahasiswa asrama UGM rutin menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat. Lokasi yang dijadikan tempat untuk pengabdian adalah daerah yang mayoritas warganya yang masih dalam kondisi miskin. Camat Sleman, Iriansyah, mengaku Dusun Ngemplak yang berada di Desa Caturharjo,

Kecamatan Sleman, merupakan satu-satunya kecamatan dari total 17 kecamatan di Sleman yang memiliki angka kemiskinan paling tinggi yakni, 25,3 %. Di lima desa yang ada di kecamatan Sleman ini, kebetulan Caturharjo masih tinggi tingkat kemiskinannya, katanya. Dalam kesempatan itu, Iriansyah memberikan apresiasi kepada mahasiswa asrama UGM yang telah memilih Desa Caturharjo sebagai daerah binaan. Kegiatan pengabdian ini, menurutnya, diharapkan mampu mendukung program pengentasan kemiskinan yang sudah dicanangkan oleh pemerintah desa dan pemerintah Kecamatan Sleman.Tepat sekali jika di Padukuhan ini dijadikan tempat pengabdian. Saya harap secara terus menrus terus dapat berkelanjutan dengan telah dibangunnya taman bacaan ini, sambungnya. Arbuwati, 52 tahun, salah seorang warga yang ditemui di sela-sela mengikuti pengobatan gratis mengaku senang bisa ikut pengobatan gratis. Apalagi kegiatan semacam ini jarang dilakukan di dusunnya. Ibu dari dua anak yang sehari-hari berprofesi sebagai pekerja rumah tangga ini sengaja datang untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Agar saya bisa tahu penyakit saya, katanya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)