Anda di halaman 1dari 2

Siaran Pers Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, 25 November 10 Desember 2013

25 November 2013 Berita, Main Article, Siaran Pers

Siaran Pers Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, 25 November 10 Desember 2013 Segerakan Penanganan yang Mumpuni bagi Perempuan Korban Kekerasan Seksual Jakarta, 25 November 2013 Intensitas persoalan kekerasan seksual terhadap perempuan menuntut perbaikan segera untuk menghadirkan penanganan yang mumpuni bagi perempuan korban. Sepanjang tahun 2013, kita diteror situasi darurat kekerasan seksual. Belum selesai keterkejutan pada kasus RI, anak perempuan yang masih duduk di kelas 5 SD yang meregang nyawa karena kekerasan seksual yang dialaminya, kita dihadapkan pada sederatan panjang kasus lainnya. Semua itu menyentak rasa kemanusiaan kita. Kebutuhan penanganan yang mumpuni tidak dapat ditunda lagi. Dari data yang dihimpun, sedikitnya 35 perempuan menjadi korban kekerasan seksual setiap harinya. Pada tahun 2012 saja, tercatat 4.336 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan. Empat jenis kekerasan yang paling banyak ditangani adalah perkosaan dan pencabulan (1620), percobaan perkosaan (8), pelecehan seksual (118), dan trafiking untuk tujuan seksual (403). Kekerasan seksual tersebut terjadi baik di lingkungan rumah, di tengah-tengah masyarakat maupun dilakukan oleh aparat negara. Jumlah ini tentunya masih merupakan puncak gunung es. Stigma dan beban pembuktian menyebabkan sebagian banyak korban masih enggan melaporkan kasusnya.[1] Namun, upaya untuk menangani kekerasan seksual secara komprehensif masih tertatih. Salah satu masalah utama adalah belum adanya payung hukum yang memadai. Sampai hari ini, perbaikan hukum pidana dan hukum acara pidana berjalan pelan, bahkan seolah kehilangan arah. Padahal, ada 15 jenis kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan di Indonesia dan masingmasingnya perlu didalami. Selain empat jenis yang telah disebutkan di atas, yang lainnya adalah (a) eksploitasi seksual, (b) penyiksaan seksual, (c) perbudakan seksual, (d) prostitusi paksa, (e) pemaksaan kehamilan, (f) pemaksaan aborsi, (g) pemaksaan perkawinan, (h) kontrol seksual termasuk pemaksaan busana dan kriminalisasi perempuan lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama, (i) penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual, (j) praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan; dan (k) kontrasepsi/sterilisasi paksa. Meski telah tampak perbaikan dalam hal penanganan oleh aparat penegak hukum, para pendamping melaporkan bahwa situasi perbaikan belum merata. Korupsi yang menggurita masih menjadi kendala utama bagi korban untuk mendapat keadilan. Di sebagian banyak daerah, korban masih harus berhadapan dengan sikap aparat menyalahkan korban ataupun mendorong mediasi yang justru menghalangi pemulihan hak-hak korban. Layanan bagi perempuan korban juga sangat terbatas; unit penanganan pengaduan di kepolisian belum menjadi prioritas dan pusat layanan terpadu yang dikoordinir oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak kerap terhambat oleh struktur dan dukungan seadanya. Penanganan kasus semakin rumit

ketika kebijakan daerah justru menempatkan persoalan kekerasan seksual sebagai isu moralitas. Belum lagi sikap pejabat publik yang turut melecehkan dan menghakimi korban. Di tengah situasi itu, Komnas Perempuan mencatat penguatan geliat inisiatif dan kerja-kerja di masyarakat untuk mendukung upaya penuntasan kasus kekerasan seksual. Respon masyarakat dan media mengecam pernyataan para pejabat publik yang menstigma korban, misalnya pernyataan calon hakim tentang perempuan korban perkosaan ataupun gagasan tes keperawanan, menjadi salah satu penanda. Muncul pula inisiatif relawan yang mengikrarkan diri untuk ikut melakukan perlawanan. Di antaranya adalah kelompok musik Simponi yang melalui lagu Sister In Danger berkampanye di 11 kota di Jawa dan Bali, mahasiswa Sekolah Desain Komunikasi Visual Universitas Bina Nusantara (DKV-Binus) yang mengaplikasikan ilmunya mendukung kampanye melawan kekerasan seksual, serta jaringan relawan Jakarta Bebas Kekerasan Seksual yang dibentuk pada bulan Oktober lalu. Penguatan tanggapan masyarakat juga dapat dilihat dari jumlah pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan K16HAKtP. Dengan bangga Komnas Perempuan mencatat bahwa tahun ini setidaknya ada 129 organisasi tersebar di 51 kabupaten di 25 Provinsi yang menyelenggarakan K16HAKtP di Indonesia. Jumlah ini bertambah 100% dari penyelenggaraan kampanye serupa dua tahun yang lalu. K16HAKtP berlangsung setiap tahunnya dari tanggal 25 November, yaitu Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, hingga 10 Desember, yaitu Hari HAM Sedunia. Sejak tahun 2010, Komnas Perempuan dan mitranya mendedikasikan K16HAKtP untuk memfokuskan diri pada isu kekerasan seksual. Dukungan pada K16HAKtP akan turut menentukan keberhasilan untuk segera terselenggaranya penanganan yang mumpuni bagi perempuan korban kekerasan seksual. Kontak Person: 1. Andy Yentriyani, Ketua Sub Komisi Partisipasi Masyarakat, Komisioner Komnas Perempuan, 081317128173 2. Desti Murdijana, Wakil Ketua Komnas Perempuan, 087878221601 Lembar Fakta dapat diunduh
LEMBAR FAKTA kampanye 16haktp_2013

Informasi Agenda Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan dapat melalui
Agenda Kampanye 16HAKtP 2013

Theresia Yuliwati (08119616762) atau rere@komnasperempuan.or.id facebook: Komnas Perempuan Group


[1]Data Catatan Tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Catahu Komnas Perempuan) yang didasari oleh laporan
kasus yang ditangani oleh lembaga layanan bagi perempuan korban yang dikelola oleh pemerintah maupun masyarakat sipil