Anda di halaman 1dari 47

Rahasia Dokter-Pasien Terhadap Penyakit Menular Seksual Pasien

Prilly Pricilya Theodorus Mahasiswi Semester VII / 102009160 / C5 PBL 30 - Kasus 6

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Arjuna Utara No.6 Kebon Jeruk, Jakarta 11510 e-mail : prilly.p.theodorus@hotmail.com

Abstrak Dewasa ini, setiap harinya terjadi hubungan timbal balik antara dokter-pasien. Salah satunya ialah ketika pasien menggunakan haknya agar dokter menjaga informasi-informasi yang dianggap pasien pribadi untuk tidak diberitahukan ke siapa saja bahkan sampai keluarganya sendiri. Jika sang dokter memberitahukan informasi tersebut tanpa sepengetahuan pasien, maka pasien berhak menuntut dokter karena dokter tersebut telah melanggar kode etik kedokteran. Akan tetapi, untuk sesuatu hal yang menyangkut hukum, dengan ketetentuan tertentu, rahasia tersebut dapat dibuka dan dokter dilindungi dalah hal ini. Hal-hal mengenai informasi rahasia umumnya berasal dari pasien yang mengalami penyakit keganasan, atau juga penyakit menular seksual. Dengan ini, dokter berada dalam posisi terdesak karena ia harus dengan baik dan bijak dalam menangani dan menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang terdekat pasien. Maka dari sinilah berangkatnya penerapan kode etik kedokteran.

Kata kunci : rahasia pasien, menuntut, dilindungi hukum, kode etik kedokteran.

PENDAHULUAN Di dalam menentukan tindakan di bidang kesehatan atau kedokteran, keputusan hendaknya mempertimbangkan Etika Profesi Kedokteran. Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar salahnya suatu sikap dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas.

A. Etika Profesi Kedokteran

Kode Etik Kedokteran Internasional berisikan tentang kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien, kewajiban terhadap sesama dan kewajiban terhadap diri sendiri. Selanjutnya, Kode Etik Kedokteran Indonesia dibuat dengan mengacu kepada Kode Etik Kedokteran Internasional. Selain Kode Etik Profesi di atas, praktek kedokteran juga berpegang kepada prinsip-prinsip moral kedokteran, prinsip-prinsip moral yang dijadikan arahan dalam membuat keputusan dan bertindak, arahan dalam menilai baikburuknya atau benar-salahnya suatu keputusan atau tindakan medis dilihat dari segi moral. Pengetahuan etika ini dalam perkembangannya kemudian disebut sebagai etika biomedis. Etika biomedis memberi pedoman bagi para tenaga medis dalam membuat keputusan klinis yang etis (clinical ethics) dan pedoman dalam melakukan penelitian di bidang medis. Penilaian baik-buruk, benar-salah dari sisi moral tersebut menggunakan pendekatan teori etika yang cukup banyak jumlahnya. Terdapat dua teori etika yang paling banyak dianut orang adalah teori deontologi dan teleologi. Deontologi mengajarkan bahwa baik-buruknya suatu perbuatan harus dilihat dari perbuatannya itu sendiri sedangkan teleologi mengajarkan untuk menilai baik-buruk tindakan dengan melihat hasil atau akibatnya. Deontologi lebih mendasarkan kepada ajaran agama, tradisi dan budaya, sedangkan teologi lebih kearah penalaran (reasoning) dan pembenaran (justifikasi) kepada azas manfaat. 1 Kaidah dasar (prinsip) Etika / Bioetik adalah aksioma yang mempermudah penalaran etik. Prinsip-prinsip itu harus spesifik. Pada praktiknya, satu prinsip dapat dibersamakan dengan prinsip yang lain. Tetapi pada beberapa kasus, karena kondisi berbeda, satu prinsip menjadi lebih penting dan sah untuk digunakan dengan mengorbankan prinsip yang lain. Keadaan terakhir disebut dengan prima facie. Konsil Kedokteran Indonesia, dengan mengadopsi prinsip etika kedokteran barat, menetapkan bahwa, praktik kedokteran Indonesia mengacu kepada 4 kaidah dasar moral (sering disebut kaidah dasar etika kedokteran atau bioetika), juga prima facie dalam penerapan praktiknya.

Kaidah dasar tersebut ialah : 1. Beneficence Berbuat baik (beneficence). Selain menghormati martabat manusia, dokter juga harus mengusahakan agar pasien yang dirawatnya terjaga keadaan kesehatannya (patient welfare). Pengertian berbuat baik diartikan bersikap ramah atau menolong, lebih dari sekedar memenuhi kewajiban. Kaidah ini secara amnya bermaksud melakukan yang terbaik untuk pasien. Apa sahaja yang dilakukan adalah demi kebaikan pasien. Kebajikan pasien adalah yang paling utama. Beneficense juga membawa arti menyediakan kemudahan dan kesenangan kepada pasien seperti mengambil langkah positif untuk mengelak dan mencegah kemusnahan daripada pasien.1 Ciri-ciri bagi kaidah ini ialah :

Mengutamakan Alturisme yaitu rela berkorban dan menolong tanpa pamrih. Memandang pasien atau keluarga bukanlah suatu tindakan tidak hanya
menguntungkan dokter.

Mengusahakan agar kebaikan atau manfaatnya lebih banyak di bandingkan


dengan keburukannya.

Paterbalisme bertanggungjawab/berkasih sayang Menjamin kehidupan baik-minimal manusia Memaksimali pemuasan kebahagiaan/preferensi pasien Minimalisasi akibat buruk Menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan Memberikan obat berkasiat Menerapkan Golden Rule Principle, yaitu melakukan hal yang baik seperti
yang orang lain inginkan. Contoh dalam scenario adalah: Dokter berusaha untuk mengobati secara menyeluruh hingga ke istrinya sehingga tidak terjadi fenomena ping-pong.

2. Non-Maleficense Tidak berbuat yang merugikan (non-maleficence). Praktik Kedokteran haruslah memilih pengobatan yang paling kecil risikonya dan paling besar manfaatnya. Misalnya segera melakukan pemeriksaan karena kecurigaan.

Kaidah ini pula penting terutama sekali ketika waktu-waktu emergensi atau gawat darurat. Kaidah ini bermaksud tidak menimbulkan bahaya atau kecederaan kepada pasien dari segi fizikal atau psikologis. Prinsip nonmaleficense ini boleh digambarkan dengan kata ini yaitu primum non nocere iaitu pertama jangan menyakiti. Prinsip ini menjadi satu kewajiban apabila : Tindakan dokter tadi ialah yang paling efektif pada waktu itu. manfaat bagi pasien adalah lebih berbanding manfaat kepada dokter. Pasien berada dalam keadaan yang sangat berbahaya atau berisiko kehilangan sesuatu yang penting sperti nyawa atau anggota badan.1-2

Ciri-ciri kaidah Non-Maleficense ialah :

Menolong pasien emergensi Mengobati pasien yang luka Tidak membunuh pasien Tidak menghina atau memanfaatkan pasien Tidak memandang pasien sebagai obyek Tidak membahayakan kehidupan pasien karena kelalaian Tidak melakukan White collar Crime dalam bidang kesehatan atau
kerumahsakitan yang merugikan pihak pasien atau keluarganya

Memberikan semangat hidup Melindungi pasien dari serangan Manfaat bagi pasien lebih banyak dari pada kerugian dokter
Contoh dalam scenario adalah: Mengobati penyakit pasien tersebut dan tidak membeberkan perihal penyakit menular seksual yang dideritanya agar tidak dikucilkan. Dokter pun tidak memarahi pasien akibat jajan yang menyebabkan penyakit tersebut. 3. Autonomy Menghormati martabat manusia (respect for person / autonomy). Menghormati martabat manusia. Pertama, setiap individu (pasien) harus diperlakukan sebagai manusia yang memiliki otonomi (hak untuk menentukan nasib diri sendiri), dan kedua, setiap manusia yang otonominya berkurang atau hilang perlu mendapatkan perlindungan.

Misalnya dengan memberikan surat rujukan, tidak memberitahu penyakit pasien kepada orang lain. Kaidah ini pula berarti pasien sendiri diberi hak untuk berfikir secara logis dan membuat keputusan sendiri. Autonomy ini juga bermaksud menghendaki, menyetujui, membenarkan, mendukung, membela, membiarkan pasien demi dirinya sendiri.1-2 Ciri-ciri yang dimiliki kaidah ini ialah :

Menghargai hak menentukan nasib sendiri Berterus terang Menghargai privasi Menjaga rahasia pasien Melaksanakan Informed Consent
Contoh dalam scenario adalah: 4. Justice Keadilan (justice). Perbedaan kedudukan sosial, tingkat ekonomi, pandangan politik, agama dan faham kepercayaan, kebangsaan dan Dokter berterus-terang mengenai gejala-gejala dan prognosis perjalanan penyakitnya. Sebelum melaksanakan pemeriksaan AIDS dokter memberikan informed consent dahulu Dokter tetap menyerahkan keputusan terhadap pasien perihal pengobatan istrinya Dokter tetap menjaga rahasia rekam medik pasien

kewarganegaraan, status perkawinan, serta perbedaan gender tidak boleh dan tidak dapat mengubah sikap dokter terhadap pasiennya. Tidak ada pertimbangan lain selain kesehatan pasien yang menjadi perhatian utama dokter. Justice pula adalah kaidah yang berarti pelakuan sama rata dan adil terhadap pasien untuk kebahagiaan dan kenyamanan pasien tersebut.1-2 Ciri-ciri bagi kaidah ini ialah :

Memberlakukan segala sesuatu secara universal Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan Memberi kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama Menghargai hak sehat pasien Menghargai hak hukum pasien

Menghargai hak orang lain Menjaga kelompok rentan(yang paling merugikan) Tidak membedakan pasien atas dasar SARA, status social, dll. Tidak melakukan penyalahgunaan Memberikan kontribusi yang sama terhadap pasien Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat Menghormati hak populasi yang sama-sama rentan penyakit
Pembuatan keputusan etik terutama dalam situasi klinik, dapat juga dilakukan dengan pendekatan yang berbeda dengan pendekatan kaidah dasar moral diatas. Jonsen, Siegler, dan Winslade mengembangkan teori etik yang menggunakan 4 topik yang esensial dalam pelayanan klinik, yaitu: 1. Medical indication. Pada topic ini dimasukkan semua prosedur diagnostic dan terapi yang sesuai untuk mengevaluasi keadaan pasien dan mengobatinya. Penilaian aspek indikasi medis ini ditinjau dari sisi etiknya, terutama menggunakan kadiah beneficence dan non-maleficence. Pertanyaan etika pada topic ini adalah serupa dengan seluruh informasi yang selayaknya disampaikan kepada pasien pada informed consent. 1 2. Patient preferences. Pada topic ini kita memperhatikan nilai dan penilaian pasien tentang manfaat dan beban yang akan diterimanya, yang berarti cerminan kaidah autonomy. Pertanyaan etiknya meliputi pertanyaan tentang kompetensi pasien, sifat volunteer sikap dan keputusannya, pemahaman atas informasi, siapa pembuat keputusan bila pasien tidak kompeten, nilai dan keyakinan yang dianut pasien, dan lain-lain. 3. Quality of life. Topic ini merupakan aktualisasi salah satu tujuan kedokteran, yaitu, memperbaiki, menjaga, atau meningkatkan kualitas hidup insani. Apa, siapa, dan bagaiman melakukan penilaian kualitas hidup merupakan pertanyaan etik sekitar prognosis, yang berkaitan dengan beneficence, nonmaleficence, dan autonomy. 4. Contextual features. Dalam topic ini dibahas pertanyaan etik seputar aspek non medis yang mempengaruhi keputusan, seperti faktor keluarga, ekonomi, agama, budaya, kerahasiaan, alokasi sumber daya, dan faktor hukum.

Kode Etik Kedokteran Indonesia Kodeki terdiri dari 4 kewajiban, yaitu kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien, kewajiban terhadap teman sejawat, dan kewajiban terhadap diri sendiri. Bunyi pasal-pasalnya adalah: Kewajiban Umum - Pasal 1 Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter. - Pasal 2 Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi yang tertinggi.

- Pasal 3 Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi. - Pasal 4 Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri. - Pasal 5 Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperoleh persetujuan pasien. - Pasal 6 Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan hal-hal yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat.

- Pasal 7 Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri kebenarannya. - Pasal 7a Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.

- Pasal 7b Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam menangani pasien - Pasal 7c Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien - Pasal 7d Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani.

- Pasal 8 Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif), baik fisik maupun psikososial, serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenarbenarnya. - Pasal 9 Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang lainnya serta masyarakat, harus saling menghormati.

Kewajiban Dokter Terhadap Pasien - Pasal 10 Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan ketrampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien,ia wajib menujuk pasien kepada dokten yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut. - Pasal 11 Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah lainnya.

- Pasal 12 Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia. - Pasal 13 Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya.

Kewajiban Dokter Terhadap Teman Sejawat - Pasal 14 Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan. - Pasal 15 Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dan teman sejawat, kecuali dengan persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.

Kewajiban Dokter Terhadap Diri Sendiri - Pasal 16 Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik. - Pasal 17 Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran/kesehatan.

Hubungan Dokter dengan Pasien Hubungan Hukum antara Dokter dengan Pasien Hubungan dokter dengan pasien adalah hubungan yang unik, dokter sebagai pemberi pelayanan kesehatan dan pasien sebagai penerima pelayanan kesehatan. Dokter yang pakar dan pasien yang awam, dokter yang sehat dan pasien yang sakit. Hubungan tanggungjawab tidak seimbang itu, menyebabkan pasien yang karena keawamannya tidak mengetahui apa yang terjadi pada waktu tindakan medik dilakukan, hal ini dimungkinkan karena informasi dari dokter tidak selalu dimengerti oleh pasien.

Seringkali pasien tidak mengerti itu, menduga telah terjadi kesalahan/kelalaian, sehingga dokter diminta untuk mengganti kerugian yang dideritanya. Yang seringkali menjadi pendapat yang salah adalah bahwa setiap kesalahan/kelalaian yang diperbuat oleh dokter harus mendapat gantirugi. Bahkan kadang-kadang kalau ada sesuatu hal yang diduga terjadi malpraktek, maka dipakai oleh pasien sebagai kesempatan untuk memaksa dokter membayar ganti rugi. Pada penentuan bersalah tidaknya dokter dan pembayaran ganti rugi harus dibuktikan terlebih dahulu dan ditentukan oleh hakim di Pengadilan. Masalahnya dokter sangat rentan terhadap publikasi, sehingga seringkali dokter yang enggan menjadi sorotan di media massa, membayar komplain pasien, tanpa melalui proses hukum. Kesalahan ini sering disalah gunakan oleh pasien, menyebabkan dokter akan melindungi dirinya dengan berbagai cara untuk menghindari gugatan dari pasien. Salah satu cara yaitu dengan mengalihkan tanggungjawab kepada pihak ketiga yaitu asuransi ; atau bekerja ekstra hati-hati. Pada gilirannya pasien juga yang rugi, karena biaya pengobatan menjadi lebih besar dan pasien yang harus menanggung beban. Di Indonesia informed consent telah memperoleh justifikasi yuridis melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 585/Menkes/1989. Persetujuan tindakan medik (informed consent) dalam praktik banyak mengalami kendala, karena faktor bahasa, faktor campur tangan keluarga atau pihak ketiga dalam hal memberikan persetujuan, faktor perbedaan kepentingan antara dokter dan pasien, dan faktor lainnya. Sebab dalam konsep ini dokter hanya berkewajiban melakukan pelayanan kesehatan dengan penuh kesungguhan, dengan mengerahkan seluruh kemampuan dan perhatiannya sesuai dengan standard profesinya. Jadi Seorang dokter dapat dikatakan melakukan kesalahan atau kelalaian dalam menjalankan profesinya, apabila dia tidak memenuhi kewajibannya dengan baik, yang berdasarkan kemampuan tertinggi yang dimilikinya sesuai dengan standard operasional (SOP). Pola Komunikasi antara Dokter dengan Pasien Komunikasi dokter-pasien yang efektif adalah terciptanya rasa nyaman dengan terapi medis yang diberikan dokter pada pasien. Faktor perilaku dokter terhadap pasiennya, kemampuan dokter untuk mendapatkan dan menghormati perhatian pasien, tersedianya informasi yang tepat dan timbulnya empati serta membangun kepercayaan pasien ternyata merupakan kunci yang menentukan dalam kenyamanan yang baik dengan terapi medis pada pasien.

Sikap empati yang ditunjukkan oleh dokter kepada pasien akan menumbuhkan rasa kepercayaan pasien kepada dokternya yang kemudian dapat menimbulkan kepuasan dan kepatuhan pasien pada pengobatan. Komunikasi dokter pasien yang efektif ditandai dengan adanya proses yang interaktif antara dokter dan pasien, dimana terjadi penyampaian informasi yang timbal balik antara dokter dan pasien secara efektif baik secara verbal maupun non verbal. Komunikasi yang kolaboratif, proaktif dan menghargai pendapat pasien dalam pengambilan keputusan medis serta ternyata dapat membawa efek yang baik bagi outcome pengobatan. Saat ini diketahui bahwa terdapat beberapa pendekatan yang berbeda dalam mengambil keputusan terapi terhadap pasien, yaitu: pendekatan paternalistik, berbagi dan informatif (konsumeris). Masing-masing memiliki implikasi yang berbeda dalam peran dokter terhadap pasien dalam hal mengkomunikasikan informasi dan untuk tipe, jumlah dan arus informasi diantara keduanya. 1 Dokter yang mengadopsi pendekatan paternalistik kurang memiliki ketertarikan dalam diskusi dan mendapatkan perhatian pasien. Dokter tipe ini seringkali menginginkan deskripsi gejala fisik yang singkat sehingga mereka dapat mengubahnya menjadi kategori diagnostik. Tipe murni pendekatan dokter semacam ini dapat kemudian membuat suatu keputusan terapi yang menurut mereka terbaik untuk pasien tanpa harus mengetahui nilai dan perhatian masing-masing pasien. 1 Dokter yang menggunakan pendekatan informatif terhadap pasien mengacu pada suatu peran yang lebih aktif dalam menemukan masalah pasien dan menentukan terapi yang tepat. Tipe murni peran dokter dalam pendekatan tipe ini meliputi kesediaaan informasi penelitian yang relevan mengenai pilihan terapi beserta keuntungan dan risiko terapi sehingga pasien dapat membuat keputusan yang jelas. Hanya pada pendekatan berbagi, dokter berkomitmen kepada dirinya sendiri kepada suatu hubungan interaktif dengan pasien dalam membangun suatu rekomendasi terapi yang konsisten dengan nilai dan pilihan pasien. Untuk menciptakan hal ini terjadi, dokter harus membuat suatu atmosfer terbuka dimana pasien dapat mengkomunikasikan semua hal yang ada dalam agenda mereka. Pendekatan ini memberikan pertukaran informasi yang membantu dokter memahami pasien dan meyakinkan bahwa pasien diberikan informasi pilihan terapi beserta risiko dan keuntungannya. Hal tersebut juga memudahkan pasien untuk mengetahui apakah mereka merasa bahwa mereka dapat membangun suatu hubungan kepercayaan dengan dokternya

B. Informed Concent1-3 Menurut PerMenKes no 290/MenKes/Per/III/2008 dan UU no 29 th 2004 Pasal 45 serta Manual Persetujuan Tindakan Kedokteran KKI tahun 2008. maka Informed Consent adalah persetujuan tindakan kedokteran yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekatnya setelah mendapatkan penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut. Menurut Lampiran SKB IDI No. 319/P/BA./88 dan Permenkes no 585/Men.Kes/Per/IX/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medis Pasal 4 ayat 2 menyebutkan dalam memberikan informasi kepada pasien / keluarganya, kehadiran seorang perawat / paramedik lainnya sebagai saksi adalah penting.1,2 Persetujuan yang ditanda tangani oleh pasien atau keluarga terdekatnya tersebut, tidak membebaskan dokter dari tuntutan jika dokter melakukan kelalaian. Tindakan medis yang dilakukan tanpa persetujuan pasien atau keluarga terdekatnya, dapat digolongkan sebagai tindakan melakukan penganiayaan berdasarkan KUHP Pasal 351.1-2 Informasi/keterangan yang wajib diberikan sebelum suatu tindakan kedokteran dilaksanakan adalah: 1. Diagnosa yang telah ditegakkan. 2. Sifat dan luasnya tindakan yang akan dilakukan. 3. Manfaat dan urgensinya dilakukan tindakan tersebut. 4. Resiko resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi daripada tindakan kedokteran tersebut. 5. Konsekwensinya bila tidak dilakukan tindakan tersebut dan adakah alternatif cara pengobatan yang lain. 6. Kadangkala biaya yang menyangkut tindakan kedokteran tersebut. Resiko resiko yang harus diinformasikan kepada pasien yang dimintakan persetujuan tindakan kedokteran : a. Resiko yang melekat pada tindakan kedokteran tersebut. b. Resiko yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya. Dalam hal terdapat indikasi kemungkinan perluasan tindakan kedokteran, dokter yang akan melakukan tindakan juga harus memberikan penjelasan ( Pasal 11 Ayat 1 Permenkes No 290 / Menkes / PER / III / 2008 ). Penjelasan kemungkinan perluasan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud dalam Ayat 1 merupakan dasar daripada persetujuan ( Ayat 2 ).

Pengecualian terhadap keharusan pemberian informasi sebelum dimintakan persetujuan tindakan kedokteran adalah: 1. Dalam keadaan gawat darurat ( emergensi ), dimana dokter harus segera bertindak untuk menyelamatkan jiwa. 2. Keadaan emosi pasien yang sangat labil sehingga ia tidak bisa menghadapi situasi dirinya. Ini tercantum dalam PerMenKes no 290/Menkes/Per/III/2008.1,2 Tujuan Informed Consent: a. Memberikan perlindungan kepada pasien terhadap tindakan dokter yang sebenarnya tidak diperlukan dan secara medik tidak ada dasar pembenarannya yang dilakukan tanpa sepengetahuan pasiennya. b. Memberi perlindungan hukum kepada dokter terhadap suatu kegagalan dan bersifat negatif, karena prosedur medik modern bukan tanpa resiko, dan pada setiap tindakan medik ada melekat suatu resiko ( Permenkes No. 290/Menkes/Per/III/2008 Pasal 3 )

Tindakan medis yang dilakukan tanpa izin pasien, dapat digolongkan sebagai tindakan melakukan penganiayaan berdasarkan KUHP Pasal 351 ( trespass, battery, bodily assault ). Menurut Pasal 5 Permenkes No 290 / Menkes / PER / III / 2008, persetujuan tindakan kedokteran dapat dibatalkan atau ditarik kembali oleh yang memberi persetujuan, sebelum dimulainya tindakan ( Ayat 1 ). Pembatalan persetujuan tindakan kedokteran harus dilakukan secara tertulis oleh yang memberi persetujuan ( Ayat 2 ). Definisi operasionalnya adalah suatu pernyataan sepihak dari orang yang berhak (yaitu pasien, keluarga atau walinya) yang isinya berupa izin atau persetujuan kepada dokter untuk melakukan tindakan medik sesudah orang yang berhak tersebut diberi informasi secukupnya.4

Tiga elemen Informed consent: 1. Threshold elements Elemen ini sebenarnya tidak tepat dianggap sebagai elemen, oleh karena sifatnya lebih ke arah syarat, yaitu pemberi consent haruslah seseorang yang kompeten (cakap). Kompeten disini diartikan sebagai kapasitas untuk membuat keputusan medis. Kompetensi manusia untuk membuat keputusan sebenarnya merupakan suaut kontinuum, dari sama sekali tidak memiliki kompetensi hingga memiliki kompetensi yang penuh.

Diantaranya terdapat berbagai tingkat kompetensi membuat keputusan tertentu (keputusan yang reasonable berdasarkan alasan yang reasonable). Secara hukum seseorang dianggap cakap (kompeten) apabila telah dewasa, sadar dan berada dalam keadaan mental yang tidak di bawah pengampuan. Dewasa diartikan sebagai usia telah mencapai 21 tahun atau telah pernah menikah. Sedangkan keadaan mental yang dianggap tidak kompeten adalah apabila mempunyai penyakit mental sedemikian rupa sehingga kemampuan membuat keputusan menjadi terganggu.1-2

2. Information elements Elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu, disclosure (pengungkapan) dan understanding (pemahaman). Pengertian berdasarkan pemahaman yang adekuat membawa konsekuensi kepada tenaga medis untuk memberikan informasi (disclosure) sedemikian rupa sehingga pasien dapat mencapai pemahaman yang adekuat. Dalam hal ini, seberapa baik informasi harus diberikan kepada pasien, dapat dilihat dari 3 standar, yaitu : Standar Praktik Profesi Bahwa kewajiban memberikan informasi dan kriteria ke-adekuat-an informasi ditentukan bagaimana BIASANYA dilakukan dalam komunitas tenaga medis. Dalam standar ini ada kemungkinan bahwa kebiasaan tersebut di atas tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial setempat, misalnya resiko yang tidak bermakna (menurut medis) tidak diinformasikan, padahal mungkin bermakna dari sisi sosial pasien. Standar Subyektif Bahwa keputusan harus didasarkan atas nilai-nilai yang dianut oleh pasien secara pribadi, sehingga informasi yang diberikan harus memadai untuk pasien tersebut dalam membuat keputusan. Kesulitannya adalah mustahil (dalam hal waktu/kesempatan) bagi profesional medis memahami nilai-nilai yang secara individual dianut oleh pasien.

Standar pada reasonable person Standar ini merupakan hasil kompromi dari kedua standar sebelumnya, yaitu dianggap cukup apabila informasi yang diberikan telah memenuhi kebutuhan umumnya orang awam.

3. Consent elements Elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu, voluntariness (kesukarelaan, kebebasan) dan authorization (persetujuan). Kesukarelaan mengharuskan tidak ada tipuan, misrepresentasi ataupun paksaan. Pasien juga harus bebas dari tekanan yang dilakukan tenaga medis yang bersikap seolah-olah akan dibiarkan apabila tidak menyetujui tawarannya.1,2 Consent dapat diberikan : (1) Dinyatakan (expressed) a. Dinyatakan secara lisan b. Dinyatakan secara tertulis. Pernyataan tertulis diperlukan apabila dibutuhkan bukti di kemudian hari, umumnya pada tindakan yang invasif atau yang beresiko mempengaruhi kesehatan penderita secara bermakna. Permenkes tentang persetujuan tindakan medis menyatakan bahwa semua jenis tindakan operatif harus memperoleh persetujuan tertulis.

(2) Tidak dinyatakan (implied) Pasien tidak menyatakannya, baik secara lisan maupun tertulis, namun melakukan tingkah laku (gerakan) yang menunjukkan jawabannya. Meskipun consent jenis ini tidak memiliki bukti, namun consent jenis inilah yang paling banyak dilakukan dalam praktik sehari-hari. Misalnya adalah seseorang yang menggulung lengan bajunya dan mengulurkan lengannya ketika akan diambil darahnya.

Keluhan pasien tentang proses informed consent : Bahasa yang digunakan untuk menjelaskan terlalu teknis Perilaku dokter yang terlihat terburu-buru atau tidak perhatian, atau tidak ada waktu untuk tanya jawab.

Pasien sedang dalam keadaan stress emosional sehingga tidak mampu mencerna informasi Pasien dalam keadaan tidak sadar atau mengantuk.

Keluhan dokter tentang informed consent: Pasien tidak mau diberitahu. Pasien tak mampu memahami. Resiko terlalu umum atau terlalu jarang terjadi. Situasi gawat darurat atau waktu yang sempit.1-2

C. Rahasia Kedokteran Salah satu ayat lafal sumpah dokter Indonesia berdasarkan peraturan pemerintah no 26 tahun 1960 berbunyi :saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan arena keilmuan saya sebagai dokter. Dalam bab II KODEKI tentang kewajiban dokter terhadap pasien dicantumkan antara lain: Seorang dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien karena kepercayaan yang diberikan kepadanya, bahkan juga setelah pasien meninggal dunia.2 Untuk memperkokoh kedudukan rahasia jabatan dan pekerjaan dokter, telah dikeluarkan peraturan pemerintah No. 10 tahun 1966 tentang wajib simpan rahasia kedokteran, dinyatakan bahwa menteri kesehatan dapat melakukan tindakan administrated berdasarkan pasal 111 Undang-undang tentang kesehatan jika tidak dapat dipidanakan menurut KUHP. Rahasia pekerjaan dokter adalah segala sesuatu yang diketahui dan harus dirahasiakan berdasarkan sumpah atau janji yang diucapkan setelah menyelesaikan pendidikannya. Rahasia jabatan dokter adalah rahasia dokter sebagai pejabat struktural. Untuk memahami rahasia jabatan ditilik dari sudut hukum,tingkah laku seorang dokter dibagi menjadi 2 jenis :

1. Tingkah laku yang bersangkutann dalam pekerjaan sehari-hari Dalam hal ini yang harus diperhatikan ialah : a. Pasal 322 KUHP yang berbunyi : (1) Barang siapa dengan sengaja membuka suatu rahasia, yang menurut jabatan atau pekerjaannya, baik yang sekarang maupun yang dahulu ia diwajibkan untuk menyimpannya, dihukum dengan pidana perkara paling lama sembilan bulan atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah (2) Jika kejahatan itu dilakukan terhadap seorang yang tertentu,maka perbuatan itu hanya dituntut atas pengaduan orang tersebut . Undang-undang ini diperkuat dengan luas norma-norma kesusilaan yang telah ada karena tidak hanya mengancam pelanggaran yang dilakukan pada waktu si pelanggar masih bekerja aktif. a. Pasal 1365 KUH Perdata Setiap perbuatan melanggar hukum yang mengakibatkan kerugian bagi orang lain, mewajibkan orang yang karena kesalahannnya menyebabkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut

2. Tingkah laku dalam keadaan khusus Menurut hukum, setiap warga Negara dapat dipanggil oleh pengadilan untuk didengar sebagai saksi. Selain itu, seorang yang mempunyai keahlian dapat dipanggil sebagai ahli. Dengan demikian, dapatlah terjadi, bahwa seorang yang mempunyai keahlian, umpamanya seorang dokter, dipanggil sebagai saksi, sebagai ahli sekaligus sebagai saksi ahli.2 Sebagai saksi atau saksi ahli mungkin sekali ia diharuskan memberi keterangan tentang seorang yang sebelum itu telah menjadi pasien yang diobatinya. Ini berarti ia seolah-olah diharuskan melanggar rahasia pekerjaannya. Kejadian ini bertentangan dan dapat dihindarkan karena adanya hak undur diri seperti yang tercantum dalam pasal 277 reglemen Indonesia yang diperbaharui, bunyinya : (1) Barang siapa yang martabatnya, pekerjaannya atau jabatannya yang sah, diwajibkan menyimpan rahasia, boleh minta mengundurkan ddari memberi penyaksian, akan tetapi hanya dan terutama mengenai hal yang diketahuinya dan dipercayakan kepadanya karena martabatnya, pekerjaannya atau jabatannya itu.

Dalam pasal 48 UU No 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran pada paragraph 4 mengenai rahasia kedokteran, dinyatakan bahwa setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran wajib menyimpang rahasia kedokteran. Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan pasien, memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukumn permintaan pasien sendiri atau berdasarkan ketentuan undang-undang.2

D. Aspek Hukum Pemberian Pelayanan Pasal 52 1. Pelayanan kesehatan terdiri atas: a. pelayanan kesehatan perseorangan; dan b. pelayanan kesehatan masyarakat. 2. Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Pasal 53 1. Pelayanan kesehatan perseorangan ditujukan untuk menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatan perseorangan dan keluarga. 2. Pelayanan kesehatan masyarakat ditujukan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit suatu kelompok dan masyarakat. 3. Pelaksanaan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendahulukan pertolongan keselamatan nyawa pasien disbanding kepentingan lainnya.

Pasal 54 1. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan dilaksanakan secara bertanggung jawab, aman, bermutu, serta merata dan nondiskriminatif. 2. Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 3. Pengawasan terhadap penyelenggaraan pelayanan kesehatan sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Pasal 55 1. 2. Pemerintah wajib menetapkan standar mutu pelayanan kesehatan. Standar mutu pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.3

Perlindungan Pasien Pasal 56 1. Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau seluruh tindakan pertolongan yang akan diberikan kepadanya setelah menerima dan memahami informasi mengenai tindakan tersebut secara lengkap. 2. Hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku pada: a. penderita penyakit yang penyakitnya dapat secara cepat menular ke dalam masyarakat yang lebih luas; b. keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri; atau c. gangguan mental berat. 3. Ketentuan mengenai hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 57 1. Setiap orang berhak atas rahasia kondisi kesehatan pribadinya yang telah dikemukakan kepada penyelenggara pelayanan kesehatan. 2. Ketentuan mengenai hak atas rahasia kondisi kesehatan pribadi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal: a. perintah undang-undang; b. perintah pengadilan; c. izin yang bersangkutan; d. kepentingan masyarakat; atau e. kepentingan orang tersebut.

Pasal 58 1. Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang, tenaga kesehatan, dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang diterimanya.

2. Tuntutan ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau pencegahan kecacatan seseorang dalam keadaan darurat. 3. Ketentuan mengenai tata cara pengajuan tuntutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.3

Pasal 50 KUHP: Barangsiapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang, tidak dipidana. Pasal 45 UU RI No.29 tahun 2004 1. Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan Penjelasan: Pada prinsipnya yang berhak memberikan persetujuan atau penolakan tindakan medis adalah pasien yang bersangkutan. Namun, apabila pasien yang bersangkutan berada dibawah pengampunan (under curatele) persetujuan atau penolakan tindakan medis dapat diberikan oleh keluarga terdekat antara lain suami/istri, ayah/ibu kandung, anak-anak kandung atau saudara-saudara kandung. Dalam keadaan gawat darurat, untuk menyelamatkan jiwa pasien tidak diperlukan persetujuan. Namun, setelah pasien sadar atau dalam kondisi yang sudah memungkinkan, segera diberikan penjelasan dan dibuat persetujuan. Dalam hal pasien adalah anak-anak atau orang yang tidak sadar, maka penjelasan diberikan kepada keluarganya atau yang mengantar. Apabila tidak ada yang mengantar dan tidak ada keluarganya sedangkan tindakan medis harus dilakukan maka penjelasan diberikan kepada anak yang bersangkutan atau pada kesempatan pertama pasien sudah sadar.3 2. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diberikan setelah pasien mendapat penjelasan secara lengkap 3. Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 sekurangkurangnya mencakup: a. diagnosis dan tata cara tindakan medis b. tujuan tindakan medis yang dilakukan c. alternatif tindakan lain dan risikonya d. risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi e. prognosis terhadap tindakan yang dilakukan

Penjelasan: Penjelasan hendaknya diberikan dalam bahasa yang mudah dimengerti karena penjelasan merupakan landasan untuk memberikan persetujuan. Aspek lain yang juga sebaiknya diberikan penjelasan yaitu yang berkaitan dengan pembiayaan 4. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 dapat diberikan secara tertulis maupun lisan. Penjelasan: Persetujuan lisan dalam ayat ini adalah persetujuan yang diberikan dalam bentuk ucapan setuju atau bentuk gerakan menganggukkan kepala yang diartikan sebagai ucapan setuju. 5. Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung risiko tinggi harus diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan. Penjelasan: Yang dimaksud dengan tindakan medis berisiko tinggi adalah seperti tindakan bedah atau tindakan invasif lainnya. 6. Ketentuan mengenai tata cara persetujuan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi sebagaimana dimaksud pada ayat 1, ayat 2, ayat 3, ayat 4, dan ayat 5 diatur dengan Peraturan Menteri3 Pasal 17 Permenkes No.1419/Menkes/Per/IX/20056 1. Dokter atau dokter gigi dalam memberikan pelayanan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi terlebih dahulu harus memberikan penjelasan kepada pasien tentang tindakan kedokteran yang akan dilakukan. 2. Tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud ayat 1 harus mendapat persetujuan dari pasien. 3. Pemberian penjelasan dan persetujuan sebagaimana dimaksud ayat 1 dan ayat 2 dilaksanakan sesuai ketentuan perundang-undangan Sanksi seorang dokter tidak memperoleh persetujuan tindakan kedokteran: Sanksi pidana penyerangan (assault) kalau seorang dokter melakukan operasi kepada pasien tanpa persetujuan tindakan kedokteran dapat kena sanksi pidana Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan.

Sanksi perdata Pasal 1365 KUH Perdata Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawwa kerugian kepada setiap orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian itu.

Pasal 1367 KUH Perdata Seseorang tidak saja bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya sendiri, tetapi juga kerugian yang disebabkan karena perbuatannya sendiri, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya sendiri, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatan orang orang yang menjadi tanggungannya, atau disebabkan oleh barang barang yang berada di bawah tanggungannya.

Pasal 1370 KUH Perdata dalam hal terjadi pembunuhan dengan sengaja atau kelalaiannya, maka suami atau istri, anak, orang tua korban yang lazimnya mendapat nafkah dari pekerjaan korban, berhak untuk menuntut ganti rugi yang harus dinilai menurut keadaan dan kekayaan kedua belah pihak.

Pasal 1371 KUH Perdata

Sanksi Administratif a. Pasal 69 UU RI No.29 tahun 2004 Keputusan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia mengikat dokter, dokter gigi dan Konsil Kedokteran Indonesia. Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat berupa dinyatakan tidak bersalah atau pemberian sanksi disiplin. Sanksi disiplin sebagaimana dimaksud pada ayat 2 dapat berupa: o pemberian peringatan tertulis o rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat izin praktik o kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi.

Pasal 25 Permenkes No.1419/Menkes/Per/IX/20056 1. Dalam rangka pembinaan dan pengawasan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat mengambil tindakan administratif terhadap pelanggaran peraturan ini. 2. Sanksi administratif sebagaimana dimaksud ayat 1 dapat berupa peringatan lisan, tertulis sampai dengan pencabutan SIP. 3. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam memberikan sanksi administratif sebagaimana dimaksud ayat 2 terlebih dahulu dapat mendengar pertimbangan organisasi profesi.

Pasal 26 Permenkes No.1419/Menkes/Per/IX/2005 Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat mencabut SIP dokter dan dokter gigi: Atas dasar keputusan MKDKI STR dokter atau dokter dicabut oleh Konsil Kedokteran Indonesia Melakukan tindakan pidana

E. GONORRHOEA7 Gonore disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae, merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting dan merupakan infeksi kedua yang paling umum dilaporkan. Gonore paling sering menyebar pada saat melakukan kontak seksual. Namun, juga dapat ditularkan melalui proses kelahiran, menyebabkan oftalmia neonatorum dan infeksi neonatal sistemik. Masa inkubasi biasanya 2-8 hari. Ada berbagai berbeda 'strain' kuman ini, dan sayangnya resisten antibiotik yang telah menjadi lebih umum selama abad ke-21. Pada wanita, serviks adalah bagian yang paling sering diserangoleh bakteri ini, sehingga endocervicitis dan uretritis, yang dapat menjadi komplikasi pada penyakit radang panggul (PID). Pada pria, menyebabkan gonore uretritis anterior. Epidemiologi Untungnya, insiden ini berkurang secara substansial selama bagian pertama abad ke-21, mungkin karena lebih banyak orang yang mempraktekkan seks aman. Namun pada tahun 2010, total Inggris naik lagi menjadi 18.600 kasus. Angka ini terdiri dari sekitar 5.700 wanita dan 12.900 pria. Dari laki-laki, sekitar 30 persen adalah laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL). Penyakit yang paling sering terjangkit pada usia 15 sampai 30 tahun. Harap dicatat bahwa gonore adalah lebih umum di banyak wilayah lain di dunia, terutama bagian-bagian dari daerah tropis. Oleh karena itu, seks bebas sangat berisiko.

Tract genitourinaria perempuan Pada wanita infeksi paling umum dari bakteri gonokokal adalah endoserviks (80% 90%), diikuti oleh uretra (80%), rektum (40%), dan pharynx (10% - 20%). Jika timbul gejala, mereka sering bermanifestasi dalam waktu 10 hari setelah infeksi. Gejala utama meliputi keputihan, disuria, perdarahan intermenstrual, dispareunia, dan nyeri perut yang ringan yang lebih rendah. Ketika servisitis gonore adalah baik tanpa gejala atau tidak dikenal, pasien mungkin berkembang menjadi PID, sering dekat dengan periode menstruasi. PID juga mungkin asimtomatik dan terjadi pada 10-20% dari wanita yang terinfeksi. Gejala PID adalah sebagai berikut: 1. Perut bagian bawah nyeri (gejala yang paling konsisten dari PID) 2. Peningkatan cairan vagina atau cairan uretra yang mukopurulen 3. Disuria (biasanya tanpa urgensi ) 4. Serviks gerak melemah 5. Nyeri pada adneksa (biasanya bilateral) atau massa adneksa 6. Perdarahan intermenstrual 7. Demam, menggigil, mual, dan muntah (kurang umum) Perihepatitis akut (Fitz-Hugh-Curtis syndrome) terjadi terutama melalui ekstensi langsung dari N gonorrhoeae atau Chlamydia trachomatis dari tuba falopi pada kapsul hati dan peritoneum bagian atas.

Tract genitourinaria pria Pada pria, uretritis merupakan manifestasi utama infeksi gonokokal. Karakteristik awal meliputi terbakar pada buang air kecil dan keluarnya cairan serosa. Beberapa hari kemudian, biasanya menjadi lebih banyak, purulen, dan, dapat diwarnai darah. Epididimitis akut juga bisa disebabkan oleh N gonorrhoeae, terutama pada pria yang lebih muda dari 35 tahun. Hal ini biasanya unilateral dan sering terjadi hubungannya dengan eksudat uretra. Manifestasi klinik Dari mereka, terinfeksi sekitar setengah perempuan dan beberapa pria tidak menunjukkan gejala apapun. Pada pria, gejala utama adalah nyeri buang air kecil. Ada juga cairan dari ujung penis, yang mungkin berwarna putih, kuning atau hijau. Gonore dalam rektum dapat terjadi pada orang yang mempraktekkan hubungan seks anal. Anal gonore mungkin gejalabebas. Tetapi bisa memberi sakit dubur, iritasi atau debit dari anus. Pada wanita, gejala gonore yang lebih terbatas atau tidak ada. Tapi mungkin ada nyeri buang air kecil dan debit dari vagina.

Dalam kedua jenis kelamin, infeksi tenggorokan dapat terjadi sebagai akibat dari oral seks dengan pasangan yang terinfeksi. Kadang-kadang sakit tenggorokan disertai dengan demam. Namun, mungkin tidak ada gejala sama sekali.

Pemeriksaan fisik Pasien dengan infeksi gonokokal mungkin memiliki tanda-tanda khas dan gejala penyakit gonokokal, terutama di saluran kelamin. Kadang-kadang, pasien mungkin tidak memiliki tanda-tanda atau gejala lokal. Tract genitourinaria perempuan Mukopurulen atau purulen serviks. Perut bagian bawah nyeri Kelembutan adneksa(berhubungan dengan infeksi ascending) Kelembutan gerak serviks (berhubungan dengan infeksi ascending) Demam Nyeri perut kanan atas (dengan Fitz-Hugh-Curtis syndrome)

Tract genitourinaria pria Mukopurulen atau purulen uretra Kelembutan epididimis Unilateral dan edema dengan atau tanpa discharge atau disuria penis Edema penis tanpa tanda-tanda peradangan lainnya Striktur uretra (jarang)

Pemeriksaan Laboratorium Diagnosis infeksi gonokokal tergantung pada identifikasi dari N gonorrhoeae pada bagian yang terinfeksi. A. Spesimen : Nanah dan sekresi diambil dari urethra, cervix, rektum, conjunctiva, tenggorokan, atau cairan synovial untuk dibuat kultur dan hapusan. Kultur darah diperlukan pada penyakit sistemik, tetapi sistem kultur spesial sangat membantu, karena gonococci (dan meningococci) sensitif terhadap polyanethol sulfonate pada media kultur darah standar.

B. Smear : Smear dari urethra atau eksudat dari endocervix yang diberi pewarnaan gram akan menampakkan banyak diplokokus di dalam sel nanahnya.

Smear eksudat dari urethra pria yang telah diberi pewarnaan tersebut memiliki tingkat sensitivitas 90% dan spesifikasi 99%. Smear dari eksudat dari endocervical yang telah diberi pewarnaan memiliki tingkat sensitivitas 50% dan tingkat spesifitas 95% ketika diuji dengan mikroskop. Kultur dari eksudat urethral pria tidak diperlukan lagi bila hasil pewarnaannya positif, namun kultur harus dilakukan bila eksudat urethralnya berasal dari wanita. Smear dari eksudat conjunctiva yang telah diberi pewarnaan juga dapat didiagnosa, namun hapusan dari spesimen tenggorokan atau rektum umumnya tidak membantu.

C. Kultur : Sesaat setelah pengumpulan nanah atau selaput lendir, dipindahkan ke dalam media selektif yang telah diperkaya (seperti media Thayer-Martin yang telah dimodifikasi Public Health rep 1966; 81:559) dan diinkubasi pada atmosfir yang mengandung 5% CO, pada.suhu 37oC. Untuk menghindari pertumbuhan yang berlebihan dari organisme tersebut, media kultur seharusnya mengandung obat antimikroba (seperti vancomycin 3 g/mL; colistin 7,5 g/mL; amphotericin B1 g/mL; dan trimethroprim 3 g/mL). Jika inkubasi tidak dapat segera dilakukan, spesimen sebaiknya disimpan dalam sistem kultur yang mengandung CO2 48 jam setelah kultur, organisme akan cepat teridentifikasi melalui: penampakannya pada pengecatan gram; oksidase yang positif; dan melalui koaglutinasi pada pewarnaan immunofluorescence atau melalui tes-tes laboratorium lainnya. Spesies dari bakreri yang telah disubkultur dapat diketahui dengan reaksi fermentasi.

D. Serologi: Serum dan cairan genital yang mengandung antibodi IgG dan 1gA bekerja melawan pili gonococci, membran protein paling luar dan LPS. Beberapa lgM dari serum manusia bersifat bakterisidal terhadap gonococci pada percobaan in vitro.

Preventif - Hindari seks dengan banyak pasangan. - Praktikkan seks aman - menggunakan kondom. - Jika Anda berada di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan lain, pertimbangkan berhubungan seks dengan siapa pun. - tidak melakukan oral seks. Pengobatan Gonore diobati efektif dengan penisilin. Tapi penicillin-resistant strain kuman muncul dalam 30 tahun terakhir, sehingga para ahli beralih ke obat yang disebut cefixime, diberi oral.

Namun pada Maret 2011, Asosiasi Inggris untuk Kesehatan Seksual dan HIV (BASHH) direkomendasikan bahwa pengobatan 'baris pertama' yang baru gonore harus diubah, karena masalah semakin umum resistensi terhadap cefixime. Dan pada bulan Oktober 2011, Perlindungan Kesehatan Inggris Agency (HPA) mengumumkan bahwa 17,4 persen dari sampel bakteri gonorrhea kini cefixime-tahan. Jadi, mereka merekomendasikan bahwa ketika mengobati gonore, dokter untuk selanjutnya harus menggunakan kombinasi dua obat:

1. Ceftriaxone, yang diberikan melalui suntikan 2. Azitromisin, yang diberikan secara lisan.

Catatan: ceftriaxone dikatakan oleh produsen untuk berinteraksi dengan kontrasepsi oral. Jadi jika pasien berada dalam penggunaan KB, silakan berkonsultasi hal ini dengan dokter. Dalam skesnario seorang dokter harus bisa menjaga rahasia pasien terkait masalah penyakitnya, dan segala tindakan yang dilakukan dokter didasari oleh Etika dan Moral profesi kedokteran. Sebagai dokter, kita harus tahu apa saja hak-hak pasien yang tidak bisa kita langgar. Tindakan kita pun untuk menangani segala pasien tidak boleh merugikan pasien atau mengambil keuntungan dari pasien. Dalam skenario ini dokter harus mengambil prinsip-prinsip kedokteran dan kaidah dasar seperti beneficience : Dokter berusaha untuk mengobati secara menyeluruh hingga ke istrinya sehingga tidak terjadi fenomena ping-pong. Kemudian dokter juga harus mengobati penyakit pasien tersebut, tidak membeberkan penyakitnya dan tidak memarahinya, dokter juga harus menjelaskan dampak dari penyakit tersebut yang akan menyebabkan fenomena ping-pong dan tetap menyerahkan keputusan terhadap pasien perihal pengobatan istrinya dan tetap menjaga rekam medik pasien . F. AIDS8 AIDS adalah singkatan dari sindrom defisiensi imun dan merupakan tahap akhir dari infeksi yang disebabkan oleh virus yang disebut HIV atau Human Immunodeficiency Virus. Virus menyebabkan kerusakan parah pada sistem kekebalan tubuh.

Human Immunodeficiency Virus (HIV) Sebuah retrovirus, Human Immunodeficiency Virus (HIV) diidentifikasi pada tahun 1983 sebagai patogen yang bertanggung jawab atas Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). AIDS ditandai dengan perubahan dalam populasi T-sel limfosit yang memainkan

peran kunci dalam sistem pertahanan kekebalan tubuh. Pada individu yang terinfeksi, virus menyebabkan penipisan T-sel, yang disebut "T-helper sel", yang meninggalkan pasien rentan terhadap infeksi oportunistik, dan keganasan tertentu. Kredit: CDC / Goldsmith C., P. Feorino, EL Palmer, WR McManus

Epidemiologi AIDS adalah penyebab utama kematian di antara keenam orang berusia 25-44 di Amerika Serikat. Ini adalah perbaikan karena itu adalah pembunuh nomor satu pada tahun 1995. Pada akhir tahun 2010, diperkirakan 91.500 orang di Inggris yang hidup dengan HIV. Dari jumlah tersebut, sekitar 1 dalam 4 (22.000 total) tidak tahu bahwa mereka terinfeksi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa sekitar 34 juta orang di dunia hidup dengan HIV. Virus ini sangat luas di sub-Sahara Afrika, seperti Afrika Selatan, Zimbabwe dan Mozambik.

Etiologi AIDS disebabkan oleh infeksi HIV. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh meninggalkan rentan individu untuk infeksi yang mengancam jiwa dan kanker. Bakteri umum, ragi, parasit, dan virus yang biasanya tidak menyebabkan penyakit yang serius pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat dapat mengubah mematikan untuk pasien AIDS.

Patofisiologi HIV ditemukan di semua cairan tubuh termasuk air liur, jaringan sistem saraf dan cairan tulang belakang, darah, air mani, cairan mani pra-, yang merupakan cairan yang keluar sebelum ejakulasi, sekret vagina, air mata, dan air susu ibu. Hanya darah, air mani, dan air susu ibu telah terbukti menularkan infeksi kepada orang lain. Virus ini ditularkan melalui kontak seksual, termasuk oral tanpa kondom, vagina, dan seks anal dan melalui transfusi darah yang tercemar yang mengandung HIV. Cara lain penularan adalah berbagi jarum atau suntikan dengan orang yang terinfeksi HIV. Seorang wanita hamil dapat menularkan virus ke bayi yang dikandungnya melalui peredaran darah bersama mereka, atau ibu menyusui dapat menularkan ke bayinya ASI-nya. Infeksi HIV tidak ditularkan melalui kontak biasa, nyamuk, menyentuh atau memeluk.

Pemeriksaan fisik Tidak ada temuan fisik yang khusus untuk infeksi HIV. Temuan fisik adalah dari infeksi atau penyakit. Limfadenopati generalisata adalah gambaran umumnya. Penurunan berat badan mungkin jelas. Bukti untuk faktor risiko infeksi oportunistik atau (misalnya, lesi herpetic pada pangkal paha, kandidiasis oral secara luas) mungkin petunjuk untuk infeksi HIV. Skrining untuk human immunodeficiency virus (HIV) adalah yang terpenting, karena individu yang terinfeksi dapat tetap asimtomatik selama bertahun-tahun sementara infeksi berlangsung. Tes serologi adalah studi yang paling penting dalam evaluasi untuk infeksi HIV.

Pengujian sekunder yang dapat dilakukan untuk membantu diagnosis atau penentuan stadium meliputi: kultur Biopsi kelenjar getah bening DNA provirus polymerase chain reaction (PCR) Genotip DNA virus / RNA Stadium penyakit HIV sebagian didasarkan pada presentasi klinis, tetapi tes laboratorium lain dapat membantu dalam memutuskan apakah akan memulai atau mengubah pengobatan.

Faktor resiko Mereka yang berisiko tertinggi termasuk pengguna narkoba suntikan yang berbagi jarum, bayi yang lahir dari ibu dengan HIV (terutama jika si ibu tidak menerima ART selama kehamilan), mereka yang melakukan hubungan seks vaginal atau dubur tanpa kondom dengan orang HIV positif, dan mereka yang transfusi darah yang diterima atau produk pembekuan antara 1977 dan 1985 (sebelum skrining untuk HIV menjadi praktek standar).

Manifestasi klinik HIV / AIDS Infeksi HIV bisa terjadi tanpa gejala selama satu dekade atau lebih. Pada tahap pembawa dapat menularkan infeksi kepada orang lain tanpa sadar. Jika infeksi ini tidak terdeteksi dan diobati, sistem kekebalan tubuh secara bertahap melemah dan AIDS berkembang.

Infeksi HIV akut membutuhkan beberapa minggu untuk bulan untuk menjadi non-gejala infeksi HIV. Kemudian menjadi gejala awal infeksi HIV dan kemudian berkembang menjadi AIDS.

Bagaimana perkembangan penyakit ditandai? Dengan memajukan infeksi HIV darah menunjukkan lebih tinggi viral load dan CD4 T-cell count turun di bawah 200 sel/mm3. Sel CD4 adalah jenis sel T. Sel T adalah sel-sel sistem kekebalan tubuh. Mereka juga disebut "sel pembantu." Ada sekelompok kecil pasien yang mengembangkan AIDS sangat lambat, atau tidak pernah sama sekali. Pasien-pasien ini disebut nonprogressors, dan banyak tampaknya memiliki perbedaan genetik yang mencegah virus dari signifikan merusak sistem kekebalan tubuh mereka.

Infeksi oportunistik Ini adalah infeksi yang biasanya tidak mempengaruhi individu dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat namun pasien AIDS rentan terhadap infeksi ini. Ini termasuk infeksi virus seperti:

herpes simplex virus herpes zoster Infeksi kanker seperti sarkoma Kaposi, limfoma non-Hodgkin jamur infeksi seperti kandidiasis infeksi bakteri seperti tuberkulosis

Infeksi lain termasuk bacillary angiomatosis, Candida esophagitis, Pneumocystic pneumonia jiroveci, demensia AIDS, diare Cryptosporidium, meningigits kriptokokus dan Ensefalitis toksoplasma.

Pengobatan AIDS Tidak ada obat untuk AIDS setelah berkembang. Ada agen yang tersedia yang dapat membantu menjaga gejala di teluk dan meningkatkan kualitas dan panjang hidup bagi mereka yang telah mengembangkan gejala. Obat melawan HIV termasuk ART. Ini mencegah replikasi virus HIV di dalam tubuh. Kombinasi obat antiretroviral beberapa, yang disebut terapi antiretroviral (ART), telah sangat efektif dalam mengurangi jumlah partikel HIV dalam aliran darah.

Mencegah virus dari replikasi dapat meningkatkan jumlah T-sel atau jumlah CD4 dan membantu sistem kekebalan tubuh pulih dari infeksi HIV. Obat juga diresepkan untuk mencegah infeksi oportunistik jika jumlah CD4 yang rendah.

Hasil dari HIV AIDS hampir selalu berakibat fatal tanpa pengobatan. ART namun telah secara dramatis meningkatkan jumlah waktu orang dengan HIV tetap hidup.

Pencegahan HIV Tindakan seks aman dengan menggunakan kondom, menghindari penggunaan obat-obatan terlarang atau jarum bersama atau jarum suntik, menghindari kontak dengan darah dan cairan dengan mengenakan pakaian pelindung, masker, kacamata dan lain-lain membantu mencegah penularan. HIV-positif pada perempuan yang ingin hamil mungkin memerlukan terapi sementara mereka sedang hamil untuk mencegah penularan kepada bayi mereka. Dinas Kesehatan merekomendasikan bahwa perempuan terinfeksi HIV di Amerika Serikat menghindari menyusui untuk mencegah penularan HIV kepada bayinya melalui ASI. Jika didalam skenario didapatkan bahwa pasien ternyata (+) HIV maka sebagai seorang dokter harus dapat menjelaskan mengenai hal tersebut pada saat situasi yang tepat, dan memberikan sikap empati terhadap pasien, dalam melakukan penyampaian dokter harus menyampaikan dengan baik dan bijak, sehingga tidak menyinggung atau membuat pasien tertekan. Asperk Hukum terhadap HIV-AIDS9,10,11 Seberapa hak orang dengan HIV/AIDS dilindungi? Bagaimana sisi hukum atas diskriminasi Orang Dengan HIV/AIDS? Bolehkah seseorang dipaksa untuk tes HIV? Kata HIV dan AIDS merupakan momok masyarakat masa kini, bahkan mendengarnya saja sudah cukup membuat bulu kuduk merinding. Tak bisa dipungkiri, penyakit ini memang mematikan (deadly disease). Dalam tulisan ini, penulis tidak akan mengulas bagaimana proses terjadinya (patofisiologi) penyakit ini, hanya sedikit disinggung mengenai cara penularannya secara umum, dan yang ditekankan adalah aspek kaitan legal atau hukum.

Selayang pandang penularan HIV/AIDS9 Tentu kita semua tahu, baik melalui bacaan artikel kesehatan maupun sumber informasi lainnya, bahwa cara penularan HIV dan AIDS tergolong pribadi. Lebih dari 60% penularan penyakit ini melalui jalur aktivitas seksual, entah itu aktivitas seks dengan sesama jenis (homoseksual) maupun dengan lawan jenis (heteroseksual). Cara penularan lainnya yaitu melalui transfusi darah, penggunaan jarum suntik bersama pada komunitas pengguna narkoba (IDU=Injected Drug User), maupun beberapa cara lainnya yang persentasenya kecil. Hal lain yang tidak kalah menakutkannya adalah bahwa penyakit ini belum ada obat maupun vaksin yang dapat mencegahnya. Obat-obatan yang ada sekarang berfungsi untuk menghambat berkembangnya virus HIV, dengan harapan penderita HIV dapat memiliki harapan hidup yang lebih panjang. Dampak Diskriminasi HIV/AIDS Penyebaran penyakit ini yang sangat cepat menimbulkan ketakutan dan kepanikan yang berlebihan pada masyarakat. Situasi yang demikian ini yang kemudian menimbulkan dampak di bidang sosial ekonomi, kultur, dan hukum. Mantan Sekretaris Jenderal PBB Javier Perez de Cuellar berkata: AIDS rises crucial, social, humanitarian, and legal issues, threatening to undermine the fabric of tolerance and understanding upon which our societies function. Bila dikaji lebih lanjut, yang menjadi sumber dari keprihatinan beliau sebenarnya adalah karena adanya perlakuan diskriminatif terhadap penderita HIV/AIDS oleh masyarakat, lembaga-lembaga pemerintahan ataupun swasta, dan bahkan lembaga-lembaga kesehatan sendiri. Para penderita tersebut dikucilkan, dipecat dari pekerjaannya, dikeluarkan dari sekolah, atau bahkan dilarang memasuki suatu negara. Lebih menyedihkan lagi, perlakuan diskriminatif tersebut dialami penderita HIV/AIDS hingga meninggal, di mana banyak petugas pemakaman yang menolak menguburkan mereka. Yang patut disayangkan adalah jika tindakan diskriminatif itu dilakukan oleh lembaga kesehatan, karena seharusnya lembaga tersebut dapat menjadi contoh dan teladan bagi masyarakat dalam memperlakukan penderita HIV/AIDS. Kasus pemecatan seorang dokter spesialis penyakit dalam oleh sebuah rumah sakit swasta di Jakarta karena dipersalahkan merawat seorang penderita HIV/AIDS di rumah sakit tersebut boleh jadi menjadi bukti adanya perlakuan diskriminatif oleh lembaga kesehatan. Bukti nyata lainnya adalah betapa sulitnya mencari instansi kesehatan yang bersedia menampung penderita HIV/AIDS di saat mereka membutuhkan layanan kesehatan. Seribu satu macam alasan dapat kita dengar, entah itu alasan rumah sakit penuh ataupun dipersulit dalam hal birokrasi dan administrasinya. Masalah Hukum Pertanyaan besar yang perlu diajukan adalah bagaimana memperlakukan penderita HIV/AIDS secara benar, sebab sekarang ini dunia kesehatan telah berhasil menghimpun banyak data ilmiah tentang penyakit ini, sehingga dapat dijadikan acuan guna menciptakan perlakuan yang humanistik terhadap penderita dan sekaligus dapat menunjang upaya pencegahan berkembangnya penyakit ini.

Perlakuan yang humanistik mengandung pengertian bahwa dari aspek filosofis tidak menyimpang, dari aspek psikologis tidak berdampak negatif, dari aspek etis dapat diterima, dan dari aspek hukum dapat dipertanggungjawabkan. Dari aspek hukum perlu disadari lebih dahulu bahwa hukum memiliki fungsi: 1. Menciptakan kedamaian dalam masyarakat. 2. Menyelesaikan sengketa yang timbul di dalam masyarakat. 3. Merekayasa masyarakat (social engineering). Dalam kaitannya dengan penyakit HIV/AIDS, aspek hukum tersebut perlu digarisbawahi mengingat perlakuan terhadap penderita HIV/AIDS yang terlalu menekankan pada aspek pencegahan meluasnya penyakit berpotensi menimbulkan persoalan hukum yang serius. Memang benar bahwa hak masyarakat (social right) dan kepentingan masyarakat (social interest) harus dilindungi, akan tetapi perlakuan yang terlalu menekankan pada kepentingan masyarakat cenderung mengabaikan hak pasien/penderita (individual right) dan kepentingan pasien/penderita (individual interest). Jadi, permasalahan pokok yang menyangkut hukum berkaitan dengan penyakit HIV/AIDS adalah bagaimana menarik garis keseimbangan antara kedua hak dan kedua kepentingan tersebut. Susan Scholle Connor (1989) merinci masalah pokok tersebut menjadi 4 bagian, yaitu: Bentuk pendekatan yang bagaimanakah yang sebaiknya dilakukan terhadap penderita HIV/AIDS serta hak-hak apa saja yang mereka miliki? Siapa saja yang diharuskan menjalani mandatory testing atau compulsory testing? Siapa sajakah yang berhak mengetahui jika ada seseorang menderita AIDS atau mengidap HIV, di samping adakah kewajiban bagi dokter untuk memperingatkan mereka? Bagaimanakah caranya melindungi masyarakat dari penderita HIV/AIDS yang tidak bertanggung jawab atau bahkan yang dengan sengaja menularkan penyakitnya kepada orang lain? Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas tentu tidak mudah untuk dijawab, sebab kedua hak dan kepentingan yang saling berlawanan itu sama pentingnya. Akan tetapi, negara sebagai pemegang the Police Power (the power of state to protect the health, safety, morals, and general welfare of its citizens) mempunyai kewenangan untuk menentukan sikapnya. Namun demikian, data-data ilmiah, pendapat pakar dari berbagai disiplin ilmu, serta pendapat kelompok representatif (kelompok penderita dan kelompok masyarakat berisiko tinggi/risti) harus dijadikan pertimbangan. Dalam kaitannya dengan masalah hukum ini, maka Swedia adalah negara pertama yang memberlakukan undang-undang yang mewajibkan dokter melaporkan setiap pasien HIV/AIDS. Hingga bulan April 1988, tak kurang dari 60 negara sudah memiliki instrumen hukum untuk mengatur aspek-aspek yang berkaitan dengan penyakit ini.

Beberapa aspek spesifik dari HIV/AIDS memang perlu dipersoalkan kembali atau digarisbawahi mengenai kedudukan hukumnya. Aspek konfidensialitas (kerahasiaan) medik misalnya, untuk penderita penyakit ini mestinya lebih diperhatikan lagi, mengingat efek stigmatisasinya yang lebih menyakitkan dibandingkan penyakitnya sendiri. Persoalan selanjutnya adalah, bagaimana istri atau suami serta masyarakat yang terancam penularan, sebab tentunya masyarakat tidak bisa berharap bahwa semua penderita penyakit ini akan mengikuti jejak Magic Johnson, seorang public figure masyarakat Amerika Serikat, yang dengan sukarela dan penuh tanggung jawab mengumumkan sendiri penyakitnya. Masalah hukum lainnya Apa yang hendak dilakukan jika penderita tidak jujur dan terus-menerus mengancam anggota masyarakat lainnya? Dapatkah mereka dihukum karena menganiaya, membunuh, atau meracuni pasangan seksualnya? Pertanyaan selanjutnya bagi para profesional medis, bagaimana tanggung jawab para dokter yang merawat penderita, sebab mereka tahu persis bahwa penderita HIV/AIDS berpotensi menularkan penyakitnya kepada orang lain? Salahkah jika dokter memberitahukan kepada orang-orang yang terancam penularan? Salahkah dokter jika di kemudian hari benar-benar ada orang lain yang tertular disebabkan karena ia lebih suka menjunjung tinggi sumpah dokter dan berpegang teguh pada asas konfidensialitas medik? Masalah-masalah ini sungguh tidak mudah untuk dijawab dan perlu diangkat ke permukaan, sebab hal-hal seperti ini merupakan kenyataan di lapangan yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Pada suatu kasus di Amerika Serikat, hakim memutuskan suatu hal yang menarik tentang konfidensialitas medik, bahwa kewajiban dokter untuk menyimpan rahasia kedokteran berakhir manakala ada ancaman bahaya terhadap masyarakat. Menurut teori hukum pidana, keadaan seperti itu disebut keadaan darurat (necessity) yang dapat dijadikan alasan penghapus pidana jika seandainya dokter yang menghadapi situasi tersebut melakukan tindak pidana membocorkan rahasia kedokteran. Bolehkah orang dipaksa untuk tes HIV? Hal lain yang perlu mendapatkan klarifikasi dari aspek hukumnya adalah tentang pemeriksaan darah, yang dalam rangka pencegahan meluasnya penyakit sering dipaksakan kepada kelompok tertentu di dalam masyarakat berisiko tinggi. Persoalannya adalah bahwa setiap bentuk intervensi medik, berdasarkan doctrine of informed consent, memerlukan izin terlebih dahulu dari pasien yang bersangkutan. Apakah compulsory testing atau mandatory testing tidak bertentangan dengan doctrine of informed consent yang bersumber pada hak menentukan nasibnya sendiri (the right to self-determination)? Di sisi lain juga dapat dipertanyakan keuntungan model pemeriksaan seperti itu bagi upaya pencegahan, sebab tentunya orang akan berusaha menghindar mengingat pemeriksaan tersebut dapat menimbulkan bencana, seperti misalnya kehilangan pekerjaan, tempat tinggal, kesempatan belajar, kesempatan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan di masyarakat, dan sebagainya.

Tetapi kalau tidak dipaksakan, kapan dapat ditemukan pengidap HIV pada tingkat sedini mungkin, sehingga lebih banyak orang dapat dihindarkan dari penyakit yang mematikan ini? Sekali lagi, hal ini merupakan pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab. Banyak pandangan pro dan kontra dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam tulisan ini. Tentunya, masing-masing punya alasan tersendiri yang tidak bisa dikesampingkan pula. Oleh sebab itu, dibutuhkan kebijaksanaan dan kajian yang mendalam yang melibatkan beberapa pihak dalam memutuskan apa yang terbaik bagi suatu kasus yang dihadapi. Perlu diingat pula bahwa apa yang terbaik bagi suatu kasus, belum tentu merupakan keputusan yang tepat bagi kasus lain dalam situasi dan tempat yang berbeda.9 Situasi HIV/ AIDS di Indonesia10 Sejak tahun 1987 kasus HIV/AIDS di Indonesia menunjukkan perkembangan yang mengkhawatirkan bila dilihat dari segi jumlah dan cara penularan. Kasus AIDS di Indonesia pertama kali ditemukan dan diidentifikasi pada seorang laki-laki asing di Bali yang kemudian meninggal pada April 1987. Pada Juni 1988 di tempat yang sama juga ditemukan orang Indonesia pertama yang meninggal karena AIDS. Kasus ini kemudian mulai menjadi perhatian terutama oleh kalangan tenaga kesehatan. Dari hasil pemeriksaan darah yang dilakukan pada sekitar tahun 1990 di berbagai ibukota propinsi di Indonesia menunjukkan bahwa infeksi HIV telah menyebar ke berbagai propinsi meskipun prevalensinya masih rendah. Pemeriksaan sekitar 10.500 darah donor yang diperiksa hasilnya ternyata negatif. Gejala-gejala meningkatnya infeksi HIV di Indonesia mulai nyata ketika pemeriksaan darah donor pada tahun 1992/1993 menunjukkan HIV positif pada 2 diantara 100.000 donor darah yang kemudian meningkat menjadi 3 per 100.000 donor darah pada tahun 1994/1995. Perubahan epidemi HIV AIDS terjadi pada tahun 2000 dimana kasus meningkat secara nyata diantara pekerja seks dan bervariasi dari satu daerah ke daerah lain. Di Tanjung Balai Karimun, Propinsi Riau hanya ditemukan 1 % pada 1995/1996 kemudian meningkat menjadi lebih dari 8,38%, pada tahun 2000. Prevalensi HIV pada pekerja seks di Irian Jaya (Merauke) sebesar 26,5%, di DKI Jakarta (Jakarta Utara) sebesar 3,36% dan di Jawa Barat sebesar 5,5%. Pada tahun yang sama, hampir semua propinsi di Indonesia telah melaporkan infeksi HIV. Meskipun prevalensi HIV secara umum masih rendah, tetapi Indonesia digolongkan sebagai negara dengan tingkat epidemi yang terkonsentrasi (concentrated level epidemic) karena terdapatnya kantong-kantong epidemi dengan prevalensi yang lebih dari 5% dari subpopulasi tertentu. Pada tahun 1999 terjadi fenomena baru dalam penularan HIV/AIDS yaitu infeksi HIV mulai terlihat pada penyalahguna Napza suntik. Penularan HIV diantara penyalahguna Napza suntik terjadi sangat cepat karena penggunaan jarum suntik bersama. Pada tahun 1999, 18% dari para penyalahguna Napza yang dirawat di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta yang terinfeksi HIV dan meningkat menjadi 40% pada tahun 2000 dan 48% pada tahun 2001. Sedangkan pada tahun 2000 di Kampung Bali di Jakarta 90% dari penyalahguna Napza suntik terinfeksi HIV. a.

Secara umum dapat dikatakan bahwa sejak tahun 1996 sampai dengan tahun 2002 terjadi peningkatan kasus hampir 17,5%. Pada tahun 1996 hanya 2,5 % dari kasus AIDS melalui Napza suntik, dan pada tahun 2002 sudah hampir 20 %. Dalam 16 tahun terakhir sampai dengan akhir tahun 2002 telah dilaporkan sebanyak 1.016 kasus AIDS. Jumlah yang tercatat tersebut sebenarnya jauh lebih kecil dari prevalensi yang sesungguhnya, karena adanya fenomena gunung es. Pada tahun 2002 diperkirakan jumlah orang yang terinfeksi HIV berkisar antara 90.000-130.000 orang. (Stratanas Penanggulangan HIV/AIDS 2003-2007). Sedangkan data terbaru yang diperoleh dari laporan Ditjen PP dan PL Kemerdekaan RI, jumlah kumulatif kasus AIDS di Indonesia menurut jenis kelamin sampai dengan akhir Juni 2011 sebanyak 26.483 kasus dimana kasus ini paling banyak ditemukan dan pada jenis kelamin laki-laki (19.139 kasus) dan pada kelompok umur 20-49 tahun (23.225 kasus). Hal ini tentu menjadi hal yang memprihatinkan mengingat kelompok umur ini merupakan usia produktif. b. Tinjauan tentang Aspek Hukum HIV/ AIDS Sejak ditemukannya kasus AIDS yang pertama di Bali pada tahun 1987, pemerintah Indonesia sudah menyadari bahwa aspek hukum menjadi urgen dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/ AIDS. Akan tetapi legalisasi untuk mendapatkan suatu peraturan perudangan membutuhkan proses yang panjang dan tidak sederhana. Sejalan dengan perkembangan epidemi HIV/ AIDS baik skala global maupun skala nasional, maka sejak tahun 1994, Pemerintah Republik Indonesia telah menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 36 Tahun 1994 tanggal 30 Mei 1994 tentang Komisi Penanggulangan AIDS. Berdasarkan Keppres tersebut, dibentuklah Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) yang bertujuan untuk: 1. Melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan AIDS berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan/atau strategi global pencegahan dan penanggulangan AIDS yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa; 2. Meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya AIDS dan meningkatkan pencegahan dan/atau penanggulangan AIDS secara lintas sektor, menyeluruh, terpadu dan terkoordinasi. Untuk mengejawantahkan tujuan Keppres 36 Tahun 1994 maka Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat yang ditunjuk sebagai Ketua Komisi Penanggulangan AIDS, menerbitkan Keputusan Nomor: 9/KEP/MENKO/KESRA/VI/1994 tanggal 16 Juni 1994 tentang Strategi Nasional (STRANAS) Penanggulangan AIDS di Indonesia. Adapun tujuan yang diusung STRANAS dalam penanggulangan HIV dan AIDS adalah: 1. Mencegah penularan virus HIV dan AIDS. 2. Mengurangi sebanyak mungkin penderitaan perorangan serta dampak sosial dan ekonomis dari HIV dan AIDS di seluruh Indonesia. 3. Menghimpun dan menyatukan upaya-upaya nasional untuk penanggulangan HIV dan AIDS.

Seiring pergerakan dan kecendrungan epidemi HIV dan AIDS maka pada tahun 2003, Komisi Penanggulangan AIDS menerbitkan STRANAS Pencegahan dan Penanggulangan HIV tahun 2003-2007 yang dirancang untuk sedapat mungkin mengakomodir seluruh perkembangan yang ada di dunia, terutama perkembangan dalam pertemuan Sidang Umum PBB, dikenal dengan Unitetd Nation General Assembly Special Session (UNGASS) yaitu satu pertemuan negara-negara anggota PBB dalam rangka membahas upaya global pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS, tanggal 25-27 Juni tahun 2001. Hasil dari pertemuan tersebut didokumentasikan sebagai Deklarasi Komitmen Sidang Umum PBB tentang HIV dan AIDS dan Pemerintah Indonesia ikut menandatanganinya. Segera setelah itu, pada bulan Maret tahun 2002, dilaksanakan Rapat Kabinet yang khusus membahas laju perkembangan epidemi HIV dan AIDS di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya sekaligus merekomendasikan langkah-langkah strategis yang harus dilaksanakan dalam rangka menekan laju epidemi global ini. Langkah-langkah strategis sebagaimana dimaksud di atas, dituangkan dalam STRANAS 2003-2007. Strategi Nasional 2003-2007 disusun dengan memperhatikan kecenderungan epidemi HIV dan AIDS, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang pengobatan, dan perubahan sistem pemerintahan ke arah desentralisasi. Secara umum Strategi Nasional yang baru telah menggambarkan secara komprehensif segala hal yang diperlukan demi suksesnya upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia. Hal ini terlihat jelas dalam penetapan area prioritas yang meliputi: (1) Pencegahan HIV dan AIDS, (2) Perawatan, Pengobatan dan Dukungan terhadap ODHA, (3) Surveilans HIV dan AIDS dan IMS, (4) Penelitian, (5) Lingkungan Kondusif, (6) Koordinasi Multipihak dan (7) Kesinambungan Penanggulangan (Simplexius Asa, dkk, 2009). c. Perlindungan Hukum dan HAM terhadap Pengidap HIV/AIDS Upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS tidak dapat dipisahkan dari aspek hukum dan hak Asasi manusia (HAM). Permasalahan pokok yang menyangkut hukum berkaitan dengan maraknya kasus HIV/ AIDS adalah bagaimana menyeimbangkan antara perlindungan kepentingan masyarakat dan kepentingan individu pengidap HIV dan penderita AIDS (Indar, 2010). Aspek hukum dan HAM merupakan dua komponen yang sangat penting dan ikut berpengaruh terhadap berhasil tidaknya program penanggulangan yang dilaksanakan. Telah diketahui bahwa salah satu sifat utama dari fenomena HIV & AIDS terletak pada keunikan dalam penularan dan pencegahannya. Berbeda dengan beberapa penyakit menular lainnya yang penularannya dibantu serta dipengaruhi oleh alam sekitar, pada HIV & AIDS justeru penularan dan pencegahannya berhubungan dengan dan atau tergantung pada perilaku manusia. Perilaku manusia selalu bersentuhan dengan hukum dan HAM. Hukum adalah suatu alat dengan dua fungsi utama, yakni sebagai social control dan social engineering. Sebagai social control, hukum dipakai sebagai alat untuk mengontrol perilaku tertentu dalam masyarakat sehingga perilaku tersebut tidak merugikan diri sendiri dan anggota masyarakat lainnya. Sebagai social engineering, hukum dijadikan sebagai alat yang dapat merekayasa sebuah masyarakat sesuai keinginan dan cita-cita hukum (Asa, Simplexius, 2009).

Terdapat dua hak asasi fundamental yang berkaitan dengan epidemi HIV/ AIDS yaitu : hak terhadap kesehatan dan hak untuk bebas dari diskriminasi. Dibandingkan dengan hak terhadap kesehatan, jalan keluar dari masalah diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS ini jauh lebih kompleks dan sulit. Pada banyak kasus, penderita akhirnya bisa berdamai dengan kenyataan bahwa mereka memang mengidap HIV dan mungkin akan meninggal dengan dan karena AIDS. Akan tetapi penderitaan yang lebih parah justru dialami karena adanya stereotype yang dikenakan kepada mereka. Orang terinfeksi acap kali dihubungkan dengan orang terkutuk (amoral) karena perilakunya yang menyimpang dan memang harus menanggung penderitaan sebagai karma atas dosa-dosanya. Tidak hanya dalam bentuk stereotip tetapi di banyak tempat ditemukan pula berbagai pelanggaran HAM berupa stigmatisasi dan diskriminasi, bahkan juga penganiayaan dan penyiksaan. Pelbagai pelanggaran HAM dan hukum sebagai yang tergambar di atas pada akhirnya merupakan fakta sosial yang menjadi bagian dari penderitaan orang terinfeksi bahkan merupakan penyebab sekunder/non medis bagi kematian mereka. Dalam pasal 4 UU Kesehatan No. 36/2009 dinyatakan bahwa setiap orang berhak atas kesehatan. Permasalahan HIV dan AIDS sangat terkait dengan hak atas kesehatan. Hak atas kesehatan adalah aset utama keberadaan umat manusia karena terkait dengan kepastian akan adanya pemenuhan atas hak yang lain, seperti pendidikan dan pekerjaan. Secara garis besar di dalam UU Kesehatan perlindungan hukum terhadap penderita HIV/ AIDS diatur mengenai : Hak atas pelayanan kesehatan Undang-Undang Kesehatan mewajibkan perawatan diberlakukan kepada seluruh masyarakat tanpa kecuali termasuk penderita HIV AIDS. Dalam Pasal 5 UU Kesehatan dinyatakan bahwa terdapat kesamaan hak tiap orang dalam mendapatkan akses atas sumber daya kesehatan, memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau.Tugas pemerintah dalam hal ini untuk menyediakan tenaga medis, paramedik dan tenaga kesehatan lainnya yang cukup dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi penderita HIV/AIDS dan menjamin ketersediaan segala bentuk upaya kesehatan sehingga tercapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Penyediaan obat dan perbekalan kesehatan serta jaminan ketersediaan obat dan alat kesehatan diatur dalam UU Kesehatan dan berlaku juga bagi penderita HIV/AIDS. Hak atas informasi Pasal 7 UU Kesehatan secara tegas mengatakan bahwa setiap orang berhak mendapatkan informasi dan edukasi tentang kesehatan serta informasi tentang data kesehatan dirinya termasuk tindakan dan pengobatan atas dirinya pada pasal 8. Peningkatan pendidikan untuk menangani HIV dan AIDS termasuk metode pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS serta peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pencegahan dan penyebaran HIV dan AIDS, misalnya melalui penyuluhan dan sosialisasi merupakan upaya dalam memberikan informasi mengenai HIV/AIDS.

Hak atas kerahasiaan Hak atas kerahasiaan dalam UU Kesehatan diatur dalam Pasal 57 dimana setiap orang berhak atas rahasia kondisi kesehatannya. Selain itu UUPK No. 29/2004 juga mengatur mengenai rahasia medis dan rekam medis ini pada paragraph 3 dan 4 tentang rekam medis dan rahasia kedokteran. Rahasia Medis itu bersifat pribadi, hubungannya hanya antara dokter - pasien. Ini berarti seorang dokter tidak boleh mengungkapkan tentang rahasia penyakit pasien yang dipercayakannya kepada orang lain, tanpa seizin si pasien. Masalah HIV / AIDS banyak sangkut pautnya dengan Rahasia Medis sehingga kita harus berhati hati dalam menanganinya. Dalam mengadakan peraturan hukum, selalu terdapat dilema antara kepentingan masyarakat dan kepentingan perseorangan. Seringkali harus dipertimbangkan kepentingan mana yang dirasakan lebih berat. Dalam sistim Demokrasi, hak asasi seseorang harus diindahkan, namun hak asasi ini tidaklah berarti bersifat mutlak. Pembatasan dari hak asasi seseorang adalah hak asasi orang lain didalam masyarakat itu. Jika ada pertentangan kepentingan, maka hak perorangan harus mengalah terhadap kepentingan masyarakat banyak. Hak atas persetujuan tindakan medis Dalam pasal 56 UU Kesehatan diatur tentang persetujuan tindakan medis atau informed consent. Masalah AIDS juga ada erat kaitannya dengan Informed Consent. Merupakan tugas dan kewajiban seorang dokter untuk memberikan informasi tentang penyakit-penyakit yang diderita pasien dan tindakan apa yang hendak dilakukan, disamping wajib merahasiakannya. Pada pihak lain kepentingan masyarakat juga harus dilindungi. Semua tes HIV harus mendapatkan informed consent dari pasien setelah pasien diberikan informasi yang cukup tentang tes, tujuan tes,implikasi hasil tes positif ataupun negatif yang berupa konseling prates.10 Penyakit HIV AIDS merupakan isu etik manajemen informasi kesehatan yang sensitif. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan kemudian dapat menimbulkan AIDS. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah suatu kondisi medis berupa kumpulan tanda dan gejala yang diakibatkan oleh menurunnya atau hilangnya kekebalan tubuh karena terinfeksi HIV, sering berwujud infeksi yang bersifat ikutan (oportunistik) dan belum ditemukan vaksin serta obat penyembuhannnya.11 Kewajiban etik yang utama dari professional MIK maupun tenaga kesehatan adalah melindungi privasi dan kerahasiaan pasien dan melindungi hak-hak pasien dengan menjaga kerahasiaan rekam medis pasien HIV AIDS. Kaidah turunan moral bagi tenaga kesehatan adalah privacy, confidentiality, fidelity dan veracity. Privacy berarti menghormati hak privacy pasien, confidentialty berarti kewajiban menyimpan informasi kesehatan sebagai rahasia, fidelity berarti kesetiaan, dan veracity berarti menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran. Menurut Permenkes RI No. 269 tentang rekam medis pasal 10 , hal yang harus diperhatikan bagi profesional MIK dalam pengelolaan informasi pasien adalah :

Informasi tentang identitas, diagnosis, riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan dan riwayat pengobatan pasien harus dijaga kerahasiaannya oleh dokter, dokter gigi, tenaga kesehatan tertentu, petugas pengelola dan pimpina sarana pelayanan kesehatan Informasi tentang identitas, diagnosis, riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan dan riwayat pengobatan dapat dibuka dalam hal : Untuk kepentingan kesehatan pasien; Memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum perintah pengadilan; 1.Permintaan dan / atau persetujuan pasien sendiri; 2.Permintaan institusi atau lembaga berdasarkan ketentuan perundang-undangan dan; 3.Untuk kepentingan penelitian, pendidikan, dan audit medis, sepanjang tidak menyebutkan identitas pasien. Pengelolaan informasi pasien HIV AIDS di tempat kerja juga diatur Menurut Kepmenaker No. KEP. 68/MEN/IV/2004 tentang pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS : Pasal 6 Informasi yang diperoleh dari kegiatan konseling, tes HIV, pengobatan, perawatan dan kegiatan lainnya harus dijaga kerahasiaannya seperti yang berlaku bagi data rekam medis. Dalam kaitannya aspek hukum kerahasiaan pasien HIV AIDS , kode etik administrator perekam medis dan informasi kesehtan ( PORMIKI, 2006) adalah : Selalu menyimpan dan menjaga data rekam medis serta informasi yang terkandung di dalamnya sesuai dengan ketentuan prosedur manajemen, ketetapan pimpinan institusi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selalu menjunjung tinggi doktrin kerahasiaan dan hak atas informasi pasien yang terkait dengan identittas individu atau social. Administrator informasi kesehtan wajib mencegah terjadinya tindakan yang menyimpang dari kode etik profesi. Perbuatan / tindakan yang bertentangan dengan kode etik adalah menyebarluaskan informasi yang terkandung dalam laporan rekam medis HIV AIDS yang dapat merusak citra profesi rekam administrator informasi kesehatan. Disisi lain rumah sakit sebagai institusi tempat dilaksanakannya pelayanan medis, memiliki Kode Etik Rumah Sakit ( Kodersi ) dalam kaitannya manajemen informasi kesehatan : Pasal 4 : Rumah sakit harus memelihara semua catatan / arsip, baik medik maupun non medik secara baik. Pasal 9 : Rumah sakit harus mengindahkan hak-hak asasi pasien

Pasal 10: Rumah sakit harus memberikan penjelasan apa yang diderita pasien dan tindakan apa yang hendak dilakukan. Pasal 11: Rumah sakit harus meminta persetujuan pasien ( informed consent ) sebelum melakukan tindakan medik. Selain itu, kerahasiaan rekam medis diatur di dalam UU Praktik Kedokteran No. 29 Tahun 2004 pasal 47 ayat (2) sebagaimana disebutkan di atas. UU tersebut memang hanya menyebut dokter, dokter gigi dan pimpinan sarana yang wajib menyimpannya sebagai rahasia, namun PP No 10 tahun 1966 tentang wajib simpan rahasia kedokteran tetap mewajibkan seluruh tenaga kesehatan dan mereka yang sedang dalam pendidikan di sarana kesehatan untuk menjaga rahasia kedokteran. PP No 10 tahun 1966 Pasal 3 Yang diwajibkan menyimpan rahasia kedokteran adalah Tenaga kesehatan menurut pasal 2 UU tentang tenaga kesehatan Mahasiswa kedokteran , murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksaan, pengobatan dan atau perawatan dan orang lain yang ditetapkan oleh menteri kesehatan pada waktu atau selama melakukan pekerjaannya dalam lapangan kedokteran. Dokter wajib menyimpan rahasia medis pasien. Hal ini berdasarkan KODEKI maupun kode etik petugas kesehatan Pasal 13 : Dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuninya tentang seorang penderita bahkan juga setelah meninggal dunia. Pelanggaran mengenai ketentuan wajib simpan rahasia kedokteran dapat dipidana dengan pasal 322 KUHP : Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pencariaannya, baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama 9 bulan atau denda paling banyak enam ratus rupiah. Tujuan dari rahasia kedokteran dalam kasus HIV AIDS, selain untuk kepentingan jabatan adalah untuk menghindarkan pasien dari hal-hal yang merugikan karena terbongkarnya status kesehatan. Menurut Declaration on the Rights of the Patients yang dikeluarkan oleh WMA memuat hak pasien terhadap kerahasiaan sbb:

o Semua informasi yang teridentifikasi mengenai status kesehatan pasien, kondisi medis, diagnosis, prognosis, dan tindakan medis serta semua informasi lain yang sifatnya pribadi, harus dijaga kerahasiaannya, bahkan setelah kematian. Perkecualian untuk kerabat pasien mungkin mempunyai hak untuk mendapatkan informasi yang dapat memberitahukan mengenai resiko kesehatan mereka. 1. Informasi rahasia hanya boleh dibeberkan jika pasien memberikan ijin secara eksplisit atau memang bisa dapat diberikan secara hukum kepada penyedia layanan kesehatan lain hanya sebatas apa yang harus diketahui kecuali pasien telah mengijinkan secara eksplisit. 2. Semua data pasien harus dilindungi. Perlindungan terhadap data harus sesuai selama penyimpanan. Substansi manusia dimana data dapat diturunkan juga harus dilindungi. Dalam kasus dimana pasien tidak kompeten dalam membuat keputusan medis, orang lain harus diberi informasi mengenai pasien tersebut agar dapat mewakili pasien tersebut dalam membuat keputusan. Dokter secara rutin menginformasikan kepada anggota keluarga pasien yang sudah meninggal tentang penyebab kematian. Pembeberan terhadap kerahasiaan ini dibenarkan namun harus tetap dijaga seminimal mungkin, dan bagi siapa yang mendapatkan informasi rahasia tersebut harus dipastikan sadar untuk tidak mengatakannya lebih jauh lagi dari pada yang diperlukan untuk kebaikan pasien. Jika mungkin pasien harus diberitahu bahwa telah terjadi pembeberan. Alasan lain yang dapat diterima terhadap pembeberan kerahasiaan adalah untuk memenuhi tuntutan hukum. Jika dokter dibujuk untuk memenuhi tuntutan hukum untuk membuka informasi medis dokter harus melihat secara hati-hati dan kritis terhadap dengan pasien perlunya semua permintaan hukum untuk pembeberan kerahasiaan dan dari pasien. Contohnya bagi memastikan bahwa hal tersebut benar sebelum melakukannya. terlebih dahulu meminta ijin pasien sebelum yang berwenang dipanggil. Hal ini akan lebih baik jika memang akan ada intervensi lebih jauh. Terhadap kerahasiaan yang diminta oleh hukum, dokter mempunyai tugas etik untuk membagi informasi dengan orang yang mungkin berada dalam bahaya karena pasien tersebut. Dua keadaan dimana hal ini dapat terjadi adalah saat pasien mengatakan kepada psikiater bahwa dia berniat menyakiti orang lain dan saat dokter yakin bahwa pasien yang dihadapinya HIV Positif namun tetap meneruskan hubungan seks yang tidak aman dengan pasangannya atau dengan orang lain. Tuntutan terhadap pembeberan kerahasiaan yang tidak diminta oleh hukum namun harus tetap dilakukan adalah saat dimana akan ada bahaya yang diyakini mengancam, serius dan tidak terbalikkan, tidak terhindarkan, kecuali dengan membeberkan informasi yang sebenarnya tidak boleh dibeberkan. Dalam kasus pasien HIV positif pembeberan informai kepada pasangan atau partner seksnya saat itu bukanlah sesuatu yang tidak etis, dan bahkan dibenarkan jika pasien tidak bersedia menginformasikannya kepada orang (orang-orang) tersebut bahwa dia (mereka) dalam resiko.

Pembenaran dari pembeberan informasi haruslah berdasar: partner beresiko terinfeksi HIV namun tidak mengetahui kemungkinan terinfeksi; pasien menolak memberi tahu pasangan seksnya; pasien menolak bantuan dokter untuk melakukannya; dan dokter telah mengatakan kepada pasien untuk memberitahu pasangannya. Dokter harus mengungkapkan status penderita HIV pada anak, orangtua, pengasuh atau pasien itu sendiri. Perlu dilakukan konseling untuk mengatasi efek psikologis dan efek medis dari penyakit, termasuk didalamnya diskusi antara pasien dan konselor.Pasien harus melaporkan dan mengungkapkan mengenai penyakitnya baik kepada keluarga, teman, dan lainnya. Dalam kaitannya dengan pengungkapan informasi HIV AIDS terdapat 3 masalah etik, yaitu ; 1. Pelanggaran prinsip kebutuhan untuk mengetahui ( need-to-know principle ). 2. Penyalahgunaan surat persetujuan atau otorisasi yang tidak tertentu ( blanket authorization). 3. Pelanggaran privasi yang terjadi sebagai akibat dari prosedur pengungkapan sekunder ( secondary release ). Rekam medis bersifat rahasia. Pelepasan informasi pasien menular maupun HIV AIDS dapat diberikan dengan tetap memperhatikan tujuan maupun kegunaan dari pelepasan informasi tersebut. Hal ini sesuai dengan UU Praktik Kedokteran No. 29 Tahun 2004 memberikan peluang pengungkapan informasi kesehatan secara terbatas, yaitu dalam pasal 48 ayat (2): 1. untuk kepentingan kesehatan pasien 2. untuk memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum 3. permintaan pasien sendiri 4. berdasarkan ketentuan undang-undang Alasan lain yang diperbolehkan untuk membuka rahasia kedokteran adalah ( Dewi, 2008 Hal 257 ): Keadaan memaksa Hal ini diatur di dalam pasal 48 KUHP : Siapapun tak terpidana jika melakukan tindakan karena didorong oleh keadaan terpaksa.Keadaan ini dapat pula disebut overmatch yang oleh Prof. Moeliono terdapat dua pengertian ; Absolute Overmatch Seseorang dikatakan di dalam keadaan terpaksa apabila ia dihadapkan kepada kekerasan untuk tekanan jasmani atau rohani sedemikian, hingga ia kehilangan kehendak untuk melakukan suatu hal lain daripada satu-satunya tindak pidana yang merupakan pelanggaran hukum.

Nisbi Overmatch Keadaan memaksa timbul karena adanya tekanan rohani sehingga yang bersangkutan berbuat suatu hal yang pasti tidak akan diperbuatnya, jika keadaan terpaksa atau darurat tersebut tidak ada. 1. Perintah Jabatan

Pasal 170 KUHP memberikan batasan terkait dengan perintah jabatan sebagai berikut : Mereka yang karena pekerjaannya, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia, dapat dibebaskan dari kewajiban untuk memberi keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang dipercayakan kepada mereka. Hakim menentukan sah atau tidaknya alasan untuk permintaan tersebut, maka pengadilan negeri yang memutuskan apakah alasan yang dikemukakan saksi atau saksi ahli untuk tidak berbicara iti, layak dan dapat diterima atau tidak, Ketentuan Undang-Undang Pengecualian terhadap wajib simpan rahasia kedokteran juga berlak pada kondisi kondisi darurat seperti wabah dan bencana alam, kaitannya dalam masalah ini adalah wabah penyakit HIV AIDS. Seorang dokter maupun petugas kesehatan tidak boleh membiarkan bencana terjadi tanpa penanganan yang semestinya hal ini diatur dalam UU No 6 Tahun 1962 tentang wabah. Undang-undang ini mewajibkan dokter dan petugs kesehatan lainnya untuk segera melaporkan kondisi-kondisi luar biasa karena wabah penyakit dan penyebarannya, sehingga segera bisa ditanggulangi. Hal lain yang merupakan pengecualian wajib simpan rahasia kedokteran adalah ; a. Jika ada persetujuan dari pasien untuk dibuka informasi tersebut b. Jika dilakukan komunikasi dokter lain atau perawatlain dari pasien tersebut c. Jika informasi tersebut tidak tergolong ke dalam informasi yang sifatnta rahasia d. Tujuan dari komunukasi adlah pengobatan. Sementara itu dokter dan petugas medis diperkenankan mebuka rahasia pasiennya secara terbatas kepada pihak tertentu asal memenuhi 3 syarat ( Dewi, 2008 Hal 264 ): 1. Syarat keterbatasan para pihak yang relevan saja. Misalnya kepada suami / Istri, pengadilan, pihak yang mungkin akan ketularan atau terpapar penyakit tersebut. 2. Syarat keterbatasan informasi, yakni hanya dibuka sejauh yang diperlukan saja. 3. Syarat keterbatasan persyaratan, yakni hanya dibuka informasi jika ada persyaratanpersyaratan tertentu saja seperti misalnya : a. Ada resiko penularan penyakit b. Secara medis informasi tersebut layak dibuka ( Fuady dalam Dewi, 2008 :264 )

Sedangkan pasal 12 Permenkes 749a menyatakan bahwa: Pemaparan isi rekam medis hanya boleh dilakukan oleh dokter yang merawat pasien dengan ijin tertulis pasien. Pimpinan sarana pelayanan kesehatan dapat memaparkan isi rekam medis tanpa seijin pasien berdasarkan peraturan perundang-undangan. Oleh karena pasien adalah pemilik isi rekam medis, maka sarana kesehatan dapat menyerahkan dengan lebih tidak ragu-ragu, yaitu dapat dalam bentuk fotokopi rekam medis ataupun dalam bentuk surat keterangan yang memuat resume perjalanan penyakit dan perawatannya selama di sarana kesehatan tersebut. Rekam medis asli hanya dapat dibawa keluar sarana kesehatan atas perintah pengadilan. Sedangkan kepada pihak ketiga, setelah memperoleh persetujuan pasien, informasi yang disampaikan harus memenuhi prinsip need to know, yaitu minimal tapi mencukupi, relevan dan akurat. Di bidang keamanan rekam medis, Permenkes No 749a/MENKES/ PER/XII/1989 menyatakan dalam pasal 13, bahwa pimpinan sarana kesehatan bertanggungjawab atas (a) hilangnya, rusaknya, atau pemalsuan rekam medis, (b) penggunaan oleh orang / Badan yang tidak berhak. Menurut dr. Tonang Sebenarnyalah secara yuridis tidak berhak membuka/mengetahui medical-record. itu hak pasien dan/atau keluarga terdekatnya yang memiliki kuasa. Rekam medis bisa dibuka / diketahui bila : 1. Pasien/keluarga memberikan kuasa kepada saya secara tertulis 2. Saya adalah bagian dari Tim dokter yang merawat pasien tersebut, atau mendapatkan kuasa dari dokter / RS yang merawatnya untuk suatu tujuan tertentu yang rasional dan layak dipertanggung jawabkan (termasuk untuk urusan pendidikan, penelitian dan kepentingan managerial RS). 3. Karena perintah pengadilan, saya ditugasi menjadi saksi ahli Dengan semakin banyaknya pengidap AIDS yang hidup dalam jangka waktu yang lebih lama, semakin banyak pula ditemukan kasus-kasus di pengadilan yang berkaitan dengan AIDS. Kepercayaan merupakan standar legal dan etis dari kerahasiaan dimana profesi kesehatan harus menjaganya. Tanpa pemahaman bahwa pembeberan tersebut akan selalu dijaga kerahasiaannya, pasien mungkin akan menahan informasi pribadi yang dapat mempersulit dokter dalam usahanya memberikan intervensi efektif atau dalam mencapai tujuan kesehatan publiktertentu. Ada banyak kesulitan yang timbul didalam menjaga kerahasiaan informasi pasien yang sensitif HIV AIDS terutama pada masyarakat Timur yang memiliki kecenderungan untuk berbagi informasi. Namun dengan sosialiasi dan penanganan yang baik petugas kesehatan dan medis diharapkan dapat memberikan pengertian terutama pada mereka yang tingkat pendidikannya rendah.11

KESIMPULAN Disini yang harus dijaga oleh seorang dokter adalah untuk tetap menjaga rahasia kedokteran ialah pertama-tama dokter harus menjelaskan kepada pasien bahwa pengobatan penyakit tersebut sebenarnya tidak sulit, tetapi karena ia telah berhubungan juga dengan istrinya, maka kemungkinan istrinya juga sudah tertular dan harus diobati. Dokter perlu meyakinkan sang suami untuk memberitahukan kepada istrinya agar penyakit menuslar seksualnya dapat sembuh tuntas tanpa kambuh lagi. Jika pasien tetap berkebratan, maka ada baiknya pasien menandatangani surat informed consent antara sang dokter dan pasien, guna berjaga-jaga terjadi hal yang tidak diinginkan. Dokter memegang prinsip rahasia kedokteran pasien, maka dokter tidak boleh membocorkan apapun yang dialami pasien kepada siapapun termasuk kepada sang istri .Dokter juga wajib menjelaskan adanya kemungkinan-kemungkinan dimana AIDS bisa saja tertular melalui hubungan seksual yang tidak sehat

Dokter hanya bisa menyarankan agar pasien berusaha jujur dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan nya, tetapi semua keputusan tetap di tangan pasien tersebut, karena dokter tidak bisa memaksa sesuai hak Autonomy seorang pasien dan sesuai rahasia jabatan kedokteran.

DAFTAR PUSTAKA 1. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan hukum kedokteran pengantar bagi mahasiswa kedokteran dan hukum. Pustaka Dwipar; Jakarta: 2007. h. 8-12,30-32,535,62-7,77-9. 2. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Peraturan perundnga-undangan bidang kedokteran. Ed.1. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1994. h. 17, 20-36. 3. Undang-Undang Republik Indonesia No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Diunduh dari: http://www.dikti.go.id/files/atur/sehat/UU-29-

2004PraktikKedokteran.pdf. 16 Januari 2013. 4. Bertens K. Etika, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2001. 5. Shannon A, Thomas. Pengantar bioetika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1995. 6. Hanafiah MJ, Amir A. Etika kedokteran & hukum kesehatan. Edisi 4. Jakarta: EGC. 2009.h.78-83. 7. Gonorhoea. Delvin D. 31 Juli 2012. Diunduh dari:

http://www.netdoctor.co.uk/diseases/facts/gonorrhoea.htm. 16 Januari 2013.

8. What

is

HIV-AIDS.

Mandal

A.

Diunduh

dari:

http://www.news-

medical.net/health/What-is-HIVAIDS.aspx. 16 Januari 2013. 9. Aspek Hukum Pada HIV/AIDS dan ODHA.Yudy V. 2 Desember 2011. Diunduh dari: http://www.tanyadok.com/kesehatan/aspek-hukum-pada-hivaids-dan-odha. 16 Januari 2013. 10. Aspek etika dan hukum dalam pengelolaan informasi kesehatan pasien HIV AIDS. 20 Juni 2010. Diunduh dari: http://ratnadewipuspa.wordpress.com/2010/06/20/aspeketika-dan-hukum-dalam-pengelolaan-informasi-kesehatan-pasien-hiv-aids/. 16 Januari 2013. 11. Makalah hukum dan HIV/AIDS. Diunduh dari: http://jurnalkesehatanmasyarakat.blogspot.com/2012/01/makalah-hukum-dan-uuhivaids.html. 16 Januari 2013.