Anda di halaman 1dari 12

619 TERAKREDITASI SK DIRJEN DIKTI NO.

66b/DIKTI/KEP/2011 ISSN: 1693-5241


Model Pengukuran Kinerja pada Perusahaan Jasa Konstruksi di Kota Banjarmasin
Alamat Korespondensi:
Rusmanto, STIE Nasional Banjarmasin JL. Mayjend Soetoyo S
No.126 Banjarmasin E mail: idamentayani@ yahoo. co.id;
rusmanto.maman@yahoo.co.id HP: 081351840098/ 081348000055
619
Model Pengukuran Kinerja pada Perusahaan Jasa Konstruksi
di Kota Banjarmasin
Rusmanto
Ida Mentayani
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nasional Banjarmasin
Abstract : The research aims to describe performance measurement model on construction service compa-
nies in Banjarmasin. The object are 80 medium scale and small scale companies. Based on the research, it
has been known that used as performance measurement based on the financial statement. Types of financial
statement that used as performance measurement sources are balance sheet, income statement,statement of
changes in equity and cash flow statement. In utilizing the financial statements for the assessment of perfor-
mance using ratio analysis of liquidity, solvency, profitability and activity. To declare that the ratio -
financial ratios illustrate the performance of construction services company, with a good or bad perfor-
mance criteria then the ratio should be compared with the ratio of industry standards. Performance mea-
surement model base on financial statements has some weakness, including less relevancy aspect, oriented
on past performances, short term oriented, less flexibility, non spuring improvement and ambiguous on cost
aspects.
Keywords: performance measurement, financial statement, construction service company
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan model pengukuran kinerja pada perusahaan jasa
konstruksi di Banjarmasin. Materi yang digunakan adalah 80 skala menengah dan perusahaan skala kecil.
Berdasarkan hasil penelitian, telah diketahui bahwa digunakan sebagai pengukuran kinerja berdasarkan laporan
keuangan. Jenis laporan keuangan yang digunakan sebagai sumber pengukuran kinerja neraca, laporan laba
rugi, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas. Dalam memanfaatkan laporan keuangan untuk penilaian
kinerja dengan menggunakan analisis rasio likuiditas, profitabilitas solvabilitas, dan aktivitas. Menyatakan
bahwa rasio-rasio keuangan menggambarkan kinerja perusahaan jasa konstruksi, dengan kriteria kinerja yang
baik atau buruk maka rasio harus dibandingkan dengan rasio standar industri. Pengukuran kinerja model dasar
pada laporan keuangan memiliki beberapa kelemahan, termasuk aspek relevansi kurang, berorientasi pada
kinerja masa lalu, berorientasi jangka pendek, fleksibilitas kurang, tidak memiliki daya dorong dan ambigu pada
aspek biaya.
Kata Kunci: pengukuran kinerja, laporan keuangan, perusahaan jasa konstruksi
Peran strategis perusahaan jasa konstruksi di Indo-
nesia dalam pertumbuhan ekonomi nasional menurut
Road Map Konstruksi Indonesia 20092014 meliputi
backward dan forword linkages yang luas, daya
serap tenaga kerja sangat besar, memberikan
sumbangan besar pada Produk Domestik Produk
(PDB). Mata rantai suplai yang besar dan mendorong
pertumbuhan industri penunjang sektor konstruksi,
serta menggerakkan pertumbuhan usaha pengadaan
barang dan jasa.
Sektor konstruksi nasional berhasil menempati
urutan keenam dari sembilan sektor utama penyum-
bang PDB nasional. Pada tahun 2009, PDB yang
disumbangkan oleh sektor konstruksi tercatat sebesar
Rp. 555 triliun, yang merupakan 9,9% dari PDB
Rusmanto, Ida Mentayani
Nama Orang JURNAL APLIKASI MANAJEMEN | VOLUME 10 | NOMOR 3 | SEPTEMBER 2012 620
nasional. Seiring perkembangannya, sumbangan pada
tahun 2011 mencapai 10,3%. Apabila dibandingkan
triwulan yang sama pada tahun sebelumnya, PDB
triwulan III -2011 sektor konstruksi tumbuh 6,4% dari
rata-rata peningkatan PDB sebesar 6,5%. Sementara
itu, tenaga kerja yang dapat terserap di sektor kons-
truksi nasional tercatat berjumlah 5,4 juta jiwa pada
tahun 2009, atau 5,3% dari tenaga kerja nasional.
Terus meningkat hingga 5,8 juta jiwa ditahun 2011.
Kementerian Pekerjaan Umum memprediksi jumlah
tenaga kerja disektor konstruksi setelah 2012 men-
capai lebih dari 6 juta orang per tahun.
Jumlah perusahaan yang bergerak disektor kons-
truksi mencapai 151.537 perusahaan pada tahun 2009,
meningkat 8,1 % dari tahun sebelumnya yakni 139.332
perusahaan. Peningkatan jumlah badan usaha tersebut
ternyata belum diikuti dengan peningkatan kualifikasi
dan kinerjanya. Hal ini tercermin pada mutu produk,
ketepatan waktu pelaksanaan, efisiensi pemanfaatan
sumber daya manusia, modal serta tehnologi dalam
penyelenggaraan jasa konstruksi yang belum sesuai
dengan yang diharapkan. Kondisi tersebut diantaranya
disebabkan oleh persyaratan kualifikasi, tenaga kerja
terampil dan ahli yang belum diatur sebagaimana
mestinya untuk mewujudkan badan usaha konstruksi
yang profesional dan dapat diandalkan.
Dengan tingkat kualifikasi dan kinerja tersebut
pada umumnya pangsa pasar pekerjaan konstruksi
yang bertehnologi tinggi belum sepenuhnya dapat
dikuasai oleh usaha jasa konstruksi nasional. Dari
seluruh pangsa pasar jasa konstruksi Indonesia
(100%) hanya 40% yang dikuasai oleh perusahaan
jasa konstruksi nasional yang jumlahnya 90%, sedang-
kan 60% lainnya dikuasai oleh pelaku jasa konstruksi
asing yang jumlahnya 10%. Oleh karena itu, tidak
berlebihan jika sektor industri konstruksi dalam negeri
perlu meningkatkan penguasaan pasar domestik oleh
pelaku usaha konstruksi nasional dan meningkatkan
daya saingnya terutama pada era pasar bebas.
Perkembangan era pasar bebas yang diawali
dengan penandatanganan kerjasama dalam AFTA,
APEC dan komitmen internasional lainnya menye-
babkan proses globalisasi perekonomian dunia sema-
kin meningkat. Kerjasama diberbagai bidang yang
membuka dan memberi kesempatan bagi para inves-
tor asing untuk mengembangkan usahanya di Indonesia,
oleh karena itu diperlukan adanya peningkatan
kemampuan perusahaan khususnya perusahaan jasa
konstruksi agar dapat menghadapi persaingan yang
semakin ketat. Untuk menghadapi persaingan terse-
but, maka diperlukan langkah-langkah antisipatif
dengan melakukan berbagai macam perbaikan pada
perusahaan jasa konstruksi guna meningkatkan kuali-
tas kinerja perusahaan. Upaya ini ditujukan agar dapat
mengembangkan suatu sistem bisnis perusahaan jasa
konstruksi yang ideal dan memiliki kemampuan untuk
bersaing dengan perusahaan-perusahaan asing di
masa mendatang.
Guna mencapai perusahaan jasa konstruksi yang
kuat dan mempunyai kemampuan bersaing, diperlukan
kondisi yang kondusif seperti tersedianya tenaga
manajemen maupun tenaga ahli yang profesional
dalam jumlah cukup, bahan baku/material yang distan-
darisasi secara nasional dan diproduksi sesuai dengan
kebutuhan, peralatan konstruksi harus mudah dan
kompetitif, sistem informasi industri jasa konstruksi
yang tepat dan terbuka mulai dari konsepsi proyek
sampai saat-saat pelelangan dan pengenalan terhadap
metode-metode konstruksi yang mutakhir dan efisien
sehingga dapat unggul dalam pelelangan internasional
(Kadin, 2002)
Kondisi yang kondusif tidak tercipta secara mak-
simal terutama pada negara berkembang seperti In-
donesia, karena pada umumnya perusahaan jasa
konstruksi mengalami masalah yaitu sering terjadinya
kekurangan material, pemeliharaan yang buruk terha-
dap peralatan, manajemen lapangan yang kurang
berkembang, ketidakmampuan untuk mengkoordinasi-
kan pelayanan mekanik, kesulitan mencapai alokasi
tenaga kerja yang kompeten dan dalam jumlah yang
layak dan lain-lain. Permasalahan yang dihadapi oleh
perusahaan jasa konstruksi harus segera diatasi
dengan menciptakan iklim usaha yang kondusif se-
hingga menunjang bagi perkembangan, kemajuan dan
keunggulan bersaing.
Menurut Sundar, Varadarajan dan John Fahy,
1993 dalam Handawati U ( 2004), perusahaan yang
mempunyai keunggulan bersaing berkelanjutan mem-
punyai aset, nilai dan kecakapan yang unik sebagai
sumber keunggulan bersaing. Dengan strategi keung-
gulan bersaing berkelanjutan yang berupa aset, nilai
dan kecakapan unik, mampu mengimplementasikan
strategi yang unggul dan tidak dapat dihasilkan oleh
621 TERAKREDITASI SK DIRJEN DIKTI NO. 66b/DIKTI/KEP/2011 ISSN: 1693-5241
Model Pengukuran Kinerja pada Perusahaan Jasa Konstruksi di Kota Banjarmasin
perusahaan pesaing. Perusahaan seperti ini akan
mempunyai kinerja perusahaan yang baik.
Indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif dan
atau kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapai-
an suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan.
Dengan demikian kinerja perusahaan jasa konstruksi
dapat dicerminkan dari produknya berupa prasarana
dan sarana yang menunjang kemajuan sebuah daerah
sebagaimana yang dirasakan oleh warga kota
Banjarmasin. Dibangunnya prasarana seperti gedung-
gedung bertingkat, pusat-pusat perbelanjaan, dan men-
jamurnya hotel dari yang berbintang sampai berstan-
dar melati. Sedangkan untuk sarananya tergambar
dari jalan-jalan yang semakin mulus dengan pengas-
palan atau maupun semen cor sehingga memperlan-
car transportasi. Selain itu, daerah di pinggiran kota,
tumbuhnya pemukiman-pemukiman baru yang dileng-
kapi dengan sarana jalan yang memadai.
Perusahaan jasa kontruksi di kota Banjarmasin
yang berperan dalam kemajuan daerahnya, yaitu peru-
sahaan yang selalu meningkatkan kinerja dan kualifi-
kasinya serta mempunyai keunggulan bersaing.
Dengan demikian diperlukan suatu pengukuran dan
terhadap kinerja perusahaan jasa konstruksi untuk
mengevaluasi dan meningkatkan kinerjanya serta
menciptakan keunggulan bersaing.
Hasil penelitian yang juga dilakukan oleh Sudarto,
dkk. (2008) tentang kinerja perusahaan konstruksi di
Indonesia menyatakan bahwa dari 12 indikator kinerja
perusahaan yang mewakilli kinerja profitability,
growth, sustanaibility dan competitiveness, dan
indikator kinerja yang paling berpengaruh pada peru-
sahaan jasa konstruksi di Indonesia adalah profitabil-
ity dan yang paling kecil pengaruhnya adalah susta-
naibility.
Penelitian lain dari Sudarto (2007) berkesimpulan
bahwa permasalahan pada faktor internal perusahaan
yang paling berpengaruh terhadap kinerja perusahaan
jasa konstruksi terdiri dari manajer yang tidak kompe-
ten, rendahnya kemampuan manajerial dan entrepre-
nuerial, rendahnya produktivitas, minimnya pengeta-
huan dan kemampuan tehnik sumber daya manusia,
masalah finansial yang kurang baik dan pembayaran
terlambat. Permasalahan pada internal perusahaan
yang paling mempengaruhi penurunan kinerja
disebabkan oleh faktor manajemen dan sumber daya
manusia.
Berdasarkan hasil penelitian Utomo Handawati
( 2004) diketahui bahawa strategi time based, strategi
keunggulan bersaing berkelanjutan yang dibentuk dari
variabel diferensiasi dan inovasi, serta komimen mana-
jer adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja
perusahaan jasa konstruksi di Kota Semarang.
Dari fenomena tentang peran dan permasalahan
perusahaan jasa konstruksi dan didukung dengan
penelitian terdahulu, maka penelitian ini bertujuan
mengungkapkan serta mengeksplorasi proses pengu-
kuran kinerja perusahaan jasa konstruksi di Kota
Banjarmasin kemudian mendeskripsikannya dalam
sebuah model.
Pengukuran dan Penilaian Kinerja
Istilah kinerja atau performance seringkali di-
kaitkan dengan kondisi keuangan perusahaan. Kinerja
merupakan hal penting yang harus dicapai oleh setiap
perusahaan dimanapun, karena kinerja merupakan
cerminan dari kemampuan perusahaan dalam me-
ngelola dan mengalokasikan sumber dayanya.
Pengukuran kinerja perusahaan meliputi proses
perencanaan, pengendalian, dan proses transaksional
bagi kalangan perusahaan sekuritas, fund manager,
eksekutif perusahaan, pemilik, pelaku bursa, kreditur
serta stakeholder lainnya. Pengukuran kinerja sering-
kali hanya menjadi sebuah aktivitas rutin tanpa adanya
penekanan untuk menindaklanjuti hasil pengukuran
yang didapatkan. Sedangkan penilaian kinerja adalah
proses perbandingan antara rencana atau standar-
standar yang telah disepakati. Standarnya berupa
standar dari rata-rata industri sejenis, perusahaan ter-
baik pada sektor tersebut, kinerja terbaik yang pernah
dicapai, dan lain-lain( Wibisono D, 2006)
Pengukuran kinerja keuangan perusahaan bertu-
juan untuk (1). Memberikan informasi yang berguna
dalam membuat keputusan penting mengenai asset
yang digunakan dan untuk memacu para manajer
untuk membuat keputusan yang menyalurkan kepen-
tingan perusahaan.(2). Mengukur kinerja unit usaha
sebagai suatu entitas usaha.
Informasi kinerja perusahaan, terutama profitabi-
litas, diperlukan untuk menilai perubahan potensial
sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan
dimasa depan. Informasi fluktuasi kinerja adalah
penting dalam hal ini. Informasi kinerja bermanfaat
Rusmanto, Ida Mentayani
Nama Orang JURNAL APLIKASI MANAJEMEN | VOLUME 10 | NOMOR 3 | SEPTEMBER 2012 622
untuk memprediksi kapasitas perusahaan dalam
menghasilkan arus kas dari sumber daya yang ada.
Di samping itu, informasi tersebut juga berguna dalam
perumusan perimbangan tentang efektifitas perusa-
haan dalam memanfaatkan sumber daya (IAI, 2009).
Laporan Keuangan sebagai Informasi dalam
Mengukur Kinerja Perusahaan
Laporan keuangan yang disusun dan disajikan
kepada semua pihak yang berkepentingan dengan
eksistensi suatu perusahaan, pada hakekatnya meru-
pakan alat komunikasi. Artinya laporan keuangan
itu adalah suatu alat yang digunakan untuk mengkomu-
nikasikan informasi keuangan dari suatu perusahaan
dan kegiatan-kegiatannya kepada mereka yang
berkepentingan dengan perusahan tersebut.
Tujuan dari laporan keuangan adalah menyedia-
kan informasi tentang posisi keuangan, kinerja, serta
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang
bermanfaat bagi sejumlah pemakai dalam pengam-
bilan keputusan ekonomi (IAI, 2007 dalam Kartikahadi
Hans, Rosita Uli, 2012).
Posisi keuangan suatu entitas menggambarkan
sumber daya yang dikuasainya pada suatu waktu ter-
tentu. Komposisi dan jumlah sumber daya yang dimili-
ki dan kewajiban yang ada pada suatu waktu mencer-
minkan kemampuan entitas dalam membelanjai
usahanya. Paramater untuk mengevaluasi kemam-
puan tersebut dikenal dengan menghitung likuiditas
dan solvabilitas. Likuiditas merupakan ketersediaan
kas jangka pendek di masa depan setelah memperhi-
tungkan komitmen yang ada.
Informasi kinerja entitas terutama profitabilitas
menunjukkan berapa efektif dan efisien entitas dalam
mendayagunakan sumberdaya entitas. Informasi ter-
sebut diperlukan untuk menilai perubahan potensial
sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan di
kemudian hari serta kemampuan entitas untuk meng-
hasilkan arus kasa dan sumber daya. Informasi tentang
kinerja dilaporkan dalam laporan laba rugi dan laporan
arus kas.
Adapun pihak yang berkepentingan atau pema-
kai laporan keuangan untuk pengambilan keputusan
ekonomi, terdiri dari pemilik perusahaan, manajer,
kreditur, investor, pemerintah dan karyawan.
Menurut Hanafi, Mamduh dan Halim (2005), ada
tiga bentuk laporan keuangan yang pokok yaitu
Neraca, Laporan Laba rugi dan Laporan Aliran Kas.
Neraca/Balance Sheet digunakan untuk menggam-
barkan kondisi keuangan perusahaan pada suatu
waktu tertentu. Neraca merupakan laporan yang
sistematis tentang aktiva, hutang serta modal suatu
perusahaan pada waktu/tanggal tertentu. Neraca
terdiri dari tiga bagian utama yaitu aktiva (assets),
hutang/kewajiban (liabilities) dan modal (capital).
Laporan Rugi Laba merupakan laporan sistematis
tentang penghasilan, biaya laba rugi yang diperoleh
perusahaan selama periode waktu (jangka waktu)
tertentu. Laporan Aliran Kas menyajikan informasi
aliran kas masuk atau keluar pada suatu periode yang
merupakan hasil dari kegiatan pokok perusahaan,
yaitu operasi, investasi dan pendanaan. Kegiatan ope-
rasi meliputi transaksi yang melibatkan produksi, pen-
jualan, penerimaan barang dan jasa. Kegiatan inves-
tasi meliputi pembelian atau penjualan investasi
bangunan, pabrik dan peralatan. Aktivitas pendanaan
meliputi transaksi untuk memperoleh dana dari obligasi,
emisi saham dan pelunasan hutang
Model Pengukuran Kinerja Berbasis Laporan
Keuangan Perusahaan
Kinerja sebuah perusahaan lebih banyak diukur
berdasarkan rasio-rasio keuangan selama satu periode
tertentu. Pengukuran berdasarkan rasio keuangan ini
sangatlah bergantung pada metode atau perlakuan
akuntansi yang digunakan dalam menyusun laporan
keuangan perusahaan. Sehingga sering kali kinerja
perusahaan terlihat baik dan meningkat, yang mana
sebenarnya kinerja tersebut tidak mengalami pening-
katan dan bahkan menurun.
Untuk mengukur kinerja keuangan dengan meng-
gunakan rasio keuangan, dapat digunakan beberapa
rasio keuangan. Dimana setiap rasio keuangan memi-
liki tujuan, kegunaan, dan arti tertentu. Kemudian
setiap hasil dari rasio yang diukur diinterpretasikan
sehingga menjadi berarti bagi pengambilan keputusan.
Menurut (J. Fred Weston dalam Kasmir, 2008),
bentuk rasio-rasio keuangan sebagai berikut:
Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio) merupakan
rasio yang menggambarkan kemampuan perusa-
haan dalam memenuhi kewajiban (utang) jangka
pendeknya. Jenis-jenis rasio likuiditas yang dapat
digunakan perusahaan untuk mengukur kinerja-
nya yaitu rasio lancar (current ratio), rasio cepat
623 TERAKREDITASI SK DIRJEN DIKTI NO. 66b/DIKTI/KEP/2011 ISSN: 1693-5241
Model Pengukuran Kinerja pada Perusahaan Jasa Konstruksi di Kota Banjarmasin
(Quick Ratio) Rasio Kas (Cash Ratio) Rasio
Perputaran Kas (Cash Turn Over) Inventory
To Net Working Capital.
Rasio Solvabilitas (Leverage Ratio) merupakan
rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh
mana aktiva perusahaan dibiayai dengan utang.
Jenis-Jenis Rasio solvabilitas terdiri dari Debt to
Asset Ratio (Debt Ratio), Debt to Equity Ra-
tio (DER), Long Term Debt to Equity Ratio,
Times Interest Earned, Fixed Charge Cover-
age
Rasio Aktivitas (Activity Ratio)
merupakan rasio yang digunakan untuk mengu-
kur efektivitas perusahaan dalam menggunakan
aktiva yang dimilikinya. Jenis-Jenis Rasio Akti-
vitas terdiri dari Perputaran Piutang (Receivable
TurnOver) Perputaran Sediaan (Inventory Turn
Over), Perputaran Modal Kerja (Working Capi-
tal Turn Over), Perputaran Aktiva Tetap ( Fixed
Assets Turn Over), Perputaran Total Aktiva (To-
tal Assets Turn Over)
Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio) meru-
pakan rasio untuk menilai kemampuan perusa-
haan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga
memberikan ukuran tingkat efektvitas manaje-
men suatu perusahaan. Jenis-Jenis Rasio Profita-
bilitas terdiri dari Profit Margin,Return On
Invesment (ROI), Return On Equity (ROE),
Earning Per share of Common Stock (Laba
Per Lembar saham), Perputaran Aktiva Tetap
(Fixed Assets Turn Over), Perputaran Total
Aktiva (Total Assets Turn Over)
Hasil pengukuran kinerja diperoleh dari perban-
dingan antara rasio keuangan sebuah perusahaan
dengan standar rata-rata industri perusahaan sejenis.
Sebagai contoh rasio profitabilitas sebuah perusahaan
dikatakan berkinerja baik apabila memenuhi standar
rata-rata industri atau nilainya berada di atas standar
rata-rata industri dan sebaliknya.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah kuali-
tatif dan data yang diperoleh kemudian dianalisis
dengan analisis deskriptif yaitu analisis dengan menda-
sarkan pada data primer dan sekunder, kemudian dari
pembahasan diambil kesimpulan dan rekomendasi.
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
perusahaan jasa konstruksi di Kota Banjarmasin,
dengan tehnik penarikan porpusive sampling dengan
kriteria sampel yaitu perusahaan sebagai anggota
induk organisasi perusahaan jasa konstruksi di Kota
Banjarmasin, menyatakan kesediaan sebagai obyek
penelitian dan menyediakan data yang diperlukan
untuk proses penelitian. Berdasarkan kriteria sampel
yang ditetapkan maka yang menjadi obyek dalam
penelitian ini adalah perusahaan jasa konstruksi yang
tergabung dalam induk organisasi Gabungan Kontrak-
tor Indonesia (GAKINDO) dan Gabungan Perusa-
haan Konstruksi Nasional Indonesia (GAPEKSINDO)
Cabang Propinsi Kalimantan Selatan dengan perincian
10 buah perusahaan jasa konstruksi kualifikasi usaha
skala menengah dan 70 buah perusahaan jasa kons-
truksi kualifikasi usaha skala kecil.
Prosedur Pengumpulan Data
Dalam upaya mendapatkan hasil penelitian yang
diharapkan, maka peneliti menggunakan strategi
pengumpulan data dilakukan secara bertahap, mulai
dari survey sampai dengan wawancara orang per-
orangan secara intensif dan terfokus. Proses pengum-
pulan data meliputi pengumpulan data secara primer
dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil
wawancara di lapangan yang dilakukan dengan direk-
tur atau manager dan karyawan yang berkompeten.
Selain itu wawancara juga dilakukan dengan ketua
maupun pengurus induk organisasi perusahaan jasa
konstruksi. Sedangkan data sekunder diperoleh Lem-
baga Pengembangan Jasa Konstruksi Daerah Pro-
pinsi Kalsel, Laporan Keuangan Perusahaan Jasa
Konstruksi dan literatur-literatur yang berhubungan
dengan penelitian ini.
Data yang akan dikumpukan dalam penelitian ini
menggunakan tehnik dokumentasi, observasi, wawan-
cara dan Focus Group Discussion (FGD).
Metode Analisis Data
Analisis Data dilakukan dengan deskriptif analitis,
yaitu menggambarkan bagaimana penilaian kinerja
yang telah dilaksanakan oleh perusahaan jasa kons-
truksi. Luaran dari hasil penelitian ini adalah dirumus-
kannya sebuah model yang menggambarkan elemen -
Rusmanto, Ida Mentayani
Nama Orang JURNAL APLIKASI MANAJEMEN | VOLUME 10 | NOMOR 3 | SEPTEMBER 2012 624
elemen yang merupakan indikator penilaian kinerja
perusahaan jasa konstruksi di Kota Banjarmasin
HASIL PENELITIAN
Model Pengukuran Kinerja Perusahaan Jasa
Konstruksi Di Kota Banjarmasin
Tujuan dari laporan keuangan adalah menyedia-
kan informasi tentang posisi keuangan, kinerja, serta
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang
bermanfaat bagi sejumlah pemakai dalam pengam-
bilan keputusan ekonomi.
Model pengukuran kinerja perusahaan jasa
konstruksi digambarkan dengan indikator jenis laporan
keuangan yang digunakan sebagai dasar pengukuran
kinerja, rasio-rasio keuangan untuk menilai kondisi dan
kinerja perusahaan, dimensi dari rasio-rasio keuangan
dan kriteria pengukuran kinerja perusahaan jasa
konstruksi serta pihak-pihak pengguna laporan
keuangan.
Jenis laporan keuangan yang digunakan sebagai
sumber informasi pengukuran kinerja.
Laporan keuangan umumnya dibuat beberapa je-
nis tergantung dari maksud dan tujuan perusa-
haan. Masing-masing laporan keuangan memiliki
arti sendiri dalam melihat kondisi keuangan peru-
sahaan baik secara bagian maupun keseluruhan.
Penyusunan laporan keuangan terkadang dise-
suaikan juga kondisi perubahan kebutuhan peru-
sahaan. Artinya jika tidak ada perubahan dalam
laporan tersebut, tidak perlu dibuat sebagai con-
toh laporan perubahan ekuitas atau laporan catat-
an atas laporan keuangan.
Laporan keuangan yang digunakan oleh perusa-
haan jasa konstruski di kota Banjarmasin, terdiri
dari (a) Neraca adalah salah satu jenis laporan
keuangan yang memberikan informasi dan
menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada
tanggal tertentu. Arti dari posisi keuangan adalah
posisi dan jumlah jenis aktiva (harta ) dan pasiva
(kewajiban dan ekuitas). (b) Laporan laba rugi
menunjukkan kondisi usaha dalam suatu periode
tertentu. Artinya laporan laba rugi harus dibuat
dalam siklus operasi atau periode tertentu guna
mengetahui jumlah perolehan pendapatan dan
biaya yang telah dikeluarkan sehingga dapat
diketahui apakah perusahaan dalam keadaan laba
atau rugi. (c).Laporan perubahan ekuitas atau
modal juga merupakan laporan keuangan yang
menggambarkan jumlah modal yang dimiliki peru-
sahaan pada saat ini, perubahan modal dan
sebab-sebab berubahnya modal. (4). Laporan
arus kas menunjukkan arus kas masuk dan kas
keluar di perusahaan. Arus kas masuk berupa
pendapatan atau pinjaman dari pihak lain, sedang-
kan arus keluar merupakan biaya-biaya yang
telah dikeluarkan perusahaan.
Salah satu kegunaan dari laporan keuangan ada-
lah untuk menyediakan informasi kinerja perusa-
haan jasa konstruksi terutama profitabilitas yang
diperlukan untuk menilai perubahan potensial
sumberdaya ekonomi yang mungkin dikendalikan.
Informasi tersebut menyangkut posisi keuangan
perusahaan, informasi kinerja, dan perubahan
posisi keuangan perusahaan kepada pihak-pihak
yang berkepentingan sebagai pertimbangan da-
lam pengambilan keputusan.
Analisis keuangan sangat tergantung pada infor-
masi yang diberikan oleh laporan keuangan peru-
sahaan. Laporan keuangan perusahaan merupa-
kan salah satu sumber informasi yang penting
disamping informasi lain seperti informasi indus-
tri, kondisi perekonomian, pangsa pasar perusa-
haan, kualitas manajemen dan lainnya.
Rasio-rasio keuangan untuk mengukur kondisi
keuangan dan kinerja perusahaan.
Dengan melakukan observasi pada perusahaan
jasa konstruksi yang menjadi obyek penelitian
diketahui bahwa alat analisis untuk menilai kondisi
keuangan dan kinerja pada perusahaan terdiri dari
rasio-rasio keuangan. Adapun rasio-rasio ke-
uangan yang dipergunakan terdiri dari:
- Rasio likuiditas adalah rasio yang berguna
untuk mengukur kemampuan perusahaan
untuk melunasi hutang perusahaan dalam
jangka pendek
- Rasio solvabilitas adalah rasio yang berguna
untuk mengukur kemampuan perusahaan
untuk melunasi hutang perusahaan dalam
jangka panjang
- Rasio profitabilitas adalah rasio yang ber-
guna untuk mengukur kemampuan perusa-
haan untuk memperoleh laba/keuntungan.
625 TERAKREDITASI SK DIRJEN DIKTI NO. 66b/DIKTI/KEP/2011 ISSN: 1693-5241
Model Pengukuran Kinerja pada Perusahaan Jasa Konstruksi di Kota Banjarmasin
- Rasio Aktivitas menunjukkan kemampuan
serta efisiensi perusahaan dalam meman-
faatkan aktiva yang dimilikinya atau perpu-
taran (turnover) dari aktiva-aktiva.
Indikator rasio-rasio keuangan untuk mengukur
kondisi keuangan dan kinerja perusahaan.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara
kepada pihak yang berkompeten pada perusahaan
jasa konstruksi diketahui bahwa indikator-indikator
rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur
kondisi keuangan dan kinerja perusahaan adalah
Rasio Likuiditas terdiri dari:
- Current Ratio (CR) yaitu perbandingan
antara aktiva lancar dan hutang lancar
- Quick Ratio (QR) yaitu perbandingan anta-
ra aktiva lancar dikurangi persediaan dengan
utang Lancar
Rasio Solvabilitas terdiri dari:
- Debt Ratio (DR) yaitu perbandingan antara
total hutang dengan total asset
- Debt to Equity Ratio (DER) yaitu perban-
dingan antara jumlah hutang lancar dan
hutang jangka panjang terhadap modal
sendiri
Rasio Profitabilitas
- Profit Margin (PM) yaitu perbandingan an-
tara penjualan bersih dikurangi harga pokok
penjualan dengan total penjualan.
- Return on Asset (ROA) yaitu perbandingan
antara laba setelah pajak dengan
jumlah aktiva.
- Return on Equity (ROE) yaitu perbanding-
an antara laba setelah pajak terhadap modal
sendiri.
Rasio Aktivitas terdiri dari:
- Total Asset Turnover (TAT) yaitu perban-
dingan antara penjualan bersih dengan jum-
lah aktiva
- Working Capital Turnover (WCT) yaitu
perbandingan antara penjualan bersih terha-
dap modal kerja.
Kriteria Pengukuran Kinerja Keuangan
Perusahaan
Pengukuran kinerja merupakan hal penting dalam
proses evaluasi dan pengendalian. Pengukuran- peng-
ukuran yang digunakan untuk menilai kinerja
tergantung pada bagaimana suatu organisasi akan
dinilai dan bagaimana sasaran akan dicapai. Sasaran
yang ditetapkan pada manajemen strategis dengan
memperhatikan profitabilitas, pangsa pasar, biaya dan
mutu harus betul-betul digunakan untuk mengukur
kinerja perusahaan.
Dalam upaya untuk mengetahui kinerja perusa-
haan jasa konstruksi maka perlu ditetapkan kriteria
atau standar tertentu sehingga dapat dinyatakan
bahwa kinerja perusahaan tersebut baik atau buruk.
Adapun kriteria dari pengukuran kinerja perusa-
haan jasa konstruksi di Kota Banjarmasin sebagai
berikut:
Kinerja keuangan perusahaan dengan indikator
likuiditas dinyatakan dengan kriteria berkinerja
BAIK bila rasio likuiditas

dari standar rata -


rata industri
Kinerja keuangan perusahaan dengan indikator
solvabilitas dinyatakan dengan kriteria berkinerja
BAIK bila rasio solvabilitas

dari standar rata-


rata industri.
Kinerja keuangan perusahaan dengan indikator
profitabilitas dinyatakan dengan kriteria berki-
nerja BAIK bila rasio profitabilitas

dari standar
rata-rata industri.
Kinerja keuangan perusahaan dengan indikator
aktivitas dinyatakan dengan kriteria berkinerja
BAIK bila rasio aktivitas

dari standar rata-


rata industri
Pihak Pengguna Laporan Keuangan
Adapun pihak pengguna laporan keuangan dari
perusahaan jasa konstruksi adalah:
Pemilik perusahaan memerlukan laporan ke-
uangan untuk menilai kinerja manajer dalam me-
mimpin perusahaannya.
Manajer, bagi manajer laporan keuangan meru-
pakan alat pertanggungjawaban kepada pemilik
perusahaan atas kepercayaan yang diberikan
kepadanya.
Kreditur, baginya laporan keuangan diperlukan
untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
membayar hutang, beban bunga, juga untuk
mengetahui apakah kredit yang akan diberikan
itu cukup mendapat jaminan dari perusahaan
tersebut.
Rusmanto, Ida Mentayani
Nama Orang JURNAL APLIKASI MANAJEMEN | VOLUME 10 | NOMOR 3 | SEPTEMBER 2012 626
Pihak Pemberi Kerja, berkepentingan terhadap
laporan keuangan suatu perusahaan sebagai pe-
nentuan apakah perusahaan mampu menyelesai-
kan proyek yang dipercayakan kepadanya.
Pemerintah, berkepentingan terhadap laporan
keuangan suatu perusahaan untuk menentukan
besarnya pajak yang harus ditanggung perusa-
haan tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian pada perusahaan
jasa konstruksi di Kota Banjarmasin dengan berlan-
daskan pada teori yang relevan, maka model pengu-
kuran kinerja yang dihasilan sebagaimana terlihat pada
gambar 1.
PEMBAHASAN
Kelemahan Model Pengukuran Kinerja Berba-
sis Laporan Keuangan
Sistem pengukuran kinerja berbasis laporan
keuangan atau berbasis finansial disebut sistem peni-
laian kinerja konvensional atau tradisional. Seperti
diketahui, laporan keuangan yang sampai saat ini
digunakan oleh perusahaan seperti neraca, laporan
laba rugi, aliran kas dan sebagainya diciptakan pada
tahun 1800 an, dimana sistem pengelolaan usaha
masih sangat tradisional dan perkembangan tehnologi
belum sepesat saat ini.
Gambar 1. Model Pengukuran Kinerja Perusahaan Jasa Konstruksi Di Kota Banjarmasin




















JENIS LAPORAN
KEUANGAN

NERACA

LAPORAN LABA RUGI


LAPORAN
PERUBAHAN EKUITAS


LAPORAN ARUS KAS
RASIO RASIO
KEUANGAN

RASIO LIKUIDITAS

RASIO
SOLVABILITAS

RASIO
PROFITABILITAS


RASIO AKTIVITAS

HASIL PENGUKURAN
KINERJA KEUANGAN
Kinerja BAIK
Rasio Likuiditas = Standar Industri

Kinerja BAIK
Rasio Solvabilitas = Standar Industri

Kinerja BAIK
Rasio Profitabilitas = standar Industri


Kinerja BAIK
Rasio Akt ivitas = standar Industri

PERUSAHAAN JASA
KONSTRUKSI
DI KOTA
BANJARMASIN
PIHAK PENGGUNA
LAPORAN KEUANGAN
PEMILIK PERUSAHAAN
MANAJER
KREDITUR
PIHAK PEMBERI KERJA
PEMERINTAH
627 TERAKREDITASI SK DIRJEN DIKTI NO. 66b/DIKTI/KEP/2011 ISSN: 1693-5241
Model Pengukuran Kinerja pada Perusahaan Jasa Konstruksi di Kota Banjarmasin
Dalam penelitiannya Skinner ( 1992, dalam
Wibisono D,2005 ) menyimpulkan:
Manajemen konvensional melalui pende-
katan yang sepotong-sepotong, eksploitasi
kinerja jangka pendek, usaha optimasi pada
hampir setiap dimensi dengan fokus utama pada
pengurangan ongkos dan peningkatan produk-
tivitas tidak lagi memadai. Kebutuhan perusa-
haan untuk mengembangkan strategi manufaktur
yang konsisten dengan keseluruhan starategi
bisnis adalah mutlak.
Dari kesimpulan tersebut, tampak jelas bahwa
era penggunaan laporan keuangan untuk menganalisis
kinerja perusahaan tidak lagi mencukupi. Penelitian-
penelitian mengenai kelemahan sistem penilaian kiner-
ja finansial telah marak dilakukan. Tema utamanya
adalah ketidakmampuan penilaian yang didasarkan
atas sistem akuntansi tersebut dalam menampung
kebutuhan sistem operasi perusahaan saat ini. Keter-
batasan atau kelemahan sistem penilaian finansial/
laporan keuangan ini dengan sangat baik oleh Kaplan,
1983 dan Cooper dkk, 1992 ( dalam Wibisono D, 2005)
yang meliputi
Kurang relevan
Sistem penilaian kinerja konvensional dianggap
kurang relevan jika variabel ukuran kinerja kon-
vensional yang didasarkan atas sistem akuntansi
tersebut diberlakukan untuk seluruh level, mulai
dari level korporasi, level unit bisnis, level mana-
jemen operasi dan level operasional. Kekurang-
relevanan tersebut terutama muncul jika pengu-
kuran finansial pada dua level terbawah.
Sistem ukurannya cenderung melaporkan kinerja
masa lalu.
Laporan-laporan finansial yang diberikan perusa-
haan merupakan laporan periode waktu yang
sudah lewat, karena laporan keuangan tersebut
merupakan laporan kinerja keuangan satu tahun
yang lalu, umpan balik yang didapatkan seringkali
terlalu jauh ke belakang, sehingga pihak manaje-
men tidak lagi dapat mengambil langkah emerjen-
si.
Berorientasi Jangka Pendek
Orientasi pada keuntungan finansial jangka pen-
dek dipandang sudah tidak lagi menjadi fokus uta-
ma bagi perusahaan-perusahaan tingkat dunia.
Fokus perusahaan beralih menjadi tumbuh, ber-
kembang dan lestari. Oleh karena itu fokus pada
pengurangan biaya tidak lagi menjadi populer.
Biaya dipandang sebagai konsekuensi logis dari
kualitas, fleksibilitas dan pengiriman yang andal.
Jadi ketiga variabel tersebut kompetitif dibanding-
kan perusahaan lain, dengan sendirinya biaya
jangka panjang akan menurun. Namun ketiga
variabel tersebut yaitu kualitas, fleksibilitas dan
pengiriman tidak dapat diakomodasi dalam lapor-
an keuangan.
Kurang fleksibel
Pengukuran kinerja konvensional dirancang ber-
dasarkan variabel-variabel pengukuran yang su-
dah standar dan tetap ( fixed). Hal ini tidak sesuai
lagi dengan lingkungan persaingan yang dinamis.
Sulit bagi perusahaan untuk dapat bersaing pada
semua aspek atau variabel kompetisi dan dalam
keseluruhan dimensi kompetensi. Oleh karena
itu, perusahaan harus memiliki aspek atau varia-
bel yang akan dipilih sebagai prioritas keunggulan
perusahaan dibandingkan dengan perusahaan
lainnya.
Tidak memacu proses perbaikan
Karena tidak adanya kaji banding (bench-
marking) baik pada proses perbaikan internal
maupun dengan pihak kompetitor, sistem pengu-
kuran kinerja konvensional tidak dapat menjadi
kompas bagi proses perbaikan yang diinginkan
pihak manajemen. Raasio-rasio yang ada hanya
merupakan angka-angka mati, tidak menurun ke
arah proses perbaikan yang harus dilakukan dan
tidak menyatakan program-pprogram seperti apa
yang dapat meningkatkan kinerja masa lalu tersebut.
Sering rancu pada aspek biaya.
Sistem pengukuran kinerja konvensional cende-
rung mengukur segala aspek berdasarkan perhi-
tungan biaya semata, sehingga sering tidak aku-
rat dalam proses pemanfaatan hasill pengukuran,
analisis, dan tindakan ikutannya (cost distor-
tion). Hal ini sering kali menimbulkan distorsi,
karena nilai uang bersifat relatif bagi setiap orang.
Kerugian sebesar Rp. 1 juta dapat berarti keru-
gian besar, kecil atau tidak berarti apa-apa, ter-
gantung dari jenis usaha, lingkungan persaingan,
pelaku bisnis dan berbagai hal yang bersifat
sangat relatif. Konversi biaya bermakna pada
level tertentu namun tidak harus dilakukan pada
semua level dan variabel.
Rusmanto, Ida Mentayani
Nama Orang JURNAL APLIKASI MANAJEMEN | VOLUME 10 | NOMOR 3 | SEPTEMBER 2012 628
Keterbatasan rasio-rasio keuangan untuk me-
ngukur kondisi keuangan dan kinerja perusahaan
Dalam praktiknya, walaupun rasio keuangan
yang diguanakan memiliki fungsi dan kegunaan yang
cukup banyak bagi perusahaan dalam mengambil
keputusan, bukan berarti rasio keuangan yang dibuat
sudah menjamin penuh kondisi dan posisi keuangan
yang sesungguhnya. Artinya kondisi sesungguhnya
belum tentu terjadi seperti hasil perhitungan yang
dibuat. Walaupun demikian, berdasarkan hasil rasio
yang diperoleh gambaran yang sesungguhnya terjadi.
Adapun keterbatasan atau kelemahan rasio-
rasio keuangan untuk mengukur kondisi keuangan dan
kinerja perusahaan menurut J Fred Weston dalam
Kasmir (2009), sebagai berikut:
Data keuangan disusun dari data akuntansi, ke-
mudian data tersebut ditafsirkan dari berbagai
macam cara, misalnya masing-masing perusaha-
an menggunakan:
- metode penyusutan yang berbeda untuk me-
nentukan nilai penyusutan terhadap aktiva-
nya sehingga menghasilkan nilai penyusutan
setiap periode yang berbeda.
- penilaian sediaan yang berbeda.
Prosedur pelaporan yang berbeda, mengakibat-
kan laba yang dilaporkan berbeda pula, tergantung
prosedur pelaporan keuangan tersebut.
Adanya manipulasi data, artinya dalam menyu-
sun data, pihak penyusun tidak jujur dalam mema-
sukkan angka-angka dalam laporan keuangan
yang mereka buat. Akhirnya hasil perhitungan
rasio keuangan tidak menunjukkan hasil yang
sesungguhnya
Perlakuan pengeluaran untuk biaya-biaya antara
satu perusahaan dengan perusahaan lainnya ber-
beda. Misalnya biaya riset dan pengembangan,
biaya perencanaan pensiun, merger, jaminan
kualitas barang jadi dan cadangan kredit macet.
Penggunaan tahun fiskal yang berbeda, juga
dapat menghasilkan perbedaan.
Pengaruh musiman mengakibatkan rasio kom-
paratif akan ikut berpengaruh.
Kelemahan kriteria pengukuran kinerja
keuangan perusahaan
Dalam upaya mengukur kinerja keuangan peru-
sahaan dengan pernyataan bahwa kinerja keuangan
suatu perusahaan dalam kategori baik atau buruk,
maka nilai dari rasio-rasio keuangan seperti rasio
likuiditas, solvabilitas, profitabilitas maupun aktivitas
harus diperbandingkan dengan standar rata-rata indus-
tri dari perusahaan sejenis. Sebagai contoh untuk me-
nyatakan bahwa rasio likuiditas perusahaan jasa kons-
truksi berkinerja baik maka nilainya harus memenuhi
standar rata-rata indutri atau berada di atas nilai terse-
but dan sebaliknya dinyatakan likuitasnya buruk bila
nilainya berada di bawah standar rata-rata industri.
Standar rata-rata industri diperoleh dari nilai rasio-
rasio keuangan dari beberapa perusahaan jasa kons-
truksi, kemudian dicari nilai rata-ratanya.
Sebagaimana diketahui, untuk menilai standar
rata-rata industri diperoleh dari nilai rata-rata rasio
keuangan dari beberapa perusahaan sejenis, sehingga
untuk mendapatkan nilai tersebut perlu dilakukan pe-
nelitian kepada sebagian besar perusahaan yang seje-
nis. Dengan perkataan lain data untuk menentukan
nilai rata-rata standar industri tidak tersedia dengan
lengkap pada saat diperlukan. Oleh karena itu pem-
berian kriteria kinerja baik atau buruk tidak dapat
dideskripsikan bila pembandingnya yaitu standar rata-
rata industri tidak menyediakan data yang memadai.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian kemudian dianalisis
dengan landasan teori yang relevan sebagaimana yang
dipaparkan sebelumnya, maka ditarik kesimpulan
mengenai model pengukuran kinerja perusahaan jasa
konstruksi di kota Banjarmasin sebagai berikut:
Model pengukuran kinerja pada perusahaan jasa
konstruksi di Kota Banjarmasin dengan kualifikasi
menengah dan kecil berbasis pada laporan
keuangan. Model pengukuran ini dideskripsikan
dengan indikator jenis laporan keuangan yang
digunakan sebagai dasar penilaian kinerja, rasio-
rasio keuangan untuk menilai kondisi dan kinerja
keuangan dan kriteria penilaian kinerja keuangan
sertapihak pengguna laporan keuangannya.
Jenis laporan keuangan yang menjadi sumber
pengukuran kinerja adalah neraca untuk meng-
gambarkan harta dan sumber harta yang dimiliki
perusahaan, laporan laba rugi untuk menilai ke-
mampuan perusahaan dalam memperoleh laba
629 TERAKREDITASI SK DIRJEN DIKTI NO. 66b/DIKTI/KEP/2011 ISSN: 1693-5241
Model Pengukuran Kinerja pada Perusahaan Jasa Konstruksi di Kota Banjarmasin
atau menderita kerugian, dan laporan perubahan
ekuitas menggambarkan perubahan ekuitas yang
dimiliki perusahaan dan laporan arus kas yang
menggambarkan sumber dan penggunaan kas.
Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur
kondisi keuangan dan kinerja perusahaan terdiri
dari
- Rasio likuiditas adalah rasio yang berguna
untuk mengukur kemampuan perusahaan
untuk melunasi hutang perusahaan dalam
jangka pendek, dengan variabel rasio Cur-
rent ratio dan Working Capital to Total
Asset.
- Rasio solvabilitas adalah rasio yang berguna
untuk mengukur kemampuan perusahaan
untuk melunasi hutang perusahaan dalam
jangka panjang, dengan variabel rasio Debt
Ratio dan Debt to Equity Ratio
- Rasio profitabilitas adalah rasio yang ber-
guna untuk mengukur kemampuan perusa-
haan untuk memperoleh laba/keuntungan,
dengan variabel Net Profit Margin, Return
On Asset dan Return On Invesment.
- Rasio Aktivitas menunjukkan kemampuan
serta efisiensi perusahaan dalam meman-
faatkan aktiva yang dimilikinya atau perpu-
taran (turnover) dari aktiva-aktiva, dengan
variabel rasio Total Asset Turnover dan
Working Capital Turnover (WCT).
Kriteria pengukuran kinerja keuangan perusa-
haan dengan pernyataan bahwa kinerja keuangan
perusahaan jasa konstruksi dalam kategori baik
atau buruk, maka nilai dari rasio-rasio keuangan
seperti rasio likuiditas, solvabilitas, profitabilitas
maupun aktivitas harus diperbandingkan dengan
standar rata-rata industri dari perusahaan sejenis.
Pihak pengguna laporan keuangan perusahaan
jasa konstruksi terdiri dari pemilik perusahaan,
manajer, kreditur, pihak pemberi kerja dan peme-
rintah.
Model penilaian kinerja berbasis laporan keuang-
an mempunyai kelemahan yang meliputi aspek-
aspek yaitu kurang relevan, berorientasi pada
kinerja masa lalu, berorientasi jangka pendek,
kurang fleksibel, tidak memacu perbaikan dan
rancu pada aspek biaya.
Saran
Berpijak dari kelemahan dan keterbatasan dari
penilaian kinerja berbasis laporan keuangan,
maka sebaiknya perusahaan jasa konstruksi lebih
memperluas lagi aspek pengukuran kinerjanya
dengan model pengukuran yang lebih komprehen-
sif. Dengan demikian pengukuran kinerja dilaku-
kan secara optimal, sehingga diketahui aspek-
aspek yang dapat meningkatkan kinerja dan
akhirnya perusahaan mempunyai keunggulan ber-
saing. Selain itu penilaian kinerja yang kompre-
hensif menghasilkan informasi yang berkualitas
sehingga dapat dijadikan sebagai dasar yang
berkualitas pula untuk pengambilan keputusan.
Perlunya penelitian lebih lanjut mengenai pe-
ngembangan model pengukuran kinerja pada
perusahaan jasa konstruksi di Kota Banjarmasin
yang berlandaskan pengukuran kinerja secara
komprehensif yang meliputi indikator Profitabil-
ity, Growth, Sustanaibility dan Competitive-
ness. Selain itu, penetapan standar kinerja rata-
rata industri untuk perusahaan jasa konstruksi di
Kota Banjarmasin, merupakan variabel yang
direkomendasikan untuk penelitian selanjutnya.
Obyek penelitian diperluas pada semua skala
perusahaan, yang meliputi kualifikasi usaha skala
besar, menengah dan kecil.
DAFTAR RUJUKAN
Hanafi, M.M., dan Abdul, H. 2000. Analisis Laporan
Keuangan. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Handawati, U. 2004, Analisis Beberapa Faktor yang Mem-
pengaruhi Kinerja Industri Jasa Konstruksi (Studi
Empiris Pada Perusahaan Kontraktor Kecil Dan Mene-
ngah Di Kota Semarang, Tesis, UNDIP, Semarang.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Standar Akuntansi
Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
Kasmir, 2009, Analisis Laporan Keuangan, Jakarta, Rajawali
Pres.
Kartikahadi, H., dkk. 2012. Akuntansi Keuangan
Berdasarkan SAK Berbasis IFRS. Jakarta: Salemba
Empat.
Sudarto. 2007. Identifikasi Permasalahan Pada Faktor In-
ternal Yang Mempengaruhi Kinerja Perusahaan Jasa
Konstruksi Di Indonesia. Jurnal Teknologi, Edisi
No.2, Tahun XX1. Juni 2007.
Sudarto. 2008. Kinerja Perusahaan Jasa Konstruksi di
Indonesia. Makalah.
Rusmanto, Ida Mentayani
Nama Orang JURNAL APLIKASI MANAJEMEN | VOLUME 10 | NOMOR 3 | SEPTEMBER 2012 630
Wibisono, D. 2006. Manajemen Kinerja, Konsep, Desain
dan Tehnik Meningkatkan Daya Saing Perusahaan.
Jakarta: Erlangga.
http://id.scribd.com.doc/78725587/Peraturan Jasa
Konstruski di Indonesia 2012, 15 Sept 2012.