Anda di halaman 1dari 3

Nama : Sazali

Nim :
Tukang Pedang

Khabab bin Arti hamba sahaya milik perempuan Qurais, namanya Ummu Anmar.
Khabab bekerja di padai besi sebagai pembuat pedang dan menjualnya untuk penduduk mekah
dan menyerahkan hasil jualannya kepada Umma Anmar. Khabab tidak pernah terlambat atau
tidak datang ke tempat kerjanya. Namun pada suatu hari datang orang-orang untuk mengambil
pedang mereka dan tidak menemukan Khabab di tempat kerjanya.
Mereka menunggu lama di tempat kerja Khabab. Ketika Khabab datang, mereka
menanyakan kepadanya pedang mereka. Namun Khabab tidak menjawab. Di matanya terlihat
kegembiraan yang aneh. Seakan-akan ia berbisik pada dirinya sendiri dan berkata:
Sesungguhnya ini perkara yang menakjubkan. Mereka heran tentang jawaban Khabab dan
mengulang lagi pertanyaannya: Mana pedang kami wahai Khabab. Apakah kamu sudah selesai
membuatnya. Tapi Khabab tidak mendengar dan tidak menjawab pertanyaan mereka. Dia
berkata; apakah kalian melihatnya, apakah kalian mendengar perkataannya. Sesungguhnya ini
perkara yang menakjubkan. Salah satu dari mereka (para pembeli) menjadi antusias dan
merasakan ada sesuatu. Maka ia bertanya Apakah kamu melihatnya wahai Khabab. Khabab
mengangkat kedua tangannya ke langit dan menjawab dengan suara yang rendah, namun
meyakinkan benar saya melihatnya dan mendengarnya. Saya melihat kebenaran terpancar dari
sekelilingnya dan cahaya berkilau dari sekitarnya.
Belum selesai Khabab menjawab, lelaki itu sudah memahami maksudnya. Maka dia
menantang wajah Khabab sambil berteriak Apakah yang kamu maksud Muhammad. Dengan
tenang Khabab menjawab Benar. Dialah Rasul Allah yang diutus kepada kita untuk
mengeluarkan kita dari kegelapan menuju yang penuh cahaya. Belum juga Khabab
menyempurnakan perkataannya, dan dia tidak tahu apa yang terjadi padanya dan apa yang
dikatakan untuknya. Mereka menyerang Khabab dan memukulinya dengan tangan dan kaki. Dan
mereka berkata hanya kamu wahai budak yang hina yang percaya terhadap agama
Muhammad. Khabab hilang kesadaran dan mereka meninggalkannya tergelatak di tanah.
Mereka pun kembali ke Ummu Anmar yang merupakan perempuan Qurais yang berpengaruh.
Dia memperlakukan budaknya, yaitu Khabab dengan buruk, tidak mengasihinya siang dan
malam. Mereka mendatangi Ummu Anmar mengadu kepadanya perihal budak yang berani
terhadap agama leluhurnya dan berhala-berhala mereka. Maka Ummu Anmar menganianyanya.
Ummu Anmar memanaskan besi ditempatnya dan menggosokannya di tubuh dan kepala Khabab.
Setiap besi dijadikan belenggu dan rantai dan dipanaskan, kemudian dikalungkan di
badannya, memanggang kepalan dan ubun-ubunya. Dia (Ummu Anmar) terus menggosoknya
dengan besi yang membara pagi dan petang. Tetapi Khabab tetap sabar, tidak terlihat darinya
rasa sakit atau teriakan kesakitan. Khabab pun menjadi bungkuk karena siksaan, dagingnya
berjatuhan., Tetapi ia masih tetap sabar, sambil berharap balasan kebaikan dari Allah. Suatu hari,
Rasulullah melewatinya, sedang besi panas di atas kepalanya, hati Rasulullah pun berdetak
karena iba. Tetapi Rasul tidak dapat berbuat apa-apa untuk melindungi Khabab serta orang-orang
yang tertindas dari kalangan muslimin, kecualai dengan doa. Rasul pun berdoa: Ya Allah
tolaonglah Khabab, ya Allah tolonglah Khabab. Hari-hari berlalu, sampai suatu hari Ummu
Anmar mengalami sakit yang aneh, yang membuatnya berteriak dan meringis karena rasa sakit di
kepalanya. Suaranya berubah seperti raungan anjing. Dokter datang dengan rasa takut dan
mengatakan bahwa yang demikian adalah penyakit anjing gila (rabies), yang membuatnya
meraung seperti anjing. Tidak ada obat untuk menyembuhkannya kecuali dengan menggosok
dengan api. Orang-orang sekitarnya menjadi penasaran apakah sakit demikian sebagai karma
untuk Ummu Anmar? Apakah sebagai balas dendam untuk Khabab? Apakah sebagai peringatan
untuk mereka yang suka menyiksa orang-orang lemah dan miskin dari kalangan muslimin?
Dokter pun mulai memanaskan besi dan menggosokkannya di kepala Ummu Anmar setiap pagi
dan sore.
Hari-hari berlalu, Khabab pun menghafal Al-Quran dengan baik dan bemar. Ia pergi ke
rumah-rumah orang muslimin untuk mengajarkan mereka Al-Quran. Rasul memintanya untuk
mendatangi rumah Said bin Zaid, suamai dari Fathimah binti Khaththab untuk mengajarkannya
Al-quran. Sampai suatu ketika Khabab memulai membaca awal surah Thaha, mereka yang hadir
mendengar ketukan pintu yang keras. Tatkala Fathimah melihat, ternyata saudaranya Umar telah
menghunuskan pedang dengan penuh rasa marah. Fathimah meminta Khabab untuk
bersembunyi, sambil berkata: sesungguhnya saudaraku Umar, datang dengan menghunuskan
pedangnya hendak membunuh kita semua. Tetapi Khabab dengan penuh ketenangan berkata:
Semoga Allah memberinya petunjuk, aku mendengar Rasulullah bersabda: Ya Allah kuatkan
Islam dengan dua orang yang paling Engkau cintai; Abu al-Hakim bin Hisyam dan Umar bin
Khaththab. Umar pun masuk ke rumah dan memukul Fathimah di mukanya. Seketika itu ia
(Umar) mendapatkan lembaran al-Quran dan dibacanya: Thaahaa, Kami tidak menurunkan Al
Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut
(kepada Allah), Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang Tinggi.
(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arsy: Umar pun berteriak:
tunjukkan Muhammad kepadaku. Allah telah menerangi hati Umar dan membebaskannya dari
kegelapan menuju cahaya, maka ia pun menanyakan kepada Khabab: dimana saya bisa
menemukan Rasul wahai Khabab?. Khabab menjawab: di Shafa di rumah Arqam bin Abi
Arqam.
Hari-hari berlalu, sementara Khabab masih tetap pada keislamannya, ibadahnya, dan
puasanya. Ia ikut berhijrah ke Madinah bersama Muhajirin lainnya, dan ikut di semua perang
bersama Rasul. Ikut menyebarkan Islam dan mengajarkan al-Quran serta membuat pedang
sampai Rasulullah meninggal. Pada mulanya Khabab merupakan seorang yang fakir. Ketika
Islam sudah kuat dan kerajaannya sudah tersebar di Timur, Barat, Utara, dan Selatan dan
terbentuknya Baitul Mal pada masa Umar dan Utsman, Umar memberinya upah bulanan yang
besar karena ia termasuk orang yang mula-mula masuk Islam dan banyak berkorban di jalan
Islam. Ia pun membangun sebuah rumah di Kufah dan meletakkan hartanya di tempat yang
mudah dilihat (di rumahnya), sambil berkata kepada kerabatnya: di tempat ini saya meletakkan
harta saya. Demi Allah, saya tidak mengikatnya dengan benang, dan tidak menghalanginya bagi
yang meminta. Maka bagi siapa yang mau mengambilnya silahkan mengambil apa yang
diinginkan. Air mata terurai dari Khabab karena teringat dengan orang-orang Islam yang telah
gugur, namun belum merasakan sedikitpun kemakmuran dunia. Sambil menangis ia berkata:
lihatlah kain kafanku ini, telah aku siapkan untuk kematianku. Sedangkan Hamzah paman Rasul
tidak memiliki kain kafan pada hari gugurnya kecuali sehelai kain surban yang pendek. Kalau
dititupi kepalanya, maka kakinya akan terlihat. Dan apabila ditutupi kakinya, maka kepalanya
akan terlihat. Khabab meninggal pada tahun 37 H, dengan demikian telah meninggal guru
pembuat pedang dan guru yang mengajarkan pengorbanan.***