Anda di halaman 1dari 26

BAB II

PEMBAHASAN


A. Antibiotik
Antibiotic adalah zat yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan
(bakteriostatik) dan atau membunuh bakteri (bakterisid). Efek ini terkait
dengantoksisitas spesifik dari antibiotic terhadap sel bakteri, akan tetapi aman
untukselmanusia. Mekanisme kerja utama antibiotic adalah:
1) Penghambatan sintesis dinding sel
2) Perubahan permeabilitas membrane dan transport aktif membranesel
3) Penghambatan sintesis protein
4) Penghambatan sintesis asam nukleat

1. Penicillin
Penisilin merupakan asam organik, terdiri dari satu inti siklik dengan satu rantai
samping. Inti siklik terdiri dari cincin tiazolidin dancincin betalaktam. Penisilin
menghambat pembentukan mukopeptida yangdiperlukan untuk sintesis dinding
sel mikroba.Penisilin akan menghasilkanefek bakterisid pada mikroba yang aktif
membelah,untuk mikroba yangtidak aktif membelah,penisilin hanya memiliki
pengaruh bakteriostatik.
a. Spektrum Antimikroba Penisilin
G efektif terutama terhadap mikroba gram-positif danspirochaeta,selain itu
beberapa mikroba gram-negatif juga sangat sensitif terhadap penisilin G
misalnya gonokokus yang tidak menghasilkanpenisilinase. Penisilin V
memiliki spektrum antimikroba yang sama denganpenisilin G.



4

Kelompok ampisilin,walaupun spectrum antimikrobanyalebar,aktivitasnya
terhadap mikroba gram positif tidak sekuat penisilinG,tetapi efektif terhadap
beberapa mikroba gram-negatif dan tahanasam,sehingga dapat diberikan per
oral.


b. Klasifikasi dan Sediaan
Klasifikasi Penisilin adalah sebagai berikut:


Penisilin tersedia dalam sediaan sebagai berikut:
1) Penisilin V tersedia sebagai garam kalium dalam bentuk tablet250
mg dan 625 mg dan sirup 125 mg/5 ml.
5

2) Penisilin G biasanya digunakan secara parenteral.Sediaanterdapat
dalam bentuk penisilin G larut air dan repository untuk suntikan
IM.
3) Ampisilin trihidrat dosis dewasa 250 4x/hari aau 500 mg2x/hari.
Anak 5-10 tahun 125-250 mg, 2-5 tahun 125 mg, <2tahun 62,5 mg.
Dosis ini diberikan 4 x/hari.
4) Amoksisilin tersedia sebagai kapsul atau tablet
berukuran125,250,dan 500 mg dan sirup 125 mg/5 ml.Dosis sehari
dapatdiberikan lebih kecil daripada ampisilin karena
absorpsinyalebih baik daripada ampislilin yaitu 3 kali 250-500 mg
sehari

c. Penggunaan pada bidang THT
1) Penisilin GMerupakan antibiotic terpilih untuk infeksi
pneumokokus,streptokokus, stafilokokus, gonokokus, treponema
pallidum,bacillus antracis, lysteria, dan bacterioides.
2) Penisilin V per oralBiasanya diberikan bersama dengan aminoglikosida
untuk infeksi saluran napas atau struktur yang berhubungan,
terutamapada anak-anak (faringitis, otitis, sinusitis)
3) Benzatine Penisilin GSuntikan IM benzatine penisilin terutama berguna
untuk faringitis streptokokus beta hemolitikus.
4). Ampisilin dan amoksisilinUmumnya digunakan pada infeksi sekunder
saluran napas(otitis, sinusitis, dan bronchitis).

d. Efek samping
1) Alergi
2) Toksisitas pada SSP


2. Sefalosporin
Sefalosporin memiliki cara kerja yang analog dengan penisilindengan terikat
pada PBPs, yaitu: menghambat pembentukan dinding selbakteri dengan inhibisi
6

transpeptidasi peptidoglikan, dan aktivasi enzimautolitik dalam dinding sel
bakteri.
a. Penggunaan pada bidang THT
1) Cefadroxil dan CefalexinObat golongan Cefalosporin ini yang digunakan
untuk mengobatiinfeksi tertentu yang disebabkan oleh bakteri pada kulit,
tenggorokan,dan infeksi kandung kemih. Antibiotik ini tidak efektif
untuk pilek, fluatau infeksi lain yang disebabkan virus.
2) CephalotinObat golongan Sefalosporin ini yang digunakan untuk
mengobatiinfeksi bakteri dan penyakit pada infeksi kulit dan jaringan
lunak,saluran nafas, genito-urinaria, pasca operasi, otitis media
danseptikemia.
3) Cefaclor
Cefaclor digunakan untuk pengobatan sinusitis dan otitis mediayang
alergi atau tidak mempunyai respo terhadap ampisilin danamoksisilin.
4). Cefprozil
Obat Sefalosporin ini mengobati infeksi seperti Otitis Media,infeksi
jaringan lunak dan saluran nafas.
5) Cefuroxim
Cefuroxim digunakan untuk mengobati infeksi tertentu yangdisebabkan
oleh bakteri seperti; bronkitis, gonore, penyakit limfa, daninfeksi pada
organ telinga, tenggorokan, sinus, saluran kemih, dankulit.
6) Cefotaxim
Cefotaxime digunakan untuk mengobati Gonore, infeksi padaginjal
( pyelonephritis), organ pernafasan, saluran kemih,
meningitis,pencegahan infeksi pada proses operasi dan infeksi kulit dan
jaringan lunak.
7) Cefpodoxim
Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkanberbagai
macam infeksi seperti Pneumonia, Bronkitis, Gonore daninfeksi pada
telinga, kulit, tenggorokan dan saluran kemih.


7

3. Ofloxacin
Ofloxacin merupakan suatu antibakteri sintetik derivat asampiridon
karboksilat. Ofloxacin menunjukkan efek yang sempurna terhadapinfeksi-
infeksi saluran napas, saluran kemih, saluran bilier, saluran cernadan
bermacam infeksi dermatologik, oftalmologik, otorhinologik
danginekologik.Ofloxacin mempunyai spektrum antibakteri yang luas
terhadap bermacam bakteri gram positif dan gram negatif, terutama terhadap
bakter Staphylococcus spp., Streptococci hemolitic, Enterococci, E. coli, K.
pneumoniae, Serratia spp.,Proteus spp., H. Influenza dan N. Gonorrhae.

Ofloxacin efektif terhadap Enterobacteriacea yang resisten terhadap asam
nalidiksat, N.gonorrhae yang resisten terhadap gentamisin. Ofloxacin juga
efektif terhadap beberapa bakteri anaerob. Ofloxacin bekerja secara spesifik
dengan menghambat sintesis DNAmikroorganisme.

a. Penggunaan pada bidang THT
1) Pneumonia, bronkitis kronik, panbronkiolitis difus, bronkiektasisdengan
infeksi, infeksi sekunder pada penyakit pernapasan kronik.
2) Faringitis, laringitis, bronkitis akut, tonsilitis.
3) Folikulitis, furuncle, furunkulosis carbuncle erysipelas, flegmon,
limfangitis, limfaderitis, felon, abses subkutan, spiradenitis,
aknekonglobata, infeksi atheroma, abses perianal.
4) Otitis media, sinusitis.

4. Erytromisin
Eritromisin dihasilkan oleh suatu strain Streptomyces erytreus Str.pyogenes,
Str.pneumoniae, dan Str.viridans mempunyai kepekaan yangbervariasi
terhadap eritromisin.S aureus hanya sebagian yang peka terhadapobat
ini.Strain S.aureus yang resisten eritromisin sering dijumpai di rumahsakit.
Batang gram positif yang peka terhadap eritromisin ialah Cl. Perfringens,
C.diphtheriae dan L. Monocytogenes .Eritromisin tidak aktif terhadap
kebanyakan kuman gram negative,namun ada beberapa spesies yangsangat
8

peka terhadap eritromisin yaitu N.gonorrhoeae, Campylobacter jejuni, M.
pneumoniae, Legionella pneumophilia, dan C. trachomatis. H. influenzae
mempunyai kepekaan yang bervariasi terhadapobat ini. Eritromisin bekerja
dengan cara berikatan dengan ribosom 50S bakteridan menghalangi
translokasi molekul peptidil-tRNA dari akseptor ke pihak donor, bersamaan
dengan pembentukan rantai polipepetida dan menghambatsintesis protein.

a. Penggunaan pada bidang THT
Erytromisin terutama menjadi antibiotic pilihan pada infeksi difteri
danpertusis. Selain itu juga berguna untuk faringitis streptokokal yang
resistenterhadap penisilin.

b. Efek Samping
1) Gangguan epigastrik
2) Ikterus kolestatik
3) Ototoksisitas
4) Alergi

B. Antihistamin
a. Penggolongan Antihistamin
Antihistamin kemudian lebih dikenal dengan penggolongan baruatas
dasar efek sedatif yang ditimbulkan, yakni generasi pertama,
kedua,dan ketiga.Generasi pertama dan kedua berbeda dalam dua hal
yangsignifikan. Generasi pertama lebih menyebabkan sedasi dan
menimbulkanefek antikolinergik yang lebih nyata. Hal ini dikarenakan
generasi pertamakurang selektif dan mampu berpenetrasi pada sistem
saraf pusat (SSP)lebih besar dibanding generasi kedua. Sementara itu,
generasi kedua lebihbanyak dan lebih kuat terikat dengan protein
plasma, sehingga mengurangikemampuannya melintasi
otak.Sedangkan generasi ketiga merupakan derivat dari generasi
kedua,berupa metabolit (desloratadine dan fexofenadine) dan
enansiomer(levocetirizine). Pencarian generasi ketiga ini dimaksudkan
9

untuk memperoleh profil antihistamin yang lebih baik dengan efikasi
tinggi sertaefek samping lebih minimal.

b. Mekanisme Kerja
Sebagai inverse agonist , antihistamin H1 beraksi dengan
bergabungbersama dan menstabilkan reseptor H1 yang belum aktif,
sehingga berada pada status yang tidak aktif. Penghambatan reseptor
histamine H 1 ini bisa mengurangi permiabilitas vaskular,
pengurangan pruritus, dan relaksasi otot polos saluran cerna serta
napas. Antihistamin H1 generasi ke tiga memiliki kelebihan dari
generasipertama dan kedua yaitu adanya efek anti inflamasi di
samping efek antihistaminnya.

c. Farmakokinetik
Pemberian antihistamin H1 secara oral bisa diabsorpsi dengan baik dan
mencapai konsentrasi puncak plasma rata-rata dalam 2 jam.
Ikatandengan protein plasma berkisar antara 78-99%. Sebagian
besarantihistamin H1 dimetabolisme melalui hepatic microsomal
mixed- function oxygenase system .Waktu paruh antihistamin H1
sangat bervariasi. Klorfeniraminmemiliki waktu paruh cukup panjang
sekitar 24 jam, sedang akrivastinhanya 2 jam. Waktu paruh metabolit
aktif juga sangat berbeda jauh denganobat induknya, seperti astemizole
1,1 hari sementara metabolit aktifnya, N-desmethylastemizole,
memiliki waktu paruh 9,5 hari. Hal inilah yangmungkin menjelaskan
kenapa efek antihistamin H1 rata-rata masih eksismeski kadarnya
dalam darah sudah tidak terdeteksi lagi. Waktu paruhbeberapa
antihistamin H1 menjadi lebih pendek pada anak dan jadi lebih
panjang pada orang tua, pasien disfungsi hati, danm pasien
yangmenerima ketokonazol, eritromisin, atau penghambat
microsomaloxygenase lainnya (Katzung, 1998).

d. Penggunaan di bidang THT
10

Penyakit alergi. AH1 berguna untuk mengobati alergi tipeeksudatif
akut,efeknya bersifat paliatif,membatasi dan menghambat efek
histamine yang dilepaskan sewaktu reaksi antigen-antibodi
terjadi.AH1tidak berpengaruh terhadap intensitas reaksi antigen-
antibodi yangmerupakan penyebab berbagai gangguan
alergik.Keadaan ini dapat diatasihanya dengan menghindari
allergen,desensitisasi atau menekan reaksitersebut dengan
kortikosteroid.AH1 dapat menghilangkan bersin,rinore,gatal pada
mata,hidungdan tenggorokan pada pasien seasonal hay fever.AH1
efektif terhadapalergi yang disebabkan debu,tetapi kurang efektif bila
jumlah debu banyak dan kontaknya lama.Kongesti hidung kronik lebih
refrakter terhadapAH1.AH1 tidak efektif pada rhinitis vasomotor .

e. Efek SampingAntihistamin generasi pertama umumnya memiliki efek
sampingSSP berupa sedasi, vertigo, tinnitus, lelah, penglihatan kabur,
diplopia,euphoria, gelisah, insomnia dan tremor. Efek samping yang
termasuk sering juga ditemukan ialah nafsu makan berkurang, mual,
muntah,keluhan pada epigastrium, serta konstipasi atau diare.

f. Kontraindikasi dan Interaksi Obat (Putra, 2008)

1) Dermatitis kontak alergi dapat terjadi pada pemakaian
antihistaminH1 secara topikal golongan ethylen diamine pada
penderita yangtelah mendapat obat lain yang mempunyai stuktue
yang mirip(aminophyline).
2) Efek sedasi akan meningkat bila antihistamin H1 diberikanbersama
obat antidepresan atau allkohol.
3) Golongan phenotiazine dapat menghambat efek vasopressor
dariephinefrin.
4) Efek antikolinergik dari antihistamin akan menjadi lebih berat
danlebih lama diberikan bersama obat inhibitor
monoamine(procarbazine, furazolidone, isocarboxazid).

11

C. Dekongestan Nasal

a. Mekanisme Kerja
agonis banyak digunakan sebagai dekongestan nasal pada
penderitarhinitis alergika atau rhinitis vasomotor dan pada penderita
infeksi salurannapas atas dengan rhinitis akut.Obat-obat ini
menyebabkan venokontriksi dalam mukosa hidung melalui reseptor 1
sehingga mengurangi volume mukosa dan dengan demikian
mengurangi penyumbatan hidung. Reseptor 2 terdapat pada arteriol
yang membawa suplai makanan bagi mukosa hidung.Vasokontriksi
arteriol ini oleh 2 agonis dapat menyebabkan kerusakan struktural
pada mukosa tersebut. pengobatan dengan dekongestan nasal sering kali
menimbulkan hilangnya efektivitas pada pemberian kronik, serta
rebound hyperemia dan memburuknya gejala bila obat dihentikan.
Mekanismenya belum jelas,tetapi mungkin melibatkan desensitisasi
reseptor dan kerusakan mukosa. 1 agonis yang selektif lebih kecil
kemungkinannya untuk menimbulkan kerusakan mukosa.
b. Penggolongan dan Penggunaan Dekongestan
1) Macam-macam dekongestan:
Dekongestan Sistemik, seperti pseudoefedrin, efedrin,
danfenilpropanolamin. Dekongestan sistemik diberikan secara oral
(melaluimulut). Meskipun efeknya tidak secepat topikal tapi
kelebihannya tidak mengiritasi hidung. Dekongestan sistemik
harus digunakan secara hati-hatipada penderita hipertensi, pria
dengan hipertrofi prostat dan lanjut usia. Hal inidisebabkan
dekongestan memiliki efek samping sentral sehinggamenimbulkan
efek samping takikardia (frekuesi denyut jantungberlebihan),
aritmia (penyimpangan irama jantung), peningkatan tekanandarah
atau stimulasi susunan saraf pusat.

Efedrin
12

Efedrin adalah alkaloid yang dikenal sebagai obat simpatomimetik
aktif pertama secara oral. Efedrin sebagai obat adrenergik dapat
bekerja gandadengan cara melepaskan simpanan norepinefrin dari
ujung saraf dan mampu bekerja memacu secara langsung di
reseptor dan . Pada sistem kardiovaskuler, efedrin meninggikan
tekanan darah baik sistolik maupun diastolik melalui
vasokonstriksi dan terpacunya jantung. Efedrin berefek
bronkodilatasi tetapi lebih lemah dan lebih lambatdibandingkan
epinefrin atau isoproteronol. Efedrin memacu ringan SSPsehingga
menjadi sigap, mengurangi kelelahan, tidak memberi efek tidur
dandapat digunakan sebagai midriatik.Efedrin digunakan sebagai
dekongestan hidung, bekerja sebagaivasokonstriktor lokal bila
diberikan secara topikal pada permukaan mukosahidung, karena itu
bermanfaat dalam pengobatan kongesti hidung pada Hay fever,
rinitis alergi, influenza dan kelainan saluran napas atas lainnya

Dosis : pada asma, oral 34 dd 25-50 mg (HCl), anak-anak 2-3
mg/kgsehari dalam 4-6 dosis. Nama Paten : Asmasolon.

Pseudoefedrin
Isomer dekstro dari efedrin dengan mekanisme kerja yang
sama,namun daya bronkodilatasinya lebih lemah, tetapi efek
sampingnya terhadapSSP dan jantung lebih ringan. Obat ini, jika
masuk ke dalam sistem saraf pusat, dapat menyebabkan
kecemasan, peka rangsangan, dan gelisah. Efek samping lainnya
berupa denyut jantung lebih cepat, insomnia, efek alergi padakulit,
kulit kering, retensi urin, anoreksia, halusinasi, sakit kepala, mual,
dansakit perut. Pseudoefredin juga dikaitkan dengan peningkatan
risiko stroke.Obat ini banyak digunakan dalam sediaan kombinasi
untuk flu.Dosis : oral 3-4 dd 60 mg (HCl, sulfat)Nama Paten :
Sinutab, Sudafed, Polaramin

13

Fenilpropanolamin
Derivat tanpa gugus C-H pada atom N dengan khasiat
yangmenyerupai efedrin. Kerjanya lebih panjang, efek sentral dan
efek jantungnyalabih ringan. Namun, berdasarkan Food and Drug
Administration Amerika (FDA) menganjurkan untuk tidak
menggunakan tiap produk yangmengandung fenilpropanolamin.
Dosis : oral 3-4 dd 15-25 mg.Nama Paten : Triaminic, Sinutab,
Rhinotusal Dekongestan Topikal, digunakan untuk rinitis akut
yang merupakanradang selaput lendir hidung. Bentuk sediaan
dekongestan topikal berupabalsam, inhaler, tetes hidung atau
semprot hidung. Dekongestan topikal(semprot hidung) yang biasa
digunakan yaitu oxymetazolin, xylometazolin,tetrahydrozolin,
nafazolin yang merupakan derivat imidazolin.
Penggunaandekongestan topikal dilakukan pada pagi dan
menjelang tidur malam, dantidak boleh lebih dari 2 kali dalam 24
jam.Dekongestan topikal terutama berguna untuk rhinitis akut
karenatempat kerjanya yang lebih selektif,tetapi obat-obat ini
cenderung untuk digunakan secara berlebihan oleh
penderita,sehingga menimbulkanpenyumbatan yang
berlebihan.Dekongestan oral jauh lebih kecilkemungkinannya
untuk menimbulkan rebound congestion,
tetapi lebih besarrisikonya untuk menimbulkan efek samping
sistemik.

Derivat Imidazolin
Senyawa ini memiliki efek alfa adrenergik langsung
denganvasokonstriksi tanpa stimulasi SSP. Khususnya digunakan
sebagaidekongestan pada selaput lendir yang bengkak di hidung
dan mata, pilek,selesma (rhinitis, coryza), hay fever, sinusitis,
dsb.Bayi dan anak kecil sebaiknya jangan diberikan dalam jangka
waktulama untuk obat ini karena dapat diabsorbsi dari mukosa
dengan menimbulkandepresi SSP. Gejalanya berupa rasa kantuk,
14

pening, hipotermi, bradikardi,bahkan juga koma pada kasus
overdosis. Sifat ini bertentangan dengankebanyakan adrenergik
yang justru menstimulasi SSP.Yang paling banyak digunakan
adalah :
Naphazolin
Xylometazolin
Oksimetazolin
Tetrahidrozolin

Oxymetazolin
Derivate imidazolin ini bekerja langsung terhadap reseptor alfa
tanpaefek reseptor beta. Setelah diteteskan di hidung, dalam waktu
5-10 menitterjadi vasokonstriksi mukosa yang bengkak dan
kemampatan hilang. Efeknyabertahan hingga 5 jam.Efek
sampingnya dapat berupa rasa terbakar dan teriritasi pada
selaputlender hidung dengan menimbulkan bersin.Dosis : anak-
anak di atas 12 tahun dan dewasa 1-3 dd 2-3 tetes larutan0,05%
(HCl) di setiap lubang hidung; anak-anak 2-10 tahun larutan
0,025%(HCl)

Nama Paten : Afrin, Iliadin, Nasivin

Xylometazolin
Adalah derivate dengan daya kerja dan penggunaan yang sama.
Dosis : nasal 1-3 dd 2-3 tetes larutan 0,1% (HCl), maksimum 6
kalisehari. Anak-anak 2-6 tahun larutan 0,05%.Nama Paten :
Otrivin

Nafazolin
Adalah derivate yang paling tua dengan sifat yang sama, tetapi
kerjanyalebih singkat rata-rata 3 jam. Naphazolin adalah senyawa
simpatomimetik yangditandai dengan aktivitas alfa adrenergiknya.
15

Naphazoline adalahvasokontriktor dengan kerja cepat dalam
mengurangi pembengkakan padapemakaian membran mukosa.
Naphazoline bekerja pada reseptor di arterikonjungtiva yang
menjadi konstriksi sehingga menghasilkan
penurunanpenyumbatan/kongesti.Dosis : okuler 1-4 dd 1-2 tetes
larutan 0,05-0,1% (HCl).Nama Paten : Albalon, Privin, Vasacon

Tetrahidrozolin
Merupakan derivate dari imidazolin yang bekerja dengan
caramenyebabkan vasokonstriksi pada saluran darah di mata.Efek
samping : menyebabkan kemerahan persisten dengan
penggunaanberlebih, merusak pembuluh darah dalam mata akibat
penggunaan berlebih,dapat terjadi glaucoma secara tiba-tiba
(namun, jarang terjadi ).
Nama Paten : Visine, Murine Plus


D. Obat Tetes Telinga
1. Pelunak serumen
Serumen (kotoran telinga) adalah campuran sekresi kelenjar keringatdan
kelenjar sebasea dari saluran telinga bagian luar. Tumpukan kotorantelinga
yang berlebihan dalam telinga dapat menimbulkan gatal, rasa
sakit,gangguan pendengaran dan merupakan penghalang bagi pemeriksaan
secaraotologik. Baru-baru ini, larutan surfaktan sintetik dikembangkan
untuk aktivitas cerumenolitik dalam melepaskan lilin telinga. Salah satu
bahan ini, kondensat dari trietanolamin polipeptida oleat, dalam
perdagangandiformulasikan dalam propilen glikol, yang digunakan
sebagai pengemulsikotoran telinga sehingga membantu pengeluarannya.
2. Antiinfeksi, Antiradang, dan Analgetik
Obat-obat yang digunakan pada permukaan bagian luar telinga untuk
melawan infeksi adalah zat zat seperti kloramfenikol, kolistin
sulfat,neomisin, polimiksin B sulfat dan nistatin. Pada umumnya zat
16

zat inidiformulasikan ke dalam bentuk tetes telinga (larutan atau
suspensi) dalamgliserin anhidrida atau propilen glikol. Pembawa yang
kental inimemungkinkan kontak antara obat dengan jaringan telinga
yang lebih lama.Selain itu karena sifat higroskopisnya, memungkinkan
menarik kelembaban dari jaringan telinga sehingga mengurangi
peradangan danmembuang lembab yang tersedia untuk proses
kehidupan mikroorganismeyang ada. Untuk membantu mengurangi rasa
sakit yang sering menyertaiinfeksi telinga, beberapa preparat otik
antiinfeksi juga mengandung bahananalgetika dan anestetika lokal
seperti lidokain dan benzokain. pH optimumuntuk larutan berair yang
digunakan pada telinga utamanya adalah dalam pHasam. Fabricant dan
Perlstein menemukan range pH antara 5 7,8. keefektifanobat telinga
sering bergantung pada pH-nya.Penggunaan Klinik Obat tetes telinga
yang diberikan pada kasus OMSK yang mengandungantibiotik
diberikan selama 7-10 hari. Apabila cairan di telinganya sangatbanyak
maka berikan lebih dahulu H2O2 3% tetes telinga selama 3-5 hariuntuk
mengeringkan cairan sehingga obat dapat masuk dengan baik ke
dalamtelinga. Apabila disertai dengan infeksi pada hidung atau
tenggorakan makadapat disertai pula dengan pemberian antibiotik
minum seperti Amoksisilinatau Amoksisilin + Asam Klavulanat selama
5-10 hari

Obat tetes telinga yang dapat diberikan adalah yang
mengandungantibiotik seperti yang mengandung kloramfenikol,
neomicin-polimixcinhidrokortison, gentamisin atau yang mengandung
ofloxacin.

Erlamycetin
Tetes telinga Erlamycetin mengandung 1% Chloramphenicol base
didalam larutan tetes telinga.

17

Indikasi: Infeksi superfisial pada telinga luar oleh kuman gram positif
atau gramnegatif yang peka terhadap Chloramphenicol.Kontra
Indikasi:- Bagi penderita yang sensitif terhadap Chloramphinicol.-
Perforasi membran timpani.Cara Pemakaian:Teteskan ke dalam lubang
telinga 2 - 3 tetes, 3 kali sehari. Hindarkan penggunaan jangka lama
karena dapat merangsang hipersensitivitas dan superinfeksi oleh kuman
yang resistan . Obat tetes inihanya bermanfaat untuk infeksi yang
sangat superfisial, infeksi yang dalammemerlukan terapi sistemik.Efek
samping:Iritasi lokal, seperti gatal, rasa panas, dermatitis vesikuler dan
mukolopapular.Kemasan:Botol @ 10 ml.

Garamycin
Komposisi: Gentamicin sulfateIndikasi: Terapi topikal untuk otitis
eksternaDosis: 3-4 tetes 2-4 x/hariEfek toksisitas terhadap nervus
kranial VII perlu dipertimbangkan (Djuanda,dkk., 2009)

Tarivid Otic
Komposisi: OfloxacinIndikasi: Terapi topikal untuk otitis eksterna,
otitis media supuratif kronik, danotitis media akutDosis: dewasa 6-10
tetes 2x/hari. Anak 3-5 tetes 2x/hari.Kontraindikasi:
hipersensitivitasEfek samping: jarang terjadi berupa nyeri telinga dan
superinfeksi (Djuanda,dkk., 2009).

Penggunaan Steroid pada Penyakit THT
Kortikosteroid adalah hormon yang dihasilkan oleh korteks
adrenal.Hormon ini penting untuk fungsi fisiologik dan metabolik
dalam tubuh.Hormon ini dapat mempengaruhi volume dan tekanan
darah, kadar gula darah,otot dan resistensi tubuh. Kortikosteroid banyak
digunakan dalam pengobatanradang dan penyakit imunologik. Efek
antiinflamasi dan imunosupresifnyasukar dipisahkan secara tegas oleh
karena respon inflamasi merupakan bagiandari respon imun. Efek
18

imunosupresif kortikosteroid yaitu menekan responimun humoral juga
menekan respon imun seluler.Fungsi dan peran glukokortikoid:
1. Efek terhadap Metabolisme Karbohidrat
Meningkatkan glukoneogenesis
Mengurangi penggunaan glukosa di jaringan perifer dengan
caramenghambat uptake dan penggunaan glukosa oleh jaringan
mungkin melaluihambatan transporter glukosa.Lemak
Meningkatkan lipolisis dijaringan lemak
Pada penggunaan khronis dapat terjadi redistribusi sentral lemak
didaerahdorsocervical,bagian belakang leher ( Buffalo hum
),muka ( moon face )supraclavicular,mediastinum anterior dan
mesenterium.Mekanisme terjadinya redistribusi ini tidak jelas

Protein
Meningkatkan pemecahan protein menjadi asam amino di jaringan
perifer yangkemudian digunakan untuk glukoneogenesis.

2. Efek terhadap proses peradangan dan fungsi immunologis
Produksi normal dari glukokortikoid endogen tidak akan
berpengaruhs ecara bermakna terhadap proses peradangan dan
penyembuhan. Kelebihanglukokortikoid endogen dapat menekan
fungsi immunologis dan dapatmengaktivasi infeksi latent. Efek
immunosupressi ini digunakan dalampengobatan penyakit-penyakit
autoimmune, proses inflammasi dantransplantasi organ.Peran
glukokortikoid dalam proses immunologis dan inflammasi adalah:

Merangsang pembentukan protein yang menghambat
phospholipase A2sehingga mencegah aktivasi kaskade asam
arakhidonat dan pengeluaranprostaglandin. Menurunkan
jumlah limfosit dan monosit diperifer dalam 4 jam,hal ini
terjadi karena terjadi redistribusi temporer limfosit dari
19

intravaskularkedalam limpa,kelenjar limfe,ductus thoracicus
dan sumsum tulang
Meningkatkan pengeluaran granulosit dari sumsum tulang
kesirkulasi,tapimenghambat akumulasi netrofil pada daerah
peradangan.
Meningkatkan proses apoptosis
Menghambat sintesis cytokine
Menghambat nitric oxyda synthetase
Menghambat respon proliferatif monosit terhadap Colony
StimulatingFactor dan differensiasinya menjadi makrofag
Menghambat fungsi fagositik dan sitotoksik makrofag
Menghambat pengeluaran sel-sel radang dan cairan ketempat
keradangan
Menghambat plasminogen activators yang merubah
plasminogenmenjadi plasmin yang berperan dalam
pemecahan kininogen menjadi kininyang berfungsi sebagai
vasodilator dan meningkatkan permeabilitas pembuluhdarah.

3. Efek glukokortikoid terhadap muskuloskeletal dan jaringan ikat
Tulang:

Pada pemakaian yang lama dapat menghambat fungsi osteoblast
danmengurangi pembentukan tulang baru menyebabkan terjadinya
osteopenia.
Meningkatkan jumlah osteoclast.
Secara tidak langsung mengurangi absorbsi calcium di saluran
cerna.
Efek sekunder glukokortikoid juga meningkatkan Parathyroid
hormondalam serum.
Meningkatkan ekskresi calcium di ginjal.


20

Otot : Glukokortikoid meningkatkan pemecahan asam amino dari
otot untuk digunakan dalam glukoneogenesis,sehingga dalam
pemakaian lama dapatmenyebabkan kelainan otot ( myopathy)
yang berat.

Jaringan Ikat :
Glukokortikoid menyebabkan supressi fibroblas DNA dan
RNA,sertasintesis Protein.
Juga menyebabkan supresi sintesis matriks intraselular (kolagen
&hyalurodinat) Pemakaian lama dapat menyebabkan gangguan
prosespenyembuhan luka,apalagi gerakan makrofag kedaerah
keradangan jugamenurun pada pemberian steroid yang lama
sehingga akan mempersulitpenyembuhan luka.

4. Efek neuropsikiatri
Glukokortikoid mempunyai pengaruh terhadap tingkah lakuseperti
pola tidur, kognitif dan penerimaan input sensoris.Pada penelitian-
penelitian yang dilakukan pada penderita yang mendapatkan
steroid exogensering menunjukkan euphoria,mania bahkan
psikosis.Penderita denganinsuffisiensi adrenal juga dapat
menunjukkan gejala-gejala psikiatristerutama depresi, apati dan
letargi


5 . Efek terhadap Saluran Gastrointestinal
Glukokortikoid mempunyai efek langsung terhadap transport ion
natriumdi colon melalui reseptor glukokortikoid.
Pemakaian yang lama meningkatkan terjadinya resiko ulkus
peptikumdisaluran cerna bagian atas.Mekanisme terjadinya belum
diketahui,mungkinmelalui hambatan penyembuhan luka yang
disebabkan factor-faktor lain.
21

Penggunaan dalam waktu singkat tidak akan menyebabkan
terjadinyaulkus peptikum.
6. Efek terhadap pertumbuhan
Pada anak dapat menyebabkan hambatan
pertumbuhanlinier,penyebabnya belum diketahui secara pasti,
diduga melalui hambatanhormon pertumbuhan.
7. Efek pada paru
Dapat merangsang pembentukan surfakan oleh sel pneumatosit II.

Toksisitas Glukokortikoid
1. Akibat yang bisa terjadi pada penghentian terapi steroid adalah:
Kambuhnya kembali penyakit yang kita obati
Insufusiensi adrenal

2. Akibat terapi steroid dosis suprafisiologis
Penekanan kerja korteks adrenal

Efek Samping
1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit : edema,
hipokalemia, alkalosis, hipertensi, hiperglikemia.
2. InfeksiBisa mengaktifasi infeksi laten.Pada penderita-penderita
dengan infeksipemberian glukokortikoid hanya diberikan bila
sangat dibutuhkan dan harusdengan perlindungan pemberian
antibiotika yang cukup.
3. Ulkus Peptikum
Hubungan antara glukokortikoid dan terjadinya ulkus pepticum ini
masihbelum diketahui. Mungkin melalui efek glukokortikoid yang
menurunkanperlindungan oleh selaput lendir lambung (mucous
barrier),mengganggu prosespenyembuhan jaringan dan
meningkatkan produksi asam lambung danpepsinogen dan
mungkin oleh karena hambatan penyembuhan luka-luka olehsebab-
sebab lain
22

4. MyopatiTerjadi
karena pemecahan protein otot-otot rangka yang dipakai
sebagaisubstrat pembentukan glukosa. Miopati ini ditandai dengan
kelemahan otot-otot bagian proksimal tangan dan kaki. Pada
penderita asma bronchiale denganpemakaian khronis
glukokortikoid dapat keadaan ini dapat memperburuk keadaan bila
kelemahan terjadi pada otot pernafasan.
5. Perubahan tingkah laku
Gejala yang bisa timbul bervariasi : nervous, insomnia, euphoria,
psychosis.
6. Pada mata
Efek glukokortikoid terhadap terjadinya katarak paralel dengan
dosis dan lamapemberian dan proses dapat terus berlangsung
meskipun dosis sudah dikurangiatau dihentikan. Glukokortikoid
juga dapat menginduksi terjadinya glaukoma.
7. Osteoporosis
Osteoporosis dan fraktura kompressif sering terjadi pada penderita-
penderitayang mendapat terapi glukokortikoid dalam jangka lama,
terutama terjadi padatulang dengan struktur trabeculae yang luas
seperti tulang iga dan vertebra.
8. Osteonekrosis
Terjadi nekrosis aseptic tulang sesudah pemakaian glukokortikoid
yang lamameskipun osteonekrosis juga dilaporkan terjadi pada
pemberian jangkapendek dengan dosis besar. Osteonekrosis sering
terjadi pada caput femoris .
9. Gangguan pertumbuhan
Gangguan pertumbuhan pada anak bisa terjadi dengan dosis yang
relatif kecil.Mekanisme yang pasti dari gangguan pertumbuhan ini
belumdiketahui. Pemberian glukokortikoid antenatal pada binatang
percobaan menyebabkan terjadinya cleft palate dan gangguan
tingkah laku yang kompleks. Glukokortikoid jenis yang fluorinated
(dexamethasone, betamethasone, beclomethasone, triamcinolone)
23

dapat menembus barier placenta, oleh karena itu walaupun
pemberian glukokortikoid antenatal dapat membantu pematangan
paru dan mencegah RDS namun kita tetap harus waspada terhadap
kemungkinan terjadinya gangguan pertumbuhan/ perkembangan
janin.

Penggunaan Klinik di bidang THT
Polip nasi
Untuk polip stadium 1 dan 2, sebaiknya diberikan
kortikosteroidintranasal selama 4-6 minggu. Bila reaksinya baik,
pengobatan ini diteruskansampai polip atau gejalanya hilang. Bila
reaksinya terbatas atau tidak adaperbaikan maka diberikan juga
kortikosteroid sistemik.Dosis kortikosteroid saat ini belum ada ketentuan
yang baku,pemberian masih secara empirik misalnya diberikan Prednison
30 mg per hariselama seminggu dilanjutkan dengan 15 mg per hari
selama seminggu.

Rhinitis Alergi
Pada umumnya diberikan steroid topical dalam bentuk nasal spray
.Contoh-contoh dari steroid-steroid hidung termasuk:
beclomethasone (Beconase),
flunisolide (Nasarel),
budesonide (Rhinocort),
fluticasone propionate (Flonase),
mometasone furoate (Nasonex), dan
luticasone furoate (Veramyst).

Obat steroid oral [prednisone, methylprednisolone (Medrol),
hydrocortisone (Hydrocortone, Cortef)] sangat efektif pada pasien-
pasienalergi. Ini dicadangkan hanya untuk kasus-kasus yang sangat parah
yang tidak merespon pada perawatan yang biasa dengan steroid-steroid
hidung dan antihistamin
24



Sinusitis atau Rhinosinusitis
Biasanya diterapi dengan steroid topical (nasal spray) dan steroidsistemik.

OMSK (Otitis Media Supuratif Kronik)
Biasanya diberikan dalam bentuk obat tetes telinga. Dan diberikanbersama
dengan antiinfeksi.

Otitis Eksterna
Infeksi telinga luar dapat diobati dengan kortikosteroid (suspensi
ataularutan) dalam propilen glikol dan polietilen glikol. Penggunaan bahan
ini jugakadang bersamaan dengan antibiotik yang selektif.

Nasal Spray Golongan Steroid
Berikut beberapa semprot steroid yang biasa digunakan untuk penanganan
rhinosinusitis atau sinusitis:

Fluticasone propionate
Fluticasone propionate adalah suatu kortikosteriod trifluorinasi yangbisa
diberikan dalam formula intra. Studi in vitro pada cloned human
glucocorticoid receptor system tampak 3 -5 kali lebih potensial ketimbang
dexamethasone. Pada uji klinis pada dewasa, fluticasone propionate dalam
spray menurunkan eosinofil mukosa nasal 66% (plasebo 35%) dan basofil
39% (placebo 28%). Spray ini, seperti kortikosteroid lainnya tidak memiliki
efek yang mulai segera atau cepat mengatasi gejala alergi. Pengurangan
gejala dicatat terjadi setelah 12 jam pemberian spray. Serupa juga dengan
kortisteroid jenis lain, saat pemberian dihentikan, gejala tidak muncul untuk
beberapa hari. Bagaimana mekanisme fluticasone propionate mengatasi
gejala rhinitis alergi atau sinusitis tidak diketahui. Tapi diperkirakan
kortikosteroid berefek pada sejumlah besar sel (sel mast, eusinofil, neutrofil,
25

makrofag, danlimfosit) dan banyak mediator (histamin, eikoanoid, leukotrien,
dan sitokin) yang terlibat dalam proses inflamasi.

Indikasi
Mengobati dan sebagai profilaksis rhinitis alergi musiman atauperennial dan
sinusitis.

Dosis & Cara Pemberian
Dewasa dan anak 12 tahun keatas : 2 semprotan pada tiap lubang hidung (tiap
semprot mengandung 50 mcg fluticasone propionate) sekali sehari,
dianjurkan pada pagi hari. Pada beberapa kasus kadang dibutuhkan 2
semprotan 2 kali sehari. Maksimal semprotan tiap hidung per hari adalah 4
semprot.Anak usia 4-11 tahun : satu semprotan per hari untuk tiap lubang
hidung dan sebaiknya diberikan pada pagi hari. Pada beberapa kasus,
kadangdibutuhkan satu semprot dua kali sehari. Maksimal semprotan per hari
adalah 2 semprot untuk tiap lubang hidung.

Peringatan
Hati-hati pada pasien hamil dan infeksi saluran hidung. Hati-hati
saatmengalihkan pasien dari terapi steroid sistemik. Terapi tambahan
perludiberikan selama musim panas yang banyak alergen.

Efek Samping
Hidung dan tenggorokan kering terkadang disertai iritasi, rasa tidak enak, bau
dan epitaksis .

Budenoside
Budesonide adalah kortikosteroid sintetik yang memiliki
aktivitasglukokortikoid potensial dan aktivitas mineral kortikoid lemah.
Budesonide gggggggdiperkirakan mengatasi alergi rhinitis atau sinusitis
melalui aktivitas hambatannya pada serangkaian luas sel (yakni sel mast,
eosinofil, neutrofil, makrofag, dan limfosit) dan mediator (histamine,
26

eicosanoid, leukotrien, dansitokin) yang terlibat dalam inflamasi yang
dimediatori oleh alergen. Budesonide diabsorpsi relatif baik setelah
pemberian inhalasi maupun oral, dan secara cepat dimetabolisme menjadi
metabolit dengan potensi kortikosteroid rendah. Setelah pemberian intranasal
budesonide, kadar puncak plasma dicapai pada sekitar 0,7 jam. Sekitar 34%
dari dosis intranasal mencapai sirkulasi sistemik dibandingkan dengan
pemberian intravena. Budesonide yang diabsorpsi dari saluran cerna,
bioavailabilitasnya rendah sekali sekitar 10%. Hal ini karena efek
metabolisme lintas pertama yang cukup ekstensif di hati.Ikatan protein
budesonide secara in vitro terlihat konstan (8590%)dari suatu range
konsentrasi (1-100 nmol/L). Waktu paruh terminal sekitar 2-3 jam. Setelah
pemberian nasal spray pada anak tampak bahwa konsentrasipuncak plasma
dan waktu paruh sama antara anak dan dewasa. Anak memilikikadar plasma
dua kali orang dewasa terutama untuk mereka dengan perbedaanbobot badan.

Indikasi
Mengobati dan sebagai profilaksis rhinitis alergi musiman atauperennial dan
sinusitis.

Dosis & Cara Pemberian
Dosis awal untuk dewasa dan anak >6 tahun : 64 mcg per hari.Berikan 2
semprotan (64 mcg) tiap lubang hidung pada pagi hari atau satusemprotan (32
mcg) pada pagi hari dan satu semprotan lagi di malam hari.Dosis maksimum
dewasa dan anak >12 tahun : 256 mcg per hari yangdiberikan 4 semprot tiap
lubang hidung sekali sehari. Sementara dosismaksimum anak (<12 tahun)
yang direkomendasikan adalah 128 mcg per haridiberikan 2 semprotan tiap
hidung sekali sehari.

Efek Samping
Perdarahan ringan di hidun dan kadang juga bersin.


27

Antivertigo

Betaserc
Komposisi: betahistine diHCl
Indikasi: terapi simtomatis untuk vertigo, penyakit Meniere dan gejala
yangmnyerupai penyakit Meniere seperti vertigo, tinitus, hilangnya
pendengaran,dan biasanya disertai mual dan muntah.Dosis: 1 tablet 3x/hari.
Maksimal 6 tablet/hari dalam dosis terbagi.Perhatian: penderita
feokromositoma atau asma bronkial, riwayat ulkuspeptikum.Efek samping:
keluhan ringan pada ulu hati, ruam kulit

Dramamine
Komposisi: dimenhydrinateIndikasi: mencegah dan meredakan mabuk
perjalanan dan mengobati vertigo,mual atau muntah sehubungan dengan
terapi elektrosyok, anestesi danpembedahan, gangguan sistem labirin, dan
sakit akibat radiasi.Dosis: tablet dewasa 50-100 mg 3-4x/hari. Anak 12 tahun
50 mg 2-3 x/hari, 8-12 tahun 25-50 mg 2-3 x/hari, 6-8 tahun 12,5-25 mg 2-3
x/hari. Mencegahmabuk perjalanan: dosis awal diberikan 30 menit sebelum
bepergian.Perhatian: bersama antibiotik menyebabkan ototoksik.Efek
samping: mengantuk.

Nufapreg
Komposisi: prometazine theoclate
Indikasi: pengobatan dan pencegahan mual dan muntah yang
berhubungandengan gastroenteritis, vertigo karena sindrom Meniere dan
labirintitis, mabuk kendaraan dan mual pasca operasi. Dosis: dewasa 1 tablet
tiap malam. Dosis dapat ditingkatkan menjadi 2-3 tablettiap malam atau 1
x/hari bila perlu. Pencegahan mabuk kendaraan: untuk perjalanan jauh 1
tablet tiap malam sebelum tidur, mulai semalam sebelum bepergian.
Perjalanan pendek 1 tablet 1-2 jam sebelum bepergian. Pengobatan mabuk
kendaraan 1 tablet dilanjutkan dengan pemberian tablet ke-2 pada waktu yang
sama di sore hari dan tablet ke-3 pada sore hari berikutnya.Kontarindikasi:
28

asma, hipersensitif. Efek samping: mengantuk, sedasi, penglihatan kabur,
disorientasi, peningkatantekanan darah, ruam kulit, dan fotosensitivitas.
Interaksi obat: alkohol, analgesik narkotik, hipnotik, sedatif,
barbiturat,transquilizer

Antijamur
Ketokonazol dan nystatin adalah dua jenis fungisida yang sering digunakan
pada kasus otomikosis. Selain itu nystatin adalah obat pilihan padacandidiasis
orofaring. Ketokonazol, suatu fungisida golongan azol merupakan obat
daridolongan ini yang bekerja efektif pada pemberian oral dan baik untuk
beberapa mikosis sistemik. Golongan ini bekerja dengan menghambat
biosintesis jamur. Berguna untuk candidiasis oral dan vagina, beberapa
dermatofitosis, dan kandidiasis mukokutan pada anak-anak kurang imun.
Dosis 200-600 mg/hari menekan dengan baik manifestasi klinik dari
parakoksi diomikosis dan blastomikosis, bahkan kadang histoplasmosis. Pada
pemberian oral, absorbs dan distribusi sistemiknya baik, kecuali ke SSP. Efek
samping ketokonazol berupa mual, muntah, rash pad kulit, sampai
peningkatan transaminase serum. Nystatin adalah makrolid polien yang
bekerja dengan berikatan padasterol membrane sel jamur dan membentuk
pori yang mengganggu transport membrane dan membunuh sel jamur. Kerja
nystatin terbatas padatempat di manaobat ini berkontak langsung dengan
jamur atau ragi. Nystatin diberikan secara topikal pada kulit atau mukosa
(bukal, vagina) dalam bentuk salep, tepung, atau supositoria untuk menekan
infeksi candida. Nystatin oral diberikan pada infeksi kandida di usus.