Anda di halaman 1dari 65

DAFTAR I SI

DAFTAR I SI ..................................................................................... i
DAFTAR TABEL ............................................................................... i i
DAFTAR GAMBAR ............................................................................ i i i
KATA SAMBUTAN ............................................................................ i v
KATA PENGANTAR ......................................................................... v
A. PENDAHULUAN ......................................................................... 1
B. METODOLOGI ........................................................................... 2
C. TELAPAK EKOLOGI S
DI I NDONESI A .......................................................................... 8
D. REKOMENDASI ......................................................................... 34
E. PENUTUP .......................................... 39
LAMPI RAN ........................................................................................ 43




Telapak Ekologis Di Indonesia

i
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Nilai Ecological Deficit (ED) atau Lebih ...................................................... 7


Tabel 2. Perhitungan Telapak Ekologis & Biokapasitas Pulau Sumatera .............. 9
Tabel 3. Perhitungan Telapak Ekologis & Biokapasitas Pulau Sulawesi ............... 11
Tabel 4. Perhitungan Telapak Ekologis & Biokapasitas Pulau Bali ........................ 12
Tabel 5. Perhitungan Telapak Ekologis & Biokapasitas
Kepulauan Nusa Tenggara ........................................................................... 14
Tabel 6. Perhitungan Telapak Ekologis & Biokapasitas Kepulauan Maluku ......... 17
Tabel 7. Perhitungan Telapak Ekologis & Biokapasitas Pulau Papua ................... 19
Tabel 8. Perhitungan Telapak Ekologis & Biokapasitas Provinsi DKI Jakarta ...... 20
Tabel 9. Perhitungan Telapak Ekologis & Biokapasitas Provinsi Banten .............. 21
Tabel 10. Perhitungan Telapak Ekologis & Biokapasitas Provinsi Jawa Barat ....... 22
Tabel 11. Perhitungan Telapak Ekologis & Biokapasitas Provinsi Jawa Tengah ... 23
Tabel 12. Perhitungan Telapak Ekologis & Biokapasitas Provinsi Jawa Timur ..... 24
Tabel 13. Perhitungan Telapak Ekologis & Biokapasitas Provinsi DI Yogyakarta .. 25
Tabel 14. Perhitungan Telapak Ekologis & Biokapasitas Provinsi
Kalimantan Barat .......................................................................................... 26
Tabel 15. Perhitungan Telapak Ekologis & Biokapasitas Provinsi
Kalimantan Tengah ....................................................................................... 27
Tabel 16. Perhitungan Telapak Ekologis & Biokapasitas Provinsi
Kalimantan Selatan ...................................................................................... 28
Tabel 17. Perhitungan Telapak Ekologis & Biokapasitas Provinsi
Kalimantan Timur ......................................................................................... 29
Tabel 18. Perhitungan Telapak Ekologis & Biokapasitas Indonesia Tahun 2007 ... 30
Tabel 19. Rekapitulasi Perhitungan Telapak Ekologis & Biokapasitas
per Kapita Pulau-pulau di Indonesia Tahun 2007 ..................................... 32

Telapak Ekologis Di Indonesia


ii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Perbandingan Telapak Ekologis dan Biokapasitas
per Provinsi di Pulau Sumatera ................................................................. 9
Gambar 2. Perbandingan Telapak Ekologis dan Biokapasitas
per Provinsi di Pulau Sulawesi .................................................................. 11
Gambar 3. Perbandingan Telapak Ekologis dan Biokapasitas
per Provinsi di Pulau Bali ........................................................................... 13
Gambar 4. Perbandingan Telapak Ekologis dan Biokapasitas
per Provinsi di Kepulauan Nusa Tenggara ............................................... 15
Gambar 5. Perbandingan Telapak Ekologis dan Biokapasitas
per Provinsi di Kepulauan Maluku ............................................................. 17
Gambar 6. Perbandingan Telapak Ekologis dan Biokapasitas
per Provinsi di Pulau Papua ....................................................................... 19
Gambar 7. Perbandingan Telapak Ekologis dan Biokapasitas
per Komponen Indonesia Tahun 2007 ....................................................... 31


LAMPI RAN

Tabel Perhitungan Telapak Ekologis & Biokapasitas per Provinsi se-Indonesia
Telapak Ekologis Di Indonesia

iii
KATA SAMBUTAN

Assalamualaikumwr.wb.
SerayamemanjatpujisyukurkepadaTuhanYangMahaEsa,sayamenyambutbaikpenerbitanbuku
Kajian Telapak Ekologis di Indonesia ini. Kehadiran buku ini saya nilai tepat di tengah
meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pertimbangan lingkungan hidup dalam
pelaksanaanpembangunan,dansemakinterbatasnyasumberdayapembangunan.
Sebagai sebuah konsep yang relatif baru, penyebarluasan pemahaman tentang konsep telapak
ekologis perlu didorong sehingga dapat diterima oleh para pemangku kepentingan. Selanjutnya
pemahaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal dalam merumuskan kebijakan dan strategi
pembangunan yang lebih sensitif terhadap isu keberlanjutan. Dengan demikian, kekayaan sumber
daya alam Indonesia dapat dimanfaatkan secara lebih optimal, tidak saja untuk generasi masa kini
tetapijugauntukgenerasigenerasiyangakandatang.
Kajian Telapak Ekologis di Indonesia ini merupakan langkah yang sangat baik dalam
pengarusutamaan pemikiran terkait pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Saya berharap
pembaca buku ini dapat memperoleh pengetahuan baru yang akan memberikan inspirasi dalam
pelaksanaantugastugaspembangunanyangmenjaditanggungjawabnya.
Wassalamualaikumwr.wb.
Jakarta,Juni2010

MenteriPekerjaanUmum,

Telapak Ekologis Di Indonesia

DJOKOKIRMANTO

iv

KATA PENGANTAR

Seiring dengan meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya pelaksanaan


pembangunan berkelanjutan, berbagai upaya telah dilakukan para pemangku kepentingan yang
secara umum menunjukkan peningkatan sensitivitas terhadap isuisu lingkungan hidup. Fenomena
pemanasan global dan perubahan iklim turut berperan dalam peningkatan kesadaran pemerintah
dan masyarakat untuk lebih berhatihati dalam pengambilan keputusan yang memiliki potensi
dampaknegatifterhadapkelestarianlingkunganhidup.
Penerapan konsep pembangunan berkelanjutan perlu didasarkan pada pemahaman yang
komprehensif tentang kondisi saat ini dan kondisi masa depan yang diinginkan. Dalam rangka
memperkaya pengetahuan tentang kondisi saat ini, Direktorat Jenderal Penataan Ruang
KementerianPekerjaanUmummelakukanpengkajiankondisitelapakekologis(ecologicalfootprint)
yangterbentukdaritatanansosialekonomimasyarakatsaatini.
Telapak ekologis merupakan cerminan dari tingkat pemanfaatan sumber daya alam oleh
masyarakatuntukmemenuhikebutuhanhidupnya.Semakintinggitingkatkebutuhannya,semakin
besar sumber daya alam yang dimanfaatkan, semakin tinggi pula telapak ekologis yang terbentuk.
Selanjutnya bila dibandingkan dengan kapasitas lingkungan untuk menyediakan sumber daya
(biokapasitas),dapatdiketahuigambarantingkatkeberlanjutansuatuwilayah.
Hasil kajian telapak ekologis Indonesia yang disajikan secara singkat dalam buku ini menunjukkan
secara umum masyarakat Indonesia masih memanfaatkan sumber daya dalam jumlah yang lebih
rendah dari kapasitas lingkungan untuk menyediakannya. Dengan kata lain, secara agregat
biokapasitas Indonesia masih dalam kondisi surplus. Namun demikian, hasil kajian di wilayah
dengan populasi penduduk yang tinggi (Pulau Jawa dan Pulau Bali) menunjukkan defisit sumber
dayayangsudahcukupmemprihatinkan.
Telapak Ekologis Di Indonesia

v
KondisitelapakekologisIndonesiayangnyarismenunjukkandefisittersebutperludipertimbangkan
dalam perumusan kebijakan dan strategi pembangunan. Apalagi dengan adanya perubahan pola
konsumsi yang cenderung boros dalam pemanfaatan sumber daya, sejalan dengan pertambahan
jumlah penduduk dan upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan
masyarakat.Bilatidakdikelolasecarabijaksana,dikhawatirkanIndonesiaakanmemasukierakrisis
sumberdayaketikakondisitelapakekologistelahmelampauibiokapasitas.
Buku ini diharapkan dapat memberikan alternatif bekal pengetahuan kepada para pembaca dalam
mengambillangkahlangkahuntukmewujudkanIndonesiayanglebihbaikdalammenyejahterakan
masyarakatnya dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan hidup, khususnya melalui
penyelenggaraan penataan ruang dan pengembangan wilayah yang berkelanjutan secara lebih
efektif.
Selamatmembacadansemogadapatmengambilmanfaatdaribukuini.

Jakarta,Juni2010
DirekturJenderalPenataanRuang
KementerianPekerjaanUmum

Ir.ImamS.Ernawi,MCM,M.Sc

Telapak Ekologis Di Indonesia


vi

A. PENDAHULUAN

Dalamupayapemenuhankebutuhanmanusiauntukkeberlangsunganhidupnya,perludiperhatikan
keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan untuk masa yang akan datang. Keberlanjutan
dapat dicapai apabila dalam setiap pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan tetap
memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan, sehingga tercapai keharmonisan
antaralingkunganalamidanlingkunganbuatan.
Untuk mewujudkan keberlanjutan, diperlukan suatu alat ukur yang dapat menghitung kapasitas
sediaan (supply) dan permintaan (demand) sumber daya alam. Telapak ekologis merupakan salah
satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat keberlanjutan sumber daya alam
dan lingkungan. Telapak ekologis adalah gambaran jumlah lahan produktif darat dan laut yang
dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup suatu populasi dalam memproduksi dan mengkonsumsi
semuasumberdayatermasuklimbahyangdihasilkannya.
Pendekatan telapak ekologis dimaksudkan untuk menunjukkan ketergantungan hidup manusia
terhadap alam serta untuk mengamankan kapasitas sumber daya alam untuk keberadaan manusia
dimasamendatang.Telapakekologisterdiridari4(empat)parameterpentingyaitupopulasi,area
lahan dan laut, produktivitas (hasil/ha) dan indikator (ha/kapita), yang hasil perhitungannya akan
menjadibagiandalamperhitungandayadukungsuatuwilayah.Telapakekologissuatuwilayahyang
lebih rendah dibandingkan biokapasitasnya menunjukkan bahwa dalam upaya pemenuhan
kebutuhannya, masyarakat wilayah tersebut telah menggunakan sumber daya alamnya dengan
memperhatikan daya dukung serta menjamin keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan
untukmasayangakandatang.
Telapak Ekologis (Ecological Footprint) pertama kali diperkenalkan oleh William Rees pada tahun 1992. Konsep dan metoda perhitungan telapak
ekologisinidikembangkandalamdisertasiPhdMathiasWackernageldibawahsupervisiWilliamReesdiUniversityofBritishColumbia,Vancouver,
Canada,mulaitahun19901994.Padaawaltahun1996,WackernageldanReesmempublikasikanbukuOurEcologicalFootprint:ReducingHuman
ImpactontheEarth.
Telapak Ekologis Di Indonesia

1
B. METODOLOGI

A. KerangkaBerpikir
Aktivitas manusia di muka bumi memerlukan konsumsi yang diambil dari alam (lingkungan).
Seiring dengan kemajuan jaman yang merupakan fungsi ruang dan waktu, interaksi manusia
dengan lingkungan alam tanpa disadari dapat atau telah menurunkan daya dukung alam
tersebut. Menurut Khanna (1999), daya dukung lingkungan hidup terbagi menjadi 2 (dua)
komponen, yaitu kapasitas penyediaan (supportive capacity) dan kapasitas tampung limbah
(assimilativecapacity).
Telapakekologishanyamengukurlahanyangmampuberproduksidanmengelolalimbahsecara
alami, atau disebut lahan produktif biologis. Sesuai dengan prinsip dasar pehitungan yang
mencerminkan jumlah barang, energi, dan ruang yang diperlukan oleh populasi lokal terhadap
luasan lahan yang menyediakan. Dalam perhitungan telapak ekologis digunakan asumsi umum,
antaralain:
Semua sumber daya yang dikonsumsi dan limbah (termasuk emisi) yang dihasilkan dapat
ditelusuriasalmuasalnya(tracked).
Sebagian besar aliran sumber daya dan buangan dapat diukur dengan menggunakan luasan
bioproduktifuntukmenjagapasokansumberdayadanabsorpsibuangan.
Luasanbioproduktifyangberbedadapatdikonversimenjadisatuukurantunggal,yaituhektar
global(gha).Setiaphektarglobalpadasatutahunmencerminkanbioproduktifyangsamadan
semuadapatdijumlahkan.
Permintaan terhadap sumber daya alam disebut telapak ekologis (ecological
footprint/demand),dandapatdibandingkandenganbiokapasitas(biocapacity/supply)dengan
satuanhektarglobal(gha).
Luasan permintaan (area demanded) bisa lebih besar dari luasan pasokan (area supplied), jika
permintaansuatuekosistemmelebihikemampuanekosistemnyauntukmenyediakannya.

Telapak Ekologis Di Indonesia


2

B. KomponenPerhitunganTelapakEkologis
Dalam melakukan perhitungan dan analisis telapak ekologis wilayah Indonesia digunakan
metoda yang telah dikembangkan oleh Global Footprint Network (GFNUSA) sebagaimana
diuraikandalamGuidebooktotheNationalFootprintAccounts2008.
Luasan bioproduktif diartikan sebagai semua luasan lahan yang berkontribusi terhadap
biokapasitas yang memberikan pasokan konsentrasi biomasa secara ekonomis. Luasan
bioproduktif adalah luasan daratan dan perairan (perairan daratan dan perairan laut) yang
mendukung proses fotosintesis secara signifikan kemudian mengakumulasi biomasa yang
dimanfaatkan oleh manusia. Dalam perhitungan telapak ekologis (TE) dan perhitungan
biokapasitas(BK),digunakan2(dua)faktorkonversiyaitu:
1. Faktorpenyama(equivalentfactor)
Faktor penyama merupakan faktor yang mengkonversi satuan lokal lahan tertentu menjadi
satuanyanguniversal,yaituhektarglobal(gha).FaktorpenyamatelahditentukanolehGlobal
Footprint Network (GFN) untuk 6 (enam) kategori lahan, yaitu: lahan pertanian (2,64), lahan
perikanan(0,40),lahanpeternakan(0,50),lahankehutanan(1,33),lahanterbangun(2,64)dan
lahanpenyerapankarbon/lahanyangdiperlukanuntukmengabsorsiCO2yangbersumberdari
bahanbakarfosil(1,33).
2. Faktorpanen(yieldfactors)
Faktor panen menggambarkan perbandingan antara luasan lahan bioproduktif di suatu
wilayah dengan luasan lahan bioproduktif yang sama di wilayah yang lain untuk tiap
komoditas yang sama. Faktor ini juga menggambarkan kemampuan suatu populasi untuk
menyertakanpenguasaanteknologidanmanajemendalampengelolaanlahan.Setiapwilayah
memilikifaktorpanenmasingmasingdandihitungpertahun.

Telapak Ekologis Di Indonesia

3
Dalam metoda yang dikembangkan oleh GFN, demand digambarkan dalam bentuk hasil akhir
perhitungan telapak ekologis (ecological footprint) pada suatu wilayah. Sedangkan supply
digambarkan dalam bentuk biokapasitasnya (biocapacity). Kondisi yang diharapkan adalah nilai
total demand/telapak ekologisnya lebih rendah dibandingkan nilai supply/biokapasitasnya guna
menjaminkeberkelanjutanpemanfaatansumberdayaalam.
dikembangkan oleh GFN, demand digambarkan dalam bentuk hasil akhir
perhitungan telapak ekologis (ecological footprint) pada suatu wilayah. Sedangkan supply
digambarkan dalam bentuk biokapasitasnya (biocapacity). Kondisi yang diharapkan adalah nilai
total demand/telapak ekologisnya lebih rendah dibandingkan nilai supply/biokapasitasnya guna
menjaminkeberkelanjutanpemanfaatansumberdayaalam.
C. PerhitunganDemand/TelapakEkologis(TE)/EcologicalFootprint(EF) C. PerhitunganDemand/TelapakEkologis(TE)/EcologicalFootprint(EF)
Telapakekologismenggambarkankebutuhanbarangdanjasayangdiperlukanolehmanusiadari
alam yang dicerminkan dalam konsumsi bersih (net consumption) dari produkproduk yang
dikategorikan seperti produk pertanian, produk peternakan, produk kehutanan, produk
perikanan,keperluanruangdanlahan,sertakonsumsienergi.
Telapakekologismenggambarkankebutuhanbarangdanjasayangdiperlukanolehmanusiadari
alam yang dicerminkan dalam konsumsi bersih (net consumption) dari produkproduk yang
dikategorikan seperti produk pertanian, produk peternakan, produk kehutanan, produk
perikanan,keperluanruangdanlahan,sertakonsumsienergi.
Konsumsi bersih merupakan konsumsi aktual yang dipengaruhi oleh kegiatan perdagangan
(eksporimpor). Perhitungan konsumsi aktual akan menambahkan barang yang diimpor dan
mengurangibarangyangdieksporyangdinyatakandenganpersamaanberikut:
Konsumsi bersih merupakan konsumsi aktual yang dipengaruhi oleh kegiatan perdagangan
(eksporimpor). Perhitungan konsumsi aktual akan menambahkan barang yang diimpor dan
mengurangibarangyangdieksporyangdinyatakandenganpersamaanberikut:

KonsumsiBersih/Total(ton)=ProduksiLokal(ton)+Impor(ton)Ekspor(ton)
TelapakEkologis(TE/EF)untuksemuakategorilahandihitungdenganmenggunakanpersamaan: TelapakEkologis(TE/EF)untuksemuakategorilahandihitungdenganmenggunakanpersamaan:

EQF YF
Y
P
EF
N
=
Keterangan: EF=ecologicalfootprint/telapakekologis(TE); Keterangan: EF=ecologicalfootprint/telapakekologis(TE);
P=jumlahprodukdipanenataulimbahyangdihasilkan; P=jumlahprodukdipanenataulimbahyangdihasilkan;
YN=produktivitasnasionalrataratauntukP; YN=produktivitasnasionalrataratauntukP;
YF=yieldfactor(faktorpanen); YF=yieldfactor(faktorpanen);
EQF=equivalencefactor(faktorekivalensiuntukkategorilahandimaksud). EQF=equivalencefactor(faktorekivalensiuntukkategorilahandimaksud).
Padahasilperhitungan,untuknilaiTEKonsumsi=0walaupunnilai(TEProduksi+TEImpor)<TEEkspordanbukanmenghasilkannilaiminus,halini
didasarkan pada konsepsi Telapak Ekologis yang ada. Pada data dengan tahun yang sama, jumlah produksi merupakan jumlah yang dihasilkan
padatahuntersebut(tahun2007),sedangkanjumlahekspormerupakanjumlahprodukyangdiproduksitahuntersebutmaupunstok/hasilproduksi
padatahuntahunsebelumnyayangdijual/dieksporpadatahuntersebut(tahun2007).
Padahasilperhitungan,untuknilaiTEKonsumsi=0walaupunnilai(TEProduksi+TEImpor)<TEEkspordanbukanmenghasilkannilaiminus,halini
didasarkan pada konsepsi Telapak Ekologis yang ada. Pada data dengan tahun yang sama, jumlah produksi merupakan jumlah yang dihasilkan
padatahuntersebut(tahun2007),sedangkanjumlahekspormerupakanjumlahprodukyangdiproduksitahuntersebutmaupunstok/hasilproduksi
padatahuntahunsebelumnyayangdijual/dieksporpadatahuntersebut(tahun2007).

Telapak Ekologis Di Indonesia 4

D. PerhitunganSupply/Biokapasitas(BK)/Biocapacity(BC)
Biokapasitas adalah kapasitas ekosistem untuk menghasilkan materialmaterial biologi yang
bergunadankapasitasuntukmenyerapbuanganmaterialyangdihasilkanolehkegiatanmanusia
dengan menggunakan cara pengelolaan dan teknologi yang dikuasai saat ini. Seperti halnya
telapak ekologis, biokapasitas terdiri dari 6 (enam) kategori lahan, yaitu lahan pertanian, lahan
peternakan,lahankehutanan,lahanperikanan,lahanterbangundanlahanpenyerapkarbon.
Menurut ketentuan GFNUSA dalam Guidebook to the National Footprint Accounts 2008,
lahan penyerap karbon dianggap tidak memiliki nilai biokapasitas (ditunjukkan dalam seluruh
tabel nilai biokapasitas lahan penyerap karbon adalah 0), berdasarkan asumsi bahwa seluruh
penyerapan karbon dilakukan oleh lahan kehutanan sehingga nilai biokapasitas lahan penyerap
karbonadalah0(nol)ataumerupakanobjekdaribiokapasitaslahankehutanan.
Pada metoda perhitungan ini, nilai telapak ekologis dan biokapasitas lahan terbangun adalah
sama. Permintaan akan lahan terbangun dan infrastruktur (TE lahan terbangun) terhadap
persediaan lahan (BK lahan terbangun) akan berbanding lurus, dimana setiap pembukaan lahan
baruakanselaludiiringidengantumbuhnyalahanterbangun.
Biokapasitas (BK/BC) untuk semua kategori lahan dihitung dengan menggunakan persamaan
berikut:

Keterangan: BC =biocapacity/biokapasitas(BK);
A =luaslahandarisetiapkategorilahan;
BC=AxYFxEQF
YF =yieldfactor(faktorpanen);
EQF =equivalencefactor(faktorekivalensiuntukkategorilahandimaksud).
Telapak Ekologis Di Indonesia

5
E. PerhitunganDefisitEkologis/EcologicalFootprintDeficit(ED)
Nilai defisit ekologis menunjukkan apakah sebuah wilayah telah melampaui daya dukungnya
atau belum. Sebuah wilayah dikatakan telah melampaui daya dukungnya apabila nilai telapak
ekologisnya lebih besar dibandingkan dengan nilai biokapasitasnya. Nilai telapak ekologis yang
lebih besar dibandingkan dengan nilai biokapasitas menunjukkan bahwa masyarakat di wilayah
tersebut telah menggunakan sumber daya alam lebih besar dari kapasitas alam untuk
menyediakannya.
DefisitEkologisdihitungdenganmenggunakanpersamaanberikut:

ED=EF
total
BC
total

Keterangan: ED =ecologicaldeficit(defisitekologis);
EF
total
=ecologicalfootprinttotal(telapakekologistotal);
BC
total
=biocapacitytotal(biokapasitastotal).
Besaran tingkat defisit ekologis dapat diinterpretasikan dengan menggunakan acuan yang
bersumber dari studi yang dilakukan oleh China Council for International Cooperation on
Environment and DevelopmentWorld Wide Fund for Nature (CCICEDWWF) tahun 2006,
sebagaimanadisajikandalamtabel1.

Telapak Ekologis Di Indonesia 6

Tabel1.NilaiEcologicalDeficit(ED)atauLebih
WilayahDefisit
(DeficitRegion)
WilayahCadanganatauSeimbang
(ReserveorBalancedRegions)
Veryseveredeficit(ED>2.0)
Severedeficit(1.0<ED2.0)
Moderatedeficit(0.5<ED1.0)
Minordeficit(0.1<ED0.5)
Balancedregions(0.1<ED0.1)
Reserveregions(ED0.1)

Sumber:CCICEDWWF,2006

Bruntland Report, Our Common Future, menyisihkan 12% untuk keanekaragaman hayati
(Bruntland Report mengasumsikan bahwa biokapasitas yang dapat dimanfaatkan hanya sebesar
88%,sementarayang12%disisakanuntukkeanekaragamanhayati).

Telapak Ekologis Di Indonesia

Telapak Ekologis Di Indonesia

C. TELAPAK EKOLOGI S DI I NDONESI A


A. HasilAnalisisTelapakEkologisPulauSumatera
Secara umum, daya dukung Pulau Sumatera sebagai penyedia sumber daya penghasil produk
pertanian,peternakan,dankehutananmasihdalamkondisisurplus,sedangkansebagaipenyedia
sumberdayapenghasilprodukperikanantelahmengalamidefisit.
Pada umumnya, masyarakat yang tinggal di Pulau Sumatera memiliki konsumsi yang besar
terhadap produk pertanian. Hal ini dapat dilihat pada nilai telapak ekologis untuk penggunaan
lahanpertanianmemilikinilaipalingtinggidibandingkannilaitelapakekologislainnya(Tabel2).
Meskipun nilai konsumsi telapak ekologis lahan pertanian paling tinggi, tetapi nilainya belum
melebihi nilai biokapasitasnya, sehingga dapat dikatakan bahwa sumber daya Pulau Sumatera
untuk menghasilkan produk pertanian belum terlampaui. Meskipun demikian, pemanfaatan
sumber daya alam di sektor pertanian harus tetap dilakukan secara bijaksana dengan tetap
memperhatikan daya dukung wilayah serta melalui peningkatan biokapasitas wilayah. Hal ini
dimaksudkan untuk dapat terus mendukung kebutuhan produk pertanian bagi masyarakat di
Pulau Sumatera dan masyarakat di luar Pulau Sumatera (ditunjukkan dengan nilai telapak
ekologiseksporkomponenpertanianyangpalingtinggi).
Untuk biokapasitas lahan kehutanan mempunyai nilai yang tinggi dibandingkan dengan nilai
telapak ekologisnya, salah satunya dikarenakan adanya Taman Nasional Gunung Leuser
(terletak di Provinsi NAD dan Sumatera Utara) dan Taman Nasional Kerinci Seblat (terletak di
Provinsi Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu) yang tetap dipertahankan
keberadaannya. Hal ini ditunjukkan dengan diagram komponen lahan kehutanan di Provinsi
NAD, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu (Gambar 1). Untuk komponen lahan perikanan,
nilai biokapasitasnya jauh dibawah nilai telapak ekologisnya, hal ini menunjukkan tingkat
konsumsiprodukperikananmasyarakatdiPulauSumaterayangrelatiftinggi.
8

Tabel2.PerhitunganTelapakEkologis&BiokapasitasPulauSumatera
Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 64.781.358 1.047.326 14.226.926 51.601.757 72.785.601
Surplus
Peternakan 0 22.803 21 22.782 133.269
Surplus
Kehutanan 4.572.656 113 6.346 4.566.423 9.833.289
Surplus
Perikanan 7.766.477 14.221 553.008 7.227.691 60.140
Defisit
Penyerap Karbon 64.728 224 3.241 61.711 0
-
Lahan Terbangun 11.285.243 0 0 11.285.243 11.285.243
-
TOTAL 88.470.462 1.084.687 14.789.543 74.765.606 94.097.541 Surplus

(gha)

Gambar1.PerbandinganTelapakEkologisdanBiokapasitas
perProvinsidiPulauSumatera

Telapak Ekologis Di Indonesia

9
B. HasilAnalisisTelapakEkologisPulauSulawesi
Dari hasil analisis perhitungan, menunjukkan bahwa daya dukung Pulau Sulawesi sebagai
penyedia sumber daya penghasil produk pertanian, produk peternakan, dan produk kehutanan
masih dalam keadaan surplus, sedangkan untuk penghasil produk perikanan telah mengalami
defisit.
Pada umumnya, masyarakat yang tinggal di Pulau Sulawesi memiliki konsumsi yang besar
terhadap produk perikanan. Hal ini ditunjukkan dengan nilai telapak ekologis komponen lahan
perikanan yang cukup tinggi yaitu 10.152.579 gha. Dari Tabel 3 dapat diketahui, komponen
lahan perikanan di Pulau Sulawesi memiliki nilai telapak ekologis yang jauh melebihi
biokapasitasnya.DapatdiartikanbahwapemanfaatansumberdayaperikanandiPulauSulawesi
sangattinggiatautelahterjadipenangkapanikanberlebih(overfishing)diwilayahperairanPulau
Sulawesi.
Untuk komponen lahan kehutanan, perbandingan antara nilai biokapasitas dengan nilai telapak
ekologismenunjukkanhasilyangpalingtinggibiladibandingkandengankomponenlainnya.Jika
dilihat dari Gambar 2, biokapasitas komponen lahan kehutanan untuk seluruh provinsi di Pulau
Sulawesi mempunyai nilai lebih tinggi dibandingkan telapak ekologisnya. Salah satu
penyumbang tingginya biokapasitas komponen lahan kehutanan adalah nilai biokapasitas di
Provinsi Sulawesi Tengah, hal ini dikarenakan keberadaan Taman Nasional Lore Lindu yang
dijadikansebagailokasiperlindunganhayatidanpelestarianekosistemdiPulauSulawesi.
Tingginyanilaitelapakekologiskomponenlahanpertanianberasaldarisumbangannilaitelapak
ekologisproduksi.HalinimenunjukkantingkatkonsumsimasyarakatPulauSulawesiyangtinggi
terhadap produk pertanian. Meskipun demikian, nilai biokapasitas komponen lahan pertanian
masih lebih tinggi dibandingkan dengan nilai telapak ekologisnya, oleh karenanya sumber daya
untukmenghasilkanprodukpertanianmasihdalamkeadaansurplus.

Telapak Ekologis Di Indonesia 10

Telapak Ekologis Di Indonesia

Tabel3.PerhitunganTelapakEkologis&BiokapasitasPulauSulawesi

Gambar2.PerbandinganTelapakEkologis&Biokapasitas
perProvinsidiPulauSulawesi

Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian
9.356.668 5.076.817 1.995.273 12.438.212 14.446.022 Surplus
Peternakan
0 0 0 0 2.253.687 -
Kehutanan
105.061 16 677 104.400 5.840.142 Surplus
Perikanan
10.152.547 32 0 10.152.579 2.897.265 Defisit
Penyerap Karbon
8.641 0 24.249 0 0 -
Lahan terbangun
1.012.949 0 0 1.012.949 1.012.949 -
TOTAL
20.635.866 5.076.864 2.020.199 23.708.139 26.450.065 Surplus
11
TEBK TEBK TEBK TEBK TEBK TEBK
(gha)
TEBK TEBK TEBK TEBK TEBK TEBK
C. HasilAnalisisPerhitunganTelapakEkologisPulauBali
Secara umum, daya dukung Pulau Bali sebagai penyedia sumber daya telah mengalami defisit,
hal ini ditunjukkan dengan nilai telapak ekologis yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai
biokapasitas di seluruh kategori lahan. Pulau Bali merupakan daerah tujuan wisata, baik
domestik maupun mancanegara. Banyaknya pendatang dan wisatawan menjadikan Pulau Bali
sebagaidaerahdengankonsumsimasyarakatyangcukupbesardibandingkandengankonsumsi
pendudukIndonesiapadaumumnya.
Nilai telapak ekologis terbesar adalah komponen lahan penyerap karbon sebesar 2.433.016 gha,
kemudiaandiikutiolehlahanpertanian2.397.717gha,danlahanperikanan697.383gha.Besarnya
nilaitelapakekologiskomponenlahanpertaniantidakdiimbangidenganbiokapasitasnya.Halini
berarti bahwa tingkat konsumsi produk pertanian di Pulau Bali sangat besar dan daya dukung
wilayah sebagai penyedia sumber dayanya telah terlampaui. Melalui hasil analisis ini, dapat
diinformasikanbahwapemanfaatansumberdayaalamdiPulauBaligunamemenuhikebutuhan
masyarakatnyatelahmelampauidayadukungwilayahnya.
Tabel4.PerhitunganTelapakEkologisdanBiokapasitasPulauBali
Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 2.412.251 2.648 17.182 2.397.717 712.810 Defisit
Peternakan 2 36 0 39 3 Defisit
Kehutanan 331.559 1 14 331.545 4.869 Defisit
Perikanan 733.085 2.635 38.337 697.383 394 Defisit
Penyerap Karbon 2.432.846 215 45 2.433.016 0 -
Lahan terbangun 87.168 0 0 87.168 87.168 -
TOTAL
5.707.153 295.292 55.577 5.946.868 805.214 Defisit

Telapak Ekologis Di Indonesia


12

TE BK (gha)

Bali

Gambar3.PerbandinganTelapakEkologis&BiokapasitasperProvinsidiPulauBali
D. HasilAnalisisPerhitunganTelapakEkologisKepulauanNusaTenggara
Secaraumum,dayadukungKepulauanNusaTenggarasebagaipenyediasumberdayapenghasil
produk pertanian dan perikanan telah mengalami defisit, sedangkan untuk penghasil produk
peternakandankehutananmasihdalamkondisisurplus.Keadaansepertikondisitersebutdiatas
juga terjadi di kedua provinsi di Kepulauan Nusa Tenggara yaitu provinsi Nusa Tenggara Barat
danprovinsiNusaTenggaraTimur.
KepulauanNusaTenggaramerupakansalahsatudaribeberapapulaudiIndonesiayangmemiliki
potensi berupa hasil pertanian. Potensi tersebut dapat dilihat dari nilai telapak ekologis di
KepulauanNusaTenggarayangtertinggiadapadakomponenlahanpertanian.Nilaiyangtinggi
ini berasal dari sumbangan nilai telapak ekologis produksi yang ternyata paling tinggi
dibandingkan komponen yang lain. Meskipun demikian, potensi sektor pertanian yang besar
tidak diimbangi dengan kapasitas alamnya (nilai biokapasitas lebih rendah dibandingkan nilai
telapak ekologis). Sama halnya dengan komponen lahan perikanan yang nilai biokapasitasnya
lebih rendah dibandingkan dengan nilai telapak ekologisnya. Dalam hal ini, upaya pemanfaatan
sumber daya alam sebagai penyedia produk pertanian dan produk perikanan perlu dilakukan
secara bijaksana, sehingga upaya pemenuhan kebutuhan produk pertanian dan produk
perikanan bagi masyarakat Kepulauan Nusa Tenggara dapat tercapai dan berkelanjutan untuk
generasiyangakandatang.
Telapak Ekologis Di Indonesia

13
Nilai biokapasitas yang paling tinggi terdapat pada komponen lahan peternakan. Hal ini
menunjukkan bahwa Kepulauan Nusa Tenggara memiliki kapasitas alam yang tinggi sebagai
penyedia produk peternakan (Tabel 5). Nilai biokapasitas komponen lahan peternakan ini,
menunjukkan nilai yang paling tinggi jika dibandingkan dengan komponen lain untuk kedua
provinsi (NTB dan NTT). Namun demikian, kapasitas alam (supply) sebagai penyedia produk
peternakandiProvinsi NTTtelahdimanfaatkanuntukpemenuhankebutuhandanpermintaan
(demand) masyarakatnya, sedangkan di Provinsi NTB ketersediaan kapasitas alamnya belum
dimanfaatkan secara optimal atau tidak banyaknya permintaan masyarakat terhadap produk
peternakan (ditunjukkan dengan nilai telapak ekologis komponen lahan peternakan pada
Gambar4).
Begitujugadengankomponenlahankehutanan,nilaibiokapasitasnyalebihtinggidibandingkan
dengan nilai telapak ekologisnya. Hal ini menunjukkan bahwa Kepulauan Nusa Tenggara masih
memilikikapasitasalamuntukmenghasilkanprodukkehutanan.
Tabel5.PerhitunganTelapakEkologisdanBiokapasitasKepulauanNusaTenggara

Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi

(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 2.252.807 142.337 722.737 1.672.408 701.612 Defisit
Peternakan 1.338.498 0 161.661 1.176.837 2.385.296 Surplus
Kehutanan 25.917 0 26 25.890 909.241 Surplus
Perikanan 961.244 0 9 961.235 19.757 Defisit
Penyerap Karbon 11 108 0 118 0 -
Lahan terbangun 97.283 0 0 97.283 97.283 -
TOTAL 4.675.760 142.445 884.433 3.933.772 4.113.189 Surplus

Telapak Ekologis Di Indonesia 14

Telapak Ekologis Di Indonesia

Gambar4.PerbandinganTelapakEkologis&Biokapasitas
perProvinsidiKepulauanNusaTenggara
E. HasilAnalisisPerhitunganTelapakEkologisKepulauanMaluku
Dari hasil analisis perhitungan, menunjukkan bahwa daya dukung Kepulauan Maluku sebagai
penyedia sumber daya penghasil produk pertanian dan perikanan telah mengalami defisit,
sedangkan daya dukung sebagai penyedia sumber daya penghasil produk kehutanan masih
surplus. Namun demikian, secara total nilai biokapasitas (2.959.192 gha) dan nilai telapak
ekologis (2.840.801 gha) Kepulauan Maluku mempunyai nilai yang sudah tidak berbeda jauh
(tidaksignifikan).
Ditinjau dari posisi geografis, Kepulauan Maluku yang terletak di tepian Pasifik memiliki posisi
yang sangat strategis. Posisi strategis ini merupakan peluang untuk pengembangan Provinsi
Maluku dan Provinsi Maluku Utara. Pemanfaatan peluang pengembangan Provinsi Maluku dan
Provinsi Maluku Utara akan lebih berarti, karena kedua provinsi tersebut memiliki potensi
sumberdayaalamkelautan.
15
TE BK TE BK
NTB NTT
(gha)
Produksi perikanan laut maupun perikanan darat yang melimpah menjadikan telapak ekologis
konsumsi komponen lahan perikanan di Kepulauan Maluku mempunyai nilai paling tinggi
dibandingkandengankomponenlainnya.Halinidapatdilihatdarinilaitelapakekologisproduksi
komponen lahan perikanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan komponen lainnya. Namun
demikian,nilaitelapakekologiskomponenperikanantelahmelebihinilaibiokapasitasnya,halini
berartipemanfaatansumberdayanyatelahmelebihikapasitassumberdayaperikananyangada.
Kepulauan Maluku juga memiliki potensi sumber daya alam melimpah yang menjadi
penyumbang perekonomian terbesar yaitu sumber daya pertanian. Hal ini juga diperlihatkan
dengan nilai telapak ekologis produksi yang tinggi untuk komponen lahan pertanian. Sama
halnya dengan komponen lahan perikanan, nilai telapak ekologis komponen lahan pertanian
lebih tinggi dibandingkan dengan nilai biokapasitasnya, meskipun nilainya sudah tidak berbeda
jauh. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya pertanian telah melebihi kapasitas
penyedianya.
Surplusnya daya dukung Kepulauan Maluku terhadap penyedia sumber daya kehutanan,
ditunjukkan dengan nilai biokapasitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai telapak
ekologisnya.Tingginyabiokapasitaskomponenlahankehutananberasaldarinilaibiokapasitasdi
ProvinsiMalukuUtara(Gambar5).Dalamhalini,sumberdayaalamhutandiKepulauanMaluku
mempunyai potensi yang besar untuk menghasilkan produk kehutanan dan dalam upaya
pemenuhan kebutuhan masyarakatnya, namun dalam pemanfaatannya tetap harus
memperhatikan peruntukan dan fungsi kawasan hutan sebagai upaya untuk mencapai
keberlanjutan.

Telapak Ekologis Di Indonesia 16

Tabel6.PerhitunganTelapakEkologisdanBiokapasitasKepulauanMaluku
Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 845.955 9.854 130.044 725.766 569.995 Defisit
Peternakan 839.350 0 0 839.350 839.350 -
Kehutanan 145.103 0 467 144.636 1.489.366 Surplus
Perikanan 1.142.985 610 41.322 1.102.273 31.710 Defisit
Penyerap Karbon 5 0 3 3 0 -
Lahan terbangun 28.772 0 0 28.772 28.772 -
TOTAL 3.002.171 10.464 171.834 2.840.801 2.959.192 Surplus

TE BK
Maluku Maluku Utara
BK TE (gha)

Gambar5.PerbandinganTelapakEkologis&Biokapasitas
perProvinsidiKepulauanMaluku

Telapak Ekologis Di Indonesia

17
F. HasilAnalisisPerhitunganTelapakEkologisPulauPapua
JikadilihatpadaTabel7,dapatdiketahuibahwaseluruhdayadukungsumberdayaPulauPapua
sebagai penyedia produk pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan masih surplus,
sehingga secara total daya dukung Pulau Papua masih dalam kondisi surplus yaitu 20.357.741
gha. Meskipun demikian dalam pemanfaatannya tetap harus memperhatikan keberlanjutan
sumberdayadanlingkungan.DarihasilperhitunganbiokapasitastotalPulauPapua,dapatdilihat
juga bahwa kemampuan daya dukung wilayah untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia
tinggi,khususnyasumberdayapertaniandansumberdayakehutanan.
Pulau Papua secara umum mampu mendukung kebutuhan masyarakatnya sendiri, hal ini
tercermin dari nilai telapak ekologis produksi di semua komponen yang tinggi dibandingkan
dengan nilai telapak ekologis impor, khususnya berasal dari komponen lahan pertanian yang
mempunyai nilai telapak ekologis paling tinggi. Hal ini dapat diartikan bahwa konsumsi
masyarakatdiPulauPapuadapatterpenuhiolehproduksilokal.
Salah satu penyebab tingginya nilai biokapasitas komponen lahan kehutanan adalah kondisi
geografis Pulau Papua yang sebagian besar wilayahnya adalah hutan. Hal ini menunjukkan,
potensi yang besar pada sumber daya hutan. Selain nilai biokapasitas komponen lahan
kehutanan yang tinggi, nilai biokapasitas untuk komponen lahan pertanian juga sangat tinggi.
Besarnya biokapasitas lahan pertanian di Pulau Papua masih memungkinkan untuk
meningkatkanproduksipertaniandenganberbagaiteknologi,sehinggaeksploitasisumberdaya
alamtidakhanyadisektorkehutanansajamengingatregenerasitanamanhutanmembutuhkan
waktuyangcukuplama.

Telapak Ekologis Di Indonesia


18

Tabel7.PerhitunganTelapakEkologisdanBiokapasitasPulauPapua
Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 861.436 380 88.068 773.748 9.898.051 Surplus
Peternakan 357.190 0 113.888 243.302 357.190 Surplus
Kehutanan 383.003 0 53.810 329.193 9.165.747 Surplus
Perikanan 282.055 214 262 282.007 401.566 Surplus
Penyerap Karbon 19 0 0 19 0 -
Lahan terbangun 535.186 0 0 535.186 535.186 -
TOTAL 2.418.889 594 256.029 2.163.454 20.357.741 Surplus

TE BK
Papua Barat Papua
TE BK (gha)
Gambar6.PerbandinganTelapakEkologis&Biokapasitas
perProvinsidiPulauPapua

Telapak Ekologis Di Indonesia

19
G. HasilAnalisisTelapakEkologisPulauJawa
SecarakeseluruhandayadukungmasingmasingprovinsidiPulauJawatelahmengalamidefisit
(nilai biokapasitas lebih rendah dibandingkan nilai telapak ekologis). Sektor pertanian menjadi
sektor andalan sekaligus menjadi kontribusi telapak ekologis terbesar diantara komponen
lainnya.NilaitelapakekologiskomponenlahanpertanianyangpalingtinggiadadiProvinsiJawa
Tengah.
Daya dukung Pulau Jawa sebagai penyedia sumber daya penghasil produk kehutanan yang
masih surplus terdapat pada Provinsi Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Sedangkan untuk
komponen lahan perikanan di seluruh Provinsi daya dukungnya telah mengalami defisit. Nilai
telapak ekologis lahan penyerap karbon di Provinsi DKI Jakarta paling tinggi jika dibandingkan
dengan provinsi lainnya di Pulau Jawa, yang kemudian diikuti Provinsi Jawa Timur. Data
perhitungantelapakekologisdanbiokapasitasPulauJawadisajikandalamtabelperprovinsi.
Tabel8.PerhitunganTelapakEkologis&Biokapasitas
ProvinsiDKIJakarta

Penggunaan Lahan
TE Konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 4.343.805 437 Defisit
Peternakan 1.715 10.045 Surplus
Kehutanan 12.616 457 Defisit
Perikanan 2.047.015 133 Defisit
Penyerap Karbon 7.016.882 0 -
Lahan terbangun 130.933 130.933 -
TOTAL 13.552.967 142.005 Defisit

Telapak Ekologis Di Indonesia 20

DayadukungProvinsiDKIJakartatelahmengalamidefisit,terlihatdarinilaitelapakekologisnya
yang jauh lebih tinggi dibandingkan nilai biokapasitasnya. Ketergantungan konsumsi penduduk
DKIJakartaterhadapprovinsilainsangattinggi,terutamapadasektorpertanian,kehutanan,dan
perikanan. Dari seluruh nilai telapak ekologis di Provinsi DKI Jakarta, nilai telapak ekologis
komponenlahanpenyerapkarbonpalingtinggidibandingkandengankomponenlainnya.Halini
dikarenakanpolakonsumsipenggunaanenergiyangtinggiolehmasyarakatProvinsiDKIJakarta
maupunsekitarnya,sepertipadasektortransportasidansektorindustri.
Tabel9.PerhitunganTelapakEkologis&BiokapasitasProvinsiBanten

Penggunaan Lahan
TE Konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 1.799.662 2.246.468 Surplus
Peternakan 61.268 61.268 -
Kehutanan 32.503 39.150 Surplus
Perikanan 388.577 0 -
Penyerap Karbon 303.604 0 -
Lahan terbangun 287.760 287.760 -
TOTAL 2.873.374 2.634.645 Defisit

Berbeda dengan provinsi lainnya, nilai biokapasitas komponen lahan pertanian di Provinsi
Banten masih lebih tinggi dibandingkan dengan nilai telapak ekologisnya. Begitu juga dengan
komponenlahankehutanan,nilaibiokapasitasnyalebihtinggidibandingkandengannilaitelapak
ekologisnyameskipuntidakterlalusignifikanperbedaannya.Halinimenunjukkanpolakonsumsi
yang cenderung lebih hemat pada masyarakat di Provinsi Banten jika dibandingkan dengan
provinsi lain di Pulau Jawa dan Provinsi Banten memiliki potensi yang tinggi di sektor pertanian
namunbelumdimanfaatkanataupuntidaktermanfaatkandenganbaik.

Telapak Ekologis Di Indonesia

21
Tabel10.PerhitunganTelapakEkologis&Biokapasitas
ProvinsiJawaBarat

Penggunaan Lahan
TE Konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 11.628.485 8.497.350 Defisit
Peternakan 251.029 251.029 -
Kehutanan 137.651 211.545 Surplus
Perikanan 2.010.487 22.126 Defisit
Penyerap Karbon 2.249.759 0 -
Lahan terbangun 1.040.251 1.040.251 -
TOTAL 17.317.662 10.022.301 Defisit

Jika melihat Tabel 10, daya dukung Provinsi Jawa Barat yang masih mengalami surplus hanya
terdapatpadasumberdayapenyediaprodukkehutanan.Halinidikarenakandengankeberadaan
kawasan hutan di beberapa dataran tinggi di Provinsi Jawa Barat. Meskipun demikian,
keberadaan kawasan hutan tersebut seharusnya dapat dipertahankan. Kondisi ini seharusnya
menjadi perhatian khusus, karena posisi/letak Provinsi Jawa Barat yang menjadi daerah hulu di
kawasanstrategisJabodetabekpunjur,sehinggamenjadidaerahresapanairyangsecaraekologis
mempunyai fungsi untuk mencegah atau mengurangi dampak negatif terjadinya banjir maupun
tanahlongsor.
Untuk komponen lahan pertanian dan komponen lahan perikanan, daya dukung Provinsi Jawa
Barat terhadap penyedia sumber daya penghasil produk pertanian dan produk perikanan telah
mengalami defisit. Nilai telapak ekologis untuk komponen lahan pertanian Provinsi Jawa Barat
terdapatdiurutankeduatertinggidiPulauJawa.

Telapak Ekologis Di Indonesia


22

Tabel11.PerhitunganTelapakEkologis&Biokapasitas
ProvinsiJawaTengah

Penggunaan Lahan
TE Konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian
16.224.856 756.603 Defisit
Peternakan
0 12.737 -
Kehutanan
194.075 356.272 Surplus
Perikanan
60.313 17.049 Defisit
Penyerap Karbon
1.555.363 0 -
Lahan terbangun
237.227 237.227 -
TOTAL
18.271.834 1.379.888 Defisit

Sama halnya dengan Provinsi Jawa Barat, daya dukung di Provinsi Jawa Tengah yang telah
defisit adalah untuk komponen lahan pertanian dan lahan perikanan. Sedangkan yang masih
surplus,terdapatpadakomponenlahanpeternakandanlahankehutanan.
Nilaitelapakekologiskomponenlahanpertanianmenjadikontribusiterbesaruntuknilaitelapak
ekologissecarakeseluruhan.Halinidisebabkanolehpolakonsumsimasyarakatyangcenderung
masih relatif boros di Provinsi Jawa Tengah maupun di luar provinsi terhadap penggunaan
produk pertanian, serta kurangnya pertimbangan terhadap kemampuan/kapasitas alam dalam
menyediakannya. Untuk komponen lahan kehutanan yang masih surplus, ditunjukkan dengan
nilai biokapasitas yang lebih besar dibandingkan dengan nilai telapak ekologisnya, meskipun
demikiannilainyatidakterlaluberbedajauh(tidaksignifikan).

Telapak Ekologis Di Indonesia

23
Tabel12.PerhitunganTelapakEkologis&Biokapasitas
ProvinsiJawaTimur

Penggunaan Lahan
TE Konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian
4.079.377 217.107 Defisit
Peternakan
117.030 117.030
-
Kehutanan
3.691.916 2,277.175 Defisit
Perikanan
378.308 33.102
Defisit
Penyerap Karbon
4.687.132 0
-
Lahan terbangun
48.277 48.277 -
TOTAL
13.002.039 2.692.692
Defisit

DalamTabel12dapatdiketahuibahwahampirseluruhkomponenpenggunaanlahandiProvinsi
Jawa Timur telah mengalami defisit. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya nilai telapak ekologis
dibandingkandengannilaibiokapasitasnya.BerbedadenganprovinsiprovinsilaindiPulauJawa
dimana nilai telapak ekologis tertinggi pada komponen lahan pertanian, telapak ekologis di
Provinsi Jawa Timur paling tinggi berasal dari komponen lahan penyerap karbon. Hal ini
menggambarkan kotakota di Jawa Timur cenderung lebih boros dalam penggunaan energi
dibandingkandenganprovinsilainnya.
Begitu juga untuk komponen daya dukung wilayah lainnya, yaitu penggunaan lahan pertanian,
lahan kehutanan, dan lahan perikanan telah mengalami defisit terhadap penyediaan sumber
dayapenghasilprodukpadalahantersebut.Halinimenunjukkanpolakonsumsiataukebutuhan
terhadap produk pertanian, produk kehutanan, dan produk perikanan masyarakat Provinsi Jawa
Timuryangrelatiftinggidibandingkandengankemampuan/kapasitasalammenyediakannya.

Telapak Ekologis Di Indonesia


24

Tabel13.PerhitunganTelapakEkologis&BiokapasitasProvinsiDIYogyakarta

Penggunaan Lahan
TE Konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian
1.192.044 393.575 Defisit
Peternakan
55.889 55.889 -
Kehutanan
12.265 2.114 Defisit
Perikanan
26.630 15.326 Defisit
Penyerap Karbon
976.024 0 -
Lahan terbangun
225.896 225.896 -
TOTAL
2.488.750 692.801 Defisit

Sama halnya dengan Provinsi Jawa Timur, hampir seluruh daya dukung Provinsi DI Yogyakarta
sebagai penyedia sumber daya telah mengalami defisit. Nilai telapak ekologis yang lebih tinggi
dibandingkan dengan nilai biokapasitasnya pada lahan pertanian, lahan perikanan, dan lahan
kehutanan, menggambarkan pola konsumsi/kebutuhan yang lebih tinggi pada penggunaan
lahanlahantersebutdibandingkandenganketersediannya.
H. HasilAnalisisTelapakEkologisdiPulauKalimantan
Secara keseluruhan, nilai biokapasitas seluruh provinsi di Pulau Kalimantan masih memiliki nilai
yang tinggi dibandingkan nilai telapak ekologisnya. Hampir di semua provinsi, komponen
penggunaan lahan kehutanan memiliki nilai biokapasitas yang tinggi, kecuali di Provinsi
KalimantanBarat.ProvinsiKalimantanTengahdanKalimantanSelatanberadadiposisipertama
dan kedua terbesar. Pulau Kalimantan adalah salah satu pulau besar di Indonesia yang
mempunyai kawasan hutan yang relatif cukup luas. Salah satu faktor penyebab tingginya nilai
biokapasitas adalah masih luasnya kawasan hutan yang dipertahankan keberadaannya serta
hutanproduksiyangtelahdireboisasi,sehinggadapatmenambahnilaiproduksihasilkehutanan
secaramaksimal.
Telapak Ekologis Di Indonesia

25
UntuknilaibiokapasitaskomponenlahanpertanianyangtertinggidiPulauKalimantanberadadi
Provinsi Kalimantan Tengah. Hal ini menunjukkan potensi sumber daya alam yang besar untuk
sektor pertanian, meskipun demikian hasil perhitungan telapak ekologisnya relatif rendah. Hal
inimenunjukkanbahwapemanfaatansumberdayauntukmenghasilkanprodukpertanianbelum
dilakukan secara optimal. Data perhitungan telapak ekologis dan biokapasitas di Pulau
Kalimantandisajikandalamtabelperprovinsi.
Tabel14.PerhitunganTelapakEkologis&Biokapasitas
ProvinsiKalimantanBarat

Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian
1.296.658 10,404 21.143 1.285.920 0 -
Peternakan
0 0 0 0 7.218.801 -
Kehutanan
0 941 16.342 0 3.506.811 -
Perikanan
0 3.737 866 2.871 133.103 Surplus
Penyerap Karbon
361.693 103 2.609 359.187 0 -
Lahan terbangun
207.222 0 0 207.222 207.222 -
TOTAL
1.865.573 15.186 40.960 1.855.200 11.065.937 Surplus

Secara umum, daya dukung Provinsi Kalimantan Barat sebagai penyedia sumber daya untuk
produk peternakan, produk kehutanan, dan produk perikanan masih dalam kondisi surplus. Dari
semua komponen, nilai biokapasitas yang tertinggi terdapat pada komponen lahan peternakan.
Hal ini menunjukkan kapasitas alam sebagai penghasil produk peternakan masih relatif tinggi.
Untuk nilai telapak ekologis yang tertinggi berasal pada komponen lahan pertanian, dengan
kontribusiterbesarberasaldarinilaitelapakekologisproduksi.

Telapak Ekologis Di Indonesia


26

Tabel15.PerhitunganTelapakEkologis&Biokapasitas
ProvinsiKalimantanTengah

Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian
229.936 0 0 229.936 5.631.332 Surplus
Peternakan
27.356 0 0 27.356 957.572 Surplus
Kehutanan
0 0 0 0 8.636.220 -
Perikanan
411.021 0 0 411.021 3,019 Defisit
Penyerap Karbon
727 123 1.161 0 0 -
Lahan terbangun
0 0 0 0 0 -
TOTAL
669.040 123 1.161 668.314 15.228.143 Surplus

Secara total, daya dukung Provinsi Kalimantan Tengah sebagai penyedia sumber daya masih
dalam kondisi surplus. Sementara untuk per komponen penggunaan lahan, kondisi surplus
terdapat pada komponen pertanian, komponen peternakan, dan komponen kehutanan.
Tingginya nilai biokapasitas komponen kehutanan dibandingkan komponen lain, salah satunya
disebabkan oleh kawasan hutan yang dipertahankan keberadaannya, yang dianalisis sebagai
penghasil produk kehutanan. Nilai biokapasitas komponen lahan pertanian berada di urutan
keduaterbesarsetelahkomponenlahankehutanan.Halinimenggambarkanbesarnyapotensidi
sektor pertanian. Meskipun demikian, masyarakatnya masih belum memanfaatkan secara
optimal sumber daya penghasil produk pertanian atau minimnya permintaan masyarakat
terhadapprodukpertanian.Haliniditunjukkandengannilaitelapakekologisyangsangatjauhdi
bawahkapasitasalammenyediakannya(Tabel15).Untuknilaitelapakekologiskomponenlahan
perikanan mempunyai nilai tertinggi dibandingkan dengan komponen lainnya di Provinsi
Kalimantan Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat terhadap produk
perikananyangrelatiftinggi.
Telapak Ekologis Di Indonesia

27
Tabel16.PerhitunganTelapakEkologis&Biokapasitas
ProvinsiKalimantanSelatan

Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian
1.984.681 1.507.983 734.479 2.758.185 298.634
Defisit
Peternakan
1.243.020 0 0 1.243.020 1.243.020
-
Kehutanan
0 0 156.313 0 7.954.283
-
Perikanan
808.004 0 1.271.624 0 24.548
-
Penyerap Karbon
7.506 2.452.876 4.328 2.456.054 0
-
Lahan terbangun
18.474 0 0 18.474 18.474
-
TOTAL
4.061.685 3.960.859 2.166.745 6.475.733 9.538.958
Surplus
BerbedadenganProvinsiKalimantanTengah,nilaitelapakekologiskomponenlahanpertaniandi
Kalimantan Selatan yang tinggi tidak diimbangi dengan nilai biokapasitasnya. Hal ini
menunjukkan bahwa permintaan masyarakat terhadap produk pertanian dan pola konsumsi
masyarakatnya relatif besar. Jika dilihat secara total pada Tabel 16, daya dukung Provinsi
Kalimantan Selatan masih dalam kondisi surplus. Sama halnya dengan Provinsi Kalimantan
Tengah, nilai biokapasitas komponen lahan kehutanan lebih tinggi dibandingkan dengan
komponen lainnya. Nilai telapak ekologis lahan penyerap karbon yang besar di Provinsi
Kalimantan Selatan yaitu 2.456.054 gha, dikarenakan sumbangan telapak ekologis impornya.
Tingginya nilai ini dikarenakan pola konsumsi energi yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan
transportasidalammendatangkanprodukpertanian(impor).Halinidiindikasikanolehtingginya
nilaitelapakekologisimporuntukkomponenlahanpertanianProvinsiKalimantanSelatan.

Telapak Ekologis Di Indonesia 28

Tabel17.PerhitunganTelapakEkologis&Biokapasitas
ProvinsiKalimantanTimur

Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian
3.332.856 3 0 3.332.860 1.284.869 Defisit
Peternakan
3.081.693 2 0 3.081.694 3.081.693
-
Kehutanan
53.227 0 0 53.227 5.713.033
Surplus
Perikanan
650.948 0 0 650.948 0
-
Penyerap Karbon
5.005 2.407 10.743 0 0
-
Lahan terbangun
2.184 0 0 2.184 2.184 -
TOTAL 7.125.912 2.413 10.743 7.120.913 10.081.779 Surplus

Sama halnya dengan provinsi lain di Pulau Kalimantan, daya dukung terhadap penyedia sumber
daya adalah masih dalam kondisi surplus. Namun demikian, daya dukung Provinsi Kalimantan
Timursebagaipenyediasumberdayapenghasilprodukpertaniansudahmengalamidefisit.Nilai
telapak ekologis tertinggi pertama dan kedua berada pada komponen lahan pertanian dan
komponen lahan peternakan. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan dan pola konsumsi
masyarakat terhadap produk pertanian dan produk peternakan adalah relatif tinggi. Nilai
biokapasitas tertinggi bila dibandingkan dengan komponen lahan lainnya adalah komponen
lahankehutanan.

Telapak Ekologis Di Indonesia

29
I. HasilAnalisisTelapakEkologisdiIndonesia
Tabel18.PerhitunganTelapakEkologisdanBiokapasitasIndonesiaTahun2007
Penggunaan
Lahan
TE Produksi TE Impor TE Ekspor
TE konsumsi
(TEtotal)
Biokapasitas
[gha]
[gha/
orang]
[gha]
[gha/
orang]
[gha]
[gha/
orang]
[gha]
[gha/
orang]
[gha]
[gha/
orang]
(BK-TE)
Pertanian 132.128.012 0,57 11.005.696 0,05 61.028.663 0,26 82.105.045 0,35 81.179.238 0,35 0,00
Peternakan 0 0,00 936.824 0,00 129.466 0,00 807.357 0,00 15.563.052 0,07 0,07
Kehutanan 14.428.007 0,06 1.127.545 0,00 3.728.450 0,02 11.827.101 0,05 49.951.783 0,21 0,16
Perikanan 41.679.658 0,18 1.404.101 0,01 214.550 0,00 42.869.209 0,18 103.461.548 0,44 0,26
Penyerap Karbon 99.619.221 0,43 33.165 0,00 12.022 0,00 99.640.364 0,43 0 0,00 -0,43
Lahan terbangun 11.452.235 0,05 0 0 0 0 11.452.235 0,05 11.452.235 0,00 -0,05
TOTAL 299.307.133 1,29 14.507.331 0,06 65.113.152 0,28 248.701.312 1,07 261.607.856 1,12 0,05

DariTabel18yangmenampilkanhasilperhitungantelapakekologisdanbiokapasitasIndonesiaper
komponen, dapat dilihat daya dukung wilayah Indonesia (selisih antara biokapasitas dan telapak
ekologis) yang masih surplus adalah lahan peternakan, lahan kehutanan, dan lahan perikanan.
Komponen yang menunjukkan nilai paling tinggi adalah lahan perikanan (0,26 gha/orang).
Tingginya biokapasitas lahan perikanan dikarenakan secara geografis wilayah di Indonesia
merupakan wilayah kepulauan dan memiliki perairan yang luas dengan potensi sumber daya
perikanan yang melimpah dan beragam. Untuk komponen penggunaan lahan pertanian,
perbandinganantaranilaitelapakekologisdannilaibiokapasitasnyamemilikinilaiyangsamayaitu
0,35 gha/orang. Hal ini menunjukkan permintaan masyarakat terhadap produk pertanian dan
kapasitasalamsebagaipenyediasumberdayauntukpenghasilprodukpertanianadalahsama.

Telapak Ekologis Di Indonesia 30

Daya dukung wilayah Indonesia untuk penyedia sumber daya hutan berada pada urutan kedua,
yaitu 0,16 gha/orang (setelah lahan perikanan). Sumber daya hutan di Indonesia merupakan
kawasan yang mempunyai 2 (dua) fungsi yang saling bertolak belakang, selain menjadi lokasi
pelestarian lingkungan dan perlindungan ekositem, sebagian kawasan hutan juga dijadikan lokasi
berbagai macam bentuk kegiatan di luar non kehutanan, seperti: perkebunan, pertanian,
permukiman, pertambangan, dan lain sebagainya. Hal ini yang nantinya menggambarkan bahwa
kapasitas alam sumber daya hutan lambat laun semakin berkurang. Meskipun demikian,
perbandingan antara nilai biokapasitas dan nilai telapak ekologis komponen ini masih lebih tinggi
dibandingkan dengan komponen lainnya. Dapat dikatakan, dalam pemanfaatan sumber daya
hutan, masyarakat Indonesia masih memperhatikan fungsi kawasan hutan sebagai kawasan untuk
pelestarianlingkungandanperlindunganekosistem.

TelapakEkologis Biokapasitas
(gha/orang)

Gambar7.PerbandinganTelapakEkologisdanBiokapasitas
perKomponenIndonesiaTahun2007
Telapak Ekologis Di Indonesia

31
Sedangkan daya dukung yang telah mengalami defisit adalah pada lahan penyerap karbon dan
lahan terbangun. Untuk kedua komponen tersebut, tingginya nilai telapak ekologis total
dikarenakansumbangandarinilaitelapakekologisproduksi.Salahsatupenyebabtingginyatelapak
ekologis pada komponen penggunaan lahan untuk lahan penyerap karbon adalah nilai telapak
ekologis produksi lahan penyerap karbon yang tinggi di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Hal
yang menjadi faktor penyebabnya antara lain: banyaknya penggunaan kendaraan pribadi yang
beremisi tinggi, banyak pengelola perkebunan kelapa sawit dan perkebunan karet yang tidak
mengelola limbahnya dengan baik, banyaknya alih fungsi lahan kawasan hutan (seperti: hutan
rawa/hutan gambut dan hutan mangrove) untuk dijadikan penggunaan lahan lainnya seperti
pertanian,perkebunan,maupunlahanterbangun,sertalahanuntukaktivitasindustri.
Tabel19.RekapitulasiPerhitunganTelapakEkologisdanBiokapasitas
perKapitaPulaupulaudiIndonesiaTahun2007

Telapak Ekologis Di Indonesia

PULAU/
KEPULAUAN
TE
(gha/orang)
BK
(gha/orang)
ED
(gha/orang)
Kategori
Sumatera 1.56 1.96 0.40 Surplus
J awa 1.01 0.20 -0.81 Defisit
Bali 1.76 0.24 -1.52 Defisit
Kalimantan 1.26 4.05 2.79 Surplus
Sulawesi 1.46 1.63 0.17 Surplus
Nusa Tenggara 0.45 0.47 0.02 Surplus
Maluku 1.20 1.25 0.05 Surplus
Papua 0.79 7.43 6.64 Surplus
Indonesia 1,07 1,12 0,05 Surplus

32

Tabel 19 memperlihatkan nilai telapak ekologis, nilai biokapasitas, serta nilai defisit ekologis
yang menggambarkan daya dukung wilayah yang telah terlampaui atau belum. Dari hasil
perhitunganmenunjukkanmasyarakatdiPulauJawadanPulauBalitelahmenggunakansumber
daya alam melebihi kapasitas alam penyedianya dengan nilai defisit ekologis masingmasing
adalah 0,81 gha/orang dan 1,52 gha/orang. Daya dukung wilayah yang belum terlampaui
(surplus) yang berada di posisi pertama dan kedua adalah Pulau Papua dan Pulau Kalimantan,
yangnilainyaadalah6,64gha/orangdan2,79gha/orang.
JikamelihatnilaitelapakekologisdannilaibiokapasitasuntukmasingmasingPulaudiIndonesia,
nilai telapak ekologis yang tertinggi terdapat di Pulau Bali dengan nilai 1,76 gha/orang,
sedangkan nilai telapak ekologis terendah terdapat di Kepulauan Nusa Tenggara yaitu 0,45
gha/orang.UntuknilaibiokapasitasyangtertinggiterdapatdiPulauPapuayaitu7,43gha/orang,
sedangkanyangterendahterdapatdiPulauJawadengannilai0,20gha/orang.
Secara keseluruhan nilai biokapasitas Indonesia yaitu 1,12 gha/orang masih lebih tinggi
dibandingkan dengan nilai telapak ekologisnya yaitu 1,07 gha/orang, meskipun nilainya tidak
terlalu berbeda jauh (signifikan). Hasil perhitungan tersebut dapat menjadi acuan bagi
masyarakatIndonesia,bahwadalamupayapemenuhankebutuhannyadanpemanfaatansumber
daya alam yang terdapat di Indonesia sudah seharusnya memperhatikan daya dukung masing
masingwilayah.

Telapak Ekologis Di Indonesia

33

Telapak Ekologis Di Indonesia

Pada aras kebijakan makro, pelaksanaan pembangunan perlu diarahkan untuk mendistribusikan
beban secara lebih merata sehingga tidak terdapat wilayah yang mengalami defisit terlalu dalam
sebagaimana Pulau Jawa dan Pulau Bali saat ini. Hal ini relatif sulit dilaksanakan secara tuntas,
namun beban terhadap lingkungan tetap dapat dikurangi dengan mendorong pengembangan
wilayah di luar Pulau Jawa dan Bali (yang diharapkan dapat menarik penduduk), mewujudkan pola
koleksidistribusibarangyanglebihefisien,sertapenggunaanteknologi.
Konsepkeberlanjutan(alamsemesta)sangattergantungpadakemampuanmanusiauntukmenjaga
dan memelihara ketersediaan sumber daya alam (natural capital) secara terus menerus, baik untuk
generasi sekarang dengan tidak mengabaikan ketersediaan untuk generasi mendatang. Telapak
ekologis(ecologicalfootprint)yangdikembangkanWilliamReesdanMathisWackernagel(1996)dari
GFNUSA, merupakan suatu metoda yang secara praktis dapat diimplementasikan dan mudah
dipahami untuk menentukan tingkat keberlanjutan suatu wilayah. Konsep telapak ekologis ini
didasarkan pada perhitungan besaran atau laju konsumsi sumber daya alam yang dilakukan oleh
manusia(penduduk)dalamsuatuwilayah.
Pada aras yang lebih mikro, perlu diterapkan kebijakan yang dimaksudkan untuk meningkatkan
biokapasitas wilayah dan efisiensi pemanfaatan sumber daya. Peningkatan biokapasitas
dimaksudkan agar lingkungan dapat menyediakan sumber daya dalam jumlah yang memadai,
termasukdalammenyediakanjasajasalingkungan.Sementaraefisiensipemanfaatansumberdaya
dimaksudkanuntukmengurangitekanankepadalingkungan.
Hasil kajian telapak ekologis yang dihasilkan selanjutnya perlu ditindaklanjuti oleh seluruh
pemangku kepentingan agar terwujud kondisi pelaksanaan pembangunan sepenuhnya
memperhatikan kepentingan antargenerasi. Tindak lanjut tersebut mencakup berbagai aras mulai
dariaraskebijakan,strategi, hinggaperubahanperilakumasyarakatagarlebihhematsumberdaya
dalampemenuhankebutuhannya.
D. REKOMENDASI
34

Telapak Ekologis Di Indonesia


35
Secara lebih spesifik, kebijakan di satu wilayah dapat difokuskan pada komponen yang menjadi
dasarperhitunganbiokapasitasdantelapakekologis(pertanian,perikanan,kehutanan,peternakan,
lahan penyerap karbon dan lahan terbangun). Dengan kebijakan yang tepat, diharapkan
produktivitas lahan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, dan lahan terbangun dapat
ditingkatkan.Dengankatalain,perludilakukanupayauntukmeningkatkanyieldfactordarimasing
masing komponen tersebut. Di sisi lain, perlu dilakukan upaya untuk merubah pola konsumsi
masyarakat agar tidak boros sumber daya, termasuk dalam menggunakan energi dan membuang
emisidalamberbagaibentuk.
Berikut adalah beberapa rekomendasi kebijakan dan strategi berbasis telapak ekologis yang dapat
ditindaklanjuti oleh para pemangku kepentingan dalam lebih mewujudkan pengembangan wilayah
danpenataanruangsecaralebihberkelanjutan:
KEBIJAKAN STRATEGI
Penataan
ruangberbasis
telapak
ekologis
Mengembangkansistempusatpelayanandansistemjaringaninfrastruktur
yang lebih efektif sehingga mampu menunjang proses produksi dan
distribusi secara optimal, antara lain dengan mendistribusikan pusatpusat
pelayanan sosialekonomi sesuai dengan pola distribusi penduduk dan
mengembangkan sistem jaringan transportasi (darat, laut, dan udara)
secaraterpadu.
Mengatur penggunaan lahan secara efisien guna menurunkan permintaan
perjalanan yang secara langsung dapat mengurangi penggunaan energi,
antaralaindenganmendorongpenerapankonsepperkotaanyangkompak
(compact city) serta pengaturan fungsi ruang dengan mendekatkan
fungsifungsi yang memiliki intensitas interaksi yang tinggi (misalnya
antarakawasanindustridengankawasanperumahanpekerjanya).

Telapak Ekologis Di Indonesia


KEBIJAKAN STRATEGI
Menerapkan konsep pertumbuhan cerdas (smart growth) kawasan
perkotaanataupengembanganwilayahdengankemampuanefektifdalam
mengukurdanmenekantelapakekologissecarakomprehensif.
Mitigasi bencana alam dan bencana buatan (natural and manmade
disasters) untuk melindungi masyarakat dan kawasan budi daya produktif,
antara lain melalui penataan kawasan yang responsif, pengembangan
infrastruktur yang berwawasan lingkungan, dan penerapan pola
pengelolaanlingkunganyangbaik.
Peningkatan
produktivitas
lahan,
mengurangi
pembukaan
kehutanan
untukkegiatan
pertanian
maupun
peternakan
danperikanan
Reklamasilahanlahanyangmemilikibioproduktivitasrendah.
Mengembangkan dan memanfaatkan energi alternatif untuk mengurangi
penggunaanbahanbakarfosil.
Preservasi, konservasi, dan revitalisasi kawasan kehutanan sebagai
penyedia jasa lingkungan, termasuk dalam preservasi dan konservasi
sumber daya air, penyerapan emisi, serta observasi dan konservasi
keanekaragamanhayati.
Rehabilitasi lahan kritis, baik untuk dikembangkan sebagai kawasan budi
dayaproduktif(perkebunan,hortikultura,kawasanterbangun,dll.)maupun
sebagaikawasanlindung(kehutananlindungdankehutanankonservasi).
Mengelola ekstraksi sumber daya alam untuk menjamin ketersediaan bagi
pemenuhan kebutuhan antargenerasi, termasuk dalam ekstraksi sumber
dayaperikanantangkapagartidakmelampauibataskapasitasproduksi.
Menghindaripraktekpraktekekstensifikasiuntukmeningkatkanproduksi
Mengembangkan dan menerapkan teknik budi daya pertanian, perikanan,
danpeternakanuntukmendorongproduktivitaspersatuanluaslahan.
36

Telapak Ekologis Di Indonesia

37

KEBIJAKAN STRATEGI
Mengembangkan produk pertanian unggulan yang disesuaikan dengan
kemampuanwilayahmasingmasing.
Mengembangkan dan menggunakan varietas tanaman pertanian yang
dapat memberikan hasil panen yang tinggi, serta menerapkan manajemen
pertanianterpadudanmeningkatkanefisiensipenggunaanirigasi.
Mengoptimalkan penggunaan pupuk dan pestisida dalam kegiatan
pertanian dan perikanan, dengan meminimalkan pengembangan kegiatan
pertaniaanyangintensif.
Peningkatan
pengetahuan
dan
penguasaan
teknologi
untukproduksi
(esktraksi,
pengolahan
dan
sebagainya)
Meningkatan kesadaran masyarakat untuk merubah pola konsumsinya
agartidakborossumberdaya,termasukmendoronggerakanreduce,reuse,
recycle(3R)dalampengelolaanlimbah.
Mengutamakan pengembangan dan pemanfaatan (melakukan investasi)
cleantechnology.
Mengembangandanmenerapkanteknologiyangramahlingkungandalam
prosesproduksibarangbarangkebutuhanmasyarakat.
Knowledgesharingantardaerah/provinsidanataulintassektoralterutama
dalam pengelolaan sumber daya alam dan pengembangan produksi yang
berkelanjutan.
Meningkatkan pengetahuan dasar dalam manajemen pertanian,
perternakan,perikanandanpengetahuanekstrasidanpengolahan.
Meningkatkan keterlibatan lembaga penelitian, perguruaan tinggi,
lembaga swadaya masyarakat untuk menyebarkan pengetahuan dan
teknologiproduksidanpascakonsumsi.

Telapak Ekologis Di Indonesia

KEBIJAKAN STRATEGI
Peningkatan
kesejahteraan
tanpa
menaikkan
konsumsi
Menumbuhkembangkanprinsipprinsipkeberlanjutandalampemanfaatan
sumberdayaalam.
Memelihara stock keanekaragaman hayati dan menjamin keberlanjutan
jasa lingkungan dari setiap ekosistem untuk mendukung kegiatan
kehidupan(lokaldanglobal).
Menjamin fungsifungsi ekosistem alami untuk kegiatan pertanian,
peternakan, perikanan termasuk ekosistem kehutanan yang difungsikan
sebagaikehutananrakyatataukehutananlainnya.
Mengembangkan kegiatan produksi yang berkelanjutan pada berbagai
sektorproduksi.
Menjaminketersediaankebutuhankebutuhandasarbagisemuapenduduk
Meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap konsumsi
berkelanjutan.
Mengefisiensikanpenggunaanbarangbarangkonsumsiyangunrenewable.
Mengembangkan dan memanfaatkan energi alternatif untuk mengurangi
penggunaanbahanbakarfosil.
Pengendalian
kegiatan
ekspor
Redesign kebijakan ekspor yang dilakukan selama ini termasuk pula
kebijakan dalam penanaman modal, khususnya bidang pertanian,
perikanandarat,dankehutanan.
Meningkatkan pengawasan dalam kegiatan ekspor, khususnya terhadap
barangbarang yang diproduksi oleh alam (ikan, kayu); termasuk juga
terhadapaktivitasilegal(illegalloggingdanillegalfishing).

38

Telapak Ekologis Di Indonesia


39
Selain permasalahan terkait data, metodologi yang dikembangkan GFN belum sepenuhnya sesuai
dengan kondisi di Indonesia. Hal ini dapat dijelaskan dengan banyaknya jenis komoditas yang
tercantum dalam program perhitungan GFN yang tidak dihasilkan negaranegara tropis seperti
Indonesia. Sebaliknya banyak komoditas endemik Indonesia yang tidak tercantum dalam daftar
komoditas yang dirilis GFN. Hal ini menimbulkan kesulitan dalam membandingkan tingkat
produktivitaslahandiIndonesiadenganrataratadunia(menetapkanyieldfactor).
c. relevansi informasi yang diperoleh dari data dengan kondisi saat ini, mengingat perhitungan
yangdilakukanpadatahun2009bertumpupadadatastatistikyangditerbitkantahun2008yang
berisidatatahun2007.
Telapakekologismerupakanalatuntukmengetahuitingkatkeberlanjutansuatuwilayah,dilihatdari
pola konsumsi masyarakat dan kapasitas alam dalam menyediakan sumber daya. Sebagai sebuah
alat, akurasi telapak ekologis sangat dipengaruhi oleh kualitas data yang dipergunakan dalam
perhitungan.
Dalam perhitungan telapak ekologis di Indonesia, ketersediaan data merupakan satu kendala yang
dihadapitimpenyusun.Secaralebihspesifikkendalatersebutdapatdisampaikansebagaiberikut:
b. sulitnya mengakses datadata yang tidak tersedia di BPS seperti pasokan energi ke suatu
wilayah;
a. minimnyaketersediaandatadaninformasiterkaitpolakonsumsimasyarakatsertadataekspor
imporantarprovinsi;
E. PENUTUP

Telapak Ekologis Di Indonesia


Sebagairekomendasi,kajiantelapakekologissepertiiniperludilakukansecaraperiodik.Disamping
untuk mengetahui perkembangan yang terjadi dari waktu ke waktu, kajian secara periodik
diharapkan dapat memberi kesempatan pada upaya modifikasi metoda perhitungan agar lebih
sesuai dengan kondisi di Indonesia. Upaya yang terakhir ini tentu perlu ditunjang kerja sama yang
baikantaralainsepertidariKementerianPekerjaanUmumcq.DirektoratJenderalPenataanRuang,
lembaga penelitian/perguruan tinggi, Kementerian terkait lainnya, dan Global Footprint Network
(GFN).
Terlepas dari kelemahankelemahan tersebut di atas, hasil kajian telapak ekologis ini diharapkan
dapatmemberikansebuahgambarantentangposisikeberlanjutanekologisIndonesia.Pemahaman
ini selanjutnya diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam merumuskan kebijakan, strategi,
dan program pembangunan yang lebih sensitif terhadap isu keberlanjutan, termasuk melalui
implementasipenataanruang.
40

Telapak Ekologis Di Indonesia

Wackernagel,MathisandRess,WilliamE.1996.OurEcologicalFootprint:ReducingHumanImpacton
TheEarth.Canada:NewSocietyPublishers.
DirektoratJenderalPenataanRuang,KementerianPekerjaanUmum.2009.KajianTelapakEkologis
PulauBali,KepulauanNusaTenggara,KepulauanMaluku,danPulauPapua.
Kitzes, J., A. Galli, S.M. Rizk, A. REED and M. Wackernagel. 2008. Guidebook to the National
FootprintAccounts:2008Edition.Oakland:GlobalFootprintNetwork.
DirektoratJenderalPenataanRuang,KementerianPekerjaanUmum.2009.KajianTelapakEkologis
PulauSumateradanPulauSulawesi.
World Wide Fund on Nature (WWF) China Council for International Cooperation on Environment
andDevelopment(CCICED).2006.ReportonEcologicalFootprintinChina.
41
Khanna.1999.CarryingCapacityAsABasicForSustainableDevelopment.
REFERENSI

Telapak Ekologis Di Indonesia 42

LAMPI RAN

Telapak Ekologis Di Indonesia

43
TabelL1.PerhitunganTelapakEkologis&BiokapasitasProvinsiNAD

Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 3.397.569 815 9.773 3.388.611 6.193.990 Surplus
Peternakan 5.717 0 0 5.717 5.717 -
Kehutanan 2.106.113 0 0 2.106.113 1.248.296 Defisit
Perikanan 1.583.130 77.157 553.008 1.107.279 18.932 Defisit
Penyerap Karbon 3.610 0 0 3.610 0 -
Lahan Terbangun 721.004 0 0 721.004 721.004 -
TOTAL 7.817.143 77.972 562.781 7.332.334 8.187.939 Surplus

Telapak Ekologis Di Indonesia

TabelL2.PerhitunganTelapakEkologis&BiokapasitasProvinsiSumateraUtara

Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian
14.812.846 686.211 8.746.046 6.753.011 19.072.722 Surplus
Peternakan
0 4.276 18 4.258 0 -
Kehutanan
259.911 94 369 259.636 127.162 Defisit
Perikanan
2.980.023 0 0 2,980,023 57.575 Defisit
Penyerap Karbon
13.600 55 2.638 11.017 0 -
Lahan terbangun
1.973.341 0 0 1.973.341 1.973.341 -
TOTAL
20.039.722 690.636 8.749.072 11.981.286 21.230.801 Surplus




L-1

TabelL3.PerhitunganTelapakEkologisdanBiokapasitasProvinsiSumateraBarat
Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 3.037.905 2.238 2.261.039 779.104 5.553.218 Surplus
Peternakan 914 0 0 914 914 -
Kehutanan 43.437 94 3 43.529 41.835 Defisit
Perikanan 1.493.486 0 0 1.493.486 67.799 Defisit
Penyerap Karbon 4.858 4 706 4.155 0 -
Lahan terbangun 323.775 0 0 323.775 323.775 -
TOTAL 4.904.376 2.336 2.261.748 2.644.964 8.322.181 Surplus

TabelL4.PerhitunganTelapakEkologisdanBiokapasitasProvinsiRiau

Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi

(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 12.291.441 20.100 222.003 12.089.537 4.195.846 Defisit
Peternakan 488.344 135 0 488.478 488.344 -
Kehutanan 86.753 5 4.953 81.805 1.500.912 Surplus
Perikanan 500.942 890 0 501.832 0 -
Penyerap Karbon 6.628 0 8 6.621 0 -
Lahan terbangun 464.295 0 0 464.295 464.295 -
TOTAL 13.838.403 21.130 226.964 13.632.568 6.649.397 Defisit

Telapak Ekologis Di Indonesia

L-2
TabelL5.PerhitunganTelapakEkologis&BiokapasitasProvinsiKepulauanRiau

Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 576.659 65.593 791.368 0 2.532.381 -
Peternakan 33.698 18.297 3 51.992 2.749 Defisit
Kehutanan 0 30 118 0 0 -
Perikanan 1.151.446 6.047 0 1.157.493 947 Defisit
Penyerap Karbon 2.707 35 560 2.182 0 -
Lahan terbangun 849.820 0 0 849.820 849.820 -
TOTAL 2.614.329 90.002 792.048 2.061.486 3.385.896 Surplus

TabelL6.PerhitunganTelapakEkologis&BiokapasitasProvinsiBangkaBelitung

Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 741.346 0 181.488 559.858 2.247.611 Surplus
Peternakan 35.879 0 0 35.879 35.615 -
Kehutanan 0 1 0 1 0 -
Perikanan 1.257.477 0 0 1.257.477 561 Defisit
Penyerap Karbon 933 0 131 802 0 -
Lahan terbangun 287.230 0 0 287.230 287.230 -
TOTAL 2.322.865 1 181.619 2.141.247 2.571.017 Surplus

Telapak Ekologis Di Indonesia L-3

TabelL7.PerhitunganTelapakEkologisdanBiokapasitasProvinsiJambi
Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 9.397.837 4.019 5.169 9.396.687 6.780.299 Defisit
Peternakan 0 88 0 88 1.431 Surplus
Kehutanan 299.455 0 773.133 0 714.134 -
Perikanan 70.468 1.349 0 71.817 2.614 Defisit
Penyerap Karbon 3.619 0 0 3.618 0 -
Lahan terbangun 1.187.085 0 0 1.187.085 1.187.085 -
TOTAL 10.958.464 5.456 778.302 10.659.295 8.685.563 Defisit

TabelL8.PerhitunganTelapakEkologis&BiokapasitasProvinsiBengkulu

Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 2.296.968 1.628 851 2.297.744 608.989 Defisit
Peternakan 0 0 0 0 60.066 -
Kehutanan 10.608 0 26.710 0 732.025 -
Perikanan 363.968 0 0 363.968 0 -
Penyerap Karbon 1.256 3 1.324 0 0 -
Lahan terbangun 44.672 0 0 44.672 44.672 -
TOTAL 2.717.472 1.631 28.885 2.706.385 1.445.753 Defisit

Telapak Ekologis Di Indonesia

L-4
TabelL9.PerhitunganTelapakEkologisdanBiokapasitasProvinsiSumateraSelatan
Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 16.886.586 22.017 1.086.917 15.821.686 24.307.647 Surplus
Peternakan 0 0 0 0 183.379 -
Kehutanan 1,482.656 3 6.010.126 0 1.219.514 -
Perikanan 313.363 77.157 553.008 0 28.752 -
Penyerap Karbon 5.606 0 348 5.258 0 -
Lahan terbangun 1.734.570 0 0 1.734.570 1.734.570 -
TOTAL 20.422.780 99.177 7.650.400 17.561.514 27.473.861 Surplus

TabelL10.PerhitunganTelapakEkologis&BiokapasitasProvinsiLampung

Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 5.082.346 242.604 922.267 4.402.684 4.168.835 Defisit
Peternakan 731.823 7 0 731.831 0 -
Kehutanan 257.486 423 0 257.910 460.890 Surplus
Perikanan 801.051 36 0 801.086 104 Defisit
Penyerap Karbon 4.434 173 895 3.713 0 -
Lahan terbangun 663.642 0 0 663.642 663.623 -
TOTAL 7.540.783 243.243 923.161 6.860.865 5.293.452 Defisit

Telapak Ekologis Di Indonesia L-5

TabelL11.PerhitunganTelapakEkologis&BiokapasitasProvinsiSulawesiUtara

Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 1.184.576 0.01 1.931.463 0 2.498.379
-
Peternakan 0 0.00 0 0 402.278
-
Kehutanan 11.783 0.00 4 11.780 240.239
Surplus
Perikanan 3.776.800 0.06 0 3.776.800 106.729
Defisit
Penyerap Karbon 298 0.01 797 0 0
-
Lahan Terbangun 127.161 0.00 0 127.161 127.161
-
TOTAL 5.100.618 0.08 1.932.264 3.915.741 3.374.786 Defisit

TabelL12.PerhitunganTelapakEkologis&BiokapasitasProvinsiSulawesiTengah



Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian
1.520.425 0 0 1.520.425 2.878.813 Surplus
Peternakan
0 0 0 0 695.654 -
Kehutanan
19813 0 5 19.807 2.327.811 Surplus
Perikanan
947.037 0 3 947.034 3.932 Defisit
Penyerap Karbon
1.887 0 32 1.855 0 -
Lahan terbangun
254.313 0 0 254.313 254.313 -
TOTAL
2.743.475 0 40 2.743.434 6.160.523 Surplus

Telapak Ekologis Di Indonesia

L-6
TabelL13.PerhitunganTelapakEkologisdanBiokapasitasProvinsiSulawesiSelatan
Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 2.782.395 23.648 0 2.806.043 5.691.986 Surplus
Peternakan 0 0 0 0 147.596 -
Kehutanan 16.669 16 40 16.644 1.177.451 Surplus
Perikanan 2.038.340 32 0 2.038.372 13.175 Defisit
Penyerap Karbon 4.166 0 2.149 2.016 0 -
Lahan terbangun 289.347 0 0 289.347 289.347 -
TOTAL 5.130.916 23.695 2.190 5.152.422 7.319.554 Surplus

TabelL14.PerhitunganTelapakEkologisdanBiokapasitasProvinsiSulawesiTenggara

Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi

(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 1.165.031 0 18.080 1.146.951 1.976.784 Surplus
Peternakan 0 0 0 0 993.066 -
Kehutanan 37.786 0 8 37.778 1.024.424 Surplus
Perikanan 1.637.658 0 0 1.637.658 13.928 Defisit
Penyerap Karbon 1.685 0 21.203 0 0 -
Lahan terbangun 271.452 0 0 271.452 271.452 -
TOTAL 3.113.612 0 39.291 3.093.839 4.279.653 Surplus

Telapak Ekologis Di Indonesia


L-7

TabelL15.PerhitunganTelapakEkologisdanBiokapasitasProvinsiGorontalo
Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 673.821 5.053 45.729 633.145 461.423 Defisit
Peternakan 0 0 0 0 151.242 -
Kehutanan 16.669 0 620 16.049 349.432 Surplus
Perikanan 719.521 0 0 719.521 2.730.146 Surplus
Penyerap Karbon 1.040 0 27 1.013 0 -
Lahan terbangun 35.811 0 0 35.811 35.811 -
TOTAL 1.446.862 5.053 46.377 1.405.538 3.728.054 Surplus

TabelL16.PerhitunganTelapakEkologisdanBiokapasitasProvinsiSulawesiBarat
Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 909.245 0 0 909.245 1.011.994 Surplus
Peternakan 0 0 0 0 0 -
Kehutanan 2.341 0 0 2.341 720.785 Surplus
Perikanan 599.402 0 0 599.402 0 -
Penyerap Karbon 605 0 39 566 0 -
Lahan terbangun 17.097 0 0 17.097 17.097 -
TOTAL 1.528.690 0 39 1.528.651 1.749.876 Surplus

Telapak Ekologis Di Indonesia

L-8
TabelL17.PerhitunganTelapakEkologis&BiokapasitasProvinsiNusaTenggaraBarat

Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 2.125.497 129.724 25.841 2.229.380 432.392 Defisit
Peternakan 13.411 0 0 13.411 681.910 Surplus
Kehutanan 22.768 0 0 22.768 270.963 Surplus
Perikanan 527.957 0 12 527.944 7.991 Defisit
Penyerap Karbon 2 0 0 2 0 -
Lahan terbangun 35.702 0 0 35.702 35.702 -
TOTAL 2.725.336 129.724 25.853 2.829.207 1.428.959 Defisit

Telapak Ekologis Di Indonesia

TabelL18.PerhitunganTelapakEkologis&BiokapasitasProvinsiNusaTenggaraTimur

Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 1.294.132 12.614 717.084 589.662 416.311 Defisit
Peternakan 385.677 0 21.016 364.661 1.173.877 Surplus
Kehutanan 3.149 0 26 3.123 638.278 Surplus
Perikanan 433.287 0 5 433.283 1.291 Defisit
Penyerap Karbon 9 108 0 116 0 -
Lahan terbangun 65.635 0 0 65.635 65.635 -
TOTAL 2.181.889 12.721 738.131 1.456.479 2.295.392 Surplus

L-9

TabelL19.PerhitunganTelapakEkologis&BiokapasitasProvinsiMaluku

Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 783.303 9.854 130.044 663.114 658.248 Defisit
Peternakan 14.360 0 0 14.360 746.437 Surplus
Kehutanan 8.495 0 0 8.495 1.002 Defisit
Perikanan 682.087 610 7.808 674.889 26.587 Defisit
Penyerap Karbon 2 0 0 2 0 -
Lahan terbangun 17.958 0 0 17.958 17.958 -
TOTAL 1.506.206 10.464 137.851 1.378.819 1.450.233 Surplus

TabelL20.PerhitunganTelapakEkologis&BiokapasitasProvinsiMalukuUtara

Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 159.418 0 0 159.418 54.683 Defisit
Peternakan 92.913 0 0 92.913 92.913 -
Kehutanan 136.607 0 467 136.141 1.488.364 Surplus
Perikanan 460.898 0 33.588 427.310 5.123 Defisit
Penyerap Karbon 3 0 3 1 0 -
Lahan terbangun 7.485 0 0 7.485 7.485 -
TOTAL 857.325 0 34.058 823.267 1.648.567 Surplus

Telapak Ekologis Di Indonesia

L-10
TabelL21.PerhitunganTelapakEkologis&BiokapasitasProvinsiPapua

Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 756.729 380 104.056 653.053 8.463.199 Surplus
Peternakan 46.175 0 103.075 0 46.175 -
Kehutanan 377.730 0 53.810 323.920 5.648.398 Surplus
Perikanan 71.843 231 295 71.779 335.445 Surplus
Penyerap Karbon 10 0 0 10 0 -
Lahan Terbangun 253.947 0 0 253.947 253.947 -
TOTAL 1.506.434 611 261.236 1.302.709 14.747.164 Surplus

Telapak Ekologis Di Indonesia

TabelL22.PerhitunganTelapakEkologis&BiokapasitasProvinsiPapuaBarat




Penggunaan Lahan
TE
Produksi
(gha)
TE
Impor
(gha)
TE
Ekspor
(gha)
TE
konsumsi
(TE
total
)
(gha)
Biokapasitas
(BK)
(gha)
Keterangan
(BK-TE)
Pertanian 106.169 0 0 106.169 1.379.613 Surplus
Peternakan 36.398 0 0 36.398 311.015 Surplus
Kehutanan 5.274 0 0 5.274 3.517.349 Surplus
Perikanan 210.212 0 57 210.155 66.121 Defisit
Penyerap Karbon 9 0 0 9 0 -
Lahan terbangun 227.851 0 0 227.851 227.851 -
TOTAL 585.912 0 57 585.855 5.501.950 Surplus









L-11

TabelL23.RekapitulasiPerhitunganTelapakEkologis&Biokapasitas
perProvinsidiIndonesiaTahun2007
Provinsi
Telapak Ekologis (TE)
(gha/orang)
Biokapasitas (BK)
(gha/orang)
BK TE
(gha/orang)
Kategori
NAD 1,74 1,94 0,20 Surplus
Sumatera Utara 0,93 1,65 0,72 Surplus
Sumatera Barat 0,56 1,21 0,65 Surplus
Riau 2,69 1,31 -1,38 Defisit
J ambi 3,89 3,17 -0,72 Defisit
Sumatera Selatan 2,50 3,91 1,41 Surplus
Bengkulu 1,67 0,89 -0,78 Defisit
Lampung 0,94 0,73 -0,21 Defisit
Bangka Belitung 1,93 2,32 0,39 Surplus
Kepulauan Riau 1,48 2,43 0,95 Surplus
Pulau Sumatera 1,56 1,96 0.40 Surplus
Sulawesi Utara 1,79 1,54 -0,25 Defisit
Sulawesi Tengah 1,14 2,57 1,43 Surplus
Sulawesi Selatan 0,67 0,95 0,28 Surplus
Sulawesi Tenggara 1,52 2,11 0,59 Surplus
Gorontalo 1,46 3,88 2,42 Surplus
Sulawesi Barat 1,50 1,72 0,22 Surplus
Pulau Sulawesi 1,46 1,63 0,17 Surplus
Bali 1,76 0,24 -1,52 Defisit
Nusa Tenggara Barat 0,65 0,33 -0,32 Defisit
Nusa Tenggara Timur 0,33 0,52 0,19 Surplus
Kep.Nusa Tenggara 0,45 0,47 0,02 Surplus
Papua Barat 0,81 7,61 6,80 Surplus
Papua 0,65 7,32 6,67 Surplus
Pulau Papua 0,79 7,43 6,64 Surplus
Telapak Ekologis Di Indonesia

L-12
Provinsi
Telapak Ekologis (TE)

Telapak Ekologis Di Indonesia


(gha/orang)
Biokapasitas (BK)
(gha/orang)
BK TE
(gha/orang)
Kategori
Maluku 0,97 1,02 0,05 Surplus
Maluku Utara 0,87 1,74 0,87 Surplus
Kep.Maluku 1,20 1,25 0,05 Surplus
DKI J akarta 1,48 0,02 -1,46 Defisit
Banten 0,30 0,28 -0,02 Defisit
J awa Barat 0,42 0,24 -0,18 Defisit
J awa Tengah 1,81 0,14 -1,67 Defisit
J awa Timur 1,29 0,27 -1,08 Defisit
J ogyakarta 0,74 0,21 -0,53 Defisit
Pulau Jawa 1,01 0,20 -0,81 Defisit
Kalimantan Barat 0,44 2,65 2,21 Surplus
Kalimantan Tengah 0,33 7,44 7,11 Surplus
Kalimantan Selatan 1,91 2,81 0,9 Surplus
Kalimantan Timur 2,35 3,33 0,98 Surplus
Pulau Kalimantan 1,26 4,05 2,79 Surplus
Indonesia 1,07 1,12 0,05 Surplus

L-13

Telapak Ekologis Di Indonesia

44

Telapak Ekologis Di Indonesia

45