Anda di halaman 1dari 25

Oleh:

Miftah Nur Andamsari


1010313043

Preseptor:
dr. Nasman Puar, Sp.An

Terapi cairan adalah salah satu terapi yang sangat
menentukan keberhasilan penanganan pasien kritis. Terapi
cairan dibutuhkan saat tubuh tidak dapat memasukkan
elektrolit dan zat-zat makanan secara oral, misalnya pada
keadaan pasien harus puasa lama, pembedahan saluran
cerna, perdarahan banyak, syok hipovolemik, anoreksi
berat, mual muntah terus menerus, dan sebagainya. Selain
itu, terapi cairan berguna sebagai tambahan untuk
memasukkan obat dan zat makanan secara rutin juga
menjaga keseimbangan asam-basa.
1,2

Tujuan terapi cairan antara lain sebagai pengganti cairan
yang hilang, mencukupi kebutuhan cairan per hari,
mengatasi syok, mengoreksi dehidrasi, dan mengatasi
kelainan akibat terapi lain.
1

A. Cairan Kristaloid
Merupakan larutan dengan air yang terdiri dari molekul-
molekul kecil yang dapat menembus membrane kapiler dengan
mudah.Biasanya volume pemberian lebih besar, onset lebih
cepat, durasinya singkat, efek samping lebih sedikit dan harga
lebih murah. Hanya 25% dari jumlah pemberian awal yang
tetap berada di intravaskuler, sehingga penggunaannya
membutuhkan volume 3-4 kali dari volume plasma yang
hilang. Cairan kristaloid bersifat mudah keluar dari
intravaskuler, terutama pada kasus terjadi peningkatan
resistensi kapiler seperti pada sepsis. Pada kondisi tersebut,
penting dipikirkan penggantian cairan yang memiliki molekul
lebih besar, yaitu jenis koloid.
3

Ada beberapa macam cairan kristaloid, antara lain:

1. Normal Saline
-Komposisi: Na dan Cl.
-Kemasan 100, 250, 500 dan 1000 ml.
-Indikasi: Resusitasi, Diare, Luka bakar, Gagal ginjal akut.
-Kontraindikasi: hipertonik uterus, hiponatremia, retensi
cairan. Digunakan dengan pengawasan ketat pada CHF,
insufisiensi renal, hipertensi, edema perifer, dan edema paru.
-Adverse Reaction: edema jaringan pada penggunaan volume
besar (biasanya paru-paru), penggunaan dalam jumlah besar
menyebabkan akumulasi natrium.
2. Ringer Laktat (RL)
-Komposisi: Na, K, Ca,Cl, dan Basa.
-Kemasan: 500 dan 1000 ml.
-Keunggulan: komposisi elektrolit dan konsentrasinya sangat
serupa dengan yang dikandung cairan ekstraseluler tubuh.
Natrium merupakan kation utama di plasma darah dan
menentukan tekanan osmotik. Klorida merupakan anion utama
di plasma darah. Kalium merupakan kation terpenting di
intraseluler dan berfungsi untuk konduksi saraf dan otot.
-Indikasi: dehidrasi, syok hipovolemik.
-Kontraindikasi: hipernatremia, kelainan ginjal, kerusakan sel
hati, asidosis laktat
-Adverse reaction: edema jaringan pada penggunaan volume
yang besar, biasanya pada paru-paru.
-Peringatan dan perhatian pada: asidosis laktat, edema perifer
pulmoner, heart failure/impaired renal function dan pre-
eklampsia.
3. Dekstrosa
-Komposisi: Glukosa 50gr/l(5%), 100gr/l(10%),
200gr/l(20%) .
-Kemasan: 100, 250, dan 500 ml.
-Indikasi: sebagai cairan resusitasi pada terapi intravena
serta untuk keperluan hidrasi selama dan sesudah
operasi. Diberikan pada keadaan oliguria ringan sampai
sedang (kadar kreatinin <25mg/100ml).
-Kontraindikasi: Hiperglikemia.
-Adverse reaction: iritasi pada pembuluh darah dan
tromboflebitis.
4. Ringer Asetat (RA)
-Larutan RA berbeda dengan RL, dimana laktat pada RL
terutama dimetabolisme di hati, sementara asetat pada
RA dimetabolisme di otot.
-Metabolisme asetat lebih cepat 3-4 kali dibanding
laktat, sehingga lebih bermanfaat pada terapi dehidrasi
dengan kehilangan bikarbonat massif yang sering terjadi
pada diare.
-Indikasi: resusitasi untuk pasien dengan gangguan hati,
ibu eklampsia atau pre-eklampsia (untuk mencegah
asidosis laktat pada neonatus).
-Pemberian RA tidak mendorong terjadinya
pembengkakan sel, karena itu dapat diberikan pada
stroke akut, terutama bila ada dugaan terjadinya edema
otak.
B. Cairan Koloid
Merupakan larutan yang terdiri dari molekul-
molekul besar yang sulit menembus membran
kapiler, digunakan untuk mengganti cairan
intravaskuler. Umumnya pemberian lebih kecil,
onsetnya lambat, durasinya panjang, efek samping
lebih banyak, dan lebih mahal.
3

Ada beberapa macam cairan koloid, antara lain:
1. Albumin
-Komposisi: Protein 69-kDa yang dimurnikan dari plasma
manusia (contoh: Albumin 5%).
-Produk: Plasbumin 20, Plasbumin 25.
-Merupakan koloid alami dan lebih menguntungkan karena
volume yang dibutuhkan lebih kecil, efek koagulopati lebih
rendah, resiko akumulasi di dalam jaringan pada penggunaan
jangka lama yang lebih kecil dibandingkan starches dan resiko
terjadinya anafilaksis lebih kecil.
-Indikasi: syok hipovolemia, hipoalbuminemia,
hipoproteinemia, operasi, trauma, cardiopulmonary bypass,
hiperbilirubinemia, gagal ginjal akit, pancreatitis, selulitis luas,
luka bakar, ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome),
Spontaneus Bacterial Peritonitis (SBP) yang merupakan
komplikasi dari sirosis.
-Kontraindikasi: Gagal jantung, Anemia Berat.
2. HES (Hydroxyetyl Starches)
-Komposisi: 2 tipe polimer glukosa (amilosa dan
amilopektin).
-Contoh:HAES Steril, Expafusin.
-Indikasi: pada resusitasi post trauma (HES dapat
menurunkan permeabilitas pembuluh darah, sehingga
dapat menurunkan resiko kebocoran kapiler).
-Kontraindikasi: Cardiopulmonary bypass (dapat
meningkatkan resiko perdarahan setelah operasi karena
HES berefek antikoagulan pada dosis >20ml/kg), Sepsis
(karena dapat meningkatkan Acute Renal Failure.)
-Adverse reaction: HES dapat terakumulasi pada jaringan
retikulo endothelial jika digunakan dalam jangka lama
sehingga menimbulkan pruritus.
3. Dextran
-Komposisi: Polimer glukosa hasil sintesis dari bakteri
Leuconostoc mesenteroides yang ditumbuhkan pada media
sukrosa.
-Contoh: Hibiron, Isotic Tearin, Tears Naturale II, Plasmafusin.
-Indikasi: trauma, syok sepsis, iskemia miokard, iskemia
cerebral, dan penyakit vaskuler perifer.
-Mempunyai efek antitrombus dengan cara menurunkan
viskositas darah dan menghambat agregasi platelet.
-Kontraindikasi: pasien dengan tanda-tanda kerusakan
homeostatik (trombositopenia, hipofibrinogenemia), tanda-
tanda gagal jantung, gangguan ginjal dengan oliguria atau
anuria yang parah.
-Adverse reaction: syok anafilaksis, gagal ginjal. Pada dosis
tinggi, dapat menimbulkan efek perdarahan yang signifikan.
4. Gelatin
-Komposisi: Hidrolisis kolagen bovine.
-Contoh: Haemacel, Gelofusine, Mannitol.
-Indikasi: penambah volume plasma dan
mempunyai efek antikoagulan.
-Kontraindikasi: Haemacel tersusun dari sejumlah
besar kalsium, sehingga harus dihindari pada
keadaan hiperkalsemia.
-Adverse reaction: reaksi anafilaksis (resiko lebih
tinggi dibandingkan starches)
Terdapat tiga periode yang dialami oleh pasien apabila
mengalami tindakan pembedahan, yaitu:
1

Terapi cairan prabedah
-Tujuannya:
a. Untuk mengganti puasa: berikan cairan pemeliharaan.
b. Untuk koreksi defisit puasa atau dehidrasi: berikan cairan
kristaloid.
c. Perdarahan akut: berikan kristaloid + koloid atau transfuse
darah.
-Pedoman koreksinya:
Hitung kebutuhan cairan perhari (perjam)
4ml/kgBB/jam untuk berat badan 10 kg pertama
2ml/kgBB/jam untuk berat badan 10 kg kedua
1ml/kgBB/jam untuk sisa berat badan
-Hitung defisit puasa (lama puasa)
Dewasa: 6-8 jam 6-8 maintenance
Anak: 4-6 jam 4-6 maintenance
Bayi: 2 jam 2 maintenance
-Pada jam pertama setelah setelah infuse
terpasang, berikan 50% defisit + cairan
pemeliharaan/jam
-Pada jam kedua, berikan 25% defisit + cairan
pemeliharaan perjam
-Pada jam ketiga, berikan 25% defisit cairan +
cairan pemeliharaan perjam

Terapi cairan selama pembedahan
-Tujuannya:
a. Fasilitas vena terbuka
b. Koreksi kehilangan cairan melalui luka operasi
c. Mengganti perdarahan
d. Mengganti cairan yang hilang melalui organ ekskresi
-Pedoman koreksinya:
Mengikuti pedoman terapi cairan prabedah
Berikan tambahan cairan sesuai jumlah perdarahan + koreksi
cairan sesuai dengan perhitungan cairan yang hilang berdasarkan
jenis operasi yang dilakukan, yaitu: operasi besar (6-
8ml/kgBB/jam), operasi sedang (4-6ml/kgBB/jam), dan operasi
kecil (2-4ml/kgBB/jam).
Koreksi perdarahan selama operasi:
Dewasa
-perdarahan >20% dari perkiraan volume darah: transfusi
darah
-perdarahan <20% dari perkiraan volume darah: berikan
kristaloid 2-3x jumlah perdarahan atau koloid yg jumlahnya
sama dengan perkiraan jumlah perdarahan atau campuran
kristaloid+koloid.

Bayi dan anak
-perdarahan >10% dari perkiraan volume darah: transfuse
darah.
-perdarahan <10% dari perkiraan volume darah: berikan
kristaloid 2-3x jumlah perdarahan atau koloid yg jumlahnya
sama dengan perkiraan jumlah perdarahan atau campuran
kristaloid+koloid.


Jumlah perdarahan selama operasi dihitung berdasarkan:
-Jumlah darah yang tertampung dalam botol
penampung.
-Tambahan berat kasa yang digunakan (1gram=1ml
darah).
-Ditambah dengan faktor koreksi sebesar 25%x jumlah
yang terukur + terhitung (jumlah darah yang tercecer
dan melekat pada kain penutup lapangan operasi).


3. Terapi cairan pasca bedah
-Tujuannya:
a. Fasilitas vena terbuka
b. Pemberian cairan pemeliharaan
c. Nutrisi parenteral
d. Koreksi terhadap kelainan akibat terapi yang lain

-Prinsip terapi cairan pasca bedah adalah:
Dewasa
Pasien yang boleh makan/minum pasca bedah: berikan cairan
pemeliharaan sebagai jalur vena terbuka.
Pasien puasa pasca bedah:
Diperkirakan puasa <3 hari: berikan cairan nutrisi dasar yang
mengandung air + elektrolit + karbohidrat + asam amino esensial
Diperkirakan puasa >3 hari: berikan cairan nutrisi yang
mengandung air + elektrolit + karbohidrat dosis dinaikkan + asam
amino dan pada hari kelima ditambahkan dengan emulsi lemak
Keadaan tertentu: misalnya pada status nutrisi pra bedah yang
buruk, segera diberikan nutrisi parenteral total.
-Pasien puasa pasca bedah:
Diperkirakan puasa <3 hari: berikan cairan nutrisi dasar yang
mengandung air + elektrolit + karbohidrat + asam amino
esensial
Diperkirakan puasa >3 hari: berikan cairan nutrisi yang
mengandung air + elektrolit + karbohidrat dosis dinaikkan +
asam amino dan pada hari kelima ditambahkan dengan emulsi
lemak
Keadaan tertentu: misalnya pada status nutrisi pra bedah yang
buruk, segera diberikan nutrisi parenteral total.


Bayi dan Anak
Prinsipnya sama, hanya komposisinya sedikit berbeda.
Keadaan tertentu
Misalnya pada penderita syok atau anemia, penatalaksanaannya
disesuaikan dengan etiologinya.

Telah disepakati bahwa pemberian terapi cairan dilakukan
melalui jalur vena, baik vena perifer maupun vena sentral.

Untuk pemberian terapi cairan dalam waktu singkat dapat
digunakan vena-vena di punggung tangan, sekita daerah
pergelangan tangan, lengan bawah atau daerah kubiti. Pada
anak kecil dan bayi sering digunakan daerah punggung
kaki, depan mata kaki dalam atau di kepala. Bayi baru
lahir dapat digunakan vena umbilikalis.
1,2

Penggunaan jarum pada vena perifer biasanya perlu
diganti setiap 1-3 hari untuk menghindari infeksi
dan macetnya tetesan. Pemberian cairan infus lebih
lama dari tiga hari, sebaiknya menggunakan kateter
besar dan panjang yang ditusukkan pada vena
femoralis, vena kubiti, vena subklavia, vena
jugularis eksterna atau interna yang ujungnya
sedekat mungkin dengan atrium kanan atau di vena
cava inferior atau superior.
2


Gangguan keseimbangan cairan
Pada umumnya akan terjadi kelebihan cairan sehingga bisa
menimbulkan payah jantung dan udem baik di otak, paru
dan jaringan lainnya. Hal ini terjadi karena pemantauannya
tidak adekuat.
1


Gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa
Hal ini terjadi apabila pilihan cairan tidak tepat.
1

Komplikasi akibat kanulasi
Terutama pada kanulasi vena sentral. Bisa terjadi
hematom, emboli udara, pneumo-hidro-hematotoraks,
dan reflex vagal.
1


Infeksi
Infeksi lokal pada jalur vena yang dilalui sehingga
menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Kemungkinan bisa
terjadi sepsis bila keadaan asepsis kurang diperhatikan,
terutama pada kanulasi vena sentral yang digunakan
untuk memasukkan obat suntik berulang.
1


1. Mangku G, Tjokorda G.2010. Buku Ajar Ilmu
Anestesia dan Reanimasi. PT Indeks: Jakarta
2. Alif S, Kartini A, Ruswan D. 2009. Petunjuk
Praktis Anestesiologi. FKUI: Jakarta
3. Manajemen Dasar Cairan [computer program].