Anda di halaman 1dari 8

RESUME FSO II

EPILEPSI
Disusun Oleh : Novaria Harindra Sari (125070501111005)


Definisi
Epilepsi adalah suatu kelainan kronis di otak yang ditandai adanya bangkitan yang berulang
Etiologi Epilepsi
Faktor yang mempengaruhi terjadinya kejang :
Alkohol / obat obatan
Berdiri terlalu lama (hipoksia)
Olahraga yang berlebihan (hipoksia)
Hipersensitivitas
Stres
Jenis kelamin laki - laki
Epilepsi bisa disebabkan beberapa penyakit :
1. Hipoksia saat melahirkan
2. Meningitis
3. Trauma pada otak
4. Stroke
5. Alzeimer
6. Tumor otak
7. Kelainan genetic
Penyebab epilepsy berdasarkan usia ;
10 20 tahun : idiopatik
<10 tahun : febril
Infant : head injury

Klasifikasi Kejang
1. Kejang Parsial / Vokal
Kejang parsial dapat disebabkan oleh suatu lesi pada beberapa bagian korteks, seperti tumor,
malformasi perkembangan atau stroke.
a. Sederhana (tanpa gangguan kesadaran)
o Disertai gejala motor
o Disertai gejala sensori khusus atau somatosensori
o Disertai gejala kejiwaan
b. Kompleks (disertai gangguan kesadaran)
o Kejang parsial sederhana, diikuti gangguan kesadaran dengan atau tanpa gerakan
otomatis.
o Diawali gangguan kesadaran, diikuti gangguan kesadaran dengan atau tanpa gerakan
otomatis.
c. Umum sekunder (pada awalnya kejang parsial dan berubah menjadi kejang tonik-klonik).
2. Kejang Global / General
Kejang umum sering disebabkan oleh genetik.
a. Absen
Tiba tiba hilang kesadaran (blank), tandanya adalah mata berkedip kedip dan mulut
seperti mengunyah sesuatu tanpa sadar. Jika terjadi lebih dari 30 menit maka termasuk status
epileptikus.
b. Myoklonik
c. Tonik-klonik
Efek psikologis pada kejang ini lebih besar karena gangguan terjadi secara menyeluruh.

Patofisiologi
1. Ketidakseimbangan antara neurotransmiter eksitatori dan inhibitori.
Defisiensi neurotransmiter inhibitori seperti Gamma Amino Butyric Acid (GABA) atau
peningkatan neurotransmiter eksitatori seperti glutamat menyebabkan aktivitas neuron
tidak normal.
Neurotransmiter eksitatori (aktivitas pemicu kejang) yaitu, glutamat, aspartat, asetil
kolin, norepinefrin, histamin, faktor pelepas kortikotripin, purin, peptida, sitokin dan
hormon steroid.
o Langsung :
Pompa natrium dan kalsium membuka, sehingga natrium dan kalsium masuk yang
menyebabkan sel menjadi lebih elektropositif dan terjadi bangkitan.
o Tidak Langsung :
Pompa kalium tertutup sehingga di dalam sel menjadi lebih elektropositif dan terjadi
bangkitan.
Neurotransmiter inhibitori (aktivitas menghambat neuron) yaitu, dopamin dan Gamma
Amino Butyric Acid (GABA).
o Langsung :
Ion Cl- masuk ke sel saraf sehingga sel menjadi lebih elektronegatif dan terjadi
relaksasi.
o Tidak Langsung :
a. Pompa K+ membuka kemudian kalium keluar sel sehingga sel menjadi lebih
elektronegatif dan terjadi relaksasi
b. Pompa kalsium menutup, sehingga kalsium tidak dapat memasuki sel dan sel
menjadi elektronegatif.
2. Serangan kejang juga diakibatkan oleh abnormalitas konduksi kalium, kerusakan kanal ion,
dan defisiensi ATPase yang berkaitan dengan transport ion, dapat menyebabkan ketidak
stabilan membran neuron.

Gejala
Gajala kejang yang spesifik, tergantung pada jenis kejang. Jenis kejang pada setiap pasien
dapat bervariasi, namun cenderung sama.
Somatosensori atau motor fokal terjadi pada kejang kompleks parsial.
Kejang kompleks parsial terjadi gangguan kesadaran.
Kejang absens mempunyai efek yang ringan dengan gangguan kesadaran yang singkat.
Kejang tonik-klonik umum mempunyai episode kejang yang lama dan terjadi kehilangan
kesadaran.

Penegakan Diagnosis
1. EEG (electroencephalogram) sangat berguna dalam diagnosis berbagai macam jenis
epilepsi.
2. EEG mungkin normal pada beberapa pasien yang secara klinis masih terdiagnosis epilepsi.
3. MRI (magnetic resonance imaging) sangat bermanfaat (khususnya dalam menggambarkan
lobus temporal), tetapi CTscan tidak membantu, kecuali dalam evaluasi awal untuk tumor
otak atau perdarahan serebral.
4. Untuk kejang tonik klonik bias dilihat kadar prolactin pada pituitary yang dipengaruhi FSH
dan LH.

3 Poin penting untuk segera MRS :
1. Kejang terjadi > 15 menit
2. Kejang diikuti kejang berikutnya tanpa ada fase sadar
3. Terjadi luka

Penggolongan obat antiepilepsi
1. Hidantoin
a. Fenitoin
o Obat pilihan pertama untuk kejang umum, kejang tonik-klonik, dan pencegahan
kejang pada pasien trauma kepala/bedah saraf.
o Memiliki range terapetik sempit sehingga pada beberapa pasien dibutuhkan
pengukuran kadar obat dalam darah.
o Mekanisme aksi : menghambat kanal sodium (Na
+
) yang mengakibatkan influk
(pemasukan) ion Na
+
kedalam membran sel berkurang dan menghambat
terjadinya potensial aksi oleh depolarisasi terus-menerus pada neuron.
o Dosis awal penggunaan fenitoin 5 mg/kg/hari dan dosis pemeliharaan 20
mg/kg/hari tiap 6 jam.
o Efek samping :
Depresi pada SSP, sehingga mengakibatkan lemah, kelelahan, gangguan
penglihatan (penglihatan berganda), disfungsi korteks dan mengantuk.
Pemberian fenitoin dosis tinggi dapat menyebabkan gangguan keseimbangan
tubuh dan nystagmus. Salah satu efek samping kronis yang mungkin terjadi
adalah gingival hyperplasia (pembesaran pada gusi). Menjaga kebersihan rongga
mulut dapat mengurangi resiko gingival hyperplasia.
2. Barbiturat
a. Fenobarbital
o Efektif untuk kejang parsial dan kejang tonik-klonik.
o Efikasi, toksisitas yang rendah, serta harga yang murah menjadikan fenobarbital
obat yang penting.
o Namun, efek sedasinya serta kecenderungannya menimbulkan gangguan perilaku
pada anak-anak telah mengurangi penggunaannya sebagai obat utama.
o Mekanisme aksi : kemampuannya untuk menurunkan konduktan Na dan K.
Fenobarbital menurunkan influks kalsium dan mempunyai efek langsung
terhadap reseptor GABA (aktivasi reseptor barbiturat akan meningkatkan durasi
pembukaan reseptor GABA
A
dan meningkatkan konduktan post-sinap klorida).
Selain itu, fenobarbital juga menekan glutamate excitability dan meningkatkan
postsynaptic GABAergic inhibition.
o Dosis awal penggunaan fenobarbital 1-3 mg/kg/hari dan dosis pemeliharaan 10-
20 mg/kg 1kali sehari.
o Efek samping SSP merupakan hal yang umum terjadi pada penggunaan
fenobarbital. Efek samping lain yang mungkin terjadi adalah kelelahan,
mengantuk, sedasi, dan depresi. Penggunaan fenobarbital pada anak-anak dapat
menyebabkan hiperaktivitas. Fenobarbital juga dapat menyebabkan kemerahan
kulit, dan Stevens-Johnson syndrome.

3. Deoksibarbiturat
a. Primidon
o Untuk terapi kejang parsial dan kejang tonik-klonik.
o Primidon mempunyai efek penurunan pada neuron eksitatori. Efek anti kejang
primidon hampir sama dengan fenobarbital, namun kurang poten. Didalam tubuh
primidon dirubah menjadi metabolit aktif yaitu fenobarbital dan
feniletilmalonamid (PEMA). PEMA dapat meningkatkan aktifitas fenobarbotal.
o Dosis primidon 100-125 mg 3 kali sehari.
o Efek samping yang sering terjadi antara lain adalah pusing, mengantuk,
kehilangan keseimbangan, perubahan perilaku, kemerahan dikulit, dan
impotensi.
4. Iminostilben
a. Karbamazepin
o Karbamazepin secara kimia merupakan golongan antidepresan trisiklik.
o Sebagai pilihan pertama pada terapi kejang parsial dan tonik-klonik.
o Karbamazepin menghambat kanal Na
+
, yang mengakibatkan influk
(pemasukan) ion Na
+
kedalam membran sel berkurang dan menghambat
terjadinya potensial aksi oleh depolarisasi terus-menerus pada neuron.
o Dosis pada anak dengan usia kurang dari 6 tahun 10-20 mg/kg 3 kali sehari,
anak usia 6-12 tahun dosis awal 200 mg 2 kali sehari dan dosis pemeliharaan
400-800 mg. Sedangkan pada anak usia lebih dari 12 tahun dan dewasa 400 mg
2 kali sehari.
o Efek samping yang sering terjadi pada penggunaan karbamazepin adalah
gangguan penglihatan (penglihatan berganda), pusing, lemah, mengantuk, mual,
goyah (tidak dapat berdiri tegak) dan Hyponatremia. Resiko terjadinya efek
samping tersebut akan meningkat seiring dengan peningkatan usia.
b. Okskarbazepin
o Analog keto karbamazepin.
o Prodrug yang didalam tubuh akan segera dirubah menjadi bentuk aktifnya, yaitu
suatu turunan 10-monohidroksi dan dieliminasi melalui ekskresi ginjal. Untuk
pengobatan kejang parsial.
o Mekanisme aksi : mirip dengan mekanisme kerja karbamazepin.
o Dosis penggunaan okskarbazepin pada anak usia 4-16 tahun 8-10mg/kg 2 kali
sehari sedangkan pada dewasa, 300 mg 2 kali sehari.
o Efek samping penggunaan okskarbazepin adalah pusing, mual, muntah, sakit
kepala, diare, konstipasi, dispepsia, ketidak seimbangan tubuh, dan kecemasan.
Okskarbazepin memiliki efek samping lebih ringan dibanding dengan fenitoin,
asam valproat, dan karbamazepin. Okskarbazepin dapat menginduksi enzim
CYP450.
5. Suksimid
a. Etosuksimid
o Untuk terapi kejang absens.
o Etosuksimid menghambat pada kanal Ca
2+
tipe T. Talamus berperan dalam
pembentukan ritme sentakan yang diperantarai oleh ion Ca
2+
tipe T pada kejang
absens, sehingga penghambatan pada kanal tersebut akan mengurangi sentakan
pada kejang absens.
o Dosis etosuksimid pada anak usia 3-6 tahun 250 mg/hari untuk dosis awal dan
20 mg/kg/hari untuk dosis pemeliharaan. Sedangkan dosis pada anak dengan
usia lebih dari 6 tahun dan dewasa 500 mg/hari.
o Efek samping penggunaan etosuksimid adalah mual dan muntah, efek samping
penggunaan etosuksimid yang lain adalah ketidakseimbangan tubuh,
mengantuk, gangguan pencernaan, goyah (tidak dapat berdiri tegak), pusing dan
cegukan.
6. Asam valproat
o Pilihan pertama untuk terapi kejang parsial, kejang absens, kejang mioklonik, dan kejang
tonik-klonik.
o Asam valproat dapat meningkatkan GABA dengan menghambat degradasi nya atau
mengaktivasi sintesis GABA. Asam valproat juga berpotensi terhadap respon GABA
post sinaptik yang langsung menstabilkan membran serta mempengaruhi kanal kalium.
o Dosis penggunaan asam valproat 10-15 mg/kg/hari.
o Efek samping yang sering terjadi adalah gangguan pencernaan (>20%), termasuk mual,
muntah, anorexia, dan peningkatan berat badan. Efek samping lain yang mungkin
ditimbulkan adalah pusing, gangguan keseimbangan tubuh, tremor, dan kebotakan.
Asam valproat mempunyai efek gangguan kognitif yang ringan. Efek samping yang
berat dari penggunaan asam valproat adalah hepatotoksik. Hyperammonemia (gangguan
metabolisme yang ditandai dengan peningkatan kadar amonia dalam darah) umumnya
terjadi 50%, tetapi tidak sampai menyebabkan kerusakan hati.
o Penggunaan fenitoin dan valproat secara bersamaan dapat meningkatkan kadar
fenobarbital dan dapat memperparah efek sedasi yang dihasilkan.
o Valproat juga dapat menghambat metabolisme lamotrigin, fenitoin, dan karbamazepin.
o Obat yang dapat menginduksi enzim dapat meningkatkan metabolisme valproat.
7. Benzodiazepin
o Agonis GABA
A
, sehingga aktivasi reseptor benzodiazepin akan meningkatkan frekuensi
pembukaan reseptor GABA
A
.
o Dosis benzodiazepin untuk anak usia 2-5 tahun 0,5 mg/kg, anak usia 6-11 tahun 0,3
mg/kg, anak usia 12 tahun atau lebih 0,2 mg/kg (11), dan dewasa 4-40 mg/hari.
o Efek samping yang mungkin terjadi pada penggunaan benzodiazepin adalah cemas,
kehilangan kesadaran, pusing, depresi, mengantuk, kemerahan dikulit, konstipasi, dan
mual.
8. Obat antiepilepsi lain
a. Gabapentin
o Pilihan kedua untuk penanganan parsial epilepsi walaupun kegunaan utamanya
adalah untuk pengobatan nyeri neuropati.
o Gabapentin dapat meningkatkan pelepasan GABA nonvesikel melalui mekanisme
yang belum diketahui. Gabapentin mengikat protein pada membran korteks saluran
Ca
2+
tipe L. Namun gabapentin tidak mempengaruhi arus Ca
2+
pada saluran Ca
2+

tipe T, N, atau L. Gabapentin tidak selalu mengurangi perangsangan potensial aksi
berulang terus-menerus.
o Dosis gabapentin untuk anak usia 3-4 tahun 40 mg/kg 3 kali sehari, anak usia 5-12
tahun 25-35 mg/kg 3 kali sehari, anak usia 12 tahun atau lebih dan dewasa 300 mg
3 kali sehari.
o Efek samping yang sering dilaporkan adalah pusing, kelelahan, mengantuk, dan
ketidakseimbangan tubuh. Perilaku yang agresif umumnya terjadi pada anak-anak.
Beberapa pasien yang menggunakan gabapentin mengalami peningkatan berat
badan.
b. Lamotrigin
o Generasi baru dengan spektrum luas yang memiliki efikasi pada parsial dan epilepsi
umum.
o Mekanisme aksi utama lamotrigin adalah blokade kanal Na, menghambat aktivasi
arus Ca
2+
serta memblok pelepasan eksitasi neurotransmiter asam amino seperti
glutamat dan aspartat. Dosis lamotrigin 25-50 mg/hari.
o Penggunaan lamotrigin umumnya dapat ditoleransi pada pasien anak, dewasa,
maupun pada pasien geriatri.
o Efek samping yang sering dilaporkan adalah gangguan penglihatan (penglihatan
berganda), sakit kepala, pusing, dan goyah (tidak dapat berdiri tegak). Lamotrigin
dapat menyebabkan kemerahan kulit terutama pada penggunaan awal terapi 3-4
minggu. Stevens-Johnson syndrome juga dilaporkan setelah menggunakan
lamotrigin.
c. Levetirasetam
o Untuk terapi kejang parsial, kejang absens, kejang mioklonik, kejang tonik-klonik.
o Mekanisme levetirasetam dalam mengobati epilepsi belum diketahui. Namun pada
suatu studi penelitian disimpulkan levetirasetam dapat menghambat kanal Ca
2+
tipe
N dan mengikat protein sinaptik yang menyebabkan penurunan eksitatori (atau
meningkatkan inhibitori). Proses pengikatan levetiracetam dengan protein sinaptik
belum diketahui.
o Dosis levetirasetam 500-1000 mg 2 kali sehari.
o Efek samping yang umum terjadi adalah sedasi, gangguan perilaku, dan efek pada
SSP. Gangguan perilaku seperti agitasi, dan depresi juga dilaporkan akibat
penggunaan levetirasetam.
d. Topiramat
o Digunakan tunggal atau tambahan pada terapi kejang parsial, kejang mioklonik, dan
kejang tonik-klonik.
o Menghambat kanal sodium (Na
+
), meningkatkan aktivitas GABA
A
, antagonis
reseptor glutamat AMPA/kainate, dan menghambat karbonat anhidrase yang lemah.
o Dosis topiramat 25-50 mg 2 kali sehari.
o Efek samping utama yang mungkin terjadi adalah gangguan keseimbangan tubuh,
sulit berkonsentrasi, sulit mengingat, pusing, kelelahan, paresthesias (rasa tidak
enak atau abnormal). Topiramat dapat menyebabkan asidosis metabolik sehingga
terjadi anorexia dan penurunan berat badan.
e. Tiagabin
o Untuk terapi kejang parsial pada dewasa dan anak 16 tahun.
o Meningkatkan aktivitas GABA, antagonis neuron atau menghambat reuptake
GABA.
o Dosis tiagabin 4 mg 1-2 kali sehari.
o Efek samping yang sering terjadi adalah pusing, asthenia (kekurangan atau
kehilangan energi), kecemasan, tremor, diare dan depresi. Penggunaan tiagabin
bersamaan dengan makanan dapat mengurangi efek samping SSP.
f. Felbamat
o Hanya digunakan bila terapi sebelumnya tidak efektif dan pasien epilepsi berat
yang mempunyai resiko anemia aplastik.
o Mekanisme aksi : menghambat kerja NMDA dan meningkatkan respon GABA.
o Dosis felbamat untuk anak usia lebih dari 14 tahun dan dewasa 1200 mg 3-4 kali
sehari.
o Efek samping yang sering dilaporkan terkait dengan penggunaan felbamat adalah
anorexia, mual, muntah, gangguan tidur, sakit kepala dan penurunan berat badan.
Anorexia dan penurunan berat badan umumnya terjadi pada anak-anak dan pasien
dengan konsumsi kalori yang rendah.
g. Zonisamid
o Terapi tambahan kejang parsial pada anak lebih dari 16 tahun dan dewasa.
o Mekanisme aksi zonisamid adalah dengan menghambat kanal kalsium (Ca
2+
) tipe
T.
o Dosis zonisamid 100 mg 2 kali sehari.
o Efek samping yang umum terjadi adalah mengantuk, pusing, anorexia, sakit
kepala, mual, dan agitasi. Pengobatan epilepsy bias dikurangi atau dihentikan jika
selama minimum 2 tahun bebas kejang
Penggunaan fenobarbital dan pirimidon apabila terlupa, segera minum saat itu juga. Namun
jika sudah 1 jam mendekati jadwal selanjutnya, obat diminum pada jadwal selanjutnya.
Penggunaan obat sebaiknya diberi jeda waktu sekitar 4 jam dari penggunaan antasida.
Apabila penggunaan fenitoin untuk kejang tonik klonik tidak berefek, jangan
menghentikannya secara langsung karena dapat menyebabkan terjadinya status epileptikum.
Klonazepam digunakan untuk epilepsi yang sulit diobati sampai 11 tahun.
Pada Lansia sebelum pengobatan dilakukan pemeriksaan fungsi hati dan ginjal terlebih
dahulu.
Pada wanita hormone estrogen dapat meningkatkan terjadinya epilepsi, sedangkan hormone
progesteron dapat menurunkan terjadinya epilepsi.
Pengaruh kehamilan :
Prematur
Berat Badan Lahir rendah
Microensephali (ukuran otak bayi kecil)
Gagal tumbuh kembang
Salah satu komplikasi epilepsy saat persalinan adalah terjadi perdarahan
Pada ibu hamil yang memiliki riwayat epilepsi, resiko untuk terjadi kejang sangat besar pada
kehamilan > 20 minggu.
Tindakan pertama pada penderita epilepsy :
1. Tetap tenang
2. Segera dipindahkan pada tempat yang lebih aman dan teduh.
3. Biarkan kejang terjadi (jangan dipegangi)
4. Lepaskan kaca mata dan perhiasan yang mengikat
5. Hitung waktu terjadinya kejang
6. Beri handuk pada mulut
Terapi Non Farmakologi :
1. Diet (batasi glutamat (MSG))
2. Operasi
3. Penanaman implant
Anjuran bagi penderita epilepsi :
1. Tidak berenang atau bersepeda sendirian
2. Cukup tidur
3. Hindari alcohol
4. Segera atasi demam