Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH FISIKA

Sterilisasi Kering

Disusun Oleh:
Elsaday Putri K
Hanifa
Isna Asri Arumsari
Rizki Rian C

(125070500111020)
(125070506111001)
(125070507111007)
(125070507111009)

PRODI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam praktikum ataupun dalam penelitian terutama dalam bidang
mikrobiologi digunakan beberapa peralatan standar yang harus disterilisasi
terlebih dahulu sebelum digunakan. Dalam bidang bioteknologi, kata
sterilisasi sering dipakai untuk menggambarkan langkah yang diamil agar
media akan atau membunuh semua bentuk kehidupan mikroorganisme,
karena pentingnya cara-cara mematikan, menyingkirkan dan menghambat
pertumbuhan mikroorganisme dalam mikrobiologi maka proses sterilisasi
sangat diperlukan.
Salah satu hal yang terpenting dalam kegiatan yang bersinggungan
dengan aktivitas mikrobiologi adalah proses sterilisasi. Tujuan utama dengan
adanya sterilisasi adalah untuk meminimalisir atau meniadakan potensi
kontaminasi dari mikroba yang tidak diinginkan. Kontaminasi yang timbul
dari mikroba yang tidak diharapkan dikhawatirkan dapat menghambat
aktivitas dari mikroba yang ditumbuhkan atau dapat membahayakan
keselamatan dari pelaksana kegiatan tersebut. Metode sterilisasi yang
dilakukan diupayakan berlangsung secara cepat dan dapat meminimalkan
atau menghilangkan potensi kontaminasi mikroba seefektif mungkin. Proses
sterilisasi yang tidak sempurna dapat menyebabkan munculnya kontaminasi
mikroba baik yang berasal dari peralatan tersebut atau kontaminasi mikroba
dari lingkungan.
Sterilisasi merupakan usaha untuk membebaskan alat dari segala bentuk
kehidupan. Dalam melakukan suatu pekerjaan dalam praktek mikrobiologi
sangat dipengaruhi oleh kebersihan suatu alat yang digunakan sehingga perlu
dilakukan sterilisasi untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal pada saat
melakukan biakan murni yaitu hanya satu spesies mikroba yang berkembang.
Salah satu sterilisasi yang dilakukan yaitu dengan Sterilisasi kering atau biasa
disebut sterilisasi udara panas dimana sterilisasi ini menggunakan udara panas
yang karakteristiknya adalah menggunakan oven dengan suhu tinggi (160180 C) dengan waktu yang lama. Metode sterilisasi kering ini tidak

membutuhkan air sehingga tidak ada uap air yang membasahi alat atau bahan
yang disterilkan.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui pengertian sterilisasi kering.
2. Mengetahui proses dalam sterilisasi kering.
3. Mengetahui kelebihan dan kekurangan metode sterilisasi kering.
1.3 Rumusan Masalah
1. Apa itu sterilisasi kering ?
2. Bagaimana proses dalam sterilisasi kering ?
3. Apa kelebihan dan kekurangan dari metode sterilisasi kering ?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sterilisasi Kering
Sterilisasi kering atau biasa disebut sterilisasi udara panas yaitu sterilisasi
dengan

menggunakan

udara

panas

dimana

karakteristiknya

adalah

menggunakan oven dengan suhu tinggi (160-180 C) dengan waktu yang

lama sekitar 1-3 jam. Metode sterilisasi kering ini tidak membutuhkan air
sehingga tidak ada uap air yang membasahi alat atau bahan yang disterilkan.
Metode ini merupakan metode yang paling dapat dipercaya dan banyak
dipergunakan. Sterilisasi ini berfungsi untuk mematikan organisme dengan
cara mengoksidasi komponen sel ataupun mendenaturasi enzim. Metode ini
tidak dapat digunakan untuk bahan yang terbuat dari karet atau plastik
melainkan digunakan untuk sterilisasi alat gelas yang tidak berskala, alat
bedah, minyak lemak, parafin, petrolatum, serbuk stabil seperti talk, kaolin,
ZnO. Metode sterilisasi panas kering digunakan untuk bahan yang sensitif
terhadap lembab dan tahan terhadap panas tinggi.
Ada dua metode sterilisasi panas kering, yaitu dengan insinerasi
(incineration) yaitu pembakaran dengan menggunakan api dengan temperatur
sekitar 350C dan dengan udara panas oven yang lebih sederhana serta murah
dengan temperatur sekitar 160-180C.
2.2 Proses Sterilisasi Kering
Proses sterilisasi kering terjadi melalui mekanisme konduksi panas.
Panas akan diabsorpsi oleh permukaan luar alat yang disterilkan, lalu
merambat ke bagian dalam permukaan sampai akhirnya suhu untuk sterilisasi
tercapai. Sterilisasi udara panas biasanya digunakan untuk alat-alat atau
bahan dengan uap yang tidak dapat dpenetrasi secara mudah atau untuk
peralatan yang terbuat dari kaca. Pada sterilisasi udara panas, pembunuhan
mikroorganisme terjadi melalui mekanisme oksidasi sampai terjadinya
koagulasi protein sel. Karena panas dan kering kurang efektif dalam
membunuh mikroba dari autoklaf, maka sterilisasi memerlukan temperatur
yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang.
Metode ini yang dipilih untuk mensterilkan alat gelas yang tidak
digunakan dalam pengukuran seperti corong gelas, batang pengaduk, oase,
cawan porselen, spatula logam, dan tube salep. Sebelum disterilkan di dalam
oven, alat dicuci dengan air sabun dan dibilas hingga bersih. Alat dibiarkan
mengering sebelum dibungkus dengan aluminium foil. Tujuan pembungkusan
adalah untuk mencegah terjadinya paparan panas secara langsung pada alat
yang dapat menyebabkan kerusakan alat akibat terjadinya pemuaian yang
tidak merata.

Dengan pembungkusan alat menggunakan aluminium foil, panas akan


dialirkan secara konduksi di permukaan aluminium foil sehingga panas yang
memapar alat dilakukan secara merata. Kemudian oven disiapkan hingga
suhu di dalam oven mencapai 180 C untuk kemudian dimasukkan alat-alat
yang akan disterilkan. Alat dibiarkan dalam oven selama 30 menit dengan
menjaga suhu oven tetap 180C digunakan suhu 180 C. Untuk mempersingkat
waktu yang dibutuhkan dalam proses sterilisasi menjadi 30 menit. Setelah 30
menit, suhu pada oven diturunkan hingga 80 C untuk memudahkan praktikan
mengambil alat dari dalam oven. Alat yang telah disterilkan disimpan dalam
box praktikum dalam keadaan masih terbungkus untuk mencegah
kontaminasi bakteri. Dengan menggunakan suhu yang lebih tinggi diharapkan
proses penghilangan bakteri bisa berjalan lebih cepat karena temperatur yang
lebih tinggi memungkinkan waktu sterilisasi yang lebih pendek dari waktu
yang ditentukan dari peraturan.

2.3 Keuntungan dan Kerugian Sterilisasi Kering


Keuntungan dari sterilisasi ini adalah tidak adanya uap air yang
membasahi bahan atau alat yang disterilkan, selain itu peralatan yang
digunakan untuk sterilisasi kering lebih murah dibandingkan sterilisasi basah
(Lay dan Hastowo, 1992). Sedangkan kelemahan dari metode sterilisasi
kering adalah pemanasan kering kurang efisien dan membutuhkan suhu yang
lebih tinggi serta waktu lama untuk sterilisasi. Hal ini disebabkan karena
tanpa kelembaban maka tidak ada panas laten. Pemanasan kering dapat
menyebabkan dehidrasi sel dan oksidasi komponen-komponen di dalam sel.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sterilisasi kering atau biasa disebut sterilisasi udara panas yaitu
sterilisasi dengan menggunakan udara panas dimana karakteristiknya adalah
menggunakan oven dengan suhu tinggi (160-180 C) dengan waktu yang
lama sekitar 1-3 jam. Proses sterilisasi kering terjadi melalui mekanisme
konduksi panas, dimana panas akan diabsorpsi oleh permukaan luar alat yang
disterilkan, lalu merambat ke bagian dalam permukaan sampai akhirnya suhu
untuk sterilisasi tercapai dan pembunuhan mikroorganisme terjadi melalui
mekanisme oksidasi sampai terjadinya koagulasi protein sel. Keuntungan dari
metode sterilisasi kering adalah peralatan yang digunakan untuk sterilisasi
kering lebih murah dibandingkan sterilisasi basah. Sedangkan kelemahan dari
metode sterilisasi kering adalah pemanasan kering kurang efisien dan
membutuhkan suhu yang lebih tinggi serta waktu lama untuk sterilisasi.

3.2 Saran

Sebaiknya metode sterilisasi kering ini tidak digunakan untuk bahan yang
tidak tahan panas seperti karet dan plastik melainkan digunakan pada bahan
yang sensitif terhadap lembab dan tahan terhadap panas tinggi seperti
peralatan gelas.

DAFTAR PUSTAKA

Glenn LJ. 1957. Scovilles : The Art of Compounding. Mc-Graw Hill Company.
New York
Hafiz. 2009. Sterilisasi. http://www.scribd.com/doc/24620541/sterilisasi. Diakses
tanggal 2 Desember 2012 Pukul 19.45
James, A. 2008. Validation of Pharmaceutical
Processes (electronic version).
Informa Healthcare Inc.USA
Lukas, S. 2006. Formulasi Steril. Andi. Yogyakarta
Pratiwi, ST. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Erlangga. Jakarta