Anda di halaman 1dari 2

BAB V

PEMBAHASAN

Pada percobaan kali ini dilakukan pembuatan sabun dengan mereaksikan
alkali dan minyak yang biasa disebut sebagai reaksi saponifikasi. Pada percobaan
saponifikasi ini bahan yang digunakan yakni minyak nabati, garam (NaCl),
pewarna (warna hijau), air, dan NaOH. Praktikum kali ini menggunakan minyak
sayur dari sawit sebagai bahan baku utama, tetapi bisa juga digunakan lemak
sebagai pengganti minyak nabati dalam pembuatan sabun ini.Perbedaan antara
minyak dan lemak adalah pada temperatur kamarnya. Temperatur kamar lemak
adalah padat, sedangkan temperatur kamar minyak adalah cair.
Minyak dicampurkan dengan NaOH yang telah dilarutkan terlebih
dahulu di dalam akuades, lalu pada saat dipanaskan diaduk dengan pengaduk
secara terus-menerus, dan pada saat mendidih minyak membentuk gelembung
yang menyerupai busa sabun. Pengadukan dilakukan secara kontinyu yang
bertujuan agar gliserol dapat cepat memisah dari sabun yang terbentuk, dimana
gliserol terdapat pada bagian bawah dan sabun pada bagian atasnya. Pengadukan
harus dilakukan secara terus-menerus selama proses pemanasan karena jika
pengadukan dihentikan, akan memperlambat proses terbentuknya sabun.
Proses pemisahan antara sabun dan gliserol juga dipercepat dengan
adanya penambahan NaCl atau garam dapur pada saat proses pemanasan
berlangsung. Hal ini disebabkan oleh karena sabun dapat mengendap dalam
larutan garam, sedangkan gliserol tidak dapat mengendap dalam larutan garam.
Garam yang dimasukkan berupa garam kasar yang telah dilarutkan kedalam
akuades sebelumnya.
Pemanasan minyak dan NaOH dilakukan pada suhu optimum berkisar
antara 60-65
o
C. Batas suhu maksimal pemanasan minyak dan NaOH adalah 80
o
C.
Jika suhu pemanasan melebihi batas maksimal (lebih dari 80
o
C) dan kurang dari
suhu optimum (60-65
o
C), maka proses saponifikasi ini tidak akan membentuk
sabun karena struktur sabun akan rusak diakibatkan pemanasan pada temperatur
tersebut, dan yang akan terbentuk adalah butiran-butiran seperti pellet ikan.


Pada percobaan ini kita menggunakan minyak nabati yang merupakan
gliserida yang terbentuk dari gliserol dan asam-asam tak jenuh. Rantai alkil pada
minyak nabati mengandung ikatan tak jenuh sehingga mudah mengalami adisi.
Minyak yang teradisi ini disebut dengan minyak tengik, itulah sebabnya minyak
yang dihasilkan pada percobaan ini berbau. Untuk mendapatkan sabun yang
wangi, maka tambahkan parfum yang tidak mengandung alkohol, karena
dimungkinkan alkohol akan bereaksi membentuk ester.
Sabun yang dihasilkan pada percobaan ini adalah sabun keras, karena
minyak direaksikan dengan alkali jenis NaOH dan mengandung unsur Na. Sabun
ini biasanya disebut dengan sabun cuci. Sabun keras ini memiliki rantai melingkar
ikatan yang ada pada rantai cabang yang sangat kuat. Sewaktu pewarna
dimasukkan kedalam larutan minyak sayur dan NaOH dimasukkan sedikit maka
hasilnya warna sabun menjadi berwarna agak kuning.
Banyak lagi jenis alkali lainnya yang umum digunakan dalam proses
saponifikasi adalah NaOH, KOH, Na
2
CO
3
, NH
4
OH, dan ethanol amines. NaOH,
atau soda kaustik, merupakan alkali yang paling banyak digunakan dalam
pembuatan sabun keras. KOH banyak digunakan dalam pembuatan sabun cair
karena sifatnya yang mudah larut dalam air. Na
2
CO
3
(abu soda/natrium karbonat)
merupakan alkali yang murah dan dapat menyabunkan asam lemak, tetapi tidak
dapat menyabunkan trigliserida (minyak atau lemak).
Sabun dapat dibentuk dari minyak yang mempunyai panjang rantai
karbon antara C
12
hingga atom C
18
. Jika minyak yang digunakan adalah minyak
yang mempunyai panjang rantai karbon lebih dari 18, maka sabun yang terbentuk
akan keras dan sulit terlarut di dalam air. Sedangkan jika minyak yang digunakan
adalah minyak yang mempunyai panjang rantai karbon kurang dari 12, maka
sabun yang akan terbentuk akan dapat menimbulkan iritasi pada kulit.
Jika dalam pembuatan sabun, komposisi NaOH terlalu banyak maka
sabun yang akan terbentuk akan bertekstur keras dan menghasilkan busa yang
sangat sedikit serta sulit diurai di dalam air. Sebaliknya jika komposisi minyak
terlalu banyak maka hanya sedikit sabun yang akan terbentuk, sedangkan gliserol
akan terbentuk lebih banyak.